Pengertian Tentang Galaksi

Pengertian Tentang Galaksi

Galaksi adalah suatu sistem bintang atau tatanan
bintang-bintang. Galaksi tersusun secara menggerombol
dan tiap-tiap anggota galaksi memiliki gaya tarik-menarik
(gravitasi). Matahari bersama-sama planet yang mengitarinya terletak pada sebuah galaksi yang diberi nama galaksi
Bimasakti.

Pengertian Tentang Galaksi
Galaksi Bimasakti termasuk galaksi spiral dan
berbentuk seperti cakram, garis tengahnya kira-kira 100.000
tahun cahaya. Istilah tahun cahaya menggambarkan jarak
yang ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun.
Dengan kecepatan 300.000 km/detik, dalam waktu satu
tahun cahaya akan ditempuh jarak sekitar 9,5 triliun kilometer. Jadi, satu tahun cahaya adalah 9,5 triliun km. Ini
berarti garis tengah galaksi kita sekitar 100.000 × 9,5 triliun
km atau 950 biliun km (950 diikuti dengan 15 buah nol di belakangnya). Luar biasa jauhnya, bukan? Untuk memudahkan perhitungan,
maka digunakan satuan jarak yaitu tahun cahaya. Dengan satuan ini,
tebal bagian pusat galaksi kita sekitar 10.000 tahun cahaya.
Lalu, di mana letak Matahari kita? Matahari terletak sekitar 30.000
tahun cahaya dari pusat Bimasakti. Matahari bukanlah bintang yang
istimewa, tetapi hanyalah salah satu dari 200 miliar buah bintang
anggota Bimasakti. Bintang-bintang anggota Bimasakti ini tersebar
dengan jarak dari satu bintang ke bintang lain berkisar 4 sampai 10
tahun cahaya. Semakin ke arah pusat galaksi, jarak antarbintang
semakin dekat atau dengan kata lain kerapatan galaksi ke arah pusat
semakin besar.

Anggapan-Anggapan tentang Jagat Raya dan Alam Semesta

Anggapan-Anggapan tentang Jagat Raya dan Alam Semesta

Jagat Raya dan Alam Semesta – Berikut ini adalah anggapan-anggapan manusia tentang jagat raya
dan alam semesta sejak dahulu hingga sekarang.
a. Anggapan Antroposentris atau Egosentris
Anggapan ini dimulai pada tingkat awal manusia atau pada masa
manusia primitif yang menganggap bahwa manusia sebagai pusat
alam semesta. Pada waktu menyadari ada Bumi dan langit, manusia
menganggap matahari, bulan, bintang, dan Bumi serupa dengan
hewan, tumbuhan, dan dengan dirinya sendiri.

Anggapan-Anggapan tentang Jagat Raya dan Alam Semesta

b. Anggapan Geosentris
Anggapan ini menempatkan Bumi sebagai pusat dari alam semesta.
Geosentris (geo = Bumi; centrum = titik pusat). Anggapan ini
dimulai sekitar abad VI Sebelum Masehi (SM), saat pandangan
egosentris mulai ditinggalkan. Salah seorang yang mengemukakan
anggapan geosentris adalah Claudius Ptolomeus. Ia melakukan
observasi di Alexandria, kota pusat budaya Mesir pada masa lalu.
Ia menganggap bahwa pusat jagat raya adalah Bumi, sehingga Bumi
ini dikelilingi oleh matahari dan bintang-bintang.
c. Anggapan Heliosentris
Semakin majunya alat penelitian dan sifat ilmuwan yang
semakin kritis, menyebabkan bergesernya anggapan geosentris.
Pandangan heliosentris (helios = matahari) dianggap sebagai
pandangan yang revolusioner yang menempatkan matahari
sebagai pusat alam semesta.
Seorang mahasiswa kedokteran, ilmu pasti dan Astronomi,
Nicholas Copernicus (1473–1543) pada tahun 1507 menulis buku
”De Revolutionibus Orbium Caelestium” (tentang revolusi
peredaran benda-benda langit). Ia mengemukakan bahwa matahari
merupakan pusat jagat raya yang dikelilingi planet-planet, bahwa
bulan mengelilingi Bumi dan bersama-sama mengitari matahari,
dan bahwa Bumi berputar ke timur yang menyebabkan siang dan
malam.
d. Anggapan Galaktosentris
Galaktosentris (Galaxy = kumpulan jutaan bintang)
merupakan anggapan yang menempatkan galaksi sebagai pusat
Tata Surya. Galaktosentris dimulai tahun 1920 yang ditandai
dengan pembangunan teleskop raksasa di Amerika Serikat,
sehingga dapat memberikan informasi yang lebih banyak mengenai
galaksi.

Teori Terjadinya Jagat Raya

Teori Terjadinya Jagat Raya

Teori Terjadinya Jagat Raya
Teori Terjadinya Jagat Raya

Proses terjadinya jagat raya merupakan salah satu misteri yang
dicoba dipecahkan oleh manusia. Berikut ini adalah teori-teori yang
menjelaskan proses pembentukan jagat raya.
a. Teori ”Big Bang”
Salah satu teori yang menjelaskan proses terjadinya jagat raya
adalah teori ”Big Bang”. Menurut teori ini, jagat raya terbentuk
dari ledakan dahsyat yang terjadi kira-kira 13.700 juta tahun yang
lalu. Akibat ledakan tersebut materi-materi dengan jumlah sangat
banyak terlontar ke segala penjuru alam semesta. Materi-materi
tersebut akhirnya membentuk bintang, planet, debu kosmis, asteroid, meteor, energi, dan partikel-partikel lain.
Teori ”Big Bang” ini didukung oleh seorang astronom dari
Amerika Serikat, yaitu Edwin Hubble. Berdasarkan pengamatan
dan penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa jagat raya
ini tidak bersifat statis. Semakin jauh jarak galaksi dari Bumi,
semakin cepat proses pengembangannya. Penemuan tersebut
dikuatkan lagi oleh ahli astrofisika dari Amerika Serikat, Arno
Pnezias dan Robert Wilson pada tahun 1965 telah mengukur tahap
radiasi yang ada di angkasa raya. Penemuan ini kemudian
disahkan oleh ahli sains dengan menggunakan alat NASA yang  ernama COBE spacecraft antara tahun 1989–1993. Kajian-kajian
terkini dari laboratorium CERN (Conseil Europeen pour la
Recherche Nucleaire atau European Council for Nuclear Research)
yang terletak berdekatan dengan Genewa menguatkan lagi teori
”Big Bang”. Semua ini mengesahkan bahwa pada masa dahulu
langit dan Bumi pernah bersatu sebelum akhirnya terpisah-pisah
seperti sekarang.
b. Teori ”Keadaan Tetap”
Teori ”keadaan tetap” atau teori ciptaan sinambung
menyatakan bahwa jagat raya selama berabad-abad selalu dalam
keadaan yang sama dan zat hidrogen senantiasa dicipta dari
ketiadaan. Penambahan jumlah zat, dalam teori ini memerlukan
waktu yang sangat lama, yaitu kira-kira seribu juta tahun untuk
satu atom dalam satu volume ruang angkasa. Teori ini diajukan
oleh ahli astronomi Fred Hoyle dan beberapa ahli astrofisika
Inggris.
Dalam teori ”keadaan tetap”, kita harus menerima bahwa zat
baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa di antara berbagai
galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk guna menggantikan
galaksi yang menjauh. Orang sepakat bahwa zat yang merupakan
asal mula bintang dan galaksi tersebut adalah hidrogen.
Teori ini diterima secara skeptis oleh beberapa ahli yang lain,
sebab hal itu melanggar salah satu hukum dasar fisika, yaitu
hukum kekekalan zat. Zat tidak dapat diciptakan atau dihilangkan
tetapi hanyalah dapat diubah menjadi jenis zat lain atau menjadi
energi.
Sampai saat ini belum dapat dipastikan bagaimana sesungguhnya jagat raya ini terbentuk. Teori-teori yang dikemukakan
para ahli tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan
sendiri-sendiri.