Referensi Materi Media Pembelajaran

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta ; PT Rineka Cipta. Dr. M. Sobry Sutikno. 2009. Belajar dan pembelajaran “Upaya Kreatif dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil”. Bandung; Prospect. Prof. Dr. Azhar Arsyad, MA. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta ; Raja Grofindo Persada. Dr. Arief S. Sadiman, M. Sc, dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Dr. Nana Sudjana dkk. 2007 . Teknologi Pengajaran. Bandung ; Sinar Baru Algensindo. Prof. Dr. H. Aminuddin Rasyad. 2003. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta Timur ; Uhamka Press. M. Basyirudin Usman-Asnawir. 2002. Media pembelajaran. Jakarta; Delia Citra Utama. Arief S. Sadiman, dkk., Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya,, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007. Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003. Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008. Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2005. Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan Aplikasinya, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003. Ibrahim dan Nana Syaodih. S, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2010. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2010. Daryanto, Media Pembelajaran, Yogyakarta: Gava Media, 2010 Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, Ciputat: Gaung Persada Press, 2008 Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. (2009). Media Pembelajaran. Referensi Arief S Sadiman, dkk. 2002. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Latuheru, John D.1988.Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini.Jakarta : Depdikbud &P2 LPTK Setyosari, Punaji, Sihkabuden. 2005. Media Pembelajaran

Pengertian Media Belajar dan Sumber Belajar

Pengertian Media Belajar dan Sumber Belajar

Pengertian Media Belajar dan Sumber Belajar

Media Belajar
Media Belajar

Media Belajar

A. Media Pembelajaran Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat, secara umum dapat membantu : 1. Memperjelas penyajian bahan ajar agar tidak verbalistik 2. Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu serta daya indra siswa 3. Mengatasi sikap pasif siswa dalam belajar 4. Mengatasi dan mengakomodasi perbedaan individual siswa.

Media Belajar

B. Sumber Belajar Sumber belajar yang paling kongkrit yang tersedia di sekolah untuk difungsikan daolam proses pembelajaran adalah koleksi perpustakaan tujuan, fungsi dan peran perpustakaan di sekolah adalah membantu, memperkaya dan sekaligus sebagai tempat belajar-mengajar. Perpustakaan sebagai unit layanan pendidikan yang berisi jumlah khasanah informasi terpilih, berfungsi sebagai pusat informasi dan sumber belajar-mengajar.

Media Belajar –  Secara finansial memang untuk memiliki koleksi perpustakaan yang baik dan memadai memrlukan biaya yang cukup besar. Namun demikian berfungsi atau tidaknya perpustakaan dalam proses pembalajaran yang lebih utama adalah sejauh mana sumber infiormasi ini disertakan secara integratif dengan proses pembelajaran di kelas. Tidak ada artinya perpustakaan yang memiliki koleksi yang cukup banyak dan lengkap apabila tidak dimanfaatkan dengan baik.

Media Belajar – Adapun jenis-jenis sumber balajar yang perlu diketahui dan dimanfaatakan dalam proses pembelajaran adalah : buku-buku pelajaran, kamus ensiklopedia, majalah, surat kabar, buku-buku bacaan, media pandang dengar, dan sebagainya. Agar sumber belajar di perpustakaan dapat dimanfaatkan secara maksimal, guru-guru dituntut untuk memahami esensi tentang rentangan, karakteristik dan kegunaan masing-masing bahwa setiap jenis dan format sumber belajar mempunyai karakteristik dan kegunaan masing-masing yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Konsultasi dan kerjasama dengan pustakawan sekolah akan sangat membantu implementasi pendayagunaan sumber belajar.

Media Belajar – Membiasakan siswa untuk senantiasa berhubungan langsung dengan sumber belajar selain dapat membantu meningkatkan kulitas pembelajaran, juga akan melatih kebiasaan belajar siswa yang positif dengan gaya dan kecepatan belajar siswa yang sangat beragam melalui penggunaan sumber belajar secara tepat akan sangat membantu mendalami materi pembelajaran, yang akhirnya berpengaruh terhadap prestasi belajar. Namun demikian sumber belajar tidak hanya terdiri dari sumbersumber informasi yang tersedia di perpustakaan sebagaimana halnya dengan media pembelajaran, sumber belajar pun banyak teresdia di sekeliling kita. Orang, benda, hewan, realita kehidupan, organisasi kemasyarakatan, merupakan contoh-contoh sumber belajar yang dapat dimanfaatkan.

Media Belajar

C. Penggunaan Media Pembelajaran dan Sumber Belajar Secara strategis, proses pemberdayaan media pembelajaran dan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran di kelas dapat diimplementasikan ke dalam beberapa kategori / pendekatan sebagai berikut :

A. Di awal proses pembelajaran, dengan maksud untuk meningkatkan minat, intensitas perhatian dan motivasi belajar para siswa. Pendekatan seperti ini dapat membantu dan mempermudah upaya guru untuk memusatkan perhatian para siswa terhadap materi pelajaran yang akan disajikan. B. Di dalam proses pembalajaran yang sedang berlangsung yang dikombinasikan secara fungsional, proporsional dengan penjelasan yang sedang disampaikan oleh guru.

Media Belajar – Di dalam fase kegiata ini, penyajiam media pembelajaran dapat merangsang para siswa untuk lebih mendalami materi pelajaran yang disajikan dan mendorong siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menarik makna dari bahan ajar, dan memunculkan ide dan proses kreatif para siswa. C. Di akhir proses pembelajaran dengan maksud untuk memberi kesempatan dan peluang kepada para siswa untuk mengkaji dan menelaah kembali serta memperdalam secara lebih leluasa materi pelajaran yang baru disajikan di kelas. D. Di luar proses pembalajaran yang berbentuk tatap muka di dalam kelas. Kegiatan ini lebih dikenal dengan proses “Independent Studi”. Para siswa baik secara perorangan dan ataupun kelompok (kecil) melalui tugas berstruktur dan mandiri yang ditugaskan olah guru perlu diberi kelaluasaan yang sebesar-besarnya untuk “Bermain” dan berkomunikasi, baik dengan media pembelajaran maupun dengan berbagai format sumber belajar. E. Berbagai kegiatan atas dasar inisiatif siswa sendiri baik perorangan maupun dalam bentuk kelompok. Kegiatan seperti ini tidak harus terkait langsung dengan program pembelajaran di kelas. Tujuan utamanya adalah untuk mendorong kebiasaan siswa dalam membaca dan belajar.

Untuk bisa memberdayakan media pembelajaran dan sumber belajar secara efektif dan efisien, guru tidak mungkin untuk melaksanakannya secara sendiri-sendiri. Kerjasama fungsiuonal dengan tenaga kependidikan lainnya, seperti : Pustakawan, terkhnisi. Laboratorium (laboran), pembimbing pramuka, guru bimbingan dan konseling, sangat diperlukan. Untuk terealisirnya kerjasama ini perlu dikoordinasikan dan diprogramkan secara kelembagaan sebagai suatu kebijakan sekolah. Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam program kerjasama antar tenaga kependidikan melalui koordinasi kelembagaan di bawah pimpinan kepala sekolah adalah : 1. Kepala sekolah senantiasa mengagendakan rapat akademis secara periodik yang melibatkan seluruh tenaga kependidikan di sekolah yang bersangkutan. 2. Guru menginformasikan kebutuhan kerjasama dan bantuan dari tenaga kependidikan lain dalam memperkuat, memlihara dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang sedang/akan dijalankan. 3. Program kerjasama yang telah disepakati yang harus dilakukan dan menjadi tanggung jawab fungsional masing-masing tenaga kependidikan. Kerjasama ini harus diikuti oleh proses monitoring, pengawasan dan evaluasi bersama secara proporsional. 4. Menginformasikan kesepakatan kerjasama tersebut kepada para siswa sehingga mampum mendorong mereka untuk melakukan kegiatan belajar lebih produktif dengan memanfaatkan layanan pendidikan yang tersedia di sekolah. 5. Koordinasi dan monitoring yang periodik dilakukan oleh kepala sekolah dalam konteks efisiensi dan efektifitas kerja untuk dapat ditemukan dan diatasi berbagai permasalahan yang menghambat program peningkatan kualitas pendidikan yang ditetapkan.

D. Perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. 1. Pengertian a. Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang ada pada lembaga pendidikan sekolah, yang merupakan bagian integral dari sekolah yang bersangkutan yang merupakan sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan (Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah, Perputakaan Nasional tahun 2007). b. Pusat sumber belajar adalah : pengorgansasian kegiatan meliputi pendayagunaan tenaga dan peralatan, khusunya pasilitas untuk memproduksi bahan-bahan media, perlengkapan dan persentasi instruksional dan pengembang yang berkaitan dengan kurikulum dan pengajaran. (Merill dan Drob) 2. Tujuan Mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. 3. Fungsi a. Fungsi pendidikan b. Fungsi informasi c. Fungsi pembentukan watak dan rekreasi d. Fungsi penelitian sederhana 4. Komponen Perpustakaan sekolah.

2. Sarana gedung / ruang perpustakaan, meliputi : a) Tempat penyimpanan bahan pustaka b) Tempat aksitifitas layanan c) Tempat bekerja petugas perpustakaan dengan tata ruang, dekorasi penerangan yang memadai, dengan ukuran minmal 12 m2 . perabotan dan perlengkapan seperti meja sirkulasi/peminjaman, rak penitipan /loker, rak buku, rak majalah, rak surat kabar, meja baca dan kursi, meja belajar (studi carrel), lemari katalog, rak atlas, rak kamus, display, papan pengumuman dan meubeleir lainnya. 3. Koleksi a) Buku pelajaran pokok sekolah yang bersangkutan semua mata pelajaran. b) Buku pelajaran pelengkap yang digunakan di sekolah. c) Buku bacaan yang mendukung semua mata pelajaran dan bacaan yang dapat memberikan hiburan sehat d) Buku sumber/referensi/rujukan e) Buku pegangan guru f) Buku untuk pengembangan guru g) Buku penunjang administrasi perkantoran minimal 1000 jumlah 2500 eksmplar dengan komposisi 70 % pengetahuan/non fiksi, 30% fiksi. 4. Tenaga Tenaga pengelola perpustakaan sekolah diharapkan memliki kompetensi dalam mengelola perpustakaan dan memiliki minat di bidang perpustakaan, kepedulian yang tinggi. Pribadi yang baik, berpengetahuan luas, kemampuan berkomunikasi, inisiatif dan kreatif, peka terhadap perkembangan IPTEK. 5. Pengguna Perpustakaan Pengguna perpustakaan sekolah terdiri dari guru, siswa, karyawan sekolah, alumni, orang tua siswa, masyarakat lingkunga sekitarnya dan pihak lain yang terkait. 6. Layanan Perpustakaan a) Jenis Layanan : – Layanan Sirkulasi (peminjaman) Merupakan layanan peminjaman dan pengembalian koleksi yang dibaca di tempat ataupun dibawa pulang, seingga pemakai lebih leluasa dalam membaca sesuai kesempatan yang ada. – Layanan Membaca di Perpustakaan Layanan mem baca ini adalah layanan perpustakaan kepada pengguna perpustakaan dengan menyediakan ruang khusus untuk membaca/belajar yang dilengkapi dengan meja dan kursi baca. – Layanan Rujukan/Referensi Merupakan layanan kepada pengguna perpustakaan untuk menemukan informasi secara tepat, bersumber pada koleksi rujukan. – Layanan Internet Merupakan layanan kepada pengguna perpustakaan untuk menemukan informasi secara cepat, tepat, dan akurat melalui internet. – Layanan Fotocopy Merupakan layanan kepada pengguna perpustakaan untuk memfotocopy bahan-bahan dari koleksi perpustakaan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. b) Waktu Layanan Waktu layanan diusahakan agar dapat memenuhi kebutuhan siswa. Keperluan siswa di perpustakaan, tidak cukup hanya pada jam istirahat karena yang bersangkutan pada waktu istirahat banyak keperluan lain (makan, minum, sembahyang, dan lain-lain), perlu ada kesempatan lain di luar jam istirahat. – Sekolah yang jam belajarnya dari pagi sampai sore, siswa dapat ke perpustakaan sebelum atau sesudah masuk kelas. – Sekolah yang jam belajarnya dari pagi sampai siang, perlu ada jam khusus sesudah jam belajar (1 jam – 2 jam). – Ada jadwal khusus siswa berkunjung ke perpustakaan (1 jam – 2 jam dalam 1 minggu). 7. Anggaran Anggaran perpustakaan sekolah seharusnya dimasukan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belajna Sekolah (RAPBS), sehingga mempunyai anggaran tetap untuk biaya opersional  perpustakaan, bisa juga dialokasikan dari APBN, APBD maupun swadaya. 5. Peran perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar. 1. Perpustakaan sebagai jantung suatu lembaga pendidikan yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang langsung mempengaruhi hasil pendidikan serta menentukan masa depan pendidikan itu sendiri. 2. Perpustakaan serta pusat kegiatan belajar mengajar, sehingga mutu perpustakaan menentukan mutu pendidikan di suatu lembaga pendidikan. 3. Perpustakaan dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk memperluas dan menghidupkan pembelajaran. 4. Mendorong pengguna cara-cara belajar akademis dan kewajibankewajiban institusional lainnya. 5. Memberikan pelayanan-pelayanan dalam perencanaaan produksi, operasional, dan tindakan lanjutan untuk pengembangan sistem intruksional. 6. Hal-hal Yang Mendukung Terhadap Peningkatan dan Pengembangan Perpustakaan Sekolah. 1. Faktor Internal a. Adanya kebijakan yang jelas dari kepala sekolah. b. Adanya pengelola perpustakaan sekolah secara khusus (bisa guru bidang studi yang telah mengikuti pelatihan perpustakaan) c. Adanya koleksi (di luar buku paket ) penunjang/suplemen, buku wajib. d. Adanya comitmen bersama antara guru-guru untuk sama-sama melakukan/melibatkan pemberdayaan perpustakaan sekolah dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. e. Adanya pembinaan secara insentif terutama terhadap siswa tentang pentingnya perpustakaan sekolah, antara lain bisa dilakukan melalui Organisasi Intra Sekolah (OSIS) yang diprakarsai oleh urusan kesiswaan. f. Pada saat orientasi sekolah bagi siswa baru, alokasikan waktu untuk study tour/berkunjung ke Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota atau jenis-jenis perpustakaan lain yang dianggap representatif untuk pengenalan dunia perpustakaan terhadap siswa.

g. Adanya apresiasi terhadap siswa yang aktif ke perpustakaan. h. Adanya gerakan peningkatan minat baca, misalnya melalui lomba-lomba, pemeran, dan lain sebagainya. 2. Faktor Eksternal a. Adanya dukungan dari Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota terhadap eksistensi perpustakaan sekolah, seperti : alokasi dana khusus untuk perpustakaan sekolah (meliputi sarana dan prasarana). b. Adanya dukungan serta partisipasi aktif dari dewan sekolah maupun masyarakat. c. Dapat melakukan terobosan-terobosan dengan pihak terkait pemerintah maupun swasta yang konsen terhadap perpustakaan sekolah. 7. Kendala-kendala Yang Dihadapi 1. Faktor Internal a. Pada umunya masih ditemui para kepala sekolah yang belum memprioritaskan terhadap perpustakaan sekolah, bahkan ada di beberapa sekolah yang sudah memiliki perpustakaan digunkan untuk ruang belajar atau ada perpustakaan sekolah menjadi gudang buku yang tidak digunakan. b. Belum diangkatnya fungsional pustakawan sekolah/lulusan jurusan perpustakaan. c. Belum adanya penghargaan terhadap jam perpustakaan yang dilakukan guru bidang studi/merangkap guru pustakawan sebagaimana layaknya guru kelas/guru piket/guru BK. d. Belum teralokasinya jam kunjung perpustakaan secara memadai. e. Guru perpustakaan cenderung guru yanmg “kurang dipakai” atau bila siswa dihukum dikarantina diperpustakaan. f. Penataan perpustakaan yang kaku “kurang enjoy” untuk dikunjungi. g. Belum terciptanya kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru bidang studi, guru pustakawan dan siswa. h. Belum terselenggaranya pemasyarakatan perpustakaan sekolah di lingkungan sekolah.

2. Fakor Eksternal a. Tingkat kepedulian pihak-pihak terkait dalam pembinaan minat baca masih terbatas. b. Jaringan kerjasama antar perpustakaan sekolah masih terbatas bahkan cenderung tidak ada. c. Penulisan dan penerbitan belum banyak berpartisipasi dalam pembinaan minat baca di sekolah. d. Apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan masih rendah

 

Tentang Materi Evaluasi Pembelajaran Media Pendidikan

Tentang Materi Evaluasi Pembelajaran Media Pendidikan

Tentang Materi Evaluasi Pembelajaran Media Pendidikan

Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi Pembelajaran – Media pendidikan sebelum digunakan secara luas perlu dievaluasi terlebih dahulu, baik dari segi isi materi, segi edukatif, maupun segi teknis permediaan, sehingga media tersebut memenuhi persyaratan sebagai media pendidikan. Evaluasi media dimaksudkan untuk mengetahui apakah media yang dibuat/ dipproduksi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan atau tidak. Hal ini penting untuk diperhatikan dan dilakukan karena banyak orang yang beranggapan bahwa sekali mereka membuat media pasti baik. Untuk itu perlu dibutuhkan dengan cara menguji.

Evaluasi Pembelajaran

a. Tujuan Evaluasi Media Pendidikan Dalam buku pedoman evaluasi media pendidikan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (1988/1989) dinyatakan bahwa evaluasi media mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Memberikan pedoman kepada instansi pemerintah dalam mengadakan media pendidikan yang bermutu. 2. Memberikan pedomam kepada guru dalam membuat media pendidikan yang bermutu. 3. Memberikan pedoman kepada produsen dalam memproduksi media pendidikan yang bermutu. 4. Melindungi sekolah dari penggunaan media pendidikan yang tidak dapat 5. dipertanggungjawabkan dari segi teknis kependidikan.

Evaluasi Pembelajaran

b. Macam Evaluasi Media Evaluasi media pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif adalah proses yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data tentang efektivitas dan efisiensi media untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Data tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan media yang bersangkutan agar lebih efektif dan efisien. Evaluasi sumatif adalah proses pengumpulan data untuk menentukan apakah media yang dibuat patut digunakan dalam situasi-situasi tertentu atau apakah media tersebut benar-benar efektif atau tidak, setelah media tersebut diperbaiki dan disempurnakan.

Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi dalam pembahasan ini difokuskan pada evaluasi formatif. Evaluasi formatif terdiri dari tiga tahapan yaitu: evaluasi satu lawan satu (one to one), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan evaluasi lapangan (field evaluation).

Evaluasi Pembelajaran

1. Evaluasi Satu lawan Satu (one to one)

Pada tahap ini pilihlah dua orang sasaran/siswa yang dapat mewakili populasi target dari media yang telah dibuat. Kedua orang tersebut hendaknya satu orang diambil dari populasi yang kemampuannya di atas rata-rata, sedangkan yang satu orang lagi kemampuannya di bawah rata-rata. Sajikan media tersebut kepada mereka secara individual. Kalau media itu didesain untuk belajar mandiri, maka biarkanlah dia mempelajarinya, sementara itu kita mengamatinya. Dari kegiatan ini sebenatrnya ada beberapa informasi yang dapat diperoleh diantaranya : kesalahan pemilihan kata atau uraian-uraian tak jelas, kesalahan dalam memilih lambang-lambang visual, kurangnya contoh, terlalu banyak atau sedikitnya materi, urutan/sequence yang keliru, pertanyaan atau petunjuk yang kurang jelas, materi tidak sesuai dengan tujuan.

Evaluasi Pembelajaran

2. Evaluasi Kelompok Kecil (small group evaluation) Pada tahap ini media diujicobakan kepada sasaran/siswa kurang lebih 10 – 20 siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa/sasaran yang dipilih untuk uji coba ini hendaknya mencerminkan karakteristik populasi. Usahakan sampel tersebut terdiri dari siswa/sasaran berbagai tingkat kemampuan (pandai, sedang, kurang pandai), jenis kelamin berbeda-beda (laki-laki, dan perempuan), berbagai usia, latar belakang.

3. Evaluasi Lapangan (field evaluation) Evaluasi lapangan (field evaluation) adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan. Evaluasi lapangan dilakukan kepada sekitar 30 orang dengan berbagai karakteristik seperti tingkat kepandaiannya, kelas, latar be;akang , jenis kelamin, usia, sesuai dengan karakteristik populasi. Satu hal yang perlu dihindari baik pada dua tahap evaluasi terdahulu maupun evaluasi lapangan ini yaitu efek halo (hallo effect) . Hallo effect muncul apabila media yang dicobakan pada responden yang salah. Maksudnya apabila kita mencobakan media kepada mereka yang belum pernah melihat media tersebut. Jika demikian maka informasi yang diperoleh banyak dipengaruhi oleh sifat kebaruan tersebut sehingga kurang dapat dipercaya. Disamping melakukan kegiatan seperti di atas, dalam mengevaluasi media dapat juga dilakukan dengan cara berkonsultasi/mencobakannya kepada ahli bidang studi (content expert) dan ahli media/pengkaji media (media expert). Ahli bidang studi diharapkan akan banyak memberikan masukan kepada pembuat media dari sisi software terutama mengenai iisi/materi program. Konsultasi kepada ahli media diharapkan akan banyak memberikan masukan tentang software, misalnya dalam media auido kaset berkaitan dengan narasi, musik, dan efek suara.

c. Kriteria Penilaian

Ahli bidang studi dan ahli media dalam melakukan evaluasi perlu mempertimbangkan kriteria penilaian/evaluasi. Kriteria penilaian dimaksud merupakan pedoman penilai dalam melaksanakan penilaian media pendidikan baik yang berkait dengan software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras).

1. Kriteria Penilaian Perangkat Lunak (software) Kriteria penilaian perangklat lunak (software) media pendidikan dibagi menjadi dua bagian yaitu kriteria penilaian yang menyangkut fisik perangkat lunak dan kriteria penilaian yang menyangkut isi perangkat lunak. Contoh kriteria: A. Kriteria Fisik Perangkat Lunak 1). Kriteria penilaian fisik program kaset audio a. Setiap program kaset audio disertai buku penyerta/petunjuk pemaikaian. b. Menggunakan pita (kaset) standar/bermutu c. Menggunakan pita (kaset) ukuran C 60 atau C 90 d. Disertai lembar evaluasi e. Memiliki kantong (wadah) untuk melindungi buku penyerta, pita (kaset audio), dan lembar evaluasi. f. Kaset dan kantong diberi label yang memuat judul, sasaran, bidang studi, dan durasi/lama putar.

2). Kriteria Penilaian Fisik Program Slide b. Setiap program slide disertai buku penyerta/petunjuk pemakaian. c. Menggunakan film positif berwarna ukuran 35 mm (standar) d. Menggunakan bingkai (frame) standar dan bermutu e. Setiap bingkai diberi judul program dan nomor urut dari program tsb. f. Setiap frame dimasukkan ke dalam slide file. g. Disertai dengan lembar evaluasi h. Memiliki kantong untuk melindungi buku penyerta, slide, dan lembar evaluasi. i. Kantong program memiliki label yang memuat judul, sasaran, bidang studi, dan durasi.

3). Kriteria Penilaian Fisik Program Video/VCD a. Setiap program video disertai dewngan buku petunjuk pemaikaian/ penyerta. b. Menggunakan pita (kaset) video yang standar dan bermutu c. Pada setiap pita (kaset) video dicantumkan judul program, bidang studi, dan sasaran. d. Pada setiap pita (kaset) video disertai dengan tanda lolos sensor e. Disertai dengan lembar evaluasi f. Memiliki kantong untuk tempat untuik melindungi buku penyerta, pita (kaset) video, lembar evaluasi. g. Setiap kantong program memiliki label yang memuat judul, sasaran, bidang studi, dan durasi. 2. Kriteria Penilaian Isi Perangkat Lunak (Kriteria Khusus) 1). Kaset Audio a. Segi materi 1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan 2) mudah dimengerti 3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa 4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit 5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit b. Segi Narasi 1) Volume suara cukup baik 2) intonasi suara cukup baik 3) gaya bahasa 4) Kejelasan ucapan 5) Tempo ucapan c. Segi Musik/Efek suara 1) Ilustrasi musik mendukung program 2) Efek suara mendukung program 3) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras 4) Slide Suara d. Segi materi 1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan 2) mudah dimengerti 3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa 4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit 5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit e. Segi Narasi 1) Volume suara cukup baik 2) intonasi suara cukup baik 3) gaya bahasa 4) Kejelasan ucapan  5) Tempo ucapan f. Segi Visualisasi 1) ukuran gambar 2) komposisi gambar 3) warna gambar 4) ketajaman gambar 5) Pencahayaan gambar 6) ilustrasi mendukung gambar 7) huruf mudah digambar 8) caption/grafis menarik g. Segi Musik/Efek suara 1) Ilustrasi musik mendukung program 2) Efek suara mendukung program 3) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras h. Segi Penyajian 1) sistematis 2) Pergantian gambar tidak terlalu cepat 1) 3. Kaset Video/VCD i. Segi materi 1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan 2) mudah dimengerti 3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa 4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit 5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit j. Segi Narasi 1) Volume suara cukup baik 2) intonasi suara cukup baik 3) gaya bahasa 4) Kejelasan ucapan 5) Tempo ucapan k. Segi Visualisasi 1) ukuran gambar 2) komposisi gambar 3) warna gambar 4) ketajaman gambar  5) Pencahayaan gambar 6) ilustrasi mendukung gambar 7) huruf mudah digambar 8) caption/grafis menarik l. Segi Musik/Efek suara 2) Ilustrasi musik mendukung program 3) Efek suara mendukung program 4) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras m. Segi Penyajian 1) sistematis 2) Pergantian gambar tidak terlalu cepat 2. Kriteria Penilaian Perangkat Keras (hardware) Media Pendidikan Kriteria penilaian perangkat keras (hardware) media pendidikan dibagi menjadi dua bagian yaitu kriteria yang bersifat umum dan kriteria penilaian yang bersifat khusus. Kriteria umum berlaku untuk semua jenis perangkat keras media pendidikan, seperti: 1. Praktis, kuat, dan mudah dioperasikan 2. Suku cadang mudah didapat 3. memberikan perlindungan keamanan bagi pemakai. 4. standar untuk digunakan di Indonesia Kriteria khusus perangkat media pendidikan yang bersifat khusus berlaku hanya untuk jenis perangkat keras yang yang bersangkutan. Kriteria ini merupakan pedoman bagi penilai media pendidikan dalam menilai spesifikasi teknis yang dimiliki oleh setiap perangkat keras yang akan dinilai.