Sosiologi sebagai Ilmu Kajian Masyarakat

Sosiologi sebagai Ilmu Kajian Masyarakat

Dalam pengembangan selanjutnya, Durkheim menggunakan lima metode untuk mempelajari sosiologi, yaitu: a. Sosiologi harus bersifat ilmiah, di mana fenomena-fenomena sosial harus dipelajari secara objektif dan menunjukkan sifat kausalitasnya.b. Sosiologi harus memperlihatkan karakteristik sendiri yang berbeda dengan ilmu-ilmu lain. c. Menjelaskan kenormalan patologi. d. Menjelaskan masalah sosial secara ‘sosial’ pula. e. Mempergunakan metode komparatif secara sistematis. Metode tersebut telah diterapkan dalam sebuah penelitian tentang gejala bunuh diri yang melanda masyarakat Eropa saat itu dengan judul “Suicide”.

4. Max Weber (1864 – 1920) Max Weber lahir di Erfurt pada tahun 1864. Menyelesaikan studi di bidang hukum, ekonomi, sejarah, filsafat, teologi dan mengajar disiplin ilmu-ilmu tersebut di berbagai universitas di Jerman. Serta terusmenerus menyebarluaskan terbentuknya ilmu sosiologi yang saat itu masih berusia muda. Karya penting dari Weber berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism yang berisi hubungan antara Etika Protestan dalam hal ini Sekte Kalvinisme dengan munculnya perkembangan kapitalisme. Menurut Weber, ajaran Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk bekerja keras dengan harapan dapat menuntun mereka ke surga dengan syarat bahwa keuntungan dari hasil kerja keras tidak boleh untuk berfoya-foya atau bentuk konsumsi lainnya. Hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan menjadikan para penganut agama ini semakin makmur karena keuntungan yang dihasilkan ditanamkan kembali menjadi modal. Dari sinilah menurut Weber kapitalisme di Eropa berkembang pesat.

Sosiologi sebagai Ilmu Kajian Masyarakat

1. Pengertian Sosiologi Kalian telah mengetahui perkembangan awal sosiologi. Sosiologi merupakan salah satu ilmu sosial yang berumur paling muda di antara ilmu sosial lainnya yang dikenalkan oleh Auguste Comte. Coba kalian bandingkan tahun lahirnya sosiologi dengan ilmu sosial lainnya seperti ekonomi, sejarah, geografi dan lain-lain. Benarkah sosiologi sebagai salah satu ilmu sosial yang paling muda umurnya? Satu pertanyaan yang menarik adalah apa yang sebenarnya menjadi pokok pembahasan dalam sosiologi? Sebelumnya kalian telah melihat bahwa ilmu sosiologi muncul ketika terjadinya kekacauan-kekacauan dalam masyarakat dunia sehingga melahirkan tokoh-tokoh sosiologi. Maka pada bagian ini akan dijelaskan tentang pengertian sosiologi dari sudut pandang tokoh sosiologi klasik mulai Auguste Comte sampai tokoh sosiologi modern George Simmel.

Sosiologi sebagai Ilmu Kajian Masyarakat
Sosiologi sebagai Ilmu Kajian Masyarakat

a. Auguste Comte Suatu pandangan menarik dari Comte adalah bahwa sosiologi menurutnya merupakan ratu ilmu-ilmu sosial. Dalam bayangannya mengenai hierarki ilmu, sosiologi menempati kedudukan teratas di atas astronomi, fisika, ilmu kimia, dan biologi. Menurut Comte, sosiologi adalah studi tentang Statika Sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dynamics). Dalam hal ini statika sosial mewakili stabilitas, sedangkan dinamika mewakili perubahan. Dengan memakai analogi biologi, Comte menyatakan hubungan antara statika sosial dengan dinamika sosial dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi dan menganggap masyarakat seperti organisme hidup, artinya masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung satu sama lain. Akan tetapi pada akhirnya Comte tidak benar-benar mengembangkan pemikiran ini.

b. Emile Durkheim Menurut Emile Durkheim sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan mampu melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu. Adapun ciri fakta sosial adalah: 1) Bersifat eksternal terhadap individu, artinya fakta sosial berada di luar individu. 2) Bersifat memaksa individu. 3) Bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat.

c. Max Weber Sosiologi bagi Weber adalah ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial. Masyarakat adalah produk dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi nilai, motif, dan kalkulasi rasional. Secara jelas, sosiologi bagi Weber adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dengan cara melakukan interpretasi atas tindakan sosial. Bertitik tolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial, Weber menyebutkan ada lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian ilmu sosiologi: 1) Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna yang subjektif. 2) Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subjektif. 3) Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam. 4) Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu. 5) Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

d. George Simmel George Simmel mengemukakan bahwa sosiologi sebagai ilmu yang khusus dan independen yang mencakup permasalahan konsepsi masyarakat dan individu. Bentuk dan isi dari suatu interaksi timbal balik secara psikologis maupun sosiologis berkarakter abstrak yang mendasarkan pada realitas. Sosiologi sebagai suatu metode ilmiah yang mana kemampuannya dapat dipakai oleh ilmu-ilmu lain. e. Wright Mills Satu pernyataan yang penting dari Mills adalah bahwa untuk dapat memahami apa yang terjadi di dunia maupun apa yang ada dalam diri sendiri manusia memerlukan apa yang dinamakan dengan sociological imagination (khayalan sosiologis). Pemikiran ini bertujuan untuk memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Untuk melakukannya diperlukan dua peralatan pokok yaitu personal troubles of millieu (gangguan pada lingkungan pergaulan bersifat pribadi) dan public issues of social structure (isu-isu umum tentang struktur sosial). f. Peter Berger Suatu konsep yang digeluti oleh Berger adalah ‘masalah sosiologis’. Suatu masalah sosiologis tidak sama dengan suatu masalah sosial karena masalah sosiologis menyangkut pemahaman terhadap interaksi sosial. Seorang ahli sosiologi dapat mempelajari pengangguran, kemiskinan, pelacuran (sering disebut masalah sosial), tetapi dapat pula mempelajari mengapa suatu kelompok masyarakat lebih berhasil meraih sukses daripada yang lain atau tentang kemajuan lainnya.

g. Alex Inkeles Inkeles menyebutkan bahwa sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas yaitu hubungan sosial, institusi, dan masyarakat. Hubungan sosial merupakan ‘molekul’ kehidupan sosial. Hubungan sosial merupakan satuan analisis khas sosiologis. Sistem kompleks hubungan sosial itulah yang akan membentuk institusi. Menurut Inkeles, sosiologi tidak hanya membahas bagian-bagian tertentu masyarakat melainkan dapat pula mempelajari masyarakat itu sendiri sebagai satuan analisis. Tetapi pada perkembangannya, banyak para ahli yang mencoba memberikan definisi sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri terlepas dari pengaruh filsafat dan psikologi, antara lain: a. Pitirim Sorokin Menurut Sorokin, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari: 1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejalagejala sosial (misalnya, antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan lain sebagainya). 2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala nonsosial (misalnya, gejala geografis, biologis, dan sebagainya). 3) Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial. b. Roucek dan Warren Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok. c. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya adalah organisasi sosial. d. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan prosesproses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. e. J.A.A. Van Doorn dan C.J. Lammers Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

Coba tumbuhkan rasa keingintahuan kalian!” Setelah mempelajari teori di atas, coba jelaskan apa yang menjadi fokus kajian ilmiah dari sosiologi. Sebagai contoh adanya kegiatan arisan ibuibu di tingkat RT. Menurut kalian, kenapa harus ada kegiatan tersebut? Apa yang bisa kalian lihat dengan kegiatan tersebut? Apa sekedar sebagai bentuk hiburan bagi ibu-ibu untuk mengisi waktu luang? Diskusikan bahasan tersebut dengan teman kalian!

2. Konsep-konsep Dasar Sosiologi Kalian telah mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dengan melihat metode-metode untuk mempelajari ilmu tersebut. Nah, di sini kalian akan diperkenalkan konsep dasar dari sosiologi sehingga kalian akan dapat memahami tentang realitas-realitas sosial yang ada.

a. Masyarakat Sebagai Sistem Sosial Dari definisi secara umum, jelas terlihat bahwa sosiologi mempelajari masyarakat secara ilmiah dengan objek kajiannya adalah tentang kehidupan kelompok manusia beserta hasil interaksi sosial dari kehidupan kelompok manusia. Secara sederhana objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Apa yang kalian bayangkan tentang masyarakat? Sejak kecil kita telah hidup di dalam keluarga, mengadakan hubungan dengan orang tua, saudara, ataupun pembantu rumah tangga bila ada. Apakah keluarga merupakan masyarakat? Dalam bahasa Inggris masyarakat dikenal dengan istilah society yang berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan. Sedangkan masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu syarakat yang berarti ikut serta/ berpartisipasi. Untuk lebih jelasnya mengenai definisi masyarakat dapat diambil dari beberapa tokoh, antara lain:

Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat

Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat

Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat

Pernahkah kalian berpikir dan mengamati mengapa manusia hidup berkelompok? Mengapa kalian tidak hidup menyendiri di tengah hutan saja? Ternyata kita tidak dapat hidup sendiri-sendiri. Dalam menjalani kehidupan kita saling membutuhkan bantuan dan kerja sama. Untuk itulah kalian harus dapat hidup bermasyarakat dengan baik. Maka ikutilah pembahasan dalam bab ini dengan cermat agar kalian dapat menjadi warga masyarakat yang pantas untuk diteladani. Sudah sejak lama manusia hidup bermasyarakat. Dari berbagai temuan barang-barang purbakala dapat kita ketahui bahwa kehidupan bermasyarakat telah ada di zaman prasejarah walaupun secara sederhana dengan membentuk kelompok-kelompok keluarga. Laki-laki mengembara, berburu, dan meramu untuk mencari makanan, sedangkan perempuannya tetap tinggal menjaga anak-anak mereka. Adanya pembagian kerja tersebut di dalam kehidupan mereka menunjukkan adanya perilaku masing-masing anggota kelompok untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tetapi secara nyata gambaran kehidupan sosial mereka kita tidak pernah tahu sampai ditemukannya bahasa tulis, setelah beberapa generasi barulah ilmu yang mempelajari perilaku masyarakat ini muncul sebagai jawaban atas kemajuan budaya dan peradaban manusia.

Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat
Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat

Sejumlah ilmuwan berusaha menemukan suatu sistem pengetahuan yang mampu menjelaskan adanya hubungan antarmanusia dan perilaku sosial budaya melalui kehidupan bermasyarakat. Gambaran jelas mengenai kehidupan manusia di dalam masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, dan fisik akan kita bahas dalam ilmu Sosiologi.

Lahirnya Sosiologi

Pernahkah kalian membayangkan hidup dalam situasi dan kondisi masyarakat yang penuh dengan konflik? Apa yang akan kalian lakukan mengingat pada waktu itu tidak ada sesuatu dukungan apapun tentang sebuah konsep masyarakat. Hal ini memicu munculnya suatu ilmu yang dinamakan sosiologi. Pemikiran sosiologis berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai krisis sosial, maka mulailah orang berpikir tentang sosiologis. Pemikiran terhadap konsep masyarakat yang lambat laun melahirkan ilmu yang dinamakan sosiologi itu pertama kali terjadi di Etopia. Adapun beberpa faktor pendorongnya adalah karena semakin meningkatnya perhatian terhadap masyarakat, serta adanya perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, khususnya masyarakat Eropa. Pada saat itu ada tiga peristiwa atau perubahan besar yang akhirnya menjadi pemicu lahirnya masyarakat baru. Sosiologi itu lahir pada saat transisi menuju masyarakat baru tersebut, yakni pada abad ke-19. Adapun ketiga peristiwa besar yang mengisi lahirnya sosiologi itu antara lain:

1. Revolusi Politik (Revolusi Prancis) Perubahan masyarakat yang terjadi selama revolusi politik sangat luar biasa baik bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Adanya semangat liberalisme muncul di segala bidang seperti penerapan dalam hukum dan undang-undang. Pembagian masyarakat perlahan-lahan terhapus dan semua diberikan hak yang sama dalam hukum.

2. Revolusi Ekonomi (Revolusi Industri) Abad 18 merupakan saat terjadinya revolusi industri. Berkembangnya kapi-talisme perdagangan, mekanisasi proses dalam pabrik, terciptanya unitunit produksi yang luas, terbentuknya kelas buruh, dan terjadinya urbanisasi merupakan manifestasi dari hiruk-pikuknya perekonomian. Struktur masyarakat mengalami perubahan dengan munculnya kelas buruh dan kelas majikan dengan kelas majikan yang menguasai perekonomian semakin melemahkan kelas buruh sehingga muncul kekuatan-kekuatan buruh yang bersatu membentuk perserikatan. Menurut Aguste Conte perubahanperubahan tersebut berdampak negatif, yatiu terjadinya konflik antar kelas dalam masyarakat. Comte melihat, setelah pecahnya revolusi Prancis masyarakat prancis dilanda konflik antar kelas. Konflik-konflik tersebut terjadi karena masyarakat tidak tahu bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat di pakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat. Maka Comte menganjurkan supaya semua penelitian mengenai masyarakat ditingkatkan sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur gejala-gejala sosial. Tetapi Auguste Comte belum dapat mengembangkan hukum-hukum sosial itu sebagai suatu ilmu tersendiri. Comte hanya memberi istilah untuk ilmu tersebut dengan sebutan sosiologi. Istilah sosiologi muncul pertama kali pada tahun 1839 pada keterangan sebuah paragraf dalam pelajaran ke-47 Cours de la Philosophie (Kuliah Filsafat) karya Auguste Comte. Tetapi sebelumnya Comte sempat menyebut ilmu pengetahuan ini dengan sebutan fisika sosial tetapi karena istilah ini sudah dipakai oleh Adolphe Quetelet dalam studi ilmu barunya yaitu tentang statistik kependudukan maka dengan berat hati Comte harus melepaskan nama fisika sosial dan merumuskan istilah baru yaitu sosiologi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu socius (masyarakat) dan logos (ilmu). Dengan harapan bahwa tujuan sosiologi adalah untuk menemukan hukum-hukum masya-rakat dan menerapkan pengetahuan itu demi kepentingan pemerintahan kota yang baik. Sosiologi lahir di tempat yang berbeda yaitu Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab yang menunjukkan adanya beberapa kemajuan intelektual yang secara radikal bertentangan. Mazhab Prancis ditandai dengan personalitas Emile Durkheim melalui pendekatan yang objektif dengan menggunakan model ilmu pengetahuan alam. Mazhab Jerman, membedakan antara ilmu pengetahuan alam dengan ilmu pengetahuan kejiwaan dalam penjelasan, serta cakupannya. Sedangkan di Amerika terkenal dengan Mazhab Chicago bertujuan untuk mengintervensi dan membahas permasalahan yang konkrit secara empiris dengan membangun laboratorium, melakukan penelitian sampai mempublikasikan buku-buku dan majalah. Dari tempat-tempat lahirnya Sosiologi tersebut memunculkan banyak tokoh perintis sosiologi dan mulai menggeluti ilmu pengetahuan ini dan melakukan banyak penelitian tentang sebuah masyarakat dan permasalahan sosialnya. Mereka mencoba mencari sebuah pemikiran yang murni sosiologi karena selama kurun waktu tersebut sosiologi masih banyak terpengaruh dari ilmu filsafat dan psikologi yang telah terlebih dahulu ada. Sebelum pembahasan tentang sosiologi sebagai ilmu kajian masyarakat, di sini ada baiknya mengenal terlebih dahulu bangaimana sumbangan pemikiran para tokoh perintis awal sosiologi (klasik) dan pemikiran tokoh sosiologi setelahnya.

Tokoh Perintis Sosiologi

1. Auguste Comte (1798 – 1857) Tokoh sosiologi ini mendapat julukan sebagai bapak Sosiologi. Salah satu sumbangan pemikirannya terhadap sosiologi adalah tentang hukum kemajuan kebudayaan masyarakat yang dibagi menjadi tiga zaman yaitu: pertama, zaman teologis adalah zaman di mana masyarakatnya mempunyai kepercayaan magis, percaya pada roh, jimat serta agama, dunia bergerak menuju alam baka, menuju kepemujaan terhadap nenek moyang, menuju ke sebuah dunia di mana orang mati mengatur orang hidup. Kedua, zaman metafisika yaitu masa masyarakat di mana pemikiran manusia masih terbelenggu oleh konsep filosofis yang abstrak dan universal. Ketiga, zaman positivis yaitu masa di mana segala penjelasan gejala sosial maupun alam dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah (hukumhukum ilmiah). Karena memperkenalkan metode positivis maka Comte dianggap sebagai perintis positivisme. Ciri-ciri metode positivis adalah objek yang dikaji berupa fakta, bermanfaat, dan mengarah pada kepastian serta kecermatan. Sumbangan pemikiran yang juga penting adalah pemikiran tentang agama baru yaitu agama humanitas yang mendasarkan pada kemanusiaan. Menurut Comte, intelektualitas yang dibangun manusia harus berdasarkan pada sebuah moralitas. Bagi Comte, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemajuan sosial tergantung pada perkembangan perasaan altruistik serta pelaksanaan tugas meningkatkan kemanusiaan sehingga masyarakat yang tertib, maju, dan modern dapat terwujud. Tetapi agama humanitas ini belum sempat dikhotbahkan oleh Comte sebagai agama baru bagi masyarakat dunia karena pada tahun 1957, Comte meninggal dunia.

2. Karl Marx (1818 – 1883) Lahir di Jerman pada tahun 1818 dari kalangan keluarga rohaniawan Yahudi. Pada tahun 1814 mengakhiri studinya di Universitas Berlin. Karena pergaulannya dengan orang-orang yang dianggap radikal terpaksa mengurungkan niat untuk menjadi pengajar di Universitas dan menerjunkan diri ke kancah politik. Sumbangan utama Marx bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas sosial yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul The Communist Manifest yang ditulis bersama Friedrich Engels. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Marx perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda, yaitu kelas borjuis (majikan) terdiri dari orang-orang yang menguasai alat produksi dan kelas proletar (buruh) yang tidak memiliki alat produksi dan modal sehingga menjadi kelas yang dieksploitasi oleh kelas borjuis (majikan). Menurut Marx, suatu saat kelas proletar akan menyadari kepentingan bersama dengan melakukan pemberontakan dan menciptakan masyarakat tanpa kelas. Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud tetapi pemikiran tentang stratifikasi dan konflik sosial tetap berpengaruh terhadap pemikiran perkembangan sosiologi khususnya terkait dengan kapitalisme.

3. Emile Durkheim (1858 – 1917) Merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif. Karya utamanya antara lain Rules of The Sociological Method, The Division of Labour in Society, Suicide, Moral Education, dan The Elementary Forms of The Religious Life. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas dengan membedakan dua tipe utama solidaritas yaitu solidaritas mekanis yang merupakan tipe solidaritas yang didasarkan pada persamaan dan biasanya ditemui pada masyarakat sederhana dan solidaritas organis yang ditandai dengan adanya saling ketergantungan antarindividu atau kelompok lain, masyarakat tidak lagi memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Lambat laun pembagian kerja dalam masyarakat (munculnya diferensiasi, spesialisasi) semakin berkembang sehingga solidaritas mekanis berubah menjadi solidaritas organis. Pada masyarakat dengan solidaritas organis masing-masing anggota masyarakat tidak lagi dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri melainkan ditandai oleh saling ketergantungan yang besar dengan orang atau kelompok lain. Solidaritas organis merupakan suatu sistem terpadu yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung seperti bagian-bagian suatu organisme biologis. Berbeda dengan solidaritas mekanis yang didasarkan pada hati nurani kolektif maka solidaritas organis didasarkan pada akal dan hukum.

Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia
Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Menerapkan pengetahuan sosiologi secara praktis tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga dalam skala mikro, tetapi juga menyangkut hubungan antarsuku, agama, dan ras serta berbagai aspek kehidupan yang lebih luas dalam skala makro. Terlebih lagi dalam menghadapi berbagai masalah sosial yang sering muncul akhir-akhir ini di Indonesia, peranan sosiologi sangat diharapkan.

Beberapa masalah sosial yang dihadapi Indonesia dewasa ini di antaranya menyangkut masalah nilai-nilai, masalah penegakan hukum, masalah hubungan antarsuku bangsa, dan modernisasi. Bagaimana menerapkan pengetahuan sosiologi dalam menghadapi masalah-masalah tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

1. Masalah Nilai-Nilai Mengenai nilai-nilai yang ada di Indonesia dewasa ini, terdapat kecenderungan masyarakat menganut nilai-nilai yang dianggap negatif oleh bagian terbesar warga masyarakat, tetapi secara terpaksa harus dianut juga (padahal secara logis dan benar, seharusnya dihindari). Misalnya, dalam bidang hakikat hidup ada kecenderungan yang sangat kuat untuk menekankan nilai keakhlakan atau spiritualisme semata, atau sebaliknya pada nilai kebendaan atau materialisme. Kecenderungan untuk berpedoman pada nilai keakhlakan semata terdapat pada golongan masyarakat yang secara relatif dirugikan oleh keadaan. Pada golongan masyarakat yang lain, terdapat kecenderungan untuk memberikan tekanan yang sangat kuat pada nilai kebendaan sehingga ada anggapan kuat bahwa hidup ini dikendalikan oleh materialisme semata. Pengaruh dari nilai tersebut sangat terasa pada nilai-nilai lainnya, seperti ada kecenderungan kuat untuk berkarya demi mendapatkan kedudukan dengan atribut-atribut yang konsumtif yang kemudian disusul dengan nilai yang berorientasi pada masa kini. Hal ini kemudian tidak memperhatikan kelestarian alam dan mempunyai pengaruh besar terhadap pergaulan sosial yang dilandasi pada faktor kebendaan semata-mata. Tekanan pada nilai kebendaan mempunyai suatu akibat bahwa di dalam pergaulan hidup yang sangat dipentingkan adalah status atau kedudukan. Sebagaimana dikatakan di awal, hal ini merupakan salah satu ciri masyarakat sederhana. Padahal, proses perubahan terencana yang dewasa ini dilakukan mempunyai tujuan mencapai suatu masyarakat modern, di mana peranan (role) sangat di pentingkan. Misalnya, seseorang yang diberikan jabatan tertentu bukanlah bergantung pada gelar kesarjanaan, akan tetapi pada prestasi objektifnya di dalam menjalankan fungsi dalam jabatan tersebut. Hal-hal yang dijelaskan tersebut banyak terjadi dalam sistem masyarakat Indonesia dewasa ini dan seperti sudah melembaga yang sukar untuk diubah. Nilai kebendaan tersebut bahkan dapat dijumpai kecenderungannya dalam bidang lain, seperti politik, ekonomi, sosial, hukum, dan lainnya. Ketimpangan dalam kehidupan manusia akan terus terjadi jika tekanan hanya diletakkan pada satu nilai saja. Misalnya, jika orang lebih mementingkan nilai kebendaan dan melupakan nilai keakhlakan atau sebaliknya.

2. Masalah Penegakan Hukum Proses penegakan hukum merupakan suatu penyerasian antara nilai-nilai, norma-norma, dan perikelakuan nyata dalam masyarakat. Apabila terjadi ketidakserasian, timbullah masalah di dalam proses penegakan hukum, baik dalam skala kecil maupun besar, terutama yang menyangkut hubungan interpersonal antara penegak-penegak hukum yang mempunyai pengaruh timbal balik dan lembagalembaga hukum yang menurut GBHN harus diserasikan. Secara konvensional, yang dianggap penegak hukum adalah hakim, jaksa, polisi, pengacara, dan petugas-petugas lembaga pemasyarakatan. Hakim, jaksa, dan polisi, misalnya oleh peraturan perundang-undangan yang ada ditempatkan pada kedudukan atau status yang sederajat, padahal peranannya berbeda-beda. Akan tetapi, pada kenyataannya, mereka lebih diorientasikan pada status sehingga tidak jarang peran masing-masing diabaikan demi menjaga prestise korpsnya masing-masing. Keadaan yang tidak menguntungkan dari pencari keadilan tersebut juga ditambah dengan kurangnya fasilitas dan taraf kesadaran serta kepatuhan hukum yang relatif rendah dari warga masyarakatnya. Misalnya, ada hakim atau jaksa yang mudah disogok atau masyarakat yang dibodohi oleh hukum. Masalah tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang dianut padahal di dalam hal-hal tertentu malahan harus dihindari. Di dalam proses penegakan hukum di Indonesia, ada suatu kecenderungan yang kuat untuk menekankan pada nilai ketertiban, kepastian, kepentingan umum, dan kebendaan. Padahal, para pencari keadilan juga memerlukan ketenteraman, kesebandingan, dan kepentingan pribadi, ataupun keakhlakan.

3. Masalah Hubungan Antarsuku Bangsa Masalah ini bisa terjadi pada masyarakat sederhana, madya, ataupun modern. Hal ini mungkin harus dibedakan dari masalah yang terjadi antara golongan pribumi dan nonpribumi. Mengenai hubungan antarsuku bangsa, mungkin saja timbul masalah yang bersumber pada hal-hal sebagai berikut. a. Suatu suku bangsa tertentu ingin memaksakan unsur-unsur kebudayaan khusus yang dianutnya pada suku bangsa lain, baik secara nyata maupun tidak. b. Suatu suku bangsa tertentu mencoba memaksakan unsur-unsur agama yang dianutnya terhadap suku bangsa lain yang berbeda agamanya. c. Suatu suku bangsa tertentu ingin atau mencoba men dominasi suku bangsa lain secara politis. d. Suku-suku bangsa tertentu bersaingan keras untuk mendapatkan lapangan mata pencaharian yang sama dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. e. Adanya potensi konflik yang terpendam.

Di Indonesia sebagai masyarakat majemuk, permasalahannya sudah jelas, yaitu setiap suku bangsa mempunyai kebudayaan khusus dan sistem sosial yang berbeda-beda. Secara sosiologis, perlakuannya juga harus berbeda sehingga timbul masalah bagai mana mengadakan pengaturan yang diskriminatif dan adil. Diskriminasi dan keadilan seringkali dianggap sebagai dua nilai yang berlawanan sehingga pada pengertian diskriminasi senantiasa diberikan pengertian negatif. Padahal kedua pengertian tersebut merupakan nilai-nilai yang berpasangan yang tidak jarang bertentangan sehingga harus diserasikan.

4. Modernisasi Seringkali dikatakan bahwa modernisasi tidaklah identik dengan westernisasi. Anggapan tersebut timbul karena modernisasi di masyarakat Barat mempunyai akibat-akibat yang negatif. Walau demikian, terdapat berbagai aspek modernisasi yang dapat dinilai baik untuk pembangunan masyarakat Indonesia sehingga perlu ditiru. Perkembangan modernisasi selanjutnya tidak terbatas pada industrialisasi dan demokratisasi saja, tetapi menyangkut pula barbagai bidang kehidupan lainnya yang saling berhubungan sehingga kemajuan suatu bidang kehidupan akan diikuti oleh bidangbidang kehidupan yang lain, seperti:

a. kemajuan ilmu pengetahuan maka akan diikuti oleh teknologi; b. kemajuan material atau kebendaan yang digunakan oleh setiap manusia harus dimbangi oleh sikap mental untuk menyesuaikan diri dengan benda yang dimilikinya, jika tidak, akan dianggap sebagai orang yang ketinggalan zaman atau ketinggalan kebudayaan. Setiap perubahan yang terjadi di masyarakat tentu saja ada sisi baik dan sisi buruknya. Hal ini bergantung pada masyarakat sendiri dalam menafsirkan modern. Akan tetapi, jika kata modern ditafsirkan secara salah, akan mengakibatkan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan budaya atau kepribadian bangsa, seperti meniru gaya penyanyi atau bintang film supaya dianggap modern. Padahal modern dan tidaknya bukan dengan jalan meniru kehidupan gaya Eropa atau Amerika, melainkan sikap dan perilaku sebagai orang modern. Modernisasi merupakan perubahan sosial dari keadaan yang tradisional atau pra-industri ke arah modernitas melalui transisi (peralihan). Dalam kehidupan masyarakat tradisional dapat dikatakan bahwa seluruh masyarakat memiliki jiwa yang tradisional. Akan tetapi, pada masyarakat peralihan terdapat masyarakat yang memiliki jiwa berlainan, yaitu tradisional, transisi, dan telah modern yang menyebabkan masyarakat tersebut dapat berbaur. Dengan demikian, perilaku antarsifat-sifat masyarakat satu sama lain akan tampak sekali perbedaannya, seperti berikut ini. a. Masyarakat yang berjiwa tradisional akan menganggap setiap perubahan dapat mendatangkan pengaruh bagi kehidupan masyarakat dan dapat menyebabkan kerugian. Setiap perubahan akan ditentang karena mereka lebih mementingkan kemampuan daerahnya dalam setiap kehidupan masyarakat. b. Masyarakat transisi akan senantiasa memperhitungkan perubahan yang datang, tetapi mereka kadangkala salah menafsirkan konsep modern sehingga setiap yang datang dan berasal dari luar (terutama berasal dari masyarakat Barat dan Eropa/Amerika) kadangkala dianggap modern. c. Masyarakat yang berjiwa modern akan menerima setiap perubahan yang bernilai positif dan menolak pengaruh yang bersikap negatif karena penting sekali bagi perkembangan kehidupan masyarakat, walaupun datangnya dari luar.

Proses perubahan ke arah yang lebih maju dari sebelumnya yang ditunjang oleh sikap dan perilaku masyarakat untuk menerima perubahan-perubahan tersebut merupakan suatu proses ke arah modern yang dinamakan modernisasi. Dengan demikian, modernisasi dapat diartikan sebagai suatu sikap pikiran yang mempunyai kecenderungan untuk pendahuluan sesuatu yang baru daripada yang bersifat tradisi, dan satu sikap pikiran yang hendak menyesuaikan soal-soal yang sudah menetap menjadi kebutuhankebutuhan yang baru. Modernisasi umumnya dihubungkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk suatu kemajuan masyarakat secara positif, begitu pula masyarakat secara terbuka menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam modernisasi memainkan peranan yang sangat penting di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, manusia sebagai pelaku modernisasi dituntut untuk selalu siap menerima perubahan-perubahan ke arah kemajuan yang positif. Perubahan-perubahan tersebut, misalnya: a. sikap masyarakat akan pentingnya pendidikan sekolah; b. keinginan untuk hidup lebih baik; c. adanya usaha untuk mengejar ketinggalan dari masyarakat lain; d. menghargai pendapat orang lain; e. tidak menganggap pendapatnya lebih baik daripada orang lain; f. memandang bahwa kehidupan hari esok harus lebih baik daripada hari ini; dan lain-lain.