Konsep Pendapatan dan Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional

Konsep Pendapatan dan Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional

Konsep Pendapatan dan Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional

Perhitungan Pendapatan Nasional
Perhitungan Pendapatan Nasional

Perhitungan Pendapatan Nasional

A Pengertian Pendapatan Nasional

Pengertian dan penghitungan pendapatan nasional (National Income) dapat ditinjau dari tiga pendekatan, yaitu 1. Pendekatan/Metode Produksi (Produk Domestik Bruto/PDB); 2. Pendekatan/Metode Pengeluaran (Produk Nasional Bruto/PNB); 3. Pendekatan/Metode Pendapatan (Pendapatan Nasional/PN).

Perhitungan Pendapatan Nasional

1. Pendekatan/Metode Produksi (Produk Domestik Bruto/ PDB)

Perhitungan Pendapatan Nasional  – Berdasarkan metode ini pendapatan nasional adalah barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu. Dengan metode ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan setiap nilai tambah (value added) proses produksi di dalam masyarakat (warga negara asing dan penduduk) dari berbagai lapangan usaha suatu negara dalam kurun waktu satu periode (biasanya satu tahun). Di dalam suatu perekonomian, di negara-negara maju atau di negaranegara berkembang, barang dan jasa diproduksikan bukan saja oleh perusahaan milik penduduk negara tersebut, melainkan oleh penduduk negara lain. Selalu didapati produk nasional diciptakan oleh faktor-faktor produksi yang berasal dari luar negeri.

Perhitungan Pendapatan Nasional  – Perusahaan multinasional beroperasi di berbagai negara dan membantu menaikan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh negara-negara tersebut. Perusahaan multinasional tersebut menyediakan modal, teknologi, dan tenaga ahli kepada negara tempat perusahaan itu beroperasi. Dengan demikian, Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product(GDP) adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diprodusikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut dan asing. Komponen-komponen pendapatan nasional yang termasuk dalam penghitungan dengan metode produksi, di antaranya, adalah sebagai berikut.

Perhitungan Pendapatan Nasional

a. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. b. Pertambangan dan penggalian. c. Industri pengolahan. d. Listrik, gas, dan air minum. e. Bangunan. f. Perdagangan, hotel, dan restoran. g. Pengangkutan dan komunkasi. h. Bank dan lembaga keuangan lainnya. i. Sewa rumah. j. Pemerintahan dan pertahanan. k. Jasa-jasa.

Perhitungan Pendapatan Nasional  – Hasil produksi dari setiap lapangan usaha tersebut dijumlahkan dalam satu tahun lalu dikalikan harga satuan masing-masing. Maka rumusnya adalah: PDB/Y = (Q1 . P1 ) + (Q2 + P2 ) + …. + (Qn + Pn)

Keterangan: Y = Pendapatan nasional (Produk Domestik Bruto) Q = Jumlah barang P = Harga barang

2. Pendekatan/Metode Pengeluaran (Produk Nasional Bruto/PNB)

Pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran dapat diartikan jumlah pengeluaran secara nasional untuk membeli barang dan jasa dalam satu periode, biasanya satu tahun. Berdasarkan metode pengeluaran, pendapatan nasional adalah penjumlahan seluruh pengeluaran yang dilakukan seluruh pelaku ekonomi (rumah tangga, perusahaan, pemerintah, masyarakat luar negeri) di dalam suatu negara selama periode tertentu (satu tahun). Hasil penghitungannya disebut Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product(GNP).

Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP) adalah konsep yang mempunyai arti yang bersamaan dengan GDP, tetapi memperkirakan jenis-jenis pendapatan yang sedikit berbeda. Dalam menghitung PNB, nilai barang dan jasa yang dihitung dalam pendapatan nasional hanyalah barang dan jasa yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga negara dari negara yang pendapatan nasionalnya dihitung. Karena faktor-faktor produksi yang dimiliki warga negara suatu negara terdapat di negara itu sendiri atau luar negeri, nilai produksi yang diwujudkan oleh faktor-faktor yang digunakan di luar negeri juga dihitung di dalam PNB. Sebaliknya, dalam PNB tidak dihitung produksi yang diwujudkan oleh faktor-faktor produksi milik penduduk atau perusahaan negara lain yang digunakan di negara tersebut.

3. Pendekatan/Metode Pendapatan (Pendapatan Nasional/ PN) Pendapatan nasional menurut pendekatan ini adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi (rumah tangga) yang digunakan untuk memproduksikan barang dan jasa dalam satu tahun tertentu.

B Konsep Pendapatan Nasional

Agar lebih memahami pendapatan nasional, dalam ilmu ekonomi dikenal beberapa konsep pendapatan nasional.

1. Produk Domestik Bruto (PDB) Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP) adalah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan seluruh warga masyarakat (termasuk warga negara asing) suatu negara pada periode tertentu.

2. Produk Nasional Bruto (PNB) Produk Nasional Bruto (Gross National Product/GNP) adalah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara dalam periode tertentu, termasuk di dalamnya barang dan jasa yang dihasilkan warga negara tersebut yang berada di luar negeri. Barang dan jasa yang dihasilkan warga negara asing yang berada di negara tersebut tidak termasuk GNP.

GNP = GDP Produk Neto terhadap Luar Negeri

3. Produk Nasional Neto (PNN) Produk Nasional Neto (Net National Product/NNP) adalah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara.

NNP = GNP (Penyusutan Barang Modal)

4. Pendapatan Nasional Neto (Bersih) Pendapatan Nasional Neto (Net National Income/NNI) adalah nilai dari produk nasional bersih (NNP) dikurangi pajak tidak langsung.

NNI = NNP Pajak Tidak Langsung

5. Pendapatan Perseorangan Pendapatan perseorangan (Personal Income/PI) adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima seseorang sebagai balas jasa dalam proses produksi. Pendapatan perseorangan (Personal Income) ini dapat diperhitungkan dari NNI dikurangi:

a. pajak perseroan, yaitu pajak yang dibayar oleh setiap badan usaha kepada pemerintah; b. laba ditahan, yaitu jumlah laba yang tetap ditahan (tidak dibagi) di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu, misalnya untuk keperluan perluasan perusahaan; c. iuran jaminan sosial dan iuran asuransi; d. dalam personal income ini harus kita tambahkan dengan transfer pa ment adalah pembayaran-pembayaran dari negara yang dibayarkan kepada orang-orang tertentu, dan pembayaran tersebut bukan merupakan balas jasa atas keikutsertaannya dalam proses produksi tahun sekarang, melainkan sebagai balas jasa untuk tahun-tahun sebelumnya atau pembayaran pada seseorang yang sebenarnya berasal dari pendapatan orang lain. Contoh transfer pa ment adalah:

a. pembayaran kepada orang yang sudah pensiun, b. tunjangan para veteran, dan c. dana-dana sosial (pembayaran untuk para penganggur).

PI = (NNI + Transfer Pa ment) (Iuran Jaminan Sosial + Iuran Asuransi + Laba ditahan + Pajak Perseroan)

6. Pendapatan Bebas Pendapatan bebas (Disposable Income/DI) adalah pendapatan yang diterima masyarakat yang sudah siap untuk dibelanjakan penerimanya. Pendapatan bebas diperoleh dari pendapatan persorangan dikurangi pajak langsung.

DI = PI Pajak Langsung

7. Pendapatan Dibawa Pulang Pendapatan dibawa pulang (Take Home Pa /THP) adalah pendapatan yang dibawa pulang untuk membayar bermacam-macam kebutuhan.

C Manfaat Penghitungan Pendapatan Nasional

Penghitungan pendapatan nasional bertujuan mendapatkan taksiran yang akurat mengenai nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara selama satu tahun. Manfaat-manfaat dilakukannya penghitungan pendapatan nasional itu, antara lain sebagai berikut.

1. Menjadi sumber informasi bagi pemerintah a. Data pendapatan nasional digunakan oleh pemerintah untuk menilai efektivitas kebijakan-kebijakan yang telah diambil. Misalnya, untuk menilai pengaruh kebijakan perubahan tingkat pajak terhadap pengeluaran masyarakat suatu negara. b. Kecenderungan (trend) perkembangan pendapatan nasional digunakan oleh pemerintah untuk mengidentifikasi masalah dan merencanakan program untuk menanggulangi masalah tersebut. Misalnya, kenaikan pendapatan nasional diikuti dengan peningkatan keinginan masyarakat untuk membeli lebih banyak mobil pribadi. Kenaikan jumlah mobil pribadi akan menimbulkan masalah berupa tidak memadainya lagi lebar jalan raya yang tersedia. Oleh karena itu, pemerintah perlu merencanakan program pelebaran jalan lebih dini.

2. Mengetahui struktur perekonomian Dari penghitungan PNB, kita dapat mengetahui struktur perekonomian suatu negara. Misalnya, jika sumbangan terhadap pendapatan nasional lebih besar daripada sektor industri, struktur perekonomian negara tersebut bergerak ke negara industri.

3. Mengetahui perekonomian antardaerah Dengan membandingkan produksi pendapatan daerah dan jumlah penduduk daerah masing-masing, akan diketahui kehidupan ekonomi daerah yang satu berbeda dengan daerah lainnya.

4. Memperkirakan perubahan pendapatan riil Penghitungan pendapatan nasional memungkinkan suatu negara mengetahui perubahan pendapatan riil penduduknya.

5. Membandingkan kemajuan ekonomi antarnegara Perhitungan pendapatan nasional memungkinkan dilakukannya perbandingan kemajuan ekonomi antarnegara. Perbandingan itu bisa dilaksanakan berdasarkan wilayah, misalnya antarnegara ASEAN, antarnegara maju, atau antarnegara berkembang.

D Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Ada beberapa indikator untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Berikut beberapa contohnya.

1. Koefisien Gini (Gini Ratio)

Dalam Kurva Lorenz, Garis Diagonal OE merupakan garis kemerataan sempurna karena setiap titik pada garis tersebut menunjukkan persentase penduduk yang sama dengan persentase penerimaan pendapatan. Koefisien Gini adalah perbandingan antara luas bidang A dan ruas segitiga OPE. Semakin jauh jarak garis Kurva Lorenz dari garis kemerataan sempurna, semakin tinggi tingkat ketidakmerataannya, dan sebaliknya. Pada kasus ekstrim, jika pendapatan didistribusikan secara merata, semua titik akan terletak pada garis diagonal dan daerah A akan bernilai nol. Sebaliknya pada ekstrem lain, bila hanya satu pihak saja yang menerima seluruh pendapatan, luas A akan sama dengan luas segitiga sehingga angka koefisien Gininya adalah satu (1). Jadi suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai koefisien Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan makin tidak merata jika nilai koefisien Gininya mendekati satu.

2. Menurut Bank Dunia Bank

Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi 40% penduduk termiskin.

 

Beberapa Diskusi Masalah Masalah Ekonomi Mikro

Beberapa Diskusi Masalah Masalah Ekonomi Mikro

Beberapa Diskusi Masalah Masalah Ekonomi Mikro

Masalah Ekonomi Mikro
Masalah Ekonomi Mikro

Masalah Ekonomi Mikro  – Berikut ini terdapat artikel yang membahas salah satu contoh masalah yang dihadapi ekonomi mikro, terutama dari analisis teori distribusi terutama keuntungan pengusaha. Bagaimana tanggapan kalian tentang masalah di bawah ini? Diskusikan secara berkelompok dengan tinjauan beberapa teori!

Masalah Ekonomi Mikro  – Pasar Tradisional Butuh Proteksi Regulasi Kamis, 19 Oktober 2006 BANDUNG: Dinas Koperasi dan UKM Jawa Barat tetap menuntut perlindungan regulasi bagi pasar tradisional dari serbuan pasar modern di wilayah tersebut seiring pembenahan pengelolaan pasar tradisional. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Barat, Mustofa Djamaluddin mengatakan Pemprov Jawa Barat menjelaskan proteksi pasar tradisional akan membuka kesempatan perkembangan koperasi dan pengusaha kecil karena pedagang di pasar tradisional memasarkan produk mereka. Berikutnya adalah tuntutan masyarakat berupa pelayanan dan kebersihan, termasuk kenyamanan di pasar tradisional, terlebih di tengah kehadiran pasar modern yang makin marak. Saat ini pemerintah provinsi Jawa Barat telah melakukan penataan 168 pasar di 25 kota dan kabupaten. Secara keseluruhan, jumlah pasar tradisional di wilayah ini mencapai dari 320 unit. Penataan pasar dilakukan bersama Pusat Koperasi Pasar atau Puskopas. Prosesnya, pasar-pasar tradisional itu ditata dari berbagai aspek, di antaranya kebersihannya, katanya dalam acara pembukaan pasar rakyat, pekan lalu.

Masalah Ekonomi Mikro  – Pada proses penataan pasar, menurut Mustofa, sangat perlu dilindungi pedagang-pedagang lama dengan memberikan berbagai keringanan, seperti harga jual pasar pada pedagang lama harus lebih murah dibandingkan pedagang baru. Pada kesempatan yang sama Wali Kota Bandung, Dada Rosada, mengatakan penataan pasar tradisional sangat penting dilakukan, selain untuk memberikan kenyaman pada pengunjung, juga mencegah kesemrawutan akibat pasar tumpah ke jalan. Terminal Terpadu Selain penataan pasar tradisional, Pemerintah Kota Bandung telah merencanakan pembangunan terminal terpadu di Gedebage yang sekarang menjadi pasar induk.

Masalah Ekonomi Mikro  – Saat ini Pemerintah Kota Bandung masih mempelajari proposal dari para calon pengembang. Dada Rosada mengatakan pembangunan terminal terpadu merupakan salah satu solusi untuk mengatasi terminal Cicaheum yang kurang representatif yang akan ditutup. Peruntukan eks-terminal Cicaheum akan diserahkan kepada pengembang, apakah akan dijadikan lokasi perhotelan atau lokasi restoran atau properti komersial lain. Sebelumnya, GKBI Investment mengajak kalangan perusahaan modal ventura daerah memperbaiki pasar tradisional agar kalangan pedagang mampu bertahan menghadapi serbuan peritel modern. Presiden Direktur PT GKBI Investment, Noorbasha Djunaid menyatakan perusahaan siap menjadi penjamin dalam pola kerja sama pembangunan pasar-pasar tradisional itu. Sistemnya BOT (build, operate, and transfer). Pembiayaannya dari masing-masing perusahaan modal ventura di daerah. Ini tidak sulit, ujarnya.

Masalah Ekonomi Mikro  – Dia mencontohkan bagaimana sebuah kawasan pabrik tekstil yang tidak terpakai di Pekalongan disekat-sekat dan berhasil disulap menjadi tempat penjualan produkproduk perajin yang efektif. –Hilman Hidayat– Bisnis Indonesia Dikutip dengan pengubahan dari www.depkop.go.id 

Masalah Ekonomi Mikro – Rangkuman

1. Secara umum subjek dalam ekonomi dibagi menjadi dua cabang, yaitu ekonomi mikro, yang membahas perilaku individu dan perusahaan dalam menghadapi permasalahan ekonomi, dan ekonomi makro, yang mempelajari sistem ekonomi secara keseluruhan baik menyangkut masalah total produksi barang dan jasa, total pendapatan, pengangguran, pertumbuhan ekonomi, dan berbagai permasalahan sejenis.

Masalah Ekonomi Mikro

2. Ekonomi makro menganalisis keadaan keseluruhan dari kegiatan perekonomian dan tidak membahas kegiatan produsen, konsumen, atau pemilik faktor produksi secara individu tetapi secara total. Dengan demikian permasalahan yang dibahas dalam ekonomi makro berbeda dengan ekonomi mikro.

Masalah Ekonomi Mikro

Masalah Ekonomi Mikro  – Evaluasi

I. Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang benar! 1. Berikut ini merupakan permasalahan ekonomi mikro, yaitu …. a. pendapatan nasional b. inflasi c. perilaku produsen d. pengangguran e. pertumbuhan ekonomi 2. Harga barang-barang naik secara terus-menerus dan berlangsung lama. Kondisi ini menggambarkan permasalahan yang dihadapi …. a. ekonomi makro b. ekonomi mikro c. ekonomi terapan d. ekonomi rakyat e. bukan permasalahan ekonomi 3. Harga ditentukan oleh mekanisme pasar. Pernyataan tersebut merupakan masalah yang dibahas dalam …. a. ekonomi makro b. ekonomi mikro c. ekonomi terapan d. ekonomi rakyat e. bukan permasalahan ekonomi 4. Ahli ekonomi berikut yang merupakan pelopor ekonomi makro adalah …. a. J.S. Mill b. Adam Smith c. Pigou d. Marshall e. J.M. Keynes 5. Pelopor ekonomi mikro adalah …. a. J.S. Mill d. Marshall b. Adam Smith e. J.M. Keynes c. Pigou

6. Peristiwa kegagalan panen kelapa sawit akibat terjadinya pemogokan karyawan PT Perkebunan Nusantara termasuk masalah …. a. ekonomi makro b. ekonomi mikro c. ekonomi rakyat d. ekonomi makro dan mikro e. bukan permasalahan ekonomi 7. Peristiwa khawatirnya pengamat ekonomi atas meningkatnya inflasi akibat pesatnya pertumbuhan ekonomi termasuk masalah …. a. ekonomi rakyat b. ekonomi makro c. ekonomi makro dan mikro d. bukan permasalahan ekonomi e. ekonomi mikro 8. Peristiwa jatuhnya angka indeks harga produsen termasuk masalah …. a. ekonomi mikro b. ekonomi rakyat c. bukan permasalahan ekonomi d. ekonomi makro dan mikro e. ekonomi makro 9. Peristiwa naiknya tarif angkutan umum di DKI Jakarta akibat dikuranginya subsidi BBM termasuk masalah …. a. ekonomi makro b. ekonomi mikro c. ekonomi rakyat d. ekonomi makro dan mikro e. bukan permasalahan ekonomi 10. Peristiwa meningkatnya pengangguran akibat resesi ekonomi di Indonesia termasuk masalah …. a. ekonomi terapan b. ekonomi mikro c. bukan permasalahan ekonomi d. ekonomi makro e. ekonomi makro dan mikro

11. Peristiwa pesatnya kemampuan teknologi yang membuat harga komputer semakin murah termasuk masalah …. a. ekonomi makro b. ekonomi rakyat c. ekonomi makro dan mikro d. bukan permasalahan ekonomi e. ekonomi mikro 12. Peristiwa naiknya harga bahan baku impor yang membuat produsen lokal menaikkan harga termasuk masalah …. a. ekonomi mikro b. ekonomi makro c. ekonomi rakyat d. ekonomi makro dan mikro e. bukan permasalahan ekonomi 13. Peristiwa krisis ekonomi Asia 1997–1998 yang menjatuhkan perusahaan Indonesia termasuk masalah …. a. ekonomi rakyat b. ekonomi makro c. ekonomi mikro d. bukan permasalahan ekonomi e. ekonomi makro dan mikro 14. Berapa batas maksimal tingkat pengangguran yang masih dapat digolongkan sebagai full emplo ment? a. 6% b. 8% c. 4% d. 10% e. 7% 15. Berikut ini yang bukan ahli ekonomi mikro adalah …. a. Adam Smith b. David Ricardo c. Marshall d. J.M. Keynes e. Pigou

II. Selesaikanlah soal-soal berikut ini! 1. Sebutkan pengertian dari ekonomi mikro dan ekonomi makro! 2. Apa yang membedakan antara ekonomi mikro dan ekonomi makro? 3. Harga dapat ditinjau secara makro dan mikro. Pada situasi seperti apakah hal tersebut terjadi? 4. Masalah-masalah ekonomi apa yang dihadapi Indonesia sekarang ini? 5. Jika harga suatu barang naik menurut tinjauan mikro, mekanisme harga akan menyelesaikannya. Bagaimana hal tersebut terjadi? 6. Sebutkan permasalahan dari ekonomi makro! 7. Apa saja yang dipelajari dalam ekonomi mikro? 8. Apa saja yang dipelajari dalam ekonomi makro? 9. Apa yang dimaksud dengan inflasi? 10. Sebutkan bagaimana cara mengatasi masalah pengangguran di Indonesia!

Unjuk Sikap Lima Tahun Lagi Ada 116,5 Juta Orang di Negeri Ini Serbu Pasar Kerja SERAM! Kondisi sebagaimana judul di atas akan melanda negeri ini tahun 2009. Ketika itu dari perkiraan jumlah penduduk 228,9 juta orang, sebanyak 168,9 juta jiwa atau 73,7 persen di antaranya merupakan penduduk usia kerja. Dari jumlah ini, 116,5 juta orang atau 69 persen dari penduduk usia kerja dipastikan menyerbu pasar kerja sehingga sangat menakutkan karena pertumbuhan ekonomi belum jelas besarannya.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, pada Sosialisasi dan Penyerahan Buku Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN) 2004-2009 di Jakarta, Rabu (23/6), situasi ketenagakerjaan yang menakutkan itu harus bisa dikikis. Paling tidak, kata dia, Indonesia harus memosisikan tenaga kerjanya dalam konteks global untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi menjadi 6–7 persen. Sebab, kata Dorodjatun, berbagai faktor, baik ekonomi maupun nonekonomi, sangat memengaruhi masalah ketenagakerjaan di Indonesia sehingga membutuhkan penyelesaian yang multidimensi.

Artinya, penanggulangan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu departemen, tetapi harus melibatkan semua institusi pemerintah dan swasta. Dengan memosisikan tenaga kerja masuk pasar internasional dengan kualitas relatif tinggi, maka pertumbuhan ekonomi bisa membaik karena secara otomatis pendapatan masyarakat ikut naik. Apalagi Menko menjelaskan bahwa masih sedikit investasi asing langsung (FDI) masuk. Proteksi oleh beberapa negara.

birokrasi yang kurang kondusif bagi pengembangan usaha adalah faktor yang memengaruhi masalah tenaga kerja. Kondisi tersebut diperparah dengan persoalan lain di dalam negeri, seperti pelaksanaan otonomi daerah, yang dalam banyak hal sering tidak mendukung penciptaan lapangan kerja. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4 persen belum cukup mampu menyerap pertambahan jumlah pengangguran. Faktor stabilitas politik dan keamanan juga ikut memperparah. –Agnes Swetta Pandia– Dikutip dengan pengubahan dari Harian Umum Kompas, 24 Juni 2004 Sumber: www.nakertrans.go.id Setelah membaca wacana di atas, jawablah pertanyaan berikut! 1. Apa pendapatmu tentang situasi tersebut? 2. Apa yang akan kalian lakukan untuk menghadapi situasi tersebut mengingat suatu hari nanti kalian termasuk tenaga kerja yang menyerbu pasar tenaga kerja? 3. Apa yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi hal tersebut? Unjuk Kerja Dengan memerhatikan lingkungan sekitarmu, permasalahan apa sajakah yang termasuk bahasan ekonomi makro dan ekonomi mikro?

 

Kebijakan Pemerintah Untuk Ekonomi Mikro dan Makro

Kebijakan Pemerintah Untuk Ekonomi Mikro dan Makro

Kebijakan Pemerintah dalam Menghadapi Masalah Ekonomi

Mikro dan Makro
Mikro dan Makro

Mikro dan Makro

A. Pengertian Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro

Mikro dan Makro  – Ekonomi mikro adalah cabang dari ilmu ekonomi yang secara khusus membahas perilaku individu dan perusahaan yang dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. Ekonomi mikro mempelajari kegiatan-kegiatan ekonomi dari unit-unit ekonomi individual, yaitu individu sebagai konsumen, individu sebagai pemilik faktor produksi, dan individu sebagai produsen. Dalam ekonomi mikro dipelajari bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, setiap individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan individu-individu lain akan menciptakan keseimbangan dalam skala makro dengan asumsi ceteris paribus. (Sumber:id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_mikro)

Ekonomi makro adalah bidang ilmu yang mempelajari keseluruhan ekonomi dalam bentuk jumlah barang dan jasa yang diproduksi, total pendapatan yang dihasilkan, tingkat pengangguran, serta sifat-sifat umum harga barang. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan, seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja, dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan.

Mikro dan Makro  – Hingga tahun 1930 sebagian besar analisis ekonomi terfokus pada industri dan perusahaan. Ketika terjadi depresi besar pada tahun 1930-an, dan dengan perkembangan konsep pendapatan nasional dan statistik produk, bidang ekonomi makro mulai berkembang. Saat itu, gagasan-gagasan yang berasal dari John Maynard Keynes, menggunakan konsep aggregate demand untuk menjelaskan fluktuasi antara hasil produksi dan tingkat pengangguran. Gagasannya sangat berpengaruh dalam perkembangan bidang ini (disebut Ekonomi Keynesian). (Sumber:id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_makro).

Mikro dan Makro

B. Perbedaan Analisis Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro

Mikro dan Makro  – Dari pengertian yang telah dibahas di atas, kita dapat membedakan sudut pandang ekonomi mikro dan ekonomi makro dalam melihat permasalahan ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat dari pebedaan-perbedaan analisis ekonomi mikro dan ekonomi makro yang akan diuraikan di bawah ini.

1. Analisis Ekonomi Mikro. Analisis ekonomi mikro terdiri dari teori harga, teori produksi, dan teori distribusi. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Teori harga, antara lain membahas proses pembentukan harga oleh interaksi antara penawaran dan permintaan akan suatu barang dan jasa di dalam suatu pasar, faktor-faktor yang memengaruhi perubahan permintaan dan penawaran, hubungan antara harga permintaan dan penawaran, bentuk-bentuk pasar dan sebagainya.

b. Teori produksi, antara lain menganalisa masalah biaya produksi, tingkat produksi yang paling menguntungkan produsen, serta kombinasi faktor-faktor produksi yang harus dipilih oleh produsen agar tujuan untuk mencapai laba maksimum tercapai.

c. Teori distribusi membahas faktor-faktor yang menentukan tingkat upah tenaga kerja, tingkat bunga yang harus dibayar karena penggunaan modal, dan tingkat keuntungan yang diperoleh para pengusaha.

Mikro dan Makro  – Teori ekonomi mikro mula-mula dikembangkan oleh ahli-ahli ekonomi klasik pada abad ke-18 dan 19, seperti Adam Smith, David Ricardo, yang selanjutnya dikembangkan oleh Marshall dan Pigou.

Mikro dan Makro  – Untuk menyusun teorinya, ahli-ahli ekonomi klasik (mikro) mendasarkan pada anggapan-anggapan dasar tertentu, antara lain :

a. setiap subjek ekonomi selalu bertindak ekonomis rasional, yaitu para konsumen selalu berusaha untuk mencapai kepuasan maksimal dari setiap barang dan jasa yang dikonsumsi, sedangkan produsen selalu berusaha untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

b. setiap subjek ekonomi mempunyai informasi yang lengkap atas segala sesuatu yang terjadi di pasar.

c. tingkat mobilitas tinggi sehingga para ahli ekonomi dapat segera menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di pasar.

Mikro dan Makro  – Berdasarkan anggapan-anggapan di atas para ahli ekonomi klasik berkeyakinan bahwa kegiatan ekonomi akan berkembang secara efisien, pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat, dan kesempatan kerja penuh akan tercapai (full emplo ment). Ekonomi mikro menganalisa kegiatan-kegiatan dan permasalahan ekonomi dari unit-unit ekonomi individual. Ekonomi makro menganalisisnya dari pendekatan sebaliknya. Artinya, yang dipelajari dalam ekonomi makro adalah variabel-variabel total, seperti pendapatan nasional, konsumsi, tabungan masyarakat, dan investasi total.

2. Analisis Ekonomi Makro. Ekonomi makro menganalisis keadaan keseluruhan dari kegiatan perekonomian. Ekonomi makro tidak membahas kegiatan yang dilakukan oleh seorang produsen, seorang konsumen atau seorang pemilik faktor produksi, tetapi pada keseluruhan tindakan para konsumen, para pengusaha, pemerintah, lembaga-lembaga keuangan, dan negara lain serta bagaimana pengaruh tidakan-tindakan tersebut terhadap perekonomian secara keseluruhan. Kelahiran teori ekonomi makro ditandai dengan terbitnya buku yang berjudul The General Theor of Emplo ment, Interest and Mone pada tahun 1973 yang ditulis oleh J. M. Keynes ahli ekonomi Universitas Cambridge, Inggris. Dan juga buku itu dipandang sebagai tonggak yang sangat penting dalam sejarah pemikiran ekonomi barat. Buku itu menyajikan teori yang menunjukkan bahwa pengangguran dapat terjadi dan bahkan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Akhirnya, banyak ahli ekonomi yang menerima pendapat Keynes, dan kelompok ini disebut Keynesian Economist yang sampai sekarang diterima sebagai teori yang benar dan dipraktikkan di banyak negara.

Permasalahan Ekonomi Makro. Ekonomi makro, yang merupakan salah satu cabang ilmu, ekonomi dapat membantu memecahkan permasalahan kebijakan ekonomi secara makro. Permasalahan kebijakan ekonomi makro mencakup masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengendalian perekonomian secara umum. Tugas pengendalian ekonomi makro adalah mengusahakan agar perekonomian dapat bekerja dan tumbuh secara seimbang, terhindar dari keadaan-keadaan yang dapat mengganggu keseimbangan umum tersebut. Ada tiga masalah ekonomi makro jangka pendek yang harus diatasi setiap saat. Ketiga masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a. Masalah inflasi. Inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi yang banyak dialami oleh hampir semua negara. Yang dimaksud dengan inflasi adalah suatu keadaan kecenderungan kenaikan harga-harga secara umum dan terus-menerus. Oleh sebab itu, kondisi semacam itu dianggap sebagai masalah dan tidak diperlukan kebijakan khusus untuk mengatasinya. Walaupun tidak secara otomatis menurunkan standar hidup, inflasi tetap merupakan masalah, karena dapat mengakibatkan redistribusi pendapatan di antara anggota masyarakat, dapat menyebabkan penurunan efisiensi ekonomi, dan dapat menyebabkan perubahan output dan kesempatan kerja dalam masyarakat.

b. Masalah pengangguran. Pengangguran terjadi karena jumlah tenaga kerja atau angkatan kerja melebihi tingkat kesempatan kerja yang tersedia. Berdasarkan tingkat pengangguran, dapat diketahui apakah perekonomian berada pada tingkat kesempatan kerja penuh (full emplo ment) atau tidak. Secara teoretis perekonomian dianggap mencapai tingkat kesempatan kerja penuh apabila tenaga kerja yang tersedia seluruhnya digunakan. Di negara kita upaya untuk menekan tingkat pengangguran dilakukan melalui pengendalian tingkat pertumbuhan penduduk. Program keluarga berencana merupakan salah satu alternatif untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Hal ini disebabkan pembangunan ekonomi tidak mempunyai arti jika dibarengi dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi.

c. Masalah ketimpangan neraca pembayaran. Neraca pembayaran adalah neraca yang memuat ikhtisar dari segala transaksi yang terjadi antara penduduk suatu negara dan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu, dan biasanya satu tahun. Transaksi-transaksi yang terdapat dalam neraca pembayaran menyangkut barang-barang dan jasa, dalam bentuk ekspor atau impor, transaksi finansial, seperti pemberian atau penerimaan kredit kepada atau dari negara lain, penanaman modal di luar negeri dan transaksitransaksi yang bersifat unilateral, seperti pembayaran transfer dari orang-orang yang tinggal di luar negeri. Ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran suatu negara dapat dikatakan merupakan masalah apabila ketidakseimbangan tersebut cukup besar. Jika kenyataan itu terjadi, diperlukan kebijakan pemerintah untuk mengatasinya. Dalam jangka panjang permasalahan ekonomi makro menyangkut persoalan pertumbuhan di bidang ekonomi. Masalah ini pada dasarnya menyangkut bagaimana mengatur perekonomian agar terdapat keserasian antara pertumbuhan penduduk, pertambahan kapasitas produksi, dan tersedianya dana untuk investasi.

C. Masalah Ekonomi Makro yang Dihadapi Pemerintah

Sebagai salah satu negara yang sedang berkembang, Indonesia menghadapi berbagai masalah ekonomi makro. Permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan Kesempatan Kerja/Tingkat Employment. Idealnya perekonomian harus dijaga agar jangan timbul pengangguran. Pengangguran merupakan gejala yang tidak diinginkan oleh masyarakat mana pun, tetapi dalam praktiknya tidak dapat kita hilangkan sama sekali. Jika tingkat pengangguran masih di bawah 4%, masih dapat dikatagorikan full emplo ment. Tabel berikut menunjukkan tingkat pengangguran di Indonesia.

2. Meningkatkan Kesempatan Kerja. Bagi negara-negara yang masih berkembang, usaha peningkatan kapasitas produksi nasional merupakan keharusan. Hal tersebut diupayakan dengan tujuan meningkatkan atau mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi.

3. Meningkatkan Pendapatan Negara. Tingkat pendapatan yang tinggi mencerminkan jumlah barang dan jasajasa yang dihasilkan oleh perekonomian tersebut berjumlah banyak. Tingkat pendapatan nasional yang tinggi akan sekaligus dapat dicapai jika permasalahan nomor 1 dan 2 dapat diatasi.

4. Menstabilkan Situasi Perekonomian. Kestabilan di sini meliputi kestabilan tingkat pendapatan, kesempatan kerja, kestabilan tingkat harga, dan kestabilan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Jika hal tersebut belum tercapai maka perekonomian Indonesia akan sulit berkembang karena dapat menimbulkan keengganan investor menginvestasikan modalnya di Indonesia.

5. Menyeimbangkan Neraca Pembayaran Luar Negeri. Dari segi tinjauan ekonomi murni baik neraca pembayaran luar negeri yang defisit maupun yang surplus bertendensi menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan. Akan tetapi, dari segi politik neraca pembayaran yang surplus lebih diinginkan daripada neraca pembayaran yang seimbang. Persoalannya pada saat ini neraca pembayaran luar negeri Indonesia masih defisit, jadi baik secara ekonomi maupun politik hal tersebut tidak menguntungkan.

6. Pemerataan Distribusi Pendapatan. Distribusi pendapatan nasional yang lebih merata umumnya dianggap sebagai distribusi pendapatan yang adil. Distribusi pendapatan yang tidak merata mempunyai tendensi menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial yang akhirnya berdampak pada ketidakstabilan ekonomi dan politik. Perekonomian di Indonesia masih lebih banyak berputar di Indonesia bagian Barat, dan pemerintah sedang berupaya untuk memeratakan pembangunan di daerah Indonesia bagian Timur. Di perkotaan pun dapat kita lihat bahwa tidak sedikit gedung-gedung atau komplek perumahan mewah berdampingan dengan daerah kumuh. Hal tersebut dapat menjadi salah satu ciri kesenjangan ekonomi yang masih terjadi di Indonesia.

Jika ditinjau dengan menggunakan pendekatan perhitungan ekonomi Model Kurva Lorentz adalah model yang digunakan secara luas pada pendekatan perhitungan kesenjangan/ketidakmerataan distribusi pendapatan pada suatu daerah/negara tanpa harus mengetahui keadaan ekonomi dari daerah/negara tersebut dan untuk menentukan besarnya kesenjangan distribusi pendapatan tersebut diturunkan secara visual suatu indikator ekonomi yakni angka koefisien Gini yang menunjukkan skala kesenjangan distribusi pendapatan. Lebih jelasnya akan dipelajari di bab berikutnya pada materi pendapatan nasional.

7. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Setiap negara senantiasa mengharapkan agar perekonomian yang dicapai mengalami peningkatan secara terus-menerus. Peningkatan perekonomian tersebut akan memupuk investasi serta kemampuan teknik produksi agar hasil produksi terus meningkat. Jika hasil produksi meningkat dan pendapatan masyarakat meningkat maka perekonomian mengalami pertumbuhan. Ciri-ciri negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi menurut Economic Commission for Asia and Far East (ECAFE) adalah sebagai berikut :

a. Negara tersebut mengalami peningkatan GNP atau pendapatan per kapita dari tahun ke tahun (Flow Output Approach).

b. Negara tersebut mengalami peningkatan investasi potensial (Level of Living Approach).

c. Di negara tersebut ditemukan sumber-sumber produktif dan dapat didayagunakan dengan lebih baik (Stock of Resources for Productive Asset Approach).

Beberapa hal yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Masih tingginya pengangguran dan kerentanan pasar tenaga kerja.

2. Lemahnya kegiatan investasi dan permasalahan fundamental terkait.

3. Tingginya potensi tekanan inflasi secara struktural. Tapi di sisi lain, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2008 akan mencapai 6,2–6,8 persen. Ini berarti lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,7–6,7 persen.

Optimisme tersebut, menurut Gubernur Bank Indonesia pada saat ini, Burhanuddin Abdullah, didukung oleh pencapaian kondisi makro ekonomi Indonesia hingga triwulan pertama yang terus membaik. Hingga triwulan kedua pertumbuhan diperkirakan mencapai 5,9 persen, ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi kEuangan dan Perbankan DPR di gedung parlemen, Jakarta, Senin (21/5). Meski optimis dengan pertumbuhan ekonomi tahun depan, Burhanuddin mengatakan, bank sentral tetap mempertahankan asumsi pencapaian inflasi sebesar lima plus minus satu persen. Tekanan inflasi kami perkirakan akan masih tetap tinggi, katanya.