Dampak Negatif Pergaulan Bebas

Dampak Negatif Pergaulan Bebas

Dampak Negatif Pergaulan Bebas

Dampak Negatif Pergaulan Bebas
Dampak Negatif Pergaulan Bebas

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik manusia maka terjadi pula perubahan di dalam tubuh remaja. Tumbuhlah kelenjar endokrin yang memproduksi hormon, sehingga organ-organ kelamin akan mengalami pertumbuhan. Pada remaja putri terjadi pembesaran kelenjar payudara dan membesarnya pinggul serta peningkatan pada berat dan tinggi badan. Adapun, pada remaja putra, jakun di lehernya mulai terlihat menonjol, suaranya menjadi sengau, berat, dan besar. Selain itu, bahunya mulai melebar, mulai tumbuh kumis serta tumbuh bulu di ketiak.

Akibat pertumbuhan fisik dan alat kelamin yang cepat, terjadi kegoncangan dan kebingungan dalam dirinya, khususnya dalam masalah pergaulan dengan lawan jenis. Pergaulan ini ditandai dengan adanya peningkatan perhatian kepada lawan jenis, kemudian meningkat kepada usaha mencari perhatian dan menjalin hubungan emosional. Apabila tahap ini sudah terjadi maka remaja akan menjalin pergaulan yang lebih erat lagi.

Pergaulan disertai dengan hubungan intim yang bebas telah menjadi salah satu masalah sosial yang memprihatinkan masyarakat Indonesia. Usia pubertas rata-rata remaja yang lebih dini sementara usia nikah semakin tinggi, peningkatan dorongan birahi pada usia remaja, kurang memadainya pengetahuan remaja tentang proses dan kesehatan reproduksi, menajamnya jumlah remaja yang berperilaku aktif dalam hubungan intim, miskinnya pelayanan dan bimbingan tentang kesehatan reproduksi untuk remaja, serta pengaruh negatif budaya pop serta industri turisme yang menyebarkan nilai hubungan intim yang biasa atau hubungan intim yang mudah melalui berbagai media cetak dan audiovisual menjadi faktor-faktor pemicu terjadinya pergaulan bebas.

Pergaulan bebas merupakan perbuatan yang banyak meresahkan kaum pendidik dan kaum tua. Sebelum melakukan hubungan intim yang bebas hendaknya para remaja memikirkan akibat yang ditimbulkannya. Berikut ini diuraikan beberapa dampak negatif hubungan intim yang bebas :

1. Kehamilan tidak diinginkan (KTD)

Karena pergaulan bebas, terjadilah kehamilan yang tidak diinginkan. Dalam masyarakat patriarkal seperti di Indonesia, perempuanlah yang sering menjadi kambing hitam. Kodrat deterministiknya untuk mengandung dan melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis.

Dalam pandangan masyarakat, remaja perempuan yang hamil ialah black sheep di tengah keluarganya, yang telah membawa aib dan mencoreng nama baik keluarga. Atmosfer penghakiman sosial dan dinamika menyalahkan korban (blaming the victim) tidak lagi menyediakan ruang yang memungkinkan remaja tersebut dipandang sebagai manusia utuh dengan spektrum luas, yang selain mempunyai kelemahan juga mempunyai kebaikan.

Di mata remaja sendiri, ia adalah seorang yang gagal dan pencemar nama baik keluarga. Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang-kadang disertai rasa benci dan marah, baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib atau keadaan. Dan jika ini sudah terjadi maka hanya ada tiga konsekuensi yang harus diambil yaitu aborsi, pernikahan dini, dan jika pasangannya tidak mau bertanggung jawab maka akan terjadi ibu lajang (single mothers).

2. Aborsi

Karena ketakutan menghadapi konsekuensi kehamilannya, banyak remaja hamil melakukan aborsi, mulai dari self-treatment sampai meminta bantuan tenaga medis. Tindakan aborsi ini memiliki dampak yang tidak ringan. Aborsi dapat menimbulkan masalah psikologis yang traumatis.

Para remaja yang melakukan aborsi memiliki perasaan bersalah dan berdosa yang cukup besar dan bersifat menetap untuk jangka waktu relatif lama. Di samping itu, kegagalan aborsi dapat menimbulkan masalah lain yang menyangkut kualitas kesehatan fisik dan mental bayi yang dilahirkan. Fetus yang dikandung umumnya telah mengalami deraan fisik dan mental yang bertubi-tubi: secara psikis si ibu menolak bayi yang dikandungnya, lalu mencoba digusur dengan berbagai jenis obat dan ramuan, sementara suasana batin si ibu dalam keadaan tidak seimbang.

3. Pernikahan dini

Karena gagal aborsi, sebagian besar dari remaja hamil melanjutkan kehamilan dengan perasaan terpaksa. Apabila pasangan bertanggung jawab dan orang tua menyetujuinya maka jalan yang ditempuh adalah pernikahan.

Idealnya, pernikahan itu dilaksanakan oleh laki-laki dengan wanita yang masing-masing sudah berumur dewasa. Secara sosial ekonomi, perkawinan dini berkaitan dengan terputusnya kelanjutan sekolah (drop out), terputusnya kesempatan meraih keterampilan, terbatasnya wawasan, pengetahuan dan potensi diri. Mereka akan kehilangan manisnya masa remaja yang menawarkan berjuta pengalaman sosial berharga. Mereka terjebak dalam rutinitas kerja rumah tangga tanpa sempat memikirkan kemajuan dirinya.

Untuk menempuh perkawinan, selayaknya kesiapan ekonomi calon pengantin patut dipertimbangkan. Perkawinan idealnya harus disertai oleh kesiapan hidup berdikari dan memisahkan diri dari keluarga asal masing-masing. Tetapi, jika yang melakukan perkawinan ialah seorang remaja yang jelas belum siap secara ekonomi maka mereka akan menggantungkan beban hidupnya pada orang tua.

Secara biomedis dan demografis, pernikahan dini akan mengakibatkan buruknya status kesehatan ibu dan anak. Fenomena ini terjadi karena kondisi fisik wanita pada umur belasan belum siap, belum cukup matang, dan belum dalam umur yang sehat untuk bereproduksi. Di samping itu, mereka belum siap untuk mengasuh dan mendidik seorang anak.

4. Ibu lajang (single mothers)

Status ibu lajang (single mothers) di Indonesia terjadi karena keterpaksaan, bukan hasil pilihan bebas seperti di negara-negara barat. Setelah gagal melakukan aborsi dan karena kasus incest, pasangan menolak bertanggung jawab, serta orang tua tidak merestui pernikahannya, maka remaja perempuan harus siap menjadi ibu lajang (single mothers). Hal itu berarti remaja perempuan tersebut harus siap menanggung beban ekonomi dan psikologi yang lebih berat. Dan dampak tersebut akan diwariskan pada anaknya.

Dampak ekonomi tentu saja berhubungan dengan masalah ekonomi dan berakibat pada masalah sosial, sedangkan dampak psikologis pada anak akan terus melekat yaitu anak tanpa ayah.

5. HIV/AIDS

Salah satu media penularan HIV/AIDS adalah melalui hubungan intim. Para remaja yang bergaul dengan hubungan intim bebas, maka nyawanya akan diincar oleh HIV/AIDS tersebut. HIV (Human Immunodefiency Virus) yaitu virus yang menyebabkan penurunan kekebalan tubuh manusia. HIV ini yang nantinya akan menyebabkan AIDS (Acquired Immune Defiency Syndrome), artinya kumpulan gejala penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia. Hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah seseorang yang terinfeksi HIV sehingga jika orang terkena virus ini maka virus akan terus berada dalam tubuh orang tersebut dan melemahkan sistem kekebalan tubuh yang terdapat pada sel darah putih. Keadaan ini akan berakibat orang tersebut akan mudah terkena berbagai macam penyakit. Dan penyakit ini yang akan membawa dalam kematian.

Dampak Negatif Pergaulan Bebas
Dampak Negatif Pergaulan Bebas

6. Penyakit Menular Kelamin (PMS)

Bukan hanya AIDS yang mengincar penganut pergaulan bebas tetapi Penyakit Menular Kelamin (PMS) lainnya pun akan menyerang setiap pelaku pergaulan bebas. Bakteri merupakan salah satu penyebab yang dapat menimbulkan PMS, PMS yang disebabkan oleh bakteri di antaranya gonore, sifilis dan chlamidia.

a. Gonore

Gejala penyakit gonore pada pria biasanya ditandai keluar nanah dari orifisium uretra eksterna. Adapun pada wanita biasanya tanpa gejala, hanya kadang-kadang nanah keluar dari introitus vagina. Kuman penyebab penyakit ini ialah Neisseria Gonorrhoeae atau Gonokukus, berbentuk seperti biji kopi atau buah ginjal.

Apabila penyakit ini tidak diobati, gonore akan menjalar melalui alat kelamin luar dan saluran kencing menuju ke organ kelamin bagian dalam. Pada pria, akan terjadi epididimitis yang bisa mengakibatkan kemandulan, bahkan ginjal juga dapat terinfeksi. Pada wanita dapat mengakibatkan Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau peradangan organ pelvis.

b. Sifilis

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidium. Dalam bahasa Indonesia penyakit ini disebut Raja Singa. Sifilis biasanya ditularkan dengan persetubuhan melalui vagina maupun anus atau oral dengan orang yang terinfeksi.

Sifilis tidak dapat diabaikan, karena di antara semua penyakit kelamin, penyakit ini merupakan terberat. Hampir semua alat tubuh bisa diserang. Bila sudah parah sifilis akhirnya memasuki tahap akhir. Luka yang besar dapat berbentuk di beberapa organ, seperti organ pencernaan, hati, paru-paru, kulit, dan otot.

Kerusakan yang lebih parah dapat terjadi jika infeksi menyerang sistem saraf pusat, maka kerusakan bisa fatal. Pada saraf pusat, sifilis mengakibatkan kerusakan otak, yang berakhir dengan paralisis, kebingungan, dan disorientasi.

c. Chlamidia

Kita memang sering mendengar gonore dan sifilis, tetapi infeksi chlamidia lebih sering terjadi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomitis. Bakteri ini menimbulkan berbagai infeksi seperti peradangan saluran kencing pada wanita dan pria, cervicitis, endomitris, dan PID (Pelvic Inflammatory Disease) pada wanita, serta epidimitis pada pria. Infeksi chlamidia berlangsung pada hubungan intim lewat vagina dan anus. Bakteri ini dapat pula mengenai mata bila terkena tangan yang sudah menyentuh kelamin dari orang yang terinfeksi. Chlamidia dapat menyerang tenggorokan. Gejala infeksi chlamidia mirip dengan gonore.

Berkaitan dengan dampak-dampak negatif yang ditimbulkan akibat pergaulan bebas, seharusnya remaja yang merupakan tulang punggung dan harapan bangsa dapat menentukan sikap. Sesuai dengan jiwa remaja yang sedang mencari identitas diri, suka bergaul dengan orang lain, dan tertarik pada lawan jenis maka remaja harus dapat tegas menyatakan abstinensi pergaulan bebas. Di dalam kamus, abstinensi disebut hidup tanpa atau hanya dengan sedikit makanan atau kenikmatan lainnya.

CARA MENGHINDARI PERGAULAN BEBAS

Untuk menghindarkan diri dari pergaulan bebas maka beberapa upaya dapat dilakukan remaja sebagai berikut :

1. Para remaja selalu berupaya untuk meraih prestasi dan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif, misalnya ikut kegiatan ekstrakurikuler yang bermanfaat.

2. Para remaja harus menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada birahi dan hiburan yang menekankan pornografi dan pornoaksi.

3. Pemerintah atau lembaga yang berwenang memberikan sosialisasi kepada para remaja tentang pengetahuan dan informasi tentang organ kelamin atau reproduksi.

Dengan didukung para guru, orang tua, dan lingkungan, para remaja selalu menanamkan atau menginternalisasikan nilai-nilai religius di mana pun berada sehingga remaja mempunyai pedoman yang kuat untuk menghindarkan diri atau abstinensi pergaulan bebas.

Demikianlah uraian tentang pergaulan bebas yang selalu mengikuti gerak langkah pergaulan para remaja. Dengan mengetahui dampak-dampak negatif di atas, maka para remaja harus dapat dengan tegas menyatakan abstinensi pergaulan bebas.. Dengan demikian, dunia akan menjadi dunia yang aman, sejahtera, dan damai.

Dampak Negatif Pergaulan Bebas
Dampak Negatif Pergaulan Bebas

Rangkuman

1. Pergaulan disertai dengan hubungan intim bebas telah menjadi salah satu masalah sosial yang memprihatinkan masyarakat Indonesia.

2. Dampak negatif pergaulan bebas, antara lain kehamilan tidak diinginkan (KTD), aborsi, pernikahan dini, ibu lajang (single mothers), HIV/ AIDS, dan berbagai Penyakit Menular Kelamin (PMS).

3. Cara menghindari pergaulan bebas, antara lain melakukan aktivitas yang positif dan bermanfaat, para remaja harus menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang menjurus pada birahi dan hiburan yang menekankan pornografi dan pornoaksi, dan pemerintah atau lembaga yang berwenang memberikan sosialisasi kepada para remaja tentang pengetahuan dan informasi tentang organ kelamin atau reproduksi.

Pencegahan Penyakit HIV AIDS

Pencegahan Penyakit HIV AIDS

Pencegahan Penyakit HIV AIDS

ncegahan Penyakit HIV/AIDS Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan maupun vaksin untuk mencegah penyakit ini. Upaya-upaya pencegahan harus dikaitkan dengan bagaimana penularan AIDS dapat terjadi, yang telah dibicarakan sebelumnya.

Pencegahan Penyakit HIV AIDS
Pencegahan Penyakit HIV AIDS

1) Pencegahan Penularan melalui Hubungan Seksual

Telah kita ketahui bahwa infeksi HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual. Oleh sebab itu pencegahan penularan melalui hubungan seksual memegang peranan paling penting. Untuk itu setiap orang perlu memiliki perilaku seksual yang aman dan bertanggungjawab, yaitu: d). Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah (Abstinence). Hubungan seksual hanya dilakukan melalui pernikahan yang sah. e). Bila telah menikah, hanya mengadakan hubungan seksual dengan pasangan sendiri, yaitu suami atau isteri sendiri. f). Tidak mengadakan hubungan seksual di luar nikah. g). Bila salah satu pasangan sudah terinfeksi HIV maka dalam melakukan hubungan seksual harus menggunakan kondom secara benar dan konsisten. Ketiga konsep pencegahan di atas ini dikenal dengan istilah ABC (Abstinence, Be faithful, Condom). h). Mempertebal iman dan takwa agar tidak terjerumus ke dalam hubungan hubungan seksual diluar nikah.

2) Pencegahan Penularan Melalui Darah

Penularan HIV melalui darah menuntut kita untuk berhatihati dalam berbagai tindakan yang berhubungan dengan darah maupun produk darah dan plasma. a). Transfusi darah Harus dipastikan bahwa darah yang digunakan untuk transfusi tidak tercemar HIV. Perlu dianjurkan pada seseorang yang HIV (+) atau mengindap virus HIV dalam darahnya, untuk tidak menjadi donor darah. Begitu pula dengan mereka yang mempunyai perilaku berisiko tinggi, misalnya sering melakukan hubungan seks dengan bergantiganti pasangan. b). Penggunaan produk darah dan plasma Sama halnya dengan darah yang digunakan untuk transfusi, maka terhadap produk darah dan plasma (cairan darah) harus dipastikan tidak tercemar HIV.

c). Penggunaan alat suntik, dan alat lain yang dapat melukai kulit Penggunaan alat-alat seperti jarum, jarum suntik, alat cukur, alat tusuk untuk tindik, perlu memperhatikan masalah sterilisasinya. Tindakan desinfeksi dengan pemanasan atau larutan desinfektan merupakan tindakan yang sangat penting untuk dilakukan.

3) Pencegahan Penularan dari Ibu kepada Anak

Seorang ibu yang terinfeksi HIV, risiko penularan terhadap janin yang dikandungnva atau bayinya cukup besar, kemungkinannva sebesar 30-40 %. Risiko itu akan semakin besar bila si ibu telah terkena atau menunjukkan gejala AIDS. Oleh karena itu, bagi seorang ibu yang sudah terinfeksi HIV dianjurkan untuk mempertimbangkan kembali tentang kehamilan.

Risiko bagi bayi terinfeksi HIV melalui susu ibu sangat kecil, sehingga tetap dianjurkan bagi si ibu untuk tetap menyusukan bayi dengan ASI-nya. Melihat kondisi-kondisi di atas, yang bisa kita lakukan untuk pencegahan penyebaran HIV adalah berperilaku yang bertanggung jawab baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain, dan berperilaku sesuai dengan tuntutan norma agama dan sosial yang berlaku di masyarakat. Di samping itu, menyebarkan informasi tentang HIV/AIDS adalah cara lain untuk melindungi teman, keluarga, dan lingkungan dari penyebaran HIV/AIDS.

Hal ini dapat diwujudkan dalam kegiatan sederhana: a). Berikan informasi yang benar dan tepat yang sudah anda terima kepada lingkungan anda sendiri. Misalnya: keluarga, teman-teman, tetangga dan lain-lain. b). Jika dalam percakapan sehari-hari anda mendengar informasi yang salah tentang HIV/AIDS, langsung diperbaiki dengan cara yang benar. Dalam lingkungan sekolah antar institusi pendidikan : a). Mengusulkan adanya diskusi dan seminar atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan pencegahan HIV/AIDS.

b). Mengadakan kegiatan lain yang berkaitan dengan masalah HIV/AIDS, misalnya lomba poster, lomba mengarang, dan lain sebagainya. Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa ada beberapa hal penting dalam mengurangi risiko terjadinya penularan HIV/ AIDS: a).

Tidak melakukan hubungan seks, bagi yang belum nikah. b). Selalu menghindarkan diri dari penggunaan obat-obat terlarang (narkotik, heroin, ganja, dan lain-lain). c). Menjauhkan diri dari minuman yang bisa memabukkan. d). Sebaiknya tidak menggunakan alat-alat seperti alat suntik, alat tindik, alat tatto, pisau cukur, atau sikat gigi bersama orang lain. e). Selalu membersihkan (mensterilkan) peralatan medis atau non medis, khususnva yang berhubungan dengan cairan tubuh manusia.

4) Pengobatan Penyakit AIDS

Sampai sekarang belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkan penderita AIDS secara total. Pengobatan yang dibutuhkan seorang penderita AIDS diperlukan tidak saja untuk melawan infeksi sampingan yang muncul, tetapi juga untuk mencegah komplikasi virus ini lebih lanjut dan untuk memperbaiki fungsi tubuh penderita akibat sistem kekebalannya yang sudah rusak.

Ada beberapa jenis obat yang telah ditemukan yang berfungsi hanya untuk menghambat perkembangan virus HIV. Obat-obat tersebut adalah: a). AZT (Azidothimidine). b). DDI (Dideoxynosine). c). DDC (Dideoxycytidine). Akan tetapi obat AZT, DDI, DDC ini belum menjamin proses penyembuhan. Ini mungkin hanya memperpanjang hidup penderita untuk 1 atau 2 tahun saja. Karena sampai sekarang belum ada obat yang dapat membunuh virus ini secara total. Demikian juga cara perawatan yang optimal untuk menyempurnakan kembali sistem kekebalan penderita AIDS belum ditemukan. Penelitian-penelitian menemukan vaksin dan obat AIDS terus dilakukan oleh para dokter, terutama di negara-negara maju namun di samping itu pengindap HIV atau penderita AIDS membutuhkan cara perawatan /pengobatan lain yaitu psikoterapi, konseling, keluarga dan terapi kelompok.

 

Memahami Perilaku dan Pencegahan AIDS

Memahami Perilaku dan Pencegahan AIDS

Memahami Perilaku dan Pencegahan AIDS

Pengertian AIDS AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit ini bukan penyakit keturunan atau diwarisi. Ia menyerang kekebalan tubuh (immune system), yaitu system pertahanan alami tubuh terhadap serangan organisme penyakit. Penyakit ini mengakibatkan berkurangnya kemampuan tubuh dalam memerangi infeksi. Penyakit AIDS sampai saat ini masih menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan penduduk dunia karena proses penularannya yang begitu cepat dan belum ada obat penangkalnya. HIV adalah virus atau jasad renik yang sangat kecil yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Memahami Perilaku dan Pencegahan AIDS
Memahami Perilaku dan Pencegahan AIDS

Bentuk HIV seperti binatang bulu babi (binatang laut) yang berbulu tegak dan tajam. Tubuh manusia mempunyai sel-sel darah putih yang berfungsi untuk melawan dan membunuh bibit-bibit atau kuman-kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh nanusia. Dengan demikian sel-sel darah putih melindungi seseorang dari jatuh sakit. Inilah yang disebut kekebalan tubuh manusia, yang merupakan daya tahan tubuh seseorang.

Seseorang yang terinfeksi oleh HIV, maka virus ini akan menyerang sel darah putih. Selanjutnya akan merusak dinding sel darah putih untuk masuk ke dalam sel dan merusak bagian yang memegang peranan pada kekebalan tubuh. Sel darah putih yang telah dirusak tersebut menjadi lemah dan tidak lagi mampu melawan kuman-kuman penyakit. Lambat-laun sel darah putih yang sehat akan sangat berkurang. Akibatnya, kekebalan tubuh orang tersebut menjadi menurun dan akhirnya sangat mudah terserang berbagai penyakit. Seseorang yang terinfeksi oleh HIV disebut “HIV + ” (baca: HIV positif) atau pengidap HIV. Orang yang telah terinfeksi HIV dalam beberapa tahun pertama belum menunjukkan gejala apapun. Sehingga secara fisik kelihatan tidak berbeda dengan orang lain yang sehat.

Namun dia mempunyai potensi sebagai sumber penularan, artinya dapat menularkan virus kepada orang lain. Setelah periode 7 hingga 10 tahun, atau jika kekebalan tubuhnya sudah sangat melemah karena berbagai infeksi lain, seorang pengidap HIV mulai menunjukkan gejala-gejala dan tanda-tanda bermacam-macam penyakit yang muncul karena rendahnya daya tahan tubuh. Pada keadaan ini orang tersebut disebut sebagai penderita AIDS.

Perilaku terkait AIDS

HIV harus masuk langsung ke aliran darah orang yang bersangkutan untuk dapat berada di dalam tubuh manusia. Sedangkan di luar tubuh manusia, HIV sangat cepat mati. HIV bertahan lebih lama di luar tubuh manusia hanya bila darah yang mengandung HIV tersebut masih dalam keadaan belum mengering.

Dalam media kering HIV akan lebih cepat mati. HIV juga mudah mati oleh air panas, sabun dan bahan pencuci hama lain. Karena HIV cepat mati di luar tubuh manusia, maka HIV tidak dapat menular lewat udara seperti virus lainnya, misalnya virus influenza. Virus influensa dapat hidup di udara bebas di sekeliling kita, sehingga penularan influensa dapat terjadi melalui udara. Di dalam tubuh manusia, HIV terdapat pada cairan-cairan tubuh, yaitu: darah, air mani, cairan vagina (cairan kemaluan wanita).

Telah terbukti, bahwa ketiga cairan di atas inilah yang dapat menularkan HIV. Maksudnya, penularan akan terjadi jika salah satu atau lebih dari ketiga cairan itu tercemar oleh HIV, dan kemudian masuk ke aliran darah orang yang belum tertular. Selain di dalam ketiga cairan yang telah disebutkan di atas, HIV juga dapat ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil di dalam air mata, air liur, cairan otak, keringat, dan air susu ibu (ASI). Namun sampai sekarang belum ada bukti bahwa HIV dapat ditularkan melalui cairan- cairan tersebut.

a. Cara Penularan HIV/AIDS

Penularan terjadi bila ada kontak atau percampuran dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, yaitu melalui: 1) Melalui hubungan seksual yang berisiko tanpa menggunakan pelindung dengan seseorang yang mengidap HIV. 2) Melalui tranfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar HIV. 3) Transfusi darah yang tercemar HIV dan transplantasi organ yang tercemar HIV akan secara langsung membuat orang yang menerima darah atau organ tubuh tersebut tertular HIV karena virus langsung masuk ke dalam sistem peredaran darah penerima. 4) Melalui alat suntik atau alat tusuk lainnya yang dapat menembus kulit (akupuntur, tindik, tatto) yang tercemar oleh HIV. Oleh sebab itu pemakaian alat suntik secara bersama-sama oleh para pecandu narkotika akan mempermudah penularan HIV di antara mereka bila salah satu di antara mereka merupakan pengidap HIV. 5) Penularan HIV dari perempuan pengidap HIV bisa terjadi melalui beberapa proses yaitu: saat menjalani kehamilan, saat proses melahirkan, melalui pemberian ASI.

b. Gejala Penularan HIV/AIDS

Gejala penularan HIV/AIDS terjadi beberapa hari atau beberapa minggu setelah terinfeksi HIV, gejala-gejala ini hanya berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu saja, lalu hilang dengan sendirinya. Seseorang mungkin akan menjadi sakit dengan gejalagejala seperti flu, yaitu: 1) Demam. 2) Rasa lemah dan lesu. 3) Sendi-sendi terasa nyeri. 4) Batuk. 5) Nyeri tenggorokan. Gejala Selanjutnya adalah memasuki tahap di mana sudah mulai timbul gejala-gejala yang mirip yang dengan gejala-gejala penyakit lain, gejala-gejala di atas ini memang tidak khas, karena dapat juga terjadi pada penyakit-penyakit lain. Namun gejala-gejala ini menunjukkan sudah adanya kerusakan pada sistem kekebalan tubuh yaitu:

1) Demam berkepanjangan. 2) Penurunan berat badan (lebih dari 10% dalam waktu 3 hari). 3) Kelemahan tubuh yang mengganggu/menurunkan aktivitas fisik sehari-hari. 4) Pembengkakan kelenjar di leher, lipat paha, dan ketiak. 5) Diare atau mencret terus menerus tanpa sebab yang jelas. 6) Batuk dan sesak nafas lebih dari 1 bulan secara terus menerus. 7) Kulit gatal dan bercak-bercak merah kebiruan.

Gejala penurunan kekebalan tubuh ditandai dengan mudahnya diserang penyakit lain, dan disebut infeksi oportunistik.

Maksudnya adalah penyakit yang disebabkan baik oleh virus lain, bakteri, jamur, atau parasit (yang bisa juga hidup dalam tubuh kita), yang bila sistem kekebalan tubuh baik kuman ini dapat dikendalikan oleh tubuh. Pada tahap ini pengidap HIV telah berkembang menjadi penderita AIDS. Pada umumnya penderita AIDS akan meninggal dunia sekitar 2 tahun setelah gejala AIDS ini muncul. Gejala AIDS yang timbul adalah: 1) Radang paru. 2) Radang saluran pencernaan. 3) Radang karena jamur di mulut dan kerongkongan. 4) Kanker kulit. 5) TBC. 6) Gangguan susunan saraf.