Pernyataan bahwa manusia adalah Citra Allah

Pernyataan bahwa manusia adalah Citra Allah

Pernyataan bahwa manusia adalah Citra Allah

Pernyataan bahwa manusia adalah Citra Allah
Tugasku sebagai Citra Allah

Pernyataan bahwa manusia adalah Citra Allah, mungkin sudah seringkali kamu dengar dalam pelajaran agama. Tetapi sangatlah penting pernyataan tersebut dipahami secara benar, karena hal tersebut merupakan pengakuan iman yang paling dasar bagi manusia di hadapan Allah. Pemahaman yang benar tersebut akan berpengaruh pada sikap dan pandangan hidup sebagai orang beriman Dalam Bab ini kamu akan mendalami lima hal penting. Pertama, diajak mencari dan menemukan kenyataan bahwa setiap orang diciptakan berbedabeda. Dengan kata lain, setiap manusia diciptakan secara unik. Keunikan yang dimiliki itu semata-mata merupakan anugerah Allah, dan karena keunikan itu pula maka di mata Tuhan setiap orang berharga. Selain unik, setiap manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah sendiri, ia harus mampu memancarkan gambaran Allah dalam kehidupannya.

Kedua, Allah menciptakan manusia sebagai citraNya, bukan tanpa alasan, sebab dalam kedudukannya sebagai citra Allah setiap manusia dipanggil dan diutus Tuhan untuk bekerjasama dengan Tuhan dalam mengembangkan karya ciptaanNya menurut kehendakNya. Ketiga, Keunikan manusia sebagai citra Allah mengisyaratkan bahwa setiap manusia dibekali Tuhan dengan kemampuan berbeda untuk saling mengembangkan diri dan menyempurnakan. Keempat, Perbedaan kemampuan yang dianugerahkan Tuhan mengajak setiap orang untuk sadar akan keterbatasan dirinya sehingga mampu menempatkan diri secara benar dalam pergaulan bersama sesama. Kelima, kesadaran bahwa diri kita diciptakan sebagai citra Allah yang unik dengan segala kemampuan dan keterbatasannya itu diharapkan mampu mendorong kita untuk bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkannya. Maka topik-topik yang akan dibahas dalam Bab ini adalah sebagai berikut. A. Aku Citra Allah yang Unik B. Tugasku sebagai Citra Allah C. Aku memiliki kemampuan D. Kemampuanku terbatas E. Syukur sebagai citra Allah M

Aku Citra Allah yang Unik

Ada ungkapan yang mengatakan, ”Orang yang tidak mengenal dirinya tidak mungkin mengenal Allah”. Mengenal berarti mengetahui, dan diharapkan setelah mengenal kita pun menerima diri kita. Kita perlu mengenal dan menerima diri dengan segala keunikan yang melekat pada diri kita. Iman Kristiani menegaskan bahwa diri kita tidak hanya unik, melainkan bermartabat luhur, sebab kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Semakin kita menyadari keunikan dan keluhuran martabat diri, maka kita semakin mampu menempatkan diri secara tepat dan benar di tengah sesama, dan terutama di hadapan Tuhan.

Doa Allah yang Mahabaik, Kami bersyukur karena berkat penyertaanMu kami dapat berkumpul di SMP ini sebagai saudara. Kami mohon bantuan Roh KudusMu, untuk membimbing dan mengarahkan kami, supaya kami belajar mengenal diri dengan segala keunikannya, sehingga kelak kami mampu menempatkan diri secara benar dalam pergaulan dengan semua teman kami di sekolah ini dan juga dengan sesama di sekitar kami. Semoga dalam kebersamaan satu sama lain, kami senantiasa meneladan Yesus Kristus, PuteraMu,sebab Dialah Juru Selamat kami sepanjang masa. Amin

1. Mengenal Keunikan Diri

Agar kalian dapat mengenal diri dengan baik, lakukan langkah berikut. Sekarang bayangkan dirimu hari ini berulang tahun. Karena kamu berulang tahun, ada yang datang untuk memberikan kado kepadamu. Ia adalah Tuhan sendiri. Kado itu sangat istimewa.

Selain hanya untuk dirimu, tetapi juga karena kado tersebut berisi empat lapis hadiah. Empat lapisan tersebut berisi tentang hal-hal sebagai berikut. Lapisan satu berwarna merah, berisi tentang hal-hal fisik yang telah diberikan Tuhan kepadamu sejak lahir, misalnya rambut lurus/ keriting, hidung pesek/mancung, wajah cantik/ tampan, dan sebagainya. Lapisan dua berwarna kuning berisi semua sifat baik yang kamu miliki sampai saat ini, misalnya ramah, bersahaja, bertanggung jawab, dan sebagainya. Lapisan tiga berwarna putih berisi semua bakat dan kemampuan istimewa yang kamu miliki. Lapisan empat yang berwarna biru, berisi pengalaman-pengalaman menggembirakan yang dialami selama hidup, di sekolah, di rumah, atau di masyarakat Duduk dengan tenang dan hening, lalu buka lapisan demi lapisan. • Tuliskan isi masing-masing lapisan tersebut dengan teliti, jangan sampai ada yang terlupakan atau tercecer • Diskusikan hasilnya bersama dengan teman-temanmu ! • Buatlah daftar pertanyaan yang berkaitan dengan keunikan tiap pribadi dan tanyakanlah hal-hal yang belum kamu pahami !

Sikap Terhadap Keunikan Diri

Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda dalam menanggapi keunikan dirinya. Ada orang yang merasa kecewa terhadap kenyataan dirinya saat ini, ada pula yang merasa bangga dan bersyukur. Ada yang menanggapinya secara positif, ada juga yang menanggapi secara negatif. Masing-masing sikap akan berpengaruh terhadap tindakan orang yang tersebut dalam kehidupan seharihari. Diskusikan dengan teman-temanmu tiga hal berikut. a. Apa sikap positif yang seharusnya dikembangkan dalam menanggapi keunikan diri dan apa pengaruhnya? b. Apa sikap negatif yang sering muncul dalam menanggapi keunikan diri dan apa pengaruhnya?

c. Sikap mana yang dominan dalam dirimu selama ini ? Setelah diskusi selesai, masing-masing kelompok dapat mempresentasikan hasilnya, dan kelompok lain dapat memberi tanggapan berupa pertanyaan atau komentar.

Manusia Unik Diciptakan sebagai Citra Allah Mungkin kamu pernah bertanya-tanya: Apakah keunikan yang dimiliki manusia itu dikehendaki Allah Sang Pencipta? Apa sesungguhnya maksud Allah menciptakan manusia sebagai Citra Allah yang unik ? Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, baca dan renungkan kutipan Kitab Kitab Suci berikut: Kejadian 1:26-28, berikut. Kejadian 1:26-28 26 Berfirmanlah Allah: ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambahlah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” Dari kutipan di atas nampaklah bahwa manusia adalah citra Allah. Ia serupa dan segambar dengan Allah. Ia mempunyai relasi istimewa dengan Allah. Sebagai citra Allah, ia dipanggil untuk mampu memancarkan diri Allah, sedemikian rupa sehingga melalui dirinya Allah semakin dikenal dan dirasakan daya penyelamatanNya Kamu juga citra Allah ! Kamu serupa dan segambar dengan Allah, berarti kamu dipanggil untuk memancarkan diri Allah itu. Untuk dapat memancarkan diri Allah itu,kamu perlu memahami terlebih dahulu Siapa Allah itu!

Sekarang, nilailah dirimu sendiri, sejauhmana kamu sudah memancarkan Diri Allah dalam hidupmu!

Refleksi dan Aksi

Hari ini kamu telah belajar menyadari bahwa kamu ini adalah citra Allah yang unik. Sekarang resapkan kembali apa yang sudah kamu pelajari. Untuk itu cobalah kamu membaca dan meresapkan kembali kutipan kitab Kejadian, dengan cara mengganti kata-kata yang digaris tebal dan digaris bawah dengan nama sendiri. 26 Berfirmanlah Allah: ”Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan * (…pilih salah satu…) diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambahlah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”

Bacalah dalam hati sekali lagi kutipan tersebut dengan perlahan-lahan dan rasakan makna kata-kata tersebut dalam dirimu. Kalau Tuhan ada di hadapanmu saat ini, apa yang mau kamu katakan kepadaNya tentang dirimu? Apakah kamu akan mengatakan: Tuhan saya menyesal Engkau menciptakanku seperti ini? Atau: Tuhan saya tetap ingin seperti teman saya si . . . (nama temanmu) karena ia . . . atau apa? . . . Katakanlah dengan jujur kepada Tuhan apa yang ingin kamu katakan. Setelah kamu mengatakan semua itu, sekarang dengan hening dan tenang, tuliskanlah apa yang sebaiknya kalian lakukan untuk menjaga keadaanmu sebagai citra Allah yang unik itu. Tuliskan dua atau tiga hal saja yang benarbenar akan kamu lakukan.

Dalam susana hening, ungkapkan juga perasaaamu dengan cara menuliskan doa menurut kata-katamu sendiri!

Pengertian Negara Indonesia Yang Adil

Pengertian Negara Indonesia Yang Adil

Pengertian Negara Indonesia Yang Adil mengandung pengertian, bahwa di dalam lingkungan kekuasaan Negara oleh Negara diwujudkan tegaknya peri-keadilan, yang menyangkut Negara terhadap warga negara, warga negara terhadap Negara dan di antara sesama warga negara. Dalam hubungan yang lebih luas dapat disebutkan hubungan antarmasyarakat terhadap warganya, antara warga masyarakat dengan masyarakatnya, dan di antara warga masyarakat dalam keseimbangan pemenuhan dan penggunaan hak dan kewajiban, baik dalam bidang hukum maupun dalam bidang moral.

Pengertian “makmur” diartikan sebagai suatu pemenuhan kebutuhan manusia baik material maupun spiritual, baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam hal ini pencapaian kemakmuran tidak dapat dipisahkan dengan “adil” atau keadilan. Dengan lain perkataan, kemakmuran tidak mungkin tercapai tanpa adanya keadilan. Dengan demikian, cita-cita nasional bangsa Indonesia yang telah dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia1945 dapat terwujud dengan baik (2)

Pengertian Negara Indonesia Yang Adil
Pengertian Negara Indonesia Yang Adil

Alinea ketiga : “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
Pengertian yang terkandung dalam alinea ini mengingatkan kembali kepada Proklamasi 17 Agustus 1945 sehari sebelum Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ini ditetapkan, yang bunyinya sebagai berikut:
“Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
Inti yang terkandung dalam Pembukaan alinea ketiga dan Proklamasi Kemerdekaan, keduanya mengandung isi yang sama walaupun rangkaian konteks kalimatnya berbeda. Hal ini perlu kita sadari oleh karena kalimat dalam alinea ketiga ini erat hubungannya dengan alinea pertama dan kedua, di mana setelah melalui perjuangan untuk mencapai kemerdekaan sampailah pada titik kulminasinya, yaitu kemerdekaan Bangsa Indonesia dan selanjutnya direalisasikan dalam wujud Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kemerdekaan Bangsa Indo-nesia yang diperoleh bukan hanya hasil dari para pejuang kemerdekaan tetapi ada kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan pertolongan kepada bangsa Indonesia berupa rahmat. Rakyat dan Bangsa Indonesia sangat meyakini bahwa ada kekuatan Tuhan yang membantu dalam proses terwujudnya kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Pembukaan pada hakikatnya merupakan pernyataan kemerdekaan yang terinci. Sebelum pernyataan Indonesia Merdeka diawali terlebih dahulu dengan alasan-alasan yang mendorong dan memperkuat timbulnya pernyataan itu, dengan memuat dasar-dasar pikiran tentang adanya cita-cita luhur yang menjadi semangat pendorong ditegakkannya Kemerdekaan Indonesia.
Adanya kalimat “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa” menunjukkan adanya suatu dasar keyakinan hidup religius yang mendalam bagi Bangsa Indonesia. Tercapainya kemerdekaan Bangsa Indonesia bukanlah semata-mata merupakan hasil usaha manusia belaka, tetapi lebih daripada itu adalah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Di samping nilai keyakinan hidup religius juga nilai luhur yang tersimpul dalam kalimat “didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas”. Hal ini mewujudkan asas moral yang menjunjung hak kodrat dan hak moral untuk segala bangsa supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, bebas dari penindasan dan penjajahan.
d. Alinea Keempat
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk
dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat
dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil
dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Setelah dalam alinea pertama, kedua, dan ketiga dijelaskan tentang alasan
dasar serta hubungan langsung dengan kemerdekaan maka dalam alinea keempat
ini sebagai kelanjutan berdirinya Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus
1945, dirinci lebih lanjut tentang prinsip-prinsip serta pokok-pokok kaidah
pembentukan pemerintah Negara Indonesia. Hal ini dapat disimpulkan dari
kalimat “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara
Indonesia…”
Pemerintah dalam susunan kalimat “Pemerintah Negara Indonesia”
dimaksudkan dalam arti sebagai penyelenggara keseluruhan aspek kegiatan
negara dan segala kelengkapanya (government). Hal ini berbeda dengan
Pemerintahan Negara yang hanya menyangkut salah satu aspek saja daripada
kegiatan penyelenggaraan negara, yaitu aspek pelaksana (executive).
Inti isi pokok yang terkandung dalam Pembukaan alinea keempat adalah
mencakup empat hal dalam keseluruhan aspek kegiatan penyelenggaraan negara, yaitu sebagai berikut.
1) Tujuan Negara
a) Tujuan khusus tersimpul dalam anak kalimat berikut.
“…untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”
Tujuan khusus dalam kalimat tersebut sebagai realisasinya dalam
hubungannya dengan politik dalam negeri adalah sebagai berikut.
(1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia.
(2) Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa. b) Tujuan negara yang bersifat umum dalam hal kehidupan sesama bangsa tersimpul dalam anak kalimat berikut.
“…dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”
Tujuan negara dalam anak kalimat ini realisasinya dalam hubunganya dengan politik luar negeri, yaitu ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Hal inilah yang menjadi dasar bagi pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang disebut sebagai politik yang bebas aktif.
2) Ketentuan Diadakannya Undang-Undang Dasar
Ketentuan mengenai diadakannya Undang-Undang Dasar terdapat pada anak kalimat: “…maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia…”
3) Bentuk Negara
Bentuk Negara Indonesia terdapat di dalam anak kalimat: “…yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat…”
Dalam anak kalimat ini dinyatakan bahwa bentuk Negara Indonesia adalah Republik dan kekuasaan berada di tangan rakyat.
4) Dasar Filsafat Negara
Dasar filsafat negara terdapat di dalam anak kalimat: “…dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dalam anak kalimat inilah termuat Dasar Filsafat Negara Indonesia, yaitu Pancasila.