Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas – Sudah merupakan suatu hal biasa kalau orang-orang pencinta lingkungan hidup selalu mengumandangkan kekhawatiran mereka tentang kelestarian hayati. Berbagai imbauan, peringatan, dan kekhawatiran tentang hal ini telah dilakukan baik melalui iklan media massa, penyuluhan maupun diklat-diklat. Pada abad sekarang, manakala manusia sudah mengikuti arus industrialisasi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak kegiatan yang tanpa sadar mengancam kelestarian biodiversitas. Jika hal ini dibiarkan, keanekaragaman hayati dapat mengalami penurunan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Memang bukan hanya kegiatan manusia yang dapat mengancam penurunan biodiversitas. Namun, penyebab lain pun secara tidak langsung merupakan campur tangan manusia. Berikut ini dapat kita simak beberapa hal tersebut.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas
Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

1. Perusakan, Fragmentasi, dan Pemusnahan Habitat

Di Indonesia, problem kepadatan penduduk menjadi faktor yang langsung mengancam biodiversitas. Program transmigrasi dari Pulau Jawa ke pulau lain yang merupakan lahan habitat makhluk hidup kekayaan dunia telah menjadi penyebab rusak atau musnahnya habitat. Berbagai hutan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dibuka dan dimusnahkan untuk area pemukiman.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

2. Masuknya Jenis Hewan dan Tumbuhan Baru pada Suatu Habitat tanpa Penelitian dan Pengembangan (Litbang) yang Saksama

Akibat kelalaian proses litbang, masuknya hewan dan tumbuhan baru pada suatu habitat akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Tanpa diteliti karakternya, kemungkinan hewan dan tumbuhan baru tersebut menjadi pesaing bagi hewan dan tumbuhan yang ada. Kompetitor ini mungkin akan memusnahkan organisme tuan rumah. Dapat pula hewan baru ternyata menjadi hama dan gulma.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

3. Penggunaan yang Berlebihan Jenis Tumbuhan dan Hewan pada Suatu Habitat

Manusia membutuhkan makanan, pakaian, rumah, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya dengan memanfaatkan hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Tanpa memperhitungkan proses reproduksi hewan dan tumbuhan, manusia terus-menerus mengeksploitasi kedua jenis makhluk hidup sampai pada suatu saat banyak hewan dan tumbuhan menjadi langka atau punah.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas – Hewan liar diburu di berbagai tempat. Jumlah yang diburu sangat banyak. Pemburu bukan hanya tidak mempunyai izin berburu, tetapi juga melakukan perburuan di kawasan konservasi termasuk taman nasional. Perburuan komersial yang tidak terkendali merupakan masalah gawat untuk jenis tertentu. Banyak hewan buruan yang sangat disukai di Indonesia, misalnya babi rusa (Babyrousa babyrussa), anoa (Bubalus depressicornis dan B. quarlesi), Kuau raja (Argusianus argus), walabi saham (Macropus agile), rusa jawa (Cervus timorensis), kasuari (Casuarius cauaris), ular sanca batik (Phyton reticulatus), burung rangkong (Bucros bicornis), berbagai burung hias, di antaranya kakaktua raja (Proboscijer atterrimus), Kepodang (Oriolus chinensis), Curik Bali (Leucopsar roschildi), Beo (Gracula religiosa), Perkutut Jawa (Geopelia striata), ayam hutan (Gallus varius), Ikan arwana (Scleropages formosus) juga menjadi ikan yang banyak diburu.

Info Biologi

Akibat Impor Tumbuhan Asing

Akibat bebasnya mendatangkan hewan dan tumbuhan asing ke dalam wilayah Indonesia, masuknya tumbuhan Akasia berduri dari Afrika mendatangkan malapetaka. Awalnya diniatkan untuk membuat jalur pembatas padang rumput di taman Nasional Baluran Jawa Timur, dengan menanam sejumlah Akasia berduri dari Afrika. Namun, Akasia ini tumbuh begitu cepat, bukan lagi di jalur pembatas, melainkaan di seluruh area padang rumput, merusak eksistensi tanaman yang ada. Untuk mencegah meluasnya pertumbuhan Akasia tersebut, pengelola taman nasinal Baluran melakukan buldoser. Sumber: media elektronik, TV .

Pencemaran (Air, Tanah, Udara) dalam Ekosistem

Manusia semakin banyak. Sisa kebutuhan hidupnya merupakan limbah yang mengancam. Limbah pabrik maupun limbah domestik (dari rumahrumah) merupakan bahan pencemar lingkungan. Satu contoh saja, mengenai limbah detergen. Detergen tidak mudah diuraikan, zat ini akan membunuh organisme perairan. Jika di perairan tersebut terdapat eceng gondok, dengan adanya detergen akan terjadi eutrofikasi, dalam waktu singkat terjadi ledakan pertumbuhan eceng gondok hingga menutup permukaan perairan. Cahaya matahari sulit masuk ke dalam perairan, menyebabkan tumbuhan air sulit melakukan fotosintesis. Rentetan berikutnya adalah kekurangan oksigen dan biota perairan mati.

Perubahan Iklim Global (Pemanasan Bumi)

Penggunaan zat kimia tertentu oleh manusia (misalnya PVC), pembakaran zat tertentu, telah menyebabkan ozon atmosfer berubah wujud secara kimiawi. Akibatnya fungsi ozon sebagai penangkal cahaya matahari hilang, dan bumi menjadi panas. Bumi mengalami efek rumah kaca. Atmosfer yang rusak ozonnya disebut memiliki lubang ozon. Intensitas cahaya matahari yang dapat ditangkal sekitar 90% oleh ozon, kini mengancam bumi 100% karena lubang ozon. Bumi akan mengalami pemanasan global karena panas yang masuk tidak dapat dipantulkan melewati atmosfer bumi. Selain itu, musnahnya hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia, akibat eksploitasi kayu-kayu oleh manusia, menyebabkan bumi bertambah panas.

Perkembangan Industri Pertanian dan Industri Perhutanan

Menurut Global Diversity Assesment, Heywod, 1995, pertanian komersial modern telah mendatangkan aspek negatif terhadap keanekaragaman hayati pada semua tingkat dari keanekaragaman ekosistem, spesies, dan genetik. Sebagai contoh, coba kita diskusikan dengan teman-teman, apa yang akan terjadi jika sebuah hutan diubah menjadi lahan monokultur. Lahan monokultur yang ada di Indonesia biasanya sawah. Sawah hanya ditanami satu jenis tanaman yaitu padi. Tentu dampaknya sangat merugikan eksistensi keanekaragaman hayati apabila hutan diubah menjadi sawah. Lahan akan kehilangan banyak plasma nutfah, ekosistem berubah, terjadi ledakan hama yang kehilangan habitatnya. Tanah pada lahan hutan yang diubah menjadi sawah lambat laun akan kehilangan banyak macam unsur hara. Dunia pertanian modern juga telah melahirkan pupuk buatan, dan pestisida kimiawi yang menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pemanfaatan hasil hutan untuk segala sektor kehidupan, juga telah menyebabkan punahnya plasma nutfah.

Penambangan Logam dan Pemanfaatan Biota Laut

Penambangan logam biasanya diikuti dengan pengubahan suatu daerah menjadi daerah penambangan. Hutan dibuka, lalu dibangun daerah pertambangan. Sisa bidang-bidang habitat alami semakin kecil dan terasing, sehingga jenis margasatwa setempat cenderung punah. Padahal kepunahan berarti hanya menjadi sejarah. Kita harus memerhatikan kondisi yang dianugerahkan Tuhan yang menuntut kepedulian manusia agar tidak mempercepat kepunahan suatu jenis makhluk. Kondisi tersebut, di antaranya:

a. persebarannya sedikit dan kemampuan menyesuaikannya kecil; b. hanya ditemukan di daerah sempit; c. membutuhkan daerah luas untuk dapat bertahan hidup; d. dan tumbuhan dengan kekhususan tinggi. e. pemangsa besar yang diburu oleh manusia; f. mempunyai nilai komersial; g. pernah mempunyai kisaran luas dan berdekatan, tetapi sekarang terbatas pada kantong-kantong kecil habitat. Biota laut yang sebagian besar dimanfaatkan sebagai sumber makanan, diambil oleh nelayan dengan cara-cara yang merusak habitat, misalnya dengan menggunakan pukat harimau. Untuk mengantisipasi ancaman terhadap keanekaragaman hayati Indonesia, diperlukan upaya-upaya untuk melestarikannya sebagaimana dijelaskan dalam uraian berikut.

Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Tekanan berbagai kepentingan pemanfaatan hayati di banyak kawasan, mengancam kekayaan margasatwa Indonesia. Kepulauan Indonesia berupa alam sangat luas dan penting baik secara nasional, maupun internasional. Indonesia mempunyai tanggung jawab dunia dan nasional untuk memerhatikan secara sungguh-sungguh mengenai perlindungan. Kini lebih dari 350 daerah di Indonesia ditetapkan untuk konservasi, meliputi upaya pelestarian ekosistem dan melindungi tanah dan air. Selain itu, Indonesia juga harus memerhatikan hal-hal yang mengkhawatirkan, seperti: 1) bagian terkaya daerah pelestarian telah hilang di daerah hutan penebangan; 2) petani mencari keuntungan lebih untuk nafkah hidup; 3) pembangunan jalan melintasi batas hutan dan menembus taman nasional; 4) pencarian dan penambangan mineral di banyak taman nasional dan kawasan lindung, sehingga mengganggu hutan dan margasatwa, juga pencemaran yang tinggi; 5) kelambanan penanganan pelestarian akan mempercepat hilangnya hayat, hilangnya banyak daerah dan jenis khas yang tak tergantikan.

Agar ekosistem yang rusak cepat pulih, kita harus memberikan kesempatan pada ekosistem tersebut untuk melakukan pemulihan alami karena ekosistem mempunyai kekuatan pemulihan luar biasa. Ada dua cara pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu sebagai berikut. 1. Budi daya atau pemuliaan hayati di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan sebagainya. 2. Pelestarian hayati, meliputi upaya in situ dan ex situ. a. Pelestarian secara in situ, yaitu melindungi sumber hayati di tempat aslinya. Hal ini dilakukan sehubungan dengan keberadaan organisme yang memerlukan habitat khusus, dan akan membahayakan kehidupan organisme tersebut jika dipindahkan ke tempat lainnya, contoh: cagar alam, hutan lindung, suaka margasatwa, taman laut. b. Pelestarian secara ex situ, merupakan bentuk perlindungan kenanekaragaman hayati Indonesia dengan cara memindahkan hewan atau tumbuhan ke tempat lainnya yang cocok bagi kehidupannya, contoh: kebun raya, hutan nasional, hutan produksi, kebun binatang, Tabulampot (tanaman budi daya dalam pot).

Membuat Kebun Tanaman Dapur atau Tanaman Obat Keluarga

Sebagai manusia kita akan selalu membutuhkan makhluk lain. Kita juga membutuhkan lingkungan hidup yang sehat, bersih, hijau agar kegiatan tidak terganggu oleh penyakit, atau gangguan pada aspek fisiologis tubuh. Salah satu cara menata lingkungan hidup kita berdasarkan karakter alami adalah dengan penghijauan (greening), baik di rumah maupun di sekolah. Untuk melakukannya, kita dapat membuat kebun tanaman dapur atau kebun tanaman obat keluarga. Langkah yang dapat lakukan adalah sebagai berikut

1. Menentukan lahan di sekolah. Manfaatkan lahan seluas apa pun, di depan kelas, di halaman sekolah, di depan laboratorium, ataupun di depan perpustakaan. Jika lahan di sekolah tidak ada, kita dapat membuat kebun dengan cara tabulampot (tanaman budi daya dalam pot). 2. Menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, apakah kelompok tanaman dapur atau kelompok tanaman obat.

Tentang Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas Indonesia

Tentang Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas Indonesia

Tentang Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas Indonesia

Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas – Keunikan Biodiversitas Indonesia Pada tahun 1858, Alfred Wallace Russel mengenal pola perbedaan antarsatwa pulau di Indonesia. Wallace berpendapat bahwa Kalimantan bersama dengan Jawa dan Sumatra pernah menjadi bagian Asia, sedangkan Timor, Maluku, Nugini, dan mungkin Sulawesi pernah menjadi bagian Pasifik-Australia. Wallace pun melihat satwa di Sulawesi sangat khas seolaholah gabungan satwa Asia dan Pasifik-Australia. Menurut Wallace pula, pembentukan pulau Sulawesi sangat spesifik dan sedikit rumit, tetapi lebih banyak wujud Asia. Wallace menetapkan dua wilayah utama dengan menggambar garis batas di sebelah timur Kalimantan dan Bali, memisahkan satwa bagian barat dan timur Indonesia.

Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas

Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas
Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas

Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas – Sebelum Wallace menentukan garis batas wilayah persebaran satwa, Lydeker menentukan batas barat satwa Australia hampir sama dengan batas timur satwa khas Asia garis Wallace. Selain itu, Weber menentukan batas keseimbangan satwa, perbandingan antara hewan Asia dan Australia 50 : 50. Wilayah di antara garis Wallace dan Lydeker sering dianggap sebagai daerah peralihan, dengan ciri jenis satwanya endemi dan penyebarannya tidak merata.

Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas – Fosil-fosil hewan yang ditemukan di pulau-pulau Indonesia menunjukkan bahwa pernah ada daratan Gondwana. Sebagai Contoh di laut Sulawesi hidup ikan paru yang diberi nama Coelacanth yang telah diketahui awalnya berasal dari Laut Madagaskar, Afrika. Di Afrika orang hanya menemukan fosilnya, di Indonesia malah bertahan hingga kini. Contoh lain, di wilayah Oriental terdapat gajah, di Sulawesi sebagai bagian dari wilayah Australian ditemukan fosil gajah. Tapir dapat kita temukan di Sumatra (Oriental) dan Amerika Selatan (Neotropik). Komposisi margasatwa di Kepulauan Indonesia sangat luar biasa. Terdapat lebih dari 2.600 jenis burung dunia, 27% dari keseluruhan burung yang dikenal, 411 jenisnya terdapat di Indonesia. Terdapat 24 daerah burung endemik di Indonesia (11% dari yang ada di dunia).

Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas – Demikian pula dengan kekayaan flora Indonesia. Kekayaan jenis hutan Indonesia diperkirakan mengandung palem terbanyak di dunia (lebih dari 400 jenis yang bernilai komersial) dan sekitar 25.000 jenis tumbuhan berbunga.

Hewan yang ada di Indonesia Bagian Barat, di antaranya keluarga gibbon (termasuk siamang), keluarga kera, keluarga orang utan, keluarga tarsius, rusa, tikus, muncak, badak Ujung Kulon, badak Sumatra, gajah, kelompok burung (di antaranya ayam piaraan, ayam mutiara, ayam hutan dan berbagai jenis burung), binturong, harimau Sumatra, kucing hutan, tapir, banteng, babi, dan macan tutul.

Hewan-hewan Indonesia Timur yang termasuk Australia meliputi contoh-contoh, seperti monyet Sulawesi, burung Maleo, kuskus, dan cendrawasih  Meskipun duyung terdapat di pantai-pantai lain di Indonesia, duyung juga terdapat di willayah Indonesia Timur.

Keunikan Keanekaragaman Biodiversitas

Biodiversitas Perairan Indonesia 

Negara Indonesia meliputi daratan dan perairan yang sangat luas. Perairan Indonesia memiliki keragaman hewan dan tumbuhan yang menambah kekayaan biodiversity Indonesia. Perairan Indonesia, di antaranya hutan mangrove dan terumbu karang.

1. Hutan Mangrove Hutan mangrove dikenal dengan nama Indonesia; hutan bakau. Hutan bakau hanya terdapat di pantai-pantai daerah tropis dan subtropis. Seluruh komunitas hutan bakau dapat hidup di lingkungan berair payau sampai asin (halofit). Kadar salinitas payau 2-22 ppm, sedangkan air asin salinitasnya sampai 38 ppm. Bila kita ke pantai, tidak asing lagi melihat pemandangan. Hutan bakau merupakan ekosistem yang memiliki kekayaan spesies yang tinggi, yang pernah tercatat di Indonesia memiliki 89 spesies pohon, 5 palem, 19 liana, 44 herba tanah, 44 epifit, dan 1 sikas. Di antara semuanya, hanya 47 macam yang benar-benar spesifik tumbuhan hutan bakau. Keanekaragaman fauna di hutan bakau juga cukup tinggi, terdiri atas hewan akuatik, seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang. Serta hewan terestrial, seperti insekta, ular, monyet, burung, babi liar, kelelawar, dan bekantan.

Indonesia memiliki kawasan hutan bakau terluas di dunia, tetapi saat ini luas tersebut telah menyusut akibat dibangunnya pertambakan, lahan pertanian dan pemukiman. Padahal hutan bakau berperan sebagai penyangga ekosistem laut maupun daratan. Secara fisik hutan bakau berfungsi menjaga garis pantai, mempercepat pembentukan lahan baru, pelindung terhadap gelombang dan arus, pelindung tepi sungai atau pantai, mendaur ulang unsur penting seperti nitrogen dan sulfur, sedangkan secara biologis, hutan bakau berfungsi sebagai tempat asuhan dan berkembang biak bagi berbagai spesies ikan, udang, dan binatang lainnya, tempat berlindung bagi sejumlah besar spesies burung. Hutan bakau juga berperan dalam akuakultur, rekreasi, kolam garam, dan penghasil kayu.

2. Terumbu Karang Terumbu karang di kenal pula dengan istilah koral. Pemandangannya sangat spesifik dan menyenangkan  di Indonesia merupakan terumbu karang terluas di daerah tropis dengan keanekaragaman flora dan faunanya. Terumbu karang Indonesia dihuni oleh ± 2.000 jenis ikan. Terumbu karang terdapat di perairan tropis dan subtropis yang dangkal, dapat ditembus cahaya matahari sampai dasar sehingga perairan hangat dan jernih. Seluruh jenis alga yang hidup pada terumbu karang dapat melakukan fotosintesis. Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling produktif. Di Indonesia, terumbu karangnya memiliki sekitar 350 spesies karang keras, kerangka hewan karang berfungsi sebagai tempat berlindung atau menempelnya biota laut lainnya, seperti udang-udangan (crustaceae), molusca, anemon, tunikata, dan biota lainnya seperti ikan dan cumi-cumi. Terumbu karang juga dihuni oleh echinodermata dan coelenterata.

Biodiversitas Indonesia dengan Nilai Tertentu

Sebagai gudang keanekaragaman hayati, Indonesia banyak disorot oleh berbagai kalangan yang berkepentingan dengan flora dan fauna Indonesia, terutama yang bersifat endemik. Pada dasarnya, semua hayati di dunia ini memiliki nilai tertentu, yaitu nilai ekonomi langsung dan nilai ekonomi tidak langsung.

1. Nilai Ekonomi Langsung Nilai ekonomi langsung dapat diamati dari kegiatan suatu masyarakat yang memanen dan memanfaatkan hayati secara langsung, misalnya ada hewan yang bertindak sebagai pemangsa alami hama. Burung pemangsa, burung hantu, dan ular sanca mengendalikan hama tikus di daerah yang ditanami. Nilai ekonomi langsung meliputi nilai kegunaan konsumtif dan nilai kegunaan produktif. Nilai kegunaan Konsumtif diberikan untuk hayati yang dikonsumsi masyarakat lokal yang tidak terlihat di pasar nasional maupun internasional. Hayati yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan masyarakat tradisional di negara berkembang, yaitu untuk kayu bakar, sayur-sayuran, buah-buahan, daging, obatan-obatan, tali-temali, dan bahan bangunan.

Nilai kegunaan produktif, yaitu nilai untuk hayati yang diambil di alam, dan dijual ke pasar pada tingkat nasional maupun internasional. Produk dinilai dengan metode ekonomi standar. Hayati dengan nilai kegunaan produktif digunakan untuk bahan baku obat, bahan bangunan, industri pakaian, perhiasan, dan keperluan lainnya. Banyak sekali hayati khas Indonesia yang memiliki nilai kegunaan produktif, di antaranya: a. meranti untuk bahan bangunan; b. eboni (kayu hitam) untuk bangunan dan alat rumah tangga; c. jati untuk bahan bangunan; d. karet untuk bahan alat rumah tangga, industri otomotif; e. rotan untuk alat rumah tangga; f. buah-buahan untuk konsumsi makanan pelengkap, misalnya durian, sirsak, jambu biji, avokad, delima, kesemek, salak, sawo, nangka, rambutan, mangga, manggis, markisa, melon, pisang, pepaya, dan kenari; g. Tanaman penyegar, misalnya asam, jahe, kunir, kencur, vanili, teh, dan kopi.

2. Nilai Ekonomi Tidak Langsung Nilai ekonomi tidak langsung dapat dibagi menjadi nilai kegunaan nonkomsumtif, nilai pilihan, dan nilai eksistensi.

a. Nilai Kegunaan Nonkonsumtif Nilai ini diberikan untuk berbagai jasa lingkungan yang kita nikmati tanpa melalui penggunaan secara langsung, misalnya: 1) orang utan untuk kebun binatang, sebagai kebutuhan rekreasi dan ekoturisme; 2) aneka jenis burung endemik, seperti cendrawasih, jalak Bali, elang Jawa, dan burung hantu untuk ekoturisme dan rekreasi serta nilai pendidikan dan ilmiah; 3) ayam pelung, berbagai jenis ular untuk ekoturisme, rekreasi serta nilai pendidikan dan ilmiah; 4) komodo dan maleo untuk nilai pendidikan dan ilmiah; 5) damar, rasamala, berbagai pohon kayu lainnya sebagai perlindungan sumber air dan tanah, pengatur iklim, dan monitor lingkungan; 6) anggrek, bunga bangkai (Amorpophalus titanum), kantung semar (Nepenthes), teratai, mawar, melati padma (Rafflesia arnoldi), dan bunga lainnya untuk rekreasi, tanaman hias, ekoturisme, pendidikan, dan ilmiah.

b. Nilai Pilihan Nilai pilihan dari spesies adalah potensi suatu spesies dalam memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat pada suatu saat di masa depan. Solusi dengan adanya perubahan kebutuhan masyarakat saat ini sering kali ada pada tumbuhan atau hewan yang belum tersentuh. Untuk itu dilakukanlah telaah daya guna keanekaragaman hayati, dikenal dengan istilah biodiversity prospecting, yaitu penelaahan potensi jenis tumbuhan dan satwa liar beserta gen dan produk kimiawinya yang berdaya guna, contohnya sebagai berikut. 1) Eceng gondok sangat prospektif dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan alat rumah tangga, pakaian, perhiasan rumah, dan sebagainya. 2) Rumput alang-alang untuk produksi pemanis pengganti gula tebu. 3) Kelompok alga (Spirulina, Chlorella, Nostoc, Oscillatoria, Gloeocapsa, Anabaena) prospektif untuk memenuhi kebutuhan gizi, pupuk biologis, pembersih polutan, produksi cat, dan pewarna tekstil. 4) Kelompok bakteri dan jamur. Margasatwa bernilai ekonomi tinggi menjadi barang untuk perdagangan dalam negeri dan internasional, serta menjadi sumber pangan penting untuk masyarakat setempat. Perburuan tradisional kadang-kadang berhubungan dengan upacara adat, misalnya perburuan berbagai jenis burung dan mamalia. Burung, primata, mamalia, dan reptil diketahui sebagai barang perdagangan. Primata merupakan hewan laboratorium yang penting untuk percobaan. Mamalia dan reptil digunakan di berbagai macam industri. Ikan air tawar dimanfaatkan untuk keperluan setempat dan perikanan.

Banyak bakteri dan jamur yang dimanfaatkan untuk bahan bioteknologi, baik sebagai fermenter maupun jasa rekayasa genetik, contohnya yoghurt, anggur, keju dan antibiotik.

c. Nilai Eksistensi Nilai eksistensi merupakan nilai keberadaan suatu spesies. Saat ini di seluruh dunia, orang peduli terhadap kehidupan liar dan sangat prihatin atas perlindungannya. Contoh: komodo, maleo, anoa, cendrawasih, kakaktua, orang utan, harimau, tapir, Coelacanth, tarsius, elang Jawa, jalak Bali, badak, duyung, lumba-lumba, pesut, meranti, eboni, matoa, Rafflesia arnoldi, Amorpophalus tianum, edelweiss (Anaphalis javanica), anggrek, dan masih banyak lagi. Khusus untuk Coelacanth, masyarakat dunia mengira bahwa ikan tersebut merupakan ikan purba yang telah lama punah. Namun ternyata ikan ini masih eksis di perairan Bunaken, diburu dan dijadikan sumber makanan oleh nelayan dan penduduk sekitar. Selain di Bunaken, Coelancanth hanya ditemukan di Madagaskar. Agar nilai-nilai biodiversitas tetap terjaga, kita perlu mengetahui ancaman apa saja yang membahayakan kelestarian biodiversitas.

 

Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas Alam

Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas Alam

Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas Alam

Biodiversitas Alam – Manusia adalah makhluk hidup, sama dengan makhluk hidup yang lain. Oleh karena itu, manusia juga berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia mempunyai kemampuan untuk memengaruhi alam sekitarnya karena manusia merupakan makhluk yang memiliki kelebihan akal dibandingkan dengan makhluk lainnya. Di dalam ekosistem, manusia merupakan bagian yang paling dominan karena dapat berbuat apa saja terhadap ekosistem. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kelangsungan hidup manusia juga bergantung dari kelestarian ekosistem tempat manusia hidup.

Biodiversitas Alam – Untuk menjaga terjaminnya kelestarian ekosistem, manusia harus dapat menjaga keserasian hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga. Kelestarian berarti juga terjaganya keanekaragaman hayati (biodiversitas). Pemanfataan sumber daya alam secara berlebihan dapat mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati atau bahkan terjadi kepunahan jenis tersebut. Pengaruh manusia terhadap lingkungan dapat mengakibatkan dua kemungkinan, yaitu alam menjadi rusak (deteriorasi) atau sebaliknya, yaitu alam tetap lestari.

Biodiversitas Alam

Biodiversitas Alam
Biodiversitas Alam

Biodiversitas Alam

1. Manusia sebagai Perusak Keanekaragaman Hayati

Biodiversitas Alam – Lingkungan akan rusak jika manusia mengusahakan sumber hayati hanya didasarkan pada prinsip jangka pendek, yaitu untuk menghasilkan produk sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin dan modal sesedikit mungkin. Usaha semacam itu memang mendatangkan kemakmuran kepada manusia. Akan tetapi, pengaruhnya terhadap alam dapat menimbulkan dampak berupa berkurangnya atau punahnya keanekaragaman hayati dan merosotnya kualitas lingkungan sehingga pada akhirnya lingkungan tidak mampu lagi memberi kehidupan yang layak kepada manusia.

Biodiversitas Alam – Bahkan, mungkin terjadi bencana alam yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Coba kalian amati, banyak kondisi lingkungan hidup yang telah rusak di Indonesia. Dalam arti, banyak lingkungan hidup yang sudah tidak seimbang keadaannya karena berkurangnya keanekaragaman hayati atau kepunahan jenis-jenis tertentu. Hal itu merupakan petunjuk bahwa sikap dan perilaku manusia Indonesia terhadap alam sekitarnya masih sebagai pemanfaat atau pengusaha untuk dirinya sendiri tanpa memerhatikan kelestarian biodiversitas.

Biodiversitas Alam – Mereka memandang alam sebagai objek yang terpisah dari dirinya yang dapat dipengaruhi sekehendaknya. Mereka tidak menyadari bahwa perubahan pola lingkungan akan memengaruhi pola kehidupannya. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan beberapa satwa penting akibat kepunahan, misalnya, harimau bali. Saat ini hewan tersebut tidak pernah ditemukan lagi keberadaannya. Hewan-hewan seperti badak bercula satu, jalak bali, dan trenggiling juga terancam punah. Belum lagi beberapa jenis serangga, hewan melata, ikan, dan hewan air yang sudah tidak ditemukan lagi di lingkungan kita. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kepunahan keanekaragaman hayati? Banyak, di antaranya, sebagai berikut.

a . Perusakan Habitat Perusakan Habitat Habitat didefinisikan sebagai daerah tempat tinggal makhluk hidup. Kerusakan habitat merupakan penyebab utama kepunahan makhluk hidup. Jika habitat rusak, makhluk hidup tidak memiliki tempat untuk hidup. Kerusakan habitat dapat diakibatkan terjadi karena ulah manusia yang telah mengubah fungsi ekosistem, misalnya hutan ditebang, dijadikan lahan pertanian, permukiman, dan akhirnya berkembang menjadi perkotaan. Kegiatan manusia tersebut mengakibatkan menurunnya keanekaragaman ekosistem, jenis, dan gen. Perusakan terumbu karang di laut juga dapat menurunkan keanekaragaman hayati laut. Ikan-ikan serta biota laut yang hidup dan bersembunyi di terumbu karang tidak dapat hidup tenang, beberapa di antaranya tidak dapat menetaskan telurnya karena terumbu karang yang rusak. Menurunnya populasi ikan akan merugikan nelayan dan mengakibatkan harga ikan meningkat. Selain akibat aktivitas manusia, kerusakan habitat diakibatkan juga oleh bencana alam, misalnya, gunung meletus, kebakaran, dan banjir.

b . Penggunaan Pestisida Pestisida berfungsi untuk membasmi makhluk hidup pengganggu (hama) pada tanaman. Akan tetapi, jika digunakan secara berlebihan, akan menyebar ke lingkungan sekitarnya dan meracuni makhluk hidup yang lain, termasuk mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan lainnya. Contoh pestisida adalah herbisida, fungisida, dan insektisida.

c . Pencemaran Bahan pencemar berasal dari limbah pabrik, asap kendaraan bermotor, limbah rumah tangga, sampah yang tidak dapat didaur ulang lingkungan secara alami, dan bahan-bahan berbahaya lain. Bahan pencemar ini dapat membunuh makhluk hidup, termasuk mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan sehingga mengurangi keanekaragamannya.

d . Perubahan Tipe Tumbuhan Tumbuhan merupakan produsen di dalam suatu ekosistem. Perubahan tipe tumbuhan, misalnya, perubahan dari hutan pantai menjadi hutan produksi dapat mengakibatkan hilangnya tumbuhan liar yang penting. Hilangnya jenis-jenis tumbuhan tertentu dapat menyebabkan hilangnya hewan-hewan yang hidupnya bergantung pada tumbuhan tersebut.

e . Penebangan Penebangan hutan yang dilakukan secara berlebihan tidak hanya menghilangkan pohon yang sengaja ditebang, tetapi juga merusak pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Di samping itu, hewan-hewan yang tergantung pada pohon tersebut akan terganggu dan hilang sehingga akan menurunkan jenis hewan tersebut.

f . Seleksi Seleksi Seleksi adalah memilih sesuatu yang disukai menurut penilaian individu. Secara tidak sengaja perilaku seleksi akan mempercepat kepunahan makhluk hidup. Misalnya, kita sering hanya menanam tanaman yang kita anggap unggul, seperti jambu bangkok, jeruk mandarin, dan mangga gedong. Sebaliknya, kita menghilangkan tanaman yang kita anggap kurang unggul, contohnya, jeruk pacitan dan mangga curut. Menurunnya jumlah makhluk hidup yang kita anggap tidak unggul berarti mengurangi keanekaragaman hayati dari jenis makhluk hidup tersebut, bahkan dalam jangka waktu lama, kita tidak akan menemukan jenis tersebut. Contoh lain, menurunnya populasi serangga pemangsa (predator) karena disemprot dengan insektisida yang mengakibatkan terjadinya populasi serangga yang dimangsa. Jika serangga ini menyerang tanaman pertanian, ledakan serangga tersebut sangat merugikan petani. Mungkin kalian pernah mendengar ledakan populasi hama wereng di Indonesia sehingga beribu-ribu hektare sawah gagal panen. Wereng yang menyerang padi diduga karena predator wereng punah akibat terkena insektisida yang digunakan petani untuk memberantas hama. Perkembangan industri berjalan dengan cepat di Indonesia.

Teknologi modern banyak diterapkan untuk mendapatkan hasil sebesarbesarnya. Bersamaan dengan kemajuan pembangunan dan perkembangan industri, terjadi pula perubahan lingkungan secara nyata dan bencana alam yang terjadi di mana-mana. Sebenarnya, inti dari seluruh permasalahan lingkungan di Indonesia terletak pada perubahan konsep mental manusianya yang mungkin tanpa disadari telah menjadi manusia perusak lingkungan sehingga jalan satu-satunya adalah mengubah sikap mental manusia Indonesia menjadi manusia pengelola dan pemelihara lingkungan hidupnya.

2. Manusia sebagai Pemelihara Keanekaragaman Hayati

Dalam hal ini, manusia telah sadar bahwa dirinya adalah bagian dari ekosistem. Oleh karena itu, manusia dalam tingkah lakunya selalu menjaga agar keseimbangan sistem ekologi tidak tergoncangkan.

Dengan begitu terjamin pula kelangsungan hidup dari semua makhluk hidup, termasuk manusia. Masalah lingkungan adalah masalah hakikat sifat manusia terhadap lingkungan hidupnya. Kita harus memahami bahwa biodiversitas adalah kekayaan yang berharga yang harus senantiasa dijaga, dilestarikan, dan dihindarkan dari kepunahan. Pemanfaatan keanekaragaman hayati harus didasarkan atas kebijakan memelihara keselarasan, keserasian, keseimbangan, dan kelestarian biodiversitas lingkungan. Jika mungkin, bahkan harus meningkatkan kualitas lingkungan sehingga dapat dinikmati manusia dari generasi ke generasi. Usaha pelestarian lingkungan di Indonesia hanya mungkin jika didukung oleh semua warga negara Indonesia. Dengan kata lain, kearifan terhadap lingkungan hidup harus menjadi milik setiap insan Indonesia atau membudaya di dalam seluruh masyarakat Indonesia. Perubahan konsep mental manusia tidak dapat berlangsung dalam satu hari, tetapi memerlukan waktu lama. Salah satu usaha mempercepat perubahan itu adalah melalui pendidikan lingkungan hidup kepada masyarakat Indonesia mulai sedini mungkin, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal.

Di samping itu, perlu digalakkan aktivitas yang bertujuan meningkatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati, antara lain, sebagai berikut.

a . Penghijauan Penghijauan dilakukan dengan cara menanam berbagai jenis tanaman di berbagai tempat yang telah direncanakan, dapat di rumah-rumah, hutan-hutan yang gundul akibat penebangan liar, dan tempat lain yang diduga terhindar dari bencana jika ditanami tumbuhan tertentu. Kegiatan penghijauan tidak hanya menanam, tetapi yang lebih penting adalah merawat tanaman yang telah ditanam.

b . Pembuatan Taman Kota Pembuatan taman-taman kota akan mendatangkan manfaat, antara lain, meningkatkan kandungan oksigen, menurunkan suhu lingkungan, menurunkan efek pencemaran kendaraan bermotor, memberi keindahan, dan meningkatkan keanekaragaman hayati.

c . Pemuliaan Pemuliaan adalah usaha membuat varietas unggul, tetapi bukan berarti menghilangkan varietas yang tidak unggul. Pemuliaan dapat dilakukan dengan perkawinan silang yang akan menghasilkan varian baru. Oleh karena itu, pemuliaan hewan maupun tumbuhan dapat meningkatkan keanekaragaman gen dan keanekaragaman jenis.

d . Pembiakan Insitu dan Exsitu Hewan dan tumbuhan langka yang rawan punah dapat diselamatkan melalui pembiakan secara insitu, yaitu pembiakan di dalam habitat aslinya. Misalnya, mendirikan Cagar Alam Ujung Kulon dan Taman Nasional Komodo. Pembiakan exsitu adalah pembiakan di luar habitat aslinya, tetapi suasana lingkungan dibuat mirip dengan aslinya, misalnya, penangkaran hewan di kebun binatang.