Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Hindu Buddha

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Hindu Buddha

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Hindu Buddha

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Hindu Buddha

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Hindu Buddha

1) Nekara. Nekara ialah semacam tambur besar dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup. Pada nekara, terdapat pola hias yang beraneka ragam. Pola hias yang dibuat ialah pola binatang, geometrik, gambar burung, gambar gajah, gambar ikan laut, gambar kijang, gambar harimau, dan gambar manusia. Dengan hiasan yang demikian beragam, nekara memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Nekara sering digunakan untuk upacara mendatangkan hujan. Nekara ditemukan antara lain di Jawa, Sumatra, Bali, Kepulauan Kei, dan Papua.

2) Moko. Bentuk moko menyerupai nekara yang lebih ramping. Bidang pukulnya menjorok keluar, bagian bahu lurus dengan bagian tengah yang membentuk silinder dan kakinya lurus serta melebar di bagian bawah. Moko banyak terdapat di Pulau Alor.

3) Kapak Perunggu. Kapak perunggu terklasifikasi dalam tiga golongan, yaitu kapak corong (kapak sepatu), kapak upacara, dan tembilangan atau tajak. Kapak ini disebut kapak corong karena bagian atasnya berbentuk corong yang sembirnya belah. Ke dalam corong itu dimasukkan tangkai kayu yang menyiku pada bidang kapak. Kapak tersebut disebut juga kapak sepatu karena hampir mirip dengan sepatu. Bentuknya bulat, panjang sisinya, dan terbuat dari logam. Kapak perunggu ditemukan antara lain di Sumatra Selatan, Jawa Barat, Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, Pulau Selayar, dan Papua.

4) Bejana Perunggu. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang seperti tempat ikan yang diikatkan di pinggang. Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu yang cembung, yang dilekatkan dengan pacuk besi pada sisinya. Pola hias benda ini tidak sama susunannya. Bejana ditemukan di daerah Madura (Asemjaran, Sampang) dan Sumatra (Kerinci).

5) Perhiasan Perunggu. Perhiasan yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi banyak ditemukan di hampir semua wilayah Indonesia. Gelang, cincin, bandul kalung dari perunggu pada umumnya dibuat tanpa hiasan. Namun, ada juga yang dihias dengan pola geometris atau pola bintang. Gelang yang mempunyai hiasan pada umumnya besar dan tebal. Pola hias pada gelang ini berupa pola timpal, garis, tangga, dan duri ikan. Pola hias lainnya adalah spiral yang disusun membentuk kerucut. Mata cincin yang berbentuk kambing jantan ditemukan di derah Kedu (Jawa Tengah).

6) Arca Perunggu. Arca atau patung perunggu yang ditemukan di Indonesia mempunyai bentuk yang beragam, ada yang berbentuk manusia dan binatang. Posisi manusia dalam bentuk arca ada yang dalam keadaan berdiri, sikap bertolak pinggang, memegang panah, menari dan sedang naik kuda. Arca dengan sikap bertolak pinggang ditemukan di Bogor. Patung manusia yang sedang memegang panah ditemukan di Lumajang (Jawa Timur). Arca berbentuk binatang ada yang berupa arca kerbau yang sedang berbaring, kuda sedang berdiri, dan kuda dengan pelana. Tempat ditemukan arca-arca tersebut, yaitu di Bangkinang (Riau), Lumajang, Palembang, dan Bogor.

Hasil kebudayaan masyarakat Indonesia pada masa Hindu Buddha beragam bentuknya, ada yang berbentuk :

a. Candi. Candi pada umumnya berbentuk bangunan yang tinggi dengan tiga bagian. Bagian bawah merupakan lambang bhurloka (alam manusia), bagian tengah menggambarkan bhuvarloka (alam kematian), dan bagian atap melambangkan swarloka (alam para dewa). Candi-candi yang ada di Indonesia memiliki corak berbeda, tergantung pada karakter kerajaan yang membuatnya. Candi-candi yang ada di Jawa Tengah bagian utara biasanya berbentuk melingkar, di mana candi-candi kecil melingkari candi utama yang besar. Ini menggambarkan susunan masyarakat yang menempatkan raja sebagai pusat kekuasaan. Ini dapat dipahami, mengingat kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah bagian utara umumnya merupakan kerajaan Hindu.

Sementara itu, candi-candi yang ada di Jawa Tengah bagian selatan umumnya memiliki ukuran yang sama besar, tidak ada candi yang besar maupun tingginya melebihi yang lain. Ini menggambarkan susunan masyarakat demokratis yang menempatkan raja dan masyarakat lainnya setara. Hal ini merupakan karakter agama Buddha yang tidak menganut sistem kasta.

Adapun candi-candi di Jawa Timur biasanya menempatkan candi utama yang besar di belakang candi-candi yang lebih kecil. Hal ini menggambarkan kedudukan raja sebagai pemersatu masyarakat. Candi tidak hanya terdapat di pulau Jawa namun juga terdapat di pulau-pulau lain. Misalnya, candi Muara Takus yang terdapat di Sumatra.

b. Yupa/Prasasti. Yupa/prasasti adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan. Yupa/Prasasti menggunakan aksara Pallawa atau bahasa Sanskerta dan menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan-kerajaan pada masa Hindu-Buddha.

c. Kitab dan Karya Sastra. Masa Hindu dan Buddha meninggalkan beberapa kitab yang isinya beragam. Ada yang berisi cerita, berita sejarah, atau dongeng-dongeng. Isi kitab umumnya berbentuk syair. Kitab-kitab tersebut antara lain :

1). Kitab Bharatayuda tulisan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.

2). Kitab Smaradhana tulisan Mpu Dharmaja.

3). Kitab Negarakertagama tulisan Mpu Prapanca.

4). Kitab Sundayana, merupakan kitab yang menceritakan peristiwa Bubat.

d. Arca. Arca merupakan batu yang dipahat hingga membentuk manusia atau binatang. Biasanya, dibuat untuk menggambarkan orang-orang atau dewa-dewa tertentu. Beberapa arca hasil kebudayaan Hindu-Buddha antara lain arca Syiwa, Brahma, Wisnu, Buddha, dan Dhyani Boddhisatwa.

e. Relief. Relief merupakan pahatan tulisan atau gambar yang biasanya terdapat pada dinding candi. Beberapa relief ada yang menceritakan pengalaman hidup raja dan para dewa Hindu atau Buddha.

 

Kehidupan Masyarakat Masa Hindu Buddha

Kehidupan Masyarakat Masa Hindu Buddha

Kehidupan Masyarakat Masa Hindu Buddha

Sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Buddha, masyarakat telah memiliki kebudayaan yang cukup maju. Unsur-unsur kebudayaan asli Indonesia telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki kebudayaan asli tidak begitu saja menerima budaya-budaya baru tersebut. Proses masuknya pengaruh budaya Indonesia terjadi karena adanya hubungan dagang antara Indonesia dan India. Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan asli Indonesia. Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, antara lain seperti berikut.

Kehidupan Masyarakat Masa Hindu Buddha
Kehidupan Masyarakat Masa Hindu Buddha

a. Bidang Keagamaan Sebelum budaya Hindu-Buddha datang, di Indonesia telah berkembang kepercayaan yang berupa pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan itu bersifat animisme dan dinamisme. Animisme merupakan suatu kepercayaan terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa. Dinamisme merupakan suatu kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib. Dengan masuknya kebudayaan Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia secara berangsur-angsur memeluk agama Hindu dan Buddha, diawali oleh golongan elite di sekitar istana.

b. Bidang Politik Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini, kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Kemudian, pemimpin ditentukan secara turun-temurun berdasarkan hak waris sesuai dengan peraturan hukum kasta. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan kerajaan bercorak HinduBuddha lainnya.

c. Bidang Sosial Masuknya kebudayaan Hindu menjadikan masyarakat Indonesia mengenal aturan kasta, yaitu: Kasta Brahmana (kaum pendeta dan para sarjana), Kasta Ksatria (para prajurit, pejabat dan bangsawan), Kasta Waisya (pedagang petani, pemilik tanah dan prajurit). Kasta Sudra (rakyat jelata dan pekerja kasar). Namun, unsur budaya Indonesia lama masih tampak dominan dalam semua lapisan masyarakat. Sistem kasta yang berlaku di Indonesia berbeda dengan kasta yang ada di India, baik ciri-ciri maupun wujudnya. Hal ini tampak pada kehidupan masyarakat dan agama di Kerajaan Kutai. Berdasarkan silsilahnya, Raja Kundungga adalah orang Indonesia yang pertama tersentuh oleh pengaruh budaya India. Pada masa pemerintahannya, Kundungga masih mempertahankan budaya Indonesia karena pengaruh budaya India belum terlalu merasuk ke kerajaan. Penyerapan budaya baru mulai tampak pada waktu Aswawarman, anak Kundungga, diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. Adanya pengaruh Hindia mengakibatkan Kundungga tidak dianggap sebagai pendiri Kerajaan Kutai (Nugroho Notosusanto, et.al, 2007: 42).

d. Bidang Pendidikan Lembaga-lembaga pendidikan semacam asrama merupakan salah satu bukti pengaruh dari kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Lembaga pendidikan tersebut mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan.

e. Bidang Sastra dan Bahasa Pengaruh Hindu-Buddha pada bahasa adalah dikenal dan digunakannya bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa oleh masyarakat Indonesia. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, seni sastra sangat berkembang terutama pada zaman kejayaan Kerajaan Kediri.

f. Bidang Arsitektur Punden berundak merupakan salah satu arsitektur Zaman Megalitikum. Arsitektur tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan, Candi Borobudur sebenarnya mengambil bentuk bangunan punden berundak agama Buddha Mahayana. Pada Candi Sukuh dan candicandi di lereng Pegunungan Penanggungan, pengaruh unsur budaya India sudah tidak begitu kuat. Candi-candi tersebut hanyalah punden berundak.

Begitu pula fungsi candi di Indonesia, candi bukan sekadar tempat untuk memuja dewa-dewa seperti di India, tetapi lebih sebagai tempat pertemuan rakyat dengan nenek moyangnya. Candi dengan patung induknya yang berupa arca merupakan perwujudan raja yang telah meninggal. Hal ini mengingatkan kita pada bangunan punden berundak dengan menhirnya.