Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Cerita Rakyat Nusantara
Cerita Rakyat Nusantara

Cerita Rakyat Nusantara – Cerita rakyat atau disebut juga dongeng adalah sastra yang hidup ditengah masyarakat. Cerita rakyat dituturkan secara turun-temurun sehingga bentuk menjadi sastra lisan. Bacalah cerita rakyat dari daerah Jawa berikut ini!

Musnahnya Kezaliman

Prabu Dewatacengkar sangat terpesona, ketika melihat Ajisaka. Sungguh berbeda, pemuda yang satu ini. Ketampanan dan kepribadiannya, teramat menarik. Selain itu, tindak-tanduknya sangat tenang dan serba bersahaja. Ajisaka duduk bersimpuh di hadapan Prabu Dewatacengkar, menghaturkan sembah dengan takzim. Ketika menghaturkan salam, nada suaranya sangat merdu.

Cerita Rakyat Nusantara – Lama sekali, Prabu Dedewatacengkar memandang Ajisaka. “Jadi kaulah yang bernama Ajisaka?” Prabu Dewatacengkar menelan air liurnya, menahan rasa laparnya yang timbul ketika melihat Ajisaka. “Daulat, Tuanku,” Jawab Ajisaka. “Tahukah kau buat apa Patih Jugul membawamu kemari?” “Ampun Tuanku, yang hamba ketahui karena hamba mendapat kesempatan untuk berbakti kepada duli Tuanku.” “Hem, kau kira dengan cara bagaimana kau harus berbakti padaku?” “Hal itu hamba persembahkan kepada kerelaan Tuanku. Apa pun titah Tuanku, hamba akan melaksanakannya dengan ikhlas.” “Hm, Ajisaka! Sebenarnya kau dibawa kemari, karena akan dijadikan santapanku. Nah, bagaimana? Apakah kau akan menerimanya dengan ikhlas?” “Ampun Tuanku, hidup mati hamba ada di tangan yang Mahakuasa, yang menguasai jagad dan segala isinya. Seandainya olehnya hamba ditakdirkan untuk menjadi bahan santapan Tuanku, maka tentulah hamba tidak akan dapat memungkirinya.” “Hua ha ha ha! Sungguh aneh sikapmu! Hemmm, Untuk pertama kali Patih Jungul membawa calon santapanku, yang demikian pasrah seperti engkau! Hua ha ha ha! Senang sekali hatiku! Hu ha ha ha! Seandainya saja ada ganti dirimu, aku ingin sekali mengangkatmu menjadi abdi kerajaan. Mungkin kau akan mendapat pangkat yang cukup tinggi. Tetapi sayang, kukira tak ada lagi orang seperti kau. Maka tidak boleh tidak, kau harus menjadi santapanku!” “Hamba ikhlas, seikhlas-ikhlasnya, Tuanku. Namun sebelum hamba menjadi santapan Tuanku, perkenankanlah hamba memohon sesuatu yang tidak ada artinya bagi Tuanku.” “Oh, ya, apa maumu Ajisaka?” Ajisaka menghantarkan sembahnya. Tetap dengan takzim. “Hamba memohon sudilah Tuanku menyisakan tulang belulang tubuh hamba. Kemudian hamba mengharapkan pengiring hamba yang bernama sembada, menguburkan tulang belulang hamba pada setapak tanah yang letak dan luasnya hamba tentukan,” kata Ajisaka. “O, boleh saja. Ayo, tentukan, di mana letak tanah dan berapa luasnya yang engkau inginkan itu?” “Letaknya di sekitar bagian depan istana. Adapun luasnya hanya sebesar sorban yang hamba kenakan, Tuanku.” Sumber: Ilustrasi Agus Hua ha ha ha ha, boleh! Boleh saja. Jangankan sebesar serbanmu, sepuluh kali lipat pun akan kukabulkan. “Hamba berharap Tuanku berkenan menyaksikan hamba mengukur tanah itu, Tuanku!” “Oh, aku bersedia menyaksikan. Kapan kau akan mengukurnya?” “Lebih cepat adalah lebih baik, Tuanku. Bukankah diri hamba akan segera diserahkan kepada juru masak istana, untuk diolah menjadi masakan bagi santapan Tuanku?” “Oho, kalau begitu sekarang juga kau bisa melaksanakannya. Mari kita ke halaman istana, kau boleh mengukur dan menentukan letaknya! Ayo cepat!” Prabu Dewatacengkar yang tak sabar lagi ingin memakan daging Ajisaka, segera bangkit dari singgasananya. Berjalan menuju perkarangan istana. Patih Jugul dan para pembesar kerajaan serta prajurit mengiringnya di belakang, Ajisaka berjalan di depan Patih Jugul. Ketika telah tiba di pekarangan istana. Prabu Dewatacengkar mempersilakan Ajisaka melaksanakan maksudnya. “Cepatlah laksanakan, aku tidak punya banyak waktu! Dan kalian, hei para pembesar kerajaan, para prajurit boleh menyaksikannya!” katanya. Ajisaka memilih dataran kosong di pekarangan istana, kemudian membuka kain sorbannya. Direntangkan kain serbannya perlahan-lahan. Sementara semua mata terpusat kepadanya, menyaksikan dengan penuh penasaran, Mereka seolah-olah menahan napas ketika Ajisaka membungkuk dan menggelarkan rentangan kain serban di atas tanah. Dan terjadilah keajaiban yang di luar dugaan. Kain serban itu ketika digelarkan, ternyata melebar dan membesar. Semakin lama semakin lebar dan semakin besar. Prabu Dewatacengkar, Patih Jugul, para pembesar kerajaan, dan para prajurit merasa heran dan takjub. Namun segera mundur, menghindar dari bentangan kain serban Ajisaka itu. Akan tetapi, kain serban itu ternyata semakin melebar, semakin membesar, semakin mendesak dengan kuat. Hingga orang-orang terdesak. Kemana pun menghindar, ujung kain serban itu mendesaknya terus. Kain Ajisaka mendesak terus, melebar, dan meluas terus. Akhirnya menutupi pekarangan istana. Mendesak ke arah bagian luar istana ke arah terjal ke hamparan bukit dan tebing. Sambil keheranan Prabu Dewatacengkar dan abdi-abdinya mencoba bertahan, berusaha menahan rentangan kain serban itu. Namun aneh sekali. Tepian kain serban itu sulit sekali di tahan, bahkan mendesak dengan kuat dan cepat. Hingga siapa saja yang mencoba menahannya, langsung terdesak ke arah tebing yang tinggi. Maka bergemalah jeritan dan tangisan orang-orang yang terlempar ke arah dasar tebing. “Ajisaka, kesaktian apa yang kau miliki? Oh, hentikanlah perbuatanmu itu, aku berjanji tidak akan memakanmu! Kau boleh pulang ke asalmu, cepatlah! Bawalah barang-barang berharga sebanyak kau sukai, tetapi segeralah hentikan rentangan kain sorban ajaibmu itu!” Teriak Prabu Dewatacengkar yang terus terdesak ke arah pantai terjal, di mana di bawahnya terhampar lautan yang sedang bergelora. “Demi berakhirnya kezaliman yang telah menjadi sumber bencana bagi rakyat Medang Kamulan, Tuanku harus lenyap dari muka bumi ini. Musnahlah bersama para abdi Tuanku, sebelum merasuk sampai ke luar Medang Kamulan!” seru Ajisaka, seraya menyentak kain serbannya yang terus melebar dan meluas itu. Sentakan yang dikerahkan Ajisaka, membuat ujung kain sorbannya bagai gelombang topan yang dahsyat. Menghantam Prabu Dewatacengkar dengan keras, hingga tubuhnya terlempar sangat jauh. Melambung ke udara, kemudian menukik ke arah permukaan laut yang sedang bergelora. Langit mendadak mendung. Tiba-tiba menyambarlah halilintar yang sangat dahsyat. Menghantar tubuh Prabu Dewatacengkar yang sedang menukik itu. Aneh sekali. Akibat sambaran halilintar itu. Wujud Prabu Dewatacengkar menghilang. Berganti wujud menjadi seeekor buaya putih yang besar. Langsung jatuh ke permukaan laut, ditelan gelombang yang sangat besar. “Siapa yang telah menjadi penjilat Prabu Dewatacengkar, dia harus menjadi korban buaya putih itu!” teriak Ajisaka sambil menghentak kain serbannya.

Cerita Rakyat Nusantara – Akibatnya sungguh mencengangkan. Beberapa tubuh berlemparan ke laut, menyusul buaya putih jelmaan Prabu Dewatacengkar. Mereka adalah abdi-abdi setia yang biasa menjadi penjilat, demi keselamatan dan keuntungan pribadinya, kepada raja. Di antaranya Patih Jugul. Justru, Patih Jugullah yang terdahulu menyusul buaya putih, melayang dengan cepat ke arah gelombang air laut yang sedang mendidih. Sebelum ditelan gelombang, dari arah permukaan gelombang muncullah buaya putih tadi. Menerjang, menyambut tubuh Patih Jugul dengan mulut ternganga lebar-lebar.

Cerita Rakyat Nusantara – Sedetik kemudian, tubuh Jugul telah terjepit di antara gigi-gigi dan taring buaya putih jelmaan Prabu Dewatacengkar itu. Patih Jugul menjerit-jerit meminta ampun, tetapi akhirnya menemui ajalnya menjadi mangsa buaya putih. Setelah melahap tubuh Patih Jugul, buaya putih itu menyelam ke dalam laut. Ajisaka mengerahkan ilmunya, menyurutkan kain serbannya menjadi kecil kembali. Sampai berukuran biasa kembali. Langsung mengenakan pada kepalanya. Sementara itu terdengar sorak sorai kegirangan, hampir dari setiap arah. Ajisaka memandangi orang-orang yang bersorak sorai itu dengan senyum lega. Rakyat Medang Kamulan yang selama ini bersembunyi karena takut ditangkap Patih Jugul, bermunculan dengan wajah lega dan gembira. Mereka bermunculan dengan serentak, pada saat Prabu Dewatacengkar terdesak ke tepi tebing. Entah siapa yang memberitahu mereka, namun kemunculannya sangat tepat pada waktunya. Pada saat kezaliman yang menjadi sumber ancaman ketentraman mereka, musnah ditelan kehebatan ilmu Ajisaka. Rakyat Medang Kamulan mengelu-elukan Ajisaka. Mengaraknya mengelilingi istana, dengan kegembiraan dan rasa syukurnya yang meluapluap. Dari semua arah bermunculan kembali mereka yang tadinya sangat ketakutan, Menyambut arak-arakan yang membawa Ajisaka, kemudian bergabung turut mengarak. Ketika tiba di halaman istana, mereka menurunkan Ajisaka. Dengan persepakatan yang serentak, mereka sepakat mengangkat Ajisaka menjadi pemimpin mereka. Hal itu sebagai luapan terima kasihnya karena upaya Ajisakalah jiwa mereka terselamatkan. Para abdi Prabu Dewatacengkar yang berada di dalam istana pun bermunculan, mereka berikrar bahwa akan tunduk dan patuh pada pemimpin yang baru itu. Mereka mengakui bahwa ketika Prabu Dewatacengkar masih berkuasa, mereka sebenarnya tidak menyetujui kezaliman rajanya itu. Kalau mereka patuh dan taat semata-mata hanya karena keselamatan jiwanya. Dan mereka memohon maaf kepada rakyat. Ajisaka tidak dapat menolak hasrat segenap rakyat Medang Kamulan. Ia pun menjadi pemimpin di Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana. Kemudian menganjurkan agar rakyat yang masih bersembunyi atau yang telah menyeberang ke kerajaan tetangga, segera kembali pulang. Bersatu kembali guna berkumpul dan bersepakat dengan kompak, membangun, dan membina Medang Kamulan. Sebagai pemimpin yang baru, meskipun usianya masih muda, tetapi Ajisaka tidak mengecewakan segenap rakyatnya. Bukan saja telah menjadi pembebas dan kemudian pelindung, tetapi kemudian menjadi pembimbing dan penuntun yang arif. Semua ilmunya diamalkan segenap rakyat dengan rata sehingga rakyat pun tidak ketinggalan dalam menghadapi Kejayaan Medang Kamulan. Kerajaan Medang Kamulan yang subur dan kaya raya, yang sejak Prabu Dewatacengkar berkuasa telah padam itu, kini bangkit kembali dengan menyala. Penuh gairah dan semangat. Rakyatnya dapat mengenyam ketentraman kembali, menikmati kesuburan dan kesentosaan dan hari yang lapang. Tidak lupa bersyukur kepada-Nya yang telah mengembalikan semuanya yang hilang.

Cerita Rakyat Nusantara

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

Cerita Rakyat – Ringkasan cerita rakyat yang akan diperdengarkan kali ini berasal dari Irian Jaya. Judulnya adalah “Kapak Ajaib”. Pilihlah seorang teman Anda untuk membacakannya di depan kelas. Tutuplah buku Anda. Dengarkanlah cerita yang dibacakan teman Anda itu dengan penuh perhatian!

Cerita Rakyat Kapak Ajaib

Cerita Rakyat – Di Kampung Bomou, hiduplah seorang pemuda bernama Gokeiyawi Ikomou. Pada suatu hari ia pergi ke kebunnya di Geida, kira-kira jauhnya satu kilometer dari Danau Tigi. Sesampainya di kebun, ia bermaksud menebang sebatang pohon mai yang kering di tepi kebunnya. Ikomou melangkah ke dekat pohon tersebut. Ia mengambil kapak, lalu mulai menebang batang pohon mai. Apa yang terjadi? Tiba-tiba kapak itu terlepas lalu terlempar jauh. Ikomoru berjalan mengambil kapaknya yang terlempar tadi. Ketika ia akan memegang kapak itu, kapak tersebut melompat beberapa meter ke arah danau Tigi, Ikomou merasa heran karena hal seperti itu terasa ajaib. Ikomou mendekati kapak itu lagi, lalu menunduk untuk memegangnya. Tetapi, kapak itu melompat beberapa meter ke arah danau. Ikomou langsung lari menahan kapak itu, tetapi kapak itu berlari lebih cepat. Akhirnya, kapak itu melompat masuk ke dalam perahu yang ada di tepi danau. Ikomou pun bergerak melompat masuk ke dalam perahu. Selanjutnya, perahu itu sendiri berlayar ke arah Danau Tigi. Sesampai di tengah-tengah danau, perahu itu tenggelam dan tiba-tiba Ikomou sudah berada di dasar danau. Kapak itu lalu berlari ke arah sebuah rumah yang ada di tengah-tengah sebuah kebun serta taman yang luas. Kapak itu kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Maka, Ikomou pun lari masuk ke dalam rumah itu. Ternyata di dalam rumah itu ada seorang lakilaki setengah baya sedang duduk. Di hidungnya terdapat hiasan gigi babi putih mengkilat bagai salju sehingga tampak seperti bulan sabit pada malam hari. Wajahnya dihiasi dinai (zat pewarna) merah sehingga wajah bagai sinar matahari di senja hari. Ia menerima Ikomou dengan ramah. Ikomou diajak jalan-jalan ke taman yang luas itu. Di taman itu tumbuh segala jenis tanaman atau tumbuhan, baik yang besar ataupun yang kecil. Tanaman itu berwarna-warni. Ikomou meminta segala jenis tanaman itu, tetapi dilarangnya. Selanjutnya, mereka masuk kembali ke dalam rumah. Sementara mereka sedang duduk di dalam rumah, dari sudut rumah itu muncullah seorang Kapak Ajaib laki-laki yang Ikomou pernah lihat, tetapi tidak tahu siapa namanya. Orang yang baru datang itu menghadap tuan rumah tersebut, lalu mereka memperbincangkan sesuatu, kemudian menghilang dari tempat itu. Tidak lama kemudian, datang juga seorang perempuan. Konon, Ikomou tahu persis siapa perempuan tersebut. Kemudian, perempuan itu menghilang. Setelah beberapa lama tinggal di situ, tuan rumah itu mempersilakan Ikomou pulang kembali ke rumah. Sebelum pulang, Ikomou dihadiahi beberapa benda, seperti anak panah dan busur serta kain timur (merah). Kapaknya juga dikembalikan kepada Ikomou. Selanjutnya, Ikomou diantar ke perahu. Perahu itu dengan sendirinya bergerak sampai di permukaan Danau Tigi. Dari permukaan Danau Tigi, perahu itu bergerak sendiri sehingga sampai di tempat semula. Sesudah itu, Ikomou langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, semua orang heran karena selama empat hari mencari-cari dia. Semua orang yang tinggal bersama dia itu menceritakan bahwa seorang lakilaki dan seorang perempuan telah tenggelam di Danau Tigi. Kini, Ikomou mengetahui bahwa setiap orang yang tenggelam dalam danau itu arwahnya selalu melaporkan diri kepada orang tua yang wajahnya seperti bulan sabit yang berdiam diri dalam danau itu. Akan tetapi, semua yang pernah ia lihat di dalam danau itu dirahasiakannya. Selanjutnya, apabila ingin makan daging, Ikomou memanahkan busurnya ke arah tertentu sehingga tidak lama kemudian orang akan datang membawakan daging dari arah tersebut. Begitu ganti-berganti setiap saat. Akhirnya, Ikomou hidup bahagia hingga maut datang kepadanya. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari Sastra Lisan Ekagi, Dharmodjo, 1998; 107-108)

Cerita Rakyat – Lakukanlah kegiatan berikut! 1. Jelaskan isi atau amanat cerita rakyat “Kapak Ajaib” yang baru saja Anda dengar! 2. Ceritakan kembali cerita rakyat tersebut dalam ringkasan di depan kelas! 3. Ungkapkanlah hal-hal yang menarik/ mengesankan dari cerita itu bagi Anda! 4. Diskusikanlah nilai-nilai yang dikandung cerita tersebut dalam kelompok diskusi Anda, kemudian memaparkan hasilnya di depan kelas dengan memerhatikan pelafalan kata dan kalimat yang tepat! 5. Bandingkanlah nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai cerita masa kini!

Lakukanlah kegiatan berikut bersama-sama anggota kelompok Anda! 1. Membaca sebuah cerita rakyat secara bergantian. 2. Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. 3. Mengungkapkan nilai-nilai tersebut secara lisan dengan pelafalan kata dan susunan kalimat yang benar. 4. Membuat ringkasan cerita rakyat tersebut dalam beberapa paragraf, lalu memaparkannya di depan kelas.

Mendiskusikan Masalah yang Ditemukan dari Artikel

Cerita Rakyat – Pada subbab ini, Anda akan mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku). Setelah mempelajari subbab ini, Anda diharapkan dapat (1) memahami ringkasan isi berita, artikel, atau isi buku yang disampaikan oleh peserta diskusi, (2) menyampaikan ringkasan berita, artikel, atau isi buku dalam forum diskusi, (3) menanggapi ringkasan isi berita, artikel, atau buku yang disampaikan peserta diskusi, (4) menyampaikan sikap setuju dan tidak setuju dalam beberapa kalimat, (4) memberikan bukti pendukung untuk memperkuat tanggapan, dan (5) mengajukan saran atau pemecahan masalah terhadap ringkasan isi yang disampaikan.

Anda bisa memperoleh beragam informasi dari bermacam-macam media, baik elektronik maupun cetak. Apabila Anda mendengar informasi atau berita melalui siaran televisi atau radio, ataupun membaca artikel buku cobalah cermati isi pengetahuan, informasi, atau berita itu. Anda mungkin saja ingin mengomentari atau menanggapi pengetahuan, informasi, atau berita itu dalam hal-hal tertentu.

Nah, sebagai bahan latihan Anda, bacalah artikel berikut secara saksama!

Tindakan Kekerasan di Lingkungan Sekolah Oleh HELMI GUNAWAN, S.T, M.Si

Cerita Rakyat – Kejadian kekerasan dalam satu institusi pendidikan kerap terjadi. STPDN contohnya, yang akhirnya berganti nama menjadi IPDN merupakan gambaran institusi pencetak pamong praja yang memiliki kurikulum yang terprogram dan disesuaikan dengan cita-cita luhur menjadi pemimpin rakyat (sipil). Namun, dalam perjalanannya terjadi missmanagement sistem pendidikan dengan berbagai peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi tragisnya berujung dengan kematian dan pelibatan orang dalam menutupi kesalahan-kesalahan tersebut. Akhirnya, keburukan itu sekarang terbongkar dan menjadi sorotan semua pihak bahkan ditangani langsung oleh Presiden SBY Perpeloncoan sebagai salah satu bentuk tindak kekerasan sering terjadi pada institusi pendidikan mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga perguruan tinggi. Telah berapa banyak korban yang berjatuhan hingga menyebabkan kematian akibat dari proses pendidikan yang tidak terkontrol dengan baik. Kematian akibat dari dampak penayangan acara olahraga hiburan sarat kekerasan seperti smackdown pernah menghiasi media di Indonesia yang terjadi hampir di setiap daerah. Kejadian ini ironisnya terjadi di lingkungan sekolah di mana para orang tua menitipkan putra-putrinya untuk belajar. Pernah pula terjadi kasus kematian dan cedera yang dihadapi oleh mahasiswa-mahasiswa baru pada beberapa perguruan tinggi akibat acara orientasi penerimaan mahasiswa. Semua kasus-kasus yang ada mengindikasikan berbagai tindakan kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan kita. Tindakan kekerasan ataupun pelecehan-pelecehan yang menyertainya dalam istilah luar dikenal dengan sebutan bullying. Menurut Olweus (1993) “Bullying can consists of any action that is used to hurt another child repeatedly and without cause”. Tindakan yang dilakukan dapat berupa fisik, verbal ataupun kejadian siksaan mental ataupun emosi seseorang. Sesuatu yang sering terlihat oleh mata kita seperti permainan ataupun pelecehan-pelecehan dapat saja digolongkan sebagai kegiatan ritual dari bullying. Bullying dapat ditemukan di setiap sekolah pada tiap negara. Hal ini merupakan suatu cara anakanak muda berinteraksi dengan lingkungannya. Setiap institusi pendidikan harus mengetahui keberadaan dan dampak dari bullying tersebut dan berusaha mencegah hal tersebut terjadi. Bila kejadian bullying didiamkan atau masih terjadi, murid akan mengalami pelecehan-pelecehan atau tindakan kekerasan dan aklibatnya secara psikologis mengalami stress dan korban dapat menderita seumur hidupnya. Sebagai contoh pada kasus penyiksaan di IPDN, seperti yang diberitakan oleh berbagai media televisi walaupun korban secara fisik dalam keadaan normal atau tidak cacat, namun sampai mereka lulus dari sekolah tersebut dan bekerja ataupun berkeluarga selama hampur lebih dari 5 – 10 tahun tetap mengalami beberapa trauma akibat bullying yang terjadi pada masa lampau. Pada beberapa negara di dunia kejadian ini dapat dicegah dan dikurangi dengan campur tangan pihak sekolah yang tidak mendiamkan ataupun menutup mata atas peristiwa yang terjadi. Tragisnya yang terjadi adalah campur tangan pihak penyelenggara pendidikan agar kasus ini tidak terungkap. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa bullying merupakan masalah internasional yang terjadi di hampir semua sekolah. Terjadi kesamaan permasalahan di tiap-tiap negara dan tidak ada batasan-batasan internasional, status sosial-ekonomi ataupun etnis. Di Amerika berdasarkan studi NEA (National Education Agency) kejadian ini sudah bukan lagi permainan anak-anak, tapi merupakan pengalaman menakutkan yang dialami oleh hampir seluruh siswa dan terjadi tiap hari. Selama dekade akhir, bullying telah mengalami perubahan menjadi lebih mematikan dan semakin rutin terjadi pada dua dekade sebelumnya. Kejadian bullying tidak hanya ditujukan bagi siswa sekolah dasar. Kejadian ini malah banyak terjadi pada segmen pendidikan menengah dan mahasiswa karena dapat mengalami penderitaan terbesar. Hal tersebut diakibatkan penggunaan kondisi fisiknya yang matang (kekuatan fisiknya). Adapun ciri-ciri bullying, di antaranya sebagai berikut.

Selengkapnya Sumber: Penulis, bekerja pada bidang pendidikan. (Dikutip dengan perubahan dari Pikiran Rakyat, 5 Juli 2007; 12)

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Cerita Cerita Rakyat
Cerita Cerita Rakyat

Cerita Cerita Rakyat – Salah satu kekayaan budaya masyarakat di wilayah nusantara adalah prosa atau cerita rakyat. Cerita rakyat ini lahir dan berkembang secara turun-temurun melalui berbagai media, baik secara lisan maupun tertulis. Cerita rakyat mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan masyarakat, misalnya mengenai sistem nilai, kepercayaan dan agama, kaidah-kaidah sosial, dan etos kerja. Oleh karena itu, sejumlah pengamat sosial budaya menyatakan bahwa memahami pandangan hidup masyarakat tidaklah komprehensif jika tanpa mempelajari cerita rakyat. Begitu juga dengan cerita rakyat ‘Raden Sandhi” yang sudah Anda baca pasti mengandung isi dan amanat yang didasari nilai-nilai yang dianut oleh rakyat Sambas. Cerita rakyat terdiri atas dogeng, mite, dan legenda. 1. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi, termasuk di dalamnya cerita-cerita pelipur lara dan cerita-cerita dengan tokoh binatang (fabel). Dongeng dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni (a) dongeng binatang karena semua tokohnya binatang (fabel), (b) dongeng biasa yang di dalamnya terdapat tokoh manusia, dan (c) dongeng jenaka/ lelucon yang di dalamnya terdapat cerita penuh kejenakaan. 2. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci atau sakral, misalnya cerita tentang tokoh kayangan atau tokoh supranatural yang memiliki kekuatan hebat. Tokoh mite adalah dewa atau manusia setengah dewa dan menyangkut peristiwa yang terjadi di dunia lain pada masa lalu (Danandjaja, 1994: 50).

Cerita Cerita Rakyat – Berdasarkan isinya, mite dapat dikelompokkan menjadi (a mite terjadinya alam semesta; (b) mite dunia dewata yang memasukkan juga cerita tentang terjadinya susunan para dewa; (c ) mite manusia pertama termasuk hal-hal yang berkaitan dengan inisiasi, misalnya, cerita manusia pertama di Kepulauan Talaud. Di dalam itu terdapat dewa penjelmaan, yakni makhluk ‘ketam’ yang berubah menjadi manusia; dan (4) mite pertanian, termasuk di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan makanan pokok. Misalnya, cerita tentang Dewi Padi. 3. Legenda adalah dongeng asal mula terjadinya suatu tempat, peristiwa atau keberadaan suatu daerah. Misalnya, legenda Tangkuban Perahu, asal-usul nama Surabaya. Selain itu, ada juga legenda yang terdiri atas cerita-cerita tentang tokoh-tokoh agama. Hal tersebut merupakan sebagian dari karakteristik cerita rakyat. Anda dapat mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat setelah Anda mendengarkan atau membacanya.

Cerita Cerita Rakyat – Anda juga dapat mengidentifikasi cerita rakyat berdasarkan unsur-unsur intrinsiknya, seperti tema, penokohan, latar, alur, dan amanat. 1. Tema adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita. 2. Alur atau plot adalah struktur penceritaan yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran. 3. Penokohan adalah pelukisan atau pendeskripsian atau pewatakan tokoh-tokoh dalam cerita. 4. Latar atau setting merupakan tempat, waktu, dan keadaan terjadinya suatu peristiwa. 5. Amanat adalah pesan-pesan atau wejangan yang ingin disampaikan dalam cerita. Ciri-ciri atau karakteristik cerita rakyat ialah menghubungkan cerita dengan kejadian alam atau tempat berkisah tentang kerajaan (istana sentris). Dari hasil mendengarkan cerita rakyat tersebut, adakah ciri-ciri lain yang Anda temukan dari cerita rakyat tersebut?

Cerita Cerita Rakyat

Uji Materi

1. Identifikasikanlah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat “Raden Sandhi” tersebut. Buatlah sinopsisnya. 2. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 3. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 4. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 5. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilainilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 6. Lakukan pengamatan terhadap hasil pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan tabel penilaian

Cerita Cerita Rakyat – Kegiatan Lanjutan

1. Carilah cerita rakyat lain dari buku cerita rakyat atau rekaman cerita rakyat. 2. Tuturkan oleh salah seorang teman Anda atau guru Anda. 3. Dengarkanlah dengan baik penuturan tersebut. 4. Identifikasilah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat yang didengarkan itu. 5. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 6. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 7. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 8. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 9. Ungkapkan kembali cerita rakyat tersebut dalam bentuk sinopsis. 10. Amatilah pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan format penilaian pada latihan sebelumnya.

Cerita Cerita Rakyat

Merangkum Isi Informasi Teks Buku

Dalam beberapa pelajaran sebelumnya, Anda telah belajar mengambil manfaat informasi dalam media cetak dan elektronik. Anda akan belajar merangkum informasi dari buku. Anda akan mencatat pokok-pokok penting dalam buku, lalu membuat ringkasan. Oleh karena itu, akan semakin banyak pulalah informasi yang Anda peroleh.

Salah satu cara mengambil manfaat dari informasi dalam buku adalah dengan merangkumnya. Caranya, Anda dapat mencatat pokokpokok isi informasi pada halaman bab tertentu yang dirujuk setelah Anda membaca daftar isi. Selanjutnya, rangkumlah seluruh isi informasi (yang diperoleh dari bab tertentu) ke dalam beberapa kalimat. Berikut terdapat sebuah kutipan dari buku Tatabahasa Indonesia yang ditulis Gorys Keraf halaman 137–138. Kita dapat membuat rangkuman dari kutipan berikut.

Pendahuluan Sintaksis (Yunani: Sun + tattein = mengatur bersama sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. Penelitian bidang fonetis, morfologis dan struktur frasa dari suatu bahasa merupakan bagian dari iImu bahasa yang masih bersifat statis. Dalam sintaksis bidangbidang statis seolah-olah digerakkan dan dihidupkan ke dalam kesatuan gerak yang dinamis, diikat dan dijalin ke dalam berbagai macam konstruksi. Setiap bahasa memiliki sistem-sistem yang khusus untuk mengikat kata-kata atau kelompok-kelompok kata ke dalam suatu gerak yang dinamis. Oleh sebab itu, kita tidak dapat dibenarkan untuk menyusun tatakalimat suatu bahasa dengan secara sembarangan menerapkan sintaksis bahasa lain. Hal salah kaprah ini pernah dilakukan oleh ahli-ahli tatabahasa lama. Tatabahasa Latin-Yunani, yang memiliki struktur khusus, diterapkan begitu saja kepada bahasa-bahasa lain. Sintaksis suatu bahasa haruslah merupakan perumusan dari berbagai macam gejala susun-peluk kata-kata dalam suatu bahasa. Jika nanti ada persamaan tatakalimat suatu bahasa dengan bahasa lain, haruslah merupakan hasil perbandingan yang diadakan antara bahasa-bahasa tersebut. Akan tetapi, bukan sebagai hasil penerapan sintaksis bahasa lain. Tatabahasa-tatabahasa lama tidak banyak bicara tentang sintaksis. Mereka yang menelaah sintaksis secara mendalam dan menggunakan kalimat sebagai titik-tolak penelitiannya. Dalam hal ini, hanya beberapa gelintir manusia yang mau berusaha untuk melaksanakan sekuat-kuatnya menelaah sintaksis. Akan tetapi, kadang hasil masih jauh dari sasaran optimal. Mereka masih sering kembali ke dalam pemikiran falsafah, di mana semua fenomena bahasa selalu ditinjau dan bidang falsafah. Falsafah dijadikan alat untuk memecahkan segala macam persoalan. Dengan demikian, timbul suatu kesan bahwa bukan masalah bahasa yang dipersoalkan, tetapi kecerdasan berpikir atau berpikir secara logislah yang dipersoalkan. Di sini kita berusaha bertolak dari seberang lain, bertolak dari bahasa sendiri, sebagai sumber penurunan perumusan-perumusan tentang sintaksis. 1. Kata, Frase, dan Klausa Jika sekali lagi kita melihat tataran-tataran (tata tingkat/hirarki) dalam bahasa, urutan tataran itu dari yang kecil sampai paling luas beserta bidang ilmunya masing-masing adalah: Bidang Ilmu Tataran Fonologi : fon/fonem suku kata Morfologi : morfem terikat bebas kata dasar turunan/jadian Sintaksis : frasa klausa Wacana : alinea bagian (sejumlah alinea) anak bab bab Karangan yang utuh : terdiri atas bab-bab Semua unsur di atas disebut unsur segmental, yaitu unsur-unsur yang dapat dibagi-bagi menjadi bagian atau segmen-segmen yang lebih kecil. Di samping unsur segmental terdapat juga unsur suprasegmental, yang kehadirannya tergantung dari unsurunsur segmental. Unsur suprasegmental mulai hadir dalam tataran kata sampai wacana: nada, tekanan keras, panjang, dan intonasi. Dengan demikian kata merupakan suatu unsur yang dibicarakan dalam morfologi, sebaliknya frase dan klausa berdasarkan strukturnya termasuk dalam sintaksis. Frase adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam frase rumah ayah muncul makna baru yang menyatakan milik, dalam frase rumah makan terdapat pengertian baru ‘untuk’. Adapun frase obat nyamuk terdapat makna baru ‘untuk memberantas’. Sebaliknya klausa adalah suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional. Dalam tatabahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, obyek, dan keterangan-keterangan. Sebuah klausa sekurangkurangnya harus mengandung satu subjek, satu predikat, dan secara fakultatif satu obyek. Dalam halhal tertentu klausa terdiri dari satu predikat dan boleh dengan keterangan (bentuk impersonal), misalnya: 1. Saya menyanyikan sebuah lagu 2. Adik membaca buku 3. Anak itu menangis 4. Ia sudah bangun 5. diberitahukan kepada umum 6. demikian diceritakan 7. sementara adik menyanyikan sebuah lagu, saya membaca buku 8. ia makan, karena (ia) lapar Konstruksi no. 1 sampai dengan 6 membentuk satu klausa, dan sekaligus sebuah kalimat. Sebaliknya, konstruksi no. 7 dan 8 merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua klausa. Sementara itu, kalau kita mendengar orang mengucapkan: , 9. “Maling!” “Pergi!” “Keluar!” 10. “Rumah ayah!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Rumah siapa itu?” 11. “Karena lapar!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Mengapa kamu malas bekerja?” Semua konstruksi di atas diterima juga sebagai kalimat, walaupun contoh-contoh dalam nomor 9 hanya terdiri dari satu kata. Adapun nomor 10 dan 11 terdiri atas frase. Jika demikian: sebuah kata, sebuah frase, atau sebuah klausa dapat menjadi sebuah kalimat. Akan tetapi, di mana letak perbedaannya? Kita menyebutnya sebagai kata, frase, atau klausa, semata-mata berdasarkan unsur segmentalnya. Sebaliknya, unsur kata, frase, dan klausa dapat dijadikan kalimat kalau diberikan kepadanya unsur suprasegmental (dalam hal ini intonasi). Jadi: kata + intonasi > kalimat frasa + intonasi > kalimat klausa + intonasi > kalimat .

Kegiatan membaca cepat, baik skimming maupun scanning, sangat bermanfaat untuk memperoleh informasi secara cepat. Kita dapat membuat rangkuman dari bacaan yang telah kita baca.