Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Isi Cerpen Pendek
Isi Cerpen Pendek

Isi Cerpen Pendek – Membaca cerpen merupakan kegiatan membaca ekspresif. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca ekspresif adalah gerak dan vokal sebab gerak dan vokal merupakan simbol-simbol yang bermakna untuk mengungkapkan ide bagi pembaca dan sekaligus usaha pemahaman, penikmatan bagi penonton/penikmat. Oleh karena itu, gerak dan vokal harus memiliki nilai estetik. Pada pelajaran ini, kalian kembali belajar membaca cerpen. Kali ini, cerpen yang disajikan adalah cerpen modern dan menemukan hal menarik di dalamnya. Tentu saja melalui kegiatan berdiskusi. Bacalah cerpen berikut!

Andong Mbah No Cerpen Yudhi Herwibowo Nama aslinya Surono, tapi biasa dipanggil Mbah No. Sejak lama saya sudah mengenalnya. Mungkin sejak duduk di kelas 1 SD, sekitar 15 tahun lalu. Mbah No adalah penarik andong. Maka itulah, ibu meminta Mbah No agar mau mengantar jemput saya sekolah setiap hari. Memang tak hanya saya sendiri, tapi bersama-sama beberapa anak tetangga lainnya yang kebetulan satu sekolah. Tak heran, hampir 3 tahun lamanya, saya selalu naik andong Mbah No. Saya baru berhenti ketika ayah membelikan saya sepeda BMX. Akan tetapi, selama 3 tahun itu, walau mungkin ada beberapa anak yang selalu bersama saya, tapi saya rasa, sayalah yang paling dekat dengan Mbah No. Mungkin karena rumah kami yang tepat berbelakangan. Jadi, saya selalu dijemput pertama kali dan diantar terakhir kali. Sungguh, saya menyukai Mbah No. Terutama saat dia bercerita. Termasuk cerita tentang si Pekik, kuda yang selalu mengangkut kami ini. Biasanya sambil bercerita, Mbah No membiarkan saya memegang kendali si Pekik berikut pecutnya sekaligus. Tapi dulu itu, saya tak pernah punya keberanian memecut si Pekik. Saya hanya berteriakteriak menyuruh kuda hitam itu berlari cepat dan Mbah No akan terkekeh di samping saya. Bagi saya, sepertinya ia sudah menjadi ayah kedua. Mungkin ini berlebihan, tapi banyak kejadian yang membuat pikiran itu terlintas di kepala saya. Seperti saat saya pertama kali berantem, Mbah No-lah yang pertama memeluk saya karena Anton Gendut menonjok mata saya hingga bengkak.

Isi Cerpen Pendek

Mbah No juga yang selalu melihat nilai ulangan saya yang jeblok dan mencoba menghibur serta memberi semangat agar lebih giat belajar. Ah…, terlalu banyak cerita saya dengannya! Tak heran, sejak saya tak ikut andongnya pun, saya masih terus berhubungan dengannya. Sering saya menghabiskan waktu di rumah Mbah No, di mana ia tinggal sendirian sejak istrinya meninggal. Saat itu, kami sering mengobrol di dipan kayu sambil minum teh. Sering juga kami memandikan si Pekik bersama-sama. Kejadian ini berlangsung lama, bahkan sampai ketika si Pekik mati pun, saya yang menggali kuburannya di samping rumah Mbah No. Ah, Mbah No, Mbah No… Saya benar-benar merindukan saatsaat seperti itu! Kini, saya teringat lagi padanya, bukan karena kejadian itu semua, tapi karena hal yang tidak mengenakkan! Saat ini saya benarbenar merasa bersalah. Sejak saya diterima kerja di hotel terbesar di Solo ini, saya memang jadi jarang bertemu dengan Mbah No. Apalagi sejak 3 tahun yang lalu, kami pindah ke perumahan lain. Jadi, Mbah No makin jauh dari saya. Terakhir yang saya ingat, ketika saya menyampaikan berita gembira itu sekitar 5 bulan yang lalu. Masih saya ingat sinar mata berbinar Mbah No ketika saya sampaikan tujuan saya datang sore itu. Saat itu saya memang membawa perintah kepala hotel saya untuk menawari pekerjaan kepada Mbah No di hotel kami. ”Jadi andong hotel, Nak Ndjar?” tanyanya dengan sinar tak percaya. ”Iya, Mbah,” saya juga ikut senang. ”Nanti kalau ada turis-turis yang ingin keliling kota, Mbah yang nganter. Ke Klewer, ke keraton, ke Sriwedari, atau ke mana saja. Nanti andong Mbah No akan didandani, seperti andong keraton. Pakai hiasan-hiasan bagus. Mbah No juga!”

Isi Cerpen Pendek – Masih dengan mata berbinar, ditepuktepuknya leher si Sekti, kuda pengganti si Pekik ini berulang kali. ”Seperti naik pangkat, Le!” ujar Mbah No bercanda. ”Dan yang pasti lagi, Mbah,” tambah saya masih bersemangat,” Tiap bulan Mbah No dapat gaji tetap! Lumayan, Mbah.” Sungguh, saya masih ingat kejadian itu. Bagaimana mungkin saya lupa dengan sinar mata berbinar itu? Dan kini, hanya selang 5 bulan kemudian, kejadian yang bertolak belakang akan saya lakukan! Sungguh, sepertinya saya ingin berlari menjauh saja. Saya jadi benar-benar membenci Pak Parto, direktur saya yang baru itu. Juga Pak Kanto, yang seenaknya saja memutuskan kerja sama dengan Mbah No. ”Ndak usah sedih begitu, Le!” Mbah No menepuk-nepuk punggung saya. ”Andjar sudah berusaha membujuk Pak Kanto, Mbah, tapi sulit. Kondisi hotel sekarang memang sedang susah. Bulan-bulan ini, turisturis hanya beberapa saja yang datang. Jadi….” saya tak bisa melanjutkan. ”Iya, iya, Mbah bisa ngerti, kok!” Setelah itu, tak banyak pembicaraan di antara kami. Saya yakin Mbah No pasti sedang berpikir kelanjutan cerita ini. Dia pasti akan kembali lagi ke jalan, menunggu penumpang, membawa kulakankulakan segede gunung yang berbau, dengan tenaga kudanya yang tua, setua tenaganya sendiri. Ah, saya benar-benar tak ingin membayangkannya. Setelah memberi pesangon titipan kantor, saya pun berlalu. Dalam hati saya berjanji suatu saat saya akan kembali lagi memanggil Mbah No bekerja di hotel. Sejak itu, saya tak pernah lagi bertemu dengan Mbah No. Sesekali saya sempatkan mampir, membawakan martabak telor kesukaannya. Namun, tak pernah saya temui dia. Saya pun hanya bisa meninggalkan martabak itu, melalui jendela, di atas dipannya. Sampai akhirnya setelah beberapa bulan lewat, kondisi pun mulai membaik, perlahan-lahan mulai bangkit. Saat rapat pengembangan, saya mulai kembali mengusulkan pengadaan fasilitas andong untuk hotel ini. Dan ternyata ide saya diterima dengan baik. Maka siang itu juga, saya segera pergi ke rumah Mbah No. Tetapi, tak saya temui Mbah No di sana. Saya coba cari di pangkalan. Tapi, tak juga ada. Akhirnya, terpaksa saya tunggu. Sekitar satu jam kemudian, Mbah No saya lihat muncul di belokan gang itu. ”Eh, kamu, Le,” sapanya begitu dekat, ”Sudah lama menunggu?” Saya mengangguk, ”Iya lumayan, Mbah. Tapi…’ mata saya berputar ke sekeliling, ”Mana Sekti, Mbah? Kok, Mbah No pulang dengan jalan kaki?” ”Oooh, itu,” Mbah No terkekeh sesaat, tapi saya merasa aneh mendengar kekehnya itu, seperti terlalu dipaksakan. Saya tunggu ia menuangkan air minum dari kendi. ”Sekti sudah Mbah jual,” ujarnya setelah meneguk airnya, ”Dia sudah tua, kemarin ngangkat kapuk beberapa kilo saja sudah klenger. Sebelum nanti mati di jalan, biar Mbah jual duluan saja. Lumayan, masih ada yang beli dengan harga tinggi…” Sumber: Solopos, Agustus 2004, dengan pengubahan

Isi Cerpen Pendek

Kalian telah membaca sebuah cerpen. Tentu kalian telah memahami unsur-unsur yang membangun cerpen tersebut, khususnya latar dan penokohan.

Latar cerita dapat berupa tempat, waktu, atau suasana yang melingkupi cerita. Adapun penokohan adalah pengambaraan watak suatu tokoh. Penokohan dapat diketahui dari paparan pengarang, sikap, pembicaraan, dan tindakan suatu tokoh, serta pandangan tokoh lain terhadap tokoh tersebut. Selain itu, kalian juga dapat menemukan hal-hal yang menarik atau mengesankan di dalamnya. Misalnya, tokoh ”Saya” merasa memiliki hubungan istimewa dengan Mbah No, sang kusir andong. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut.

”Bagi saya, sepertinya ia sudah menjadi ayah kedua. Mungkin ini berlebihan, tapi banyak kejadian yang membuat pikiran itu melintas di kepala saya. Seperti saat saya pertama kali berantem, Mbah No-lah yang pertama memeluk saya karena Anton Gendut menonjok mata saya hingga bengkak.”

Paragraf itu menggambarkan kedekatan seorang anak terhadap Mbah No, yang sebenarnya tidak ada hubungan keluarga. Kalian juga dapat menemukan hal-hal menarik atau mengesankan yang lain dalam cerita tersebut.

Isi Cerpen Pendek

1. Apa tema yang diangkat penulis dalam cerpen ”Andong Mbah No” di atas? 2. Siapakah Mbah No yang diceritakan pada cerpen itu? 3. Apakah hubungan antara tokoh ”Saya” dengan Mbah No? 4. Apa yang diceritakan penulis tentang andong Mbah No? 5. Peristiwa apa saja yang dialami Mbah No dengan andongnya? 6. Di mana peristiwa itu terjadi? 7. Kapan peristiwa itu terjadi? 8. Bagaimana pendapatmu tentang tokoh Mbah No? 9. Seandainya kamu menjadi tokoh ”Saya” apa yang akan kamu lakukan saat tahu Sekti, kuda milik Mbah No sudah dijual?

1. Cobalah kalian ceritakan pengalaman naik delman. Jika kamu belum pernah naik delman, ceritakan pengalamanmu naik angkutan tradisional di daerahmu! 2. Bacalah cerpen lain di perpustakaan, kemudian diskusikan halhal menarik atau mengesankan di dalamnya!

Isi Cerpen Pendek

 

Mengidentifikasi  Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita

Mengidentifikasi Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita

Mengidentifikasi  Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita 

Unsur Sebuah Cerita
Unsur Sebuah Cerita

Unsur Sebuah Cerita – Mari kita belajar mengidentifikasi unsur sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam cerita rakyat. Kalian akan diajak belajar memperkenalkan diri dan orang lain dalam forum resmi, dan harus mau diperbaiki kesalahan-kesalahan pengucapan oleh teman kalian. Untuk memahami teks nonsastra, kalian akan diajak membaca ekstensif dan membuat ringkasan dari hasil membaca. Untuk memupuk keterampilan menulis, kalian akan diajak membuat paragraf deskriptif dari hasil observasi di lapangan dan hasilnya disunting dengan teman kalian. Pada bagian sastra, kalian akan diajak untuk belajar membaca puisi dan menemukan unsur-unsur yang membentuk puisi.

Mengidentifikasi Unsur Sastra Sebuah Cerita

Unsur Sebuah Cerita – Tahukah kalian, apa yang dimaksud cerita rakyat? Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di suatu daerah dan dianggap sebagai karya kolektif (milik bersama) masyarakat daerah itu. Pasti kalian pernah mendengar cerita Malin Kundang, Si Pahit Lidah, Roro Jonggrang, Jaka Tarub, semua cerita itu termasuk dalam cerita rakyat. Banyak manfaat yang akan kalian dapatkan dengan mendengarkan cerita rakyat. Salah satunya, kalian akan memperoleh pengalaman berharga dari cerita tersebut, melalui peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya. Di dalam cerita rakyat terkandung pesan moral yang berguna bagi pembacanya. Pesan (amanat) dalam cerita kadang diungkapkan secara langsung, tetapi terkadang diungkapkan secara tidak langsung melalui tingkah laku tokohtokohnya. Ketika kalian belajar di jenjang SMP, kalian telah belajar tentang macam-macam tokoh. Kalian masih ingat, bukan? Tokoh dalam cerita rakyat memiliki karakter sendiri-sendiri. Ada tokoh baik (protagonis); ada tokoh jahat (antagonis), dan ada juga tokoh yang memiliki sebagian sifat baik dan jahat (tritagonis). Di dalam cerita, watak tokoh-tokoh tersebut ada yang dijelaskan secara langsung, ada juga yang dijelaskan secara tidak langsung. Secara tidak langsung, watak tokoh dalam cerita dapat diketahui melalui dialog antartokoh tersebut. Apakah kalian suka membaca cerita? Membaca cerita adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Kalian akan memperoleh pengalaman dari tokoh-tokoh cerita. Ada tokoh yang baik, jujur, ada pula tokoh jahat, yang malas, sombong, dan serakah. Mari kita membaca cerita berikut! Perhatikan watak tokoh-tokoh pada cerita tersebut!

Unsur Sebuah Cerita

Balingkang

Delapan abad yang lalu, tersebutlah sebuah daerah hutan yang luas. Wilayahnya membentang dari pantai Utara Bali hingga Pegunungan Kintamani. Penduduknya yang hidup bertani tinggal berjauhan satu sama lainnya. Mereka hidup dalam kelompokkelompok kecil. Sering terjadi pertengkaran dan perebutan lahan di antara mereka. Hal itu terjadi karena mereka tidak mempunyai pemimpin yang sanggup menegakkan keadilan. Pada suatu hari, sekelompok orang menghadap Ida Batara di Jambudwipa. Mereka mohon agar diberikan seorang pemimpin berwibawa. Diangkatlah Ali Jayapangus, putra Batara Jambudwipa. Bersama rakyatnya, ia membangun sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Panerajon. Atas petunjuk Mpu Siwagandu, penasihat raja, Raja Ali Jayapangus membangun kerajaan sesuai dengan ajaran agama dan undang-undang pemerintahan.

Unsur Sebuah Cerita – Dalam waktu singkat, rakyat sudah dapat menikmati kehidupan yang aman sejahtera, rukun, dan penuh persaudaraan. Tak seorang pun yang berani menentang rajanya yang berwibawa dan menjadi suri teladan itu. Pada suatu musim angin pancaroba, sebuah perahu merapat di pantai. Penumpangnya adalah seorang saudagar Cina bernama Subandar dan seorang anak perempuannya, Kang Cing We. Putri yang cantik itu sangat menarik perhatian penduduk. Akhirnya, berita putri Cina yang cantik itu terdengar pula sampai ke istana. Raja Jayapangus pun memanggil Subandar agar datang ke istana bersama putrinya. Rupanya, pertemuan itu telah membuat hati Raja Jayapangus terpesona. Raja Jayapangus pun menemui penasihat kerajaan, Mpu Siwagandu. Raja mengutarakan niatnya untuk menikahi Putri Kang Cing We. ”Apa?” Mpu Siwagandu terkejut mendengar penuturan Raja Jayapangus. ”Pikirkan kembali niatmu itu, Raja!” katanya menasihati. Akan tetapi, niat Raja Jayapangus sudah bulat. Mpu Siwagandu menyesalkan mengapa perkenalan sepasang muda mudi itu cepat benar menjadi jalinan cinta. Sangat berat akibatnya kalau hubungan itu menjadi pernikahan. Oleh karena itu, penasihat raja itu berusaha mencegahnya, lalu katanya, ”Ini pertanda buruk, Tuanku!” Mpu Siwagandu menahan marah. Ia lalu bersemadi di suatu tempat yang sepi. Tak lama berselang, dua sejoli itu menikah. Sebagai tanda ikatan tali kasih, ayah Kang Cing We membekali putrinya dua keping pis bolong (uang kepeng Cina). Pernikahan yang bersejarah itu bukan saja membahagiakan kedua mempelai, melainkan juga keluarga istana. Hampir setiap malam mereka mempersembahkan pertunjukan kesenian di halaman istana.

Di tengah-tengah kemeriahan pesta pernikahan itu, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Tumpahan air dari langit itu tak henti-hentinya, ditambah lagi dengan tiupan badai dari segala penjuru. Raja, permaisuri, dan keluarga istana berhamburan menyelamatkan diri. Rakyat yang tinggal di sekitar istana pun mengungsi entah ke mana. Raja Jayapangus tidak mau membatalkan pernikahannya dengan putri Cina yang dicintainya itu. Kerajaan Panerajon harus tetap berdiri. Oleh karena itu, Raja Jayapangus mengajak rakyatnya yang masih setia mendirikan pusat kerajaan yang baru. Dipilihnya hutan Jong Les yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Batur. Pusat kerajaan yang baru itu diberi nama Balingkang, berasal dari kata bali dan kang. Nama itu merupakan kenangan abadi pernikahan antara seorang putra Bali dengan putri Cina, Kang Cing We. Sumber: Balingkang dengan penyederhanaan, hlm. 1–6

Kalian telah membaca sebuah cerita rakyat dari Bali, yang berjudul Balingkang. Banyak orang yang memercayai bahwa cerita tersebut benar-benar terjadi. Bagaimana pendapat kalian sendiri? Apakah kalian juga percaya bahwa peristiwa pada cerita rakyat tersebut benar-benar terjadi?

Unsur Sebuah Cerita

Untuk mengetahui pendapat teman-teman kalian, cobalah kalian lakukan diskusi kelas! Dalam diskusi tersebut, cobalah kalian bahas hal-hal berikut!

1. Di dalam cerita di atas kalian dapat menemukan nilai-nilai adat atau tradisi. Untuk mengetahui nilai tradisi atau adat dalam cerita rakyat tersebut, silakan kalian perhatikan penggalan cerita ini! Tak lama berselang, dua sejoli itu menikah. Sebagai tanda ikatan tali kasih, ayah Kang Cing We membekali putrinya, dua keping pis bolong (uang kepeng Cina). Di dalam adat Cina, jika seorang anak gadis menikah, orang tua akan memberikan uang. Uang itu dianggap sebagai modal hidup bagi si anak untuk menjalani kehidupan bersama sang suami. a. Adakah nilai-nilai lain yang kalian temukan di dalam cerita rakyat tersebut? Misalnya: 1) nilai sejarah …. 2) nilai budaya …. b. Di dalam kehidupan sehari-hari saat ini, dapatkah kalian menemukan nilai-nilai di atas? Menurutmu, masih mungkinkah nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan modern? 2. Ada pesan yang dapat kalian ambil dari cerita ”Balingkang”. Pesan itu adalah perbedaan budaya atau adat istiadat tidak harus dipertentangkan karena perbedaan itu merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Apakah kalian dapat menyebutkan pesan lainnya? Silakan kalian diskusikan bersama teman-temanmu!

Buatlah sinopsis (ringkasan) cerita rakyat ”Balingkang” tersebut. Kemudian, sampaikan secara lisan di depan kelas!

Carilah sebuah cerita dari buku, majalah, atau koran, kemudian kerjakan soal-soal berikut! 1. Catatlah peristiwa-peristiwa pada cerita tersebut secara urut! 2. Catatlah tokoh-tokoh yang mengalami peristiwa-peristiwa tersebut! 3. Sebutkan setting cerita tersebut! 4. Bagaimanakah watak tokoh-tokoh dalam cerita tersebut?

Ada beberapa prosa lama, antara lain – hikayat, – sage, – epos, – fabel, – ode, – mitos, dan – dongeng, – legenda.

Di dalam cerita di atas kalian dapat menjumpai bentuk majas. Perhatikan ungkapan berikut! 1. Api cinta antara Ali Jayapangus dengan Kang Cing We tidak dapat dipadamkan. 2. Di tengah-tengah kemeriahan pesta pernikahan, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Tumpahan air itu tak henti-hentinya, ditambah lagi dengan tiupan badai dari segala penjuru. Kedua ungkapan tersebut mengandung majas, yaitu majas metafora (Contoh 1) dan majas hiperbola (Contoh 2). Pada Contoh 1 cinta diibaratkan sebagai api yang dapat dipadamkan. Pada contoh 2 terdapat penggambaran tentang sebuah bencana secara berlebihan. Metafora termasuk dalam jenis majas perbandingan. Metafora adalah majas yang melukiskan suatu gambaran yang jelas melalui perbandingan. Metafora sering disebut kiasan dan merupakan majas perbandingan yang tersirat (implisit). Hiperbola termasuk dalam jenis majas pertentangan. Hiperbola merupakan majas yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan, baik jumlah, ukuran, maupun sifatnya. Tujuannya adalah untuk memberi penekanan atau penyangatan.

Unsur Sebuah Cerita

Pada Bab I, kalian telah belajar memperkenalkan diri pada acara diskusi. Memperkenalkan diri sebelum menyampaikan pendapat dalam diskusi termasuk dalam etika berdiskusi. Makin sering kalian mengikuti acara diskusi dan menyampaikan pendapat, makin terlatih pula kemampuan kalian mengucapkan kalimat perkenalan. Oleh karena itu, kalian perlu terus berlatih mencari variasi kalimat untuk memperkenalkan diri. Sebelum memulai kegiatan berdiskusi, cobalah kalian membuat variasi kalimat untuk menyampaikan pendapat, menolak pendapat, dan menerima pendapat.