Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Cerita Rakyat Nusantara
Cerita Rakyat Nusantara

Cerita Rakyat Nusantara – Cerita rakyat atau disebut juga dongeng adalah sastra yang hidup ditengah masyarakat. Cerita rakyat dituturkan secara turun-temurun sehingga bentuk menjadi sastra lisan. Bacalah cerita rakyat dari daerah Jawa berikut ini!

Musnahnya Kezaliman

Prabu Dewatacengkar sangat terpesona, ketika melihat Ajisaka. Sungguh berbeda, pemuda yang satu ini. Ketampanan dan kepribadiannya, teramat menarik. Selain itu, tindak-tanduknya sangat tenang dan serba bersahaja. Ajisaka duduk bersimpuh di hadapan Prabu Dewatacengkar, menghaturkan sembah dengan takzim. Ketika menghaturkan salam, nada suaranya sangat merdu.

Cerita Rakyat Nusantara – Lama sekali, Prabu Dedewatacengkar memandang Ajisaka. “Jadi kaulah yang bernama Ajisaka?” Prabu Dewatacengkar menelan air liurnya, menahan rasa laparnya yang timbul ketika melihat Ajisaka. “Daulat, Tuanku,” Jawab Ajisaka. “Tahukah kau buat apa Patih Jugul membawamu kemari?” “Ampun Tuanku, yang hamba ketahui karena hamba mendapat kesempatan untuk berbakti kepada duli Tuanku.” “Hem, kau kira dengan cara bagaimana kau harus berbakti padaku?” “Hal itu hamba persembahkan kepada kerelaan Tuanku. Apa pun titah Tuanku, hamba akan melaksanakannya dengan ikhlas.” “Hm, Ajisaka! Sebenarnya kau dibawa kemari, karena akan dijadikan santapanku. Nah, bagaimana? Apakah kau akan menerimanya dengan ikhlas?” “Ampun Tuanku, hidup mati hamba ada di tangan yang Mahakuasa, yang menguasai jagad dan segala isinya. Seandainya olehnya hamba ditakdirkan untuk menjadi bahan santapan Tuanku, maka tentulah hamba tidak akan dapat memungkirinya.” “Hua ha ha ha! Sungguh aneh sikapmu! Hemmm, Untuk pertama kali Patih Jungul membawa calon santapanku, yang demikian pasrah seperti engkau! Hua ha ha ha! Senang sekali hatiku! Hu ha ha ha! Seandainya saja ada ganti dirimu, aku ingin sekali mengangkatmu menjadi abdi kerajaan. Mungkin kau akan mendapat pangkat yang cukup tinggi. Tetapi sayang, kukira tak ada lagi orang seperti kau. Maka tidak boleh tidak, kau harus menjadi santapanku!” “Hamba ikhlas, seikhlas-ikhlasnya, Tuanku. Namun sebelum hamba menjadi santapan Tuanku, perkenankanlah hamba memohon sesuatu yang tidak ada artinya bagi Tuanku.” “Oh, ya, apa maumu Ajisaka?” Ajisaka menghantarkan sembahnya. Tetap dengan takzim. “Hamba memohon sudilah Tuanku menyisakan tulang belulang tubuh hamba. Kemudian hamba mengharapkan pengiring hamba yang bernama sembada, menguburkan tulang belulang hamba pada setapak tanah yang letak dan luasnya hamba tentukan,” kata Ajisaka. “O, boleh saja. Ayo, tentukan, di mana letak tanah dan berapa luasnya yang engkau inginkan itu?” “Letaknya di sekitar bagian depan istana. Adapun luasnya hanya sebesar sorban yang hamba kenakan, Tuanku.” Sumber: Ilustrasi Agus Hua ha ha ha ha, boleh! Boleh saja. Jangankan sebesar serbanmu, sepuluh kali lipat pun akan kukabulkan. “Hamba berharap Tuanku berkenan menyaksikan hamba mengukur tanah itu, Tuanku!” “Oh, aku bersedia menyaksikan. Kapan kau akan mengukurnya?” “Lebih cepat adalah lebih baik, Tuanku. Bukankah diri hamba akan segera diserahkan kepada juru masak istana, untuk diolah menjadi masakan bagi santapan Tuanku?” “Oho, kalau begitu sekarang juga kau bisa melaksanakannya. Mari kita ke halaman istana, kau boleh mengukur dan menentukan letaknya! Ayo cepat!” Prabu Dewatacengkar yang tak sabar lagi ingin memakan daging Ajisaka, segera bangkit dari singgasananya. Berjalan menuju perkarangan istana. Patih Jugul dan para pembesar kerajaan serta prajurit mengiringnya di belakang, Ajisaka berjalan di depan Patih Jugul. Ketika telah tiba di pekarangan istana. Prabu Dewatacengkar mempersilakan Ajisaka melaksanakan maksudnya. “Cepatlah laksanakan, aku tidak punya banyak waktu! Dan kalian, hei para pembesar kerajaan, para prajurit boleh menyaksikannya!” katanya. Ajisaka memilih dataran kosong di pekarangan istana, kemudian membuka kain sorbannya. Direntangkan kain serbannya perlahan-lahan. Sementara semua mata terpusat kepadanya, menyaksikan dengan penuh penasaran, Mereka seolah-olah menahan napas ketika Ajisaka membungkuk dan menggelarkan rentangan kain serban di atas tanah. Dan terjadilah keajaiban yang di luar dugaan. Kain serban itu ketika digelarkan, ternyata melebar dan membesar. Semakin lama semakin lebar dan semakin besar. Prabu Dewatacengkar, Patih Jugul, para pembesar kerajaan, dan para prajurit merasa heran dan takjub. Namun segera mundur, menghindar dari bentangan kain serban Ajisaka itu. Akan tetapi, kain serban itu ternyata semakin melebar, semakin membesar, semakin mendesak dengan kuat. Hingga orang-orang terdesak. Kemana pun menghindar, ujung kain serban itu mendesaknya terus. Kain Ajisaka mendesak terus, melebar, dan meluas terus. Akhirnya menutupi pekarangan istana. Mendesak ke arah bagian luar istana ke arah terjal ke hamparan bukit dan tebing. Sambil keheranan Prabu Dewatacengkar dan abdi-abdinya mencoba bertahan, berusaha menahan rentangan kain serban itu. Namun aneh sekali. Tepian kain serban itu sulit sekali di tahan, bahkan mendesak dengan kuat dan cepat. Hingga siapa saja yang mencoba menahannya, langsung terdesak ke arah tebing yang tinggi. Maka bergemalah jeritan dan tangisan orang-orang yang terlempar ke arah dasar tebing. “Ajisaka, kesaktian apa yang kau miliki? Oh, hentikanlah perbuatanmu itu, aku berjanji tidak akan memakanmu! Kau boleh pulang ke asalmu, cepatlah! Bawalah barang-barang berharga sebanyak kau sukai, tetapi segeralah hentikan rentangan kain sorban ajaibmu itu!” Teriak Prabu Dewatacengkar yang terus terdesak ke arah pantai terjal, di mana di bawahnya terhampar lautan yang sedang bergelora. “Demi berakhirnya kezaliman yang telah menjadi sumber bencana bagi rakyat Medang Kamulan, Tuanku harus lenyap dari muka bumi ini. Musnahlah bersama para abdi Tuanku, sebelum merasuk sampai ke luar Medang Kamulan!” seru Ajisaka, seraya menyentak kain serbannya yang terus melebar dan meluas itu. Sentakan yang dikerahkan Ajisaka, membuat ujung kain sorbannya bagai gelombang topan yang dahsyat. Menghantam Prabu Dewatacengkar dengan keras, hingga tubuhnya terlempar sangat jauh. Melambung ke udara, kemudian menukik ke arah permukaan laut yang sedang bergelora. Langit mendadak mendung. Tiba-tiba menyambarlah halilintar yang sangat dahsyat. Menghantar tubuh Prabu Dewatacengkar yang sedang menukik itu. Aneh sekali. Akibat sambaran halilintar itu. Wujud Prabu Dewatacengkar menghilang. Berganti wujud menjadi seeekor buaya putih yang besar. Langsung jatuh ke permukaan laut, ditelan gelombang yang sangat besar. “Siapa yang telah menjadi penjilat Prabu Dewatacengkar, dia harus menjadi korban buaya putih itu!” teriak Ajisaka sambil menghentak kain serbannya.

Cerita Rakyat Nusantara – Akibatnya sungguh mencengangkan. Beberapa tubuh berlemparan ke laut, menyusul buaya putih jelmaan Prabu Dewatacengkar. Mereka adalah abdi-abdi setia yang biasa menjadi penjilat, demi keselamatan dan keuntungan pribadinya, kepada raja. Di antaranya Patih Jugul. Justru, Patih Jugullah yang terdahulu menyusul buaya putih, melayang dengan cepat ke arah gelombang air laut yang sedang mendidih. Sebelum ditelan gelombang, dari arah permukaan gelombang muncullah buaya putih tadi. Menerjang, menyambut tubuh Patih Jugul dengan mulut ternganga lebar-lebar.

Cerita Rakyat Nusantara – Sedetik kemudian, tubuh Jugul telah terjepit di antara gigi-gigi dan taring buaya putih jelmaan Prabu Dewatacengkar itu. Patih Jugul menjerit-jerit meminta ampun, tetapi akhirnya menemui ajalnya menjadi mangsa buaya putih. Setelah melahap tubuh Patih Jugul, buaya putih itu menyelam ke dalam laut. Ajisaka mengerahkan ilmunya, menyurutkan kain serbannya menjadi kecil kembali. Sampai berukuran biasa kembali. Langsung mengenakan pada kepalanya. Sementara itu terdengar sorak sorai kegirangan, hampir dari setiap arah. Ajisaka memandangi orang-orang yang bersorak sorai itu dengan senyum lega. Rakyat Medang Kamulan yang selama ini bersembunyi karena takut ditangkap Patih Jugul, bermunculan dengan wajah lega dan gembira. Mereka bermunculan dengan serentak, pada saat Prabu Dewatacengkar terdesak ke tepi tebing. Entah siapa yang memberitahu mereka, namun kemunculannya sangat tepat pada waktunya. Pada saat kezaliman yang menjadi sumber ancaman ketentraman mereka, musnah ditelan kehebatan ilmu Ajisaka. Rakyat Medang Kamulan mengelu-elukan Ajisaka. Mengaraknya mengelilingi istana, dengan kegembiraan dan rasa syukurnya yang meluapluap. Dari semua arah bermunculan kembali mereka yang tadinya sangat ketakutan, Menyambut arak-arakan yang membawa Ajisaka, kemudian bergabung turut mengarak. Ketika tiba di halaman istana, mereka menurunkan Ajisaka. Dengan persepakatan yang serentak, mereka sepakat mengangkat Ajisaka menjadi pemimpin mereka. Hal itu sebagai luapan terima kasihnya karena upaya Ajisakalah jiwa mereka terselamatkan. Para abdi Prabu Dewatacengkar yang berada di dalam istana pun bermunculan, mereka berikrar bahwa akan tunduk dan patuh pada pemimpin yang baru itu. Mereka mengakui bahwa ketika Prabu Dewatacengkar masih berkuasa, mereka sebenarnya tidak menyetujui kezaliman rajanya itu. Kalau mereka patuh dan taat semata-mata hanya karena keselamatan jiwanya. Dan mereka memohon maaf kepada rakyat. Ajisaka tidak dapat menolak hasrat segenap rakyat Medang Kamulan. Ia pun menjadi pemimpin di Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana. Kemudian menganjurkan agar rakyat yang masih bersembunyi atau yang telah menyeberang ke kerajaan tetangga, segera kembali pulang. Bersatu kembali guna berkumpul dan bersepakat dengan kompak, membangun, dan membina Medang Kamulan. Sebagai pemimpin yang baru, meskipun usianya masih muda, tetapi Ajisaka tidak mengecewakan segenap rakyatnya. Bukan saja telah menjadi pembebas dan kemudian pelindung, tetapi kemudian menjadi pembimbing dan penuntun yang arif. Semua ilmunya diamalkan segenap rakyat dengan rata sehingga rakyat pun tidak ketinggalan dalam menghadapi Kejayaan Medang Kamulan. Kerajaan Medang Kamulan yang subur dan kaya raya, yang sejak Prabu Dewatacengkar berkuasa telah padam itu, kini bangkit kembali dengan menyala. Penuh gairah dan semangat. Rakyatnya dapat mengenyam ketentraman kembali, menikmati kesuburan dan kesentosaan dan hari yang lapang. Tidak lupa bersyukur kepada-Nya yang telah mengembalikan semuanya yang hilang.

Cerita Rakyat Nusantara

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

Cerita Rakyat – Ringkasan cerita rakyat yang akan diperdengarkan kali ini berasal dari Irian Jaya. Judulnya adalah “Kapak Ajaib”. Pilihlah seorang teman Anda untuk membacakannya di depan kelas. Tutuplah buku Anda. Dengarkanlah cerita yang dibacakan teman Anda itu dengan penuh perhatian!

Cerita Rakyat Kapak Ajaib

Cerita Rakyat – Di Kampung Bomou, hiduplah seorang pemuda bernama Gokeiyawi Ikomou. Pada suatu hari ia pergi ke kebunnya di Geida, kira-kira jauhnya satu kilometer dari Danau Tigi. Sesampainya di kebun, ia bermaksud menebang sebatang pohon mai yang kering di tepi kebunnya. Ikomou melangkah ke dekat pohon tersebut. Ia mengambil kapak, lalu mulai menebang batang pohon mai. Apa yang terjadi? Tiba-tiba kapak itu terlepas lalu terlempar jauh. Ikomoru berjalan mengambil kapaknya yang terlempar tadi. Ketika ia akan memegang kapak itu, kapak tersebut melompat beberapa meter ke arah danau Tigi, Ikomou merasa heran karena hal seperti itu terasa ajaib. Ikomou mendekati kapak itu lagi, lalu menunduk untuk memegangnya. Tetapi, kapak itu melompat beberapa meter ke arah danau. Ikomou langsung lari menahan kapak itu, tetapi kapak itu berlari lebih cepat. Akhirnya, kapak itu melompat masuk ke dalam perahu yang ada di tepi danau. Ikomou pun bergerak melompat masuk ke dalam perahu. Selanjutnya, perahu itu sendiri berlayar ke arah Danau Tigi. Sesampai di tengah-tengah danau, perahu itu tenggelam dan tiba-tiba Ikomou sudah berada di dasar danau. Kapak itu lalu berlari ke arah sebuah rumah yang ada di tengah-tengah sebuah kebun serta taman yang luas. Kapak itu kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Maka, Ikomou pun lari masuk ke dalam rumah itu. Ternyata di dalam rumah itu ada seorang lakilaki setengah baya sedang duduk. Di hidungnya terdapat hiasan gigi babi putih mengkilat bagai salju sehingga tampak seperti bulan sabit pada malam hari. Wajahnya dihiasi dinai (zat pewarna) merah sehingga wajah bagai sinar matahari di senja hari. Ia menerima Ikomou dengan ramah. Ikomou diajak jalan-jalan ke taman yang luas itu. Di taman itu tumbuh segala jenis tanaman atau tumbuhan, baik yang besar ataupun yang kecil. Tanaman itu berwarna-warni. Ikomou meminta segala jenis tanaman itu, tetapi dilarangnya. Selanjutnya, mereka masuk kembali ke dalam rumah. Sementara mereka sedang duduk di dalam rumah, dari sudut rumah itu muncullah seorang Kapak Ajaib laki-laki yang Ikomou pernah lihat, tetapi tidak tahu siapa namanya. Orang yang baru datang itu menghadap tuan rumah tersebut, lalu mereka memperbincangkan sesuatu, kemudian menghilang dari tempat itu. Tidak lama kemudian, datang juga seorang perempuan. Konon, Ikomou tahu persis siapa perempuan tersebut. Kemudian, perempuan itu menghilang. Setelah beberapa lama tinggal di situ, tuan rumah itu mempersilakan Ikomou pulang kembali ke rumah. Sebelum pulang, Ikomou dihadiahi beberapa benda, seperti anak panah dan busur serta kain timur (merah). Kapaknya juga dikembalikan kepada Ikomou. Selanjutnya, Ikomou diantar ke perahu. Perahu itu dengan sendirinya bergerak sampai di permukaan Danau Tigi. Dari permukaan Danau Tigi, perahu itu bergerak sendiri sehingga sampai di tempat semula. Sesudah itu, Ikomou langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, semua orang heran karena selama empat hari mencari-cari dia. Semua orang yang tinggal bersama dia itu menceritakan bahwa seorang lakilaki dan seorang perempuan telah tenggelam di Danau Tigi. Kini, Ikomou mengetahui bahwa setiap orang yang tenggelam dalam danau itu arwahnya selalu melaporkan diri kepada orang tua yang wajahnya seperti bulan sabit yang berdiam diri dalam danau itu. Akan tetapi, semua yang pernah ia lihat di dalam danau itu dirahasiakannya. Selanjutnya, apabila ingin makan daging, Ikomou memanahkan busurnya ke arah tertentu sehingga tidak lama kemudian orang akan datang membawakan daging dari arah tersebut. Begitu ganti-berganti setiap saat. Akhirnya, Ikomou hidup bahagia hingga maut datang kepadanya. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari Sastra Lisan Ekagi, Dharmodjo, 1998; 107-108)

Cerita Rakyat – Lakukanlah kegiatan berikut! 1. Jelaskan isi atau amanat cerita rakyat “Kapak Ajaib” yang baru saja Anda dengar! 2. Ceritakan kembali cerita rakyat tersebut dalam ringkasan di depan kelas! 3. Ungkapkanlah hal-hal yang menarik/ mengesankan dari cerita itu bagi Anda! 4. Diskusikanlah nilai-nilai yang dikandung cerita tersebut dalam kelompok diskusi Anda, kemudian memaparkan hasilnya di depan kelas dengan memerhatikan pelafalan kata dan kalimat yang tepat! 5. Bandingkanlah nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai cerita masa kini!

Lakukanlah kegiatan berikut bersama-sama anggota kelompok Anda! 1. Membaca sebuah cerita rakyat secara bergantian. 2. Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. 3. Mengungkapkan nilai-nilai tersebut secara lisan dengan pelafalan kata dan susunan kalimat yang benar. 4. Membuat ringkasan cerita rakyat tersebut dalam beberapa paragraf, lalu memaparkannya di depan kelas.

Mendiskusikan Masalah yang Ditemukan dari Artikel

Cerita Rakyat – Pada subbab ini, Anda akan mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku). Setelah mempelajari subbab ini, Anda diharapkan dapat (1) memahami ringkasan isi berita, artikel, atau isi buku yang disampaikan oleh peserta diskusi, (2) menyampaikan ringkasan berita, artikel, atau isi buku dalam forum diskusi, (3) menanggapi ringkasan isi berita, artikel, atau buku yang disampaikan peserta diskusi, (4) menyampaikan sikap setuju dan tidak setuju dalam beberapa kalimat, (4) memberikan bukti pendukung untuk memperkuat tanggapan, dan (5) mengajukan saran atau pemecahan masalah terhadap ringkasan isi yang disampaikan.

Anda bisa memperoleh beragam informasi dari bermacam-macam media, baik elektronik maupun cetak. Apabila Anda mendengar informasi atau berita melalui siaran televisi atau radio, ataupun membaca artikel buku cobalah cermati isi pengetahuan, informasi, atau berita itu. Anda mungkin saja ingin mengomentari atau menanggapi pengetahuan, informasi, atau berita itu dalam hal-hal tertentu.

Nah, sebagai bahan latihan Anda, bacalah artikel berikut secara saksama!

Tindakan Kekerasan di Lingkungan Sekolah Oleh HELMI GUNAWAN, S.T, M.Si

Cerita Rakyat – Kejadian kekerasan dalam satu institusi pendidikan kerap terjadi. STPDN contohnya, yang akhirnya berganti nama menjadi IPDN merupakan gambaran institusi pencetak pamong praja yang memiliki kurikulum yang terprogram dan disesuaikan dengan cita-cita luhur menjadi pemimpin rakyat (sipil). Namun, dalam perjalanannya terjadi missmanagement sistem pendidikan dengan berbagai peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi tragisnya berujung dengan kematian dan pelibatan orang dalam menutupi kesalahan-kesalahan tersebut. Akhirnya, keburukan itu sekarang terbongkar dan menjadi sorotan semua pihak bahkan ditangani langsung oleh Presiden SBY Perpeloncoan sebagai salah satu bentuk tindak kekerasan sering terjadi pada institusi pendidikan mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga perguruan tinggi. Telah berapa banyak korban yang berjatuhan hingga menyebabkan kematian akibat dari proses pendidikan yang tidak terkontrol dengan baik. Kematian akibat dari dampak penayangan acara olahraga hiburan sarat kekerasan seperti smackdown pernah menghiasi media di Indonesia yang terjadi hampir di setiap daerah. Kejadian ini ironisnya terjadi di lingkungan sekolah di mana para orang tua menitipkan putra-putrinya untuk belajar. Pernah pula terjadi kasus kematian dan cedera yang dihadapi oleh mahasiswa-mahasiswa baru pada beberapa perguruan tinggi akibat acara orientasi penerimaan mahasiswa. Semua kasus-kasus yang ada mengindikasikan berbagai tindakan kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan kita. Tindakan kekerasan ataupun pelecehan-pelecehan yang menyertainya dalam istilah luar dikenal dengan sebutan bullying. Menurut Olweus (1993) “Bullying can consists of any action that is used to hurt another child repeatedly and without cause”. Tindakan yang dilakukan dapat berupa fisik, verbal ataupun kejadian siksaan mental ataupun emosi seseorang. Sesuatu yang sering terlihat oleh mata kita seperti permainan ataupun pelecehan-pelecehan dapat saja digolongkan sebagai kegiatan ritual dari bullying. Bullying dapat ditemukan di setiap sekolah pada tiap negara. Hal ini merupakan suatu cara anakanak muda berinteraksi dengan lingkungannya. Setiap institusi pendidikan harus mengetahui keberadaan dan dampak dari bullying tersebut dan berusaha mencegah hal tersebut terjadi. Bila kejadian bullying didiamkan atau masih terjadi, murid akan mengalami pelecehan-pelecehan atau tindakan kekerasan dan aklibatnya secara psikologis mengalami stress dan korban dapat menderita seumur hidupnya. Sebagai contoh pada kasus penyiksaan di IPDN, seperti yang diberitakan oleh berbagai media televisi walaupun korban secara fisik dalam keadaan normal atau tidak cacat, namun sampai mereka lulus dari sekolah tersebut dan bekerja ataupun berkeluarga selama hampur lebih dari 5 – 10 tahun tetap mengalami beberapa trauma akibat bullying yang terjadi pada masa lampau. Pada beberapa negara di dunia kejadian ini dapat dicegah dan dikurangi dengan campur tangan pihak sekolah yang tidak mendiamkan ataupun menutup mata atas peristiwa yang terjadi. Tragisnya yang terjadi adalah campur tangan pihak penyelenggara pendidikan agar kasus ini tidak terungkap. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa bullying merupakan masalah internasional yang terjadi di hampir semua sekolah. Terjadi kesamaan permasalahan di tiap-tiap negara dan tidak ada batasan-batasan internasional, status sosial-ekonomi ataupun etnis. Di Amerika berdasarkan studi NEA (National Education Agency) kejadian ini sudah bukan lagi permainan anak-anak, tapi merupakan pengalaman menakutkan yang dialami oleh hampir seluruh siswa dan terjadi tiap hari. Selama dekade akhir, bullying telah mengalami perubahan menjadi lebih mematikan dan semakin rutin terjadi pada dua dekade sebelumnya. Kejadian bullying tidak hanya ditujukan bagi siswa sekolah dasar. Kejadian ini malah banyak terjadi pada segmen pendidikan menengah dan mahasiswa karena dapat mengalami penderitaan terbesar. Hal tersebut diakibatkan penggunaan kondisi fisiknya yang matang (kekuatan fisiknya). Adapun ciri-ciri bullying, di antaranya sebagai berikut.

Selengkapnya Sumber: Penulis, bekerja pada bidang pendidikan. (Dikutip dengan perubahan dari Pikiran Rakyat, 5 Juli 2007; 12)

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Latar Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Apakah Anda memiliki peranan aktif dalam masyarakat? Anda dapat memanfaatkan kemampuan menulis untuk berperan serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda dapat mengungkapkan gagasan-gagasan yang dimiliki dalam bentuk tulisan informatif. Paragraf argumentatif merupakan salah satu sumber informasi yang berawal dari sebuah gagasan. Dalam pelajaran ini, Anda dapat berlatih menulis paragraf argumentatif. Selain itu, Anda pun akan berlatih memahami sumber informasi lainnya, antara lain cerita rakyat dan grafik. Pada pembelajaran membaca grafik, Anda akan berlatih merangkum informasi yang ada dalam grafik tersebut. Sementara itu, dalam bidang sastra Anda akan berlatih menganalisis halhal menarik yang berkaitan dengan latar dalam cerita rakyat. Adapun bentuk penyajian cerita rakyat tersebut dapat berupa bacaan ataupun rekaman. Dengan begitu, Anda akan semakin jeli dalam memahami hal-hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra.

Latar Cerita Rakyat
Latar Cerita Rakyat

Mengidentifikasi Latar  Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih mengidentifikasi latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung. Anda akan menganalisis unsur-unsur pembangunnya, kemudian Anda susun sinopsisnya. Dengan demikian, pengetahuan Anda seputar cerita rakyat akan bertambah. Anda pun akan semakin menghargai kebudayaan bangsa.

Dalam pelajaran 9, Anda telah belajar membaca cerita rakyat. Sekarang, Anda akan melanjutkan pelajaran tersebut. Dalam pelajaran sebelumnya, Anda telah mengenal karakteristik cerita rakyat dan unsur-unsur intrinsik dalam cerita rakyat. Sebaiknya, Anda baca kembali pelajaran tersebut karena materi yang dipelajari juga akan dipelajar sekarang ini. Dalam pelajaran ini, Anda juga akan berlatih mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat yang didengarkan; menentukan isi dan atau amanat yang terdapat dalam cerita rakyat; membandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif; dan mengungkapkan kembali cerita rakyat dalam bentuk sinopsis. Namun, jika sebelumnya Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat, sekarang Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat. Anda telah menemukan hal-hal menarik tentang tokoh cerita rakyat “Raden Sandhi”. Sekarang, temukanlah hal-hal menarik tentang latar cerita rakyat tersebut. Hal-hal menarik tentang latar tersebut dapat berupa latar tempat, latar waktu, atau keadaan terjadinya peristiwa dalam cerita rakyat tersebut. Misalnya, tentang kemistikan daerah Paloh. Selanjutnya, mintalah salah seorang temanmu untuk membacakan cerita rakyat berikut di depan kelas. Teman-teman yang lainnya mendengarkan dengan baik.

Asal Mula Terjadinya Burung Ruai

Latar Cerita Rakyat – Konon, pada zaman dahulu, di daerah Kabupaten Sambas, tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura, Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan. Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama “Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan sakti. Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri. Raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau si bungsu. Si bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak-kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan si bungsu. Keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain-main.

Latar Cerita Rakyat – Dengan kedua latar belakang inilah, sang ayah (raja) menjadi pilih kasih terhadap putri-putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak si bungsu dimarahi oleh ayahnya, sedangkan si bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah, keenam kakak si bungsu menjadi dendam. Mereka bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri. Apabila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada si bungsu dengan memukul habis-habisan tanpa ada rasa kasihan. Tubuh si bungsu pun menjadi kebiru-biruan. Karena takut dipukuli lagi, si bungsu menjadi takut dengan kakaknya. Untuk itu, segala hal yang diperintahkan kakaknya, mau tidak mau si bungsu harus menurut. Ia harus mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, sibungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan si bungsu sendirian sementara keenam orang kakaknya hanya bersenda gurau. Sekali waktu, pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu, terhadap si bungsu diketahui oleh sang raja (ayah) dengan melihat badan (tubuh) si bungsu yang biru karena habis dipukul. Ia takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah.Jika sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa si bungsu kepada keenam kakaknya, mereka membuat alasan-alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa-apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan si bungsu biru karena si bungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percaya terhadap cerita dari sang kakak, sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud. Begitulah kehidupan si bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya. Meskipun demikian, si bungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya. Kadang-kadang, si bungsu menangis tersedu-sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan. Setelah mengalami hari-hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan di antara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak (putrinya) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pula, diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada si bungsu. Hal yang penting jika sang raja tidak ada di tempat, masalah-masalah yang berhubungan dengan kerajaan (pemerintahan) harus mohon (minta) petunjuk terlebih dahulu dari si bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing-masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Timbullah dalam hati masing-masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada si bungsu, bukan kepada mereka. Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Pada keesokan harinya, berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya. Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Sampai tibalah saatnya, yaitu saatsaat yang dinantikan oleh keenam kakaknya si bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya. Mereka ingin memusnahkan si bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu si bungsu harus dibunuh.

Latar Cerita Rakyat – Tanda-tanda ini diketahui oleh si bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari. Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya, rencana pun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil si bungsu. Apakah yang di-lakukannya? Ternyata, keenam kakaknya mengajak si bungsu untuk mencari ikan (menangguk) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur (oval). Karena sangat gembira kakaknya mau berteman lagi dengannya, si bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal, dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap si bungsu, tetapi si bungsu tidak menduga hal itu sama sekali. Tanpa berpikir panjang lagi, berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu. Mereka masing-masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju (lokasi menangguk), yaitu gua batu. Si bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua kemudian diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, si bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya. Si bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua. Adapun keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya si bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak-bahak sebab si bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat si bungsu menjadi betul-betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian, keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa si bungsu dan pada akhirnya si bungsu pun tersesat. Merasa bahwa si bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut. Ia duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya. Si bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang ke sana ke mari.

Bagaimana nasib si bungsu? Tanpa terasa si bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya. Namun, ia masih belum bisa untuk pulang. Pada hari ketujuh, si bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka-sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu. Suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut. Si bungsu pun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya. Pada saat itu ,dengan disertai bunyi yang menggelegar, muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan si bungsu. Si bungsu pun terkejut melihatnya. Tidak lama kemudian, kakek itu berkata, “Sedang apa kamu di sini cucuku ?”, lalu si bungsu pun menjawab,” Hamba ditinggalkan oleh kakak-kakak hamba, Kek!” Si bungsu pun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar.

Tanpa diduga-duga, pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut, titik-titik air mata si bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya.Si bungsu pun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, “Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama Burung Ruai. Apabila aku telah hilang dari pandanganmu, eramlah telur-telur itu supaya jadi burung-burung sebagai temanmu!”. Kemudian secara tiba-tiba si bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek … kwek … kwek … kwek …. kwek. Bersamaan dengan itu, kakek sakti menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal si bungsu dahulu, dengan bersuara kwek … kwek …. kwek … kwek …. kwek. Mereka menyaksikan kakak-kakak si bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh si bungsu. Sumber: www.sambas.go.id