Melafalkan Kata dan Tahap Membuat Tulisan Berbagai Teks

Melafalkan Kata dan Tahap Membuat Tulisan Berbagai Teks

Melafalkan Kata dan Tahap Membuat Tulisan Berbagai Teks

Tahap Membuat Tulisan
Tahap Membuat Tulisan

Tahap Membuat Tulisan – Melafalkan Kata dengan Artikulasi yang Tepat

Tahap Membuat Tulisan

1. Mengucapkan kata dengan suara yang jelas dan tekanan pada suku kata serta artikulasi yang tepat atau lazim Ketersampaian informasi yang disampaikan oleh penutur ditentukan oleh kejelasan dalam melafalkan kata. Pelafalan berkenaan dengan kejelasan dalam mengucapkan kata dan kalimat. Salah tafsir terjadi bisa jadi karena adanya pelafalan kata yang tidak jelas. Dalam bahasa Indonesia, sepintas banyak kosakata yang mi rip, bahkan sama dalam pelafalannya. Oleh karena itu, keteram p ilan mengartikulasikan kata-kata menjadi sangat penting dikuasai penutur atau pengguna bahasa. Pengucapan kata hendaknya jelas, khususnya pelafalan fonem-fonem tertentu. Jika pelafalan kata tidak jelas, akan memberi keraguan sehingga penyimak harus berpikir dalam menafsirkan arti kata yang diucapkan pembicara.

Tahap Membuat Tulisan

a. Kata menjadi berbeda makna Contohnya, pelafalan kata folio dengan polio, syah de ngan sah, masa dengan massa. Cermatilah penerapannya pada kalimat berikut ini.

Tahap Membuat Tulisan

1) Tugasnya ditulis pada kertas folio. (folio = ukuran kertas) 2) Anak itu terkena racun polio. (polio = radang zat kelabu sumsum tulang belakang) 3) Tendangan Beckham telah sah menjadi gol. (sah = berlaku atau diakui) 4) Ia belum berkeinginan menjadi seorang syah. (syah = raja atau baginda) 5) Usia remaja merupakan masa yang paling indah dalam hidup. (masa = waktu) 6) Konser musik itu dihadiri massa yang berjubel. (massa = orang banyak)

Tahap Membuat Tulisan

b. Kata tidak berbeda makna, tetapi menjadi tidak baku Tanpa disadari, Anda mungkin pernah melafalkan suatu kata yang kurang tepat, tetapi penyimak dapat memahaminya. Pada tataran komunikasi, pelafalan itu telah sesuai karena respons yang diharapkan sesuai dengan maksud penutur. Akan tetapi, berdasarkan bahasa baku, pelafalan tersebut belum tentu benar, bahkan salah. Pernahkah Anda melafalkan kata aktif, provinsi, februari, silakan, rahasia, ubah, surga, foto, dan negatif? Pelafalan kata-kata tersebut mungkin mengalami perubahan menjadi aktip, propinsi, pebruari, silahkan, rahasiah, rubah, syurga, poto, dan negatip. Karena pengucapan kata-kata tersebut salah, kata-kata tersebut menjadi tidak baku. Lalu, bagaimana cara menentukan kata baku atau tidak baku? Apabila Anda mengalami keraguan dalam melafalkan sebuah kata, periksalah ketepatan kata-kata tersebut dalam kamus, contohnya Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Tahap Membuat Tulisan

2. Melafalkan bahasa Indonesia baku, termasuk lafal bahasa daerah yang dibedakan berdasarkan konsep lafal baku bahasa Indonesia Bahasa Indonesia sangat kaya kosakatanya. Kekayaan kosakata tersebut didukung oleh adanya bahasa daerah yang beragam. Keragaman itu tentu akan berpengaruh terhadap artikulasi atau pelafalan bahasa Indonesia. Pelafalan yang salah tentu akan menimbulkan ketidakbakuan kata yang digunakan untuk berkomunikasi.

Tahap Membuat Tulisan

Membuat Berbagai Teks Tertulis

1. Tahap-tahap dalam menulis Dibandingkan dengan tiga keterampilan berbahasa lainnya, keterampilan menulis sering dipandang sebagai keterampilan berbahasa yang paling sulit. Menulis adalah suatu proses me nyusun, mencatat, dan mengorganisasi makna dalam tataran ganda, bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan dengan menggunakan sistem tanda konvensional yang dapat dibaca. Dari batasan ini dikemukakan sejumlah unsur yang menyatu dalam kegiatan menulis. Unsur-unsur itu adalah penulis, makna atau ide yang disampaikan, bahasa atau sistem tanda konvensional sebagai medium penyampai ide, pembaca sasaran (target reader), tujuan (sesuatu yang diinginkan penulis terhadap gagasan yang disampaikan kepada pembaca), dan ada nya interaksi antara penulis dan pembaca melalui tulisan tersebut.

a) Tahap Prapenulisan Tahap ini merupakan fase persiapan menulis, seperti halnya pemanasan (warming up) bagi atlet dalam berolahraga. Dalam tahap ini terjadi fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dan diperlukan penulis. Tujuannya adalah untuk mengembangkan isi tulisan dan mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam menulis. Dengan demikian, apa yang ingin ditulis dapat disajikan dengan baik. Pada fase prapenulisan ini terdapat aktivitas memilih topik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk kerangka karangan.

(1) Menentukan topik Topik adalah pokok persoalan atau permasalahan yang menjiwai seluruh karangan. Ada pertanyaan pemicu yang dapat digunakan untuk mencari topik karangan misalnya: “Saya mau menulis apa? Apa yang akan saya tulis? Tulisan saya akan berbicara tentang apa?” Nah, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu berisi topik karangan. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih atau menentukan topik karangan. (a) Pilihlah topik yang paling sesuai dengan maksud dan tujuan kita menulis. Sebaliknya, banyak topik pilihan dan semua topik menarik, tetapi pengetahuan tentang topik-topik itu serba sedikit. Untuk mengatasinya, pilihlah topik yang paling dikuasai, paling mudah dicari informasi pendukungnya, dan paling sesuai dengan tujuan kita menulis. (b) Ajaklah orang lain untuk berdiskusi atau meminta saran dari orang lain, membaca referensi (buku, artikel, atau laporan penelitian), atau melakukan pengamatan. (c) Terlalu ambisius sehingga jangkauan topik yang dipilih terlalu luas. “Penyakit” ini kerap menghinggapi penulis pemula. Begitu banyak hal yang ingin dicakup dan dikupas dalam tulisannya, sedangkan waktu pengetahuan, dan referensi yang dimilikinya sangat terbatas. Penulis dituntut untuk pandai mengendalikan diri. Kalau tidak, tulisan yang dihasilkannya akan cenderung dangkal.

(2) Mempertimbangkan maksud atau tujuan penulisan Untuk membantu merumuskan tujuan, kita dapat bertanya pada diri sendiri. “Apakah tujuan saya menulis topik karangan ini? Mengapa saya menulis karangan dengan topik ini? Dalam rangka apa saya menulis karangan ini?” Hal utama yang perlu dipikirkan dalam membuat tulisan adalah manfaat yang dapat diperoleh pembaca melalui tulisan kita. Contoh, kita menentukan topik karangan dampak negatif sajian televisi dan cara mengatasinya. Ketika ditanya apa tujuan mengarang dengan topik tersebut, Anda menjawab bahwa “agar anak-anak terhindar dari dampak negatif program- program yang ditayangkan televisi.”

Jadi, arti tujuan dalam konteks ini adalah tujuan mengarang, seperti menghibur, memberi tahu, atau menginformasikan sesuatu kepada pembaca.

(3) Memerhatikan sasaran karangan (pembaca) Agar isi tulisan itu sampai kepada pembaca, Anda harus memerhatikan siapa pembaca karangan dan apa yang diperlukan pembaca. Dengan kata lain, Anda harus memerhatikan dan menyesuaikan tulisan dengan pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan kebutuhan pembaca. Jangan sebaliknya.

(4) Mengumpulkan informasi pendukung Ketika akan menulis, kita tidak selalu memiliki bahan dan informasi yang benar-benar siap dan lengkap. Itulah sebabnya, sebelum menulis kita perlu mencari, mengumpulkan, dan memilih informasi yang dapat mendukung, memperluas, memperdalam, dan memperkaya isi tulisan kita. Sumber bacaan bisa dari bacaan, pengamatan, wawancara, pengetahuan, dan pengalaman sendiri atau orang lain. Tanpa pengetahuan dan wawasan yang memadai, tulisan kita akan dangkal dan kurang bermakna. Jangan-jangan yang kita sampaikan hanya informasi umum, bahkan usang, yang telah diketahui lebih banyak dari apa yang disajikan.

2. Menyusun kerangka karangan Kerangka karangan disusun berdasarkan uraian secara rinci dari topik yang dibentuk menjadi kalimat-kalimat pokok. Hal yang perlu diingat dalam membuat kerangka karangan yaitu topik yang telah ditentukan. Topik merupakan sumber pengembangan kalimat-kalimat topik. Berikut ini contoh kerangka karangan.

Cermatilah contoh kerangka karangan tersebut. Topik: Profil Pemuda Perkotaan 1. Cara pergaulan pemuda kota a. bergaul dengan orangtua b. bergaul dengan anak-anak c. bergaul dengan sesama 2. Rasa persaudaraan pemuda kota a. gotong royong b. menolong sesama manusia c. ikatan emosi sesama pemuda 3. Cara belajar pemuda perkotaan a. cara belajar di sekolah b. cara belajar di rumah Kerangka karangan berfungsi sebagai pemandu pada saat Anda menulis karangan. Mengarang akan terasa lebih mudah dengan adanya kerangka karangan.

3. Menentukan kalimat utama berdasarkan kerangka yang ditetapkan Ayo, cermatilah kembali karangan bertopik Profil Pemuda Perkotaan. Kalimat-kalimat topik karangan tersebut adalah cara pergaulan pemuda kota, rasa persaudaraan pemuda kota, dan cara belajar pemuda perkotaan. Penentuan kalimat utama dalam sebuah paragraf didasarkan pada jumlah kalimat topik. Jadi, kerangka karangan tersebut mengandung tiga gagasan utama. Gagasan utama yang telah dituangkan ke dalam kalimat disebut kalimat utama. Kalimat utama tersebut merupakan sumber pengembangan paragraf. Pengembangan sebuah paragraf akan mencakup dua hal pokok, yaitu kemampuan merinci gagasan utama ke dalam gagasan penjelas secara maksimal dan kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu urutan yang teratur. Suatu gagasan akan tergambarkan dengan jelas apabila disusun ke dalam kalimat. Gagasan tersebut akan mengandung makna yang kurang jelas apabila tidak ada penjelasan melalui kalimatkalimat lain. Hal ini berarti gagasan yang ada dalam suatu kalimat masih memerlukan penjelasan gagasan melalui kalimat-kalimat ain. Kalimat-kalimat lainnya ini kemudian dikenal dengan istilah kalimat penjelas. Melalui kalimat- kalimat penjelas akan terbentuk sebuah paragraf. Gagasan yang muncul dalam suatu paragraf akan tampak lebih utuh, tepat, dan jelas.

4. Menyusun karangan sesuai dengan pilihan jenis karangan tertentu Seperti yang telah Anda pelajari, karangan terdiri atas beberapa jenis, di antara narasi, deskripsi, dan eksposisi. Masih ingatkah Anda dengan materi pelajaran tersebut. a. Karangan narasi Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan sesuatu peristiwa, dan bagaimana berlangsungnya peristiwa-peristiwa tersebut. Rangkaian kejadian atau peristiwa- peristiwa ter sebut disusun menurut urutan waktu (kronologis). Isi karangan narasi bisa berupa fakta ataupun opini. Tujuan karangan narasi adalah menyatakan kepada pem baca apa-apa yang terjadi. Oleh karena itu, pokok-pokok masalah dalam narasi adalah tindakan, perbuatan, atau aksi. Dalam dalam karangan narasi, di samping uraian biasa, sering terdapat ada dialog pelaku (tokoh-tokoh) cerita. Diharapkan dengan dialog, cerita akan terasa lebih menarik sehingga akan menambah semangat untuk dibaca. Gambaran watak, pribadi, kecerdasan, sikap, dan tingkatan pendidikan tokoh dalam cerita yang dipaparkan dapat memperjelas cerita apabila ditampilkan lewat dialog-dialog. b. Karangan deskripsi Karangan deskripsi adalah karangan yang melukiskan suatu objek sesuai dengan keadaan sebenarnya. Dengan demikian, pembaca dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium secara imajinatif, sesuatu yang dialami oleh pengarang tentang objek yang dimaksud. Karangan deskripsi berbeda dengan karangan eksposisi walaupun sama-sama memperluas pandangan dan pengetahuan pembaca. Karangan eksposisi bertujuan agar pembaca memahami suatu pokok pikiran, sedangkan karangan deskripsi bertujuan agar pembaca dapat melihat, mendengar, dan merasakan secara imajinatif apa yang dilihat, didengar, dirasakan oleh pengarang tentang sesuatu objek sesuai dengan keadaan sebenarnya. Dalam karangan deskripsi, agar menjadi hidup, perlu dilukiskan bagian-bagian yang dianggap penting sedetail mungkin. Kalau melukiskan betapa ngerinya tersesat di hutan, situasi hutan yang dapat menimbulkan kengerian itu harus dilukiskan selengkap-lengkapnya. Dengan demikian, pembaca dapat membayangkan bagaimana jika tersesat di hutan.

Selain detail-detail, urutan waktu dan urutan ruang dalam karangan deskripsi harus pula diperhatikan dengan baik. Jika urutan waktu dan urutan ruang tidak dilukiskan secara nyata, dapat membawa akibat kesatuan lukisan tidak terjamin. c. Karangan eksposisi Karangan eksposisi adalah karangan yang berusaha menerang kan suatu hal atau suatu gagasan yang dapat memperluas pengetahuan pembaca. Tujuan karangan eksposisi ialah agar pembaca mengerti hubungan suatu pokok pikiran atau suatu subjek dengan objek-objek lainnya. Dalam memaparkan sesuatu, pengarang dapat men jelaskan dan memberi sebuah keterangan atau meng embangkan sebuah gagasan sehingga menjadi luas dan mudah dipahami pembaca. Salah satu bentuk karangan eksposisi ialah uraian tentang, proses, misalnya proses pembuatan celana panjang pria. Oleh karena itu, akan semakin jelas jika proses pembuatan itu diterangkan ke dalam beberapa tahapan. Tiap tahapan diuraikan berdasarkan urutan. Sebaiknya, dalam karangan eksposisi diper gunakan contohcontoh, gambar-gambar, ilustrasi, tabel, diagram, peta, denah dan atau yang lainnya. Hal ini dilakukan agar pembaca lebih mengerti atau memahami karangan kita

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Isi Cerpen Pendek
Isi Cerpen Pendek

Isi Cerpen Pendek – Membaca cerpen merupakan kegiatan membaca ekspresif. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca ekspresif adalah gerak dan vokal sebab gerak dan vokal merupakan simbol-simbol yang bermakna untuk mengungkapkan ide bagi pembaca dan sekaligus usaha pemahaman, penikmatan bagi penonton/penikmat. Oleh karena itu, gerak dan vokal harus memiliki nilai estetik. Pada pelajaran ini, kalian kembali belajar membaca cerpen. Kali ini, cerpen yang disajikan adalah cerpen modern dan menemukan hal menarik di dalamnya. Tentu saja melalui kegiatan berdiskusi. Bacalah cerpen berikut!

Andong Mbah No Cerpen Yudhi Herwibowo Nama aslinya Surono, tapi biasa dipanggil Mbah No. Sejak lama saya sudah mengenalnya. Mungkin sejak duduk di kelas 1 SD, sekitar 15 tahun lalu. Mbah No adalah penarik andong. Maka itulah, ibu meminta Mbah No agar mau mengantar jemput saya sekolah setiap hari. Memang tak hanya saya sendiri, tapi bersama-sama beberapa anak tetangga lainnya yang kebetulan satu sekolah. Tak heran, hampir 3 tahun lamanya, saya selalu naik andong Mbah No. Saya baru berhenti ketika ayah membelikan saya sepeda BMX. Akan tetapi, selama 3 tahun itu, walau mungkin ada beberapa anak yang selalu bersama saya, tapi saya rasa, sayalah yang paling dekat dengan Mbah No. Mungkin karena rumah kami yang tepat berbelakangan. Jadi, saya selalu dijemput pertama kali dan diantar terakhir kali. Sungguh, saya menyukai Mbah No. Terutama saat dia bercerita. Termasuk cerita tentang si Pekik, kuda yang selalu mengangkut kami ini. Biasanya sambil bercerita, Mbah No membiarkan saya memegang kendali si Pekik berikut pecutnya sekaligus. Tapi dulu itu, saya tak pernah punya keberanian memecut si Pekik. Saya hanya berteriakteriak menyuruh kuda hitam itu berlari cepat dan Mbah No akan terkekeh di samping saya. Bagi saya, sepertinya ia sudah menjadi ayah kedua. Mungkin ini berlebihan, tapi banyak kejadian yang membuat pikiran itu terlintas di kepala saya. Seperti saat saya pertama kali berantem, Mbah No-lah yang pertama memeluk saya karena Anton Gendut menonjok mata saya hingga bengkak.

Isi Cerpen Pendek

Mbah No juga yang selalu melihat nilai ulangan saya yang jeblok dan mencoba menghibur serta memberi semangat agar lebih giat belajar. Ah…, terlalu banyak cerita saya dengannya! Tak heran, sejak saya tak ikut andongnya pun, saya masih terus berhubungan dengannya. Sering saya menghabiskan waktu di rumah Mbah No, di mana ia tinggal sendirian sejak istrinya meninggal. Saat itu, kami sering mengobrol di dipan kayu sambil minum teh. Sering juga kami memandikan si Pekik bersama-sama. Kejadian ini berlangsung lama, bahkan sampai ketika si Pekik mati pun, saya yang menggali kuburannya di samping rumah Mbah No. Ah, Mbah No, Mbah No… Saya benar-benar merindukan saatsaat seperti itu! Kini, saya teringat lagi padanya, bukan karena kejadian itu semua, tapi karena hal yang tidak mengenakkan! Saat ini saya benarbenar merasa bersalah. Sejak saya diterima kerja di hotel terbesar di Solo ini, saya memang jadi jarang bertemu dengan Mbah No. Apalagi sejak 3 tahun yang lalu, kami pindah ke perumahan lain. Jadi, Mbah No makin jauh dari saya. Terakhir yang saya ingat, ketika saya menyampaikan berita gembira itu sekitar 5 bulan yang lalu. Masih saya ingat sinar mata berbinar Mbah No ketika saya sampaikan tujuan saya datang sore itu. Saat itu saya memang membawa perintah kepala hotel saya untuk menawari pekerjaan kepada Mbah No di hotel kami. ”Jadi andong hotel, Nak Ndjar?” tanyanya dengan sinar tak percaya. ”Iya, Mbah,” saya juga ikut senang. ”Nanti kalau ada turis-turis yang ingin keliling kota, Mbah yang nganter. Ke Klewer, ke keraton, ke Sriwedari, atau ke mana saja. Nanti andong Mbah No akan didandani, seperti andong keraton. Pakai hiasan-hiasan bagus. Mbah No juga!”

Isi Cerpen Pendek – Masih dengan mata berbinar, ditepuktepuknya leher si Sekti, kuda pengganti si Pekik ini berulang kali. ”Seperti naik pangkat, Le!” ujar Mbah No bercanda. ”Dan yang pasti lagi, Mbah,” tambah saya masih bersemangat,” Tiap bulan Mbah No dapat gaji tetap! Lumayan, Mbah.” Sungguh, saya masih ingat kejadian itu. Bagaimana mungkin saya lupa dengan sinar mata berbinar itu? Dan kini, hanya selang 5 bulan kemudian, kejadian yang bertolak belakang akan saya lakukan! Sungguh, sepertinya saya ingin berlari menjauh saja. Saya jadi benar-benar membenci Pak Parto, direktur saya yang baru itu. Juga Pak Kanto, yang seenaknya saja memutuskan kerja sama dengan Mbah No. ”Ndak usah sedih begitu, Le!” Mbah No menepuk-nepuk punggung saya. ”Andjar sudah berusaha membujuk Pak Kanto, Mbah, tapi sulit. Kondisi hotel sekarang memang sedang susah. Bulan-bulan ini, turisturis hanya beberapa saja yang datang. Jadi….” saya tak bisa melanjutkan. ”Iya, iya, Mbah bisa ngerti, kok!” Setelah itu, tak banyak pembicaraan di antara kami. Saya yakin Mbah No pasti sedang berpikir kelanjutan cerita ini. Dia pasti akan kembali lagi ke jalan, menunggu penumpang, membawa kulakankulakan segede gunung yang berbau, dengan tenaga kudanya yang tua, setua tenaganya sendiri. Ah, saya benar-benar tak ingin membayangkannya. Setelah memberi pesangon titipan kantor, saya pun berlalu. Dalam hati saya berjanji suatu saat saya akan kembali lagi memanggil Mbah No bekerja di hotel. Sejak itu, saya tak pernah lagi bertemu dengan Mbah No. Sesekali saya sempatkan mampir, membawakan martabak telor kesukaannya. Namun, tak pernah saya temui dia. Saya pun hanya bisa meninggalkan martabak itu, melalui jendela, di atas dipannya. Sampai akhirnya setelah beberapa bulan lewat, kondisi pun mulai membaik, perlahan-lahan mulai bangkit. Saat rapat pengembangan, saya mulai kembali mengusulkan pengadaan fasilitas andong untuk hotel ini. Dan ternyata ide saya diterima dengan baik. Maka siang itu juga, saya segera pergi ke rumah Mbah No. Tetapi, tak saya temui Mbah No di sana. Saya coba cari di pangkalan. Tapi, tak juga ada. Akhirnya, terpaksa saya tunggu. Sekitar satu jam kemudian, Mbah No saya lihat muncul di belokan gang itu. ”Eh, kamu, Le,” sapanya begitu dekat, ”Sudah lama menunggu?” Saya mengangguk, ”Iya lumayan, Mbah. Tapi…’ mata saya berputar ke sekeliling, ”Mana Sekti, Mbah? Kok, Mbah No pulang dengan jalan kaki?” ”Oooh, itu,” Mbah No terkekeh sesaat, tapi saya merasa aneh mendengar kekehnya itu, seperti terlalu dipaksakan. Saya tunggu ia menuangkan air minum dari kendi. ”Sekti sudah Mbah jual,” ujarnya setelah meneguk airnya, ”Dia sudah tua, kemarin ngangkat kapuk beberapa kilo saja sudah klenger. Sebelum nanti mati di jalan, biar Mbah jual duluan saja. Lumayan, masih ada yang beli dengan harga tinggi…” Sumber: Solopos, Agustus 2004, dengan pengubahan

Isi Cerpen Pendek

Kalian telah membaca sebuah cerpen. Tentu kalian telah memahami unsur-unsur yang membangun cerpen tersebut, khususnya latar dan penokohan.

Latar cerita dapat berupa tempat, waktu, atau suasana yang melingkupi cerita. Adapun penokohan adalah pengambaraan watak suatu tokoh. Penokohan dapat diketahui dari paparan pengarang, sikap, pembicaraan, dan tindakan suatu tokoh, serta pandangan tokoh lain terhadap tokoh tersebut. Selain itu, kalian juga dapat menemukan hal-hal yang menarik atau mengesankan di dalamnya. Misalnya, tokoh ”Saya” merasa memiliki hubungan istimewa dengan Mbah No, sang kusir andong. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut.

”Bagi saya, sepertinya ia sudah menjadi ayah kedua. Mungkin ini berlebihan, tapi banyak kejadian yang membuat pikiran itu melintas di kepala saya. Seperti saat saya pertama kali berantem, Mbah No-lah yang pertama memeluk saya karena Anton Gendut menonjok mata saya hingga bengkak.”

Paragraf itu menggambarkan kedekatan seorang anak terhadap Mbah No, yang sebenarnya tidak ada hubungan keluarga. Kalian juga dapat menemukan hal-hal menarik atau mengesankan yang lain dalam cerita tersebut.

Isi Cerpen Pendek

1. Apa tema yang diangkat penulis dalam cerpen ”Andong Mbah No” di atas? 2. Siapakah Mbah No yang diceritakan pada cerpen itu? 3. Apakah hubungan antara tokoh ”Saya” dengan Mbah No? 4. Apa yang diceritakan penulis tentang andong Mbah No? 5. Peristiwa apa saja yang dialami Mbah No dengan andongnya? 6. Di mana peristiwa itu terjadi? 7. Kapan peristiwa itu terjadi? 8. Bagaimana pendapatmu tentang tokoh Mbah No? 9. Seandainya kamu menjadi tokoh ”Saya” apa yang akan kamu lakukan saat tahu Sekti, kuda milik Mbah No sudah dijual?

1. Cobalah kalian ceritakan pengalaman naik delman. Jika kamu belum pernah naik delman, ceritakan pengalamanmu naik angkutan tradisional di daerahmu! 2. Bacalah cerpen lain di perpustakaan, kemudian diskusikan halhal menarik atau mengesankan di dalamnya!

Isi Cerpen Pendek