Melafalkan Kata dan Tahap Membuat Tulisan Berbagai Teks

Melafalkan Kata dan Tahap Membuat Tulisan Berbagai Teks

Melafalkan Kata dan Tahap Membuat Tulisan Berbagai Teks

Tahap Membuat Tulisan
Tahap Membuat Tulisan

Tahap Membuat Tulisan – Melafalkan Kata dengan Artikulasi yang Tepat

Tahap Membuat Tulisan

1. Mengucapkan kata dengan suara yang jelas dan tekanan pada suku kata serta artikulasi yang tepat atau lazim Ketersampaian informasi yang disampaikan oleh penutur ditentukan oleh kejelasan dalam melafalkan kata. Pelafalan berkenaan dengan kejelasan dalam mengucapkan kata dan kalimat. Salah tafsir terjadi bisa jadi karena adanya pelafalan kata yang tidak jelas. Dalam bahasa Indonesia, sepintas banyak kosakata yang mi rip, bahkan sama dalam pelafalannya. Oleh karena itu, keteram p ilan mengartikulasikan kata-kata menjadi sangat penting dikuasai penutur atau pengguna bahasa. Pengucapan kata hendaknya jelas, khususnya pelafalan fonem-fonem tertentu. Jika pelafalan kata tidak jelas, akan memberi keraguan sehingga penyimak harus berpikir dalam menafsirkan arti kata yang diucapkan pembicara.

Tahap Membuat Tulisan

a. Kata menjadi berbeda makna Contohnya, pelafalan kata folio dengan polio, syah de ngan sah, masa dengan massa. Cermatilah penerapannya pada kalimat berikut ini.

Tahap Membuat Tulisan

1) Tugasnya ditulis pada kertas folio. (folio = ukuran kertas) 2) Anak itu terkena racun polio. (polio = radang zat kelabu sumsum tulang belakang) 3) Tendangan Beckham telah sah menjadi gol. (sah = berlaku atau diakui) 4) Ia belum berkeinginan menjadi seorang syah. (syah = raja atau baginda) 5) Usia remaja merupakan masa yang paling indah dalam hidup. (masa = waktu) 6) Konser musik itu dihadiri massa yang berjubel. (massa = orang banyak)

Tahap Membuat Tulisan

b. Kata tidak berbeda makna, tetapi menjadi tidak baku Tanpa disadari, Anda mungkin pernah melafalkan suatu kata yang kurang tepat, tetapi penyimak dapat memahaminya. Pada tataran komunikasi, pelafalan itu telah sesuai karena respons yang diharapkan sesuai dengan maksud penutur. Akan tetapi, berdasarkan bahasa baku, pelafalan tersebut belum tentu benar, bahkan salah. Pernahkah Anda melafalkan kata aktif, provinsi, februari, silakan, rahasia, ubah, surga, foto, dan negatif? Pelafalan kata-kata tersebut mungkin mengalami perubahan menjadi aktip, propinsi, pebruari, silahkan, rahasiah, rubah, syurga, poto, dan negatip. Karena pengucapan kata-kata tersebut salah, kata-kata tersebut menjadi tidak baku. Lalu, bagaimana cara menentukan kata baku atau tidak baku? Apabila Anda mengalami keraguan dalam melafalkan sebuah kata, periksalah ketepatan kata-kata tersebut dalam kamus, contohnya Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Tahap Membuat Tulisan

2. Melafalkan bahasa Indonesia baku, termasuk lafal bahasa daerah yang dibedakan berdasarkan konsep lafal baku bahasa Indonesia Bahasa Indonesia sangat kaya kosakatanya. Kekayaan kosakata tersebut didukung oleh adanya bahasa daerah yang beragam. Keragaman itu tentu akan berpengaruh terhadap artikulasi atau pelafalan bahasa Indonesia. Pelafalan yang salah tentu akan menimbulkan ketidakbakuan kata yang digunakan untuk berkomunikasi.

Tahap Membuat Tulisan

Membuat Berbagai Teks Tertulis

1. Tahap-tahap dalam menulis Dibandingkan dengan tiga keterampilan berbahasa lainnya, keterampilan menulis sering dipandang sebagai keterampilan berbahasa yang paling sulit. Menulis adalah suatu proses me nyusun, mencatat, dan mengorganisasi makna dalam tataran ganda, bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan dengan menggunakan sistem tanda konvensional yang dapat dibaca. Dari batasan ini dikemukakan sejumlah unsur yang menyatu dalam kegiatan menulis. Unsur-unsur itu adalah penulis, makna atau ide yang disampaikan, bahasa atau sistem tanda konvensional sebagai medium penyampai ide, pembaca sasaran (target reader), tujuan (sesuatu yang diinginkan penulis terhadap gagasan yang disampaikan kepada pembaca), dan ada nya interaksi antara penulis dan pembaca melalui tulisan tersebut.

a) Tahap Prapenulisan Tahap ini merupakan fase persiapan menulis, seperti halnya pemanasan (warming up) bagi atlet dalam berolahraga. Dalam tahap ini terjadi fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dan diperlukan penulis. Tujuannya adalah untuk mengembangkan isi tulisan dan mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam menulis. Dengan demikian, apa yang ingin ditulis dapat disajikan dengan baik. Pada fase prapenulisan ini terdapat aktivitas memilih topik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk kerangka karangan.

(1) Menentukan topik Topik adalah pokok persoalan atau permasalahan yang menjiwai seluruh karangan. Ada pertanyaan pemicu yang dapat digunakan untuk mencari topik karangan misalnya: “Saya mau menulis apa? Apa yang akan saya tulis? Tulisan saya akan berbicara tentang apa?” Nah, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu berisi topik karangan. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih atau menentukan topik karangan. (a) Pilihlah topik yang paling sesuai dengan maksud dan tujuan kita menulis. Sebaliknya, banyak topik pilihan dan semua topik menarik, tetapi pengetahuan tentang topik-topik itu serba sedikit. Untuk mengatasinya, pilihlah topik yang paling dikuasai, paling mudah dicari informasi pendukungnya, dan paling sesuai dengan tujuan kita menulis. (b) Ajaklah orang lain untuk berdiskusi atau meminta saran dari orang lain, membaca referensi (buku, artikel, atau laporan penelitian), atau melakukan pengamatan. (c) Terlalu ambisius sehingga jangkauan topik yang dipilih terlalu luas. “Penyakit” ini kerap menghinggapi penulis pemula. Begitu banyak hal yang ingin dicakup dan dikupas dalam tulisannya, sedangkan waktu pengetahuan, dan referensi yang dimilikinya sangat terbatas. Penulis dituntut untuk pandai mengendalikan diri. Kalau tidak, tulisan yang dihasilkannya akan cenderung dangkal.

(2) Mempertimbangkan maksud atau tujuan penulisan Untuk membantu merumuskan tujuan, kita dapat bertanya pada diri sendiri. “Apakah tujuan saya menulis topik karangan ini? Mengapa saya menulis karangan dengan topik ini? Dalam rangka apa saya menulis karangan ini?” Hal utama yang perlu dipikirkan dalam membuat tulisan adalah manfaat yang dapat diperoleh pembaca melalui tulisan kita. Contoh, kita menentukan topik karangan dampak negatif sajian televisi dan cara mengatasinya. Ketika ditanya apa tujuan mengarang dengan topik tersebut, Anda menjawab bahwa “agar anak-anak terhindar dari dampak negatif program- program yang ditayangkan televisi.”

Jadi, arti tujuan dalam konteks ini adalah tujuan mengarang, seperti menghibur, memberi tahu, atau menginformasikan sesuatu kepada pembaca.

(3) Memerhatikan sasaran karangan (pembaca) Agar isi tulisan itu sampai kepada pembaca, Anda harus memerhatikan siapa pembaca karangan dan apa yang diperlukan pembaca. Dengan kata lain, Anda harus memerhatikan dan menyesuaikan tulisan dengan pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan kebutuhan pembaca. Jangan sebaliknya.

(4) Mengumpulkan informasi pendukung Ketika akan menulis, kita tidak selalu memiliki bahan dan informasi yang benar-benar siap dan lengkap. Itulah sebabnya, sebelum menulis kita perlu mencari, mengumpulkan, dan memilih informasi yang dapat mendukung, memperluas, memperdalam, dan memperkaya isi tulisan kita. Sumber bacaan bisa dari bacaan, pengamatan, wawancara, pengetahuan, dan pengalaman sendiri atau orang lain. Tanpa pengetahuan dan wawasan yang memadai, tulisan kita akan dangkal dan kurang bermakna. Jangan-jangan yang kita sampaikan hanya informasi umum, bahkan usang, yang telah diketahui lebih banyak dari apa yang disajikan.

2. Menyusun kerangka karangan Kerangka karangan disusun berdasarkan uraian secara rinci dari topik yang dibentuk menjadi kalimat-kalimat pokok. Hal yang perlu diingat dalam membuat kerangka karangan yaitu topik yang telah ditentukan. Topik merupakan sumber pengembangan kalimat-kalimat topik. Berikut ini contoh kerangka karangan.

Cermatilah contoh kerangka karangan tersebut. Topik: Profil Pemuda Perkotaan 1. Cara pergaulan pemuda kota a. bergaul dengan orangtua b. bergaul dengan anak-anak c. bergaul dengan sesama 2. Rasa persaudaraan pemuda kota a. gotong royong b. menolong sesama manusia c. ikatan emosi sesama pemuda 3. Cara belajar pemuda perkotaan a. cara belajar di sekolah b. cara belajar di rumah Kerangka karangan berfungsi sebagai pemandu pada saat Anda menulis karangan. Mengarang akan terasa lebih mudah dengan adanya kerangka karangan.

3. Menentukan kalimat utama berdasarkan kerangka yang ditetapkan Ayo, cermatilah kembali karangan bertopik Profil Pemuda Perkotaan. Kalimat-kalimat topik karangan tersebut adalah cara pergaulan pemuda kota, rasa persaudaraan pemuda kota, dan cara belajar pemuda perkotaan. Penentuan kalimat utama dalam sebuah paragraf didasarkan pada jumlah kalimat topik. Jadi, kerangka karangan tersebut mengandung tiga gagasan utama. Gagasan utama yang telah dituangkan ke dalam kalimat disebut kalimat utama. Kalimat utama tersebut merupakan sumber pengembangan paragraf. Pengembangan sebuah paragraf akan mencakup dua hal pokok, yaitu kemampuan merinci gagasan utama ke dalam gagasan penjelas secara maksimal dan kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu urutan yang teratur. Suatu gagasan akan tergambarkan dengan jelas apabila disusun ke dalam kalimat. Gagasan tersebut akan mengandung makna yang kurang jelas apabila tidak ada penjelasan melalui kalimatkalimat lain. Hal ini berarti gagasan yang ada dalam suatu kalimat masih memerlukan penjelasan gagasan melalui kalimat-kalimat ain. Kalimat-kalimat lainnya ini kemudian dikenal dengan istilah kalimat penjelas. Melalui kalimat- kalimat penjelas akan terbentuk sebuah paragraf. Gagasan yang muncul dalam suatu paragraf akan tampak lebih utuh, tepat, dan jelas.

4. Menyusun karangan sesuai dengan pilihan jenis karangan tertentu Seperti yang telah Anda pelajari, karangan terdiri atas beberapa jenis, di antara narasi, deskripsi, dan eksposisi. Masih ingatkah Anda dengan materi pelajaran tersebut. a. Karangan narasi Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan sesuatu peristiwa, dan bagaimana berlangsungnya peristiwa-peristiwa tersebut. Rangkaian kejadian atau peristiwa- peristiwa ter sebut disusun menurut urutan waktu (kronologis). Isi karangan narasi bisa berupa fakta ataupun opini. Tujuan karangan narasi adalah menyatakan kepada pem baca apa-apa yang terjadi. Oleh karena itu, pokok-pokok masalah dalam narasi adalah tindakan, perbuatan, atau aksi. Dalam dalam karangan narasi, di samping uraian biasa, sering terdapat ada dialog pelaku (tokoh-tokoh) cerita. Diharapkan dengan dialog, cerita akan terasa lebih menarik sehingga akan menambah semangat untuk dibaca. Gambaran watak, pribadi, kecerdasan, sikap, dan tingkatan pendidikan tokoh dalam cerita yang dipaparkan dapat memperjelas cerita apabila ditampilkan lewat dialog-dialog. b. Karangan deskripsi Karangan deskripsi adalah karangan yang melukiskan suatu objek sesuai dengan keadaan sebenarnya. Dengan demikian, pembaca dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium secara imajinatif, sesuatu yang dialami oleh pengarang tentang objek yang dimaksud. Karangan deskripsi berbeda dengan karangan eksposisi walaupun sama-sama memperluas pandangan dan pengetahuan pembaca. Karangan eksposisi bertujuan agar pembaca memahami suatu pokok pikiran, sedangkan karangan deskripsi bertujuan agar pembaca dapat melihat, mendengar, dan merasakan secara imajinatif apa yang dilihat, didengar, dirasakan oleh pengarang tentang sesuatu objek sesuai dengan keadaan sebenarnya. Dalam karangan deskripsi, agar menjadi hidup, perlu dilukiskan bagian-bagian yang dianggap penting sedetail mungkin. Kalau melukiskan betapa ngerinya tersesat di hutan, situasi hutan yang dapat menimbulkan kengerian itu harus dilukiskan selengkap-lengkapnya. Dengan demikian, pembaca dapat membayangkan bagaimana jika tersesat di hutan.

Selain detail-detail, urutan waktu dan urutan ruang dalam karangan deskripsi harus pula diperhatikan dengan baik. Jika urutan waktu dan urutan ruang tidak dilukiskan secara nyata, dapat membawa akibat kesatuan lukisan tidak terjamin. c. Karangan eksposisi Karangan eksposisi adalah karangan yang berusaha menerang kan suatu hal atau suatu gagasan yang dapat memperluas pengetahuan pembaca. Tujuan karangan eksposisi ialah agar pembaca mengerti hubungan suatu pokok pikiran atau suatu subjek dengan objek-objek lainnya. Dalam memaparkan sesuatu, pengarang dapat men jelaskan dan memberi sebuah keterangan atau meng embangkan sebuah gagasan sehingga menjadi luas dan mudah dipahami pembaca. Salah satu bentuk karangan eksposisi ialah uraian tentang, proses, misalnya proses pembuatan celana panjang pria. Oleh karena itu, akan semakin jelas jika proses pembuatan itu diterangkan ke dalam beberapa tahapan. Tiap tahapan diuraikan berdasarkan urutan. Sebaiknya, dalam karangan eksposisi diper gunakan contohcontoh, gambar-gambar, ilustrasi, tabel, diagram, peta, denah dan atau yang lainnya. Hal ini dilakukan agar pembaca lebih mengerti atau memahami karangan kita

Langkah – Langkah Menulis Cerpen Yang Baik dan Benar

Langkah – Langkah Menulis Cerpen Yang Baik dan Benar

Langkah – Langkah Menulis Cerpen Yang Baik dan Benar

Langkah Menulis Cerpen
Langkah Menulis Cerpen

Langkah Menulis Cerpen – Di bab sebelas melalui topik “Kesenjangan Sosial” kalian diajak untuk mempelajari teknik menulis cerpen. Itu berarti kalian harus dapat menulis karangan berdasarkan kehidupan diri sendiri ataupun pengalaman orang lain dalam cerpen. Untuk itu, pertama-tama, kalian akan mempelajari bagaimana menentukan tema cerpen, rincian tema, mengembangkan ide dalam bentuk cerpen dengan memperhatikan pilihan kata, tanda baca, dan ejaan, serta menulis resensi fiksi sederhana. Kedua, kalian bisa menjelaskan hal-hal menarik tentang latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan/atau melalui rekaman. Itu berarti kalian harus dapat memahami unsur-unsur yang terdapat dalam cerita rakyat dan menemukan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Langkah Menulis Cerpen

Cerpen

Langkah Menulis Cerpen – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen adalah akronim dari cerita pendek, yaitu kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. Anda tentu sudah sangat sering membaca cerpen? Atau Anda pernah menulis cerpen? Kali ini Anda akan berlatih kembali membuat cerpen. Ide cerpen dapat ditulis berdasarkan ide apa saja, baik pribadi maupun orang lain.

Menulis Cerpen

Langkah Menulis Cerpen – Setelah Anda membaca cerpen dan mengerjakan tugas, Anda sebetulnya sudah dapat menyimpulkan ciri dan kriteria sebuah cerpen. Cerpen tersebut merupakan fiktif naratif, dengan kata lain cerpen tersebut termasuk ragam cerita imajinatif. Biasanya, cerpen itu jumlah halamannya berkisar 2-20 halaman yang memiliki beberapa kategori, di antaranya: – Kisahan memberi kesan tunggal dan dominan satu tokoh, latar dan situasi dramatik, bentuknya sangat sederhana. Semuanya bersifat imajinatif; – Mengungkapkan satu ide sentral dan tidak membias pada ide sampingan.

Langkah Menulis Cerpen – Biasanya berisi hal-hal yang tidak rutin terjadi setiap hari, misalnya tentang suatu perkenalan, jatuh cinta, atau suatu hal yang sulit dilupakan; – Dimensi ruang waktu lebih sempit dibandingkan novel. Akan tetapi, walaupun singkat, cerpen selalu sampai dalam keadaan selesai; – Mengungkapkan suatu kejadian yang mampu menghadirkan impresi tunggal. Seperti prosa, cerpen juga terdiri atas unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Unsur intrinsiknya meliputi: tema, plot/alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, pesan, dan gaya. Unsur ekstrinsik, misalnya: biografi pengarang, kondisi sosial, politik, agama, atau filsafat. (Cobalah Anda cocokkan dengan cerita di atas, apakah seluruh kriteria tersebut terdapat dalam cerpen Hipnotis!) Sebagai pelatihan awal, cobalah Anda reka-reka kembali kelanjutan cerita di atas dengan kemampuan imajinasi dan gaya Anda! Yakinkan diri Anda bahwa menulis itu mudah dan mengasyikkan!

Langkah Menulis Cerpen – Resensi Fiksi Pada pelajaran yang lalu Anda telah mempelajari resensi buku nonfiksi. Sekarang Anda akan mempelajari resensi buku fiksi (novel, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, dan sebagainya).

Membaca Sastra

Langkah Menulis Cerpen – Di bab 10 Anda telah mempelajari tentang cerita rakyat. Pada bab ini Anda akan kembali dihadapkan pada sebuah cerita rakyat dan Anda diharapkan dapat menemukan hal menarik tentang latar cerita. Cerita rakyat dapat berupa cerita asal-usul, cerita binatang, cerita jenaka, dan cerita penglipur lara. Cerita asal-usul (legenda) adalah sastra yang dipertautkan dengan keajaiban alam. Selain menerangkan asal-usul binatang atau tumbuhan, legenda juga menerangkan asal-usul sesuatu tempat. Cerita rakyat yang berjudul Baturaden berikut ini merupakan salah satu contoh cerita asal-usul. Dalam cerita asal-usul, unsur latar cerita sangat ditonjolkan.

Baturaden

Cerita ini mengisahkan seorang pembantu (batur) di sebuah kadipaten. Pembantu itu bernama Suta. Tugas utama Suta adalah merawat kuda milik sang Adipati. Selesai mengerjakan tugasnya biasanya Suta berjalan-jalan di sekitar kadipaten. Maksudnya untuk lebih mengenal tempat kerja yang baru baginya.

Suatu sore ketika ia sedang berjalan-jalan di sekitar tempat pemandian, ia dikejutkan oleh jertian seorang wanita. Suta segera mencari arah jeritan tadi. Akhirnya ia tiba di dekat sebuah pohon besar. Dilihatnya putri adipati menjerit-jerit di bawah pohon itu. Di dekatnya, seekor ular raksasa menggelantung, mulutnya menganga siap menelan putri tersebut. Suta sendiri sebenarnya takut melihat ular sebesar itu. Namun ia sangat kasihan melihat sang putri yang pucat dan ketakutan. Timbul keberaniannya untuk membunuh ular tersebut. Diambilnya bambu yang cukup besar, dipukulnya kepala ular itu berkali-kali.

Ular tadi menggeliat-geliat kesakitan, tak lama kemudian ular itu diam tak bergerak. Mati. “Terima kasih, Kang Suta. Kamu telah menyelamatkan jiwaku.” “Itu sudah menjadi tugas saya. Apalagi hamba ini abdi Sang Adipati, ayah Tuan Putri,” sahut Suta. Kemudian Sang Putri dan Suta pergi meninggalkan tempat itu menuju kadipaten. Sejak kejadian itu Sang Putri semakin akrab dengan Suta. Bahkan keduanya punya rencana mengikat hubungan itu dalam suatu pernikahan. Rencana itu diketahui sang Adipati, maka marah sang Adipati. “Dia hanya seorang batur! Kamu seorang raden, putri Adipati. Kamu tidak boleh menikah dengan batur itu!” Sang Putri sangat sedih mendengar kata-kata ayahnya. Apalagi dia mendengar kabar bahwa Suta dimasukkan penjara bawah tanah. Kesalahannya karena berani melamar putri sang Adipati.

Di dalam penjara ternyata Suta tidak diberi makan atau minum, bahkan ruang penjara itu digenangi air setinggi pinggang suta. Akibatnya Suta terserang penyakit demam. Mendengar kabar keadaan Suta yang semacam itu, Sang Putri bertekad membebaskan Suta. “Emban, aku harus bisa membebaskan Kang Suta. Kasihan dia, dahulu dia telah menolong aku. Aku berutang nyawa kepadanya. Bantulah aku, Emban,” kata Putri pada pengasuhnya. Emban itu mengetahui perasaan putri kepada Suta.

Dia juga iba mendengar Suta yang mulai sakit di penjara. Maka, emban itu diam-diam menyelinap ke penjara bawah tanah. Dia membebaskan Suta dan membawa ke suatu tempat. Di situ Sang Putri telah menunggu dengan seekor kuda. Sang Putri pergi bersama Suta dengan menunggang kuda tersebut. Dalam perjalanan, keduanya menyamar sebagai orang desa, sehingga tidak dikenali orang lagi. Setelah melakukan perjalan cukup jauh, sampailah keduanya di tepi sebuah sungai. Mereka beristirahat sejenak. Putri merawat Suta yang masih sakit. Berkat kesabaran dan perawatan Sang Putri, Suta akhirnya sembuh. Mereka kemudian menikah dan hidup menetap di tempat tersebut. Tempat itu kemudian disebut Baturaden. Batur artinya pembantu, raden artinya keturunan bangsawan. Baturaden sampai sekarang menjadi tempat wisata yang menarik. Terletak di kaki Gunung Slamet di daerah Purwokerto, Jawa Tengah. Sumber: Ulasan Cerita Rakyat Jawa Tengah, Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta.

Rangkuman 

1. Cerpen adalah akronim dari cerita pendek, yaitu kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata atau sekitar 2-20 halaman) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. Ide cerpen dapat ditulis berdasarkan apa saja, baik pribadi maupun orang lain. 2. Biasanya cerpen memilik beberapa kategori, seperti: (a)kisahannya memberi kesan tunggal dan dominan pada satu tokoh, latar, dan situasi dramatik, bentuknya sangat sederhana, dan bersifat imajinatif; (b)mengungkapkan satu ide sentral dan tidak membias pada ide sampingan, serta berisi hal-hal yang tidak rutin terjadi setiap hari; dan (c) dimensi ruang waktunya lebih sempit dibandingkan novel, namun selalu sampai pada keadaan selesai dalam mengungkapkan kejadian yang mampu menghadirkan impresi tunggal. 3. Unsur intrinsiknya meliputi tema, plot/alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, pesan, dan gaya. Unsur ekstrinsiknya meliputi biografi pengarang, kondisi sosial, politik, agama, ataupun filsafat. 4. Cerita rakyat dapat berupa cerita asal-usul, cerita binatang, cerita jenaka, dan cerita penglipur lara. Cerita asal-usul disebut juga legenda dan merupakan karya sastra yang dipertautkan dengan keajaiban alam. Selain menerangkan asal-usul binatang atau tumbuhan, cerita asal-usul juga menerangkan asal-usul suatu tempat.

I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat! 1. Waktu pintu ternganga lebar, dia tercenung di depannya. Matanya bergerak ke sana ke mari menatap apa saja yang bisa dilihatnya. Ruangan itu bagus sekali. Hawa dingin menyentuh kulitnya. Ada kesegaran di dalamnya. Di tengahtengah barang-barang yang serba megah, duduk laki-laki jangkung memakai kacamata hitam. Unsur intrinsik yang terkandung pada kutipan cerpen Jakarta di atas adalah … . a. penokohan d. amanat b. latar e. tema c. alur 2. “Night club, Pak, pusat kehidupan malam di kota ini. Tempat orang-orang kaya membuang duitnya. Lampunya lima watt, remang-remang, perempuan cantik, minuman keras, tari telanjang, dan musik gila-gilaan. Pendeknya yahud,” ujar penjaga sambil mengacungkan jempolnya. Unsur intrinsik yang terkandung pada kutipan cerpen Jakarta di atas adalah … . a. penokohan d. amanat b. latar e. tema c. alur

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen

Intrinsik dan Ekstrinsik
Intrinsik dan Ekstrinsik

Intrinsik dan Ekstrinsik – Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsure-unsur yang secara faktual dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra, khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat. Berikut penjelasan mengenai unsur intrinsik. 1. Tokoh dan Karakter Tokoh Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis. Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen, di antaranya sebagai berikut.

Intrinsik dan Ekstrinsik

Melalui apa yang diperbuat tokoh. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan. Contoh:

Intrinsik dan Ekstrinsik – Dengan terburu-buru Wei meninggalkan kota, dan peristiwa itu tak lama kemudian sudah terlupakan. Ia lantas pergi ke barat, ke ibu kota, dan karena dikecewakan oleh pinangan terakhir yang gagal itu, ia mengesampingkan pikirannya dari hal perkawinan. Tiga tahun kemudian, ia berhasil meminang seorang gadis dari keluarga Tan yang terkenal kebaikannya di dalam masyarakat. Sumber: Cerpen “Sekar dan Gadisnya”, Ryke L. Melalui ucapan-ucapan tokoh. Dari apa yang diucapkan tokoh kita dapat mengetahui karakternya. Contoh: Sumber: Dokumentasi Pribadi Gambar 11.7 Buku kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari karya Joni Ariadinata. “Apa yang tidak Ibu berikan padamu? Ibu bekerja keras supaya bisa menyekolahkanmu. Kau tak punya kewajiban apa-apa selain sekolah dan belajar. Ibu juga tak pernah melarangmu melakukan apa saja yang kau sukai. Tapi, mestinya kamu ingat bahwa kewajiban utamamu adalah belajar. Hargai sedikit jerih payah Ibu!” Di luar dugaannya anak itu menatapnya dengan berani. “Ibu tak perlu susah payah menghidupi aku kalau Ibu keberatan. Aku bisa saja berhenti sekolah dan tidak usah menjadi tanggungan Ibu lagi.” Darah Sekar –ibu anak itu–serasa naik ke ubun-ubun. Sumber: Cerpen “Sekar dan Gadisnya”, Ryke L. Melalui penjelasan langsung. Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh. Contoh: Memang, sebenarnya, semenjak dia datang, kami sudah membenci dia. Kami membenci bukan karena kami adalah orang-orang yang tidak baik, tapi karena dia selalu menciptakan suasana tidak enak. Perilaku dia sangat kejam. Dalam berburu dia tidak sekadar berusaha untuk membunuh, namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka, telah begitu banyak binatang menderita berkepanjangan, sebelum akhirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus. Bukan hanya itu. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar-benar meresahkan dan memalukan. Dia sering meneriakkan kata-kata kotor, cabul, dan menjijikkan. Sumber: Cerpen “Derabat”, Budi Darma

2. Latar (Setting) Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sunguh-sungguh ada dan terjadi.

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut. a. Latar Tempat Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu. b. Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. c. Latar Sosial Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya. 3. Alur (Plot) Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan peristiwa tersebut meliputi: – mulai melukiskan keadaan (situation); – peristiwa-peristiwa mulai bergerak (generating circumtanses); – keadaan mulai memuncak (rising action); – mencapai titik puncak (klimaks) – pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement) Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita. 4. Sudut Pandang (Point of View) Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang “aku”), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran. 5. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya. 6. Tema Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan. 7. Amanat Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Yang termasuk unsur ekstrinsik karya sastra antara lain sebagai berikut. 1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup. 2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra. 3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial. 4. Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.

Intrinsik dan Ekstrinsik

Bacalah contoh cerpen berikut.

Intrinsik dan Ekstrinsik  – Tua Karya Mustafa Ismail

Meski tulang rahangnya tetap kekar dan keras, wajahnya sudah menampakkan ketuaan. Tatapan matanya tidak setajam dulu. Dan mata itu menjadi agak rabun. Ia tidak begitu mengenali orang yang bertemu dengannya. “Muista Fahendra, ya. Kau gemuk sekali sekarang, hampir tidak kukenal. Kukira kau kontraktor yang akan membangun Taman Budaya, ha ha ha,” katanya ketika ia melihatku muncul di Taman Budaya sore itu. Tubuhnya tidak segemuk dua belas tahun lalu, saat kami sama-sama suka tidur di meunasah tuha, surau di Taman Budaya. Daging di pipinya makin menipis. Bentuk rambutnya berubah, menjadi tipis, tidak lagi gondrong membentuk bundaran mirip bunga kol yang bagian kedua sampingnya ditipiskan. Ubannya makin penuh di kepala. Aku memandang lelaki itu dari atas ke bawah. Ia tidak garang lagi, seperti dulu ketika mengatur sepeda motor dan mobil yang parkir di Rex, tempat ia menjadi juru parkir. Tubuhnya sedikit membungkuk. Tapi kumisnya tetap tebal.

“Apa kau lihat? Aku sudah tua ya,” katanya. “Abang tetap gagah,” kataku. Ia tergelak. “Kau jangan menghiburku. Katakan saja bahwa aku sudah tua.” “Tapi pasti abang tetap disukai banyak perempuan.” “Dari mana kau tahu?” “Dari puisi yang abang kirim lewat SMS kepadaku beberapa bulan lalu.” “Ha ha. Soal puisi itu, aku mau cerita sama kau. Tapi kita perlu duduk barang dua jam. Oh ya, kapan kau kembali ke Jakarta?” “Dua hari lagi.” “Begini aja. Nanti malam jam delapan kita ketemu di Rex. Sekarang aku harus pergi, ada janji sama seseorang.” “Seseorang yang cantik?” “Ha ha ha!” Tawanya keras sekali. Aku ikut tertawa.

Intrinsik dan Ekstrinsik

Selengkapnya di Sumber: Republika, 19 Agustus 2007