Menulis Macam Macam Puisi Langkah – langkah Menganalisis Isi Puisi

Menulis Macam Macam Puisi Langkah – langkah Menganalisis Isi Puisi

Menulis Macam Macam Puisi Langkah – langkah Menganalisis Isi Puisi

Macam Macam Puisi
Macam Macam Puisi

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk menganalisis isi puisi tersebut.

Macam Macam Puisi

a. Mendapatkan gambaran makna Anda tentunya telah membaca puisi tersebut secara berulang-ulang untuk mencoba memahami judul “Salju” serta berusaha mendapatkan gambaran maknanya secara keseluruhan untuk menangkap makna. Untuk memahami kata “salju” sebagai judul puisi tersebut, kita harus berusaha mendapatkan gambaran tentang ciri-ciri dan berbagai macam kemungkinan makna yang dikandungnya.

b. Gambaran makna yang diperoleh Dari proyeksi berbagai macam kemungkinan makna kata “salju” misalnya, kita temukan gambaran makna berikut. – Suatu musim atau keadaan ketika salah satu bagian bumi ini hanya ditebari oleh serpih es yang dingin; – Sebagai akibat dari keadaan tersebut, bagian bumi yang terkena musun salju itu seolah-olah mati, tumbuh-tumbuhan gundul, aktivitas kerja di luar terhenti, orang jarang keluar rumah, dan bagian bumi itu sendiri seakan-akan tidak punya arti, bahkan menjadi suatu kenyataan atau bagian yang tidak disenangi. Dari proyeksi makna tersebut, sekarang dapat ditentukan bahwa kata atau judul “salju”mengandung makna sesuatu yang tidak berarti.

c. Menganalisis unsur sense (makna) Dalam hal sense, secara sederhana dapat ditetapkan bahwa lewat puisi “Salju” itu penyair menggambarkan seseorang yang sedang kebingungan. Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Saat itu, sesuatu yang tidak berarti sedang menimpa dirinya. la tidak tahu jalan untuk mencari perlindungan ketika tubuhnya basah kuyup. Dia ingin berusaha mencari api untuk menghidupkan bara hatinya yang mati, tetapi tidak tahu ke mana harus lari. Akhirnya sampailah dia pada satu keputusan “mencuci diri”.

d. Kategori kata Untuk membuktikan kebenaran gambaran makna judul maupun gambaran makna secara umum tersebut, kita sekarang perlu menelaah lebih mendalam. Jalan pertama yang kita tempuh adalah mengategorikan kata-kata yang termasuk kategori lambang dan kata-kata yang termasuk kategori simbol. Dalam hal ini ditetapkan bahwa kata-kata dalam puisi tersebut yang termasuk lambang adalah kata-kata “ke manakah”, “pergi”, “mencari”, dan “ketika”. Adapun kata-kata yang bersifat simbolik adalah “matahari”, “salju turun”, “pohon”, dan “kehilangan daun”.

Macam Macam Puisi

e. Memahami makna simbolik Tugas Anda sekarang adalah berusaha memahami makna kata yang bersifat simbolik tersebut. Pertama, kata matahari”. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa kata “matahari” berhubungan dengan makna “kehidupan”, kata “salju” berhubungan dengan makna “sesuatu yang tidak berarti”

Masalahnya sekarang, apakah yang dimaksud dengan “pohon” dan “kehilangan daun”? Siapa pun akan memaklumi bahwa daun adalah ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, daun adalah makhluk ciptaan Khalik. Pertanyaannya sekarang: Makhluk apakah yang mampu menyadari ketidakberartian hidupnya? Makhluk apakah yang dengan sadar berusaha mencari kehidupan? Jawabnya tentu, manusia. Pohon yang kehilangan daun, tentu hidupnya tidak berarti. Selain itu, jika pohon itu merupakan simbol dari manusia, berarti manusia yang kehilangan daun itu hidupnya tiada berarti. Setelah memahami makna kata-kata simbolik pada bait pertama, tugas kita sekarang adalah berusaha memahami makna kata simbolik pada bait berikutnya. Sering kali pemahaman makna kata-kata simbolik menjadi semacam kunci untuk memahami makna kata-kata simbolik berikutnya. Dengan berangkat dari anggapan demikian, dapatkah Anda memahami makna kata “tubuh”, “basah kuyup”, “pintu tertutup”, dan kata “api”?

f. Membahas makna setiap larik Setelah Anda mencoba sendiri berusaha memahami katakata simbolik tersebut, baik sendirian atau lewat diskusi, silakan Anda coba membahas makna setiap lariknya. Larik pertama yang berbunyi “ke manakah pergi” mudah untuk dimengerti. Larik kedua yang berbunyi ketika “salju turun”-lah yang perlu diperhatikan baikbaik. Jika dihubungkan dengan proyeksi makna kata “salju” turun tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa baris ketika salju turun” mengandung makna ketika hidupku sepi tidak berarti. Adapun larik keempat yang berbunyi pohon kehilangan daun” dapat diartikan sebagai ketika diriku hampa tidak bermakna.

g. Memahami hubungan antarbaris Dari telaah tersebut, semakin jelas bagaimana hubungan antara baris yang satu dengan baris lainnya. Sebagai penutur atau pemakai bahasa Indonesia, Anda tentunya tidak akan mengalami kesulitan seandainya diminta untuk mempertalikan baris-baris di atas ke dalam satuan-satuan kalimat.

h. Simpulan pokok pikiran makna puisi Sudahkah Anda mencoba menyusun paragraf berdasarkan satuan-satuan bait tersebut? Jika sudah, tugas Anda sekarang adalah melihat satuan-satuan pokok pikiran dalam paragraf-paragraf yang telah Anda buat sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam puisi tersebut terdapat empat pokok pikiran yang saling berkaitan. Keempat pokok pikiran itu adalah sebagai berikut. 1) Ke mana aku harus pergi di saat hidupku hampa tidak berarti? 2) Kepada siapa aku meminta perlindungan di saat diriku menderita dan tidak seorang pun mau menerima diri saya? 3) Ke mana harus pergi mencari petunjuk dan semangat kehidupan saat semangat hidupku padam tidak berarti? 4) Dalam situasi demikian, tidak ada jalan lain selain bersujud di hadapan Tuhan untuk menyucikan diri.

Macam Macam Puisi

i. Memahami sikap penyair terhadap puisi Sekarang, bagaimana halnya dengan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran puisi tersebut? Ada bermacam-macam sikap seseorang sewaktu menghadapi situasi demikian. Mungkin mereka akan termenung sendirian, bertindak masa bodoh, menyalahkan orang lain, dan berbagai kemungkinan sikap lainnya. Akan tetapi, lain halnya dengan sikap penyair. Ia mengungkapkan bahwa dalam situasi demikiaan tidak ada jalan lain kecuali mencuci diri. Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa dalam menampilkan pokok-pokok pikirannya, penyair memiliki satu sikap, yakni berserah diri kepada Tuhan.

j. Sikap penyair terhadap pembaca puisi Sikap penyair terhadap pembaca akan menunjukkan adanya sikap yang bermacam-macam. Dalam hal ini mungkin sikap masa bodoh, mengajak, menggurui, keramahtamahan, kebencian, persahabatan, dan lain-lainnya. Adanya sikap-sikap tertentu dalam suatu puisi umumnya ditandai oleh bentuk-bentuk pernyataan tertentu. Dalam hal ini, jangan tutup mata Anda. Seandainya tanda-tanda tertentu yang dapat menyiratkan sikap penyair terhadap pembaca tidak ada, dapat dipastikam bahwa penyair menyikapi pembaca dengan sikap masa bodoh.

k. Rangkuman penafsiran puisi Tugas Anda sekarang adalah merangkum keseluruhan hasil penafsiran tersebut, baik penafsiran terhadap satuan-satuan pokok pikiran, sikap penyair terhadap pokok pikiran, maupun sikap penyair terhadap pembaca sewaktu menampilkan pokok-pokok pikiran tertentu ke dalam satu kesatuan yang utuh. Dengan cara demikian, pada dasarnya Anda sedang berupaya menemukan totalitas makna puisi yang Anda baca. Cobalah kerjakan sendiri upaya pencarian totalitas makna tersebut dengan jalan merangkum satuan-satuan paragraf yang telah Anda susun serta Anda telah memasukkan unsur feeling dan tone ke dalamnya.

l. Menentukan tema puisi Pembahasan tema pada dasarnya merupakan pembahasan yang cukup rumit karena dalam hal ini penganalisis harus mampu berpikir secara mendasar. Hal itu dapat saja dimaklumi karena tema berhubungan dengan lapis dunia yang metafisis (gaib). Untuk mencapainya, pembaca harus membaca hasil rangkuman totalitas makna yang telah dibuat secara berulang-ulang untuk membuat satu simpulan yang menjadi inti keseluruhan totalitas maknanya.

Macam Macam Puisi – Dari keseluruhan totalitas makna yang terdapat dalam puisi berjudul “Salju”, misalnya, dapat dikatakan bahwa tema dalam puisi tersebut adalah hanya dengan menyucikan diri manusia dapat menikmati kehidupan yang berarti.

Uji Materi

1. Bacakanlah puisi berikut dengan baik oleh salah seorang di antara Anda. 2. Selama puisi ini dibacakan, tutuplah buku Anda dan cermatilah isi puisi dengan saksama. Jika perlu, bacakanlah beberapa kali secara bergiliran.

Tuhan, Kita Begitu Dekat Karya Abdul Hadi W.M.

Tuhan Kita begitu dekat Seperti api dengan panas Aku panas dalam apimu Tuhan Kita begitu dekat Seperti kain dengan kapas Aku kapas dalam kainmu Tuhan Kita begitu dekat Seperti angin dengan arahnya Kita begitu dekat Dalam gelap Kini nyala Pada lampu padammu Sumber: Majalah Horison, Edisi Khusus Puisi Internasional Indonesia, 2002

3. Kemukakanlah hasil penghayatan Anda terhadap puisi tersebut. 4. Diskusikanlah dengan teman-teman Anda.

Sastrawan dan Karyanya 

Macam Macam Puisi – Wing Kardjo dilahirkan tanggal 23 April 1937 di Garut (Jawa Barat). Ia menyelesaikan pendidikan B-l Prancis di Jakarta (1959); Diploma de Literatur Francis dari Universitas Sorbonne, Paris (1965), tamat Jurusan Prancis Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (1973) dan meraih gelar Doktor dari Universite Paris VII dengan disertasi Sitor Situmorang: La vie et I’oeuvre d’un poete Indonesia (1981). Ia pernah mengajar di SMA, SESKOAD, Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Sastra UNPAD, dan sejak 1984 mengajar di Universitas Tokyo, Jepang. Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur kebudayaan Indonesia Express dan redaktur Khatulistiwa/ Indonesia Raya. Tahun 1977, ia mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Kumpulan sajaknya: Selembar Daun, Perumahan, Pohon Hayati: Sejemput Haiku (2002), dan Fragmen Malam (1997). Ia meninggal di Jepang pada 19 Maret 2002. Sumber: Ensiklopedi Sastra Indonesia , 2004

Macam Macam Puisi

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Contoh Menulis Puisi
Contoh Menulis Puisi

Contoh Menulis Puisi – Pada contoh puisi tersebut juga dapat kita jumpai adanya pengulangan kata “ketika” di antara bait-bait. Ulangan kata demikian disebut rima identik. Contoh lain misalnya, dapat diamati pada puisi berjudul “Sajak Samar” karya Abdul Hadi W.M. berikut.

da yang memisahkan kita, jam dinding ini ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini ada. Tapi tak ada kucium waangi kainmu sebelum pergi tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri.

Contoh Menulis Puisi

Pengulangan bunyi disebut rima sempurna jika meliputi baik pengulangan konsonan maupun vokal, seperti tampak pada bentuk “pergi” dan “sendiri”, larik 3 dan 4 puisi tersebut. Adapun pengulangan bunyi disebut rima rupa jika pengulangan hanya tampak pada penulisan suatu bunyi, sedangkan pelafalannya tidak sama. Misalnya, rima antara bunyi vokal /u/ dalam bentuk “bulan”

serta bunyi vokal /u/ dalam “belum”, seperti tampak pada salah satu puisi Abdul Hadi W.M. berjudul “Dan Bajumu” berikut.

Contoh Menulis Puisi – Pasang bajumu. Dingin akan lalu melewat menyusup dekat semak-semak pohon kayu Tapi bulan belum kelihatan, puncak-puncak bukit sudah berhenti membandingkan dukamu, sehari keluh kesah

Anda tentunya telah mengenal istilah euphony sebagai salah satu ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana keriangan, vitalitas, maupun gerak. Bunyi euphony umumnya berupa bunyibunyi vokal. Anda sendiri dapat mengetahui bahwa kata-kata yang mengandung sesuatu yang menyenangkan umumnya mengandung bunyi vokal, seperti tampak pada kata “gembira”, “bernyanyi”, “berlari”, dan lain-lain. Pada puisi “Salju” tersebut, Anda dapat melihat adanya kata “pergi/mencari/matahari”. Berkebalikan dengan bunyi euphony, bunyi cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin, kebekuan, kesepian ataupun kesedihan. Jika bunyi euphony umumnya terdapat dalam bentuk vokal, bunyi cacophony umumnya berupa bunyi-bunyi konsonan yang berada di akhir kata. Bunyi konsonan itu dapat berupa bunyi bilabial, seperti nampak pada larik-larik ketika tubuh kuyup dan pintu tertutup. Peranan bunyi dalam puisi meliputi hal-hal berikut: – untuk menciptakan nilai keindahan lewat unsur musikalitas atau kemerduan; – untuk menuansakan makna tertentu sebagai perwujudan rasa dan sikap penyairnya; – untuk menciptakan suasana tertentu sebagai perwujudan suasana batin dan sikap penyairnya.

Contoh Menulis Puisi

4. Majas dalam Puisi Beberapa contoh majas yang ada dalam puisi adalah sebagai berikut. a. Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya, misalnya, “cemara pun gugur daun” mengungkapkan makna “ketidakabadian kehidupan”. b. Metonimia, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. Misalnya, “Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu”. “Kuntum bunga” di situ mewakili makna tentang remaja yang sedang tumbuh untuk mencapai cita-cita hidupnya. c. Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa. Misalnya, terdapat dalam salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.

Kita tinggalkan kota ini, ketika menyeberang sungai terasa waktu masih mengalir di luar diri kita. Awas, jangan menoleh, tak ada yang memerlukan kita lagi tak ada yang memanggil kembali.

d. Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. Misalnya, pada salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.

Begini: kita mesti berpisah. Sebab Sudah terlampau lama bercinta

Contoh Menulis Puisi – Uji Materi

1. Tulislah sebuah puisi dengan tema bebas yang sesuai dengan suasana hati Anda sekarang. 2. Jika perlu, carilah suasana baru dalam menulis puisi, misalnya di taman sekolah, taman kota, dan lain-lain. 3. Setelah selesai, kumpulkanlah puisi tersebut kepada guru Anda. Guru Anda akan meminta secara acak salah seorang di antara Anda untuk membacakan puisi tersebut.

Kegiatan Lanjutan

1. Buatlah beberapa puisi di rumah. Dalam hal ini, Anda dapat mempraktikkan teknik penulisan puisi yang telah dipelajari. 2. Anda dapat memuat puisi tersebut di majalah dinding sekolah. 3. Anda pun dapat mencoba untuk mengirimkan puisi-puisi tersebut ke media massa di kota Anda yang biasa memuat kolom puisi. Jangan lupa, cantumkan nama, alamat (rumah dan sekolah), serta surat pengantar yang berisi biodata.

Contoh Menulis Puisi – Info Sastra

Mengenal Angkatan ’66-’70-an Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan lain-lain pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jaya banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini, seperti Mottinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo, termasuk ‘Paus Sastra Indonesia’, H.B. Jassin.

Beberapa satrawan lain pada angkatan ini, yaitu Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya. Jika Anda ingin lebih mengetahui informasi tentang sejarah sastra Indonesia, Anda dapat mengakses situs www.id.wikipedia.org

Rangkuman

1. Kegiatan memperkenalkan diri biasa dilakukan dalam forum resmi, seperti diskusi. Kegiatan perkenalan bertujuan agar orang lain lebih mengenal biodata seseorang. Perkenalan dengan orang lain sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat kegiatan perkenalan diri, misalnya nama lengkap sampai hobi. 2 Dalam membaca cepat, Anda dituntut untuk mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Biasanya, kecepatan ini dikaitkan dengan tujuan membaca, keperluan, dan bahan bacaan. Kecepatan membaca dapat diukur dengan berapa banyak kata yang terbaca setiap menit. 3. Untuk dapat menguasai teknik membaca cepat, Anda harus memerhatikan hal-hal berikut: a. motivasi atau minat; b. penguasaan kosakata; c. kemampuan menemukan ide pokok; d. konsentrasi; dan e. gerak mata. 4. Langkah-langkah yang harus Anda lakukan dalam mengukur kecepatan membaca adalah sebagai berikut. a. Siapkan jam tangan atau stopwatch. b. Bacalah teks tersebut dalam waktu 1 menit (60 detik). c. Tandailah saat Anda mulai membaca (lebih mudah jika dimulai dari judul bacaan). d. Bacalah teks bacaan tersebut dengan kecepatan yang menurut Anda memadai. e. Tandailah kata akhir yang Anda baca. f. Hitung jumlah kata dalam teks yang Anda baca (tanda baca juga ikut dihitung). 5. Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut meliputi bunyi, kata, larik atau baris, bait, dan tipografi. 6. Lambang dalam puisi mungkin dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan. 7. Istilah pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan makna-makna abstrak menjadi konkret dan cermat.  Selain pengimajian, terdapat istilah pengiasan, yakni pengimajian dengan menggunakan kata-kata kias sehingga menimbulkan makna yang lebih kongkret dan cermat. 9. Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. 10. Jika berbicara tentang masalah bunyi dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang hal-hal berikut. a. Rima, menyangkut pengulangan bunyi yang berselang di larik puisi. b. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama tersebut, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral. c. Ragam bunyi meliputi euphony, cacophony, dan onomatope.

Refleksi Pelajaran

Anda telah berlatih memperkenalkan diri dalam forum resmi. Dengan demikian, rasa percaya diri Anda akan meningkat. Di samping itu, Anda pun dapat mengasah keterampilan tersebut dalam berbagai kesempatan diskusi atau seminar. Begitu juga dengan kemampuan membaca Anda. Anda akan semakin terlatih untuk membaca cepat. Semakin tinggi kecepatan membaca yang Anda miliki, kemampuan menyerap informasi pun akan meningkat. Dengan demikian, wawasan serta pemahaman Anda dalam kehidupan akan semakin baik. Hal ini berpengaruh pada kreativitas Anda dalam menulis puisi. Dengan menulis puisi, Anda dapat mencurahkan gagasan dan perasaan. Anda pun dapat melanjutkan kegiatan menulis tersebut dengan mengirimkan karya puisi hasil karya sendiri ke media massa. Jika karya Anda dimuat, selain akan menjadi kebanggaan tersendiri, uang saku pun akan bertambah.

 

Contoh Puisi dan Cara membaca puisi yang baik dan sesuai prosedur

Contoh Puisi dan Cara membaca puisi yang baik dan sesuai prosedur

Contoh Puisi dan Cara membaca puisi yang baik dan sesuai prosedur

Cara membaca puisi
Cara membaca puisi

Cara membaca puisi

(a) Volume suara adalah derajat keras atau lemahnya suara pada saat kalian membaca puisi yang dimaksud.
(b) Artikulasi suara adalah pengucapan kata demi kata dengan benar serta dengan suara yang jelas dan pilah.
(c) Intonasi adalah lagu membaca yang meliputi penggalan kata dan tinggi atau rendahnya suara pada saat kalian membaca baris demi baris puisi.

(d) Gerak tubuh meliputi gerak seluruh anggota tubuh: kaki, tangan, badan, dan kepala sesuai dengan isi puisi yang dibaca.
(e) Mimik adalah ekspresi atau perubahan wajah sesuai dengan karakteristik dan suasana (misalnya, sedih, semangat, atau gembira) yang digambarkan pada puisi yang dibaca.
(f) Pandangan mata adalah arah mata memandang; seharusnya pandangan mata ditujukan ke sagala penjuru tempat penonton berada.

Cara Membaca Puisi – Karya Chairil Anwar yang merupakan Sastrawan Angkatan 1945
1 Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
2 Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
4 Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang
5 Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
6 Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi