Mengemukakan Hal Menarik dalam Contoh Isi Cerpen

Mengemukakan Hal Menarik dalam Contoh Isi Cerpen

Mengemukakan Hal Menarik dalam Contoh Isi Cerpen

Contoh Isi Cerpen – Tahukah Anda A.A. Navis dan Najwa Shihab? A.A. Navis adalah cerpenis terkemuka yang telah melahirkan banyak karya. Sementara, Najwa Shihab adalah salah satu anchor (penyiar berita televisi) yang andal dan profesional. Inginkah Anda menjadi seperti mereka? Selain mereka, ada banyak lagi nama-nama tokoh yang berkompeten dalam bidang kepenulisan cerpen dan penyiaran. Cerpen dan siaran berita merupakan salah satu bentuk sumber informasi yang dapat diidentifikasi. Dalam cerpen, hal-hal yang dapat diidentifikasi adalah unsur-unsur intrinsik dan hal-hal menarik yang terkandung di dalamnya. Sementara dalam berita, hal-hal yang dapat diidentifikasi adalah pokok-pokok permasalahannya. Dalam pelajaran ini, berita yang bersumber dari siaran televisi dibuat transkripsinya agar dapat Anda pelajari. Berbagai pokok permasalahan tersebut dapat dikritik dengan memberikan tanggapan. Begitu juga dengan hasil identifikasi terhadap cerpen, Anda dapat mengemukakan tanggapan Anda.Dengan demikian, diharapkan daya kritis Anda akan semakin terlatih. Jika Anda tanggap dan kritis dalam menghadapi suatu fenomena, Anda dapat menjadi seorang cerpenis dan penyiar berita televisi yang andal.

Contoh Isi Cerpen
Contoh Isi Cerpen

Mengemukakan Hal Menarik dalam Cerpen

Contoh Isi Cerpen – Dalam pelajaran ini Anda akan berlatih mengemukakan hal-hal menarik dan mengesankan dalam cerita pendek. Sebelumnya, Anda harus membaca cerpen terlebih dahulu dengan saksama. Dengan demikian, diharapkan kemampuan apresiasi Anda terhadap karya sastra pun akan bertambah.

Cerpen sebagai karya fiksi dibangun oleh unsur-unsur pembangun di dalamnya, yakni oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Cerpen memiliki unsur peristiwa, alur, tema, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Karena bentuknya yang pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detildetil khusus “kurang penting” yang lebih bersifat memperpanjang cerita. Cerpen sebagai karya sastra prosa memiliki unsur-unsur dalam (intrinsik) yang membangunnya. Hal yang pelu diperhatikan adalah unsur-unsur tersebut membentuk kesatuan yang utuh. Dalam hal ini, satu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya. Cerpen dapat dibedakan antara cerpen hiburan dan cerpen serius. Dalam istilah kita dibedakan antara cerpen sastra dan cerpen hiburan. Perbedaan kedua jenis cerpen ini adalah pada kualitas isi cerpen. Banyak sebagian cerpenis yang menghasilkan baik cerpen hiburan maupun sastra dengan cara yang tidak jauh berbeda. Contoh cerpenis yang ahli dalam membuat cerpen hiburan maupun cerpen sastra adalah Mottinggo Busye, Ahmad Tohari, Jajak M.D., dan Asbari Nurpatria Krisna.

Contoh Isi Cerpen

Bacalah cerpen berikut dengan cermat.

Shalawat Badar Karya Ahmad Tohari

Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus itu bersama isinya. Untung bus tak begitu penuh sehingga sesama penumpang tak perlu bersinggungan badan. Namun, dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk. Begitu bus berhenti, puluhan pedagang asongan menyerbu masuk. Bahkan beberapa di antara mereka sudah membajingloncat ketika bus masih berada di mulut terminal bus menjadi pasar yang sangat hirukpikuk. Celakanya, mesin bus tidak dimatikan dan sopir melompat turun begitu saja. Dan para pedagang asongan itu menawarkan dagangan dengan suara melengking agar bisa mengatasi derum mesin. Mereka menyodor-nyodorkan dagangan, bila perlu sampai dekat sekali ke mata para penumpang. Kemudian, mereka mengeluh ketika mendapati tak seorang pun mau berbelanja. Seorang di antara mereka malah mengutuk dengan mengatakan para penumpang adalah manusia-manusia kikir, atau manusia-manusia yang tak punya duit. Suasana sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan keadaan yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau dengan seorang perempuan penjual buah. Sementara para penumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel, aku mencoba bersikap lain. Perjalanan semacam ini sudah puluhan kali aku alami. Dari pengalaman seperti itu aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan tak perlu dikeluhkan karena sama sekali tidak mengatasi keadaan. Supaya jiwa dan raga tidak tersiksa, aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Maka kubaca semuanya dengan tenang: Sopir yang tak acuh terhadap nasib para penumpang itu, tukang-tukang asongan yang sangat berisikitu, dan lelaki yang setengah mengantuk sambil mengepulkan asap di belakangku itu.

Contoh Isi Cerpen

Masih banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus. Celana, baju, dan kopiahnya berwarna hitam. Dia naik dari pintu depan. Begitu naik lelaki itu mengucapkan salam dengan fasih. Kemudian dari mulutnya mengalir Shalawat Badar dalam suara yang bening. Tangannya menadahkan mangkuk kecil. Lelaki itu mengemis. Aku membaca tentang pengemis ini dengan perasaan yang sangat dalam. Aku dengarkan baik-baik shalawatnya. Ya, persis. Aku pun sering membaca shalawat seperti itu terutama dalam pengajian-pengajian umum atau rapatrapat. Sekarang kulihat dan kudengar sendiri ada lelaki membaca Shalawat Badar untuk mengemis. Kukira pengemis itu sering mendatangi pengajianpengajian. Kukira dia sering mendengar ceramahceramah tentang kebaikan hidup baik dunia maupun akhirat. Lalu dari pengajian seperti itu dia hanya mendapat sesuatu untuk membela kehidupannya di dunia. Sesuatu itu adalah Shalawat Badar yang kini sedang dikumandangkannya sambil menadahkan tangan. Ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu, maka tanganku bergerak merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Ada banyak hal dapat dibaca pada wajah si pengemis itu. Di sana aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan. Wajah-wajah seperti itu sangat kuhafal karena selalu hadir mewarnai pengajian yang sering diawali dengan Shalawat Badar. Ya. Jejak-jejak pengajian dan ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup ada berbekas pada wajah pengemis itu. Lalu mengapa dari pengajian yang sering didatanginya ia hanya bisa menghafal Shalawat Badar dan kini menggunakannya untuk mengemis?

Contoh Isi Cerpen

Ah, kukira ada yang tak beres. Ada yang salah. Sayangnya, aku tak begitu tega menyalahkan pengemis yang terus membaca shalawat itu. Perhatianku terhadap si pengemis terputus oleh bunyi pintu bus yang dibanting. Kulihat sopir sudah duduk di belakang kemudi. Kondektur melompat masuk dan berteriak kepada sopir. Teriakannya ditelan oleh bunyi mesin disel yang meraung-raung. Kudengar kedua awak bus itu bertengkar. Kondektur tampaknya enggan melayani bus yang tidak penuh, sementara sopir sudah bosan menunggu tambahan penumpang yang ternyata tak kunjung datang. Mereka bertengkar melalui kata-kata yang tak sedap didengar. Dan bus terus melaju meninggalkan terminal Cirebon. Sopir yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang. “He, siral kenapa kamu tidak turun? Mau jadi gembel di Jakarta? Kamu tidak tahu gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?” Pengemis itu diam saja. “Turun!” “Sira beli mikir? Bus cepat seperti ini aku harus turun?” “Tadi siapa suruh kamu naik?” “Saya naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya cuma mau ngemis, kok. Coba, suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh.” Kondektur kehabisan kata-kata. Dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya bulatbulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela diperlakukan sebagai apa saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat. Kondektur berlalu sambil bersungut. Si pengemis yang merasa sedikit lega, bergerak memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali bergumam: “… shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah….” Shalawat itu terus mengalun dan terdengar makin jelas karena tak ada lagi suara kondektur. Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing. Aku pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara shalawat dan mana derum mesin diesel. Boleh jadi aku sudah berada di alam mimpi dan di sana kulihat ribuan orang membaca shalawat. Anehnya,mereka yang berjumlah banyak sekali itu memiliki rupa yang sama. Mereka semuanya mirip sekali dengan pengemis yang naik dalam bus yang kutumpangi di terminal Cirebon. Dan dalam mimpi pun aku berpendapat bahwa mereka bisa menghafal teks shalawat itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup di dunia maupun akhirat. Dan dari ceramah-ceramah seperti itu mereka hanya memperoleh hafalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan tangan. Kukira aku masih dalam mimpi ketika kurasakan peristiwa yang hebat. Mula-mula kudengar guntur  meledak dengan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa di antaranya kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun aku tersandung batu dan jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah. Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lobang hidungku. Ketika kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti Kudengar orangorang merintih. Lalu samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikit pun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali ke arah kota Cirebon. Telingaku dengan gamblang mendengar suara lelaki yang terus berjalan dengan tenang ke arah timur itu: “Shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah.. . Sumber: Kumpulan cerpen Senyum Karyamin, 1989

Contoh Isi Cerpen

Setelah membaca cerpen tersebut, apakah Anda menemukan hal menarik untuk ditanggapi? Anda dapat menanggapi dari sudut tokoh, tema, ataupun amanat di dalamnya. Salah satu hal yang menarik dari sebuah cerpen adalah hadirnya alur. Ketegangan saat mengikuti sebuah cerita memang menyenangkan dan menjadi hiburan tersendiri. Terkadang, cerita hiburan bertumpu pada plotnya dan kurang menggarap tema. Inti dari munculnya permasalahan adalah berbenturannya watak-watak tokoh. Para tokoh masing-masing memiliki sikap dan sifat sendiri. Ketegangan dalam cerpen akan menjadi daya tarik sendiri dalam sebuah cerpen. Alur cerita dalam cerpen “Shalawat Badar” karya Ahmad Tohari menggunakan teknik alur cerita yang konvensional. Dalam hal ini, konfilik berawal dari pengenalan sang tokoh “aku” tentang keadaan bus yang ia tumpangi di sebuah terminal. Kemudian, timbul konflik batin tokoh “aku” tentang keadaannya. Hal ini digambarkan dengan kondisi bus yang berisi penumpang dan para pedagang asongan. Permasalahan yang ada dalam diri si tokoh “aku” semakin memuncak manakala datang seorang pengemis yang menjadikan shalawat yang sakral sebagai media untuk mencari nafkah dari belas kasihan para penumpang. Permasalahan semakin memuncak (klimaks) saat sopir dan kondektur bertengkar. Selain itu, konflik muncul lagi saat kondektur bus bertengkar dengan si pengemis tadi. Puncaknya adalah saat bus tersebut bertabrakan dengan sebuah truk. Pada bagian akhir, dikisahkan bahwa si pengemis yang selalu mengumandangkan shalawat selamat dari kecelakaan dan tidak terluka sedikit pun. Pada akhir cerita, pembaca disuguhi persepsi masing-masing terhadap keadaan akhir tiap tokoh. Peredaan persepsi tersebut muncul akibat adanya perbedaan pola pikir dan sudut pandang (subjektivitas) pembaca.

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Contoh Cerita Pendek
Contoh Cerita Pendek

Contoh Cerita Pendek – Tentu kalian pernah membaca cerpen. Siapa pengarang cerpen, yang karya-karyanya kalian sukai? Kalian barangkali mengenal namanama, seperti Ahmad Tohari, Nh. Dini, Seno Gumira Ajidarma, dan Jenar Mahesa Ayu. Mereka adalah pengarang-pengarang cerpen yang namanya sudah terkenal. Apakah kalian ingin terkenal seperti mereka? Kalian dapat menjadi cerpenis terkenal jika rajin dan tekun berlatih. Dengan terus berlatih menulis cerpen, kalian akan makin terampil sehingga harapan kalian untuk bisa terkenal seperti mereka akan dapat terwujud. Di bawah ini, disajikan sebuah cerpen karya temanmu, Rina Lizza R. Silakan kalian baca cerpen itu di dalam hati! Sambil membaca, buatlah catatan di buku tulis kalian, tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sekarang, silakan kalian mulai membaca cerpen ini!

Contoh Cerita Pendek – Pak Tua Rina Lizza Tubuhku menciut diselimuti udara yang dingin pagi itu. Kugosok-gosokkan jemariku dan kurapatkan dekapan mantel bututku. Tadi malam hujan cukup deras. Pantas, udara pagi ini jadi begitu dingin. Kulihat beberapa orang berjalan tergesa-gesa, berusaha mengusir hawa dingin di tubuhnya. Seorang ibu melilitkan syal hangat berwarna merah jambu di leher anaknya. Terlintas perasaan iri di benakku: Aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. ”Hei, jangan melamun! Pikirkan akan ke mana kita hari ini.” Sebuah suara mengusik lamunanku. Dengan enggan kuangkat badanku dan berjalan terseok-seok mengikuti langkah pria yang tadi membentakku. Kata orang, dia bekas konglomerat, tak ada yang tahu nama aslinya. Hanya saja, orang-orang memanggilnya dengan sebutan Pak Tua. ”Pak, memangnya kita mau ke mana sekarang?” suaraku terdengar parau, seperti habis dicekik, aku nyaris tak mengenali suaraku sendiri. Kutunggu jawaban Pak Tua, tapi yang kudengar hanya helaan napasnya, ”Aku tak tahu,” ujarnya enggan. Kutatap punggungnya dari belakang, dekat, tetapi terasa amat jauh. Aku selalu merasa ia adalah orang tua yang kesepian. Di balik asap rokoknya kutemukan tatapan kosong dan raut penuh kesedihan. Walau begitu, aku tak pernah berani bertanya masa lalunya sebab aku pun punya masa lalu yang tak bisa kujelaskan. Akhir-akhir ini, kami selalu bangun lebih awal, kata Pak Tua, sekarang ini jika tidak rajin kita akan tersikut pendatang baru.

Contoh Cerita Pendek – Selain itu, kami sengaja berlatih beberapa bait puisi dan lagu baru yang sedang in. Untuk anak tujuh tahun sepertiku, bukan hal sulit untuk menghafal beberapa lagu sekaligus. Lagi pula selagi aku masih balita, ibu selalu mengajariku menghafal ayat-ayat kitab suci sehingga aku telah terbiasa menghafal. ”Hei, sudah berapa kali aku bilang? Jangan melamun! Lihat, antrean sudah panjang,” suaranya lebih mirip ancaman di telingaku. Karena tiga kali teguran berarti

jatah makan hari ini berkurang. Deretan mobil-mobil seperti tak ada ujungnya, kami menghampiri satu per satu. Jika beruntung, kami mendapat lebih dari sepuluh ribu rupiah seharinya. Begitulah rutinitas kami setiap hari, bangun, bekerja lalu saat malam menjemput, kami kembali ke tempat Pak Tua. Sungguh harihari yang berat. Peluh di tubuhku adalah lapisan kulitku yang kedua. ”Kau tahu? Aku tak suka melihatmu melamun begitu. Wajahmu saat melamun, selalu mengingatkan aku akan anakku, aku sangat merindukannya,” ujarnya sendu, matanya terus menerawang entah ke mana, sedangkan tangannya tak pernah lepas dari rokok kreteknya. ”Sudahlah, cepat makan, kalau sudah dingin, lauknya tak enak.” ”Bapak juga jangan melamun karena wajah Bapak saat melamun mirip wajah ayahku.” Ah, apa yang aku katakan? Sekilas kulihat Pak Tua terkejut mendengar ucapanku barusan. Padahal aku hanya bermaksud menghiburnya, tapi sepertinya ia tak suka mendengarnya. ”Nama anakku sama dengan namamu, Henry. Ia juga seusia denganmu. Bedanya, sekarang ini mungkin ia sedang makan enak di rumah orang kaya. Ia anak yang baik dan pintar, tapi sayang ibunya gila.” ”Maksud Bapak, ibunya kurang waras? Dia istri Bapak, lantas kenapa sekarang Bapak di sini, tidak bersama anak dan istri Bapak?” ”Kau masih kecil, tak akan mengerti. Di dunia ini seringkali uang menjadikan seseorang gelap mata, lupa segalanya. Perempuan itu gila, bukan otaknya yang terganggu, tapi nuraninya. Ia gila harta. Bapak di sini karena Bapak bukan hamba uang, mungkin pekerjaan Bapak sebagai seorang seniman telah membuat Bapak kehilangan anak dan istri Bapak. Sudahlah hari sudah larut, besok kita harus bekerja lagi.” Ia mengakhiri ceritanya dengan desahan panjang seperti biasa, namun kali ini desahannya terasa lebih pilu. Kata-katanya tadi sedikit pun tidak aku pahami. Aku sendiri merupakan anak terbuang. Ibu tak menginginkan aku dan membuangku saat masih balita ke panti asuhan. Aku tak suka tempat itu karena itulah aku ada di sini sekarang. Aku terus berpikir tentang kata-kata Pak Tua yang tak aku pahami, hingga tak terasa aku tertidur dan saat kubuka mataku, matahari sudah tinggi di ujung cakrawala. Aneh, hari ini tak ada suara Pak Tua yang membangunkanku, mungkin ia kelelahan semalam. Kubuka mataku perlahan, berusaha menyambut pagi dengan semangat yang baru. Tapi, apa yang kutemukan justru membuat semangatku rontok. Orang banyak berkerumun di sampingku, suara mereka berisik sekali, ada apa ini? ”Adik kenal dengan Bapak ini?” Petugas polisi berseragam lengkap menanyaiku dengan wajah serius. ”Ya, memangnya ada apa dengannya? Mengapa orang-orang mengerumuninya?

Contoh Cerita Pendek – ”Ia ditemukan meninggal semalam. Mungkin adik tahu penyebabnya?” Apa? Tak mungkin. Ia masih bercakap-cakap denganku tadi malam. Polisi tadi pasti sedang bergurau. Aku menerobos kerumunan orang yang mengelilingi Pak Tua. Apa yang aku lihat membuatku tak ingin mempercayai mata kepalaku sendiri. Ia tergeletak, ia telah tiada. Aku menangis sejadi-jadinya. Ia adalah orang yang selama ini telah menggantikan posisi ayah di hatiku. Di sampingnya, berlutut seorang wanita muda yang cantik. Sepertinya ia sudah menangis sedari tadi. Ingatanku mengatakan bahwa aku mengenalinya. ”Ibu?” kataku perlahan. ”Nak, itukah kau? Ke mana saja kau selama ini? Mengapa kau lari dari panti asuhan? Ibu mencarimu, Nak!” ”Bohong! Untuk apa ibu ada di sini? Untuk mengajakku kembali ke panti asuhan lagi?” ”Ini ayahmu, Nak. Yang terbaring di sini adalah ayah kandungmu. Ibu bersalah, ibu khilaf. Tapi, semua sepertinya sudah terlambat.” Aku tak mengerti ucapan ibu, tapi hanya satu yang aku pahami, Pak Tua ternyata adalah ayahku. Mengapa ia harus bersusah payah mencari dan merindukan anaknya? Padahal Henry yang selama ini ia cari selalu berada di sampingnya. Ayah, ini anakmu, bangunlah, Ayah! Jangan mati, ini anakmu! Oh, Tuhan berikan kami kesempatan sekali lagi. Ayah, aku selama ini pun telah menganggap engkau sebagai ayahku. Sumber: Pikiran Rakyat, 17 Juli 2005

Bagaimana pendapatmu tentang cerita ”Pak Tua” tersebut? Apakah kalian dapat menceritakan kembali cerpen tersebut? Hal yang perlu kalian lakukan agar kalian dapat menceritakan kembali isi cerpen tersebut adalah sebagai berikut. 1. Tulislah pokok-pokok peristiwa pada cerpen tersebut! 2. Tuliskan siapa yang mengalami peristiwa-peristiwa tersebut! 3. Ceritakan peristiwa-peristiwa tersebut secara urut! 4. Jika diperlukan, kalian dapat menambahkan petikan dialog tokoh-tokohnya.

Contoh Cerita Pendek

1. Ceritakan kembali isi cerpen ”Pak Tua” dengan menggunakan kalimatmu sendiri! 2. Dapatkah kalian menyebutkan tokoh-tokoh pada cerpen itu? a. Siapakah yang berkedudukan sebagai tokoh protagonis? b. Siapakah yang berkedudukan sebagai tokoh antagonis? c. Adakah tokoh yang berkedudukan sebagai tokoh tritagonis? Jika ada, sebutkan! 3. Di manakah peristiwa-peristiwa pada cerpen itu terjadi? Kapan peristiwa-peristiwa itu terjadi? 4. Temukan keterkaitan unsur intrinsik dalam cerpen tersebut terhadap kehidupan sehari-hari. Tunjukkan dengan teks yang mendukung dan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikan pendapatmu tentang masalah ini! 1. Diskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen tersebut! 2. Di dalam cerpen tersebut dikisahkan tentang seorang anak yang ”dititipkan” oleh ibunya di panti asuhan. Bagaimana pendapatmu tentang peristiwa tersebut? Mungkinkah hal seperti itu terjadi saat ini? 3. Jika kalian mengalami kejadian yang dialami tokoh ”Aku”, apa yang akan kamu lakukan? 1. Bersama teman sebangkumu, silakan kamu tirukan adegan dalam cerpen itu! a. Anak laki-laki berjalan mengikuti laki-laki tua dengan langkah pelan. b. Seorang anak mengamen di jalan-jalan. c. Seorang wanita menangis melihat jenazah suaminya. 2. Ucapkan petikan dialog di bawah ini dengan suara yang jelas! a. ”Hei, jangan melamun!” b. ”Pak, memangnya kita mau ke mana sekarang?” c. ”Hei, sudah berapa kali aku bilang? Jangan melamun! Lihat, antrean sudah panjang!” d. ”Kau tahu? Aku tak suka melihatmu melamun begitu. Wajahmu saat melamun selalu mengingatkan aku akan anakku, aku sangat merindukannya.” e. ”Bapak juga jangan melamun karena wajah Bapak saat melamun mirip wajah ayahku.” f. ”Maksud Bapak, ibunya kurang waras?”

Contoh Cerita Pendek