Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru
Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru – Menulis memerlukan latihan yang terus-menerus. Sebagai sebuah keterampilan, menulis memang bisa dipelajari, tetapi selebihnya merupakan kreativitas seseorang. Oleh karena itu, daya kreatif sangat penting bagi seorang penulis. Menulis juga bukan sekadar menuangkan ide, melainkan harus benar-benar didukung oleh kemampuan menulis yang baik pula. Menjadi penulis yang baik inilah yang harus Anda cita-citakan. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memanfaatkan semua jenis media untuk dijadikan latihan menulis. Apabila di sekolah Anda terdapat majalah dinding (mading), buletin sekolah, dan tabloid sekolah, Anda dapat gunakan semua itu sebagai media belajar menulis. Mulailah menulis dari media-media itu, sebelum Anda menulis di koran-koran umum.

Jenis-jenis Puisi Baru – Tulisan berkait dengan dua aspek penting. Pertama, berkait dengan masalah materi (isi). Kedua, berkait dengan masalah teknik kebahasaan. Menulis puisi merupakan proses kreatif yang harus dilatihkan oleh mereka yang ingin menjadi penyair. Proses kreatif harus ditumbuhkan dalam diri sendiri agar kita dapat berkarya secara baik. Dalam menulis puisi terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, yakni pemilihan tema, diksi, rima, dan gaya bahasa. Pada pelajaran sebelumnya, Anda sudah belajar menulis puisi lama! Senang, bukan? Bagaimana kalau kita mencoba lagi? Akan tetapi, sekarang kita akan menulis puisi baru. Mari kita mulai belajar menulis puisi baru! Semoga menyenangkan! Puisi baru tidak sama dengan puisi lama. Isi, bentuk, irama, dan bentuk persajakanyang terdapat dalam puisi lama sudah berubah pada puisi baru. Terutama mengenai isi pada puisi baru, isinya pun dilukiskan dalam bahasa yang bebas dan lincah. Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya, puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk puisi, yaitu: a. Sajak dua seuntai atau distikon b. Sajak tiga seuntai atau terzina c. Sajak empat seuntai atau quatrain d. Sajak lima seuntai atau quint e. Sajak enam seuntai atau sektet f. Sajak tujuh seuntai atau septima g. Sajak delapan seuntai atau oktaf atau stanza Puisi baru selain dibagi berdasarkan jumlah baris yang terkandung dalam tiaptiap baitnya, juga dibagi berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya. Bentukbentuk puisi baru yang dibagi berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut. 1. Ode, yaitu sajak yang berisikan tentang puji-pujian pada pahlwan, atau sesuatu yang dianggap mulia. 2. Himne, yaitu puisi atau sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa. Himne disebut juga sajak Ketuhanan. 3. Elegi, yaitu puisi atau sajak duka nestapa. 4. Epigram, yaitu puisi atau sajak yang mengandung bisikan hidup yang baik dan benar, mengandung ajaran nasihat dan pendidikan agama. 5. Satire, yaitu sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme) kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. 6. Romance, yaitu sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian,dan sebagainya. 7. Balada, yaitu puisi atau sajak yang berbentuk cerita. Selain bentuk-bentuk puisi di atas, pada puisi baru juga terdapat satu bentuk puisi yang lain, yaitu soneta. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat mengenai puisi baru.

Jenis-jenis Puisi Baru

h. Soneta Perkataan Soneta berasal dari kata Sonetto dalam bahasa Italia yang terbentuk dari kata latin Sono yang berarti ‘bunyi’ atau ‘suara’. Adapun syarat-syarat soneta (bentuknya yang asli) adalah sebagai berikut. • Jumlah baris ada 14 buah. • Keempat belas baris terdiri atas 2 buah quatrain dan 2 buah terzina. • Jadi pembagian bait itu: 2 × 4 dan 2 × 3. • Kedua buah kuatrain merupakan kesatuan yang disebut stanza atau oktaf. • Kedua buah terzina merupakan kesatuan, disebut sextet. • Octav berisi lukisan alam; jadi sifatnya objektif • Sextet berisi curahan, jawaban, atau kesimpulan sesuatu yang dilukiskan dalam oktaf; jadi sifatnya subjektif. • Peralihan dari oktaf ke sektet disebut volta. • Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 dan 14 suku kata. • Rumus dan sajaknya a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c, d-c-d. Lama kelamaan para pujangga tidak mengikuti syarat-syarat di atas. Pembagian atas bait-bait, rumus sajak serta hubungan isinya pun mengalami perubahan. Yang tetap dipatuhinya hanyalah jumlah baris yang 14 buah itu saja. Bahkan acapkali jumlah yang 14 baris dirasa tak cukup oleh pengarang untuk mencurahkan angan-angannya. Itulah sebabnya lalu ditambah beberapa baris menurut kehendak pengarang. Tambahan itu disebut Cauda yang berarti ekor. Karena itu, kini kita jumpai beberapa kemungkinan bagan. Soneta Shakespeare, misalnya mempunyai bagan sendiri mengenai soneta-soneta gubahannya, yakni: Pembagian baitnya : 3 × 4 dan 1 × 2. Sajaknya : a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-g. Demikian pula pujangga lain, termasuk pujangga soneta Indonesia mempunyai cara pembagian bait serta rumus-rumus sajaknya sendiri.

1. Puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu (1) sajak dua seuntai atau distikon, (2) sajak tiga seuntai atau terzina, (3) sajak empat seuntai atau quatrain, (4) sajak lima seuntai atau quint, (5) sajak enam seuntai atau sektet, (6) sajak tujuh seuntai atau septima, (7) sajak delapan seuntai atau oktaf atau stanza. 2. Bentuk-bentuk puisi baru yang dibagi berdasarkan isi, misalnya ode, himne, elegi, epigram, satire, romance, dan balada. 3. Cerita pendek (cerpen) adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu peristiwa atau kejadian.

Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Peristiwa”. Di antaranya Anda mengaitkan nilai-nilai yang ada dalam cerpen dengan kehidupan sehari-hari. Dalam cerpen “Menunggu Saat Bintang Jatuh” Anda menemukan nilai tentang hubungan anak dan ayah angkatnya yang kurang harmonis. Sang ayah tidak menyetujui hubungan anak angkatnya dengan seorang pria yang dia anggap telah menyebabkan anak dan istrinya meninggal. Padahal sebenarnya anak dan istrinya tersebut meninggal karena penyakit deman berdarah. Peristiwa dan nilai-nilai dalam cerpen tersebut pernah Anda temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana sikap Anda jika permasalahan yang terjadi pada Anda? Jawaban dapat menjadi bahan refleksi Anda.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Pakaian pengantin perempuan itu sangat bagus. warnanya terang dan gemerlapan dihiasi dengan jalur-jalur keemasan. Begitu juga hiasan di kepala berkilauan ditimpa cahaya lampu. Semua itu dipandang oleh Diah dengan penuh perhatian. Sebenarnya banyak yang akan ditanyakan kepada Ibu, tetapi belum ada kesempatan sebab ibu masih asyik bercakap-cakap. Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam kutipan cerpen di atas adalah … . a. orang pertama pelaku utama b. orang pertama pelaku sampingan c. orang pertama pelaku utama d. orang ketiga di luar cerita e. orang kedua pelaku utama 2. Pasar burung itu kecil saja. Dan semakin terasa sesak karena dipenuhi oleh burung-burung yang kian hari kian berbiak. Selain dihuni oleh para burung, pasar itu dipimpin oleh Mister Omzet dan dijaga oleh Parnoranger. Pak boss punya cita-cita, walaupun pasar itu cuma sebuah pasar burung kecil tetapi bisa berkembang menjadi pasar burung besar dan modern. Mungkin kelak akan menjadi departement store burung. “Untuk itu harus dikelola secara baik dan profesional,” begitu kata Pak Boss. Cerpen “Pasar Burung” karya La Fang

Jenis-jenis Puisi Baru Nilai yang terkandung pada penggalan cerpen di atas adalah … a. Setiap orang mempunyai angan-angan di masa depan. b. Kita tidak boleh mempunyai mimpi yang terlalu tinggi. c. Mimpi seorang bos mungkin bisa terwujud. d. Setiap orang boleh mempunyai mimpi tetapi harus melihat kemampuan. e. Kita tidak boleh berangan-angan yang tidak mungkin bisa diwujudkan. 3. Satire adalah … . a. sajak yang berisikan tentang puji-pujian pada pahlwan, atau sesuatu yang dianggap mulia b. puisi atau sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa c. sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme) kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat d. sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian,dan sebagainya e. puisi atau sajak duka nestapa 4. Sajak quartrain adalah … . a. a-a b. a-b-a-b c. a-b-b d. a-a-a-a e. a-b-b-a 5. Sajak tiga seuntai disebut juga … . a. terzina b. quartrain c. distikon d. quint e. sektet

Jenis-jenis Puisi Baru B. Kerjakanlah dengan tepat! 1. Bacalah satu buah cerpen dalam surat kabar mingguan, kemudian analisislah unsur-unsur intrinsik cerpen tersebut! 2. Analisislah nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen yang telah dibaca pada soal 1! 3. Tulislah keterkaitan cerita pendek “Labirin Cahaya” dengan kehidupan sehari-hari! 4. Tulislah sebuah puisi tiga seuntai (terzina)! 5. Tulislah sebuah puisi enam seuntai (sektet)!

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Contoh Menulis Puisi
Contoh Menulis Puisi

Contoh Menulis Puisi – Pada contoh puisi tersebut juga dapat kita jumpai adanya pengulangan kata “ketika” di antara bait-bait. Ulangan kata demikian disebut rima identik. Contoh lain misalnya, dapat diamati pada puisi berjudul “Sajak Samar” karya Abdul Hadi W.M. berikut.

da yang memisahkan kita, jam dinding ini ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini ada. Tapi tak ada kucium waangi kainmu sebelum pergi tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri.

Contoh Menulis Puisi

Pengulangan bunyi disebut rima sempurna jika meliputi baik pengulangan konsonan maupun vokal, seperti tampak pada bentuk “pergi” dan “sendiri”, larik 3 dan 4 puisi tersebut. Adapun pengulangan bunyi disebut rima rupa jika pengulangan hanya tampak pada penulisan suatu bunyi, sedangkan pelafalannya tidak sama. Misalnya, rima antara bunyi vokal /u/ dalam bentuk “bulan”

serta bunyi vokal /u/ dalam “belum”, seperti tampak pada salah satu puisi Abdul Hadi W.M. berjudul “Dan Bajumu” berikut.

Contoh Menulis Puisi – Pasang bajumu. Dingin akan lalu melewat menyusup dekat semak-semak pohon kayu Tapi bulan belum kelihatan, puncak-puncak bukit sudah berhenti membandingkan dukamu, sehari keluh kesah

Anda tentunya telah mengenal istilah euphony sebagai salah satu ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana keriangan, vitalitas, maupun gerak. Bunyi euphony umumnya berupa bunyibunyi vokal. Anda sendiri dapat mengetahui bahwa kata-kata yang mengandung sesuatu yang menyenangkan umumnya mengandung bunyi vokal, seperti tampak pada kata “gembira”, “bernyanyi”, “berlari”, dan lain-lain. Pada puisi “Salju” tersebut, Anda dapat melihat adanya kata “pergi/mencari/matahari”. Berkebalikan dengan bunyi euphony, bunyi cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin, kebekuan, kesepian ataupun kesedihan. Jika bunyi euphony umumnya terdapat dalam bentuk vokal, bunyi cacophony umumnya berupa bunyi-bunyi konsonan yang berada di akhir kata. Bunyi konsonan itu dapat berupa bunyi bilabial, seperti nampak pada larik-larik ketika tubuh kuyup dan pintu tertutup. Peranan bunyi dalam puisi meliputi hal-hal berikut: – untuk menciptakan nilai keindahan lewat unsur musikalitas atau kemerduan; – untuk menuansakan makna tertentu sebagai perwujudan rasa dan sikap penyairnya; – untuk menciptakan suasana tertentu sebagai perwujudan suasana batin dan sikap penyairnya.

Contoh Menulis Puisi

4. Majas dalam Puisi Beberapa contoh majas yang ada dalam puisi adalah sebagai berikut. a. Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya, misalnya, “cemara pun gugur daun” mengungkapkan makna “ketidakabadian kehidupan”. b. Metonimia, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. Misalnya, “Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu”. “Kuntum bunga” di situ mewakili makna tentang remaja yang sedang tumbuh untuk mencapai cita-cita hidupnya. c. Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa. Misalnya, terdapat dalam salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.

Kita tinggalkan kota ini, ketika menyeberang sungai terasa waktu masih mengalir di luar diri kita. Awas, jangan menoleh, tak ada yang memerlukan kita lagi tak ada yang memanggil kembali.

d. Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. Misalnya, pada salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.

Begini: kita mesti berpisah. Sebab Sudah terlampau lama bercinta

Contoh Menulis Puisi – Uji Materi

1. Tulislah sebuah puisi dengan tema bebas yang sesuai dengan suasana hati Anda sekarang. 2. Jika perlu, carilah suasana baru dalam menulis puisi, misalnya di taman sekolah, taman kota, dan lain-lain. 3. Setelah selesai, kumpulkanlah puisi tersebut kepada guru Anda. Guru Anda akan meminta secara acak salah seorang di antara Anda untuk membacakan puisi tersebut.

Kegiatan Lanjutan

1. Buatlah beberapa puisi di rumah. Dalam hal ini, Anda dapat mempraktikkan teknik penulisan puisi yang telah dipelajari. 2. Anda dapat memuat puisi tersebut di majalah dinding sekolah. 3. Anda pun dapat mencoba untuk mengirimkan puisi-puisi tersebut ke media massa di kota Anda yang biasa memuat kolom puisi. Jangan lupa, cantumkan nama, alamat (rumah dan sekolah), serta surat pengantar yang berisi biodata.

Contoh Menulis Puisi – Info Sastra

Mengenal Angkatan ’66-’70-an Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan lain-lain pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jaya banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini, seperti Mottinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo, termasuk ‘Paus Sastra Indonesia’, H.B. Jassin.

Beberapa satrawan lain pada angkatan ini, yaitu Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya. Jika Anda ingin lebih mengetahui informasi tentang sejarah sastra Indonesia, Anda dapat mengakses situs www.id.wikipedia.org

Rangkuman

1. Kegiatan memperkenalkan diri biasa dilakukan dalam forum resmi, seperti diskusi. Kegiatan perkenalan bertujuan agar orang lain lebih mengenal biodata seseorang. Perkenalan dengan orang lain sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat kegiatan perkenalan diri, misalnya nama lengkap sampai hobi. 2 Dalam membaca cepat, Anda dituntut untuk mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Biasanya, kecepatan ini dikaitkan dengan tujuan membaca, keperluan, dan bahan bacaan. Kecepatan membaca dapat diukur dengan berapa banyak kata yang terbaca setiap menit. 3. Untuk dapat menguasai teknik membaca cepat, Anda harus memerhatikan hal-hal berikut: a. motivasi atau minat; b. penguasaan kosakata; c. kemampuan menemukan ide pokok; d. konsentrasi; dan e. gerak mata. 4. Langkah-langkah yang harus Anda lakukan dalam mengukur kecepatan membaca adalah sebagai berikut. a. Siapkan jam tangan atau stopwatch. b. Bacalah teks tersebut dalam waktu 1 menit (60 detik). c. Tandailah saat Anda mulai membaca (lebih mudah jika dimulai dari judul bacaan). d. Bacalah teks bacaan tersebut dengan kecepatan yang menurut Anda memadai. e. Tandailah kata akhir yang Anda baca. f. Hitung jumlah kata dalam teks yang Anda baca (tanda baca juga ikut dihitung). 5. Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut meliputi bunyi, kata, larik atau baris, bait, dan tipografi. 6. Lambang dalam puisi mungkin dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan. 7. Istilah pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan makna-makna abstrak menjadi konkret dan cermat.  Selain pengimajian, terdapat istilah pengiasan, yakni pengimajian dengan menggunakan kata-kata kias sehingga menimbulkan makna yang lebih kongkret dan cermat. 9. Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. 10. Jika berbicara tentang masalah bunyi dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang hal-hal berikut. a. Rima, menyangkut pengulangan bunyi yang berselang di larik puisi. b. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama tersebut, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral. c. Ragam bunyi meliputi euphony, cacophony, dan onomatope.

Refleksi Pelajaran

Anda telah berlatih memperkenalkan diri dalam forum resmi. Dengan demikian, rasa percaya diri Anda akan meningkat. Di samping itu, Anda pun dapat mengasah keterampilan tersebut dalam berbagai kesempatan diskusi atau seminar. Begitu juga dengan kemampuan membaca Anda. Anda akan semakin terlatih untuk membaca cepat. Semakin tinggi kecepatan membaca yang Anda miliki, kemampuan menyerap informasi pun akan meningkat. Dengan demikian, wawasan serta pemahaman Anda dalam kehidupan akan semakin baik. Hal ini berpengaruh pada kreativitas Anda dalam menulis puisi. Dengan menulis puisi, Anda dapat mencurahkan gagasan dan perasaan. Anda pun dapat melanjutkan kegiatan menulis tersebut dengan mengirimkan karya puisi hasil karya sendiri ke media massa. Jika karya Anda dimuat, selain akan menjadi kebanggaan tersendiri, uang saku pun akan bertambah.