Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Cara Tentang Contoh Menulis Puisi Yang baik

Contoh Menulis Puisi
Contoh Menulis Puisi

Contoh Menulis Puisi – Pada contoh puisi tersebut juga dapat kita jumpai adanya pengulangan kata “ketika” di antara bait-bait. Ulangan kata demikian disebut rima identik. Contoh lain misalnya, dapat diamati pada puisi berjudul “Sajak Samar” karya Abdul Hadi W.M. berikut.

da yang memisahkan kita, jam dinding ini ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini ada. Tapi tak ada kucium waangi kainmu sebelum pergi tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri.

Contoh Menulis Puisi

Pengulangan bunyi disebut rima sempurna jika meliputi baik pengulangan konsonan maupun vokal, seperti tampak pada bentuk “pergi” dan “sendiri”, larik 3 dan 4 puisi tersebut. Adapun pengulangan bunyi disebut rima rupa jika pengulangan hanya tampak pada penulisan suatu bunyi, sedangkan pelafalannya tidak sama. Misalnya, rima antara bunyi vokal /u/ dalam bentuk “bulan”

serta bunyi vokal /u/ dalam “belum”, seperti tampak pada salah satu puisi Abdul Hadi W.M. berjudul “Dan Bajumu” berikut.

Contoh Menulis Puisi – Pasang bajumu. Dingin akan lalu melewat menyusup dekat semak-semak pohon kayu Tapi bulan belum kelihatan, puncak-puncak bukit sudah berhenti membandingkan dukamu, sehari keluh kesah

Anda tentunya telah mengenal istilah euphony sebagai salah satu ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana keriangan, vitalitas, maupun gerak. Bunyi euphony umumnya berupa bunyibunyi vokal. Anda sendiri dapat mengetahui bahwa kata-kata yang mengandung sesuatu yang menyenangkan umumnya mengandung bunyi vokal, seperti tampak pada kata “gembira”, “bernyanyi”, “berlari”, dan lain-lain. Pada puisi “Salju” tersebut, Anda dapat melihat adanya kata “pergi/mencari/matahari”. Berkebalikan dengan bunyi euphony, bunyi cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin, kebekuan, kesepian ataupun kesedihan. Jika bunyi euphony umumnya terdapat dalam bentuk vokal, bunyi cacophony umumnya berupa bunyi-bunyi konsonan yang berada di akhir kata. Bunyi konsonan itu dapat berupa bunyi bilabial, seperti nampak pada larik-larik ketika tubuh kuyup dan pintu tertutup. Peranan bunyi dalam puisi meliputi hal-hal berikut: – untuk menciptakan nilai keindahan lewat unsur musikalitas atau kemerduan; – untuk menuansakan makna tertentu sebagai perwujudan rasa dan sikap penyairnya; – untuk menciptakan suasana tertentu sebagai perwujudan suasana batin dan sikap penyairnya.

Contoh Menulis Puisi

4. Majas dalam Puisi Beberapa contoh majas yang ada dalam puisi adalah sebagai berikut. a. Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya, misalnya, “cemara pun gugur daun” mengungkapkan makna “ketidakabadian kehidupan”. b. Metonimia, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. Misalnya, “Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu”. “Kuntum bunga” di situ mewakili makna tentang remaja yang sedang tumbuh untuk mencapai cita-cita hidupnya. c. Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa. Misalnya, terdapat dalam salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.

Kita tinggalkan kota ini, ketika menyeberang sungai terasa waktu masih mengalir di luar diri kita. Awas, jangan menoleh, tak ada yang memerlukan kita lagi tak ada yang memanggil kembali.

d. Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. Misalnya, pada salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.

Begini: kita mesti berpisah. Sebab Sudah terlampau lama bercinta

Contoh Menulis Puisi – Uji Materi

1. Tulislah sebuah puisi dengan tema bebas yang sesuai dengan suasana hati Anda sekarang. 2. Jika perlu, carilah suasana baru dalam menulis puisi, misalnya di taman sekolah, taman kota, dan lain-lain. 3. Setelah selesai, kumpulkanlah puisi tersebut kepada guru Anda. Guru Anda akan meminta secara acak salah seorang di antara Anda untuk membacakan puisi tersebut.

Kegiatan Lanjutan

1. Buatlah beberapa puisi di rumah. Dalam hal ini, Anda dapat mempraktikkan teknik penulisan puisi yang telah dipelajari. 2. Anda dapat memuat puisi tersebut di majalah dinding sekolah. 3. Anda pun dapat mencoba untuk mengirimkan puisi-puisi tersebut ke media massa di kota Anda yang biasa memuat kolom puisi. Jangan lupa, cantumkan nama, alamat (rumah dan sekolah), serta surat pengantar yang berisi biodata.

Contoh Menulis Puisi – Info Sastra

Mengenal Angkatan ’66-’70-an Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan lain-lain pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jaya banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini, seperti Mottinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo, termasuk ‘Paus Sastra Indonesia’, H.B. Jassin.

Beberapa satrawan lain pada angkatan ini, yaitu Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya. Jika Anda ingin lebih mengetahui informasi tentang sejarah sastra Indonesia, Anda dapat mengakses situs www.id.wikipedia.org

Rangkuman

1. Kegiatan memperkenalkan diri biasa dilakukan dalam forum resmi, seperti diskusi. Kegiatan perkenalan bertujuan agar orang lain lebih mengenal biodata seseorang. Perkenalan dengan orang lain sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat kegiatan perkenalan diri, misalnya nama lengkap sampai hobi. 2 Dalam membaca cepat, Anda dituntut untuk mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Biasanya, kecepatan ini dikaitkan dengan tujuan membaca, keperluan, dan bahan bacaan. Kecepatan membaca dapat diukur dengan berapa banyak kata yang terbaca setiap menit. 3. Untuk dapat menguasai teknik membaca cepat, Anda harus memerhatikan hal-hal berikut: a. motivasi atau minat; b. penguasaan kosakata; c. kemampuan menemukan ide pokok; d. konsentrasi; dan e. gerak mata. 4. Langkah-langkah yang harus Anda lakukan dalam mengukur kecepatan membaca adalah sebagai berikut. a. Siapkan jam tangan atau stopwatch. b. Bacalah teks tersebut dalam waktu 1 menit (60 detik). c. Tandailah saat Anda mulai membaca (lebih mudah jika dimulai dari judul bacaan). d. Bacalah teks bacaan tersebut dengan kecepatan yang menurut Anda memadai. e. Tandailah kata akhir yang Anda baca. f. Hitung jumlah kata dalam teks yang Anda baca (tanda baca juga ikut dihitung). 5. Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut meliputi bunyi, kata, larik atau baris, bait, dan tipografi. 6. Lambang dalam puisi mungkin dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan. 7. Istilah pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan makna-makna abstrak menjadi konkret dan cermat.  Selain pengimajian, terdapat istilah pengiasan, yakni pengimajian dengan menggunakan kata-kata kias sehingga menimbulkan makna yang lebih kongkret dan cermat. 9. Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. 10. Jika berbicara tentang masalah bunyi dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang hal-hal berikut. a. Rima, menyangkut pengulangan bunyi yang berselang di larik puisi. b. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama tersebut, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral. c. Ragam bunyi meliputi euphony, cacophony, dan onomatope.

Refleksi Pelajaran

Anda telah berlatih memperkenalkan diri dalam forum resmi. Dengan demikian, rasa percaya diri Anda akan meningkat. Di samping itu, Anda pun dapat mengasah keterampilan tersebut dalam berbagai kesempatan diskusi atau seminar. Begitu juga dengan kemampuan membaca Anda. Anda akan semakin terlatih untuk membaca cepat. Semakin tinggi kecepatan membaca yang Anda miliki, kemampuan menyerap informasi pun akan meningkat. Dengan demikian, wawasan serta pemahaman Anda dalam kehidupan akan semakin baik. Hal ini berpengaruh pada kreativitas Anda dalam menulis puisi. Dengan menulis puisi, Anda dapat mencurahkan gagasan dan perasaan. Anda pun dapat melanjutkan kegiatan menulis tersebut dengan mengirimkan karya puisi hasil karya sendiri ke media massa. Jika karya Anda dimuat, selain akan menjadi kebanggaan tersendiri, uang saku pun akan bertambah.

 

Pengertian Cara Tentang Macam Menulis Puisi Yang Baik

Pengertian Cara Tentang Macam Menulis Puisi Yang Baik

Pengertian Cara Tentang Macam Menulis Puisi Yang Baik

Macam Menulis Puisi
Macam Menulis Puisi

Mengenal Ahli Bahasa

Macam Menulis Puisi – Dendy Sugono, lahir pada 1949 di Banyuwangi. Ia mendapatkan gelar sarjana pendidikan dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Malang tahun 1974 dan meraih gelar doktor bidang linguistik di Universitas Indonesia tahun 1991 dengan disertasi “Pelepasan Subjek dalam Bahasa Indonesia”. Sejak tahun 1976, ia bekerja di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Ia pernah mengikuti Post Graduate Training Programme for General and Austronesian linguistics di Universitas Leiden, Negeri Belanda tahun 1981-1982. la juga penah belajar di Universitas Johann Wolfgang Goethe, Frankfurt Am Main, Jerman, dalam rangka penulisan disertasi tahun 1986 dan 1987. Buku yang ditulisnya, antara lain: Petunjuk Penulisan Karya llmiah (bersama Panuti Sudjiman), Verba Transitif Dialek Osing: Analisis Tagmemik, Klausa Tansubjek dalam Ragam Bahasa Jurnalistik, dan Verba serta Komplementasinya (bersama Titik Indriastini)

Macam Menulis Puisi – Info Bahasa

Macam Menulis Puisi – Dalam menulis sebuah karangan, Anda harus memperhatikan penggunaan kalimat. Hal ini akan berpengaruh dalam kreativitas Anda saat menulis suatu karangan atau tulisan. Kalimat yang terdiri atas satu subjek dan satu predikat dinamakan satu klausa. Misalnya, kalimat Dia datang terdiri atas satu klausa. Kalimat yang hanya satu klausa dinamakan kalimat tunggal. Jika kalimat tunggal digabungkan dengan kalimat tunggal yang lain, menjadi kalimat majemuk. Oleh karena itu, kalimat majemuk pasti terdiri atas dua klausa atau lebih. Misalnya, kalimat Dia datang digabungkan dengan kalimat Kami makan menjadi Dia datang ketika kami makan. Kalimat yang terakhir ini terdiri atas dua klausa sehingga dapat dinamakan sebagai kalimat majemuk. 1. Kalimat Majemuk Koordinatif (Setara) Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, setara, atau sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk koordinatif dihubungkan dengan kata penghubung (konjungsi). Berikut contoh kalimat majemuk koordinatif. – Irawan membuka pintu, lalu mempersilakan kami masuk. – Somad ingin menemui Luna, tetapi ia tidak punya waktu. 2. Kalimat Majemuk Subordinatif (Bertingkat) Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau sederajat. Klausa yang satu merupakan klausaklausa utama. Adapun klausa yang lain adalah klausa bawahan. Kedua klausa tersebut dihubungkan dengan konjungsi subordinatif. Berikut contoh kalimat majemuk subordinatif. – Nenek membaca majalah ketika kakek baru datang. – Meskipun dilarang oleh kakek, nenek tetap ingin berenang. Kalimat Nenek membaca majalah ketika kakek baru datang berasal dari klausa utama nenek membaca majalah dan klausa bawahan kakek baru datang. 3. Kalimat Majemuk Campuran Kalimat majemuk campuran terdiri atas tiga klausa atau lebih. Dalam hal ini, ada yang dihubungkan secara koordinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. Berikut contoh kalimat majemuk kompleks. – Nenek membaca majalah ketika kakek tidak ada di rumah dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Kalimat tersebut terdiri atas tiga klausa, yaitu (1) nenek membaca majalah, (2) kakek tidak ada di rumah, (3) tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Klausa (1) dan klausa (2) dihubungkan secara subordinatif. Adapun klausa (2) dan (3) dihubungkan secara koordinatif. Jika ingin lebih mendalami mengenai penjelasan kalimat majemuk serta kata penghubungan (konjungsi), Anda dapat membaca Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dan Linguistik Umum (penulis Abdul Chaer)

Macam Menulis Puisi – Menulis Puisi

Menulis puisi kadang menjadi beban terberat bagi seseorang. Hal ini karena anggapan bahwa puisi terlalu berat dari segi bahasa maupun penafsirannya. Oleh karena itulah, dalam pelajaran ini Anda akan berlatih menulis puisi. Agar puisi yang Anda tulis dapat mewakili ide serta gagasan Anda, sebaiknya ikuti terlebih dahulu teknik-teknik penulisannya. Dengan demikian, diharapkan Anda mampu menulis.

Secara umum, tidak ada paksaan bagi seseorang untuk menulis puisi. Setiap orang dapat menulis puisi. Masalahnya, mau atau tidak mau orang tersebut tergerak untuk menuliskan kata-kata yang mampu mewakili hatinya. Misalnya, jika Anda sedang sedih, jatuh cinta, kecewa, rindu pada Tuhan atau orang terkasih, semuanya dapat diekspresikan dalam bentuk puisi. Selanjutnya, Anda harus sering berlatih untuk mengolah kata dan rasa. Hal ini secara perlahan dapat dilakukan dengan memahami teknik-teknik menulis puisi. Dalam pelajaran ini, Anda akan belajar memahami teknik-teknik tersebut dan mempraktikannya. 1. Mengenal Jenis-Jenis Puisi Ditinjau dari bentuk dan isinya, puisi dapat dibedakan menjadi jenis berikut. a. Puisi epik, yakni suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah. Puisi epik dibedakan menjadi folk epic, yakni jika nilai akhir puisi itu untuk dinyanyikan, dan literary epic, yakni jika nilai akhir puisi itu untuk dibaca, dipahami, dan diresapi maknanya. b. Puisi naratif, yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, menjadi pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Jenis puisi yang termasuk dalam jenis puisi naratif ini adalah balada yang dibedakan menjadi folk ballad dan literary ballad. Ini adalah ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia dengan segala macam sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, kepedihan, dan keriangannya. Jenis puisi lain yang termasuk dalam puisi naratif adalah poetic tale, yaitu puisi yang berisi dongeng-dongeng rakyat. c. Puisi lirik, yakni puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. Jenis puisi lirik umumnya paling banyak terdapat dalam khazanah sastra modern di Indonesia. Misalnya, dalam puisi-puisi Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain. d. Puisi dramatik, yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu. Dalam puisi dramatik dapat saja penyair berkisah tentang dirinya atau orang lain yang diwakilinya lewat monolog. e. Puisi didaktik, yakni puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya ditampilkan secara eksplisit. f. Puisi satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat. g. Romance, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih. h. Elegi, yakni puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih dan kedukaan seseorang. i. Ode, yakni puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan. j. Hymne, yakni puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.

Macam Menulis Puisi

2. Bait dalam Puisi Bait merupakan satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. Dalam puisi, keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak.

Itu tubuh mengucur darah mengucur darah rubuh patah mendampar tanya: aku salah?

Puisi Chairil Anwar tersebut terdiri atas enam bait, tiga di antaranya merupakan bait yang hanya terdiri atas satu larik puisi tersebut. Salah satunya terdapat dalam penggalan tersebut, yakni bait “mendampar tanya: aku salah?” Peranan bait dalam puisi adalah untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. Pada sisi lain, bait juga berperan menciptakan tipografi puisi. Selain itu, bait juga berperanan dalam menekankan atau mementingkan suatu gagasan serta menunjukkan adanya loncatan-loncatan gagasan yang dituangkan penyairnya. Sekarang, dengan jelas Anda dapat mengetahui bahwa bait-bait dalam puisi dapat diibaratkan sebagai suatu paragraf karangan yang paragraf atau baitnya telah mengandung pokok-pokok pikiran tertentu.

3. Unsur Rima dan Irama dalam Puisi Bacalah puisi berikut ini dengan baik.

Ke manakah pergi mencari matahari ketika salju turun pohon kehilangan daun Ke manakah jalan mencari lindungan ketika tubuh kuyup dan pintu tertutup Ke manakah lari mencari api ketika bara hati padam tak berarti Ke manakah pergi Ke manakah pergi selain mencuci diri

Setelah membaca puisi berjudul “Salju” karya Wing Kardjo tersebut, apakah yang pertama kali menarik perhatian Anda? Sejalan dengan telaah unsur bangun struktur, Anda tentunya mencoba mengamati contoh konkret dari apa yang disebut bangun struktur puisi. Dari sejumlah unsur struktur puisi yang telah diungkapkan, sekarang kita pusatkan perhatian pada aspek bunyi terlebih dahulu. Jika berbicara tentang masalah bunyi dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang hal-hal berikut. a. Rima, menyangkut pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan. b. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral. c. Ragam bunyi meliputi euphony, cacophony, dan onomatope. Rima adalah bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Pada contoh puisi tersebut, misalnya, dapat dilihat adanya pengulangan bunyi vokal (e) seperti tampak pada larik “ke manakah pergi”. Perulangan bunyi demikian disebut asonansi. Selain itu, juga dapat diamati adanya perulangan bunyi konsonan (n) seperti nampak pada larik “pohon kehilangan daun”. Perulangan bunyi konsonan itu disebut aliterasi. Perulangan bunyi seperti contoh tersebut berlaku di antara kata-kata dalam satu larik. Rima demikian itu disebut rima dalam. Lebih lanjut, jika kita mengamati bait pertama puisi “Salju” tersebut, tampak juga adanya paduan bunyi antara setiap akhir larik sehingga menimbulkan pola persajakan vokal /i/ — vokal /i/ dengan konsonan /n/ — konsonan /n/ seperti tampak pada bentuk . . . pergi/. . . matahari/. . . turun/. . . daun. Rima demikian itu, yakni rima yang terdapat pada akhir larik puisi, disebut rima akhir.