Mengidentifikasi Isi Paragraf Tentang Artikel Pertanian

Mengidentifikasi Isi Paragraf Tentang Artikel Pertanian

Mengidentifikasi Isi Paragraf Tentang Artikel Pertanian

Mengidentifikasi isi paragraf
Mengidentifikasi isi paragraf

Mengidentifikasi isi paragraf – Dalam pelajaran ini Anda akan diajak berlatih menggunakan kalimat baku dalam acara resmi, mengidentifikasikan ide pokok paragraf, dan lain-lain. Agar pembahasan dan atau pelatihan Anda terarah, gunakan tema pertanian sebagai topik atau dasar masalahnya. Dengan begitu, wawasan Anda tentang pertanian akan meningkat sehingga kesadaran akan arti penting pertanian meningkat pula.

Mengidentifikasi isi paragraf – Mengucapkan kalimat perkenalan 1. Menggunakan kalimat baku di dalam suatu acara resmi Forum diskusi, seminar, dan sejenisnya yang di dalamnya melibatkan seorang pemandu/ moderator merupakan forum resmi. Bahasa yang digunakan pun harus ragam resmi/baku. Moderator bertugas memimpin jalannya seminar/diskusi, menyampaikan tata tertib, memperkenalkan diri dan orang lain dalam diskusi/seminar itu (misalnya penyaji/ pemrasaran), menyimpulkan hasil diskusi, dan sebagainya. Di bawah ini contoh pembukaan diskusi oleh moderator. Di dalamnya, sengaja disertakan beberapa contoh penggunaan ragam bahasa yang tidak baku (bercetak tebal).

Mengidentifikasi isi paragraf

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera untuk kita semua. Para hadirin, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke Tuhan yang Mahakuasa. Hanya atas perkenan-Nya kita dapat bertemu di pagi hari ini. Saya mengucapken terima kasih atas kehadiran daripada Saudara-saudara semua. Saudara-saudara yang budiman. Sebelum acara seminar dimulai, perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Handoko, tinggal pada Jalan Wijaya Kusuma No.12 Semarang. Saya dilahirkan tanggal 17 Juni tujuh belas tahun yang lalu. Saat ini saya adalah pelajar SMA N 10 Semarang. Duduk di kelas II. Selanjutnya izinkan saya memperkenalkan pembicara/penyaji diskusi pada kesempatan ini. Beliaunya adalah Bapak Aminudin S.H., seorang pakar hukum pidana. Sehari-hari bekerja sebagai pengacara tetapi juga dosen Universitas Dharmawangsa, Surakarta. Beliau dilahirkan di Blora di tahun 1965. Sekarang bertempat tinggal di Jalan Hasanudin Nomor 45 Sukoharjo. Pada kesempatan ini, saya mendapat tugas sebagai moderator. Di depan saya sudah singgung bahwa saya masih pelajar sehingga penampilan saya ini adalah dalam rangka belajar. Karena itu, maafkan kekurangan-kekurangan saya nanti. Saudara-saudara sekalian. Marilah kita mulai diskusi kali ini dengan menyimak paparan penyaji dengan makalah berjudul ”Mengantisipasi Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan”. Untuk itu, kepada Bapak Aminudin waktu dan tempat dipersilakan .

Mengidentifikasi isi paragraf

2. Menanggapi kekurangan yang terdapat pada pengucapan kalimat perkenalan oleh teman Pembetulan untuk ketidaktepatan penggunaan bahasa

Mengidentifikasi isi paragraf

1. Mengidentifikasi ide pokok paragraf

2. Mengidentifikasi fakta dan pendapat Fakta adalah hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan dan benar-benar ada atau terjadi. Opini adalah pernyataan yang merupakan pendapat, pikiran, atau pendirian seseorang mengenai suatu hal.

Paragraf naratif

Mengidentifikasi isi paragraf

1. Mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf naratif Narasi merupakan salah satu dari sekian bentuk karangan prosa. Narasi adalah karangan yang berisi kisah hidup manusia atau yang dimanusiakan. Sementara itu, paragraf naratif adalah paragraf yang berisi kisah atau cerita.

a. Ciri-ciri paragraf naratif 1) Termasuk jenis tulisan ilmiah atau nonfiksi atau biografi, autobiografi, sejarah, silsilah. 2) Termasuk jenis tulisan fiksi atau khayalan (cerpen, novel, roman). 3) Tidak memiliki kalimat utama (semua kalimat merupakan rincian). 4) Bertujuan menceritakan. b. Struktur paragraf naratif kronologis 1) Peristiwa awal. 2) Peristiwa inti. 3) Peristiwa akhir. c. Struktur paragraf naratif flash back (sorot balik) 1) Peristiwa inti atau akhir (masa kini). 2) Peristiwa awal (masa lalu). Topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf naratif, misalnya sebagai berikut. a. Semalam di kota Jakarta. b. Kedinginan karena kehujanan. c. Mengais rezeki dengan mendaur ulang kaleng roti. d. Si anak soleh selamat dari kobaran api. e. Nabi Sulaiman menemukan kubah ajaib.

2. Menyusun kerangka paragraf naratif berdasarkan kronologi waktu dan peristiwa Kerangka paragraf naratif Topik: Nabi Sulaiman menemukan kubah a. Dengan ilmunya, Nabi Sulaiman melihat benda di dasar laut. b. Nabi Sulaiman memerintahkan Jin Ifrit. c. Jin Ifrit dan jin lainnya gagal. d. Ashif bin Barkhiya disuruh Nabi Sulaiman ke dasar laut. e. Kubah ditemukan. f. Kubah diangkat ke permukaan laut.

3. Mengembangkan kerangka menjadi paragraf naratif Kerangka dengan topik ”Nabi Sulaiman menemukan kubah” dikembangkan menjadi paragraf naratif sebagai berikut.

Suatu ketika Nabi Sulaiman berjalan-jalan di pantai untuk melihat kebesaran Allah di laut. Dengan kelebihan ilmu yang dimiliki, tiba-tiba Nabi Sulaiman melihat suatu benda di dasar laut. ”Benda itu sangat menakjubkan,” pikirnya. Nabi Sulaiman lalu memerintahkan Jin Ifrit untuk mengambil benda ajaib tersebut. Namun, Jin Ifrit tidak menemukan sesuatu di dasar, padahal berulang-ulang turun ke dasar laut. Kemudian Nabi Sulaiman menyuruh jin yang lainnya. Akan tetapi, jin-jin lainnya pun tidak menemukan apa-apa di dasar laut. Akhirnya, Nabi Sulaiman menyuruh Ashif bin Barkhiya. Ia adalah seorang yang mempunyai ilmu langsung dari Allah. Ia mempunyai kekuatan tinggi. Ashif bin Barkhiya pun menyelam ke dasar laut.

Suatu ketika Nabi Sulaiman berjalan-jalan di pantai untuk melihat kebesaran Allah di laut. Dengan kelebihan ilmu yang dimiliki, tiba-tiba Nabi Sulaiman melihat suatu benda di dasar laut. ”Benda itu sangat menakjubkan,” pikirnya. Nabi Sulaiman lalu memerintahkan Jin Ifrit untuk mengambil benda ajaib tersebut. Namun, Jin Ifrit tidak menemukan sesuatu di dasar, padahal berulang-ulang turun ke dasar laut. Kemudian Nabi Sulaiman menyuruh jin yang lainnya. Akan tetapi, jin-jin lainnya pun tidak menemukan apa-apa di dasar laut. Akhirnya, Nabi Sulaiman menyuruh Ashif bin Barkhiya. Ia adalah seorang yang mempunyai ilmu langsung dari Allah. Ia mempunyai kekuatan tinggi. Ashif bin Barkhiya pun menyelam ke dasar laut.

Uji Kompetensi

1. Apakah yang Anda ketahui tentang paragraf naratif? 2. Sebutkan ciri-ciri paragraf naratif! 3. Dalam karangan bentuk prosa apakah paragraf naratif digunakan? 4. Paragraf naratif biasanya memuat fakta ataukah rekaan? Berilah penjelasan!

4. Menyunting paragraf naratif Agar dapat menyunting tulisan teman berbentuk paragraf naratif, tidak perlu mempelajari ulang struktur atau syarat-syarat sebuah tulisan paragraf naratif. Anda perlu lebih memerhatikan segi kebahasaan (ejaan, tanda baca, huruf kapital, dan lain-lain). Berikut ini disajikan beberapa ketentuan dalam ejaan dan tanda baca.

a. Huruf besar atau kapital 1) Sebagai huruf pertama kata awal kalimat. 2) Sebagai huruf pertama petikan langsung. 3) Sebagai huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan keagamaan, kitab suci, nama Tuhan termasuk kata gantinya. 4) Sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang. 5) Sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang. 6) Sebagai huruf pertama nama atau unsur nama orang. 7) Sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa. 8) Sebagai huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah. 9) Sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi. 10) Sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan, ketatanegaraan, dan dokumen resmi. 11) Sebagai huruf pertama semua kata untuk nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata depan atau partikel lain yang tidak di posisi awal. 12) Dipakai dalam singkatan nama, gelar, dan sapaan. 13) Sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai kata sapaan (Adik, Paman, Ibu, dan sebagainya).

b. Tanda koma (,) 1) Dipakai antara unsur-unsur dalam perincian atau pembilangan. 2) Dipakai untuk memisahkan kalimat setara satu dengan kalimat setara lain yang didahului kata seperti tetapi, melainkan. 3) Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat. 4) Dipakai di belakang ungkapan atau kata penghubung yang terdapat di awal kalimat, termasuk oleh karena itu, karena, jadi, akan tetapi, dan sebagainya. 5) Dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat di awal kalimat. 6) Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat, dipakai di antara nama, alamat, bagian-bagian kalimat, dan seterusnya yang ditulis berurutan. 7) Dipakai untuk memisahkan tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun penerbitan. 8) Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. 9) Dipakai di muka angka persepuluhan dan di antara rupiah dan sen dalam bilangan. 10) Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.

b. Tanda koma (,) 1) Dipakai antara unsur-unsur dalam perincian atau pembilangan. 2) Dipakai untuk memisahkan kalimat setara satu dengan kalimat setara lain yang didahului kata seperti tetapi, melainkan. 3) Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat. 4) Dipakai di belakang ungkapan atau kata penghubung yang terdapat di awal kalimat, termasuk oleh karena itu, karena, jadi, akan tetapi, dan sebagainya. 5) Dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat di awal kalimat. 6) Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat, dipakai di antara nama, alamat, bagian-bagian kalimat, dan seterusnya yang ditulis berurutan. 7) Dipakai untuk memisahkan tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun penerbitan. 8) Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. 9) Dipakai di muka angka persepuluhan dan di antara rupiah dan sen dalam bilangan. 10) Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.

2) Menurut jenis kata pembentuknya, kata ulang dibedakan atas: a) kata ulang benda : permainan-permainan, batu-batu b) kata ulang kerja : melempar-lempar, berpandang-pandangan c) kata ulang sifat : kekuning-kuningan, tinggi-tinggi d) kata ulang bilangan: satu-satu, dua-dua, kedua-duanya b. Makna kata ulang 1) banyak : bala-bala, keterangan-keterangan 2) bermacam : lauk-pauk, sayur-mayur 3) berkali-kali/berulang-ulang : memukul-mukul, menginjak-injak 4) saling : berpandang-pandangan 5) agak : kekuning-kuningan 6) sangat : merah-merah, tinggi-tinggi 7) demi/tiap : satu-satu, dua-dua.

Mengungkapkan isi suatu puisi Kunci sukses menulis puisi adalah berlatih. Dengan berlatih, kepekaan, perasaan, dan pikiran seseorang akan terasah. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menyusun atau menggubah puisi, yaitu a. menentukan tema; b. menentukan suasana puisi, yaitu sikap pengarang terhadap isi puisi: marah, setuju, menolak, sinis, dan sebagainya;

engungkapkan isi suatu puisi Kunci sukses menulis puisi adalah berlatih. Dengan berlatih, kepekaan, perasaan, dan pikiran seseorang akan terasah. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menyusun atau menggubah puisi, yaitu a. menentukan tema; b. menentukan suasana puisi, yaitu sikap pengarang terhadap isi puisi: marah, setuju, menolak, sinis, dan sebagainya;

 

Menulis Paragraf Argumentasi Cara Yang Benar dan Baik

Menulis Paragraf Argumentasi Cara Yang Benar dan Baik

Menulis Paragraf Argumentasi Cara Yang Benar dan Baik

Menulis Paragraf Argumentasi
Menulis Paragraf Argumentasi

Menulis Paragraf Argumentasi  – Pada pembelajaran menulis sebelumnya, Anda telah ber latih menulis beberapa bentuk karangan, yakni narasi, deskripsi, dan eksposisi. Selain ketiga bentuk karangan tersebut, Anda pun dapat mengembangkan ide atau gagasan melalui karangan argumentasi. Karangan argumentasi merupakan karangan yang memberikan alasan kuat dan meyakinkan agar pembaca mengikuti dan mengakui kebenaran gagasan penulis. Pada umumnya, karangan argumentasi banyak mengemukakan alasan, contoh, atau bukti yang kuat. Contoh tulisan argumen tasi yang mudah Anda kenali adalah karya tulis ilmiah.

Menulis Paragraf Argumentasi  – Beberapa hal yang harus Anda perhatikan saat menulis karangan argumentasi di antaranya: 1. berpikir positif, kritis, dan logis; 2. mampu mencari, mengumpulkan, memilih fakta yang sesuai dengan tujuan, serta mampu merangkaikan untuk membuktikan keyakinan atau pendapat; 3. menjauhkan emosi dan unsur subjektivitas; 4. mampu menggunakan bahasa secara baik dan benar, efektif, dan tidak menimbulkan penafsiran ganda (ambigu). Perhatikan contoh paragraf argumentasi berikut.

Menulis Paragraf Argumentasi  – Sebelum menjalani tes masuk perguruan tinggi, lulusan SMA sebenarnya sudah dihadapkan pada ujian. Mereka harus memilih jurusan dan jenis sekolah yang tepat. Mereka juga harus cermat memilih faktor-faktor yang memengaruhi proses belajarnya nanti. Akan tetapi, ada orangtua yang sangat berambisi untuk memajukan anak sesuai dengan kehendaknya. Alasannya untuk mewujudkan cita-cita dan impian orangtuanya sendiri. Hal ini menyebabkan anak menjadi terbelenggu, tidak kreatif, dan tidak mandiri. Di sisi lain, orangtua pun akhirnya tidak mengukur kemampuan anak sesuai minat dan bakatnya. Sumber: Harian Umum Pikiran Rakyat, 13 Juni 2004

Menulis Paragraf Argumentasi  – Jika Anda perhatikan, paragraf tersebut menjelaskan pendapat dengan berbagai keterangan dan alasan. Hal ini di maksudkan untuk meyakinkan pembaca. Selain itu, paragraf ter sebut dikembangkan dengan pola pengembangan sebab akibat. Hubungan sebab akibat mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang diketahui, kemudian bergerak maju menuju suatu kesimpulan sebagai efek atau akibat. Efek yang muncul dapat berupa efek tunggal dan efek jamak (bersama-sama). Berdasarkan paragraf tersebut dapat kita identifikasi bahwa penyebab anak menjadi terbelenggu, tidak kreatif, dan tidak mandiri adalah akibat orangtua yang terlalu memaksakan keinginannya. Ciri-ciri paragraf argumentasi dapat kita identifikasi sebagai berikut. 1. Paragraf argumentasi mengandung kebenaran untuk meng ubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang dibahas. 2. Paragraf argumentasi mengandung data atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. 3. Penjelasan dalam paragraf argumentasi disampaikan secara logis. Hasil perbaikan.

Menulis Paragraf Argumentasi

Latihan Pemahaman

1. Pilihlah salah satu topik atau tema yang telah Anda tentukan sebelumnya. Kemudian, buatlah kerangka gagasan berdasarkan tema tersebut. 2. Kembangkanlah kerangka gagasan tersebut menjadi tulisan argumentasi yang padu. Lengkapilah pendapat Anda dengan alasan atau bukti-bukti yang mendukung. 3. Setelah selesai, tukarkanlah karangan Anda dengan karangan teman. Kemudian, koreksilah penggunaan tanda baca, bahasa, dan isi karangannya. 4. Berilah penilaian dan komentar yang sesuai dengan hasil kerja teman yang Anda terima tersebut. Gunakanlah tabel komentar berikut.

Menulis Paragraf Argumentasi

Tugas Kelompok 

1. Carilah artikel yang terdiri atas minimal 750 kata. Kemudian, gunting dan tempelkan pada buku tugas Anda. 2. Selanjutnya, bergabunglah dengan teman sekelompok Anda untuk saling berlatih membaca cepat. Bergantianlah untuk menghitung kecepatan membaca. Kemudian, buatlah pertanyaan oleh masing-masing anggota kelompok. Jadikan pertanyaan tersebut untuk mengevaluasi seberapa jauh pemahaman terhadap teks tersebut. Lakukanlah secara bergantian.

Menceritakan Cerita Rakyat

Cerita rakyat apakah yang paling populer di daerah Anda? Setiap daerah di wilayah Nusantara ini memiliki cerita rakyat yang beragam. Cerita rakyat berkembang pada masa budaya lisan. Ceritanya pun disampaikan secara turun-temurun dan tidak diketahui siapa yang pertama kali membuatnya (anonim).

Cerita rakyat berbentuk prosa dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar, yakni mite, legenda, dan dongeng. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite meng hadirkan tokoh-tokoh para dewa atau makhluk setengah dewa. Misalnya, cerita Nyi Roro Kidul dan mitologi Yunani (Zeus, Hercules, Ares, Aprodite, dan sebagainya). Legenda adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi, namun tidak dianggap suci. Legenda biasanya men ce ritakan asal usul terjadinya suatu tempat atau benda. Misalnya, legenda Sangkuriang dan asal mula nama Buleleng. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak benar-benar terjadi atau bersifat imajinasi belaka.

Dongeng pun tidak terikat oleh waktu dan tempat. Misalnya, dongeng si Kancil dan Buaya. Meskipun cerita rakyat tersebut kebanyakan imajinatif, namun banyak pelajaran yang dapat dipetik. Dari cerita tersebut kita dapat memahami isi dan pesan yang hendak disampaikan. Sesuai dengan karakter budaya lisan, segala ajaran moral, agama, sosial kemasyarakatan, dan cara bertahan hidup disampaikan lewat cerita secara lisan.

Menulis Karangan Berdasarkan Pengalaman Orang Lain dalam Cerpen

Pernahkah Anda mengalami pengalaman menarik, baik itu bersama keluarga, teman, atau guru Anda? Pengalaman itu tentu tidak mudah untuk dilupakan, bukan? Pengalaman tersebut akan terkenang sepanjang hidup Anda. Akan lebih baik, jika pengalaman itu Anda ceritakan kepada orang lain. Ceritalah dengan semenarik mungkin, agar orang yang mendengarkan akan merasa kagum, bahkan tertawa kegelian. Anda pun akan merasa senang jika mendengarkan cerita teman Anda, bukan? Mendengarkan cerita pengalaman yang disampaikan teman atau orang lain memang sangat menyenangkan. Kegiatan men dengarkan dalam situasi yang melibatkan perasaan akan lebih mudah diserap dalam ingatan dan mudah pula dipahami. Bahkan, kita pun dapat mengubah cerita yang telah kita dengarkan menjadi sebuah karangan melalui kegiatan menulis.

Latihan Pemahaman

1. Tulislah cerita pengalaman menarik orang lain yang pernah Anda dengar. Setelah selesai, ceritakanlah di depan kelas dengan intonasi dan ekspresi yang tepat sehingga pendengar dapat membayangkan dan merasakan suasana cerita. Lakukanlah secara bergantian. 2. Saat teman Anda bercerita, dengarkanlah dengan saksama. Kemudian, catatlah hal-hal lucu, haru, atau menarik dari cerita tersebut. 3. Kemukakanlah isi cerita teman Anda tersebut berdasarkan catatan yang telah Anda buat. Kemudian, mintalah pendapat teman Anda, apakah sudah sesuai atau belum? 4. Kumpulkanlah cerita yang telah Anda tulis, kemudian klipinglah. Perbanyaklah sesuai jumlah siswa sehingga masing-masing menda patkannya. Kliping ini akan menjadi dokumentasi yang menarik pada kemudian hari.

Intisari 

 3BOHLVNBO EBQBU EJBSUJLBO TFCBHBJ QFOZBKJBO TJOHLBU dari suatu karangan asli, dengan tetap menjaga urutan isi dan sudut pandang pengarangnya. Dengan demikian, merangkum merupakan kegiatan mempersingkat bacaan dari sebuah teks tanpa mengubah urutan isi teks aslinya. r ,BSBOHBO BSHVNFOUBTJ NFSVQBLBO LBSBOHBO ZBOH memberikan alasan kuat dan meyakinkan agar pembaca mengikuti dan mengakui kebenaran gagasan penulis. r $FSJUB SBLZBU CFSCFOUVL QSPTB UFSCBHJ NFOKBEJ UJHB golongan, yakni mite, legenda, dsan dongeng. r .JUFBEBMBIDFSJUBSBLZBUZBOHEJBOHHBQCFOBSCFOBSUFSKBEJ dan disucikan. r -FHFOEB BEBMBI DFSJUB SBLZBU ZBOH EJBOHHBQ CFOBSCFOBS terjadi namun tidak disucikan. r %POHFOH BEBMBI DFSJUB SBLZBU ZBOH EJBOHHBQ CFOBSCFOBS terjadi atau bersifat imajinasi belaka

Refleksi

Setelah menguasai pelajaran ini, Anda telah mahir mencatat pokok-pokok penting yang terdapat dalam sebuah buku serta telah mahir merangkum seluruh isi teks buku. Anda juga akan mahir menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentasi. Kemampuan menulis gagasan akan berdampak positif terhadap kemampuan anda dalam memahami cerita rakyat dan menemukan hal-hal menarik tentang tokoh di dalam cerita rakyat tersebut. Dengan demikian, Anda akan menjadi mahir menulis karangan.

Bonus

Fasih Berbahasa Jawa

Dari kampus Universitas Gajah Mada (UGM) saya pergi ke kantor Pos Pusat Yogyakarta dengan naik bus kota. Di dalam bus yang memiliki rute melewati Jalan Malioboro yang terkenal di dunia ini, saya duduk berdampingan dengan dua orang turis yang baru saja berkeliling kampus UGM. Kedua turis yang ternyata berasal dari Belanda ini mengajakku berbincang. Mereka hendak ke Malioboro. Kami berbicara dalam bahasa Inggris. Saat kondektur bus minta ongkos, turis itu memberikan selembar seratusan ribu rupiah. Kondektur itu tampak geregetan. Ia me nyeletuk, “Yo genah ora duwe jujul ndo-londo (ya pasti saya tidak punya uang kembaliannya, dasar Belanda).” Ongkos bus kota itu sendiri tiap orang hanya Rp1.000,00. Tanpa saya duga salah seorang turis men jawab ujaran kon dektur. “Punya saya se ratusan ribu se mua.” Ternyata, turis satu ini dapat ber bahasa Indonesia.

Rupanya kondektur itu terlanjur jengkel. “Kalau ke Yogya itu tuker rupiah recehan yang banyak!” dengan nada meninggi. Turis ter sebut menjadi kebingungan. Saya segera mem bayarkan ongkos untuk keduanya. Mereka berterima kasih, namun tetap dalam bahasa Inggris kepada saya “Have you any small rupiahs?” sambung turis itu. Saya pun menukar uang seratusan ribu itu dengan lima lembar dua puluh ribuan. Memasuki Jalan Malioboro kedua turis itu beranjak turun. “See you again, thank you, and bye,” mereka berpamitan kepada saya. Karena kondisi bus cukup penuh, saya berinisiatif mengingatkan kondektur. “Mas, turisnya mau turun.” Lagilagi kondektur itu belum dapat menghilangkan kedongkolannya.”Minggir, minggir, wedhuse arep mudhun (minggir, minggir, kambingnya akan turun),” katanya.

Tanpa diduga kedua turis memberikan jawaban, “Inggih wedhusipun, badhe mandhap, Mas. Mbenjing ampun dipun wangsuli malih nggih. Tumindhak menika mboten sae (Ya, kambingnya mau turun, Mas. Besok jangan diulangi lagi, ya. Karena hal itu tidak baik).” Sontak seluruh penumpang terkejut dan tidak kuat menahan tawa. Kedua turis itu berkata dengan luwes dan dibuat-buat seperti gaya bicara warga keraton. Tidak pelak, muka kondektur itu kemerah-merahan menahan malu. Sopir yang ikut mendengar pun juga tertawa terbahak-bahak. Mungkin karena malu, kondektur itu lantas pindah ke pintu belakang. Bus berhenti agak lama di depan mal Malioboro. Kedua turis itu pun tidak kalah iseng mendekati kondektur kembali.

“Mbenjing mboten usah dados kondektur nggih. Panjenengan saenipun dados satpam mal menika mawon, sahengga panjenengan asring kepanggih kawula (Besok tidak usah jadi kondektur ya, Anda baiknya jadi satpam mal ini saja, jadi dapat sering bertemu saya),” kata turis itu. Semakin malu, kondektur itu pura-pura tidak mendengar dan berjalan mendekati sopir. “Asem aku kapusan (sialan saya tertipu),” ujarnya. Sopir tersebut justru menertawakannya “Syukur, kapokmu kapan,” katanya. Kemudian, bus berjalan lagi. Kini giliran turis itu masih belum puas ngerjain kondektur, mereka berteriak saat bus bergerak. “Be carefull, ngatiati ya (Hati-hati ya).” Kami semua di dalam bus hanya dapat tertawa menyaksikan hal ini. Ternyata mereka fasih berbahasa krama inggil (bahasa Jawa tingkat paling tinggi). Diceritakan oleh Sulis Styawan Sumber: Harian Republika, 29 Agustus 2004

 

Dualisme Argumentasi Teks Eksposisi dan Paragraf Argumentasi

Dualisme Argumentasi Teks Eksposisi dan Paragraf Argumentasi

Dualisme Argumentasi Teks Eksposisi dan Paragraf Argumentasi

Argumentasi Teks Eksposisi
Argumentasi Teks Eksposisi

Argumentasi Teks Eksposisi Bacalah teks yang berjudul “Untung Rugi Perdagangan Bebas” berikut ini.
Setelah itu, kerjakan tugas-tugasnya!
UNTUNG RUGI PERDAGANGAN BEBAS

Argumentasi Teks Eksposisi
1 Perdagangan bebas yang diusung oleh sebuah negara dipastikan dapat
menguntungkan atau merugikan negara yang bersangkutan. Dampak
negatif kebijakan politik negara di sektor ekonomi ini mudah kita temukan
di Indonesia.
2 Perdagangan luar negeri memang berperan penting untuk menciptakan
penggunaan sumber daya secara efisien. Setiap negara akan memproduksi
barang spesialisasinya dan produksi itu memberikan keunggulan mutlak untuk
meningkatkan pendapatan nasionalnya. Kenaikan pendapatan semacam itu
tidak akan diperoleh jika perdagangan antarnegara dibatasi.
3 Penjelasan mengenai perdagangan bebas tidak hanya berkisar keunggulan
mutlak, tetapi juga keunggulan komparatif. Sebagai ilustrasi, Inggris dapat
memproduksi satu unit pakaian dalam satu tahun dengan tenaga 100 orang
buruh dan satu unit anggur dengan tenaga 120 buruh. Sementara itu, Portugal
hanya memerlukan 90 orang buruh untuk satu unit pakaian dan 80 orang
buruh untuk satu unit anggur.

Argumentasi Teks Eksposisi
4 Dalam ilustrasi itu, Portugal memiliki keunggulan mutlak dalam dua barang
tersebut. Namun, Inggris dan Portugal masih akan mendapatkan untung
apabila mereka memiliki hubungan perdagangan. Portugal lebih beruntung
jika memproduksi anggur dan Inggris tidak terlalu merugi jika memproduksi
pakaian. Dengan memproduksi barang yang unggul secara komparatif,
dua negara itu dapat meraih untung. Dengan menekankan keuntungan
spesialisasi dan pertukaran, perdagangan internasional meningkatkan
efisiensi, perolehan laba dan standar hidup, serta jumlah komoditas yang
tersedia.
5 Di sisi lain, gerakan proteksionisme tetap menentang teori pasar bebas.
Pendukung perdagangan bebas sering dicap sebagai kelompok neoliberalis,
kapitalis, dan pro-barang impor atau pro-asing. Pemerintah diminta tidak
terlalu liberal agar kesejahteraan nasional meningkat. Dalam hal ini,
pemerintah Indonesia terbukti membuat neraca perdagangan makin tidak berimbang. Pertumbuhan ekspor lebih rendah daripada impor. Indikatornya
terlihat dari rendahnya rata-rata bea masuk barang impor ke Indonesia.

Argumentasi Teks Eksposisi
6 “Saat ini bea masuk barang impor yang diterapkan pemerintah rata-rata 6,8
persen,” kata seorang peneliti ekonomi Indonesia. Ekonom itu membandingkan
Indonesia dengan negara lain, seperti Cina yang telah mematok tarif bea
masuknya rata-rata 10 persen. Politik antidumping Indonesia sangat lemah
sehingga kinerja impor meningkat dan kinerja ekspor menurun.

Argumentasi Teks Eksposisi
7 Penerapan perdagangan bebas masih perlu kita pertimbangkan lebih berhatihati di Indonesia. Selama dampak negatif belum dapat terukur, Indonesia tidak
dapat diharapkan memperoleh untung dari perdagangan bebas. Kerugian
negara akan sangat besar ketika kita salah langkah menerapkan perdagangan
bebas.

Argumentasi Teks Eksposisi
(Diambil dari berbagai sumber, terutama Sinar Harapan, 17 Oktober 2012)