Materi Menulis Paragraf Deskriptif dan Contoh Paragraf Deskriptif

Materi Menulis Paragraf Deskriptif dan Contoh Paragraf Deskriptif

Materi Menulis Paragraf Deskriptif dan Contoh Paragraf Deskriptif

Menulis Paragraf Deskriptif
Menulis Paragraf Deskriptif

Materi Menulis Paragraf Deskriptif

Menulis Paragraf Deskriptif – Pada materi pelajaran sebelumnya, yaitu pada Bab II, sudah dikemukakan cara menulis paragraf deskriptif. Paragraf deskriptif bertujuan menggambarkan suatu benda, tempat, keadaan, atau peristiwa tertentu dengan kata-kata. Misalnya, menggambarkan objek berupa benda atau orang, digambarkan seolah-olah merasakan, menikmati, atau merasa menjadi bagiannya. Semuanya digambarkan dengan terperinci. Bacalah wacana di bawah ini! Wacana mana yang termasuk paragraf deskriptif? Berikan alasan yang menguatkan bahwa karangan yang dipilih termasuk karangan deskriptif!

Wacana 1

Legenda Calon Arang Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai wanita pemusnah kemanusiaan. Dari Des Dirah, Calon Arang, seorang janda yang hidup pada abad ke-12 itu, menebarkan teluh di Kerajaan Daha yang dipimpin Prabu Airlangga. Mpu Baradah pun diutus untuk menaklukkannya. Cerita ini tumbuh menjadi legenda. Teks yang menuturkan kisah itu pun telah berkembang biak lebih dari 30 versi. Sejumlah seniman bahkan membuat tafsir berbeda: menempatkan Calon Arang sebagai simbol perlawanan perempuan. Di Bali, legenda ini lebih mendapat tempat dibandingkan dengan di kampung halamannya. Namun, belakangan dramatari yang magis tentang Calon Arang telah bergeser menjadi ajang pamer kekebalan dan humor. Sumber: Tempo, 18 Juni 2006

Menulis Paragraf Deskriptif

Wacana 2

Suara Sang Pengelana Sepotong lagu dari masa lalu itu mengalun. Telah 38 tahun ia menggubahnya, tetapi terasa masih enak di telinga. Dengan petikan gitar akustik dalam nada minor, ia seperti tengah menghamparkan sebuah lukisan alam yang tak habis-habis dipuja. Ya, Melati dari Jayagiri malam itu hadir bagai sapuan seorang pelukis naturalis di puncak pencapaian karyanya. Sang ’’pelukis naturalis’’ itu adalah Iwan Abdurrachman, yang kini hampir 58 tahun. Ia mengalirkan lagu itu dengan lembut lewat sepotong gitar kopong. Penampilan sederhananya pada Jumat malam lalu itu, seperti menegaskan bahwa esensi bermusik tidak terletak pada kemeriahan instrumen di atas panggung, tetapi pada jiwa yang berdendang. Dalam konser tunggal di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta itu, Abah Iwan begitu kini ia biasa disapa hanya mengusung sebuah gitar dan sesekali menenggak obat batuk cair. Setiap kali ia menyelinginya dengan komentar yang menjelaskan proses kreatif dalam menggubah setiap lagunya. Sumber: Tempo, 7 Mei 2006

Coba kalian berlatih membuat paragraf deskriptif! Misalnya, mendeskripsikan ruangan kelas atau kamar tempat tidur kalian. Pahami ciri-ciri paragraf deskriptif dan lakukan observasi terhadap sebuah objek!

Menulis Paragraf Deskriptif

Di dalam teks, lazim ditemukan beberapa penggunaan konjungsi jadi, karena itu, oleh karena itu, dengan ini, dan sebagainya. Fungsi konjungsi tersebut di dalam kalimat sebagai jembatan untuk menghubungkan antarparagraf. Cobalah kalian membuat kalimat atau paragraf dengan menggunakan konjungsi tersebut!

Membacakan Puisi

???? ?????? Pelatihan 6 Membacakan sebuah puisi, tentu saja berbeda dengan membacakan sebuah teks nonsastra. Ketika kita membacakan sebuah karya sastra, termasuk puisi, kita memerlukan penghayatan. Agar dapat menghayati sebuah puisi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. 1. Memahami makna yang tersirat dan tersurat dalam puisi tersebut; 2. Memahami sejarah penciptaan puisi tersebut; 3. Membayangkan kita berada pada waktu ketika puisi tersebut dibuat. Dengan demikian, kita akan merasa bahwa kita sendiri yang mengalami rangkaian peristiwa dalam puisi tersebut. Selanjutnya, kita akan mampu membacakan puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat. Selain itu, kalian juga perlu berlatih pelafalan dan intonasi. Di antaranya adalah dengan olah vokal dan senam tubuh untuk membantu melancarkan pernapasan dan melenturkan persendian. Olah vokal adalah dengan melafalkan bunyi A, I, U, E, dan O. Olah vokal ini selain melatih lafal yang benar, juga untuk melatih pernapasan dada, pernapasan diafragma (sekat antara rongga dada dan rongga perut). Agar pernapasan panjang dan teratur, biasanya dilatih dengan lari dan senam di seputar kepala dan leher, seputar dada dan tangan, perut, dan kaki. Caranya, setelah berlari, kemudian senam, dan ketika mengambil napas, teriakkan bunyi vokal berulang-ulang. Sekarang cobalah berlatih olah vokal sebelum membacakan puisi!

Menulis Paragraf Deskriptif – 1. Ucapkan bunyi A, I, U, E, O secara berulang-ulang dengan suara lantang. 2. Ucapkan bunyi A, I, U, E, O dengan suara panjang secara bergantian

Jika kalian telah berlatih olah vokal, marilah kita berlatih membaca puisi berikut di dalam hati!

Meja Tulis Dries Di depanmu aku duduk menghadapi buku terkantuk-kantuk menghafal semalaman suntuk tapi sayang … tak masuk-masuk Di depan meja tulis sudah biasa aku menangis seperti setan yang meringis kala kenangan datang mengiris Di depan meja tulis aku membaca surat cinta pertama dari si dia tapi itu hanya kenangan lama yang datang di saat aku terlena Di depan meja tulis aku berdoa pada Tuhan yang maha kuasa agar aku tiada merana pada kenangan yang telah lama Sumber: Apresiasi Puisi Remaja. Catatan Mengolah Cinta. 2002. Riris K. Toha Sarumpet, Jakarta: Grasindo

Bagi seorang pelajar, meja tulis adalah sebuah barang yang sangat ”berharga”. Di meja tulis itulah, seorang pelajar biasanya melakukan aktivitasnya. Misalnya, saat belajar, menulis surat cinta, menangis, dan berdoa. Puisi itu lebih terasa sebagai curahan perasaan si Aku, yang sedang mengenang benda kesayangannya ”meja tulis”. Karena itu, nada yang digunakan untuk membacakan puisi itu, cukup dengan nada yang sedang. Gerakan dapat diatur, misalnya pada awalnya duduk sambil memegangi meja tulis, kemudian perlahan berdiri tetap sambil memegangi setiap bagian meja tulis. Saat membacakan bait ketiga, kalian berdiri seolah-olah sedang mengenang seseorang sampai akhir bait keempat.

Menulis Paragraf Deskriptif

Cobalah kalian membacakan puisi tersebut di depan kelas! Hayatilah puisi tersebut sesuai makna yang telah kalian ungkapkan! 1. Apakah kamu punya meja tulis di rumahmu? 2. Apa yang kamu lakukan di meja tulis itu? Apakah kamu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dries di atas?

Kalian telah memahami makna puisi tersebut. Sekarang, cobalah kalian membacakan puisi di atas di depan kelas! 1. Perhatikan lafal, intonasi, dan ekspresi saat kalian membacakan puisi itu! 2. Anggaplah kalian sedang mengenang benda kesayanganmu. Cobalah kalian pahami makna yang terkandung di dalam puisi berikut! Kemudian, bacalah puisi tersebut di depan kelas!

Sobat Hendri Sri Faja Resa Malam telah larut Seiring dentang lonceng kedua belas Habislah kenangan Terbakar ujung waktu Dan lembaran putih menghampar Di permadani biru perjalananmu Janganlah telapak tanganmu berlumpuran debu Biar putih hidup baru Tak membekas warna kelabu Ambillah tinta merah, kuning, jingga Sebab itulah warna ceria Bias hidup kita bahagia Hari ini, esok, dan selamanya Amin Sumber: Suara Merdeka, 19 Juni 2005

Unsur bunyi dalam puisi sangat penting karena dalam puisi, bunyi bersifat estetis. Sifat ini untuk mendapatkan keindahan dan tenaga untuk mengekspresikannya. Bunyi dalam puisi erat hubungannya dengan irama. Irama ini sangat diperlukan dalam pembacaan puisi agar sesuai dengan pelafalan, tekanan, dan intonasi pada puisi tersebut. Terlebih dalam berdeklamasi, irama diperlukan sekali. Dalam berdeklamasi, irama dan ketepatan ekspresi didapatkan dengan mempergunakan tekanan-tekanan pada kata.

Menulis Paragraf Deskriptif – Rangkuman

1. Mengidentifikasi unsur sastra sebuah cerita, pembelajarannya bertujuan untuk mengetahui unsur instrinsik dan ekstrinsik cerita pendek. Cerpen yang akan diapresiasi dibacakan terlebih dahulu, lantas diceritakan kembali isi cerpen tersebut. Unsur tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan amanat diungkapkan dari cerita pendek tersebut. Begitu juga unsur ekstrinsiknya, di antaranya unsur sosial, budaya, moral, dan pendidikan diungkapkan dari cerpen yang didengar tersebut. 2. Menceritakan berbagai pengalaman, pembelajarannya menceritakan pengalaman yang dialami, baik dialami sendiri atau mendengar dari orang lain. Pengalaman tersebut diceritakan dengan pilihan kata dan ekspresi yang benar. Ketika menceritakan pengalaman lucu, pendengar harus merasakan kelucuannya tersebut. Sebaliknya kalau menceritakan pengalaman haru, harus merasakan suasana mengharukan dalam cerita tersebut. 3. Membaca ekstensif teks nonsastra, pembelajarannya kalian terlebih dahulu mencari teks nonsastra dari berbagai sumber. Kalian membaca teks tersebut sambil mencatat pokok-pokok isi informasi. Kalian harus menemukan ide pokok teks. Teks tersebut harus diringkas, dicatat identitas teks, dan mencatat persamaan serta perbedaan isi teks dengan teks yang lainnya. 4. Menulis paragraf deskriptif, pembelajarannya kalian dianjurkan observasi terlebih dahulu untuk menentukan objek atau tema yang akan ditulis. Persiapan sebelum menulis kalian harus memahami unsur-unsur paragraf deskriptif. Tentukan objek yang akan ditulis. Barulah kalian membuat paragraf deskriptif hasil dari observasi dengan objek yang sudah ditentukan. 5. Membacakan puisi, kalian akan belajar membaca puisi dengan lafal, nada, dan intonasi yang benar. Puisi yang kalian siapkan atau yang ada dalam buku ajar, coba pahami dahulu, lantas dibacakan dengan pelafalan, intonasi, dan ekspresi yang benar.

 

Membaca Memindai Ekstensif Teks Nonsastra dan Menulis Paragraf

Membaca Memindai Ekstensif Teks Nonsastra dan Menulis Paragraf

Membaca Memindai Ekstensif Teks Nonsastra dan Menulis Paragraf

Membaca Memindai Ekstensif
Membaca Memindai Ekstensif

Membaca Memindai Ekstensif – Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Bagi sebagian orang, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Keberhasilan seseorang sering kali bergantung pada kemampuannya mengelola waktu. Akan tetapi, tidak semua orang mampu mengelola waktunya dengan baik. Mereka bersikap masa bodoh dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. K.H. Noer Iskandar, atau yang sering disapa Gus Nur, menyampaikan nasihat agar kita mengatur waktu kita mulai saat ini juga. Apakah kalian ingin mengetahui nasihat Gus Nur secara lengkap? Marilah kita membaca teks berikut! Cermati gagasan-gagasan yang beliau sampaikan agar kalian dapat menerapkannya pada kehidupan sehari-hari!

Keikhlasan Oleh K.H. Noer Iskandar

Membaca Memindai Ekstensif – Beberapa tahun belakangan ini bangsa kita sedang dirundung duka oleh datangnya berbagai macam musibah, mulai dari tsunamin di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta, dan bus. Di awal Ramadan kemarin, saudara kita di Bengkulu dan bagian lain di Sumatra baru saja terkena musibah gempa bumi berkekuatan cukup tinggi, sehingga rumah mereka hancur dan harta benda lainnya hilang. Sangat ironis memang ketika mereka seharusnya menyambut gembira datangnya bulan suci Ramadan, tiba-tiba datang bencana yang memorakporandakan harta benda dan rencana serta niat mereka menjalankan ibadah puasa. Namun, sebagai seorang beriman tentunya kita tidak memandang musibah ini dengan kacamata dan perasaan insani semata. Kita harus menerima musibah ini dengan kekuatan yang Nabi gambarkan tadi: ikhlas. Hikmah lain dari ibadah puasa itu adalah mencegah, menahan diri. Kalau kita tertimpa musibah, kita harus siap menerima semua ini dengan ikhlas dan lapang dada. Hal lain yang harus kita lakukan adalah introspeksi. Selama sekian tahun, terlalu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah swt. kepada kita. Barangkali, kita lupa sehingga kita tidak pernah bersyukur kepada-Nya. Musibah ini sebagai ujian atau teguran dari Allah untuk mendidik kita, karena sesungguhnya Allah mencintai kita. Oleh karena itu, jangan menganggap musibah ini sebagai azab atau hukuman, tetapi anggaplah ini sebagai cara Tuhan mencintai kita. Kalau kita lulus dari ujian ini, insya Allah, Allah swt. akan mengangkat derajat kita ke depan. Firman Allah menyatakan, maka sesungguhnya dalam bencana dengan kesulitan itu ada kemudahan. Kita tahu musibah di negeri ini tidak terjadi di bulan Ramadan saja. Kalau belakangan terjadi di bulan Ramadan ini hanya kebetulan saja. Itu cara Allah swt. menyayangi umat manusia. Seperti kita menyayangi anak kita, kalau anak salah, dijewer. Nah, kalau kita kena musibah, mungkin Allah sedang menjewer kita. Hikmahnya pasti ada. Ini barangkali cara Allah mendidik bangsa Indonesia agar kita tidak putus asa. Janganlah berputus asa dari nikmat-nikmat Allah. Karena tidak ada orang putus asa dari nikmat Allah, kecuali orang kafir.

Membaca Memindai Ekstensif

Jadi, esensi yang paling penting dari puasa orang terkena musibah adalah selalu berhusnuzan kepada Allah. Kalau kita berhusnuzan kepada Allah, pasti Allah akan baik kepada kita. Sebaliknya, kalau kita berburuk sangka kepada Allah, maka Allah akan berbuat hal yang sama dengan sangkaan kita. Sumber: Suara Karya, 5 Februari 2008

Bagaimana pendapat kalian setelah membaca teks tersebut? Apakah kalian setuju dengan pendapat Gus Nur bahwa kita memang perlu ikhlas dalam menghadapi masalah?

Nasihat yang disampaikan Gus Nur adalah petuah yang sangat bermanfaat. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kalian juga menyampaikan isi nasihat tersebut kepada orang lain: teman, saudara, orang tua, dan tetangga. Agar kalian dapat menyampaikan kembali isi nasihat itu secara baik, kalian perlu memahami nasihat itu secara benar. Ide pokok sebuah teks dapat diketahui dengan rumus 5W + 1H yang terdiri atas 1. what/apa, 2. who/siapa, 3. why/mengapa, 4. when/kapan, 5. where/di mana, dan 6. how/bagaimana. Untuk mengetahui aspek 5W + 1H pada teks di atas, cobalah kalian menjawab pertanyaan berikut! 1. Banyak orang yang sebenarnya memiliki kemampuan lebih, tetapi kurang berhasil dalam meraih cita-citanya. Mengapa? 2. Waktu yang dilalui setiap orang sama, yaitu 24 jam sehari. Akan tetapi, mengapa tidak semua orang bisa menggapai kesuksesan? 3. Waktu adalah sesuatu yang sangat misterius. Apa maksud pernyataan tersebut? 4. Menurut kalian, mengapa waktu bisa dirasakan sangat lambat berjalan, sebaliknya dapat pula dirasakan sangat cepat berjalan? Jika kalian berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan baik, dapat dikatakan kalian telah mampu menyerap isi teks yang kalian baca. Tentunya, kalian juga dapat menuliskan isi teks di atas secara ringkas. Temukan ide-ide pokok teks di atas!

Membaca Memindai Ekstensif

Menulis Paragraf Deskriptif 

Apa pentingnya waktu bagi kalian? Apakah kalian sudah menghargai waktu kalian? Bagi sebagian orang, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tidak jarang, mereka rela tidak makan dan tidak tidur. Mereka bekerja sepanjang waktu karena takut tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk melakukan pekerjaan mereka. Jika kalian pergi ke instansi pemerintah, kantor, sekolah, pasar, dan tempat-tempat lainnya, kalian akan melihat kesibukan di sana. Mereka yang berada di tempat itu melakukan rutinitas mereka. Di bawah ini disajikan gambaran rutinitas di sebuah sekolah.

Ruangan itu masih tampak sepi ketika aku datang. Hanya ada tiga orang murid, termasuk aku. Di luar sana, tepatnya di halaman, hanya ada beberapa anak sedang ngobrol. Pak Samin, tukang kebun sekolahku, terlihat sedang menyapu halaman. Sementara, Pardi, anaknya yang baru berumur lima tahun, terlihat ikut membantu ayahnya menyiram tanaman. Makin siang, makin banyak murid yang datang. Beberapa diantaranya langsung masuk keruangan mereka. Ada juga yang mampir ke kantin atau sekadar duduk di taman sambil membaca buku. Paragraf di atas menggambarkan keadaan sebuah sekolah pada pagi hari. Hal yang digambarkan pada paragraf tersebut adalah kegiatan yang terlihat oleh penulis. Paragraf seperti itu disebut paragraf deskriptif.

Membaca Memindai Ekstensif

Adapun langkah dalam membuat paragraf deskriptif adalah sebagai berikut. 1. Mengamati objek penulisan. 2. Menuliskan kalimat-kalimat yang menggambarkan keadaan suatu objek. Misalnya, apa yang ada di tempat itu, berapa jumlah orang yang ada di sana. Hindari pilihan kata yang berisi pendapat pribadi kalian. Misalnya, gadis itu cantik, kulitnya bersih. Penggambaran sosok gadis dengan kata bersih dan cantik adalah penggambaran yang subjektif. Cantik dan bersih memiliki sifat relatif. 3. Membacanya kembali dan menyunting atau memperbaiki tulisan kalian. Perbaikan dapat berupa pilihan kata, ejaan, dan kaidah kebahasaan lainnya.

4. Paragraf deskriptif sering digunakan untuk menuliskan hasil observasi atau pengamatan terhadap suatu objek. Paragraf deskriptif akan memberikan gambaran objektif tentang keadaan suatu objek. Carilah beberapa teks deskriptif. Bacalah wacana itu, kemudian tentukan ciri-ciri paragraf/wacana deskripsi berdasarkan teks yang kalian baca itu! 1. Buatlah daftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi tulisan yang berciri deskriptif! 2. Buatlah paragraf deskriptif menggunakan salah satu topik yang kalian daftar! 3. Suntinglah paragraf deskriptif yang ditulis temanmu! 4. Buatlah laporan tentang hasil observasi terhadap suatu objek!

Paragraf yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut. 1. Kesatuan, yaitu paragraf harus memperlihatkan dengan jelas suatu maksud dalam bentuk kalimat pokok. 2. Koherensi, yaitu kalimat satu dengan kalimat lain harus berhubungan. 3. Perkembangan alinea, yaitu ide/gagasan pokok harus dikembangkan dengan perincian yang lebih konkret.

Membaca Memindai Ekstensif

Mengidentifikasi Unsur-Unsur Bentuk Puisi 

Mendengarkan pembacaan puisi terkait dengan kegiatan berapresiasi terhadap karya sastra. Dalam mengapresiasi karya sastra, seorang apresiator harus memiliki kemampuan untuk menyimak halhal terpenting dalam puisi. Di antaranya mengetahui tema, makna, gaya bahasa, diksi, rima, irama, dan amanat. Tetapi, si pembaca puisi pun harus memiliki kemampuan membaca puisi yang baik. Tips membaca puisi yang baik adalah membaca puisi harus dengan pelafalan, intonasi, dan ekspresi yang baik. Ketiga bagian ini berhubungan erat dan memerlukan latihan yang benar. Hal itu disebabkan kebenaran dalam pelafalan, intonasi, dan ekspresi akan membantu menyampaikan pesan penyair kepada pendengar. Pesan penyair yang terdapat dalam rentetan kata-kata yang ditulisnya, tentu ada yang eksplisit dan implisit. Jika si pembaca benar dalam pelafalan dan intonasinya maka nada, perasaan, dan citraan dalam sajak itu akan terungkap. Lafal dalam pembacaan puisi erat kaitannya dengan gerak suara pada bagian tubuh yang akan mengeluarkan suara. Kualitas vokal akan terbantu jika lafal benar. Lafal erat kaitannya dengan peralatan alat ucap, yaitu bibir yang membentuk huruf m-b-p. Lidah yang membentuk huruf c-d-l-n-r-s-t. Rahang juga diperlukan untuk membentuk suara wawawa atau yayaya. Langit-langit akan membentuk m-ka-ng. Selain melatih alat agar elastis mengeluarkan pelafalan yang benar, seorang pembaca puisi harus berlatih olah vokal, yaitu A-I-U-E-O. Ekspresi dilatih melalui olah sukma, olah rasa, dan olah penghayatan terhadap makna yang dibuat penyair dalam sajak tersebut. Refleksi batin akan keluar dan terlihat oleh penggemar melalui ekspresi wajah, reaksi tangan, dan gerak tubuh. Latihannya selain harus memperkaya dari bahan bacaan, pengalaman atau berkontemplasi dengan kenyataan. Ekspresi dapat dilatih dengan senam wajah, senam badan, dan melatih pernapasan.

Membaca Memindai Ekstensif