Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik dan Contoh Hikayat Melayu

Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik dan Contoh Hikayat Melayu

Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik dan Contoh Hikayat Melayu

Sastra Melayu Klasik – Dalam pelajaran 7C, Anda telah belajar mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra Melayu klasik. Agar lebih lengkap memahami sastra Melayu klasik, Anda perlu membaca kembali dan memahami karya sastra Melayu klasik. Lalu, Anda akan menganalisis nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, diharapkan Anda akan lebih mampu mengambil manfaat dari mengapresiasi sastra Melayu klasik.

Sastra Melayu Klasik
Sastra Melayu Klasik

Menemukan Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik

Sastra Melayu Klasik – Untuk memahami karya sastra Melayu klasik, akan lebih mudah apabila Anda memahami karakteristik dan strukstur unsur intrinsik sastra Melayu klasik. Oleh karena itu, sebaiknya Anda betul-betul memahami pelajaran sebelumnya (7C). Agar lebih tuntas, gunakan kembali karya sastra Melayu klasik pada pelajaran sebelumnya tersebut. Dengan demikian, Anda dapat menganalisis karya sastra Melayu klasik secara tuntas. Bacalah kelanjutan Hikayat Patani berikut.

Sastra Melayu Klasik

Hikayat Patani

Hatta antara berapa tahun lamanya baginda diatas takhta kerajaan itu, maka baginda pun berputera tiga orang, dan yang tua laki-laki bernama Kerub Picai Paina dan yang tengah perempuan bernama Tunku Mahajai dan bungsu laki-laki bernama Mahacai Pailang. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Naqpa pun sakit merkah segala tubuhnya, dan beberapa segala hora dan tabib mengobati tiada juga sembuh. Maka baginda pun memberi titah kepada bendahara suruh memalu canang pada segala daerah negeri: barang siapa bercakap mengobati baginda, jikalau sembuh, raja ambilkan menantu. Arkian maka baginda pun sangat kesakitan duduk tiada ikrar. Maka bendahara pun segera bermohon keluar duduk di balairung menyuruhkan temenggung memalu canang, ikut seperti titah baginda itu. Arkian maka temenggung pun segera bermohon keluar menyuruhkan orangnya memalu canang. Hatta maka canang itu pun dipalu oranglah pada segerap daerah negeri itu, tujuh hari lamanya, maka seorang pun tiada bercakap. Maka orang yang memalu canang itu pun berjalan lalu di luar kampung orang Pasai yang duduk di biara Kampung Pasai itu. Syahdan antara itu ada seorang Pasai bernama Syaikh Sa’id. Setelah didengarnya oleh Syaikh Sa’id seru orang yang memalu canang itu, maka Syaikh Sa’id pun keluar berdiri di pintu kampungnya. Maka orang yang memalu canang itu pun lalulah hampir pintu Syaikh Sa’id itu. Maka kata Syaikh Sa’id: “Apa kerja tuan-tuan memalu canang ini?” Maka kata penghulu canang itu: “Tiadakan tuan hamba tahu akan raja didalam negeri ini sakit merkah segala tubuhnya? Berapa segala hora dan tabib mengobati dia tiada juga mau sembuh; jangankan sembuh, makin sangat pula sakitnya.

Sastra Melayu Klasik – Dari karena itulah maka titah raja menyuruh memalu canang ini, maka barang siapa bercakap mengobati raja itu, jikalau sembuh penyakitnya, diambil raja akan menantu.” Maka kata Syaikh Sa’id: “Kembalilah sembahkan kepada raja, yang jadi menantu raja itu hamba tiada mau, dan jikalau mau raja masuk agama Islam, hambalah cakap mengobat penyakit raja itu.” Setelah didengar oleh penghulu canang itu, maka ia pun segera kembali bersembahkan kepada temenggung seperti kata Syaikh Sa’id itu. Arkian maka temenggung pun dengan segeranya Pergi maklumkan kepada bendahara seperti kata penghulu canang itu. Setelah bendahara menengar kata temenggung itu, maka bendahara pun masuk menghadap baginda menyembahkan seperti kata tememggung itu. Maka titah baginda: “Jikalau demikian, segeralah bendahara suruh panggil orang Pasai itu.” Arkian maka Syaikh Sa’id pun dipanggil oranglah. Hatta maka Syaikh Sa’id pun datanglah menghadap raja. Maka titah raja pada Syaikh Sa’id: “Sungguhkah tuanhamba bercakap mengobati penyakit hamba ini?” Maka sembah Syaikh Sa’id: “Jikalau Tuanku masuk agama Islam, hambalah mengobat penyakit Duli Syah ‘Alam itu.” Maka titah raja: “Jikalau sembuh penyakit hamba ini, barang kata tuanhamba itu hamba turutlah.” Setelah sudah Syaikh Sa’id berjanji dengan raja itu, maka Syaikh Sa’id pun duduklah mengobat raja itu. Ada tujuh hari lamanya, maka raja pun dapatlah keluar dihadap oleh menteri hulubalang sekalian. Arkian maka Syaikh Sa’id pun bermohonlah kepada baginda, lalu kembali ke rumahya. Antara berapa hari lamanya maka penyakit raja itu pun sembohlah. Maka raja pun mungkirlah ia akan janjinya dengan Syaikh Sa’id itu. Hatta ada dua tahun selamanya, maka raja pun sakit pula, seperti dahulu itu juga penyakitnya. Maka Syaikh Sa’id pun disuruh panggil pula oleh raja. Telah Syaikh Sa’id datang, maka titah baginda: “Tuan obatlah penyakit hamba ini. Jikalau sembuh penyakit hamba sekali ini, bahwa barang kata tuanhamba itu tiadalah hamba lalui lagi.”

Sastra Melayu Klasik – Maka kata Syaikh Sa’id: “Sungguh-sungguh janji Tuanku dengan patik, maka patik mau mengobati Duli Tuanku. Jikalau tiada sungguh seperti titah Duli Tuanku ini, tiadalah patik mau mengobat dia”. Setelah didengar raja sembah Syaikh Sa’id itu demikian, maka raja pun berteguh-teguhan janjilah dengan Syaikh Sa’id. Arkian maka Syaikh Sa’id pun duduklah mengobat raja itu. Ada lima hari maka Syaikh Sa’id pun bermohonlah pada raja kembali kerumahnya. Hatta antara tengah bulan lamanya, maka penyakit raja itu pun sembuhlah. Syahdan raja pula mungkir akan janjinya dengan Syaikh Sa’id itu. Hatta antara setahun lamanya maka raja itu pun sakit pula, terlebih dari pada sakit yang dahulu itu, dan duduk pun tiada dapat karar barang seketika. Maka Syaikh Sa’id pun disuruh panggil oleh raja pula. Maka kata Syaikh Sa’id pada hamba raja itu: “Tuanhamba pergilah sembahkan kebawah Duli Raja, tiada hamba mau mengobati raja itu lagi, karena janji raja dengan hamba tiada sungguh.” Hatta maka (hamba)raja itu pun kembalilah, maka segala kata Syaikh Sa’id itu semuanya dipersembahkannya kepada raja. Maka titah raja kepada bentara: “Pergilah engkau panggil orang Pasai itu, engkau katakan padanya jikalau sembuh penyakitku sekali ini, tiadalah kuubahkan janjiku dengan dia itu. Demi berhala yang ku sembah ini, jikalau aku mengubahkan janjiku ini, janganlah sembuh penyakitku ini selama-lamanya.” Arkian maka bentara pun pergilah menjunjungkan segala titah raja itu kepada Syaikh Sa’id. Maka kata Syaikh Sa’id: “Baiklah berhala tuan raja itulah akan syaksinya hamba: jikalau lain kalanya tiadalah hamba mau mengobat raja itu.” Hatta maka Syaikh Sa’id pun pergilah mengadap raja. Setelah Syaikh Sa’id datang, maka titah raja: “Tuan obatilah penyakit hamba sekali ini. Jikalau sembuh penyakit hamba ini, barang yang tuan kata itu bahwa sesungguhnya tiadalah hamba lalui lagi.” Maka kata Syaikh Sa’id: “Baiklah, biarlah patik obat penyakit Duli Tuanku. Jikalau sudah sembuh Duli Tuanku tiada masuk agama Islam sekali ini juga, jika datang penyakit Tuanku kemudian harinya, jika Duli Tuanku bunuh patik sekalipun, ridhalah patik; akan mengobat penyakit Tuanku itu, patik mohonlah.” Maka titah raja: “Baiklah, mana kata tuan itu, hamba turutlah.” Setelah itu maka raja pun diobat pula oleh Syaikh Sa’id itu. Hatta antara tiga hari lamanya maka Syaikh Sa’id pun bermohon pada raja, kembali kerumahnya.

Hatta antara dua puluh hari lamanya maka penyakit raja itu pun sembuhlah. Sebermula ada sebulan selangnya, maka pada suatu hari raja semayam di balairung diadap oleh segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka titah baginda: “Hai segala menteri hulubalangku, apa bicara kamu sekalian, karena aku hendak mengikut agama Islam?” Maka sembah sekalian mereka itu: “Daulat Tuanku, mana titah patik sekalian junjung, karena patik sekalian ini hamba pada kebawah Duli Yang Mahamulia.” Hatta setelah raja mendengar sembah segala menteri hulubalangnya itu, maka baginda pun terlalulah sukacita, lalu berangkat masuk ke istana. Setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun menitahkan bentara kanan pergi memanggil Syaikh Sa’id, serta bertitah pada bendahara suruh menghimpunkan segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka baginda pun semayam di balairung diadap oleh rakyat sekalian. Pada tatkala itu Syaikh Sa’id pun datanglah menghadap raja diiringkan oleh bentara. Setelah Syaikh Sa’id itu datang maka raja pun sangatlah memuliakan Syaikh Sa’id itu. Maka titah baginda: “Adapun hamba memanggil tuanhamba ini, karena janji hamba dengan tuanhamba ini hendak masuk agama Islam itulah.” Setelah Syaikh Sa’id mendengar titah raja demikian itu, maka Syaikh Sa’id pun segera mengucup tangan raja itu, lalu dijunjungnya. Sudah itu maka diajarkanlah kalimat syahadat oleh syaikh, demikian bunyinya: “Asyhadu an la ilâha illa l-Lâh wa asyhadu anna Muhammadan rasulu lLâh.” Maka raja pun kararlah membawa agama Islam.

Sastra Melayu Klasik – Setelah sudah raja mengucap kalimat syahadat itu, maka Syaikh Sa’id pun mengajarkan kalimat syahadat kepada segala menteri hulubalang dan rakyat yang ada hadir itu pula. Telah selesailah Syaikh Sa’id dari pada mengajarkan kalimat syahadat pada segala mereka itu, maka sembah Syaikh Sa’id: “Ya Tuanku Syah ‘Alam, baiklah Tuanku bernama mengikut nama Islam, karena Tuanku sudah membawa agama Islam, supaya bertambah berkat Duli Tuanku beroleh syafa’at dari Muhammad rasul Allah, salla lLâhu alaihi wa sallama diakirat jemah.” Maka titah baginda: “Jikalau demikian, tuanhambalah memberi nama akan hamba.” Arkian maka raja itu pun diberi nama oleh Syaikh Sa’id, Sultan Isma’il Syah Zillullâh Fi l’Alam. Setelah sudah Syaikh Sa’id memberi nama akan raja itu, maka titah baginda: “Anak hamba ketiga itu baiklah tuanhamba beri nama sekali, supaya sempurnalah hamba membawa agama Islam.” Maka kembali Syaikh Sa’id: “Barang bertambah kiranya daulat sa’adat Duli Yang Mahamulia, hingga datang kepada kesudahan zaman paduka anakanda dan cucunda Duli Yang Mahamulia karar sentosa diatas takhta kerajaan di negeri Patani Dasussalam.” Arkian maka Syaikh Sa’id pun memberi nama akan paduka anakanda baginda yang tua itu Sultan Mudhaffar Syah dan yang tengah perempuan itu dinamainya Sitti ‘A’isyah dan yang bungsu laki-laki dinamainya Sultan Manzur Syah. Setelah sudah Syaikh Sa’id memberi nama akan anakanda baginda itu, maka baginda pun mengaruniai akan Syaikh Sa’id itu terlalu banyak dari pada emas perak dan kain yang indah-indah. Hatta maka Syaikh Sa’id pun [pun] bermohonlah pada raja, lalu kembali ke rumahnya di biara Kampung Pasai. Syahdan pada zaman itu segala rakyat yang di dalam negeri juga yang membawa agama Islam, dan segala rakyat yang diluar daerah negeri seorang pun tiada masuk Islam. Adapun raja itu sungguhpun ia membawa agama Islam, yang menyembah berhala dan makan babi itu juga yang ditinggalkan; lain dari pada itu segala pekerjaan kafir itu suatu pun tiada diubahnya.

Sumber: Hikayat Seribu Satu Malam

Setelah membaca karya sastra Melayu klasik tersebut, Anda dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Anda dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat tersebut dengan mempertimbangkan karakteristik dan unsur-unsur intrinsik yang telah Anda identifikasi sebelumnya. Nilai-nilai yang dapat Anda temukan dalam karya sastra Melayu klasik dapat berupa nilai budaya, moral, dan agama. Nilai budaya yang dapat kita temukan dari karya sastra Melayu klasik pasti berhubungan dengan budaya Melayu. Begitu juga nilai moral pasti dipengaruhi adat yang berlaku di suku Melayu. Adapun nilai agama akan dipengaruhi agama Islam yang dianut sebagian besar bangsa Melayu. Nilai-nilai tersebut dapat Anda temukan apabila Anda membaca dan memahami karya sastra Melayu klasik tersebut.

 

Membaca Karya Contoh Sastra Melayu Klasik

Membaca Karya Contoh Sastra Melayu Klasik

Membaca Karya Contoh Sastra Melayu Klasik

Contoh Sastra Melayu Klasik
Contoh Sastra Melayu Klasik

Contoh Sastra Melayu Klasik – Banyak jenis karya sastra yang dapat kita nikmati. Setiap jenis karya sastra memiliki ciri-ciri dan sifat yang berbeda-beda. Demikian juga dengan karya sastra Melayu klasik. Karya sastra Melayu klasik memiliki ciri-ciri khusus, tetapi secara umum memiliki kesamaan dengan karya sastra lain. Sebagai contoh, karya sastra Melayu klasik juga memiliki unsur intrinsik sebagaimana karya sastra lain, terutama yang sama-sama berbentuk prosa. Agar lebih jelas, bacalah contoh karya sastra Melayu klasik berikut!

Contoh Sastra Melayu Klasik

Hikayat Sri Rama

Maharaja Rawana dibuang ke Bukit Serendib. Di Bukit itu ia bertapa dengan cara yang paling hebat: kakinya digantung, kepalanya di bawah. Selama dua belas tahun ia bertapa. Tuhan lalu mengasihaninya dan mengirim Nabi Adam untuk menanyai apa kehendaknya. Rawana memohon empat kerajaan pada Tuhan: satu kerajaan dalam dunia, satu kerajaan pada keinderaan, satu kerajaan di dalam bumi, dan satu lagi di dalam laut. Permohonan Rawana disetujui Tuhan dengan syarat, Rawana harus memerintah dengan adil dan dilarang mengerjakan pekerjaan haram. Dalam naskah lain disebut juga dilarang mengganggu anak-isteri orang. Di kerajaannya di keinderaan, Rawana kawin dengan Puteri Nila Utama dan beranakkan Indra Jat. Genap dua belas tahun, Indra Jat dirajakan di keinderaan. Di kerajaannya yang di bumi, Rawana kawin dengan Puteri Pertiwi Dewi dan mempunyai anak Patala Maharayan. Sesudah genap umur, Patala Maharayan dirajakan di bumi. Di kerajaannya yang di dalam laut, Rawana kawin dengan Gangga Maha Dewi dan beranakkan Gangga Maha Suri. Sesudah genap umur, anak ini dirajakan di dalam laut. Di dunia, Rawana membuat sebuah negeri yang sangat indah. Negeri itu ialah Langkapuri. Maka Rawana pun menjadi raja yang adil di Langkapuri. Semua kerajaan di dalam dunia takluk kepada hukumnya. Yang masih belum takluk hanya empat buah negeri saja, yaitu Indrapuri, Biruhasa, Lekorkatakina, dan Aspaha. ……………………………………………………………………………………………………………………………….

Dasarata Maharaja, seorang raja yang gagah, pahlawan di negeri Isafa, tidak mempunyai putera. Atas nasihat seorang brahmana, baginda mengadakan acara pemujaan Homam. Tidak lama kemudian kedua permaisuri baginda pun hamillah. (Dalam Shellabear karena memakan biji geliga yang diberikan oleh seorang brahmana). Mandudari puteri yang lahir dari buluh betung beranakkan Rama dan Laksamana. Baliadari, beranakkan Beradan, Citradan dan seorang anak perempuan Kikewi Dewi namanya (anak perempuan ini tak disebut dalam Shellabear). Sri Rama adalah seorang anak raja yang terlalu elok parasnya dan gagah berani, tetapi nakal. Karena kenakalannya itu, sekalian menteri lebih senang kalau anak Baliadri, Beradan atau Citradan yang dirajakan dalam negeri. Dasarata sendiri juga pernah dua kali berjanji akan merajakan anak-anak Baliadri dalam negeri karena jasajasa gundiknya ini. Rawana mendengar bahwa Dasarata sudah memperisterikan seorang puteri yang sangat elok parasnya. Timbul keinginan untuk memilikinya (puteri itu). Rawana lalu datang dan meminta puteri itu kepada Dasarata. Dasarata tidak keberatan. Mandudari segera diberitahu hal ini. Mandudari masuk ke suatu bilik. Tidak lama kemudian keluarlah seorang puteri yang serupa dengan Mandudari, Mandudaki namanya. Puteri itu lalu dibawa pulang oleh Rawana. Seketika itu juga keluarlah Mandudari dari biliknya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Puteri yang dibawa Rawana bukanlah dirinya sendiri, melainkan puteri yang dijadikan dari mengubah daki. Dasarata sangat gembira sebab istrinya tetap ada. Di samping itu, ia meminta seorang perempuan tua membawanya ke istana Rawana. Pada malam hari ia meniduri puteri itu dan dengan demikian, menjadi ayah dari anak Rawana.

Contoh Sastra Melayu Klasik

Setelah beberapa lamanya, Mandudaki pun hamillah dan melahirkan seorang puteri yang sangat elok parasnya. Puteri itu ialah Sita Dewi. Menurut ramalan ahlinujum, suami Sita Dewilah kelak yang akan membunuh Rawana. Rawana terlalu murka, mau rasanya membunuh Sita Dewi ketika itu juga. Atas rayuan Mandudaki, Sita Dewi ditaruh dalam peti besi dan dihanyutkan ke laut. Sekali peristiwa Maharisi Kali, raja negeri Darwati Purwa, bertapa di laut dan mendapatkan peti besi yang dihanyutkan oleh Rawana. Sita Dewi diselamatkannya dan dipelihara dengan baik. Tak lama kemudian, mashyurlah kepada segala alam bahwa Maharisi Kali mempunyai seorang puteri yang sangat elok parasnya. Setelah umur Sita Dewi genap dua belas tahun, Maharisi Kali mengadakan sayembara untuk memilih menantu: barang siapa yang dapat mengangkat panah yang ada di halaman rumahnya dan dapat pula memanah pohon lontar dengan sekali terus empat puluh pohon, dia akan diterima menjadi suami Sita Dewi. Banyaklah sudah anak raja yang besar-besar berkumpul di negeri Maharisi Kali. Yang tidak datang hanyalah anak-anak Dasarata. Maharisi lalu pergi menjemput anak-anak Dasarata. Dengan hati yang berat, Dasarata melepaskan Seri Rama dan Laksamana pergi mengikuti Maharisi Kali ke negeri Darwati Purwa. Dalam perjalanan, Rama sudah menunjukkan keberaniannya. Raksasa Jagina (Sh. Jekin), badak, naga (ular) yang selalu mengganggu perjalanan manusia habis ditewaskan. Sayembara dimulai. Tetapi tidak seorang pun anak raja yang dapat dengan sekali panah, menerusi empat puluh pohon lontar. Rawana sendiri hanya dapat menerusi tiga puluh delapan pohon saja. Akhirnya, dengan tenang Rama masuk ke dalam gelanggang sayembara. Dengan sekali panah saja, keempat puluh pohon lontar teruslah semuanya. Bukan main terkejutnya anak-anak raja yang berkumpul di situ. Dengan demikian, Rama pun beroleh Sita Dewi sebagai isteri. Untuk mencoba kearifan Rama, Maharisi Kali menyembunyikan Sita Dewi dalam rumah berhala pula. Ia mengatakan kepada Rama bahwa Sita sudah hilang. Dengan mudah saja, Rama menemukan Sita kembali. Dalam perjalanan pulang pula, ada empat orang anak raja yang putus asa mencoba menghalangi Rama. Tetapi, semuanya dapat dikalahkan oleh Rama. Segala persiapan sedang diadakan untuk menabalkan Rama dalam negeri. Si Budak Bungkuk menghasut Baliadri menuntut Dasarata supaya menunaikan janjinya, yaitu menabalkan anak-anak Baliadri. Apa daya, kata raja tak dapat diubah maka terpaksalah Dasarata mengabulkan permohonan Baliadri. Rama dan Sita, bersama-sama Laksamana lalu meninggalkan negeri dan pergi bertapa di dalam hutan.

Contoh Sastra Melayu Klasik

Sementara itu, pembinaan jambatan (titian) hampir selesai. Gangga Mahasura, anak Rawana, berusaha membinasakan titian itu. Tetapi, semua ikan dan ketam yang dikirimkan untuk melaksanakan tugas itu, habis dibinasakan oleh Hanuman. Rawana mulai gentar dan berunding dengan saudara dan menteri-menterinya tentang serangan Rama yang bakal datang itu. Bibusanam, menteri yang tua, mengusulkan supaya Sita dikembalikan kepada Rama. Rawana marah dan mau membunuh Bibusanam yang terpaksa melarikan diri dan menyerah diri kepada Rama. Anak-anak Rawana, Indra Jat dan Kumbakarna juga menganjurkan supaya Sita dikembalikan saja. Rawana tetap berkeras. Akhirnya, peperangan pun berlangsung. Anak-anak Rawana satu demi satu gugur di medan perang. Mulamula Buta Dapat, kemudian Patala Maharayan, kemudian Indra Jat dan akhirnya Mula Patani. Selepas itu, keluarlah Rawana sendiri. Sesudah peperangan sengit, berpanah-panahan, akhirnya Rawana tewas juga. Dengan demikian, berakhirlah peperangan antara Rama dengan Rawana. Masuklah Rama ke dalam kota Langkapuri. Rama tidak mau menerima Sita kembali, takut kalau-kalau Sita sudah diperkosa oleh Rawana. Sita membuktikan kesuciannya dengan duduk di dalam api yang menyala. Akhirnya, berkumpullah Rama dan Sita kembali. ……………………………………………………………………………………………………………………………….

Di tempat Maharisi Kala, Sita melahirkan seorang anak, Tilawi (Sh. Lawa) namanya.

Contoh Sastra Melayu Klasik – Sekali peristiwa, Maharisi Kala membawa Tilawi berjalan-jalan. Tilawi tersesat jalan dan kembali sendiri ke tempat ibunya. Maharisi Kala takut kalau-kalau Tilawi sudah hilang, lalu memuja lalang. Dengan seketika terjadilah seorang anak lakilaki yang mirip dengan Tilawi. Anak tersebut diberi nama Kusa. Sesudah besar, Tilawi dan Kusa menjadi anak muda yang gagah berani. Banyak raksasa yang dibunuh mereka. Sesudah beberapa lama, Rama pun sadar akan kesalahannya dan meminta Sita kembali. Setelah Sita Dewi pulang, segala mergastua pun berbunyi kembali dan Kikewi Dewi datang meminta ampun kepada Sita. Tilawi dikawinkan dengan Puteri Indra Kusuma Dewi, anak Indra Jat, dan dirajakan di dalam negeri Durja Pura. Kusa dikawinkan dengan Gangga Surani Dewi, anak Gangga Mahasura, dan dirajakan di dalam negeri Langkapuri. Setelah beberapa lama, Rama membuat negeri di tempat orang bertapa. Negeri itu dinamainya Ayodhya Pura Negara. Sesudah empat puluh tahun lamanya hidup bersuka-sukaan dengan Sita dalam pertapaan maka Sri Rama pun kembalilah dari negeri yang fana ke negeri yang baka. Dikutip dari cerita Hikayat Sri Rama, menurut naskah Roorda dan Shellabear dan disarikan oleh Liaw Yock Fang. Dikutip tanpa pengubahan kebahasaan.

Contoh Sastra Melayu Klasik