Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim
Dampak perubahan iklim

Dampak perubahan iklim – Kenaikan muka air laut antara 8 hingga 30 centimeter juga akan berdampak parah pada kota-kota pesisir seperti Jakarta dan Surabaya yang akan makin rentan terhadap banjir dan limpasan badai. Masalah ini sudah menjadi makin parah di Jakarta karena bersamaan dengan kenaikan muka air laut, permukaan tanah turun: pendirian bangunan bertingkat dan meningkatnya pengurasan air tanah telah menyebabkan tanah turun. Namun Jakarta memang sudah secara rutin dilanda banjir besar: pada awal Februari, 2007, banjir di

Dampak perubahan iklim – Jakarta menewaskan 57 orang dan memaksa 422.300 meninggalkan rumah, yang 1.500 buah di antaranya rusak atau hanyut. Total kerugian ditaksir sekitar 695 juta dolar.7 Suatu penelitian memperkirakan bahwa paduan kenaikan muka air laut setinggi 0,5 meter dan turunnya tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan enam lokasi terendam secara permanen dengan total populasi sekitar 270,000 jiwa, yakni: tiga di Jakarta – Kosambi, Penjaringan dan Cilincing; dan tiga di Bekasi – Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya.8 Banyak wilayah lain di negeri ini juga akhir-akhir ini baru dilanda bencana banjir. Banjir besar di Aceh, misalnya, di penghujung tahun 2006 menewaskan 96 orang dan membuat mengungsi 110,000 orang yang kehilangan sumber penghidupan dan harta benda mereka. Pada tahun 2007 di Sinjai, Sulawesi Selatan banjir yang berlangsung berharihari telah merusak jalan dan memutus jembatan, serta mengucilkan 200.000 penduduk. Selanjutnya masih pada tahun itu, banjir dan longsor yang melanda Morowali, Sulawesi Utara memaksa 3.000 orang mengungsi ke tenda-tenda dan barakbarak darurat.

Dampak perubahan iklim – Beban kumulatif Masyarakat miskin karenanya adalah yang akan paling menderita oleh perubahan iklim. Namun, berbagai dampak ini juga akan menambah berbagai kesengsaraan yang sudah mereka alami. Beban kesengsaraan itu antara lain: Yang miskin makin miskin Bagi rakyat yang hidupnya sudah sengsara, berbagai tambahan beban dari perubahan iklim akan makin menyengsarakan – dan makin menuntut biaya. Kebanyakan petani padi, misalnya, saat ini menggunakan varietas hibrid yang menuntut ketersediaan air yang cukup. Ketika hujan tidak turun pada waktunya, sebagian mereka sudah harus berhutang untuk membeli bahan bakar untuk memompa air tanah. Dengan begitu meski sawah mereka akhirnya dapat menghasilkan panen, sebagian besar hasil panen itu akan digunakan untuk membayar hutang. Suatu ilustrasi nyata pengaruh bencana berkaitan dengan iklim terhadap masyarakat miskin terjadi di Indramayu Jawa Barat – sebuah kabupaten yang pada waktu tahun El Niño biasanya mengalami kemarau panjang.Diagram 5 menunjukkan taraf kemiskinan pada tahun normal 2001, dibandingkan dengan tahun El Niño 2003.9 Ini boleh jadi merupakan akibat perubahan iklim yang disertai kenaikan harga bahan pokok dan BBM.

Dampak perubahan iklim – Selain perikanan, wilayah pesisir Indonesia menawarkan lapangan kerja cukup besar – yaitu menyerap sekitar 15 persen tenaga kerja, yang meliputi eksplorasi minyak dan gas, transportasi, pertanian, dan pariwisata. Aktivitas ekonomi ini menyumbang sekitar 25 persen produk domestik bruto sehingga kenaikan muka air laut akan memberikan dampak besar pada berbagai aktivitas sosioekonomi. Masalah kesehatan tambah parah Pemanasan global juga akan berdampak parah pada masalah kesehatan. Lagi-lagi, dampak paling parah akan dirasakan oleh masyarakat miskin yang paling tidak siap menghadapinya. Curah hujan tinggi dan banjir akan menimbulkan dampak amat parah bagi sistem sanitasi yang masih buruk di wilayah-wilayah kumuh di berbagai daerah dan kota, menyebarkan penyakit-penyakit yang menular lewat air seperti diare dan kolera. Suhu panas berkepanjangan yang disertai oleh kelembapan tinggi juga dapat menyebabkan kelelahan karena kepanasan terutama pada masyarakat miskin kota dan para lansia. Keluarga miskin juga umumnya tinggal di lingkungan yang rawan terhadap perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat di Indonesia secara tradisional menganggap peralihan musim dari musim panas ke musim hujan, yaitu musim pancaroba, sebagai musim yang berbahaya dan orang-orang tua mengingatkan yang muda agar lebih berhati-hati pada musim itu. Perubahan iklim ini akan meningkatkan risiko baik bagi yang muda maupun para lansia dengan memungkinkan nyamuk menyebar ke wilayah-wilayah baru. Hal itu sudah terjadi di tahun El Niño 1997 ketika nyamuk berpindah ke dataran tinggi di Papua. Suhu lebih tinggi juga menyebabkan beberapa virus bermutasi – yang tampaknya sudah terjadi pada virus penyebab demam berdarah dengue, yang membuat penyakit ini makin sulit diatasi. Kasus demam berdarah dengue di Indonesia juga sudah ditemukan meningkat secara tajam di tahun-tahun La Niña (Diagram 6).

Masalah kesehatan lainnya muncul akibat kabut asap tebal yang menyebabkan infeksi pernapasan akut, serta iritasi mata dan kulit. Tahun 1997 berbagai kebakaran di delapan provinsi telah menimbulkan sekitar 9 juta kasus infeksi pernapasan Kasus kurang gizi bertambah Wilayah-wilayah paling tertinggal juga adalah wilayah yang cenderung mengalami kelangkaan pangan. Di Nusa Tenggara Timur, Timor Barat, Sumba Timur, dan pulau-pulau di sebelah timur Flores banyak masyarakat yang sudah merasakan dampak parah berubah-ubahnya iklim – dengan menurunnya kesuburan tanah di sana oleh curah hujan yang tidak menentu dan kemarau panjang di tahun-tahun El Niño. Lebih dari sepertiga populasi di berbagai pelosok wilayah ini hidup di bawah garis kemiskinan. Di tahun-tahun El Niño 2002 dan 2005, sekitar 25 persen anak balita mengalami kurang gizi akut. Di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, misalnya, yang mendapat curah hujan paling rendah di Indonesia, kemarau panjang yang diikuti oleh kegagalan panen, telah menimbulkan dampak parah dan kasus kurang gizi merebak di seluruh provinsi ini – antara 32 hingga 50 persen.10 Sumber air berkurang Perubahan pola curah hujan juga menurunkan ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Di pulau Lombok dan Sumbawa antara tahun 1985 dan 2006, jumlah titik air menurun dari 580 menjadi hanya 180 titik.11 Sementara itu, kepulauan ini juga mengalami ‘jeda musim’- kekeringan panjang selama musim penghujan – yang kini menjadi makin sering, menimbulkan gagal panen. Di seluruh negeri, kini makin banyak saja sungai yang makin dangkal seperti Sungai Ular (Sumatra Utara), Tondano (Sulawesi Utara), Citarum (Jawa Barat), Brantas (Jawa Timur), Ciliwung-Katulampa (Jawa Barat), Barito-Muara Teweh (Kalimantan Tengah), serta Larona-Warau (Sulawesi Selatan).12 Di wilayah pesisir, berkurangnya air tanah disertai kenaikan muka air laut juga telah memicu intrusi air laut ke daratan – mencemari sumber-sumber air untuk keperluan air bersih dan irigasi. Kebakaran tambah sering Kemarau panjang disertai perubahan tata guna lahan sudah menimbulkan peningkatan risiko kebakaran. Di Kalimantan Tengah, misalnya, Proyek Lahan Gambut di tahun 1990 an semula dimaksudkan untuk mengkonversi sejuta hektar lahan gambut menjadi perkebunan sawit. Proyek ini bukan saja gagal, tetapi juga telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa sekaligus juga menghancurkan sumber penghidupan masyarakat di wilayah sekitarnya yang bergantung pada kebun karet sebagai sumber utama nafkah mereka. Banyak pohon karet mereka ikut terbakar ketika lahan gambut terbakar. Sejak itu kebakaran menjadi sulit dikendalikan, terutama pada tahun-tahun El Niño dan terutama akibat pembangunan kanal-kanal untuk mengeringkan rawa dan penggunaan api untuk membuka lahan. Di tahun El-Niño 1997 total luas lahan gambut yang rusak karena kebakaran di Indonesia diperkirakan sekitar 6,8 juta hektar.13 Kebakaran yang terjadi berulang kali itu tidak saja menimbulkan masalah kesehatan tetapi juga menghancurkan sumber-sumber nafkah rakyat – meningkatkan angka kemiskinan hingga 30 persen atau lebih.14 Kebakaran pada tahun-tahun El Niño juga menimbulkan berbagai kerusakan di seluruh negeri ini: di tahun 1997 saja biaya kerugian diperkirakan mencapai antara 662 hingga 1056 juta dolar Amerika.15

Keniscayaan adaptasi – Seruan untuk bertindak

Beradaptasi terhadap perubahan iklim merupakan prioritas mendesak bagi Indonesia. Seluruh kementerian dalam pemerintahan dan perencanaan nasional perlu mempertimbangkan perubahan iklim dalam program-program mereka – berkenaan dengan beragam persoalan seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, keamanan pangan, pengelolaan bencana, pengendalian penyakit, dan perencanaan tata kota. Namun ini bukan merupakan tugas pemerintah pusat belaka, tetapi harus menjadi upaya nasional yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat umum, dan semua organisasi nonpemerintah, serta pihak swasta. Di tahun-tahun belakangan ini masyarakat dunia semakin meresahkan efek pemanasan global dan di awal tahun 1990an telah mengonsep United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), yang diberlakukan pada 1994. Di dalam kerangka ini mereka mengajukan dua strategi utama: mitigasi dan adaptasi (Boks 5). Mitigasi meliputi pencarian cara-cara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca atau menahannya, atau menyerapnya ke hutan atau ‘penyerap’ karbon lainnya. Sementara itu adaptasi, mencakup cara-cara menghadapi perubahan iklim dengan melakukan penyesuaian yang tepat – bertindak untuk mengurangi berbagai pengaruh negatifnya, atau memanfaatkan efek-efek positifnya.

Tentang Materi Dampak Negatif Migrasi

Tentang Materi Dampak Negatif Migrasi

Tentang Materi Dampak Negatif Migrasi

Dampak Negatif Migrasi
Dampak Negatif Migrasi

Dampak Negatif Migrasi

Dampak negatif migrasi internasional

Dampak Negatif Migrasi – Selain memberikan banyak dampak positif bagi kehidupan masyarakat, migrasi juga dapat menimbulkan dampak negatif yang kurang baik. Dampak negatif yang ditimbulkan migrasi internasional berbeda dengan dampak negatif migrasi nasional. 1) Dampak negatif imigrasi adalah sebagai berikut. a) Orang-orang yang melakukan imigrasi adakalanya di antara mereka terdapat orang-orang yang bertujuan tidak baik, seperti pengedar narkoba, bertujuan politik, memata-matai, dan sebagainya. b) Imigran asing yang datang untuk bekerja kadang-kadang dapat menimbulkan kecemburuan sosial antara tenaga kerja asing dan tenaga kerja dalam negeri. c) Berkembangnya budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Dampak Negatif Migrasi – Apabila filter dari masyarakat rendah, dapat merusak budaya kita. 2) Dampak negatif emigrasi adalah sebagai berikut. a) Tenaga-tenaga terampil dalam negeri lebih memilih tinggal di luar negeri, apabila kehidupan di luar negeri lebih baik. b) Jika emigran-emigran dari Indonesia ke luar negeri merupakan tenaga-tenaga ahli/terampil, akan mengurangi tenaga ahli yang ada di dalam negeri. c) Oknum emigran-emigran dari Indonesia yang melakukan tindakan-tindakan yang dilarang di negara lain, dapat memperburuk citra Indonesia di luar negeri.

Dampak negatif migrasi nasional

Dampak Negatif Migrasi – Migrasi nasional yang banyak terjadi di Indonesia terutama transmigrasi dan urbanisasi. 1) Dampak negatif transmigrasi adalah sebagai berikut. a) Transmigrasi memerlukan dana yang cukup besar sehingga banyak menghabiskan keuangan negara. b) Terkadang mendorong kecemburuan sosial antara masyarakat setempat dan para transmigran. c) Adanya transmigran yang kurang sungguh-sungguh dapat menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan transmigrasi sehingga dana yang dikeluarkan menjadi sia-sia. d) Beberapa orang dari transmigran tidak betah di tempat tinggal yang baru dan kembali lagi ke tempat asalnya. Hal ini menyebabkan citra transmigrasi menjadi kurang baik.

Dampak Negatif Migrasi – Dalam mengatasi dampak negatif dari transmigrasi, dapat dilakukan beberapa upaya, di antaranya sebagai berikut.

a) Dalam rangka mengurangi biaya yang dikeluarkan pemerintah, jenis proyek transmigrasi dapat lebih diutamakan transmigrasi spontan atau swakarsa.

b) Dilakukan proses seleksi yang lebih baik kepada calon-calon transmigran sehingga orang-orang yang ditransmigrasikan benar-benar telah siap mental maupun fisik.

c) Menyiapkan lahan yang baik dan siap untuk ditempati.

d) Dilakukan kerja sama dengan masyarakat setempat di daerah dekat transmigrasi, seperti diadakan pelatihan bersama dan bantuan berupa fasilitas yang hampir sama dengan yang diberikan kepada para transmigran.

2) Dampak negatif urbanisasi Urbanisasi yang terus-menerus berlangsung dapat menyebabkan jumlah penduduk kota meningkat dengan cepat sehingga terjadilah ledakan penduduk di perkotaan dan sebaliknya persentase penduduk desa terus mengalami penurunan.

Pertumbuhan jumlah penduduk kota yang sebagian berasal dari urbanisasi, telah menimbulkan berbagai masalah yang merupakan dampak negatif dari urbanisasi antara lain sebagai berikut. a) Terhadap desa: (1) Produktivitas desa menjadi rendah karena penduduk yang tinggal di desa kebanyakan orang-orang tua. Para pemudanya biasanya lebih senang tinggal di kota. (2) Tenaga terampil di desa berkurang dengan berpindahnya tenaga berpendidikan dan terampil ke kota. (3) Umumnya orang-orang desa yang berurbanisasi ke kota yang melanjutkan pendidikan enggan kembali sehingga desa kekurangan tenaga terdidik.

b) Terhadap kota: (1) Mendorong terjadinya kemacetan lalu lintas. (2) Mendorong meningkatnya harga lahan di kota sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat kecil. (3) Banyaknya yang tinggal di kota menyebabkan persediaan tenaga kerja lebih besar daripada kesempatan kerja sehingga terjadilah pengangguran. (4) Banyaknya pengangguran dapat mendorong meningkatnya kriminalitas. (5) Padatnya penduduk di kota menyebabkan timbulnya permukimanpermukiman kumuh. Beberapa dampak negatif di atas tentunya perlu diatasi dengan sebaik-baiknya sehingga tidak menimbulkan akibat yang lebih parah, baik bagi kehidupan di perkotaan maupun di pedesan. Di antara upaya yang dapat dilakukan di antaranya adalah:

a) Pemerataan pembangunan ke daerah-daerah sehingga penduduk tidak selalu terdorong untuk pindah ke kota. b) Pengembangan perekonomian desa sehingga kesempatan kerja dan sumbersumber keuangan tersedia pula di desa. c) Pembangunan sarana dan prasarana umum seperti jalan raya, listrik, telepon dan sebagainya di pedesaan sehingga hubungan antara desa dan kota menjadi lancar. d) Pembangunan sarana pendidikan yang memadai sehingga orang desa tidak harus selalu pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya.

Rangkuman 

1. Penduduk menurut UUD 1945 Bab X Pasal 26 adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. 2. Perubahan jumlah penduduk di suatu daerah dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu kelahiran, kematian, dan migrasi. 3. Fertilitas (kelahiran) adalah tingkat kelahiran hidup dari seorang wanita selama masa reproduksinya. Maksudnya, masa seorang wanita siap untuk melahirkan keturunan. 4. Mortalitas (kematian) adalah meninggalnya seorang penduduk menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk. 5. Migrasi adalah berpindahnya seorang penduduk dari suatu tempat ke tempat lain yang menyebabkan berkurang atau bertambahnya jumlah penduduk. 6. Bentuk migrasi di antaranya, imigrasi (pindahnya penduduk ke negara lain), emigrasi (masuknya penduduk dari negara lain), transmigrasi (pindahnya penduduk ke pulau lain dalam suatu negara), dan urbanisasi (pindahnya penduduk dari desa ke kota). 7. Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk di suatu wilayah per satuan luas. Tingkat kepadatan penduduk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kepadatan penduduk aritmatik dan kepadatan penduduk agraris. 8. Piramida penduduk adalah diagram batang komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dan umur yang disusun horizontal. 9. Komposisi penduduk adalah susunan atau tata susun penduduk suatu negara atau suatu wilayah berdasarkan kriteria tertentu. 10. Usia harapan hidup dapat diartikan pula dengan banyaknya tahun yang ditempuh penduduk yang masih hidup sampai umur tertentu.

REFLEKSI Jika terdapat materi yang belum dipahami, pelajari kembali secara seksama dan diskusikan bersama kelompok belajarmu, carilah referensi lain yang relevan, termasuk Internet. Lebih lanjut, tanyakan kepada guru bidang studi IPS di sekolahmu agar semua materi dapat dikuasai!

Pilihan Ganda Pilihlah jawaban yang menurut kamu paling benar!

1. Penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Definisi tersebut diungkapkan dalam UUD 1945 …. a. Pasal 26 c. Pasal 28 b. Pasal 27 d. Pasal 19

2. Keseluruhan proses pengumpulan, pengolahan, dan publikasi data demografis di suatu negara untuk seluruh penduduk pada periode waktu tertentu disebut …. a. survei penduduk b. sensus penduduk c. pendataan penduduk d. statistik penduduk

3. Berikut ini bukan termasuk faktor utama yang secara langsung berpengaruh terhadap jumlah penduduk adalah …. a. migrasi b. kelahiran c. kematian d. sensus penduduk

4. Meninggalnya seorang penduduk menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk disebut …. a. mortalitas c. fertilitas b. natalitas d. nuptialitas

5. Susunan atau tata susun penduduk suatu negara atau suatu wilayah berdasarkan kriteria tertentu disebut …. a. piramida penduduk b. ledakan penduduk c. sensus penduduk d. komposisi penduduk

6. Kepadatan penduduk aritmatik ditentukan oleh perbandingan antara jumlah penduduk dan …. a. penyebaran penduduk b. luas wilayah c. pertumbuhan penduduk d. kelahiran dan kematian

7. Besarnya angka harapan hidup dipengaruhi oleh …. a. umur maksimum yang mungkin dicapai b. jumlah kematian bayi c. jumlah penduduk usia tua menurun d. pertumbuhan penduduk menurun 8. Pelaksanaan transmigrasi yang biayanya ditanggung bersama oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah tujuan transmigrasi disebut …. a. sektoral b. khusus c. swakarsa d. swakarya

9. Berikut yang bukan merupakan tujuan transmigrasi adalah …. b. meningkatkan produksi pangan c. menciptakan manusia Indonesia seutuhnya d. meningkatkan taraf hidup penduduk e. menciptakan lapangan kerja

10. Dampak positif dari urbanisasi antara lain …. a. membuat kota semakin ramai b. jumlah penduduk desa semakin berkurang c. mengurangi pengangguran di desa d. memperlancar hubungan desa dengan kota

Uraian Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 1. Jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan penduduk! 2. Sebutkan faktor-faktor yang dapat menghambat kelahiran! 3. Jelaskan perbedaan kepadatan penduduk aritmatik dan agraris! 4. Jelaskan dampak positif dari adanya program transmigrasi! 5. Jelaskan pendapatmu tentang ungkapan “banyak anak banyak rejeki” !

Tugas !

Berkunjunglah ke kelurahan atau kantor kepala desa tempat kamu tinggal. Mintalah informasi tentang jumlah penduduk. Kemudian, kelompokan antara berdasarkan jenis kelamin, kategori penduduk asli atau pendatang, rata-rata usia dan tingkat pendidikan. Kemudian, buatlah grafik dari masing-masing pengelompokan tersebut dengan menggunakan komputer. Laporkan kepada gurumu yang mengajar mata pelajaran IPS!

Terima kasih telah berkunjung di web kami, kami hanya menyediakan materi yang kami dapat di sumber yang terpencaya, semoga bermanfaat !

Memahami Dampak PMS Penyakit Menular Kelamin

Memahami Dampak PMS Penyakit Menular Kelamin

PMS Penyakit Menular kelamin

PMS Penyakit Menular Kelamin – Penyakit menular kelamin, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak kelamin. Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama.

PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, belum dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian.

PMS Penyakit Menular kelamin
PMS Penyakit Menular kelamin

Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan. Penting untuk diperhatikan bahwa kontak kelamintidak hanya hubungan kelamin melalui alat kelamin. Sebetulnya, tidak ada kontak kelaminyang dapat benar-benar disebut sebagai “hubungan intim aman”.

Satu-satunya yang betul-betul “hubungan intim aman” adalah abstinensia. Hubungan intim dalam konteks hubungan monogamy di mana kedua individu bebas dari PMS juga dianggap “aman”. Kebanyakan orang menganggap berciuman sebagai aktivitas yang aman. Sayangnya, sifilis, herpes dan penyakit-penyakit lain dapat menular lewat aktivitas yang nampaknya tidak berbahaya. Semua bentuk lain kontak kelamin juga berisiko.

PMS Penyakit Menular kelamin- Beberapa penyakit menular kelamin:

1. Klamidia – klamidia adalah PMS yang sangat berbahaya dan biasanya tidak menunjukkan gejala; 75% dari perempuan dan 25% dari pria yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali.

2. Gonore – gonore adalah salah satu PMS yang sering dilaporkan. 40% penderita akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) jika tidak diobati, dan hal tersebut dapat menyebabkan kemandulan.

3. Hepatitis B – vaksin pencegahan penyakit ini sudah ada, tapi sekali terkena penyakit ini tidak dapat disembuhkan; dapat menyebabkan kanker hati.

4. Herpes – terasa nyeri dan dapat hilang timbul; dapat diobati untuk mengurangi gejala.

5. HIV/AIDS – dikenal pertama kali pada tahun 1984, AIDS adalah penyebab kematian ke enam pada laki-laki dan perempuan muda. Virus ini fatal dan menimbulkan rasa sakit yang cukup lama sebelum kemudian meninggal.

6. Human Papilloma Virus (HPV) & Kutil kelamin – PMS yang paling sering, 33% dari perempuan memiliki virus ini, yang dapat menyebabkan kan ker serviks dan penis serta nyeri pada kelamin.

7. Sifilis – jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati yang serius.

8. Trikomoniasis – dapat menyebabkan keputihan yang berbusa atau tidak ada gejala sama sekali. Pada perempuan hamil dapat menyebabkan kelahiran premature.

Dampak / akibat PMS

PMS Penyakit Menular kelamin – Perempuan dibawah usia 16 tahun yang pernah melakukan hubungan intim bebas akan beresiko tinggi terkena kanker serviks, beresiko tertular penyakit menular kelamin (PMS), mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) yang bisa menyebabkan kemandulan. Terjadinya KTD (Kehamilan yang Tidak Diinginkan) hingga tindakan aborsi yang dapat menyebabkan gangguan kesuburan, kanker rahim, cacat permanen bahkan berujung pada kematian.

Dampak psikologis yang seringkali terlupakan ketika terkena PMS adalah akan selalu muncul rasa bersalah, marah, sedih, menyesal, malu, kesepian, tidak punya bantuan, binggung, stress, benci pada diri sendiri, benci pada orang yang terlibat, takut tidak jelas, insomnia (sulit tidur), kehilangan percaya diri, gangguan makan, kehilangan konsentrasi, depresi, berduka, tidak bisa memaafkan diri sendiri, mimpi buruk, merasa hampa, halusinasi, sulit mempertahankan hubungan/komunikasi dengan sesama, seorang remaja akan semakin nekad/membangkang dan tidak patuh lagi pada orang tua, terlibat konfrontasi dengan sanak saudara lainnya, melemahkan perekonomian, produktivitas menurun, kondisi fisik dan mental yang menurun karena takut akan hukuman Tuhan