Juraij dan Bayi yang Dapat Berbicara

Juraij dan Bayi yang Dapat Berbicara

Dikisahkan bahwa hiduplah seorang wanita tua dengan seorang anak lelakinya
yang sangat saleh dan taat kepadanya. Pemuda tersebut bernama Juraij. Ia
terkenal akan kepatuhannya kepada sang ibu, juga ketaatannya dalam beribadah
kepada Allah Swt. Agar ibadahnya lebih khusu’, Juraij membangun tempat ibadah
semacam mu¡alla yang tidak jauh dari rumahnya.
Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan ?alat, tiba-tiba ibunya datang
memanggilnya, “Wahai Juraij!”. Dalam hatinya, Juraij bergumam, “Wahai
Rabbku, apakah yang harus aku dahulukan, meneruskan ?alatku ataukah
memenuhi panggilan ibuku?” Dalam kebimbangan, dia memutuskan untuk tetap
meneruskan ?alatnya. Akhirnya sang ibu pulang. images (2)

Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil, “Wahai Juraij!” Juraij
yang saat itu pun sedang ?alat bergumam dalam hatinya, “Wahai Rabbku,
apakah aku harus meneruskan ?alatku ataukah (memenuhi) panggilan ibuku?”
Juraij pun memutuskan bahwa ?alat lebih utama untuk dilanjutkan daripada
membatalkannya untuk memenuhi panggilan ibunya. Ia pun tetap meneruskan
?alatnya. Ibunya pun kembali pulang untuk-kedua kalinya.
Hari berikutnya, yaitu untuk ketiga kalinya ia datang lagi seraya memanggil,
“Wahai Juraij!”. Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan ?alat. Seperti halnya
panggilan yang pertama dan kedua, Juraij bimbang apakah meneruskan ?alat
ataukah membatalkannya untuk memenuhi panggilan ibunya tercinta. Akhirnya,
Juraij memutuskan untuk melanjutkan ?alatnya dan baru kemudian memenuhi
panggilan ibunya.
Dengan perasaan kecewa dan jengkel setelah tiga kali panggilannya tidak
mendapat respons dari anaknya, sang ibu berdoa, “Ya Allah Swt., janganlah
engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur”. Orang-orang
Bani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut nama Juraij serta ketekunan
ibadahnya sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik jelita
mengatakan, “Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij).” Wanita pelacur
itu pun kemudian merayu dan menawarkan diri kepada Juraij. Tetapi sedikitpun
Juraij tak memperdulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita
itu? Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat
ibadah Juraij.
Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanita itu kemudian merayunya.
Maka, terjadilah perzinaan antara dia dengan penggembala itu. Hingga akhirnya
wanita itu hamil. Manakala bayinya telah lahir, dia membuat pengakuan palsu
dengan berkata kepada orang-orang, “Bayi ini adalah anak Juraij.” Mendengar
hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij,
memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya dan memukulinya.
Juraij yang tidak tahu masalahnya bertanya dengan heran, “Ada apa dengan
kalian? Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan
anakmu,” jawab mereka. Maka, tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita
lacur itu. Lantas ia bertanya, “Di mana bayinya?”. Mereka pun membawa bayinya.
Juraij berkata, “Biarkan saya melakukan ?alat dahulu”, kemudian dia berdiri
untuk melaksanakan ?alat. Seusai menunaikan ?alat, dia menghampiri si bayi
lalu mencubit perutnya seraya bertanya, “Wahai bayi, siapakah ayahmu?” Si bayi
menjawab, “Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala.”
Akhirnya, masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan
mengusapnya. Mereka meminta maaf dan berkata, “Kami akan membangun
tempat ibadahmu dari emas.” Juraij mengatakan, “Tidak, bangun saja seperti
semula, yaitu dari tanah liat.” Lalu, mereka pun mengerjakannya. (Dikutip dari
Kitab Hadis ?a¥i¥ Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang dikembangkan).

Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw

Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw

Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw

1. Memiliki Sikap Tangguh

Dalam upaya meraih kesuksesan, diperlukan sikap tangguh dan pantang menyerah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. ketika ia berjuang memberantas kemusyrikan. Lihat pula bagaimana orang-orang yang sukses meraih cita-citanya, mereka bersusah-payah berusaha terus-menerus tanpa mengenal lelah sehingga mereka menjadi orang yang berhasil dalam cita-citanya. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan dan tidak ada pula kesuksesan tanpa kerja keras dan tangguh pantang menyerah.

Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw
Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw

Ketangguhan datang dengan sendirinya. Ia memerlukan pembelajaran dan latihan (riya«ah) secara terus-menerus. Ketangguhan juga harus didukung oleh kesehatan fisik dan pemahaman yang benar. Kedua-duanya harus berjalan beriringan dan saling mendukung. Kekuatan fisik dibarengi dengan pemahaman yang benar akan melahirkan manfaat yang besar, demikian pula sebaliknya.

Sikap tangguh dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat di antaranya. seperti berikut.

a. Menggunakan waktu untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan prestasi yang tinggi.

b. Secara terus-menerus mencoba sesuatu yang belum dapat dikerjakan sampai ditemukan solusi untuk mengatasinya.

c. Melaksanakan segala peraturan di sekolah sebagai bentuk pengamalan sikap disiplin dan tanggung jawab.

d. Menjalankan segala perintah agama dan menjauhi larangannya dengan penuh keikhlasan.

e. Tidak putus asa ketika mengalami kegagalan dalam meraih suatu keinginan. Jadikanlah kegagalan sebagai cambuk agar tidak mengalaminya lagi di kemudian hari.

2. Memiliki Jiwa Berkorban

Perhatikan bagaimana para pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini! Selain mereka berjuang dengan tangguh dan pantang menyerah, merela rela mengorbankan apa saja untuk kemerdekaan bangsa ini. Perngorbanan mereka tidak hanya berupa harta, keluarga yang ditinggalkan, bahkan mereka rela meregang nyawa untuk memperjuangkan kemerdekaan beragama dan berbangsa.

Oleh karena itu, janganlah pernah merasa pernah berjuang tanpa memberikan pengorbanan yang berarti. Perilaku yang mencerminkan jiwa berkorban dalam kehidupan sehari-hari misalnya seperti berikut.

1. Menyisihkan waktu sebaik mungkin untuk kegiatan yang bermanfaat.

Hal ini penting mengingat waktu yang kita miliki sangatlah terbatas. Jika waktu yang kita gunakan lebih banyak untuk kegiatan yang percuma, siapsiaplah untuk menyesal karena waktu yang telah lewat tidak akan kembali lagi. Misalkan karena kamu tidak belajar dengan sungguh-sungguh sementara kamu ingin lulus dengan nilai yang tinggi, kamu akan menyesal karena mendapatkan nilai yang rendah dan harus mengulang lagi.

2. Mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Kepentingan bersama di atas segala-galanya. Itulah kalimat yang sering diungkapkan oleh kebanyakan manusia. Akan tetapi, kenyataannya belum tentu demikian. Kebanyakan manusia lebih mengutamakan kepentingan pribadinya daripada kepentingan orang banyak. Sebagai orang yang beriman, tentu kita tidak boleh termasuk ke dalam golongan orang yang demikian. Rasulullah saw. mencontohkan, bagaimana ketika ia hendak berbuka puasa dengan sepotong roti, sementara ada orang yang datang untuk meminta roti tersebut karena sangat kelaparan, dan Rasul memberikan roti tersebut kepada orang itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku yang dapat kita lakukan dalam hal ini misalkan antre saat berada di tempat umum, seperti: di bank, loket pembayaran, berkendara di lampu lalu lintas ketika warna merah menyala, dan lain sebagainya.

3. Menyisihkan sebagian harta untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Dalam harta kita terdapat sebagian hak orang lain yang membutuhkannya. Islam mengajarkan bahwa bersedekah itu tidak akan mengurangi harta sedikit pun, bahkan ia akan mendatangkan harta yang lebih banyak lagi.