Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

Cerita Rakyat – Ringkasan cerita rakyat yang akan diperdengarkan kali ini berasal dari Irian Jaya. Judulnya adalah “Kapak Ajaib”. Pilihlah seorang teman Anda untuk membacakannya di depan kelas. Tutuplah buku Anda. Dengarkanlah cerita yang dibacakan teman Anda itu dengan penuh perhatian!

Cerita Rakyat Kapak Ajaib

Cerita Rakyat – Di Kampung Bomou, hiduplah seorang pemuda bernama Gokeiyawi Ikomou. Pada suatu hari ia pergi ke kebunnya di Geida, kira-kira jauhnya satu kilometer dari Danau Tigi. Sesampainya di kebun, ia bermaksud menebang sebatang pohon mai yang kering di tepi kebunnya. Ikomou melangkah ke dekat pohon tersebut. Ia mengambil kapak, lalu mulai menebang batang pohon mai. Apa yang terjadi? Tiba-tiba kapak itu terlepas lalu terlempar jauh. Ikomoru berjalan mengambil kapaknya yang terlempar tadi. Ketika ia akan memegang kapak itu, kapak tersebut melompat beberapa meter ke arah danau Tigi, Ikomou merasa heran karena hal seperti itu terasa ajaib. Ikomou mendekati kapak itu lagi, lalu menunduk untuk memegangnya. Tetapi, kapak itu melompat beberapa meter ke arah danau. Ikomou langsung lari menahan kapak itu, tetapi kapak itu berlari lebih cepat. Akhirnya, kapak itu melompat masuk ke dalam perahu yang ada di tepi danau. Ikomou pun bergerak melompat masuk ke dalam perahu. Selanjutnya, perahu itu sendiri berlayar ke arah Danau Tigi. Sesampai di tengah-tengah danau, perahu itu tenggelam dan tiba-tiba Ikomou sudah berada di dasar danau. Kapak itu lalu berlari ke arah sebuah rumah yang ada di tengah-tengah sebuah kebun serta taman yang luas. Kapak itu kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Maka, Ikomou pun lari masuk ke dalam rumah itu. Ternyata di dalam rumah itu ada seorang lakilaki setengah baya sedang duduk. Di hidungnya terdapat hiasan gigi babi putih mengkilat bagai salju sehingga tampak seperti bulan sabit pada malam hari. Wajahnya dihiasi dinai (zat pewarna) merah sehingga wajah bagai sinar matahari di senja hari. Ia menerima Ikomou dengan ramah. Ikomou diajak jalan-jalan ke taman yang luas itu. Di taman itu tumbuh segala jenis tanaman atau tumbuhan, baik yang besar ataupun yang kecil. Tanaman itu berwarna-warni. Ikomou meminta segala jenis tanaman itu, tetapi dilarangnya. Selanjutnya, mereka masuk kembali ke dalam rumah. Sementara mereka sedang duduk di dalam rumah, dari sudut rumah itu muncullah seorang Kapak Ajaib laki-laki yang Ikomou pernah lihat, tetapi tidak tahu siapa namanya. Orang yang baru datang itu menghadap tuan rumah tersebut, lalu mereka memperbincangkan sesuatu, kemudian menghilang dari tempat itu. Tidak lama kemudian, datang juga seorang perempuan. Konon, Ikomou tahu persis siapa perempuan tersebut. Kemudian, perempuan itu menghilang. Setelah beberapa lama tinggal di situ, tuan rumah itu mempersilakan Ikomou pulang kembali ke rumah. Sebelum pulang, Ikomou dihadiahi beberapa benda, seperti anak panah dan busur serta kain timur (merah). Kapaknya juga dikembalikan kepada Ikomou. Selanjutnya, Ikomou diantar ke perahu. Perahu itu dengan sendirinya bergerak sampai di permukaan Danau Tigi. Dari permukaan Danau Tigi, perahu itu bergerak sendiri sehingga sampai di tempat semula. Sesudah itu, Ikomou langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, semua orang heran karena selama empat hari mencari-cari dia. Semua orang yang tinggal bersama dia itu menceritakan bahwa seorang lakilaki dan seorang perempuan telah tenggelam di Danau Tigi. Kini, Ikomou mengetahui bahwa setiap orang yang tenggelam dalam danau itu arwahnya selalu melaporkan diri kepada orang tua yang wajahnya seperti bulan sabit yang berdiam diri dalam danau itu. Akan tetapi, semua yang pernah ia lihat di dalam danau itu dirahasiakannya. Selanjutnya, apabila ingin makan daging, Ikomou memanahkan busurnya ke arah tertentu sehingga tidak lama kemudian orang akan datang membawakan daging dari arah tersebut. Begitu ganti-berganti setiap saat. Akhirnya, Ikomou hidup bahagia hingga maut datang kepadanya. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari Sastra Lisan Ekagi, Dharmodjo, 1998; 107-108)

Cerita Rakyat – Lakukanlah kegiatan berikut! 1. Jelaskan isi atau amanat cerita rakyat “Kapak Ajaib” yang baru saja Anda dengar! 2. Ceritakan kembali cerita rakyat tersebut dalam ringkasan di depan kelas! 3. Ungkapkanlah hal-hal yang menarik/ mengesankan dari cerita itu bagi Anda! 4. Diskusikanlah nilai-nilai yang dikandung cerita tersebut dalam kelompok diskusi Anda, kemudian memaparkan hasilnya di depan kelas dengan memerhatikan pelafalan kata dan kalimat yang tepat! 5. Bandingkanlah nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai cerita masa kini!

Lakukanlah kegiatan berikut bersama-sama anggota kelompok Anda! 1. Membaca sebuah cerita rakyat secara bergantian. 2. Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. 3. Mengungkapkan nilai-nilai tersebut secara lisan dengan pelafalan kata dan susunan kalimat yang benar. 4. Membuat ringkasan cerita rakyat tersebut dalam beberapa paragraf, lalu memaparkannya di depan kelas.

Mendiskusikan Masalah yang Ditemukan dari Artikel

Cerita Rakyat – Pada subbab ini, Anda akan mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku). Setelah mempelajari subbab ini, Anda diharapkan dapat (1) memahami ringkasan isi berita, artikel, atau isi buku yang disampaikan oleh peserta diskusi, (2) menyampaikan ringkasan berita, artikel, atau isi buku dalam forum diskusi, (3) menanggapi ringkasan isi berita, artikel, atau buku yang disampaikan peserta diskusi, (4) menyampaikan sikap setuju dan tidak setuju dalam beberapa kalimat, (4) memberikan bukti pendukung untuk memperkuat tanggapan, dan (5) mengajukan saran atau pemecahan masalah terhadap ringkasan isi yang disampaikan.

Anda bisa memperoleh beragam informasi dari bermacam-macam media, baik elektronik maupun cetak. Apabila Anda mendengar informasi atau berita melalui siaran televisi atau radio, ataupun membaca artikel buku cobalah cermati isi pengetahuan, informasi, atau berita itu. Anda mungkin saja ingin mengomentari atau menanggapi pengetahuan, informasi, atau berita itu dalam hal-hal tertentu.

Nah, sebagai bahan latihan Anda, bacalah artikel berikut secara saksama!

Tindakan Kekerasan di Lingkungan Sekolah Oleh HELMI GUNAWAN, S.T, M.Si

Cerita Rakyat – Kejadian kekerasan dalam satu institusi pendidikan kerap terjadi. STPDN contohnya, yang akhirnya berganti nama menjadi IPDN merupakan gambaran institusi pencetak pamong praja yang memiliki kurikulum yang terprogram dan disesuaikan dengan cita-cita luhur menjadi pemimpin rakyat (sipil). Namun, dalam perjalanannya terjadi missmanagement sistem pendidikan dengan berbagai peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi tragisnya berujung dengan kematian dan pelibatan orang dalam menutupi kesalahan-kesalahan tersebut. Akhirnya, keburukan itu sekarang terbongkar dan menjadi sorotan semua pihak bahkan ditangani langsung oleh Presiden SBY Perpeloncoan sebagai salah satu bentuk tindak kekerasan sering terjadi pada institusi pendidikan mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga perguruan tinggi. Telah berapa banyak korban yang berjatuhan hingga menyebabkan kematian akibat dari proses pendidikan yang tidak terkontrol dengan baik. Kematian akibat dari dampak penayangan acara olahraga hiburan sarat kekerasan seperti smackdown pernah menghiasi media di Indonesia yang terjadi hampir di setiap daerah. Kejadian ini ironisnya terjadi di lingkungan sekolah di mana para orang tua menitipkan putra-putrinya untuk belajar. Pernah pula terjadi kasus kematian dan cedera yang dihadapi oleh mahasiswa-mahasiswa baru pada beberapa perguruan tinggi akibat acara orientasi penerimaan mahasiswa. Semua kasus-kasus yang ada mengindikasikan berbagai tindakan kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan kita. Tindakan kekerasan ataupun pelecehan-pelecehan yang menyertainya dalam istilah luar dikenal dengan sebutan bullying. Menurut Olweus (1993) “Bullying can consists of any action that is used to hurt another child repeatedly and without cause”. Tindakan yang dilakukan dapat berupa fisik, verbal ataupun kejadian siksaan mental ataupun emosi seseorang. Sesuatu yang sering terlihat oleh mata kita seperti permainan ataupun pelecehan-pelecehan dapat saja digolongkan sebagai kegiatan ritual dari bullying. Bullying dapat ditemukan di setiap sekolah pada tiap negara. Hal ini merupakan suatu cara anakanak muda berinteraksi dengan lingkungannya. Setiap institusi pendidikan harus mengetahui keberadaan dan dampak dari bullying tersebut dan berusaha mencegah hal tersebut terjadi. Bila kejadian bullying didiamkan atau masih terjadi, murid akan mengalami pelecehan-pelecehan atau tindakan kekerasan dan aklibatnya secara psikologis mengalami stress dan korban dapat menderita seumur hidupnya. Sebagai contoh pada kasus penyiksaan di IPDN, seperti yang diberitakan oleh berbagai media televisi walaupun korban secara fisik dalam keadaan normal atau tidak cacat, namun sampai mereka lulus dari sekolah tersebut dan bekerja ataupun berkeluarga selama hampur lebih dari 5 – 10 tahun tetap mengalami beberapa trauma akibat bullying yang terjadi pada masa lampau. Pada beberapa negara di dunia kejadian ini dapat dicegah dan dikurangi dengan campur tangan pihak sekolah yang tidak mendiamkan ataupun menutup mata atas peristiwa yang terjadi. Tragisnya yang terjadi adalah campur tangan pihak penyelenggara pendidikan agar kasus ini tidak terungkap. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa bullying merupakan masalah internasional yang terjadi di hampir semua sekolah. Terjadi kesamaan permasalahan di tiap-tiap negara dan tidak ada batasan-batasan internasional, status sosial-ekonomi ataupun etnis. Di Amerika berdasarkan studi NEA (National Education Agency) kejadian ini sudah bukan lagi permainan anak-anak, tapi merupakan pengalaman menakutkan yang dialami oleh hampir seluruh siswa dan terjadi tiap hari. Selama dekade akhir, bullying telah mengalami perubahan menjadi lebih mematikan dan semakin rutin terjadi pada dua dekade sebelumnya. Kejadian bullying tidak hanya ditujukan bagi siswa sekolah dasar. Kejadian ini malah banyak terjadi pada segmen pendidikan menengah dan mahasiswa karena dapat mengalami penderitaan terbesar. Hal tersebut diakibatkan penggunaan kondisi fisiknya yang matang (kekuatan fisiknya). Adapun ciri-ciri bullying, di antaranya sebagai berikut.

Selengkapnya Sumber: Penulis, bekerja pada bidang pendidikan. (Dikutip dengan perubahan dari Pikiran Rakyat, 5 Juli 2007; 12)

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Latar Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Apakah Anda memiliki peranan aktif dalam masyarakat? Anda dapat memanfaatkan kemampuan menulis untuk berperan serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda dapat mengungkapkan gagasan-gagasan yang dimiliki dalam bentuk tulisan informatif. Paragraf argumentatif merupakan salah satu sumber informasi yang berawal dari sebuah gagasan. Dalam pelajaran ini, Anda dapat berlatih menulis paragraf argumentatif. Selain itu, Anda pun akan berlatih memahami sumber informasi lainnya, antara lain cerita rakyat dan grafik. Pada pembelajaran membaca grafik, Anda akan berlatih merangkum informasi yang ada dalam grafik tersebut. Sementara itu, dalam bidang sastra Anda akan berlatih menganalisis halhal menarik yang berkaitan dengan latar dalam cerita rakyat. Adapun bentuk penyajian cerita rakyat tersebut dapat berupa bacaan ataupun rekaman. Dengan begitu, Anda akan semakin jeli dalam memahami hal-hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra.

Latar Cerita Rakyat
Latar Cerita Rakyat

Mengidentifikasi Latar  Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih mengidentifikasi latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung. Anda akan menganalisis unsur-unsur pembangunnya, kemudian Anda susun sinopsisnya. Dengan demikian, pengetahuan Anda seputar cerita rakyat akan bertambah. Anda pun akan semakin menghargai kebudayaan bangsa.

Dalam pelajaran 9, Anda telah belajar membaca cerita rakyat. Sekarang, Anda akan melanjutkan pelajaran tersebut. Dalam pelajaran sebelumnya, Anda telah mengenal karakteristik cerita rakyat dan unsur-unsur intrinsik dalam cerita rakyat. Sebaiknya, Anda baca kembali pelajaran tersebut karena materi yang dipelajari juga akan dipelajar sekarang ini. Dalam pelajaran ini, Anda juga akan berlatih mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat yang didengarkan; menentukan isi dan atau amanat yang terdapat dalam cerita rakyat; membandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif; dan mengungkapkan kembali cerita rakyat dalam bentuk sinopsis. Namun, jika sebelumnya Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat, sekarang Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat. Anda telah menemukan hal-hal menarik tentang tokoh cerita rakyat “Raden Sandhi”. Sekarang, temukanlah hal-hal menarik tentang latar cerita rakyat tersebut. Hal-hal menarik tentang latar tersebut dapat berupa latar tempat, latar waktu, atau keadaan terjadinya peristiwa dalam cerita rakyat tersebut. Misalnya, tentang kemistikan daerah Paloh. Selanjutnya, mintalah salah seorang temanmu untuk membacakan cerita rakyat berikut di depan kelas. Teman-teman yang lainnya mendengarkan dengan baik.

Asal Mula Terjadinya Burung Ruai

Latar Cerita Rakyat – Konon, pada zaman dahulu, di daerah Kabupaten Sambas, tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura, Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan. Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama “Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan sakti. Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri. Raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau si bungsu. Si bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak-kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan si bungsu. Keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain-main.

Latar Cerita Rakyat – Dengan kedua latar belakang inilah, sang ayah (raja) menjadi pilih kasih terhadap putri-putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak si bungsu dimarahi oleh ayahnya, sedangkan si bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah, keenam kakak si bungsu menjadi dendam. Mereka bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri. Apabila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada si bungsu dengan memukul habis-habisan tanpa ada rasa kasihan. Tubuh si bungsu pun menjadi kebiru-biruan. Karena takut dipukuli lagi, si bungsu menjadi takut dengan kakaknya. Untuk itu, segala hal yang diperintahkan kakaknya, mau tidak mau si bungsu harus menurut. Ia harus mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, sibungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan si bungsu sendirian sementara keenam orang kakaknya hanya bersenda gurau. Sekali waktu, pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu, terhadap si bungsu diketahui oleh sang raja (ayah) dengan melihat badan (tubuh) si bungsu yang biru karena habis dipukul. Ia takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah.Jika sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa si bungsu kepada keenam kakaknya, mereka membuat alasan-alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa-apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan si bungsu biru karena si bungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percaya terhadap cerita dari sang kakak, sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud. Begitulah kehidupan si bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya. Meskipun demikian, si bungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya. Kadang-kadang, si bungsu menangis tersedu-sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan. Setelah mengalami hari-hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan di antara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak (putrinya) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pula, diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada si bungsu. Hal yang penting jika sang raja tidak ada di tempat, masalah-masalah yang berhubungan dengan kerajaan (pemerintahan) harus mohon (minta) petunjuk terlebih dahulu dari si bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing-masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Timbullah dalam hati masing-masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada si bungsu, bukan kepada mereka. Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Pada keesokan harinya, berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya. Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Sampai tibalah saatnya, yaitu saatsaat yang dinantikan oleh keenam kakaknya si bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya. Mereka ingin memusnahkan si bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu si bungsu harus dibunuh.

Latar Cerita Rakyat – Tanda-tanda ini diketahui oleh si bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari. Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya, rencana pun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil si bungsu. Apakah yang di-lakukannya? Ternyata, keenam kakaknya mengajak si bungsu untuk mencari ikan (menangguk) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur (oval). Karena sangat gembira kakaknya mau berteman lagi dengannya, si bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal, dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap si bungsu, tetapi si bungsu tidak menduga hal itu sama sekali. Tanpa berpikir panjang lagi, berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu. Mereka masing-masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju (lokasi menangguk), yaitu gua batu. Si bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua kemudian diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, si bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya. Si bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua. Adapun keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya si bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak-bahak sebab si bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat si bungsu menjadi betul-betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian, keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa si bungsu dan pada akhirnya si bungsu pun tersesat. Merasa bahwa si bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut. Ia duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya. Si bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang ke sana ke mari.

Bagaimana nasib si bungsu? Tanpa terasa si bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya. Namun, ia masih belum bisa untuk pulang. Pada hari ketujuh, si bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka-sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu. Suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut. Si bungsu pun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya. Pada saat itu ,dengan disertai bunyi yang menggelegar, muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan si bungsu. Si bungsu pun terkejut melihatnya. Tidak lama kemudian, kakek itu berkata, “Sedang apa kamu di sini cucuku ?”, lalu si bungsu pun menjawab,” Hamba ditinggalkan oleh kakak-kakak hamba, Kek!” Si bungsu pun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar.

Tanpa diduga-duga, pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut, titik-titik air mata si bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya.Si bungsu pun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, “Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama Burung Ruai. Apabila aku telah hilang dari pandanganmu, eramlah telur-telur itu supaya jadi burung-burung sebagai temanmu!”. Kemudian secara tiba-tiba si bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek … kwek … kwek … kwek …. kwek. Bersamaan dengan itu, kakek sakti menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal si bungsu dahulu, dengan bersuara kwek … kwek …. kwek … kwek …. kwek. Mereka menyaksikan kakak-kakak si bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh si bungsu. Sumber: www.sambas.go.id

 

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Cerita Cerita Rakyat
Cerita Cerita Rakyat

Cerita Cerita Rakyat – Salah satu kekayaan budaya masyarakat di wilayah nusantara adalah prosa atau cerita rakyat. Cerita rakyat ini lahir dan berkembang secara turun-temurun melalui berbagai media, baik secara lisan maupun tertulis. Cerita rakyat mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan masyarakat, misalnya mengenai sistem nilai, kepercayaan dan agama, kaidah-kaidah sosial, dan etos kerja. Oleh karena itu, sejumlah pengamat sosial budaya menyatakan bahwa memahami pandangan hidup masyarakat tidaklah komprehensif jika tanpa mempelajari cerita rakyat. Begitu juga dengan cerita rakyat ‘Raden Sandhi” yang sudah Anda baca pasti mengandung isi dan amanat yang didasari nilai-nilai yang dianut oleh rakyat Sambas. Cerita rakyat terdiri atas dogeng, mite, dan legenda. 1. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi, termasuk di dalamnya cerita-cerita pelipur lara dan cerita-cerita dengan tokoh binatang (fabel). Dongeng dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni (a) dongeng binatang karena semua tokohnya binatang (fabel), (b) dongeng biasa yang di dalamnya terdapat tokoh manusia, dan (c) dongeng jenaka/ lelucon yang di dalamnya terdapat cerita penuh kejenakaan. 2. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci atau sakral, misalnya cerita tentang tokoh kayangan atau tokoh supranatural yang memiliki kekuatan hebat. Tokoh mite adalah dewa atau manusia setengah dewa dan menyangkut peristiwa yang terjadi di dunia lain pada masa lalu (Danandjaja, 1994: 50).

Cerita Cerita Rakyat – Berdasarkan isinya, mite dapat dikelompokkan menjadi (a mite terjadinya alam semesta; (b) mite dunia dewata yang memasukkan juga cerita tentang terjadinya susunan para dewa; (c ) mite manusia pertama termasuk hal-hal yang berkaitan dengan inisiasi, misalnya, cerita manusia pertama di Kepulauan Talaud. Di dalam itu terdapat dewa penjelmaan, yakni makhluk ‘ketam’ yang berubah menjadi manusia; dan (4) mite pertanian, termasuk di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan makanan pokok. Misalnya, cerita tentang Dewi Padi. 3. Legenda adalah dongeng asal mula terjadinya suatu tempat, peristiwa atau keberadaan suatu daerah. Misalnya, legenda Tangkuban Perahu, asal-usul nama Surabaya. Selain itu, ada juga legenda yang terdiri atas cerita-cerita tentang tokoh-tokoh agama. Hal tersebut merupakan sebagian dari karakteristik cerita rakyat. Anda dapat mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat setelah Anda mendengarkan atau membacanya.

Cerita Cerita Rakyat – Anda juga dapat mengidentifikasi cerita rakyat berdasarkan unsur-unsur intrinsiknya, seperti tema, penokohan, latar, alur, dan amanat. 1. Tema adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita. 2. Alur atau plot adalah struktur penceritaan yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran. 3. Penokohan adalah pelukisan atau pendeskripsian atau pewatakan tokoh-tokoh dalam cerita. 4. Latar atau setting merupakan tempat, waktu, dan keadaan terjadinya suatu peristiwa. 5. Amanat adalah pesan-pesan atau wejangan yang ingin disampaikan dalam cerita. Ciri-ciri atau karakteristik cerita rakyat ialah menghubungkan cerita dengan kejadian alam atau tempat berkisah tentang kerajaan (istana sentris). Dari hasil mendengarkan cerita rakyat tersebut, adakah ciri-ciri lain yang Anda temukan dari cerita rakyat tersebut?

Cerita Cerita Rakyat

Uji Materi

1. Identifikasikanlah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat “Raden Sandhi” tersebut. Buatlah sinopsisnya. 2. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 3. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 4. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 5. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilainilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 6. Lakukan pengamatan terhadap hasil pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan tabel penilaian

Cerita Cerita Rakyat – Kegiatan Lanjutan

1. Carilah cerita rakyat lain dari buku cerita rakyat atau rekaman cerita rakyat. 2. Tuturkan oleh salah seorang teman Anda atau guru Anda. 3. Dengarkanlah dengan baik penuturan tersebut. 4. Identifikasilah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat yang didengarkan itu. 5. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 6. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 7. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 8. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 9. Ungkapkan kembali cerita rakyat tersebut dalam bentuk sinopsis. 10. Amatilah pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan format penilaian pada latihan sebelumnya.

Cerita Cerita Rakyat

Merangkum Isi Informasi Teks Buku

Dalam beberapa pelajaran sebelumnya, Anda telah belajar mengambil manfaat informasi dalam media cetak dan elektronik. Anda akan belajar merangkum informasi dari buku. Anda akan mencatat pokok-pokok penting dalam buku, lalu membuat ringkasan. Oleh karena itu, akan semakin banyak pulalah informasi yang Anda peroleh.

Salah satu cara mengambil manfaat dari informasi dalam buku adalah dengan merangkumnya. Caranya, Anda dapat mencatat pokokpokok isi informasi pada halaman bab tertentu yang dirujuk setelah Anda membaca daftar isi. Selanjutnya, rangkumlah seluruh isi informasi (yang diperoleh dari bab tertentu) ke dalam beberapa kalimat. Berikut terdapat sebuah kutipan dari buku Tatabahasa Indonesia yang ditulis Gorys Keraf halaman 137–138. Kita dapat membuat rangkuman dari kutipan berikut.

Pendahuluan Sintaksis (Yunani: Sun + tattein = mengatur bersama sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. Penelitian bidang fonetis, morfologis dan struktur frasa dari suatu bahasa merupakan bagian dari iImu bahasa yang masih bersifat statis. Dalam sintaksis bidangbidang statis seolah-olah digerakkan dan dihidupkan ke dalam kesatuan gerak yang dinamis, diikat dan dijalin ke dalam berbagai macam konstruksi. Setiap bahasa memiliki sistem-sistem yang khusus untuk mengikat kata-kata atau kelompok-kelompok kata ke dalam suatu gerak yang dinamis. Oleh sebab itu, kita tidak dapat dibenarkan untuk menyusun tatakalimat suatu bahasa dengan secara sembarangan menerapkan sintaksis bahasa lain. Hal salah kaprah ini pernah dilakukan oleh ahli-ahli tatabahasa lama. Tatabahasa Latin-Yunani, yang memiliki struktur khusus, diterapkan begitu saja kepada bahasa-bahasa lain. Sintaksis suatu bahasa haruslah merupakan perumusan dari berbagai macam gejala susun-peluk kata-kata dalam suatu bahasa. Jika nanti ada persamaan tatakalimat suatu bahasa dengan bahasa lain, haruslah merupakan hasil perbandingan yang diadakan antara bahasa-bahasa tersebut. Akan tetapi, bukan sebagai hasil penerapan sintaksis bahasa lain. Tatabahasa-tatabahasa lama tidak banyak bicara tentang sintaksis. Mereka yang menelaah sintaksis secara mendalam dan menggunakan kalimat sebagai titik-tolak penelitiannya. Dalam hal ini, hanya beberapa gelintir manusia yang mau berusaha untuk melaksanakan sekuat-kuatnya menelaah sintaksis. Akan tetapi, kadang hasil masih jauh dari sasaran optimal. Mereka masih sering kembali ke dalam pemikiran falsafah, di mana semua fenomena bahasa selalu ditinjau dan bidang falsafah. Falsafah dijadikan alat untuk memecahkan segala macam persoalan. Dengan demikian, timbul suatu kesan bahwa bukan masalah bahasa yang dipersoalkan, tetapi kecerdasan berpikir atau berpikir secara logislah yang dipersoalkan. Di sini kita berusaha bertolak dari seberang lain, bertolak dari bahasa sendiri, sebagai sumber penurunan perumusan-perumusan tentang sintaksis. 1. Kata, Frase, dan Klausa Jika sekali lagi kita melihat tataran-tataran (tata tingkat/hirarki) dalam bahasa, urutan tataran itu dari yang kecil sampai paling luas beserta bidang ilmunya masing-masing adalah: Bidang Ilmu Tataran Fonologi : fon/fonem suku kata Morfologi : morfem terikat bebas kata dasar turunan/jadian Sintaksis : frasa klausa Wacana : alinea bagian (sejumlah alinea) anak bab bab Karangan yang utuh : terdiri atas bab-bab Semua unsur di atas disebut unsur segmental, yaitu unsur-unsur yang dapat dibagi-bagi menjadi bagian atau segmen-segmen yang lebih kecil. Di samping unsur segmental terdapat juga unsur suprasegmental, yang kehadirannya tergantung dari unsurunsur segmental. Unsur suprasegmental mulai hadir dalam tataran kata sampai wacana: nada, tekanan keras, panjang, dan intonasi. Dengan demikian kata merupakan suatu unsur yang dibicarakan dalam morfologi, sebaliknya frase dan klausa berdasarkan strukturnya termasuk dalam sintaksis. Frase adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam frase rumah ayah muncul makna baru yang menyatakan milik, dalam frase rumah makan terdapat pengertian baru ‘untuk’. Adapun frase obat nyamuk terdapat makna baru ‘untuk memberantas’. Sebaliknya klausa adalah suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional. Dalam tatabahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, obyek, dan keterangan-keterangan. Sebuah klausa sekurangkurangnya harus mengandung satu subjek, satu predikat, dan secara fakultatif satu obyek. Dalam halhal tertentu klausa terdiri dari satu predikat dan boleh dengan keterangan (bentuk impersonal), misalnya: 1. Saya menyanyikan sebuah lagu 2. Adik membaca buku 3. Anak itu menangis 4. Ia sudah bangun 5. diberitahukan kepada umum 6. demikian diceritakan 7. sementara adik menyanyikan sebuah lagu, saya membaca buku 8. ia makan, karena (ia) lapar Konstruksi no. 1 sampai dengan 6 membentuk satu klausa, dan sekaligus sebuah kalimat. Sebaliknya, konstruksi no. 7 dan 8 merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua klausa. Sementara itu, kalau kita mendengar orang mengucapkan: , 9. “Maling!” “Pergi!” “Keluar!” 10. “Rumah ayah!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Rumah siapa itu?” 11. “Karena lapar!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Mengapa kamu malas bekerja?” Semua konstruksi di atas diterima juga sebagai kalimat, walaupun contoh-contoh dalam nomor 9 hanya terdiri dari satu kata. Adapun nomor 10 dan 11 terdiri atas frase. Jika demikian: sebuah kata, sebuah frase, atau sebuah klausa dapat menjadi sebuah kalimat. Akan tetapi, di mana letak perbedaannya? Kita menyebutnya sebagai kata, frase, atau klausa, semata-mata berdasarkan unsur segmentalnya. Sebaliknya, unsur kata, frase, dan klausa dapat dijadikan kalimat kalau diberikan kepadanya unsur suprasegmental (dalam hal ini intonasi). Jadi: kata + intonasi > kalimat frasa + intonasi > kalimat klausa + intonasi > kalimat .

Kegiatan membaca cepat, baik skimming maupun scanning, sangat bermanfaat untuk memperoleh informasi secara cepat. Kita dapat membuat rangkuman dari bacaan yang telah kita baca.