Dualisme Argumentasi Teks Eksposisi dan Paragraf Argumentasi

Dualisme Argumentasi Teks Eksposisi dan Paragraf Argumentasi

Dualisme Argumentasi Teks Eksposisi dan Paragraf Argumentasi

Argumentasi Teks Eksposisi
Argumentasi Teks Eksposisi

Argumentasi Teks Eksposisi Bacalah teks yang berjudul “Untung Rugi Perdagangan Bebas” berikut ini.
Setelah itu, kerjakan tugas-tugasnya!
UNTUNG RUGI PERDAGANGAN BEBAS

Argumentasi Teks Eksposisi
1 Perdagangan bebas yang diusung oleh sebuah negara dipastikan dapat
menguntungkan atau merugikan negara yang bersangkutan. Dampak
negatif kebijakan politik negara di sektor ekonomi ini mudah kita temukan
di Indonesia.
2 Perdagangan luar negeri memang berperan penting untuk menciptakan
penggunaan sumber daya secara efisien. Setiap negara akan memproduksi
barang spesialisasinya dan produksi itu memberikan keunggulan mutlak untuk
meningkatkan pendapatan nasionalnya. Kenaikan pendapatan semacam itu
tidak akan diperoleh jika perdagangan antarnegara dibatasi.
3 Penjelasan mengenai perdagangan bebas tidak hanya berkisar keunggulan
mutlak, tetapi juga keunggulan komparatif. Sebagai ilustrasi, Inggris dapat
memproduksi satu unit pakaian dalam satu tahun dengan tenaga 100 orang
buruh dan satu unit anggur dengan tenaga 120 buruh. Sementara itu, Portugal
hanya memerlukan 90 orang buruh untuk satu unit pakaian dan 80 orang
buruh untuk satu unit anggur.

Argumentasi Teks Eksposisi
4 Dalam ilustrasi itu, Portugal memiliki keunggulan mutlak dalam dua barang
tersebut. Namun, Inggris dan Portugal masih akan mendapatkan untung
apabila mereka memiliki hubungan perdagangan. Portugal lebih beruntung
jika memproduksi anggur dan Inggris tidak terlalu merugi jika memproduksi
pakaian. Dengan memproduksi barang yang unggul secara komparatif,
dua negara itu dapat meraih untung. Dengan menekankan keuntungan
spesialisasi dan pertukaran, perdagangan internasional meningkatkan
efisiensi, perolehan laba dan standar hidup, serta jumlah komoditas yang
tersedia.
5 Di sisi lain, gerakan proteksionisme tetap menentang teori pasar bebas.
Pendukung perdagangan bebas sering dicap sebagai kelompok neoliberalis,
kapitalis, dan pro-barang impor atau pro-asing. Pemerintah diminta tidak
terlalu liberal agar kesejahteraan nasional meningkat. Dalam hal ini,
pemerintah Indonesia terbukti membuat neraca perdagangan makin tidak berimbang. Pertumbuhan ekspor lebih rendah daripada impor. Indikatornya
terlihat dari rendahnya rata-rata bea masuk barang impor ke Indonesia.

Argumentasi Teks Eksposisi
6 “Saat ini bea masuk barang impor yang diterapkan pemerintah rata-rata 6,8
persen,” kata seorang peneliti ekonomi Indonesia. Ekonom itu membandingkan
Indonesia dengan negara lain, seperti Cina yang telah mematok tarif bea
masuknya rata-rata 10 persen. Politik antidumping Indonesia sangat lemah
sehingga kinerja impor meningkat dan kinerja ekspor menurun.

Argumentasi Teks Eksposisi
7 Penerapan perdagangan bebas masih perlu kita pertimbangkan lebih berhatihati di Indonesia. Selama dampak negatif belum dapat terukur, Indonesia tidak
dapat diharapkan memperoleh untung dari perdagangan bebas. Kerugian
negara akan sangat besar ketika kita salah langkah menerapkan perdagangan
bebas.

Argumentasi Teks Eksposisi
(Diambil dari berbagai sumber, terutama Sinar Harapan, 17 Oktober 2012)

Menemukan Unsur Teks Eksposisi dan Contoh Teks Eksposisi

Menemukan Unsur Teks Eksposisi dan Contoh Teks Eksposisi

Menemukan Unsur Teks Eksposisi dan Contoh Teks Eksposisi

Unsur Teks Eksposisi
Unsur Teks Eksposisi

Unsur Teks Eksposisi –  Bacalah teks “Integrasi Asean dalam Plurilingualisme” tersebut sekali lagi.
Setelah itu, kerjakan tugas-tugas berikut ini dan simaklah penjelas pendukung yang
diberikan!
Unsur Teks Eksposisi (1) Teks eksposisi tersebut dapat dikatakan sebagai teks ilmiah. Dalam teks tersebut
terkandung pronomina atau kata ganti saya dan kita. Bolehkah pronomina
seperti itu digunakan dalam teks ilmiah?

Memang betul kita boleh menggunakan pronomina kita atau saya dalam teks
ilmiah. Akan tetapi, kita tidak boleh meletakkan pronomina itu di sembarang tempat.
Cermati lagi teks eksposisi itu. Ternyata, pronomina kita atau saya ditemukan
hanya pada paragraf 1 dan 5. Inilah kalimat-kalimat dari teks yang terdapat pronomina
itu.
Unsur Teks Eksposisi (a) Warga komunitas, termasuk kita semua sebagai rakyat Indonesia akan
dituntut plurilingual untuk memiliki kompetensi berbahasa negara lain.
(paragraf 1)
Unsur Teks Eksposisi (b) Jika penghuni kawasan Asean dituntut hanya berbahasa Inggris, saya
percaya bahwa posisi bahasa Indonesia akan bergeser di negeri kita
sendiri. (paragraf 5)
Unsur Teks Eksposisi

Tahukah kalian mengapa pronomina kita atau saya tidak ditemukan pada
paragraf-paragraf lain? Telah kalian eksplorasi bahwa paragraf 1 merupakan tahap
pernyataan pendapat, tempat gagasan pribadi disampaikan, dan pada paragraf 5 yang
merupakan tahap penegasan ulang pendapat, gagasan itu dinyatakan kembali. Jadi,
pronomina atau kata ganti kita, kami, atau saya dapat digunakan, terutama pada saat
pernyataan pendapat pribadi (klaim) diungkapkan. Hal itu sejalan dengan fungsi sosial
teks eksposisi itu sendiri, yaitu teks yang digunakan untuk mengusulkan pendapat
pribadi mengenai sesuatu.

Unsur Teks Eksposisi

Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean

Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean

Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean

Memahami Teks Eksposisi INTEGRASI ASEAN DALAM PLURILINGUALISME
1 Bangsa-bangsa Asia Tenggara segera berintegrasi. Organisasi Association of Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean
Memahami Teks Eksposisi  Southeast Asian Nations (Asean) telah merancang bentuk komunitas sosial budaya.
Komunitas Asean mulai berlaku pada tahun 2015. Warga komunitas, termasuk
kita semua sebagai rakyat Indonesia akan dituntut plurilingual untuk memiliki
kompetensi berbahasa negara lain.

Memahami Teks Eksposisi
2 Komunitas sosial budaya Asean dibentuk dengan semangat persatuan dalam
keanekaragaman. Pada kenyataannya, semangat Komunitas Asean sama dengan
masyarakat Uni Eropa (Europeans United in Diversity). Di Uni Eropa untuk memasuki
pintu gerbang budaya setiap negara, semua orang tentu telah mengenal kebijakan
Europass Language Passport yang dikeluarkan oleh the Council of Europe dengan  dokumen teknis Common European Framework of Reference (CEFR) for
Languages. Kebijakan bahasa itu mendorong warga masyarakat Uni Eropa
menjadi plurilingual sehingga semua bahasa Eropa dapat duduk pada posisi
yang sama, misalnya di parlemen Uni Eropa.

Memahami Teks Eksposisi
3 Lebih lanjut, keanekaragaman bahasa Eropa dikelola dalam satu model
kompetensi berbahasa Eropa. Model CEFR itu ditetapkan berisi enam
peringkat kompetensi, yaitu A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Europass Language
Passport sudah menetapkan C2 sebagai peringkat tertinggi dan A1 terendah.
Menurut pengalaman seorang warga Uni Eropa, sebagai contoh penerapan
kebijakan ini, siapa pun yang berasal dari luar Jerman (bukan warga negara
Jerman)–ketika hendak menikah dengan pasangannya di negara ini–wajib
memiliki paspor bahasa Jerman dengan lulus uji bahasa Jerman sekurangkurangnya peringkat kompetensi A1.
4 Jika skema “paspor bahasa” seperti yang berlaku di Uni Eropa itu diadopsi oleh
bangsa-bangsa Asia Tenggara dalam kerangka Komunitas Asean, yakinlah
kebijakan bahasa ini akan multiguna. Selain berguna untuk penghormatan atas
adanya perbedaan bahasa kebangsaan negara anggota Asean, sebagaimana
disebutkan dalam Cetak Biru Komunitas Sosial Budaya Asean, kebijakan ini juga
memberikan kegunaan praktis bagi rakyat Asean untuk saling berkomunikasi
sesuai dengan latar bahasa dan budaya setiap warga Asean.

Memahami Teks Eksposisi
5 Sebagai organisasi yang berbasis kerakyatan (people-centered organization),
Asean tentu tidak boleh bermain ”pukul rata” agar semua rakyat Asean saling
berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Apabila Komunitas Asean dibentuk
tanpa kebijakan plurilingualisme, agaknya rakyat Indonesia pun akan sulit
bernasib mujur. Jika penghuni kawasan Asean dituntut hanya berbahasa
Inggris, saya percaya bahwa posisi bahasa Indonesia akan bergeser di negeri
kita sendiri. Ketika itu, bangsa Indonesia bukanlah pemenang, melainkan
pecundang!

Memahami Teks Eksposisi
(Diadaptasi dari artikel pendapat yang ditulis oleh Maryanto, pemerhati politik bahasa,
di Koran Tempo, 13 Desember 2010)