Ancaman Lingkungan Alam Badai dan Erosi

Ancaman Lingkungan Alam Badai dan Erosi

Ancaman Lingkungan Alam Badai dan Erosi

Badai

Badai adalah suatu gangguan pada atmosfer suatu planet, terutama yang mempengaruhi permukaannya serta menunjukkan cuaca buruk. Badai dapat ditandai dengan angin yang kencang (badai angin), petir dan kilat (badai petir), curahan lebat, misalnya es (badai es), atau angin yang membawa suatu zat melalui atmosfer (seperti badai pasir, badai salju, dll).

Ancaman Lingkungan Alam Badai dan Erosi
Ancaman Lingkungan Alam Badai dan Erosi

Badai terjadi sewaktu suatu pusat tekanan rendah terbentuk dengan dikelilingi oleh suatu sistem bertekanan tinggi. Kombinasi gaya yang berlawanan ini dapat menciptakan angin dan menimbulkan pembentukan awan badai,seperti kumulonimbus. Wilayah kecil dan terlokalisasi yang bertekanan rendah dapat terbentuk dari udara pa-nas yang naik dari permukaan yang panas, yang akan menimbulkan gangguan yang lebih kecil seperti angin puyuh atau puting beliung seperti Beberapa badai sering terjadi a.l.:

1. Badai pasir adalah fenomena meteorologi yang umum di wilayah arid dan semiarid. Badai pasir antara lain disebabkan oleh meningkatnya kecepatan angin dalam suatu wilayah yang luas. Badai pasir umumnya terjadi pada tanah yang kering. Badai pasir dapat memindahkan keseluruhan bukit pasir dan membawa pasir dalam jumlah besar sehingga tepi badai dapat menyerupai dinding pasir setinggi 1,6 km. Badai pasir di gurun Sahara dalam bahasa setempat dikenal dengan simoom atau simoon (sîm?m, sîm?n). Haboob (h?b?b) adalah badai pasir di wilayah Sudan sekitar Khartoum.

2. Badai salju terjadi saat udara yang hangat dan basah bertemu dengan udara yang dingin. Massa udara yang hangat dan basah dan massa udara yang dingin tersebut dapat mencapai diameter 1000 km atau lebih. Badai salju yang mempengaruhi Amerika Serikat Timur Laut sering mendapatkan uap air dari udara yang berpindah ke utara dari Teluk Meksiko dan udara yang dingin dari massa udara yang datang dari Arktik. Di Amerika Serikat Barat Laut, udara yang hangat dan basah dari Samudera Pasifik mendingin saat didorong ke atas oleh pegunungan. Banyak hal yang berbeda dapat mempengaruhi gerakan, isi uap, dan suhumassa udara. Semua perbedaan tersebut mempengaruhi jenis dan keparahan badai salju.

3. Badai Katrina (juga Topan Katrina atau Hurikan Katrina) adalah sebuah siklon tropis besar yang melanda wilayah tenggara Amerika Serikat pada 24– 31 Agustus 2005 dan menyebabkan kerusakan yang besar. Lebih dari 200.000 km² (seukuran Britania Raya) wilayah tenggara AS terpengaruh badai ini, termasuk Louisiana, Mississippi, Alabama, Florida, dan Georgia.

Erosi

Erosi adalah peristiwa pengikisan tanah oleh angin, air atau es. Erosi dapat terjadi karena sebab alami atau disebabkan oleh aktivitas manusia. Penyebab alami erosi antara lain adalah karakteristik hujan, kemiringan lereng, tanaman penutup dan kemampuan tanah untuk menyerap dan melepas air ke dalam lapisan tanah dangkal. Erosi yang disebabkan oleh aktivitas manusia umumnya disebabkan oleh adanya penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan.

Ancaman Lingkungan Alam Badai dan Erosi
Ancaman Lingkungan Alam Badai dan Erosi

Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi

Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya erosi air adalah:

1. Curah hujan Sifat-sifat yang perlu diketahui adalah: – Intensitas hujan: menunjukkan banyaknya curah hujan persatuan waktu. Biasanya dinyatakan dalam mm/jam atau cm/jam – Jumlah hujan: menunjukkan banyaknya air hujan selama terjadi hujan, selama satu bulan atau selama satu tahun dan sebagainya. – Distribusi hujan: menunjukkan penyebaran waktu terjadinya hujan.

2. Sifat-sifat tanah Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan tanah terhadap erosi adalah: – Tekstur tanah: Tanah dengan tekstur kasar seperti pasir adalah tahan terhadap erosi, karena butir-butir yang besar (kasar) tersebut memerlukan lebih banyak tenaga untuk mengangkut.

Tekstur halus seperti liat, tahan terhadap erosi karena daya rekat yang kuat sehingga gumpalannya sukar dihancurkan. Tekstur tanah yang paling peka terhadap erosi adalah debu dan pasir sangat halus.

Oleh karena itu makin tinggi kandungan debu dalam tanah, maka tanah menjadi makin peka terhadap erosi – Bentuk dan kemantapan stuktur tanah: bentuk struktur tanah yang membulat (granuler, remah, gumpal membulat) menghasilkan tanah dengan daya serap tinggi sehingga air mudah meresap ke dalam tanah, dan aliran permukaan menjadi kecil, sehingga erosi juga kecil. Struktur tanah yang mantap tidak akan mudah hancur oleh pukulan-pukulan air hujan, akan tahan terhadap erosi.

Sebaliknya struktur tanah yang tidak mantap, sangat mudah oleh pukulan air hujan, menjadi butir-butir halus sehingga menutup poripori tanah. Akibatnya air infiltrasi terhambat dan aliran permukaan meningkat yang berarti erosi juga akan meningkat – Daya infiltrasi tanah: apabila daya infiltrasi tanah besar, berarti air mudah meresap ke dalam tanah, sehingga aliran permukaan kecil dan erosi juga kecil. – Kandungan bahan organik: kandungan bahan organik menentukan kepekaan tanah terhadap erosi karena bahan organik mempengaruhi kemantapan struktur tanah. Tanah yang mantap tahan terhadap erosi

3. Lereng Erosi akan meningkat apabila lereng semakin curam atau semakin panjang. Apabila lereng makin curam maka kecepatan aliran permukaan meningkat sehingga kekuatan mengangkut meningkat pula. Lereng yang semakin panjang menyebabkan volume air yang mengalir menjadi semakin besar.

4. Vegetasi (tumbuhan) Pengaruh vegetasi terhadap erosi adalah: – Menghalangi air hujan agar tidak jatuh langsung di permukaan tanah, sehingga kekuatan untuk menghancurkan tanah dapat dikurangi. – Menghambat aliran permukaan dan memperbanyak air infiltrasi.

Penyerapan air kedalam tanah diperkuat oleh transpirasi (penguapan) melalui vegetasi. Hutan paling efektif dalam mencegah erosi karena daun-daunnya dan rumputnya rapat. Untuk pencegahan erosi paling sedikit 70% tanah harus tertutup vegetasi.

5. Manusia Kepekaan tanah terhadap erosi dapat diubah oleh manusia menjadi lebih baik atau buruk. Pembuatan teras-teras pada tanah berlereng curam me-rupakan pengaruh baik manusia, karena dapat mengurangi erosi. Sebaliknya penggundulan hutan di daerah pegunungan merupakan pengaruh yang jelek karena dapat menyebabkan erosi dan banjir.

Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah

Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah

Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah
Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah

Untuk mempertahankan kelanjutan hidup kita, sudah waktunya kita melakukan tindakan penyelamatan lingkungan. Mulanya dari hal yang terkecil yang harus kita biasakan yaitu dengan melakukan tindakan yang peduli lingkungan. Pertahankan lingkungan kita agar tidak terjadi kerusakan lagi, tetapi jika sudah terjadi pun sekuat tenaga kita harus lakukan tindakan penanggulangannya. Contoh- contoh tindakan dalam upaya penanggulangan kerusakan tanah :

a. Mengendalikan Erosi
Upaya mencegah atau mengurangi erosi dapat dilakukan dengan mengontrol faktor-faktor yang menyebabkan erosi. Jumlah tanah yang ter-erosi amat ditentukan oleh faktor curah hujan, erodibilitas tanah, kemiringan dan panjang lereng, tanaman penutup, pengelolaan lahan, serta praktik konservasi. Maka dari itu jika kita mengendalikan faktor-faktor penyebab kerusakan tanah dan erosi tersebut, maka erosi tanah akan dapat dicegah atau dikurangi.

Dari seluruh faktor erosi, curah hujan merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan manusia. Sedang faktor erosi lainnya dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh manusia, seperti mengurangi panjang dan kemiringan lereng, menanami lahan dengan tanaman penutup, dan melakukan pengelolaan lahan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari praktik konservasi.

Meskipun tidak dapat mengatur curah hujan, manusia dapat mengendalikan aliran permukaan yang berasal dari hujan, yaitu dengan membuat bendungan atau dam. Dengan mengendalikan aliran permukaan maka banjir dapat dicegah.

Baca juga : ? Faktor Penyebab Kerusakan Tanah dan Lahan

Faktor tanah panjang lereng dan kemiringan berkaitan dengan keadaan topografi atau relief daerah. Praktik konservasi yang bertujuan untuk mengurangi kecuraman dan panjang lereng pada daerah yang bertopografi pegunungan (relief kasar) dilakukan dengan membuat terasering. Praktik konservasi ini dimaksudkan agar kecepatan aliran permukaan berkurang sehingga aliran air tidak mengikis tanah.

Faktor-faktor pembentuk tanah dan vegetasi berkaitan dengan pengelolaan tanah dan tanaman. Untuk mencegah erosi pada lahan gundul perlu dilakukan penghijauan kembali, yaitu dengan menanam pohon atau tanaman penutup. Pengolahan lahan dengan pembajakan dan pemberian pupuk organik dapat meningkatkan permeabilitas tanah. Tanah yang dibajak dan diberi pupuk organik bersifat lebih gembur sehingga hujan mudah meresap ke dalam tanah. Dengan demikian, aliran permukaan dapat dikurangi.
Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah

b. Mengawetkan Tanah
Tidak selamanya tanah yang subur terus-menerus bisa subur. Tanah dapat mengalami penurunan kesuburan sehingga berpengaruh terhadap tumbuhnya tanaman. Erosi tanah menyebabkan tingkat kesuburan tanah menurun. Untuk mempertahankan tingkat kesuburan tanah maka perlu usaha pengawetan atau konservasi. Cara pengawetan tanah secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dengan metode vegetatif dan metode mekanik.

Untuk tiap daerah berbeda dalam penerapan kedua metode tersebut. Kadang-kala kedua metode diterapkan secara berimbang di suatu daerah. Tetapi, di daerah lain mungkin salah satu metode lebih diutamakan. Metode vegetatif sangat efektif dalam pengendalian erosi tanah. Sebagai contoh, padang rumput alami dan vegetasi hutan membatasi atau mengendalikan erosi tanah pada tingkat normal. Metode vegetatif dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :

a. Penanaman tanaman secara berjalur tegak lurus terhadap arah
aliran (strip cropping).

b. Penanaman tanaman secara berjalur sejajar garis kontur
(contour strip cropping). Cara penanaman ini bertujuan untuk
mengurangi atau menahan kecepatan aliran air dan menahan
partikel-partikel tanah yang terangkut aliran air.

c. Penutupan lahan yang memiliki lereng curam dengan tanaman
keras (buffering).

d. Penanaman tanaman secara permanen untuk melindungi
tanah dari tiupan angin (wind breaks).

Metode mekanik yang digabung dengan metode vegetatif akan
lebih efektif untuk mengendalikan erosi tanah. Beberapa metode
mekanik yang umum dilakukan sebagai berikut :

a. Pengolahan lahan sejajar garis kontur (contour tillage). Pengolahan lahan dengan cara ini bertujuan untuk membuat pola rongga-rongga tanah sejajar kontur dan membentuk igir-igir kecil yang dapat memperlambat aliran air dan memperbesar infiltrasi air.

b. Penterasan lahan miring (terracering). Penterasan bertujuan untuk mengurangi panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng sehingga dapat memperlambat aliran air.

c. Pembuatan pematang (guludan) dan saluran air sejajar garis kontur. Pembuatan pematang bertujuan untuk menahan aliran air.

d. Pembuatan cekdam. Pembuatan cekdam bertujuan untuk membendung aliran air yang melewati paritparit sehingga material tanah hasil erosi yang terangkut aliran tertahan dan terendapkan. Adanya cekdam maka parit-parit erosi lama-kelamaan mengalami pendangkalan, erosi tanah dapat dikendalikan, lapisan tanah menebal, dan produktivitas tanah meningkat.

Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah

Erosi dan Kerusakan Tanah

Erosi dan Kerusakan Tanah

Erosi
Pada proses erosi, massa tanah atau batuan diuraikan
dan dipindahkan dengan bantuan tenaga air, angin, es,
maupun tenaga gravitasi. Erosi yang dibantu oleh es banyak
terjadi di kutub.

Kerusakan Tanah dan Dampaknya bagi
Kehidupan 

Erosi dan Kerusakan Tanah

a. Erosi

b. Penggundulan Hutan
Penyebab penggundulan hutan adalah bertambahnya
permintaan lahan untuk permukiman, sehingga lahanlahan hutan diubah menjadi permukiman.

c Polusi
Polusi tidak hanya terjadi di udara, tetapi juga di tanah
dan air. Polusi disebabkan pembuangan limbah, baik
itu limbah industri ataupun limbah rumah tangga ke
dalam tanah, air, dan udara.
d. Kebakaran Hutan
Tahukah kamu kebakaran hutan di Kalimantan dan
Sumatra yang terjadi sepanjang tahun 2006? Kebakaran
hutan ini menyebabkan penurunan biomas di dalam
tanah, sehingga produktivitas tanah menurun. Selain
itu, kebakaran hutan juga akan meningkatkan erosi
tanah.
e. Eksploitasi Tambang yang Berlebihan
Bahan-bahan tambang seperti emas, tembaga, dan bahan galian C
(pasir dan batu) dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Eksploitasi bahan-bahan tambang yang berlebihan, tanpa
memerhatikan lingkungan akan berdampak negatif di kemudian
hari. Lahan yang telah ditambang akan meninggalkan lubanglubang yang mengangga di muka Bumi. Kerusakan lingkungan yang
berupa kesuburan tanah hilang dan perubahan topografi banyak
ditemukan pada lahan tambang yang dieksploitasi secara
berlebihan.

f. Kerusakan Karena Proses Kimiawi Air Hujan
Air hujan merupakan faktor utama terjadinya kerusakan tanah
melalui proses perubahan kimiawi dan sebagian lagi karena
proses mekanis. Proses kimiawi ini menyebabkan tanah menjadi
tidak subur.
g. Kerusakan Karena Proses Mekanis Air Hujan
Air hujan yang turun sangat deras dapat mengikis dan menggores
permukaan tanah sehingga terbentuk selokan. Pada daerah yang
tidak bervegetasi, hujan lebat dapat menghanyutkan tanah
berkubik-kubik. Air hujan dapat pula menghanyutkan lumpur
sehingga terjadi banjir lumpur.
h. Kerusakan Karena Tanah Longsor
Tanah longsor adalah turunnya atau ambruknya tanah dan batuan
ke bagian bawah akibat pengaruh daya gravitasi. Hujan
mempercepat longsornya tanah karena tanah menjadi longsor dan
berat. Pelongsoran hanya terjadi pada lapisan luar yang terlepas
dari permukaan tanah.

i. Kerusakan Karena Terkumpulnya Garam di Daerah Perakaran
(Salinisasi)
Di daerah-daerah tertentu, proses penguapan yang tinggi setelah
hujan lebat, menyebabkan kandungan garam dalam tanah
meningkat. Proses selanjutnya adalah pengikat unsur-unsur kimia
penting dalam tanah oleh garam. Kondisi demikian menyebabkan
turunnya kesuburan tanah.
j. Kerusakan Karena Penjenuhan Tanah oleh Air (Waterlogging)
Pada daerah yang bertekstur tanah lempung, sebagian besar air
hujan yang jatuh ke tanah akan menggenang di permukaan tanah.
Hanya sedikit saja air yang lolos ke dalam tanah sebagai air tanah.
Lamanya air yang menggenang menyebabkan tanah jenuh terhadap
air, sehingga unsur kimia penting dalam tanah ikut tercuci atau
hilang. Tanah yang mengalami kejenuhan air biasa ditemukan
dengan warna keabu-abuan.