Tentang Fenomena Alam Gempa Bumi dan Gunung Api

Tentang Fenomena Alam Gempa Bumi dan Gunung Api

Tentang Fenomena Alam Bumi Gempa Bumi dan Gunung Api

Fenomena Alam – Tentang Fenomena Gempa Bumi

Pergeseran lempeng bumi dapat mengakibatkan gempa bumi, karena dalam peristiwa tersebut disertai dengan pelepasan sejumlah energi yang besar. Selain pergeseran lempeng bumi, gerak lempeng bumi yang saling menjauhi satu sama lain juga dapat mengakibatkan gempa bumi. Hal tersebut dikarenakan saat dua lempeng bumi bergerak saling menjauh, akan terbentuk lempeng baru diantara keduanya. Lempeng baru yang terbentuk memiliki berat jenis yang jauh lebih kecil dari berat jenis lempeng yang lama.

Fenomena Alam – Lempeng yang baru terbentuk tersebut akan mendapatkan tekanan yang besar dari dua lempeng lama, sehingga akan bergerak ke bawah dan menimbulkan pelepasan energi yang juga sangat besar. Terakhir adalah gerak lempeng yang saling mendekat juga dapat mengakibatkan gempa bumi. Pergerakan dua lempeng yang saling mendekat juga berdampak pada terbentuknya gunung. Seperti yang terjadi pada gunung Everest yang terus tumbuh tinggi akibat gerak lempeng di bawahnya yang semakin mendekat dan saling bertumpuk.

Fenomena Alam – Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu Lempeng IndoAustralia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik (perhatikan Gambar 11.6). Lempeng IndoAustralia bergerak relatif ke arah utara dan menyusup ke dalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut, sehingga apabila terjadi gempa bumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan mengalami bencana tsunami.

Fenomena Alam

Tentang Fenomena Gunung Api

Fenomena Alam
Fenomena Alam

Fenomena Alam – Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan saat liburan adalah berlibur ke puncak gunung. Pemandangan yang sangat indah  serta udara segar menjadi alasan sebagian orang memilih berlibur di puncak gunung. Namun, gunung yang masih aktif rawan bahaya. Gunung yang masih aktif memiliki potensi untuk meletus secara tibatiba.

Fenomena Alam – Beberapa gunung aktif di Indonesa dengan pemandangan indah antara lain Tangkuban Perahu, Bromo, Semeru, Merapi, dan Anak Krakatau. Tahukah kamu, apa yang membuat sebuah gunung menjadi aktif dan meletus? Bagaimana sebuah gunung berapi dapat terbentuk? Gunung yang masih aktif memiliki potensi untuk meletus secara tiba-tiba.

Gunung berapi terbentuk akibat pertemuan dua lempeng Bumi. Bagian lempeng yang tenggelam memasuki lapisan astemosfir akan mencair karena suhu bawah lempeng Bumi yang sangat tinggi. Bagian cair tersebut akan menambah magma dalam perut Bumi. Oleh karena magma yang terbentuk tersebut memiliki berat jenis yang lebih kecil daripada berat jenis batuan di sekitarnya maka magma akan terdesak hingga naik ke permukaan bumi. Magma yang mencapai permukaan bumi disebut sebagai lava. Lava dan abu yang meledak dari waktu ke waktu akan menumpuk dan membentuk gunung berapi. Inilah yang memunculkan istilah bahwa gunung berapi dapat tumbuh dari waktu ke waktu. Agar lebih jelas.

Selain di darat, gunung berapi juga dapat terbentuk di lautan. Erupsi yang terjadi di bawah lautan dapat memunculkan gunung berapi. Erupsi adalah letusan yang mengakibatkan keluarnya material gunung api yang berupa gas, debu, aliran lava, dan fragmen batuan. Jika erupsi terjadi dalam waktu yang lama dan dengan jumlah lava yang sangat besar, maka sangat dimungkinkan gunung berapi akan muncul hingga ke permukaan air laut.

Perhatikan ilustrasi terbentuknya gunung berapi bawah laut di bawah ini! mengilustrasikan terbentuknya gunung berapi di Hawai. Puncak gunung tersebut muncul hingga ke atas permukaan samudera Pasifik. Gunung berapi tersebut berbeda dengan gunung berapi lainnya karena terbentuk langsung dari magma yang berasal dari inti dan selimut bumi. Batuan panas yang terdorong ke atas melalui selimut bumi mencair membentuk area panas dalam kerak bumi. Dorongan dari dalam bumi tersebut akhirnya memunculkan serangkaian gunung berapi dan membentuk kepulauan Hawai. Magma yang berasal dari gunung subduksi tersebut jauh lebih dekat dengan permukaan bumi. Gunung berapi ini jauh lebih besar ukurannya dan memiliki banyak sisi yang landai.

Ayo Pahami 

Letusan gunung berapi dapat menimbulkan bencana yang mematikan bagi kehidupan di sekitarnya. Misalnya seperti saat meletusnya gunung Krakatau yang terletak di bawah lautan selat Sunda. Menurut kesaksian nenek moyang dan tulisan sejarah menyebutkan bahwa gemuruh erupsi Krakatau terdengar hingga Australia dan Sri Langka. Setelah letusan besar terjadi, langit tampak gelap selama 2½ hari. Bulan tampak berwarna Biru, tsunami setinggi 40 meter menghantam pantai-pantai di sekitarnya, selama beberapa hari bumi tertutup debu vulkanik, dan tak terhitung jumlah korban jiwa yang jatuh pada saat itu. Bahkan karena kedahsyatannya, meletusnya gunung Krakatau disebut-sebut sebagai faktor yang menyebabkan berpisahnya pulau Jawa dan Sumatera.

Selain menimbulkan berbagai macam bencana, letusan gunung api juga menimbulkan banyak manfaat. Beberapa manfaat diantaranya adalah terbentuknya daratan baru (misalnya kepulauan Krakatau); ditemukannya mineral logam dan batu mulia dari hasil lava yang telah membeku seperti tembaga, intan, perak, dan emas; menghasilkan energi panas bumi; mata air panas belerang yang bermanfaat bagi kesehatan; pasir gunung api sebagai bahan bangunan; dan letusan gunung berapi juga menghasilkan tanah yang subur dan kaya unsur hara yang diperlukan untuk tanaman. Setelah terjadinya letusan gunung berapi, dalam jangka pendek daerah yang dilalui oleh lava akan terkesan sangat gersang dan tidak ada kehidupan. Hal ini dikarenakan lava adalah benda cair panas yang memiliki temperatur hingga 1.200° C.

Makhluk apapun yang dilalui oleh lava akan musnah, karena panasnya. Akan tetapi, pada jangka panjang daerah yang dilalui oleh lava akan menjadi daerah yang kaya mineral. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kandungan mineral yang terdapat pada tanah vulkanik antara lain, Aluminium (Al), Magnesium (Mg), Silika (Si), dan Besi (Fe). Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa mineral-mineral tersebut merupakan komponen anorganik yang dibutuhkan oleh tanaman.

Tidak heran jika banyak yang menyatakan bahwa tanah vulkanik itu adalah tanah yang subur. Setiap terjadi letusan gunung api akan menguntungkan tanah yang dijangkau oleh material letusan, karena akan terjadi ”peremajaan dan pengayaan tanah secara alami”. Selain itu, abu vulkanik memiliki kadar keasaman (pH) sekitar 4 –4,3. Dengan kadar keasamannya, tanah yang terkena abu vulkanik akan memiliki kadar keasaman (pH) tanah sebesar 5 – 5,5. Dengan turunnya kadar keasaman (Ph) tanah ini, dalam jangka pendek abu vulkanik dapat mengusir hama serangga atau gulma yang biasa menjadi musuh petani. Hal ini disebabkan makhluk hidup tersebut tidak dapat hidup dalam suasana terlalu asam, sehingga populasi makhluk tersebut akan menurun. Kondisi yang demikian tentunya sangat menguntungkan petani karena lahan sawah petani menjadi subur serta tanaman yang ditanam tidak terganggu oleh hama.

 

Lapisan Atmosfer dan Fenomena Gempa Bumi

Lapisan Atmosfer dan Fenomena Gempa Bumi

Lapisan Atmosfer dan Fenomena Gempa Bumi

Lapisan Atmosfer  – Lapisan – lapisan Atmosfer

Lapisan Atmosfer
Lapisan Atmosfer

Lapisan Atmosfer

a. Troposfer

Lapisan Troposfer merupakan lapisan terbawah dari atmosfer, yang terletak pada ketinggian 0-18 km di atas permukaan bumi. Ketebalan lapisan troposfer di atas permukaan bumi tidak merata. Di daerah khatulistiwa atau daerah tropis, ketebalan troposfer sekitar 16 km dengan temperatur rata-rata 80°C, daerah sedang ketebalan lapisan troposfer sekitar 11 km dengan temperatur rata-rata 54°C, dan daerah kutub ketebalannya sekitar 8 km dengan temperatur rata-rata 46°C. Tebal lapisan troposfer rata-rata di permukaan bumi ± 10 km. Coba pikirkan, mengapa ketebalan lapisan troposfer berbeda?

Lapisan Atmosfer

b. Stratosfer

Lapisan Stratosfer terletak pada ketinggian antara 18 – 49 km dari permukaan bumi. Suhu di lapisan stratosfer yang paling bawah relatif stabil dan sangat dingin, yaitu sekitar ? 57o C. Tahukah kamu dimana pesawat terbang melintas? Nah, ternyata pada lapisan stratosfer inilah tempat terbangnya pesawat. Pada lapisan ini juga terdapat awan cirrus, namun tidak ada pola cuaca. Dari bagian tengah stratosfer ke atas, terdapat lapisan dengan konsentrasi ozon (O3 ). Lapisan ozon ini menyerap radiasi sinar ultra violet. Suhu pada lapisan ini dapat mencapai sekitar 18o C pada ketinggian sekitar 40 km.

Lapisan Atmosfer

c. Mesosfer

Lapisan Mesosfer terletak pada ketinggian antara 49 – 82 km dari permukaan bumi. Lapisan ini merupakan lapisan pelindung bumi dari jatuhan meteor atau benda-benda angkasa luar lainnya. Kebanyakan meteor yang sampai ke bumi biasanya terbakar di lapisan ini. Lapisan mesosfer ini ditandai dengan penurunan suhu (temperatur) udara, rata-rata 0,4°C per seratus meter. Temperatur terendah di mesosfer kurang dari -81°C. Bahkan di puncak mesosfer yang disebut mesopause, yaitu lapisan batas antara mesosfer dengan lapisan termosfer temperaturnya diperkirakan mencapai sekitar -100°C.

d. Termosfer atau Ionosfer

Lapisan Termosfer terletak pada ketinggian antara 82 – 800 km dari permukaan bumi. Lapisan termosfer ini disebut juga lapisan ionosfer. Disebut dengan termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982°C. Disebut ionosfer karena pada lapisan ini merupakan tempat terjadinya ionisasi partikel-partikel yang dapat memberikan efek pada perambatan gelombang radio, baik gelombang panjang maupun pendek.

Lapisan Atmosfer

e. Eksosfer

Lapisan Eksosfer adalah lapisan udara kelima, eksosfer terletak pada ketinggian antara 800 – 1000 km dari permukaan bumi.

Lapisan Atmosfer – Hidrosfer Coba kamu perhatikan gambar bola bumi pada bagian awal bab ini. Pada bola bumi, samudera digambar dengan warna biru tua. Bandingkan warna biru dengan yang warna lain. Warna apa yang lebih luas atau dominan? Tentu kamu akan menjawab “yang berwarna biru”. Pada gambar bola bumi tersebut menggambarkan bahwa 70% muka bumi ditutupi dengan lapisan air yang disebut hidrosfer. Hidrosfer sangat penting bagi kehidupan di bumi. Tak ada mahluk hidup yang dapat hidup tanpa air.

Fenomena Gempa Bumi

Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi dari dalam bumi. Terjadinya perubahan energi panas yang menyebabkan pergolakan inti bumi menjadi energi kinetik sehingga mampu menekan dan menggerakkan lempeng-lempeng bumi. Energi kinetik yang dihasilkan tersebut dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik atau lempeng lithosfer merupakan bagian dari kerak bumi yang keras dan mengapung di atas astenosfer yang cair dan panas. Hal tersebut mengakibatkan lempeng tektonik menjadi bebas bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain.

Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi, dan pembentukan dataran tinggi. Lempeng-lempeng tektonik yang berdekatan saling berinteraksi dengan tiga kemungkinan pola gerakan yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati (collision), dan saling geser (transform). Kadangkadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus-menerus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak kuat menahan gerakan tersebut dan akhirya terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.

 

Perwilayahan Berdasarkan Fenomena Geografis

Perwilayahan Berdasarkan Fenomena Geografis

Perwilayahan Berdasarkan Fenomena Geografis

Fenomena Geografis
Fenomena Geografis

Fenomena geografis di permukaan bumi terdiri atas aspek fisik alamiah (topografi, perairan, iklim, tanah, flora, dan fauna) dan asfek kemanusiaan. Kedua aspek tersebut sangat terkait dan saling mempengaruhi sehingga tercipta suatu sistem kehidupan dalam bentuk aspek sosial, ekonomi dan budaya sebagai fenomena geografis lainnya.

Ilmu geografi memandang bahwa ruang dipermukaan bumi dapat dikelompokan dan dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu sehingga dapat dibedakan antara satu wilayah dan wilayah yang lainnya. Proses pengelolaan wilayah disebut perwilayahan (regionalization). Metode perwilayahan berdasarkan fenomena geografis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu generalisasi atau penyamarataan wilayah (region generalization) dan klasifikasi wilayah (region classification).

1. Generalisasi Wilayah (Region Generalization)

Generalisasi wilayah adalah suatu proses atau usaha untuk membagi permukaan bumi atau bagian dari permukaan bumi tertentu menjadi beberapa bagian dengan cara mengubah atau menghilangkan faktor-faktor tertentu yang dianggap kurang penting atau kurang relevan guna menonjolkan unsur-unsur tertentu. Oleh karena itu, dalam membuat perwilayahan perlu dilakukan delimitasi. Apa itu delimitasi? Delimitasi adalah cara-cara penentuan batas terluar suatu wilayah untuk tujuan tertentu. Dalam generalisasi wilayah, delimitasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu generalisasi wilayah dengan cara kualitatif dan kuantitatif.

a. Delimitasi Wilayah secara Kualitatif

Pada kenyataannya, jarang sekali ditemukan wilayah yang mempunyai kenampakan geografis dengan satu kriteria yang sama. Hanya saja dapat dibedakan dengan cara melihat kenampakan geografis yang dominan dibandingkan dengan kenampakan geografis lainnya yang berada di sekitarnya. Dengan demikian, batas wilayah yang satu dengan lainnya bukan merupakan batas yang tegas. Batas wilayah biasanya terdapat pada wilayah peralihan (zone of transition) antara kenampakan wilayah yang memiliki perbedaan karakteristik yang kecil dengan wilayah di sekitarnya.

Delimitasi kualitatif dalam generalisasi banyak dilakukan dalam interpretasi foto udara dan citra satelit. Misalnya, suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan kenampakan pemukiman padat dan pemukiman yang tidak padat. Sehingga penarikan batas wilayah dapat dilakukan berdasarkan kriteria kenampakan tersebut.

b. Delimitasi Wilayah Secara Kuantitatif

Dalam delimitasi wilayah secara kuantitatif, data digunakan sebagai dasar untuk generalisasi. Biasanya data numerik dapat digunakan dalam menentukan batas wilayah dengan cara menuangkannya ke dalam peta. Salah satu metode untuk delimitasi wilayah secara kuantitatif adalah dengan Teori Titik Henti (The Breaking Point Theory) yang memperhitungkan tarik menarik antar dua pusat kegiatan. Hal yang harus diperhatikan dalam teori ini adalah jumlah kedua wilayah dan jarak antara kedua wilayah tersebut. Teori ini telah dipelajari pada bab sebelumnya, yaitu dalam menentukan suatu lokasi industri sebagai pusat kegiatan atau pelayanan masyarakat agar dapat dijangkau oleh kedua masyarakat dari kedua wilayah.

2. Klasifikasi Wilayah (Region Classifi cation)

Klasifikasi wilayah adalah usaha untuk mengadakan penggolongan wilayah secara sistematis ke dalam bagian-bagian tertentu berdasarkan kriteria tertentu. Penggolongan harus memperhatikan keseragaman bagian wilayah. Dalam klasifikasi wilayah tidak mengubah atau menghilangkan data. Tujuan klasifikasi bukan untuk menonjolkan karakteristik tertentu, melainkan mencari perbedaan dari tiap bagian wilayah.

Klasifikasi wilayah dapat dikerjakan secara kualitatif dan kuantitatif. Klasifikasi wilayah dapat dilakukan berdasarkan jenisnya. Contohnya adalah klasifikasi wilayah yang mendasarkan pada penggunaan lahannya. Misalnya digunakan klasifikasi penggunaan lahan menurut Regional Physical Planning Programme for Transmigration (RePPPRot).

Berdasarkan klasifikasi tersebut kita dapat melakukan delimitasi penggunaan lahan suatu wilayah. Klasifikasi wilayah juga dapat dilakukan berdasarkan tingkatannya.

Misalnya dilakukan klasifikasi wilayah berdasarkan kepadatan penduduk dengan kriteria sebagai berikut: a. wilayah berpenduduk jarang : < 80 orang per ha b. wilayah berpenduduk sedang : 80 – 100 orang per ha c. wilayah berpenduduk padat : > 100 orang per ha Berdasarkan klasifikasi tersebut kita dapat menentukan kepadatan penduduk tiap tempat pada suatu wilayah.

Dari uraian tentang generalisasi wilayah dan klasifikasi wilayah dapat diketahui beberapa hal berikut ini :

a. Generalisasi wilayah berperan penting dalam proses perencanaan wilayah, terutama tahap pengenalan wilayah atau preplanning period. Hal ini penting karena berkaitan dengan penentuan prioritas pembangunan.

b. Dalam tahap perencanaan (Planning Period) sebaiknya digunakan teknik klasifikasi wilayah.

c. Delimitasi kuantitatif lebih memudahkan para perencana membuat perwilayahan karena bersifat konsisten. Indonesia yang memiliki kondisi fisik yang majemuk memerlukan perwilayahan dalam pembangunannya.

Ilmu geografi berperan dalam pembangunan sebagai sarana yang berupa perwilayahan (regionalisasi). Hal ini karena dalam membuat perwilayahan perlu memperhatikan faktor fisik serta faktor sosial dan ekonomi.