Perwilayahan Secara  Formal dan Fungsional

Perwilayahan Secara Formal dan Fungsional

Perwilayahan Secara Formal dan Fungsional

Perwilayahan Secara Formal dan Fungsional
Perwilayahan Secara Formal dan Fungsional

Perwilayahan atau regionalisasi adalah usaha untuk membagi-bagi permukaan bumi tertentu untuk tujuan tertentu pula. Secara teknik berkaitan dengan proses penentuan batas wilayah yang bentuknya tergantung tujuan regionalisasi, kriteria yang digunakan dan ketersedian data.

1. Perwilayahan Secara Formal

Penentuan batas-batas wilayah formal adalah pengelompokan unit-unit lokal yang memiliki ciri-ciri serupa menurut kriteria tertentu, yang dapat dibedakan secara nyata dari unit-unit luar lainnya.

Pada kenyataannya, wilayah formal seringkali tidak memiliki keseragaman (homogen) secara sempurna. Sehingga, penentuan tersebut relatif sulit walaupun ada pula yang mudah karena masih homogen dalam batas-batas tertentu. Misalnya, wilayah formal yang mudah ditentukan adalah dengan kriteria fisik alamiah seperti wilayah pegunungan, wilayah dengan ketinggian 200 m di atas permukaan laut atau wilayah pantai. Adapun wilayah formal yang sulit ditentukan biasanya jika menggunakan kriteria sosial ekonomi yang bersifat dinamis, seperti wilayah yang memiliki tingkat pengangguran tertentu.

Pada wilayah formal cenderung tidak mempunyai inti (core) walaupun dalam hal-hal tertentu memiliki jantung wilayah ( heartland) yang dikelilingi oleh wilayah pinggiran (periferal). Penentuan batas wilayah formal akan lebih mudah dengan menggunakan kriteria yang sederhana. Namun, jika menggunakan kriteria yang lebih kompleks maka penentuan batas-batas wilayah formal akan menjadi lebih sulit.

Oleh karena itu, perlu beberapa pendekatan dan metode dalam penentuan batas-batas wilayah formal diantaranya adalah metode indeks tertimbang dan analisis faktor.

a. Metode Indeks Tertimbang

Metode ini digunakan dengan cara mempertimbangkan beberapa kriteria secara bersama. Jika kriteria yang digunakan secara sendiri-sendiri, maka akan sukar untuk membatasi wilayah formal. Akan tetapi, jika kriteria tersebut ditimbang secara bersama-sama akan lebih mudah. Misalnya dalam menentukan wilayah formal yang memiliki tingkat perekonomian rendah.

Maka kriteria yang digunakan adalah jumlah pengangguran dan pendapatan per kapita. Kedua kriteria tersebut digunakan secara bersama-sama untuk menentukan apakah wilayah tersebut termasuk wilayah yang memiliki tingkat perekonomian rendah atau tidak. Oleh karena itu, kita perlu menentukan indeks atau nilai kedua kriteria tersebut. Misalnya, ditentukan untuk wilayah yang mempunyai jumlah pengangguran lebih dari 3% dan pendapatan per kapita di bawah satu juta rupiah maka termasuk wilayah yang memiliki tingkat perekonomian rendah.

b. Metode Analisis Faktor

Metode ini digunakan dalam penentuan batasbatas wilayah formal dengan menggunakan beberapa faktor. Adapun masing-masing faktornya terdiri atas beberapa kriteria. Sehingga metode ini merupakan regionalisasi yang rumit. Misalnya, untuk menentukan batas wilayah yang memiliki tingkat perekonomian tinggi digunakan faktor industri dan faktor sosial ekonomi. Faktor industri tersebut dapat dipilah lagi berdasarkan kriteria-kriteria industri, begitu pula faktor sosial ekonominya. Oleh karena itu, penentuan batas wilayah formal dengan metode ini memerlukan analisis terhadap faktor-faktor dan kriteria-kriterianya yang ditentukan.

2. Perwilayahan secara Fungsional

Perwilayahan secara Fungsional
Perwilayahan secara Fungsional

Penentuan batas-batas wilayah fungsional merupakan pengelompokan unit-unit lokal yang memperhatikan tingkat kebergantungan atau interdependensi yang cukup besar. Hal yang ditekankan dalam penentuan batas ini adalah arus yang terkait dengan suatu titik sentral. Ada dua cara pendekatan untuk melakukan perwilayahan secara fungsional, yaitu analisis arus dan analisis gravitasional.

a. Analisis Arus Analisis arus ( flow analysis)

menentukan batas-batas wilayah fungsional berdasarkan arah dan intensitas arus atau interaksi antara wilayah inti sebagai pusat yang dominan dan luar wilayah inti yang mengitarinya. Analisis arus ini berdasarkan pada observasi sebenarnya mengenai apa yang dikerjakan oleh penduduk. Intensitas arus akan semakin kuat jika jaraknya semakin dekat dan akan berkurang jika jaraknya semakin jauh dari pusat.

Perbatasan lingkungan pengaruh akan terdapat pada titik yang intensitas arusnya berada disuatu titik atau daerah yang paling rendah. Arus atau interaksi dalam wilayah fungsional dapat dikategorikan atas sejumlah tipe untuk dijadikan petunjuk dalam membatasi wilayah fungsional, yaitu sebagai berikut.

b. Metode Analisis Faktor

Metode ini digunakan dalam penentuan batas-batas wilayah formal dengan menggunakan beberapa faktor. Adapun masing-masing faktornya terdiri atas beberapa kriteria. Sehingga metode ini merupakan regionalisasi yang rumit. Misalnya, untuk menentukan batas wilayah yang memiliki tingkat perekonomian tinggi digunakan faktor industri dan faktor sosial ekonomi.

Faktor industri tersebut dapat dipilah lagi berdasarkan kriteria-kriteria industri, begitu pula faktor sosial ekonominya. Oleh karena itu, penentuan batas wilayah formal dengan metode ini memerlukan analisis terhadap faktor-faktor dan kriteria-kriterianya yang ditentukan.

1) Tipe ekonomi, seperti arus pengangkutan barang, arus penumpang, jalan raya atau kereta api.

2) Tipe sosial, seperti arus pelajar dan mahasiswa dari rumah ke tempat belajar atau pasien dari tempat tinggal ke rumah sakit. 3) Tipe politik, seperti arus pengeluaran pemerintah.

4) Tipe informasi, seperti arus hubungan telepon, Fax, SMS, surat kabar dan siaran televisi serta radio. Dalam analisis arus, hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah mobilitas penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dalam berinteraksi.

b. Analisis Gravitasional

Tentunya kamu masih ingat pada bab pola keruangan desa dan kota tentang rumus gravitasional dari W.J. Reilly (1929). Ia seorang ahli Geografi yang mengadopsi teori gravitasi Newton dalam mengukur kekuatan interaksi antar dua wilayah.

Coba ingat kembali bagaimana rumus gravitasional tersebut? Bagaimana hubungan antara kekuatan interaksi dengan jumlah penduduk dan jarak dari kedua wilayah? Coba terangkan berdasarkan rumus gravitasi! Analisis gravitasional mendasarkan bahwa tempat kegiatan perekonomian yang terdapat di suatu daerah ada yang terdapat di suatu tempat dan ada pula yang menyebar di banyak tempat. Dengan adanya tempat-tempat kegiatan perekonomian tersebut dapat menyebabkan adanya mobilitas penduduk, baik secara tetap maupun secara temporer. Misalnya, para pekerja dan pedagang merupakan penduduk yang bergerak scara tetap dari tempat tinggalnya ke tempat melakukan kegiatannya sehari-hari.

Jarak yang ditempuh oleh gerakan penduduk ke tempat kegiatan perekonomian berbeda-beda. Begitu pula jumlah penduduk yang bergerak untuk setiap jarak tertentu tidak selamanya sama. Dengan analisis gravitasional, dapat menentukan tingkat mobilitas penduduk dengan memperhatikan jumlah penduduk yang bergerak dari setiap arah dan jarak yang ditempuhnya.

Sehingga untuk meningkatkan efektifitas mobilitas dan menjadikan wilayah pertumbuhan berkembang, maka jaringan jalan sebagai sarana transportasi dalam mobilitas harus diperhatikan. Dari arah arus yang gerakan penduduknya tinggi tentunya jaringan jalan harus besar, sedangkan dari arah arus gerakan penduduknya rendah jaringannya tentu disesuaikan.

Pengertian Wilayah Formal dan Fungsional

Pengertian Wilayah Formal dan Fungsional

Pengertian Wilayah Formal dan Fungsional

Pengertian Wilayah Formal
Pengertian Wilayah Formal

1. Wilayah Formal

Pengertian Wilayah Formal – Wilayah formal adalah wilayah yang mempunyai keseragaman (uniform) atau persamaan (homogen) dalam kriteria tertentu. Wilayah formal (formal region) sering disebut juga uniform region atau homogen region. Persamaan ini menjadi sifat yang dimiliki oleh elemen-elemen yang membentuk wilayah geografi yang seragam atau homogen menurut kriteria tertentu.

Pengertian Wilayah Formal – Pada awalnya, kriteria yang digunakan hanyalah kriteria fisik seperti topografi, iklim, dan tumbuh-tumbuhan. Setelah munculnya Revolusi Industri di barat, kriteria ekonomi, industri, dan pertanian digunakan juga untuk penggolongan wilayah formal. Kriteria dalam wilayah formal bertambah juga kepada kriteria sosial dan politik, yaitu tahap kesetiaan kepada partai-partai politik. Wilayah formal dengan kriteria fisik cenderung statis, karena biasanya cenderung tetap, tidak berubah dan lebih stabil daripada kriteria sosial, ekonomi dan politik yang sifatnya dinamis. Misalnya wilayah beriklim tropis, hal ini karena wilayah tersebut berada di sekitar khatulistiwa serta mempunyai ciri-ciri seperti curah hujan, suhu udara dan kelembapan udara yang cukup tinggi.

Pengertian Wilayah Formal – Wilayah formal ekonomi biasanya didasarkan kepada jenis industri dan pertanian. Sebagai contoh adalah wilayah pertanian, karena wilayah ini mempunyai persamaan antara petani dengan daerah pertanian. Ada juga wilayah formal ekonomi yang didasarkan pada kriteria, seperti tingkat pendapatan, tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi.

Pengertian Wilayah Formal – Kalian pasti sering mendengar wilayah pantura di Pulau Jawa, wilayah pertambangan tembaga di Papua, wilayah rawan gempa di sepanjang pantai barat Sumatra. Wilayah-wilayah tersebut merupakan perwilayahan secara formal karena identifikasi wilayahnya berdasarkan kriteria-kriteria yang ada pada wilayah tersebut.

Coba sebutkan contoh kriteria-kriteria apa saja yang menjadikan wilayah-wilayah tersebut termasuk perwilayahan formal! Dalam menentukan suatu kawasan formal, umumnya akan diidentifikasi pada fungsi tertentu yang kemudian dikenal dalam istilah kawasan. Kawasan industri artinya suatu wilayah yang difungsikan atau dimanfaatklan untuk pengembangan sejumlah industri. Kawasan pedesaan adalah wilayah yang mempunyai kawasan perkampungan, petanian, dan perhutanan. Bagaimana dengan daerahmu, apakah termasuk dalam kriteria wilayah formal?

2. Wilayah Fungsional (Nodal)

Pengertian Wilayah Formal – Selain wilayah formal, ada pula wilayah yang disebut wilayah fungsional. Wilayah fungsional terkadang disebut juga wilayah nodal, wilayah piolarisasi atau wilayah organik. Wilayah fungsional adalah suatu bagian dari permukaan bumi yang memperlihatkan suatu hubungan fungsional tertentu dan interdependensi antarbagian wilayah. Menurut Glasson, wilayah fungsional adalah kawasan geografi yang memperlihatkan hubungan fungsional tertentu.

Pengertian Wilayah Formal – Wilayah fungsional kadangkala digunakan dalam menunjukkan kepada wilayah berpusat atau mengutub yang terdiri dari berbagai bagian, seperti kota dan desa yang saling berhubungan secara fungsional. Hubungan fungsional ini biasanya dilihat melalui bentuk-bentuk arus dengan menggunakan kriteria sosiol ekonomi, seperti perjalanan ke tempat kerja atau perjalanan untuk jual beli ke pusat perbelanjaan.

Sedangkan wilayah fungsional disebut wilayah nodal yang berarti wilayah tombol atau wilayah menonjol. Hal ini karena berkaitan dengan satu wilayah yang dalam banyak hal diatur oleh beberapa pusat kegiatan yang saling dihubungkan dengan garis melingkar.

Contoh terbaik ialah kota yang diukur oleh beberapa pusat kegiatan yang saling dihubungkan oleh jalur dan jaringan jalan yang melingkar antar-penduduk dari wilayah inti kegiatan dengan wilayah-wilayah sekitarnya. Jika interaksi atau gerakan aktivitas penduduk yang dijadikan tolok ukur dalam pengelompokan wilayah fungsional, maka akan ada beberapa hal yang essensial dari dan ke inti kegiatan.

Hal-hal yang essensial dari dan ke inti kegiatan yaitu sebagai berikut. a. adanya arus barang, ide, dan manusia b. adanya node atau pusat yang menjadi pertemuan arus secara terorganisis c. adanya jaring-jaring rute tempat tukar-menukar berlangsung d. adanya wilayah yang makin luas.