Tentang Pandangan Gereja tentang Hidup

Tentang Pandangan Gereja tentang Hidup

Tentang Pandangan Gereja tentang Hidup

Tentang Pandangan Gereja tentang Hidup
Tentang Pandangan Gereja tentang Hidup

Pandangan Gereja tentang Hidup di Tengah Masyarakat Gereja meyakini bahwa perkembangan pribadi manusia dan masyarakat mempunyai hubungan saling ketergantungan yang tak mungkin dapat dilepaskan satu sama lain. Bacalah beberapa gagasan tentang hal itu kamu dapat temukan dalam Dokumen-dokumen Konsili Vatikan Konstitusi Pastoral Tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, (Gaudium et Spes) dan Dekrit tentang Karya Misioner Gereja (Ad Gentes) sebagai berikut.

Konstitusi Pastoral Tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, (Gaudium et Spes) Artikel 25 Dari sifat sosial manusia nampaklah, bahwa pertumbuhan pribadi manusia dan perkembangan masyarakat sendiri saling tergantung. Sebab asas, subjek dan tujuan semua lembaga sosial ialah dan memang seharusnyalah pribadi manusia; berdasarkan kodratnya ia sungguhsungguh memerlukan hidup kemasyarakatan. Maka karena bagi manusia hidup kemasyarakatan itu bukanlah suatu tambahan melulu, oleh karena itu melalui pergaulan dengan sesama, dengan saling berjasa, melalui dialog dengan sesama saudara, manusia berkembang dalam segala bakatpembawaannya,

dan mampu menanggapi panggilannya. Dekrit tentang Karya Misioner Gereja (Ad Gentes) Artikel 11 Sebab segenap umat beriman kristiani, di mana pun mereka hidup, melalui teladan hidup serta kesaksian lisan mereka wajib menampilkan manusia baru, yang telah mereka kenakan ketika dibaptis, maupun kekuatan Roh Kudus, yang telah meneguhkan mereka melalui sakramen Krisma. Dengan demikian sesama akan memandang perbuatan-perbuatan mereka dan memuliakan Bapa (lih. Mat 5:16), dan akan lebih penuh menangkap makna sejati hidup manusia serta ikatan persekutuan semesta umat manusia.

Baca juga : Nilai-Nilai Dasar yang Diperjuangkan Yesus

Supaya kesaksian mereka akan Kristus itu dapat memperbuahkan hasil, hendaklah mereka dengan penghargaan dan cinta kasih menggabungkan diri dengan sesama, menyadari diri sebagai anggota masyarakat di lingkungan mereka, dan ikut serta dalam

• Baca beberapa kali kutipan-kutipan di atas dengan teliti, tanyakan kalau ada hal-hal yang belum dapat kamu pahami.

• Kemudian rumuskan gagasan penting yang terdapat dalam masingmasing kutipan artikel tersebut!

• Agar dapat saling melengkapi komunikasikanlah kesimpulanmu dengan teman-temanmu!

Refleksi dan Aksi

Apakah saya sadar, bahwa saya adalah warga masyarakat? Apakah saya mengenal dan memperlakukan tetangga sebagai saudara? Apakah saya peduli terhadap keprihatinan yang ada dalam masyarakat? Apakah keluarga saya terlibat dalam kehidupan warga sekitar? Apakah saya berusaha membangun persaudaraan dengan masyarakat sekitar sekalipun berbeda suku, bahasa dan agama? Masih dalam suasana hening, susun doa untuk kedamaian dan kesejahteraan masyarakat dan para pemimpinnya! Tulislah hasil refleksi dan doamu dalam buku catatanmu ! Doa Untuk mengakhiri pelajaran ini marilah kita berdoa… (salah satu peserta didik melakukan doa yang telah di buat )

Berteman

Ada ungkapan ”Tak kenal maka tak sayang”. Di dalam kalimat tersebut terkandung pengertian bahwa seseorang yang hidup hendaknya berteman, berelasi pada sesamanya agar dapat saling mengerti dan memahami agar dapat menimbulkan kasih sayang yang mendalam dan murni. Dengan mempelajari arti berteman, manfaat berteman serta hal-hal yang mendukung pertemanan yang baik, diharapkan kamu mampu untuk menemukan sikap-sikap baik yang dibutuhkan dalam berteman, sehingga memungkinkan kamu untuk menjalin pertemanan dengan siapa saja secara baik dan senantiasa membangun relasi yang harmonis dengan semua teman.

Doa Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas semua teman yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Hadirlah dalam kegiatan belajar kami hari ini, dan bukalah hati serta pikiran kami. Buatlah kami dapat mengusahakan sikap dan tindakan yang baik dalam pertemanan kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin

Pengalaman Berteman

Dalam kehidupanmu sehari-hari, hampir setiap saat kamu berjumpa dengan banyak orang seusiamu, entah di sekitar rumah, di sekolah, atau di manapun. Melalui perjumpaan yang sering, lama kelamaan kita mengenal banyak hal, sehingga pada akhirnya kamu dapat menyebut orang yang sering dijumpai itu sebagai teman. Untuk memahami makna teman, dan bagaimana harus berelasi, maka ikutilah proses berikut

Simaklah ungkapan pengalaman berteman dalam bacaan berikut ini !

Pengalamanku dalam Berteman

Manusia adalah makhluk sosial, maka kita tidak dapat hidup sendirian. Kita membutuhkan orang lain sebagai teman. Bentuk pertemanan itu sangat beragam. Pertemanan yang baik/ positif akan membawa kita pada perkembangan sikap dan kualitas hubungan yang baik pula. Pertemanan yang baik akan membawa kita pada suatu titik pemahaman bahwa diri kita mempunyai makna. Banyak manfaat yang saya peroleh dalam berteman secara positif.

Perkembangan hidup saya menjadi lebih baik dan merasakan hidup menjadi lebih bermakna. Namun demikian, tak jarang pula saya merasa terganggu dengan hubungan pertemanan yang negatif. Pertemanan yang negatif ini dapat membuat hidup menjadi kurang bermakna. Pertemanan yang negatif akan cenderung menjerumuskan kita kepada hal-hal yang negatif pula. Mengetahui dampak dari pertemanan adalah merupakan hal yang penting untuk saya ketahui, sebab dengan mengetahui dampaknya, saya dapat memilih dengan bijak pertemanan seperti apa yang akan saya jalani. Inilah yang menjadikan saya lebih banyak memiliki pertemanan yang positif daripada yang negatif. Itu anugerah yang telah Allah berikan kepada saya.

Saya bersyukur atas anugerah itu. Saya bersyukur atas pertemanan saya. Saya memiliki suatu pemahaman bahwa teman merupakan anugerah yang telah Tuhan berikan kepada saya. Tuhan mengembangkan saya melalui teman-teman yang telah Tuhan berikan untuk saya. Mereka adalah orang orang yang dapat menemani, menjadi partner, dalam suka maupun duka. Selayaknya kita berusaha untuk selalu hadir di tiap saat bahagia atau duka yang dialami teman kita. Terima kasih Tuhan, terima kasih teman…

Simaklah ungkapan pengalaman berteman dalam bacaan berikut ini !

• Setelah membaca pengalaman tadi, sekarang ceritakan pengalamanmu sendiri dalam berteman!

• Peserta didik yang lain dapat memberikan komentar dengan pertanyaan atau tanggapan!

• Kemudian masuklah dalam kelompok, diskusikan hal-hal berikut ini!

a. Apa manfaat berteman berdasar kisah pengalaman tadi ?

b. Hal-hal apa saja yang menyebabkan pertemanan menjadi kurang harmonis?

c. Menurutmu apa arti berteman?

d. Bagaimana pengalamanmu dalam berteman?

Setelah diskusi selesai, masing-masing kelompok dapat mempresentasikan hasilnya, dan kelompok lain dapat memberi tanggapan berupa pertanyaan atau komentar.

Pesan Kitab Suci dalam Membangun Pertemanan Iman

Kristiani tidak hanya memaknai pertemanan sebagai peristiwa manusiawi biasa. Pertemanan mempunyai dimensi iman, khususnya iman akan Yesus Kristus. Oleh karena itu ukuran pertemanan baik atau tidak harus diukur sejauhmana hal tersebut selaras dengan nilai-nilai Kristus, sebagaimana diungkapkan oleh Paulus dalam Fil 2:1-8 Cobalah untuk membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci berikut ini !

Fil 2:1-8

1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Setelah merenungkan bacaan Kitab Suci tersebut, cobalah untuk mengisi bahasan berikut dalam buku catatanmu!

Renungkanlah isi Puisi berikut ini ! Rindu untuk Teman Teman, Saat ku sepi, saat ku sendiri Mataku menerawang, Menerobos kegelapan malam Hatiku terasa hampa Tak terasa, butiran air mata mengalir di pipiku. Teman, Ku kenang masa-masa kita bersama Berbagi rasa, duka dan canda, Yang slalu kita lalui bersama Teman, Kini jarak tlah memisahkan kita, Ada rasa rindu yang mendalam, Ada sesuatu yang kurang dalam hidupku Teman, Jujur dari hatiku yang terdalam “Aku sangat merindukanmu . . .” Aku rindu candamu . . . Aku rindu tawamu . . . Aku rindu semua kebersamaan dulu Yang membuat aku kuat untuk selalu maju.

Refleksi dan Aksi

Kamu telah mempelajari tentang berteman. Kamu juga telah memiliki berbagai pengalaman dalam berteman. Kini renungkanlah dalam hatimu, apa yang kalian pahami tentang arti berteman? Apa manfaat yang kamu peroleh dengan berteman? Apa yang mendukung pertemananmu? Kebiasaan apa yang akan kalian lakukan sebagai bentuk penghayatan dan perwujudan atas pelajaran ini? Setelah mengikuti proses di atas, sekarang saatnya kamu menuliskan hasil refleksi tersebut dalam buku catatanmu! \

Doa Daraskan Mazmur berikut bersama-sama secara bergantian! Mazmur 15:1-5 TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

 

Peran Gereja bagi  Perkembangan

Peran Gereja bagi Perkembangan

Peran Gereja bagi Perkembangan

Peran Gereja bagi Perkembangan
Peran Gereja bagi Perkembangan

Manusia adalah makhluk Rohani. Manusia tidak hanya terdiri atas jiwa dan raga, tetapi di dalam dirinya Allah hadir dalam Roh-Nya yang Kudus. Berkat Roh itu pulalah, hidup manusia senantiasa terarah pada Allah, ia selalu mencari Allah, dan ingin hidup menurut kehendak Allah. Maka manusia disebut juga makhluk yang beriman. Iman pada dasarnya merupakan relasi manusia secara pribadi dengan Allah. Tetapi untuk mengembangkan hidup beriman, manusia tidak dapat sendiri. Ia perlu belajar dari orang lain yang sudah terlebih dahulu beriman, ia harus hidup bersama dengan jemaat yang lain dan ikut bertanggung jawab serta berpartisipasi dalam kehidupan jemaat yang lain. Mereka adalah jemaat beriman atau disebut juga gereja. Apa saja peran Jemaat (gereja) bagi perkembaganmu ? Itu semua akan kamu pelajari dalam topik ini !

Pengalaman Terlibat dalam Kegiatan Gereja

Doa Ya, Allah. Bapa yang penuh kasih, aku bersyukur kepada-Mu kedua orang tua dan suadara-saudaraku. Melalui kasih sayang mereka, Engkau menyayangi aku. Melalui mereka pula, Engkau mendidik, mendampingi dan menuntun aku. Aku mohon, berkatilah mereka senantiasa, supaya mereka senantiasa mengalami kegembiraan hidup dan keyakinan bahwa mereka pun dikasihi oleh-Mu Berkatilah pula aku, ya Tuhan agar aku pun tak henti-hentinya mengasihi mereka, seperti Yesus Kristus.

Dia-lah teladan dan Juru Selamat kami, Bapak dan Ibu Guru, sebab melalui merekalah, Engkau membimbing kami untuk menemukan dan memahami kebenaranMu Semoga pelajaran hari ini, menyadarkan kami untuk selalu setia dalam pengajaran mereka dan selalu hormat atas pelayanan mereka.

Salah satu cara belajar mengembangkan diri yang efektif adalah dengan cara terlibat langsung dalam kegiatan yang ada. Di dalam Gereja ada begitu banyak kegiatan atau kelompok pelayanan. Kamu dapat melibatkan diri dan belajar banyak dalam keterlibatanmu itu, sebagaimana dikisahkan oleh temanmu berikut.

Belajar Melayani Melalui Legio Mariae

Nama saya Agnes. Saya sekarang duduk di kelas IX di salah satu SMP Negeri di kota saya. Selain kegiatan sekolah, sejak kecil saya senang mengikuti sekolah minggu. Tetapi sejak SMP saya mulai aktif menjadi anggota presidium Legio Mariae yunior yang ada di stasi saya, sampai akhirnya, sudah satu tahun ini, saya dipilih menjadi ketua Presidium. Anggota presidium saya berjumlah 17 orang, terdiri atas 11 teman perempuan dan enam teman laki-laki. Kami rapat setiap hari Minggu setelah misa selesai. Presidium kami mempunyai pembimbing rohani, seorang Bapak yang lemah lembut dan menyenangkan. Beliau selalu hadir dalam rapat kami. Teman-teman mungkin sudah tahu kegiatan Legio Mariae kan ? Legio Mariae adalah Pasukan atau Tentara Maria. Kami yang tergabung dalam Legio Mariae adalah Pasukan atau tentara Maria yang selalu siap sedia bertempur. Tetapi pertempuran kami adalah untuk memerangi kuasa jahat dan menaklukkan jiwa-jiwa setiap manusia agar bertekuk lutut hidup di bawah kuasa Tuhan Yesus. Sebagai tentara kami harus selalu siaga, membekali dan mempersenjati diri. Bekal dan senjata kami bukan makanan-minuman atau senjata api, melainkan bekal dan senjata rohani. Itulah sebabnya dalam setiap rapat mingguan kami berdoa rosario, dan mendengarkan nasehat rahani dari pembimbing rohani, lalu dilanjutkan dengan laporan pelaksanaan tugas minggu lalu dan pembagian tugas yang harus dilaksanakan berikutnya, dan ditutup kembali dengan doa.

Karena kami ini masih muda, tugas-tugas yang kami lakukan disesuaikan dengan kemampuan kami, yaitu membaca dan merenungkan Kitab Suci atau bacaan rohani, mengikuti pertemuan lingkungan atau kelompok basis, menjadi lektor, menjadi putera atau puteri altar, mengunjungi teman yang sakit, membereskan buku-buku misa, membantu membersihkan gereja, membantu ketua lingkungan menyebarkan undangan dan sebagainya. Ternyata menjadi anggota Legio Mariae menyenangkan. Saya dapat mengenal banyak umat. Saya belajar melayani sesama, berdisiplin, peduli, dan saya menjadi rajin berdoa dan membaca Kitab Suci.

Setelah membaca cerita pengalaman di atas, diskusikan beberapa hal berikut ini! 1. Ungkapkan hal yang berkesan bagimu dari cerita di atas! 2. Ceritakan satu kegiatan gereja yang pernah atau sering kalian ikuti di gerejamu, lalu ungkapkan pelajaran apa yang dapat kalian petik demi perkembangan dirimu ! 3. Diskusikan dengan temanmu, kegiatan atau kelompok pelayanan apa yang ada dalam gereja, lalu rumuskan pula pelajaran apa yang dapat kamu petik dari kegiatan atau kelompok pelayanan tersebut! 4. Kamu dapat belajar mengkembangkan diri dengan cara meneladani tokoh atau figur-figur yang ada dalam gereja yang dianggap patut untuk diteladani umat beriman yang baik. Siapa tokoh di gerejamu yang patut dianggap sebagai teladan dalam mengembangkan diri ? Mengapa ?

Peranan Gereja dalam Mengembangkan Diri Umatnya Gereja mempunyai tanggung jawab untuk ikut serta mengembangkan hidup setiap anggotanya, baik dalam perkembangan pribadi sebagai manusia pada umumnya, maupun sebagai manusia beriman. Peranan dan tanggung jawab itu, antara lain dirumuskan dalam Katekismus Gereja Katolik sebagai berikut:

Artikel 2030

Orang yang dibaptis menjalankan perutusannya di dalam gereja, persekutuan semua orang yang dibaptis. Dari Gereja ia menerima Sabda Allah, yang mencakup petunjuk-petunjuk “hukum Kristus” (Gal 6:2). Dari gereja ia menerima rahmat Sakramen-sakramen, yang menguatkannya di “jalan”. Gereja memberi kepadanya contoh kekudusan. Di dalam Perawan Maria tersuci ia melihat bentuk dan sumber kekudusan kekudusan ini; ia melihatnya dalam kesaksian murni dari mereka yang menghidupinya; ia menemukannya dalam tradisi rohani dan dalam sejarah panjang para kudus, yang mendahuluinya dan yang hari peringatannya sekarang dirayakan dalam liturgi.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Umat di Roma memberi penegasan tentang peranan orang-orang beriman yang bergabung dalam gereja. Melalui kesaksian hidup dan iman mereka itulah iman gereja akan Yesus Kristus dan pelayanannya diteruskan dari generasi ke generasi, sehingga manusia yang lahir di kemudian hari dapat mengenal Yesus Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.

Rom 10: 14-15 14

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? 15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Baca sekali lagi dengan teliti! Tanyakan hal-hal yang belum dapat kamu pahami berkaitan dengan ke dua bacaan tersebut! Jawablah beberapa pertanyaan berikut ini dan bagikan dalam kelompok agar dapat saling melengkapi! a. Apa peran yang diberikan orang-orang yang lebih dahulu beriman? Lalu rumuskan bagi kita yang hidup zaman sekarang? b. bila peran tokoh pendahulu gereja itu mempunyai peran yang penting dalam perkembangan diri anggota, apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap mereka? c. Apa saja yang diberikan gereja demi perkembangan anggotanya?

Refleksi dan Aksi

• Apakah selama ini saya sudah mengenal warga Katolik di sekitar tempat tinggal ? • Apakah saya mengenal pemuka umat di lingkungan saya ? • Apakah saya mendoakan para pemimpin gereja saya ? • Apakah saya terlibat aktif dalam kegiatan gereja ? • Apakah kehidupan iman saya dapat diteladani oleh teman-teman ?

Ucapkan dalam hati doa untuk salah seorang Umat, Pemuka Umat atau Pemimpin gereja yang ingin kamu doakan! Buatlah niat untuk terlibat dalam salah satu kegiatan Gereja, sehingga imanmu dapat makin berkembang. Tulislah doa dan niatmu itu dalam buku catatanmu!

ugas Wawancarai umat yang terlibat aktif dalam kegiatan Gereja dengan menggali motivasi yang mendorong mereka, manfaat yang diperoleh dalam kehidupan, pengalaman suka duka dalam pelayanan, dan harapan pada Umat yang lain Lagu (Untuk mengakhiri pelajaran ini nyanyikanlah lagu yang berjudul “Dalam Yesus Kita Bersaudara” dengan penuh penghayatan ) Dalam Yesus Kita Bersaudara Dalam Yesus, kita bersaudara 3x Sekarang dan selamanya Dalam Yesus Kita bersaudara Dalam Yesus saling melayani 3 x Sekarang dan selamanya Dalam Yesus saling melayani Dalam Yesus saling mengampuni 3 x Sekarang dan selamanya Dalam Yesus saling mengampuni Dalam Yesus saling mengasihi 3 x Sekarang dan selamanya Dalam Yesus saling mengasihi (Madah syukur hal 110 No.133)

Peran Masyarakat Bagiku

Manusia itu makhluk sosial. Ia hidup membutuhkan orang lain sekaligus dibutuhkan orang lain. Ia tidak mungkin dapat hidup sendiri terpisah dari sesama atau masyarakat. Ia harus menjadi bagian dari masyarakat dan terlibat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Sebagai bagian dari masyarakat, ia dapat belajar dari kehidupan masyarakat. Sebagai bagian dari masyartakat ia pun tidak dapat berdiam diri terhadap apa saja yang terjadi dalam masyarakat. Bila ia mencoba memisahkan diri dari masyarakat, otomatis ia pun akan disingkirkan dari masyarakat. Dalam pelajaran ini, kamu akan diajak menyadari kembali peran masyarakat bagi perkembangan dirimu, dengan harapan di masa depan kamu semakin melibatkan diri dalam masyarakat secara tepat dan benar.

 

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita
Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Gereja menaruh perhatian yang cukup besar dalam memperjuangkan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki. Perjuangan Gereja tersebut dilandasi oleh pandangan Gereja sendiri, sebagaimana terungkap dalam Katekismus Gereja Katolik berikut ini.

Artikel 369

Pria dan wanita diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. ”Kepriaan” dan ”kewanitaan” adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya. Keduanya, pria dan wanita, bermartabat sama ”menurut citra Allah”. Dalam kepriaan dan kewanitaannya mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta.

Artikel 371

Allah menciptakan pria dan wanita secara bersama dan menghendaki yang satu untuk yang lain. Sabda Allah menegaskan itu bagi kita melalui berbagai tempat dalam Kitab Suci: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Dari antara binatang-binatang manusia tidak menemukan satu pun yang sepadan dengan dia (Kej 2:19-20). Wanita yang Allah “bentuk” dari rusuk pria, dibawa kepada manusia. Lalu berkatalah manusia yang begitu bahagia karena persekutuan dengannya, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2:23). Pria menemukan wanita itu sebagai aku yang lain, sebagai sesama manusia.

Baca juga : Tentang Pandangan Gereja tentang Hidup

Artikel 372

Pria dan wanita diciptakan ”satu untuk yang lain”, bukan seakanakan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap, melainkan Ia menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga kedua orang itu dapat menjadi ”penolong” satu untuk yang lain, karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi (”tulang dari tulangku”), sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya. Dalam perkawinan, Allah mempersatukan mereka sedemikian erat, sehingga mereka ”menjadi satu daging” (Kej 2:24) dan dapat meneruskan kehidupan manusia: ”Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi” (Kej 1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya, pria dan wanita sebagai suami isteri dan orang-tua bekerja sama dengan karya Pencipta atas cara yang sangat khusus.

Pandangan dan perjuangan Gereja itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari pandangan dan sikap Yesus yang dalam upaya-Nya mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah, juga berusaha menegakkan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki, sebagaimana nampak dalam Yoh 8: 2-11 dan Mrk 15: 21-28 a. Baca kedua kutipan tersebut dengan teliti! b. Buatlah daftar pertanyaaan terhadap hal-hal yang belum kamu pahami dari ke dua kutipan tersebut ! c. Bahaslah pertanyaan-pertanyaan tersebut bersama teman-temanmu dan guru ! d. Buatlah kesimpulan apa kesederajatan yang terungkap dari kedua kutipan tersebut!

Refleksi dan Aksi

Anak-anak yang terkasih, sebagai penutup pelajaran hari ini, mari kita refleksi sejenak. Keluhuran martabat manusia bukan ditentukan oleh apakah dia seorang laki-laki atau perempuan. Apakah saya selama ini menghormati teman saya sebagai ciptaan Allah yang bermartabat luhur? Menghina manusia sama dengan menghina penciptanya. Apakah saya pernah menghina teman saya perempuan atau laki-laki? Laki-laki dan perempuan itu sederajat.

Apakah saya menghormati siapa saja dan tidak menganggap lawan jenis sebagai saingan? Sekarang, pikirkan kebiasaan baik apa yang akan dilakukan sebagai wujud penghormatan terhadap kesederajatan perempuan dan laki-laki, misalnya: • Mau bergaul dengan siapa saja dengan tetap menjaga kesopanan dan kesusilaan • Tidak menghina lawan jenis • ….dan sebagainya Masih dalam suasana hening, buatlah motto dan refleksimu yang menggambarkan keyakinanmu bahwa perempuan dan laki-laki itu sederajat. Hiasilah motto itu sebaik mungkin, dan dikumpulkan. Doa: Allah, Bapa Pencipta, Engkau menciptakan perempuan dan laki-laki sederajat. Ajarilah kami saling menghormati dan menghargai keutamaan kami masing-masing sebab dengan cara demikianlah kami juga meluhurkan Engkau Demi Kristus, Tuhan kami

Mengembangkan Diri sebagai Perempuan dan Laki-laki

Doa Allah Bapa Maha Pencipta, kami bersyukur telah diciptakan sebagai citraMu, sebagai perempuan atau laki-laki. Bimbinglah kami, agar dalam masa remaja ini kami dapat melatih dan mengembangkan diri menjadi perempuan atau laki-laki sejati menjadi manusia yang sempurna, sebagaimana Engkau sempurna adanya sebagaimana telah ditunjukkan oleh PuteraMu, Yesus Kristus dan Bunda Maria, Bunda kami. Amin.

1. Berkembang Sesuai dengan Kodrat sebagai Perempuan atau Laki-laki Panggilan setiap manusia adalah agar ia dapat berkembang sesuai kodratNya. Maka sebagai perempuan, ia harus berkembang menjadi perempuan sejati. Sebagai laki-laki, ia harus berkembang menjadi laki-laki sejati. Pernahkah kamu mendengar istilah “perempuan sejati” atau “lakilaki sejati”? Tahukah kamu kriteria yang menyebabkan mereka dapat disebut “sejati”? Ada baiknya kamu bersama teman-teman mencoba memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tetapi istilah sejati itu sendiri sifatnya relatif, karena di dunia ini tak ada yang benar-benar sejati, selain dari Allah sendiri. Mungkin yang lebih penting kamu pikirkan saat ini adalah bagaimana cara dan bentuknya, agar sebagai perempuan atau laki-laki, kamu dapat hidup secara membanggakan, mengagumkan, dan bermakna bagi sesama dengan tidak melanggar kodratmu.

Semula Menjengkelkan, Kemudian Berguna Nama saya Anton. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Sejak kelas empat SD, saya tinggal jauh dari orang tua karena diminta menemani Bibi yang bekerja di kota lain. Bibi bekerja sebagai Guru SD. Saya pulang ke rumah orang tua hanya dua kali dalam setahun, yakni setiap libur semester. Saya tinggal di rumah Bibi sejak SD sampai SMA, sejak Bibi belum menikah, sampai Bibi mempunyai anak tiga. Ada pengalaman yang tak dapat saya lupakan semasa tinggal dengan Bibi. Sejak Bibi menikah dengan suaminya, yang juga bekerja sebagai guru, dan mempunyai seorang anak, mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les privat. Mereka sering tidak sempat berbelanja, dan tidak sempat memasak. Oleh karena itu, saya sering disuruh Bibi belanja ke warung. Biasanya Bibi, sudah menuliskan apa saja yang akan dibeli, sayurmayur, dan berbagai macam bumbu dapur.

Awalnya saya malu bukan main. Bayangkan, saya adalah anak laki-laki satu-satunya yang setiap hari harus antri di warung untuk belanja sayuran di antara ibu-ibu, Ada ibu-ibu yang memuji dan bangga melihat saya karena mau membantu Bibi berbelanja. Tetapi ada juga yang mengejek. Adakalanya ibu-ibu mengalah dan memberi kesempatan kepada saya untuk belanja lebih dahulu. Lama-kelamaan, Bibi saya tidak hanya menyuruh saya belanja. Saya juga disuruh untuk memasak. Saya diberi tahu cara memotong kangkung, mengiris bawang, menumbuk bumbu, hingga memasaknya.

Saya dapat memasak sayur , membuat sambal terasi, dan yang lainnya. Selain memasak, saya juga harus mengasuh anak Bibi. Jika bibi sangat sibuk, saya harus memandikan anak-anak Bibi, dan menyiapkan makanan mereka. Saya juga menyapu, mengepel, mencuci pakaian, menyetrika, dan sebagainya.Kadang-kadang saya marah dalam hati “Mengapa Bibi saya memperlakukan saya seperti ini ? Saya kan laki-laki” Bayangkan semua pekerjaan itu saya lakukan selama saya tinggal di rumah Bibi, yaitu sejak SD sampai lulus SMA. Sejak bibi menikah hingga mempunyai tiga anak. Kadang-kadang saya malu. Tapi saya berusaha tidak menolak dan tidak berontak terhadap apa saja yang Bibi perintahkan kepada saya. Saya sadar, bahwa kalau saya tidak ikut Bibi, saya mungkin tidak dapat bersekolah. Bibi yang membiayai sekolah saya sejak saya tinggal dengan Bibi.

Di kemudian hari, saat saya kuliah, saya baru sadar bahwa ternyata apa yang Bibi latih selama ini sangat berguna. Di tempat kost saya dapat memasak. Saya menjadi pribadi yang mandiri . Lebih-lebih setelah saya menikah dan mempunyai anak, saya dapat mengurus anak-anak saya dengan baik. Bahkan sampai sekarang, kebiasaan memasak itu menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya senang dan bangga, karena walaupun saya seorang bapak, tetapi berkat didikan Bibi di masa lalu, di dalam keluarga saya tidak hanya mengandalkan istri untuk urusan masak atau mengurus anak. Saya dapat membantu istri saya

Diskusikan pertanyaan berikut ini dan komunikasikan hasilnya!

1. Setelah membaca kisah di atas, hal menarik apa yang kamu peroleh?

2. Apa pengetahuan dan keterampilan yang sebaiknya kamu latih agar kelak dapat menjadi perempuan sejati atau laki-laki sejati, atau mejadi seorang Ibu atau menjadi seorang bapak?

3. Kebiasaan dan nilai-nilai apa yang perlu ditumbuhkan dalam dirimu, sehingga kamu juga bertumbuh menjadi citra Allah yang sesungguhnya?

4. Berilah beberapa contoh lain yang mengungkapkan sikap atau perilaku yang tidak sesuai dengan penghayatan diri remaja sebagai perempuan atau laki-laki dan tunjukkan nilai apa yang terungkap di dalamnya.