Tentang Hakikat Ilmu Biologi sebagai Ilmu

Tentang Hakikat Ilmu Biologi sebagai Ilmu

Tentang Hakikat Ilmu Biologi sebagai Ilmu

Hakikat Ilmu Biologi – Tentu kamu telah mempelajari biologi sejak di SMP. Mengapa kita mempelajari biologi? Ilmu apakah sebenarnya biologi itu? Sejauh mana ruang lingkup biologi? Apa manfaat serta bahaya dari perkembangan ilmu biologi? Sejumlah pertanyaan di atas, tentulah sangat menarik untuk dikaji. Untuk itu marilah kita pelajari bersama-sama hakikat biologi sebagai ilmu. Kita juga akan menemukan berbagai objek serta ragam persoalan dari berbagai tingkat organisasi kehidupan Agar lebih jelas mengenai topik-topik yang akan di bahas dalam bab ini, perhatikan bagan konsep di halaman sebelumnya.

Hakikat Ilmu Biologi

Hakikat Ilmu Biologi
Hakikat Ilmu Biologi

Hakikat Ilmu Biologi

A. Karakteristik Makhluk Hidup Biologi berasal dari kata “bios” dan “logos”. Bios artinya kehidupan dan logos artinya ilmu. Jadi, biologi adalah ilmu yang mempelajari makhluk hidup, yang mencakup manusia, tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Lihatlah hewan dan tumbuhan di lingkungan sekelilingmu. Mereka adalah makhluk hidup. Tentunya kamu dapat mengidentifikasi ciri-ciri hidup dari mereka. Benda hidup disebut juga organisme. Sebenarnya sesuatu dikatakan organisme/makhluk hidup jika memiliki ciri-ciri kehidupan.

Selain yang tampak pada gambar, masih ada ciri-ciri makhluk hidup yang lain, di antaranya metabolisme dan homeostatis.

Hakikat Ilmu Biologi

1. Metabolisme Metabolisme adalah suatu proses reaksi kimia yang terjadi di dalam setiap sel makhluk hidup. Reaksi-reaksi tersebut meliputi proses pembakaran (pembongkaran) zat makanan untuk menghasilkan energi, ataupun proses penyusunan zat makanan sebagai bahan kimia sumber energi. Proses metabolisme cukup rumit, dan kamu bisa mempelajarinya di kelas 3. Kita semua tahu bahwa energi adalah sesuatu yang sangat penting bagi makhluk hidup untuk melangsungkan aktivitas kehidupan. Aktivitas kehidupan itu, misalnya tumbuh, bergerak, dan berkembang biak.

Hakikat Ilmu Biologi

2. Homeostasis Sebagian besar hewan dapat bertahan hidup menghadapi perubahan lingkungan di sekitarnya, tetapi manusia akan mati jika suhu internal (dalam tubuh) berubah lebih dari beberapa derajat di atas atau di bawah rata-rata suhu tubuh normal (s 37ºC). Kemampuan makhluk hidup dalam mempertahankan keseimbangan tubuhnya dinamakan homeostatis. Homeostasis meliputi termoregulasi (pertahanan suhu tubuh), osmoregulasi (pengaturan keseimbangan larutan dalam tubuh) dan ekskresi (pengeluaran produk buangan metabolisme).

Biologi sebagai Ilmu

Hakikat Ilmu Biologi – Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu mengalami perkembangan secara dinamis. Perkembangan tersebut mampu mengungkapkan kaidah-kaidah baru mengenai fenomena alam, sosial atau kemanusiaan serta penerapannya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Manusia selalu tertarik pada dirinya sendiri, pada organisme lain, juga pada lingkungan sekitar. Mereka berusaha untuk menerangkan sesuatu dan menggunakan apa yang mereka pelajari. Mempelajari biologi akan membantu kita mengerti tentang lingkungan tempat kita hidup serta membantu kita dalam mengatur hidup dan kesehatan kita. Kita dapat memutuskan apa yang harus kita makan, kita minum, kapan kita harus tidur, bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya, serta bagaimana kita memilih apa yang terbaik untuk diri kita, dan lingkungan. Biologi sebenarnya telah lahir jauh sebelum ilmu-ilmu lain berkembang. Diperkirakan ilmu ini lahir sekitar abad XVI, ketika para sarjana ilmu pengetahuan alam pada saat itu telah mengamati dan mempelajari berbagai keanekaragaman makhluk hidup. Untuk memudahkan orang mengenal dan memberi nama terhadap berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang ada, lahir botani, yaitu ilmu tumbuh-tumbuhan, dan zoologi, yaitu ilmu hewan. Hakikat Biologi sebagai Ilmu 5 Persoalan lain kemudian muncul, “Bagaimana agar penamaan tumbuhan dan hewan yang beraneka ragam dapat disusun dalam suatu pola yang teratur dan memudahkan pengenalan?” Kemudian berkembang cabang ilmu yang mempelajari klasifikasi makhluk hidup disebut taksonomi.

Sejalan dengan pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi, botani pun berkembang ke dalam ilmu-ilmu lain, misalnya: a. anatomi tumbuhan, khusus mempelajari struktur dan fungsi bagian tubuh tumbuhan; b. fisiologi tumbuhan, khusus mempelajari kerja alat-alat (organ) tubuh tumbuhan; c. ekologi, khusus mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya; d. mikologi, khusus mempelajari jamur; e. mikrobiologi, khusus mempelajari mikroorganisme. Dari zoologi lahir cabang-cabang ilmu, misalnya: a. anatomi hewan, khusus mempelajari struktur dan fungsi bagian tubuh hewan; b. morfologi hewan, khusus mempelajari bentuk luar tubuh hewan; c. fisiologi hewan, khusus mempelajari fungsi alat-alat tubuh hewan; d. embriologi, khusus mempelajari pertumbuhan embrio; e. entomologi, khusus mempelajari serangga. Sebagai ilmu murni, biologi memiliki kedudukan yang sama dengan ilmu lain seperti fisika, kimia, geologi, biokimia, genetika, mikrobiologi, dan matematika. Sebagai ilmu terapan biologi melibatkan pemahaman ilmu lain, misalnya kimia, fisika, dan matematika. Dalam bidang agrikultur, misalnya, seorang ahli biologi harus menguasai ilmu kimia dan fisika, dalam bidang farmasi, penguasasan ilmu kimia juga dibutuhkan. Kedudukan biologi terhadap ilmu lain dan penerapannya dalam berbagai lapangan pekerjaan .

Biologi adalah bagian dari sains yang memiliki karakteristik yang sama dengan ilmu sains lainnya. Persamaan karakteristik tersebut disebabkan ilmu-ilmu sains ditemukan dan dikembangkan melalui cara-cara yang sama, yaitu logis dan ilmiah.

Kerja Ilmiah

Biologi termasuk ilmu pengetahuan alam (IPA), dan sering juga disebut ilmu eksakta. Dapatkah kamu menjelaskan mengapa disebut demikian? Dikatakan ilmu pengetahun alam sebab biologi adalah ilmu yang diperoleh dari fakta-fakta yang terjadi di alam (fenomena alam) dan dapat diuji coba di laboratorium. Orang yang mempelajari atau meneliti sebuah fenomena alam dinamakan ilmuwan atau “scientist”. Seorang ilmuwan bekerja secara sistematis dan teratur, membutuhkan kecermatan, ketelitian, ketekunan, dan kesabaran yang tinggi. Masih ingatkah kamu dengan istilah “metode ilmiah?” Siapa pun yang ingin meneliti suatu permasalahan biologi tentu harus bekerja sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. “Science” (sains) sebaiknya dipahami dengan cara mengamatinya dan bukan dengan cara menciptakan definisi yang tepat. Kata “science” berasal dari bahasa latin yang berarti “tahu”, jadi science atau sains merupakan suatu cara untuk mengetahui tentang diri kita, dunia, dan alam semesta. Agar lebih mudah dimengerti tentang bagaimana melakukan kerja ilmiah kita pelajari dahulu beberapa pengertian yang menjadi bagian dalam kerja ilmiah, yaitu variabel, rumusan masalah, hipotesis dan prediksi. Ada dua macam variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah faktor atau perlakuan yang dapat memengaruhi percobaan, misalnya kesuburan atau pertumbuhan tumbuhan, seperti pupuk, air, dan CO2 . Variabel terikat adalah hasil atau pengaruh variabel bebas tadi, misalnya kesuburan tanaman. Rumusan masalah adalah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dibuat dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya, apakah terdapat pengaruh pupuk kandang terhadap kesuburan tanaman? Hifotesis belum tentu benar, oleh karena itu, perlu diuji melalui eksperimen. Jika hasil eksperimen sesuai dengan hipotesis, maka hipotesis tersebut diterima dan bila tiak sesuai hipotesis ditolak dan hipotesis perlu diperbaharui. Hipotesis adalah jawaban sementara dari pertanyaan rumusan masalah, misalnya pupuk kandang berpengaruh terhadap kesuburan tanaman. Hipotesis belum tentu benar. Oleh karena itu, hipotesis perlu diuji melalui eksperimen. Prediksi juga merupakan langkah penting dalam pemecahan masalah. Pada contoh di atas prediksi terhadap hipotesis tadi dengan kalimat: jika tanaman diberi pupuk kandang, maka pertumbuhannya akan menjadi subur. Kesuburan dapat dilihat dari berat tanaman atau jumlah tanaman yang dihasilkan.

Dalam melakukan eksperimen ada dua hal penting yang perlu dilakukan, yaitu menyiapkan alat dan bahan serta menentukan langkah-langkahnya. Adapun langkahlangkah dan rancangan yang harus dibuat sebelum melaksanakan eksperimen.

Setelah mempelajari bagaimana cara merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, dan prediksi serta langkah-langkah kerja ilmiah baca artikel berikut.

Suatu hari Andi liburan di rumah neneknya, sebuah dusun di Jawa Tengah. Ketika Andi berkeliling pekarangan rumah neneknya yang luas, Andi melihat rumput dan beberapa jenis tanaman lain di sekitar kandang kambing, tumbuh hijau dan subur. Sementara itu rumput yang tumbuh jauh dari kandang tidak tumbuh subur. Andi mulai berpikir bahwa ada sesuatu di sekitar kandang yang menyebabkan tanaman-tanaman tersebut tumbuh subur. Apakah kirakira yang dilakukan Andi selanjutnya?

Tugas

Di muka telah kita baca sebagai ilustrasi suatu artikel pendek tentang observasi yang dilakukan Andi. Dalam observasinya Andi telah menemukan adanya variabel bebas, yaitu pupuk kandang, dan variabel terikat berupa kesuburan rumput, sekarang coba. 1. Rumuskan masalahnya. 2. Tentukan hipotesis dan prediksinya. a. Membuat kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk membuat kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sediakan lahan 1m2 untuk kelompok kontrol dan 1m2 untuk kelompok eksperimen. Gemburkan tanahnya. Untuk kelompok eksperimen setelah digemburkan diberi pupuk kandang yang telah tua, misalnya seberat 2 kg, campurkan dengan tanah. Setelah itu, tanami rumput, masing-masing 20 rumpun. Siram secukupnya dan biarkan selama s 2 minggu. Jaga jangan sampai kering. Setelah dua minggu lihat hasilnya dan timbang. b. Mencatat hasil (berat rumput) dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. c. Bandingkan hasilnya dan diinterpretasikan/disimpulkan mana yang lebih baik (kesimpulannya). d. Buat laporan di buku tugasmu.

Pengertian Hakikat Pendekatan CBSA

Pengertian Hakikat Pendekatan CBSA

Pengertian Hakikat Pendekatan CBSA

Pengertian Hakikat Pendekatan CBSA
Pengertian Hakikat Pendekatan CBSA

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.

Hakekat dari CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:

  1. Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan,
  2. Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan,
  3. Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap.

Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien. Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkan menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar.

  • Prinsip-Prinsip Pendekatan CBSA

Terdapat sejumlah prinsip belajar yang harus diperhatikan agar proses belajar itu dapat berhasil dengan efisien (berdaya guna) dan efektif (berhasil guna). Prinsip-prinsip tersebut dilandasi penelitian dalam psikologi belajar dan diujicobakan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip belajar tersebut dapat dijadikan titik tolak untuk meningkatkan derajat keterlibatan murid dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut (Conny Semiawan, dkk, 1985: 9-13; Sulo Lipu La Sulo, dkk, 2002: 11) adalah sebagai berikut:

  1. Prinsip motivasi yakni penumbuhan motivasi belajar, baik motivasi intrinsik (motif yang menjadi bagian dari prilaku belajar: rasa ingin tahu) maupun motivasi ekstrinsik (diluar prilaku belajar: ingin hadiah dari orang tua). Guru hendaknya menjadi motivator yakni berusaha menumbuhkan motivasi belajar, utamanya motivasi intrinsik dalam belajar.
  2. Prinsip latar atau konteks yakni memposisikan pengalaman belajar baru yang akan/sedang dilakukan diantara pengalaman belajar yang telah menjadi miliknya (pengetahuan/pemahaman, nilai/sikap, dan atau ketrampilan yang telah dikuasai). Dengan pemberian kaitan (termasuk apersepsi), pengalaman belajar yang baru akan manjadi bagian dari struktur kognitif, baik melalui asimilasi (pembauran) maupun akomodasi (penempatan).
  3. Prinsip fokus yakni keterarahan kepada suatu titik pusat perhatian yang dapat dilakukan dengan cara merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, pertanyaan yang hendak dijawab, konsep yang akan ditemukan, dsbnya. Titik fokus ini hendaknya menjadi pusat perhatian murid dan dapat mengaitkan atau menghubungkan seluruh bahan yang sedang dipelajari dengan khasanah kognitif yang telah ada.
  4. Prinsip sosialisasi (hubungan sosial) yakni belajar dalam kelompok agar dapat bekerjasama dengan teman sebaya dalam proses pembelajaran itu, seperti diskusi kelompok, kerja kelompok, dsb.
  5. Prinsip belajar sambil bekerja, bermain, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan keinginan murid untuk melakukan kegiatan manipulatif.
  6. Prinsip individualisasi yakni penyesuaian kegiatan pembelajaran dengan perbedaan individual murid.
  7. Prinsip menemukan yakni dengan pemberian informasi pancingan agar murid terdorong untuk menemukan informasi selanjutnya.
  8. Prinsip pemecahan masalah yakni murid peka untuk menemukan dan atau merumuskan masalah, dan mencari cara pemecahannya

Adapun, prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik. Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:

  1. Dimensi subjek didik :
  2. Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
  3. Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
  4. Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.
  5. Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.
  6. Dimensi Guru
  7. Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatkan kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
  8. Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
  9. Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
  10. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat kemampuan masing-masing.
  11. Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
  12. Dimensi Program
  13. Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
  14. Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
  15. Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
  16. Dimensi Situasi Belajar-Mengajar
  17. Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
  18. Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
  • Variasi Pengorganisasian Murid dalam Pembelajaran

Variasi pengorganisasian murid dalam pembelajaran, meliputi:

  1. Berdasarkan pengelompokan siswa

Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.

  1. Berdasarkan kecepatan Masing-Masing siswa

Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.

  1. Pengelompokan berdasarkan kemampuan

Pengelompokan yang homogen dan didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satu kelompok maka hal ini mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.

  1. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat

Pada suatu saat, guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.

CBSA dapat diterapkan dalam setiap proses belajar mengajar. Kadar CBSA dalam setiap proses belajar mengajar dipengaruhi oleh penggunaan strategi belajar mengajar yang diperoleh. Dalam mengkaji ke-CBSA-an dan kebermaknaan kegiatan belajar mengajar, Ausubel mengemukakan dua dimensi, yaitu kebermaknaan bahan serta proses belajar mengajar dan modus kegiatan belajar mengajar. Ausubel mengecam pendapat yang menganggap bahwa kegiatan belajar mengajar dengan modus ekspositorik, misalnya dalam bentuk ceramah mesti kurang bermakna bagi siwa dan sebaliknya kegiatan belajar mengajar dengan modus discovery dianggap selalu bermakna secara optimal. Menurutnya kedua dimensi yang dikemukakan adalah independen, sehingga mungkin saja terjadi pengalaman belajar mengajar dengan modus ekspositorik sangat bermakna dan sebaliknya mungkin saja terjadi pengalaman belajar mengajar dengan modus discovery tetapi tanpa sepenuhnya dimengerti oleh siswa. Yang penting adalah terjadinya asimilasi kognitif pengalaman belajar itu sendiri oleh siswa.

  • Kadar Cara Belajar Siswa Aktif

Kadar  CBSA ditandai oleh semakin banyakya dan bervariasinya keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Semakin banyak dan semakin beragamnya keaktifan dan keterlibatan siswa, maka semakin tinggi pula kadar ke-CBSA-annya. Sebaliknya, semakin sedikit keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, maka berarti semakin rendahnya kadar CBSA tersebut.

Kadar CBSA itu dalam rangka sistem belajar mengajar menunjukkan ciei-ciri, sebagai berikut:

  • Pada tingkat masukan, ditandai oleh:
  1. Adanya keterlibatan siswa dalam merumuskan kebutuhan pembelajaran sesuai dengan kemampuan, minat, pengalaman, motivasi, aspirasi yang telah dimilikinya sebagai bahan masukan untuk melakukan kegiatan belajar.
  2. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun rancangan belajar dan pembelajaran, yang menjadi acuan baik bagi siswa maupun bagi guru.
  3. Adanya keterlibatan siswa dalam memilih dan menyediakan sumber bahan pelajaran.
  4. Adanya keterlibatan siswa dalam pengadaan media pembelajaran yang akan digunakan sebagai alat bantu belajar.
  5. Adanya kesadaran dan keinginan besar yang tinggi serta motivasi untuk melakukan kegiatan belajar.
  • Pada tingkat proses, kadar CBSA di tandai oleh:
  1. Adanya keterlibatan siswa secara fisik, mental, emosional, intelektual, dan personal dalam proses belajar.
  2. Adanya berbagai keaktifan siswa mengenal, memahami, menganalisis, berbuat, memutuskan, dan berbagai kegiatan belajar lainnya yang mengandung unsur kemandirian yang cukup tinggi.
  3. Keterlibatan secara aktif oleh siswa dalam menciptakan sussana belajar yang serasi, selaras dan seimbang dalam proses belajar dan pembelajaran.
  4. Keterlibatan siswa menunjang upaya guru menciptakan lingkungan belajar untuk memperoleh pengalaman belajar serta membantu mengorganisasikan lingkungan belajar itu, baik secara individual maupun secara kelompok.
  5. Keterlibatan siswa dalam mencari informasi dari berbagai sumber yang berdaya guna dan tepat guna bagi mereka sesuai rencana kegiatan belajar yang telah mereka rumuskan sendiri.
  6. Keterlibatan siswa dalam mengajukan prakarsa, memberika jawaban atas pertanyaan guru, mengajukan pertanyaan/masalah dan berupaya menjawabnya sendiri, menilai jawaban dari rekannya, dan memecahkan masalah yang timbul selama berlangsungnya proses belajar mengajar tersebut.
  • Pada tingkat produk, kadar CBSA ditandai oleh:
  1. Keterlibatan siswa dalam menilai diri sendiri, menilai teman sekelas.
  2. Keterlibatan siswa secara mandiri mengerjakan tugas menjawab tes dan mengisi instrumen penilaian lainnya yang diajukan oleh guru.
  3. Keterlibatan siswa menyusun laporan baik tertulis maupun lisan yang berkenaan dengan hasil belajar.
  4. Keterlibatan siswa dalam menilai produk-produk kerja sebagai hasil belajar dan pembelajaran.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat ditentukan derajat kadar CBSA dalam suatu proses belajar mengajar, dan bila mungkin dimodifikasi menjadi: kadar tinggi, kadar sedang, dan kadar rendah. Tanpa upaya dan pengaruh serta arahan guru sebagai fasilisator dan pengorganisasian belajar, maka kadar CBSA yang diinginkan tak mungkin tercapai. Guru tetap betanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengundang/menantang siswa untuk belajar.

Hakikat Pengertian dan Prinsip-Prinsip P3K

Hakikat Pengertian dan Prinsip-Prinsip P3K

Hakikat Pengertian dan Prinsip-Prinsip P3K

Prinsip P3K – Manusia sebagai makhluk hidup selalu bergerak setiap hari. Gerakan atau kegiatan dilakukan di dalam dan di luar ruangan. Setiap kegiatan atau gerakan perlu dilakukan secara cemat karena beresiko mengalami kecelakaan. Meskipun bukan suatu hal yang diharapkan, kecelakaan memerlukan langkah antisipatif yang diantaranya dengan mengetahui atau mendiagnosa penyakit maupun akibat kecelakaan, penanganan terhadap korban dan evakuasi korban bila diperlukan. 

Prinsip P3K
Prinsip P3K

Hal ini memerlukan pengetahuan P3K agar korban tidak mengalami resiko cidera yang lebih besar. Pada bagian ini kamu akan mempelajari pengertian P3K, tujuan P3K, dan prinsip-prinsip P3K. Penjelasan materi akan diuraikan sebagai berikut.

1. Pengertian P3K

Pertolongan pertama pada kecelakaan ialah pertolongan sementara yang diberikan kepada seseorang yang menderita sakit atau kecelakaan sebelum mendapat pertolongan dari dokter. Sifat dari pertolongan pertama ialah memberikan perasaan ketenangan kepada korban, mencegah atau mengurangi rasa takut dan gelisah, dan mengurangi bahaya yang lebih besar.

2. Tujuan P3K

Orang selalu berusaha menghindari penyakit atau kecelakaan. Tetapi tidak seorang pun tahu kapan penyakit atau kecelakaan itu akan datang. Karena itu kita harus selalu berusaha untuk memperkecil akibat dari musibah atau kecelakaan yang mungkin sewaktu-waktu akan menimpa diri atau sanak keluarga kita. Kecelakaan itu berjenis-jenis macamnya dan penanganannyapun memerlukan keterampilan dan pengetahuan sendiri-sendiri. Kecelakaan dapat terjadi di mana-mana, dirumah, diperjalanan, di sekolah, di tempat kerja, di kolam renang, di tempat-tempat rekreasi dan di tempat-tempat lain.

Prinsip P3K – Sebagai akibat kecelakaan, korban dapat meninggal seketika, pingsan, luka berat dan luka ringan. Korban kecelakaan yang masih hidup memerlukan pertolongan secepat mungkin, supaya korban terhindar dari bahaya maut. Pada kondisi tersebut terletak fungsi pertolongan pertama sebelum dokter datang. Bila dilakukan dengan benar, pertolongan pertama pada kecelakaan dapat menolong jiwa seseorang. Namun demikian, bila dilakukan dengan salah, bahkan dapat membahayakan jiwa korban. Oleh karena itu, orang yang memberikan pertolongan pertama harus mempunyai pengetahuan, keterampilan P3K serta mampu melihat situasi dan kondisi korban sebelum melakukan pertolongan pertama. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan dalam memberikan pertolongan pertama, antara lain:

a. Panggillah dokter secepat mungkin atau bila dokter tak mungkin segera datang, kirimkanlah penderita segera ke rumah sakit.

b. Hentikan perdarahan.

c. Cegah dan atasi shock atau gangguan keadaan umum yang lainnya.

d. Cegahlah infeksi.

Tujuan pertolongan pertama pada kecelakaan adalah sebagai berikut :

a. Menyelamatkan nyawa atau mencegah kematian

   1) Memperhatikan kondisi dan keadaan yang mengancam korban.

   2) Melaksanakan Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) kalau perlu.

   3) Mencari dan mengatasi pendarahan.

b. Mencegah cacat yang lebih berat (mencegah kondisi memburuk)

  1) Mengadakan diagnose.

  2) Menangani korban dengan prioritas yang logis.

  3) Memperhatikan kondisi / keadaan (penyakit) yang tersembunyi.

c. Menunjang penyembuhan

   1) Mengurangi rasa sakit dan rasa takut.

   2) Mencegah infeksi.

  3) Merencanakan pertolongan medis serta transportasi korban dengan tepat.

3. Prinsip-Prinsip P3K

Prinsip-prinsip atau sikap kita ketika melakukan usaha pertolongan pertama pada kecelakaan adalah sebagai berikut :

a. Bersikap tenang dan tidak panik.

b. Berikan pertolongan dengan cara yang cepat dan tepat.

c. Sebelum mengetahui berat ringannya cidera yang dialami, jangan cepatcepat memindahkan atau menggeser korban.

d. Jika ada luka, diusahakan agar korban tidak melihatnya, sebab dapat membuat korban menjadi panik.

e. Setelah mendapat pertolongan pertama, korban sebaiknya segera dibawa ke dokter, rumah sakit, Puskesmas untuk penanganan selanjutnya.

Peralatan P3K dan Cara Penggunaannya

Peralatan atau perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan minimal yang perlu dipersiapkan dalam usaha memberikan pertolongan, antara lain sebagai berikut :

1. Peralatan P3K

a. Kasa Pembalut (Perban) Perban terbuat dari kain yang jarang dan tipis. Perban ini dipergunakan untuk membalut luka yang sudah ditutup kasa steril.

b. Kasa Steril Kasa yang sudah disterilkan digunakan untuk menutup luka. Kasa steril adalah kain yang bebas dari kuman-kuman penyakit.

c. Plester Plester digunakan untuk merekatkan kasa penutup agar tidak terlepas. Dalam meletakkan kasa penutup, plester ditempatkan pada beberapa tempat dan jangan melewati bagian tengah luka.

d. Plester obat Plester obat (plester yang mengandung obat) biasanya digunakan untuk menutup luka kecil yang telah dibersihkan, misalnya akibat teriris atau tersayat benda tajam. Pada permukaan tengah plester terdapat lapisan yang mengandung obat.

e. Pembalut Segitiga Pembalut segitiga (mitella) biasanya digunakan untuk korban yang mengalami kecelakaan seperti patah tulang lengan, luka di kepala atau cedera pada sendi lutut. Pembalut segitiga terbuat dari kain putih dengan ukuran 90 cm dan 125 cm. Pinggirnya tidak dijahit agar ketika dipakai tidak menekan luka atau cedera.

f. Kapas Kapas digunakan untuk membersihkan luka atau mengoleskan obat. Biasanya sebelum digunakan, kapas terlebih dahulu dibasahi dengan air bersih yang steril atau larutan pembersih luka, setelah itu baru dipakai untuk membersihkan luka yang kotor.

g. Gunting Gunting yang digunakan sebaiknya gunting perban tahan karat.

h. Lampu senter Lampu senter digunakan untuk melihat luka tertentu agar lebih jelas, misalnya suatu benda yang masuk ke telinga atau melihat benda yang sangat kecil di dalam luka.

i. Jepitan (pinset) Jepitan digunakan untuk mengambil suatu benda yang kecil di dalam luka atau mengambil kotoran yang melekat pada permukaan luka. Pinset juga biasanya dipakai untuk menjepit kapas atau kasa steril. Sebelum dipakai sebaiknya pinset dibersihkan dahulu dengaan alkohol 70% atau direbus.

2. Obat-obatan P3K

a. Obat Penghilang Rasa Sakit

1) Jenis Obat

a) Balsem

b) Minyak kayu putih

c) Minyak angin

2) Cara Penggunaannya

Obat diusapkan atau dioleskan pada dada, kening, leher dan perut atau diciumkan.

3) Kegunaannya Memberi rasa segar, menghilangkan rasa sakit, melonggarkan pernapasan atau menghangatkan tubuh.

b. Obat Luka Bakar

1) Jenis Obat Salep minyak ikan

2) Cara penggunaannya Oleskan salep ke permukaan luka bakar.

3) Kegunaannya Pada luka bakar yang kecil dan ringan sangat efektif dan cepat menyembuhkan.

c. Obat Luka Ringan

1) Jenis Obat :

   a) Obat merah

   b) Betadin

2) Cara penggunaannya : Bersihkan luka dengan obat pencuci luka terlebih dahulu, kemudian oleskan obat pada luka.

3) Kegunaannya: Mempercepat penyembuhan pada luka yang ringan seperti tersayat benda tajam dan menghindarkan luka dari kotoran agar tidak infeksi.

d. Obat Penyadar Orang Pingsan

1) Jenis Obat:

   a) Amoniak cair 25%

  b) Eau de cologne

2) Cara penggunaannya: Basahi kapas dengan Amoniak atau Eau de cologne. Kemudian kapas didekatkan atau diciumkan ke hidung korban sampai korban sadar.

e. Obat Pencuci Luka

1) Jenis Obat:

a) Larutan betadin

b) Alkohol 70%

c) Boorwater (larutan boric)

2) Cara Menggunakannya

Basahi kapas dengan larutan betadine, alkohol atau boorwater. Kemudian luka bersihkan dengan kapas yang sudah dibasahi dengan larutan tersebut di atas.

Kecelakaan …