Modernisasi Desa dan Industrialisasi Desa

Modernisasi Desa dan Industrialisasi Desa

Modernisasi Desa dan Industrialisasi Desa

Modernisasi Desa dan Industrialisasi Desa
Modernisasi Desa dan Industrialisasi Desa

Pengertian Modernisasi Desa dan Industrialisasi

Desa Modernisasi desa menurut Selo Soemardjan adalah usaha untuk mengubah sikap mental masyarakat dari pengertian desa yang selamanya selalu dijadikan objek dari segala kegiatan dalam masyarakat baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Dalam usaha modernisasi desa, manfaat sosiologi sangat besar sebab dalam usaha modernisasi desa menyangkut masyarakat (manusia). Modernisasi desa perlu diadakan karena sebagian besar rakyat mencari nafkah dari pertanian yang terletak di desa. Pada umumnya, para petani mempunyai taraf hidup yang rendah sebagai akibat pendapatan per kapita rendah. Rendahnya pendapatan per kapita disebabkan sebagai berikut.

1) Produktivitas pertanian rendah, yang diakibatkan oleh: a) areal tanah milik keluarga yang dikerjakan sempit; b) kualitas tenaga yang mengerjakan rendah; dan c) jumlah modal yang digunakan kecil. 2) Belum adanya industri, khususnya industri desa sehingga belum dapat memberikan lapangan pekerjaan selain pertanian bagi penduduk.

Tantangan Global Terhadap Eksistensi Jati Diri Bangsa 

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin berat dari waktu ke waktu. Sebagai negara berkembang yang bercita-cita menjadi sebuah bangsa yang dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa maju di dunia. Indonesia menghadapi banyak tantangan yang semakin kompleks. Problem internal, baik menyangkut kehidupan ekonomi, politik, sosial, maupun budaya yang semakin tampak semakin mengusut, mengiringi tantangan yang menyerang dari luar yang tidak mudah untuk dikendalikan. Meskipun pemerintahan kita telah mengalami beberapa kali pergantian orde dan rezim, tetapi pemerintah baru yang menggantikannya tampak belum mampu untuk mengatasi problematika internal. Proses globalisasi yang berlangsung semenjak akhir abad ke-20 semakin dalam menusuk jantung kehidupan bangsa dan telah menimbulkan pelbagai problematika baru. Adapun problematika yang menjadi tantangan global terhadap eksistensi jati diri bangsa adalah sebagai berikut. a. Pluralitas masyarakat Indonesia tidak hanya berkaitan dengan budaya, tetapi juga dimensi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat sehingga proses globalisasi informasi membawa dampak yang sangat kompleks. b. Timbulnya krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi. Dalam waktu yang relatif singkat Indonesia mengalami empat kali pergantian pemerintahan. Tidak hanya itu, di era reformasi muncul berbagai kerusakan dan pemberontakan yang disertai isu anarkis, SARA, dan separatisme. Isu separatisme yang dimulai dengan lepasnya provinsi Timor Timur menjadi negara merdeka, kemudian Papua yang masih bergejolak menuntut kemerdekaan. Adapun isu anarkis dan SARA tercatat di beberapa daerah, antara lain kasus Sambas, Palu, dan Ambon. c. Kemajuan teknologi informasi telah menjadikan jarak spasial semakin menyempit dan jarak waktu semakin memendek. Akibatnya, bagi bangsa Indonesia yang berorientasi pada negara-negara maju, dalam waktu relatif singkat dapat beradaptasi terutama di bidang teknologi, ekonomi, sosial, dan budaya.

Menurut Drs. Haryanto jati diri adalah kepribadian yang telah melembaga dalam pikiran dan hati nurani manusia yang diperoleh dari proses belajar dan merupakan sumber dalam berperilaku. Jati diri dapat mengkristal menjadi suatu kesadaran dan kekuatan yang dapat mempengaruhi dan menentukan tindakan atau perilaku, baik secara individual maupun secara kelompok. Jati diri yang tersusun ini adalah jati diri ideal yang akan membangun identitas diri manusia, bangsa dan negara Indonesia. Jati diri itu akan menjadi bagian penting dalam interaksi simbolik dalam masyarakat dan akan membangun citra manusia, bangsa dan negara. Jati diri yang telah tersusun ini berbasis kepada budaya dan kepribadian Indonesia, antara lain: religius, humanis, naturalis, terbuka, demokratis, integrasi dan harmoni, nasionalisme dan patriotisme, berkomitmen terhadap kebenaran, jujur dan adil, profesional, ber-iptek, mandiri, etis dan moralis, kepatuhan kepada hukum, berjiwa kemasyarakatan, berjiwa kultural, dan berjiwa seni dan estetika.

Diharapkan semua suku bangsa masih tetap memiliki loyalitas terhadap NKRI yang telah menjadi ikrar dari pendiri negara RI pada tanggal 17 Agustus 1945. Hendaknya semua pihak meyakini bahwa pembangunan jati diri bangsa Indonesia memiliki tujuan akhir, yaitu memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak berjati diri keras, melainkan berjati diri yang halus, terbuka, moderat dan toleran, serta selalu menjauhkan diri dari tindakan kekerasan. Oleh karena itu, sangat perlu dilakukan pembudayaan jati diri melalui sosialisasi dan internalisasi yang berkelanjutan melalui: a. lembaga keluarga; b. lembaga pendidikan swasta dan pemerintah; c. organisasi sosial, terutama organisasi politik; d. penyelenggaraan negara, baik sipil maupun militer; e. asosiasi sosial ekonomi; f. media massa; g. tokoh masyarakat, budaya, dan agama; dan h. individu dan warga negara di mana pun berada.

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat
Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Modernisasi Masyarakat Indonesia Sebagai Proses Industrialisasi dan Urbanisasi

a. Pengertian Industri, Perindustrian, dan Industrialisasi Pengertian industri, perindustrian, dan industrialisasi adalah sebagai berikut. 1) Industri adalah bagian dari proses produksi yang tidak mengambil bahan yang langsung dari alam, tetapi barang itu diolah dahulu hingga akhirnya menjadi barang yang bernilai bagi masyarakat. 2) Perindustrian merupakan kegiatan mengubah bahan organik secara mekanik atau secara kimia sehingga menjadi barang hasil baru, termasuk reparasi dan assembling (perakitan). Bahan-bahan organik dan anorganik berasal dari produksi primer yang disebut bahan mentah, misalnya karet, kayu, dan besi. 3) Industrialisasi adalah usaha untuk mengubah struktur negara dari negara pertanian menjadi negara industri. Di Indonesia, sektor industri dibedakan atas industri besar, sedang, kecil, dan rumah tangga. Pengelompokannya didasarkan atas banyaknya pekerja di perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan industri yang mempunyai pekerja 100 orang atau lebih dikategorikan sebagai industri besar; antara 20 sampai 99 orang sebagai industri sedang; antara 5 sampai 19 orang sebagai industri kecil; kurang dari 5 orang sebagai industri rumah tangga. Industri besar dan sedang merupakan penghasil gross output dan nilai tambah yang terbesar, namun dalam hal tenaga kerja, industri kecil dan industri rumah tangga menyerap lebih banyak pekerja karena jumlah perusahaan industri rumah tangga lebih banyak daripada perusahaan industri besar dan sedang. Manfaat industri sebagai berikut. 1) Memperbesar kegunaan bahan mentah. 2) Memperluas lapangan pekerjaan. 3) Menghasilkan aneka barang yang diperlukan oleh masyarakat. 4) Menjadikan kegiatan ekonomi lebih mudah berkembang karena tidak semata-mata tergantung pada lingkungan alam. Faktor pendorong perindustrian di Indonesia menurut Kuswanto sebagai berikut. 1) Indonesia kaya akan barang tambang, hasil hutan, hasil laut, dan hasil pertanian. 2) Jumlah penduduk yang besar sebagai faktor tenaga kerja dan konsumen. 3) Indonesia berbentuk negara kepulauan sehingga jaringan lalu lintas air berkembang baik. 4) Jenis kekayaan alam tersebar di berbagai daerah sehingga memungkinkan terjadinya tukar-menukar barang perdagangan antardaerah atau antarpulau. 5) Letak Indonesia di antara Benua Asia dan Australia sehingga memungkinkan pemasaran lebih luas. 6) Keanggotaan Indonesia dalam badan internasional maupun regional memudahkan terjalinnya kerja sama dalam bidang perindustrian.

b. Pengertian Urbanisasi Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Bagi daerah asal, urbanisasi merupakan migrasi keluar sehingga mengurangi jumlah penduduk desa. Adapun bagi kota, urbanisasi merupakan migrasi masuk yang bersifat menambah jumlah penduduk kota. Ada dua hal pokok penyebab urbanisasi, yaitu daya tarik yang berasal dari kota dan daya dorong dari tempat asal. Daya tarik yang berasal dari kota, misalnya sebagai berikut. 1) Lapangan pekerjaan tersedia lebih banyak di kota. 2) Kota merupakan tempat atau pusat kegiatan, seperti pusat pemerintahan, pendidikan, pelayanan kesehatan, industri, dan pusat pelayanan ekonomi. 3) Keadaan kota lebih gemerlap, misalnya keramaian kota, jalan-jalan mulus, gedung-gedung tinggi, dan banyaknya tempat hiburan di kota. 4) Pertumbuhan penduduk yang masih relatif tinggi di pedesaan. Pendapatan yang rendah memaksa penduduk desa mencari jalan lain ke kota untuk mengadu nasib. Daya dorong yang berasal dari tempat asal, misalnya sebagai berikut. 1) Lapangan kerja di desa lebih sempit. 2) Fasilitas pendidikan, kesehatan, dan hiburan belum memadai. 3) Tanah pertanian tidak mencukupi kebutuhan. Secara umum dapat dikatakan kecenderungan orang berbondongbondong ke kota disebabkan kemiskinan yang diderita oleh masyarakat pedesaan. Selama kemiskinan masih menggelayuti masyarakat pedesaan, selama itu pula arus migrasi ke kota akan tetap tinggi. Akibat urbanisasi di kota sebagai berikut. 1) Terjadinya ketegangan sosial. Hal ini disebabkan perbedaan latar belakang antara orang desa dengan ciri kekeluargaan dan gotong royong dan orang kota dengan ciri materialistis dan individualistis. 2) Jumlah tenaga kerja yang tidak terdidik dan terlatih di kota semakin meningkat. 3) Demoralisasi atau kemerosotan moral dan timbulnya daerah kotor (slums area). 4) Pertumbuhan di kota semakin cepat. 5) Lahirnya masyarakat yang statis dan egosentris, yaitu sebuah masyarakat yang hanya mau melihat dirinya, tidak dapat mengikuti perkembangan pembangunan yang melaju secara cepat. Kondisi demikian ini merupakan ciri sebagian besar masyarakat pedesaan yang masih terbawa ketika telah berada di kota besar.

6) Rendahnya tingkat kedisiplinan yang dimiliki masyarakat urban terhadap peraturan perundang-undangan yang ada. Hal paling mudah dilihat dari rendahnya tingkat kedisiplinan dalam menaati peraturan lalu lintas. Kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di kota-kota besar sebagai bukti. Munculnya kios-kios di trotoar jalan yang sebenarnya sarana tersebut jelas-jelas diperuntukkan bagi pejalan kaki juga dapat digunakan sebagai bukti. Akibat urbanisasi bagi desa sebagai berikut. 1) Di desa kekurangan tenaga kerja produktif yang penting untuk pembangunan. 2) Penduduk yang meninggalkan desa pada umumnya pemuda. Akibatnya, desa kekurangan tenaga kerja muda. Urbanisasi mungkin tidak dapat dicegah sama sekali, namun dapat dikurangi. Sikap terbaik menghadapi masalah urbanisasi dengan cara memberikan informasi yang cukup terhadap segala hal yang berkaitan dengan kehidupan di perkotaan. Memberikan informasi yang cukup terhadap para urban, antara lain tentang masalah jenis pekerjaan, biaya hidup, kepadatan penduduk, lingkungan sosial, dan sebagainya. Dengan pemberian informasi yang cukup, diharapkan para urban dapat berpikir lebih jernih dan rasional terhadap rencana kepergiannya ke kota. Adapun secara keseluruhan, cara-cara mengurangi kecenderungan urbanisasi, antara lain sebagai berikut. 1) Menciptakan peluang kerja lebih banyak di pedesaan, seperti penciptaan sentra-sentra industri, industri kecil, dan industri rumah tangga. 2) Memberikan penghargaan yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang mau menjadi penggerak di pedesaan, seperti sarjana penggerak pedesaan. 3) Memberikan kemudahan birokrasi setiap usaha yang memungkinkan terciptanya peluang kerja di pedesaan. 4) Memberikan kemudahan fasilitas permodalan bagi mereka yang ingin mempunyai usaha di pedesaan. 5) Mendorong para investor untuk dapat memprioritaskan kawasan pedesaan sebagai lahan untuk mendirikan usaha agar tercipta peluang kerja bagi masyarakat sekitar tempat tersebut. 6) Memperlancar hubungan antara desa dan kota dan meningkatkan fasilitas untuk keperluan hidup di desa. Pada dasarnya, jika di kawasan pedesaan dapat tercipta sebuah sarana dan prasarana yang dapat memperbaiki nasib, penduduk pedesaan akan berpikir dua kali untuk melakukan urbanisasi.

c. Potensi, Nilai, dan Fungsi Desa Dalam Rangka Modernisasi Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. Unsur desa sebagai berikut. 1) Daerah, dalam artian tanah-tanah yang produktif dan yang tidak beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas, dan batas. 2) Penduduk, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran, dan mata pencaharian penduduk desa setempat. 3) Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatan pergaulan warga desa, yaitu seluk-beluk kehidupan masyarakat desa (rural society). Ketiga unsur desa tersebut tidak dapat terlepas satu sama lain dan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan. Potensi desa meliputi sumber-sumber alami dan manusiawi yang tersimpan dan yang dapat diharapkan kemanfaatannya bagi kelangsungan dan perkembangan suatu desa. Potensi desa terdiri atas potensi fisik dan potensi non-fisik. Potensi fisik meliputi sebagai berikut. 1) Air dalam arti sumber air, keadaan air, dan tata airnya untuk kepentingan irigasi, pertanian dan kebutuhan sehari-hari. 2) Tanah, misalnya sumber tambang, mineral, dan sumber tanaman. 2) Iklim yang mempunyai peranan penting bagi desa yang bersifat agraris. 4) Manusia sebagai tenaga kerja pengolah tanah, produsen, dan konsumen. 5) Ternak dapat berfungsi sebagai sumber tenaga, sumber bahan makanan, dan sumber keuangan. Potensi non-fisik di desa meliputi sebagai berikut. 1) Masyarakat Desa Masyarakat desa hidup bergotong royong dan dapat merupakan suatu kekuatan berproduksi dan kekuatan membangun atas dasar kerja sama.

2) Lembaga Sosial Adanya pendidikan dan organisasi sosial di desa dapat memberikan bantuan sosial serta bimbingan dalam arti positif. 3) Aparatur Atau Pamong Desa Aparatur atau pamong desa merupakan sumber kelancaran dan tertibnya pemerintah desa. Keadaan penduduk dan dasar hidup masyarakat desa yang tidak sama mengakibatkan karakteristik desa bermacam-macam. Sebagai hasil akhir perkembangan desa terdapat beberapa stadium desa, yaitu: 1) desa terbelakang (underdeveloped village), 2) desa yang sedang berkembang (developing village), dan 3) desa yang maju (developed village). Nilai desa ditentukan oleh potensi yang tersimpan dalam desa itu, antara lain potensi sosial, ekonomi, demografis, agraria, politis, dan kultural.