Menggali Kearifan dalam Peristiwa Sejarah Dunia

Menggali Kearifan dalam Peristiwa Sejarah Dunia

Menggali Kearifan dalam Peristiwa Sejarah Dunia

Peristiwa Sejarah Dunia
Peristiwa Sejarah Dunia

Peristiwa Sejarah Dunia – Pelajaran ini merupakan proses pembelajaran bahasa Indonesia yang berbasis teks cerita sejarah. Pembelajaran teks ini membantu peserta didik memeroleh wawasan pengetahuan yang lebih luas agar terampil berpikir kritis dan kreatif serta mampu bertindak efektif menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata seperti yang tercermin dalam teks. Melalui pembahasan peristiwa sejarah dunia, peserta didik diharapkan dapat menjadikan hal ini sebagai motivasi dalam meraih cita-cita dan memperkuat kepribadiannya. Pembelajaran ini juga dimaksudkan untuk menanamkan sikap positif dalam diri peserta didik terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan cerminan sikap dan jati diri bangsa Indonesia di lingkungan pergaulan dunia global.

Untuk itu, pelajaran I dikemas dengan menyajikan tema atau topik “Menggali Kearifan dalam Peristiwa Sejarah Dunia”. Pembicaraan mengenai peristiwa sejarah ini terdiri atas tiga tahap kegiatan pembelajaran berbasis teks, yaitu (1) pembangunan konteks dan pemodelan teks cerita sejarah, (2) kerja bersama pembangunan teks cerita sejarah, dan (3) kerja mandiri pembangunan teks cerita sejarah. Dalam setiap cerita terdapat komponen cerita yang disebut urutan atau rentetan peristiwa sejarah. Pembahasan urutan peristiwa itu, baik pada tahap kerja bersama maupun kerja mandiri, dilakukan untuk membangun teks yang menerapkan pembelajaran saintifik dengan model pembelajaran teks berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran teks berbasis proyek (project based learning), dan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning), serta penilaian autentik. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, peserta didik akan diberi tugas untuk memeroleh kompetensi yang diharapkan serta dapat membangkitkan kegemaran belajar.

Peristiwa Sejarah Dunia

Pembangunan Konteks dan Pemodelan Teks Cerita Sejarah

Peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Kejadian dalam peristiwa tersebut dianggap sebagai proses atau dinamika dalam suatu konteks historis. Sejarah termasuk ilmu empiris, karena sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Oleh sebab itu, sejarah kerap dimasukkan ke dalam ilmu kemanusiaan. Akan tetapi, sejarah berbeda dengan antropologi atau sosiologi, sejarah membicarakan manusia dari segi waktu, seperti perkembangan masyarakat dari satu bentuk ke bentuk lainnya, kesinambungan yang terjadi dalam suatu masyarakat, pengulangan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang biasanya disebabkan oleh pengaruh dari luar masyarakat itu sendiri.

Peristiwa Sejarah Dunia – Peristiwa sejarah ini tidak semata-mata hanya menjadi cerita yang dikisahkan secara turun-temurun, tetapi sebagai bangsa yang cerdas kita harus mampu menggali nilai dan kearifan yang terkandung di dalamnya. Berbagai nilai dan kearifan yang terdapat dalam sebuah peristiwa sejarah itu merupakan sumber kekayaan yang dapat diterapkan dalam mengatasi secara bijak persoalan yang dihadapi bangsa sekarang ini demi mempersiapkan masa depan generasi muda. Dengan mengingat masa lalu, memahami masa kini, dan mempersiapkan masa depan, diyakini sebuah bangsa akan dapat maju mengemban cita-citanya. Untuk mengetahui apa dan bagaimana peristiwa sejarah yang terjadi di muka bumi ini, peserta didik bisa mempelajari catatan dan rekaman sejarah dari sejumlah sumber. Pencatatan peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu termasuk bentuk teks cerita ulang. Melalui teks cerita ulang atau dikenal juga dengan sebutan teks rekon (recount), pengalaman nyata di masa lalu dapat dibangkitkan atau dihidupkan kembali. Dalam pelajaran ini, kalian, sebagai peserta didik diharapkan dapat menyusun peristiwa sejarah dunia sebagai teks cerita ulang. Langkah pertama yang dapat kalian lakukan dalam menyusun peristiwa sejarah ini adalah mendapatkan informasi sejarah terlebih dahulu. Sejarah, sebagai sebuah peristiwa yang terjadi pada masa lampau, akan menjadi sebuah informasi untuk masa yang akan datang. Setelah informasi tentang sebuah peristiwa sejarah kalian peroleh, kalian bisa mengumpulkan data yang tepat, akurat, serta autentik tentang peristiwa tersebut dari berbagai sumber, baik lisan, tertulis, maupun benda-benda yang berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dimaksud. Sumber sejarah yang kalian dapatkan itu diteliti secara cermat, dibandingkan satu sama lain, diinterpretasikan, kemudian direkonstruksi sehingga menghasilkan kisah sejarah yang mudah dipahami. Masih ingatkah kalian teks cerita ulang yang telah kalian pelajari di kelas XI? Teks cerita ulang atau teks rekon ini pernah kalian pelajari saat kalian duduk di kelas XI dengan tema “Membangkitkan Ingatan tentang Tokoh Dunia”.

Peristiwa Sejarah Dunia

Pada pelajaran tersebut dibahas perihal cerita ulang biografi para tokoh dunia. Dalam teks cerita ulang biografi tersebut terdapat riwayat hidup yang memuat identitas pribadi, peristiwa, dan berbagai masalah yang dihadapi para tokoh tersebut. Kalian juga telah mengetahui berbagai karya dan sumbangan pemikiran mereka yang telah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan internasional. Pada pelajaran ini, teks cerita ulang yang akan kalian pelajari adalah teks cerita sejarah dunia. Dengan membaca dan memahami berbagai rentetan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, kalian diharapkan dapat menggali kearifan di sana. Mengetahui peristiwa sejarah tidak hanya sebatas proses transformasi pengetahuan mengenai fakta masa lalu belaka, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kalian dapat belajar dari sejarah itu. Belajar dari sejarah berbeda artinya dengan mempelajari sejarah. Dengan belajar dari sejarah kalian akan bisa memilih dan memilah hal baik maupun buruk.

Nilai kebaikan yang diperoleh dari belajar sejarah itu dapat kalian terapkan dalam kehidupan, sedangkan keburukan hendaknya dijadikan pelajaran untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Jika kalian menyikapi dengan bijak sebuah peristiwa sejarah, kalian akan dapat menggali kearifan di balik peristiwa tersebut. Kalian akan mampu melakukan transformasi nilai yang perlu diteladani. Sebuah peristiwa sejarah pasti mengandung makna yang penting. Salah satu peristiwa sejarah dunia yang memiliki pengaruh pada kehidupan sekarang maupun masa depan adalah peristiwa terbentuknya Hari Buruh atau yang dikenal dengan sebuatan May Day. Hari Buruh ini merupakan rentetan perjuangan kelas pekerja agar tidak diperlakukan dengan buruk secara terusmenerus. Setiap tanggal 1 Mei, kaum buruh di seluruh dunia memperingati peristiwa besar yang terjadi di Amerika Serikat, berupa demonstrasi kaum buruh pada 1886 yang menuntut pemberlakuan delapan jam kerja.

Peristiwa Sejarah Dunia

Sejarah Hari Buruh

1. Hari Buruh, yang dikenal juga dengan sebutan May Day, diperingati setiap 1 Mei. Di beberapa negara, Hari Buruh dijadikan hari libur tahunan, yang berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh. Hari Buruh ini lahir dari rentetan perjuangan kelas pekerja. Pada 1886, terjadi demonstrasi kaum buruh Amerika Serikat yang menuntut pemberlakuan delapan jam kerja. Federation of Organized Trades and Labor Unions akhirnya menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh yang diperingati oleh kaum buruh seluruh dunia. Penetapan ini dilakukan untuk memperingati momen tuntutan delapan jam kerja sehari dan juga memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut.

2. Tuntutan kaum buruh ini bermula sejak era industri di awal abad ke-19. Perkembangan kapitalisme industri menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara kapitalis Barat. Di Amerika Serikat misalnya, pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik menuai amarah dan perlawan dari kalangan kelas pekerja. Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada 1806 oleh pekerja cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisasinya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja 19 hingga 20 jam sehari. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

3. Demonstrasi besar yang berlangsung sejak April 1886, dari waktu ke waktu pendukungnya semakin banyak. Demonstrasi menjalar ke berbagai kota, seperti Chicago, New York, Detroit, Louisville, dan Baltimore. Demonstrasi ini mempersatukan buruh berkulit putih dan hitam. Sampai pada 1 Mei 1886, demonstrasi yang menjalar dari Maine ke Texas dan dari New Jersey ke Alabama diikuti oleh setengah juta buruh di negeri tersebut.

4. Perkembangan ini memancing reaksi dari kalangan pengusaha dan pejabat pemerintahan setempat saat itu. Melalui Chicago’s Commercial Club, dikeluarkan dana sekitar US$2.000 untuk membeli peralatan senjata mesin guna menghadapi demonstrasi.Demonstrasi damai menuntut pengurangan jam kerja itu pun berakhir dengan korban dan kerusuhan. Sekitar 180 polisi menghadang demonstrasi dan memerintahkan agar demonstran membubarkan diri.

5. Sebuah bom meledak di dekat barisan polisi. Polisi pun membabibuta menembaki buruh yang berdemonstrasi. Akibatnya korban pun jatuh dari pihak buruh pada 3 Mei 1886, empat orang buruh tewas dan puluhan lainnya terluka. Dengan tuduhan terlibat dalam pengeboman, delapan orang aktivis buruh ditangkap dan dipenjarakan. Akibat dari tindakan ini, polisi menerapkan pelarangan terhadap setiap demonstrasi buruh. Namun, kaum buruh tidak begitu saja menyerah. Pada 1888 mereka kembali melakukan aksi dengan tuntutan yang sama. Selain itu, mereka juga memutuskan untuk kembali melakukan demonstrasi pada 1 Mei 1890.

6. Rangkaian demonstrasi yang terjadi pada saat itu, tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Bahkan menurut Rosa Luxemburg (1894), demonstrasi yang menuntut pengurangan jam kerja tersebut sebenarnya diinspirasikan oleh demonstrasi serupa yang terjadi sebelumnya di Australia pada tahun 1856. Tuntutan pengurangan jam kerja juga singgah di Eropa. Saat itu, gerakan buruh di Eropa tengah menguat. Tentu saja, fenomena ini semakin mengentalkan kesatuan dalam gerakan buruh sedunia dalam satu perjuangan.

7. Peristiwa monumental yang menjadi puncak dari persatuan gerakan buruh dunia adalah penyelenggaraan Kongres Buruh Internasional tahun 1889. Kongres yang dihadiri ratusan delegasi dari berbagai negeri dan memutuskan delapan jam kerja per hari menjadi tuntutan utama kaum buruh seluruh dunia. Selain itu, kongres juga menyambut usulan delegasi buruh dari Amerika Serikat yang menyerukan pemogokan umum 1 Mei 1890 guna menuntut pengurangan jam kerja dengan menjadikan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh se-Dunia.

8. Delapan jam/hari atau 40 jam/minggu (lima hari kerja) telah ditetapkan menjadi standar perburuhan internasional oleh ILO melalui Konvensi ILO No. 01 tahun 1919 dan Konvensi No. 47 tahun 1935. Ditetapkannya konvensi tersebut merupakan suatu pengakuan internasional yang secara tidak langsung merupakan buah dari perjuangan kaum buruh sedunia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Penetapan 8 jam kerja per hari sebagai salah satu ketentuan pokok dalam hubungan industrial perburuhan adalah penanda berakhirnya bentuk kerja paksa dan perbudakan yang bersembunyi di balik hubungan industrial. (Diadaptasi dari berbagai sumber)

Peristiwa Sejarah Dunia

Bagaimana Cara Mempertahankan Kearifan Lingkungan

Bagaimana Cara Mempertahankan Kearifan Lingkungan

Bagaimana Cara Mempertahankan Kearifan Lingkungan

Kemajemukan masyarakat Indonesia merupakan faktor pendorong sekaligus kekuatan penggerak dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dalam beradaptasi terhadap lingkungan, kelompok-kelompok masyarakat tersebut mengembangkan kearifan lingkungan sebagai hasil abstraksi pengalaman mengelola lingkungan. Keanekaragaman pola-pola adaptasi terhadap lingkungan hidup yang dikembangkan masyarakat Indonesia yang majemuk merupakan faktor yang harus diperhitungkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan.

Bagaimana Cara Mempertahankan Kearifan Lingkungan
Bagaimana Cara Mempertahankan Kearifan Lingkungan

Keyakinan tradisional mengandung sejumlah besar data empiris yang berhubungan dengan fenomena, proses dan sejarah perubahan lingkungan, sehingga membawa implikasi bahwa sistem pengetahuan tradisional dapat memberikan gambaran informasi yang berguna bagi perencanaan dan proses pembangunan. Dalam hal ini, keyakinan tradisional dipandang sebagai kearifan budaya lokal dan merupakan sumber informasi empiris dan pengetahuan penting yang dapat ditingkatkan untuk melengkapi dan memperkaya keseluruhan pemahaman ilmiah.

Kearifan tersebut banyak berisikan gambaran tentang anggapan masyarakat yang bersangkutan tentang hal-hal yang berkaitan dengan struktur lingkungan, misalnya bagaimana lingkungan berfungsi,bagaimana reaksi alam terhadap tindakan manusia, serta hubungan-hubungan (yang sebaiknya tercipta) antara manusia (masyarakat) dan lingkungan alamnya. Penggalian terhadap kearifan budaya lokal ditujukan untuk mengenal dan memahami fenomena alam melalui penelusuran informasi versi masyarakat pengguna.

Kearifan lokal di masyarakat yang disari dari pengalaman dalam periode waktu panjang sehingga tertanam keselarasan hidup dengan alam, memahami secara dalam karakter alam dan kehidupannya diterapkan dalam mengelola alam merupakan cara untuk mempertahankan kearifan lingkungan. Kearifan lingkungan bukanlah tindakan tradisional yang terbelakang, kita dapat menerapkan teknologi modern pengelolaan lingkungan, tetapi dengan memperhatikan kearifan lokal, paduan yang porposional akan terwujud kearifan lingkungan. Kegiatan gotong royong dalam pembuatan rumah adat merupakan salah satu contoh kearifan lokal yang dipertahankan sebagai kearifan lingkungan sosial.

Rangkuman

Kearifan lingkungan dimaksudkan sebagai aktivitas dan proses berpikir, bertindak dan bersikap secara arif dan bijaksana dalam mengamati, memanfaatkan dan mengolah alam sebagai suatu lingkungan hidup dan kehidupan umat manusia secara timbal balik. Kearifan lingkungan dapat digali dari kearifan lokal yang salah satu fungsinya untuk konservasi dan pelestarian sumberdaya alam. Pengelolaan lingkungan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal dapat dijadikan sebagai upaya mempertahankan kearifan lingkungan.

Kasus

Lingkungan kita banyak telah mengalami penurunan kualitas, di wilayah pedesaan hutan banyak gundul karena penebangan liar atau perubahan fungsi lahan, sungai-sungai di hulu debit air makin kecil, ladang tadah hujan banyak longsor dimusim hujan, sedang di wilayah perkotaan banyak peristiwa tawuran antar sekolah, antar gank, antar supporter sepakbola. Cermatilah di masyarakat sekitarmu adanya kearifan lokal di bidang pertanian, perkebunan atau bidang lain. Buatlah rancangan pemikiran penerapan kearifan lokal yang dapat digali dalam upaya mempertahankan kearifan lingkungan dan pemecahan masalah pada kasus ini.

Next Posting

Bencana dan Dampaknya

Standar Kompetensi: Memahami tentang bencana di alam dan upaya meminimalkan kerugian yang diakibatkannya. Kompetensi Dasar:

1. Menjelaskan karakteristik bencana. 2. Menjelaskan cara menghindarkan diri dari bencana. 3. Menjelaskan cara memulihkan kehidupan setelah bencana. Indikator: 1. Menjelaskan penyebab dan dampak terhadap beberapa bencana alam. 2. Mengenali tanda-tanda akan terjadi suatu bencana. 3. Menerangkan tentang tindakan untuk memulihkan setelah terjadi bencana.

Pengantar 

Manusia dan alam senantiasa terjadi interaksi aktif, karena alam disediakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kelagsungan hidup manusia di dunia. Lingkungan alam beraktivitas mengikuti siklusnya dan manusia berkewajiban mengelola alam secara bijak. Aktivitas alam ada yang dapat mengancam kehidupan manusia, bila terjadi luar biasa dikenal sebagai bencana alam. Peristiwa alam sebagi bencana juga tidak terlepas campur tangan aktivitas manusia dalam mengelola alam. Pembahasan bab tentang bencana dan dampaknya akan menguraikan beberapa peristiwa alam yang sering sebagai bencana bagi kehidupan, seperti; gunung meletus, tanah longsor, puting beliung, gempa bumi dan tsunami. Kita pelajari tanda-tanda yang diberikan alam untuk meminimalkan kerugian yang lebih besar. Bencana tidak dapat kita tolak, lebih penting bagaimana tindakan perbaikan dari dampak bencana.

 

Kearifan Terhadap Lingkungan Hidup

Kearifan Terhadap Lingkungan Hidup

Kearifan Terhadap Lingkungan Hidup

Dewasa ini manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup berusaha mengelola alam mengandalkan kemampuan teknologi modern dan teknik hasil riset yang maju. Upaya tersebut sering tidak memperdulikan terhadap keharmonisan ekosistem, hal tersebut berakibat terhadap kerusakan tatanan lingkungan. Kesadaran kembali memperhatikan kelangsungan hidup lingkungan secara harmonis setelah melihat kerusakan lingkungan yang sangat memprihatinkan. Penggalian kembali pengetahuan pengelolaan lingkungan yang bijak dan berkelanjutan sering dinyatakan sebagai kearifan lingkungan. Upaya lebih lanjut adalah bagaimana mempertahankan kearifan lingkungan dengan tetap menerapkan teknologi sebagai tuntutan untuk mengembangkan kemampuan berkreasi.

Kearifan Terhadap Lingkungan Hidup
Kearifan Terhadap Lingkungan Hidup

Pengertian

Kearifan adalah seperangkat pengetahuan yang dikembangkan oleh suatu kelompok masyarakat setempat (komunitas) yang terhimpun dari pengalaman panjang menggeluti alam dalam ikatan hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak (manusia dan lingkungan) secara berkelanjutan dan dengan ritme yang harmonis. Kearifan (wisdom) dapat disepadankan pula maknanya dengan pengetahuan, kecerdikan, kepandaian, keberilmuan, dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan penyelesaian atau penanggulangan suatu masalah atau serangkaian masalah yang relatif pelik dan rumit. Kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat, sedangkan wisdom dapat berarti kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan/kebijaksanaan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal merupakan suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat serta berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat. Kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat memiliki ciri yang spesifik, terkait dengan pengelolaan lingkungan sebagai kearifan lingkungan.

Kearifan lingkungan (ecological wisdom) merupakan pengetahuan yang diperoleh dari abstraksi pengalaman adaptasi aktif terhadap lingkungannya yang khas. Pengetahuan tersebut diwujudkan dalam bentuk ide, aktivitas dan peralatan. Kearifan lingkungan yang diwujudkan ke dalam tiga bentuk tersebut dipahami, dikembangkan, dipedomani dan diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas pendukungnya.

Kearifan lingkungan dimaksudkan sebagai aktivitas dan proses berpikir, bertindak dan bersikap secara arif dan bijaksana dalam mengamati, memanfaatkan dan mengolah alam sebagai suatu lingkungan hidup dan kehidupan umat manusia secara timbal balik. Pengetahuan rakyat yang memiliki kearifan ekologis itu dikembangkan, dipahami dan secara turun-temurun diterapkan sebagai pedoman dalam mengelola lingkungan terutama dalam mengolah sumberdaya alam. Pengelolaan lingkungan secara arif dan berkesinambungan itu dikembangkan mengingat pentingnya fungsi sosial lingkungan untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat. Manfaat yang diperoleh manusia dari lingkungan mereka, lebih-lebih kalau mereka berada pada taraf ekonomi sub-sistensi, mengakibatkan orang merasa menyatu atau banyak tergantung kepada lingkungan mereka.

Bagaimana Cara Menggali Kearifan Lingkungan?

Kesadaran untuk mengangkat dan menggali kembali pengetahuan lokal atau kearifan budaya masyarakat etnik muncul karena kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat dunia sekarang telah diiringi oleh pelbagai kerusakan lingkungan. Kedepan, masyarakat dunia dihantui akan krisis multidimensi dan berhadapan dengan semakin meningkatnya degradasi sumberdaya alam dan lingkungan serta pencemaran yang meluas baik di daratan, laut maupun udara.

Pengetahuan lokal yang sudah menyatu dengan sistem kepercayaan, norma dan budaya, dan diekspresikan di dalam tradisi dan mitos, yang dianut dalam jangka waktu cukup lama inilah yang disebut ’kearifan budaya lokal’. Pada makna yang sama berlaku diberbagai bidang yang berkembang di masyarakat, seperti bidang pertanian, pengelolaan hutan secara adat, pelestarian sumber air, secara umum dinyatakan sebagai kearifan lokal. Beberapa fungsi dan makna kearifan lokal, yaitu:

1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumberdaya alam. 2. Berfungsi untuk pengembangan sumberdaya manusia, misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup. 3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya pada upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji. 4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan. 5. Bermakna social misalnya upacara integrasi komunal/kerabat. 6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian. 7. Bermakna etika dan moral, misal yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur. 8. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client.

Dari penjelasan fungsi-fungsi tersebut tampak betapa luas ranah kearifan lokal, mulai dari yang sifatnya sangat teologis sampai yang sangat pragmatis dan teknis. Kearifan lokal yang positif diterima secara normatif umum dan tidak ber-tentangan dengan makna kaidah ilmiah dapat digali sebagai kearifan lingkungan.

Salah satu contoh kearifan lingkungan yang digali dari kearifan lokal pada upaya pelestarian sumber air adalah kepercayaan pada sumber air yang terdapat pohon rindang dan besar atau gua yang seram ada penghuni gaib. Konsep “pamali” atau (bhs. Jawa ora elok) kencing dibawah pohon besar di bawahnya terdapat sumber air merupakan perilaku masyarakat tradisional memagari perbuatan anak-cucu agar tidak merusak alam sehingga debit dan kualitas airnya dapat terjaga.

Kearifan local tersebut sulit dijelaskan secara ilmiah, namun dapat direnungi dalam jangka waktu panjang. Bila kita melihat pada satu sisi rasional yang semuanya harus dapat dipahami secara logika, maka hal tersebut sering dipahami takhayul secara bulat dampaknya banyak pohon dirusak tanpa ada perasaan salah.

Kearifan lokal sebagai kearifan lingkungan saat ini sangat penting demi keharmonisan lingkungan untuk kelangsungan hidup berkelanjutan tanpa harus mengkorbankan rasionalitas ilmu pengetahuan melebur dalam keyakinan tradisional secara mutlak, melainkan mengutamakan azas manfaat dan kewajaran. Pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal di Kabupaten Timor merupakan contoh kearifan lingkungan yang digali dari kearifan lokal pengelolaan hutan secara adat dan dipertahankan secara turun temurun. Bab 6 Kearifan Lingkungan 82 Upaya ini diangkat berdasarkan kondisi hutan tidak dapat dipertahankan fungsinya secara tradisional dan mulai terjadi penyerobotan lahan oleh pihak lain yang tidak memahami tentang aturan adat atau telah menurunnya ketaatan aturan adat oleh masyarakat setempat. Pada penggalian kearifan lokal perlu dipahami beberapa hal agar kearifan tersebut dapat diterima dan ditaati yaitu : 1. Kearifan tersebut masih ada. 2. Kearifan tersebut sesuai dengan perkembangan masyarakat. 3. Kearifan tersebut sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Kearifan tersebut diatur dengan Undang-undang. Di kalangan masyarakat Pulau Timor dikenal konsep segitiga kehidupan “Mansian-Muit-Nasi, Na Bua” yang berarti manusia, ternak, dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling memiliki ketergantungan.

Prinsip ekosistem dan jejaring kehidupan yang saling hidup dan menghidupi sangat dihargai. Manusia mengartikan manfaat dari ternak dan hutan, ternak mencari makan di hutan dan manusia memelihara hutan. Jika salah satu dari ketiga unsur ini dipisahkan akan membawa dampak bagi unsur yang lain. Seca-ra teknis, beberapa bentuk keanekaragaman hayati di NTT sampai saat ini masih mempunyai kontribusi yang signifikan dalam rehabilitasi lahan, pengelolaan lingkungan dan sumberdaya hutan. Dalam mengaplikasikan kearifan lokal terhadap pengelolaan hutan khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan perlu dipahami: Kelembagaan dan fungsinya, wilayah pengelolaan, nilai dan norma, serta pandangan Orang Timor (Dawan) tentang hutan, yakni:

1. Usif : Memiliki fungsi sebagai pemimpin yang mengendalikan dan mengawal semua nilai dan norma dalam persekutuan hidup serta melanjutkan pengawasannya.

2. Amaf : Sebagai tokoh panutan dan pendukung usif dalam hal penetapan nilai, norma lokal serta tanggung jawab wilayah tertentu.

3. Meo : Berfungsi sebagai pengaman dalam kehidupan komunitas dan wilayah.

4. Ana’Tobe : Berfungsi dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam.

5. Ma’Fefa : Berfungsi sebagai juru bicara.