Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas Alam

Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas Alam

Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas Alam

Biodiversitas Alam – Manusia adalah makhluk hidup, sama dengan makhluk hidup yang lain. Oleh karena itu, manusia juga berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia mempunyai kemampuan untuk memengaruhi alam sekitarnya karena manusia merupakan makhluk yang memiliki kelebihan akal dibandingkan dengan makhluk lainnya. Di dalam ekosistem, manusia merupakan bagian yang paling dominan karena dapat berbuat apa saja terhadap ekosistem. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kelangsungan hidup manusia juga bergantung dari kelestarian ekosistem tempat manusia hidup.

Biodiversitas Alam – Untuk menjaga terjaminnya kelestarian ekosistem, manusia harus dapat menjaga keserasian hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga. Kelestarian berarti juga terjaganya keanekaragaman hayati (biodiversitas). Pemanfataan sumber daya alam secara berlebihan dapat mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati atau bahkan terjadi kepunahan jenis tersebut. Pengaruh manusia terhadap lingkungan dapat mengakibatkan dua kemungkinan, yaitu alam menjadi rusak (deteriorasi) atau sebaliknya, yaitu alam tetap lestari.

Biodiversitas Alam

Biodiversitas Alam
Biodiversitas Alam

Biodiversitas Alam

1. Manusia sebagai Perusak Keanekaragaman Hayati

Biodiversitas Alam – Lingkungan akan rusak jika manusia mengusahakan sumber hayati hanya didasarkan pada prinsip jangka pendek, yaitu untuk menghasilkan produk sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin dan modal sesedikit mungkin. Usaha semacam itu memang mendatangkan kemakmuran kepada manusia. Akan tetapi, pengaruhnya terhadap alam dapat menimbulkan dampak berupa berkurangnya atau punahnya keanekaragaman hayati dan merosotnya kualitas lingkungan sehingga pada akhirnya lingkungan tidak mampu lagi memberi kehidupan yang layak kepada manusia.

Biodiversitas Alam – Bahkan, mungkin terjadi bencana alam yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Coba kalian amati, banyak kondisi lingkungan hidup yang telah rusak di Indonesia. Dalam arti, banyak lingkungan hidup yang sudah tidak seimbang keadaannya karena berkurangnya keanekaragaman hayati atau kepunahan jenis-jenis tertentu. Hal itu merupakan petunjuk bahwa sikap dan perilaku manusia Indonesia terhadap alam sekitarnya masih sebagai pemanfaat atau pengusaha untuk dirinya sendiri tanpa memerhatikan kelestarian biodiversitas.

Biodiversitas Alam – Mereka memandang alam sebagai objek yang terpisah dari dirinya yang dapat dipengaruhi sekehendaknya. Mereka tidak menyadari bahwa perubahan pola lingkungan akan memengaruhi pola kehidupannya. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan beberapa satwa penting akibat kepunahan, misalnya, harimau bali. Saat ini hewan tersebut tidak pernah ditemukan lagi keberadaannya. Hewan-hewan seperti badak bercula satu, jalak bali, dan trenggiling juga terancam punah. Belum lagi beberapa jenis serangga, hewan melata, ikan, dan hewan air yang sudah tidak ditemukan lagi di lingkungan kita. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kepunahan keanekaragaman hayati? Banyak, di antaranya, sebagai berikut.

a . Perusakan Habitat Perusakan Habitat Habitat didefinisikan sebagai daerah tempat tinggal makhluk hidup. Kerusakan habitat merupakan penyebab utama kepunahan makhluk hidup. Jika habitat rusak, makhluk hidup tidak memiliki tempat untuk hidup. Kerusakan habitat dapat diakibatkan terjadi karena ulah manusia yang telah mengubah fungsi ekosistem, misalnya hutan ditebang, dijadikan lahan pertanian, permukiman, dan akhirnya berkembang menjadi perkotaan. Kegiatan manusia tersebut mengakibatkan menurunnya keanekaragaman ekosistem, jenis, dan gen. Perusakan terumbu karang di laut juga dapat menurunkan keanekaragaman hayati laut. Ikan-ikan serta biota laut yang hidup dan bersembunyi di terumbu karang tidak dapat hidup tenang, beberapa di antaranya tidak dapat menetaskan telurnya karena terumbu karang yang rusak. Menurunnya populasi ikan akan merugikan nelayan dan mengakibatkan harga ikan meningkat. Selain akibat aktivitas manusia, kerusakan habitat diakibatkan juga oleh bencana alam, misalnya, gunung meletus, kebakaran, dan banjir.

b . Penggunaan Pestisida Pestisida berfungsi untuk membasmi makhluk hidup pengganggu (hama) pada tanaman. Akan tetapi, jika digunakan secara berlebihan, akan menyebar ke lingkungan sekitarnya dan meracuni makhluk hidup yang lain, termasuk mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan lainnya. Contoh pestisida adalah herbisida, fungisida, dan insektisida.

c . Pencemaran Bahan pencemar berasal dari limbah pabrik, asap kendaraan bermotor, limbah rumah tangga, sampah yang tidak dapat didaur ulang lingkungan secara alami, dan bahan-bahan berbahaya lain. Bahan pencemar ini dapat membunuh makhluk hidup, termasuk mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan sehingga mengurangi keanekaragamannya.

d . Perubahan Tipe Tumbuhan Tumbuhan merupakan produsen di dalam suatu ekosistem. Perubahan tipe tumbuhan, misalnya, perubahan dari hutan pantai menjadi hutan produksi dapat mengakibatkan hilangnya tumbuhan liar yang penting. Hilangnya jenis-jenis tumbuhan tertentu dapat menyebabkan hilangnya hewan-hewan yang hidupnya bergantung pada tumbuhan tersebut.

e . Penebangan Penebangan hutan yang dilakukan secara berlebihan tidak hanya menghilangkan pohon yang sengaja ditebang, tetapi juga merusak pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Di samping itu, hewan-hewan yang tergantung pada pohon tersebut akan terganggu dan hilang sehingga akan menurunkan jenis hewan tersebut.

f . Seleksi Seleksi Seleksi adalah memilih sesuatu yang disukai menurut penilaian individu. Secara tidak sengaja perilaku seleksi akan mempercepat kepunahan makhluk hidup. Misalnya, kita sering hanya menanam tanaman yang kita anggap unggul, seperti jambu bangkok, jeruk mandarin, dan mangga gedong. Sebaliknya, kita menghilangkan tanaman yang kita anggap kurang unggul, contohnya, jeruk pacitan dan mangga curut. Menurunnya jumlah makhluk hidup yang kita anggap tidak unggul berarti mengurangi keanekaragaman hayati dari jenis makhluk hidup tersebut, bahkan dalam jangka waktu lama, kita tidak akan menemukan jenis tersebut. Contoh lain, menurunnya populasi serangga pemangsa (predator) karena disemprot dengan insektisida yang mengakibatkan terjadinya populasi serangga yang dimangsa. Jika serangga ini menyerang tanaman pertanian, ledakan serangga tersebut sangat merugikan petani. Mungkin kalian pernah mendengar ledakan populasi hama wereng di Indonesia sehingga beribu-ribu hektare sawah gagal panen. Wereng yang menyerang padi diduga karena predator wereng punah akibat terkena insektisida yang digunakan petani untuk memberantas hama. Perkembangan industri berjalan dengan cepat di Indonesia.

Teknologi modern banyak diterapkan untuk mendapatkan hasil sebesarbesarnya. Bersamaan dengan kemajuan pembangunan dan perkembangan industri, terjadi pula perubahan lingkungan secara nyata dan bencana alam yang terjadi di mana-mana. Sebenarnya, inti dari seluruh permasalahan lingkungan di Indonesia terletak pada perubahan konsep mental manusianya yang mungkin tanpa disadari telah menjadi manusia perusak lingkungan sehingga jalan satu-satunya adalah mengubah sikap mental manusia Indonesia menjadi manusia pengelola dan pemelihara lingkungan hidupnya.

2. Manusia sebagai Pemelihara Keanekaragaman Hayati

Dalam hal ini, manusia telah sadar bahwa dirinya adalah bagian dari ekosistem. Oleh karena itu, manusia dalam tingkah lakunya selalu menjaga agar keseimbangan sistem ekologi tidak tergoncangkan.

Dengan begitu terjamin pula kelangsungan hidup dari semua makhluk hidup, termasuk manusia. Masalah lingkungan adalah masalah hakikat sifat manusia terhadap lingkungan hidupnya. Kita harus memahami bahwa biodiversitas adalah kekayaan yang berharga yang harus senantiasa dijaga, dilestarikan, dan dihindarkan dari kepunahan. Pemanfaatan keanekaragaman hayati harus didasarkan atas kebijakan memelihara keselarasan, keserasian, keseimbangan, dan kelestarian biodiversitas lingkungan. Jika mungkin, bahkan harus meningkatkan kualitas lingkungan sehingga dapat dinikmati manusia dari generasi ke generasi. Usaha pelestarian lingkungan di Indonesia hanya mungkin jika didukung oleh semua warga negara Indonesia. Dengan kata lain, kearifan terhadap lingkungan hidup harus menjadi milik setiap insan Indonesia atau membudaya di dalam seluruh masyarakat Indonesia. Perubahan konsep mental manusia tidak dapat berlangsung dalam satu hari, tetapi memerlukan waktu lama. Salah satu usaha mempercepat perubahan itu adalah melalui pendidikan lingkungan hidup kepada masyarakat Indonesia mulai sedini mungkin, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal.

Di samping itu, perlu digalakkan aktivitas yang bertujuan meningkatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati, antara lain, sebagai berikut.

a . Penghijauan Penghijauan dilakukan dengan cara menanam berbagai jenis tanaman di berbagai tempat yang telah direncanakan, dapat di rumah-rumah, hutan-hutan yang gundul akibat penebangan liar, dan tempat lain yang diduga terhindar dari bencana jika ditanami tumbuhan tertentu. Kegiatan penghijauan tidak hanya menanam, tetapi yang lebih penting adalah merawat tanaman yang telah ditanam.

b . Pembuatan Taman Kota Pembuatan taman-taman kota akan mendatangkan manfaat, antara lain, meningkatkan kandungan oksigen, menurunkan suhu lingkungan, menurunkan efek pencemaran kendaraan bermotor, memberi keindahan, dan meningkatkan keanekaragaman hayati.

c . Pemuliaan Pemuliaan adalah usaha membuat varietas unggul, tetapi bukan berarti menghilangkan varietas yang tidak unggul. Pemuliaan dapat dilakukan dengan perkawinan silang yang akan menghasilkan varian baru. Oleh karena itu, pemuliaan hewan maupun tumbuhan dapat meningkatkan keanekaragaman gen dan keanekaragaman jenis.

d . Pembiakan Insitu dan Exsitu Hewan dan tumbuhan langka yang rawan punah dapat diselamatkan melalui pembiakan secara insitu, yaitu pembiakan di dalam habitat aslinya. Misalnya, mendirikan Cagar Alam Ujung Kulon dan Taman Nasional Komodo. Pembiakan exsitu adalah pembiakan di luar habitat aslinya, tetapi suasana lingkungan dibuat mirip dengan aslinya, misalnya, penangkaran hewan di kebun binatang.

 

Cara Pembelajaran Pendekatan Saintifik Melalui Kegiatan Proyek

Cara Pembelajaran Pendekatan Saintifik Melalui Kegiatan Proyek

Cara Pembelajaran Pendekatan Saintifik Melalui Kegiatan Proyek

Pembelajaran Pendekatan Saintifik
Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Pembelajaran Pendekatan Saintifik – Pendekatan Saintifik Melalui Kegiatan Proyek Pengembangan Teks Agar menjadi sumber aktualisasi diri, bahasa Indonesia diajarkan melalui Kurikulum 2013 berbasis teks. Setiap teks—baik lisan maupun tulis—yang dikembangkan dalam proses pembelajaran ini memerlukan bahan baku berupa data, informasi, atau fakta. Bahan baku teks dicari dan/atau ditemukan oleh peserta didik melalui aktivitas seperti menentukan wujud data/informasi/fakta dan sumbernya kemudian mengomunikasikannya dalam bentuk teks sesuai dengan tagihan kurikulum. Aktivitas seperti itulah yang ada dalam kegiatan proyek pengembangan teks dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis proyek, berbasis masalah, dan berbasis penemuan harus bertumpu pada kegiatan/pekerjaan dengan tujuan tertentu dan rencana pencapaiannya dalam rentang waktu yang jelas/tegas. Dalam kaitan itu, perlu disebutkan di sini bahwa teks merupakan satuan terkecil bahasa yang memiliki struktur berpikir yang lengkap. Teks—dalam berbagai jenis (genre), sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan menurut jenjang pendidikan—dapat juga disebut sebagai produk atau tujuan akhir dari proses pembelajaran bahasa Indonesia. Karena itu, materi pembelajaran yang berwujud teks dapat diajarkan dengan berbasis proyek, masalah, dan penemuan. Mengingat bahwa untuk menghasilkan teks diperlukan data/informasi/ fakta yang pengumpulan dan analisisnya memerlukan metode tertentu, pembelajaran berbasis proyek, berbasis masalah, dan berbasis penemuan ini ditandai dengan penjadwalan waktu untuk setiap langkah pelaksanaan pendekatan saintifik.

Pembelajaran Pendekatan Saintifik – Kegiatan ilmiah/saintifik yang pada hakikatnya berciri sistematis, terkontrol, empirik, dan kritis merupakan aktivitas proyek. Tahapan pembelajaran berbasis proyek, berbasis masalah, dan berbasis penemuan tidak mungkin terbalik. Misalnya, terdapat hubungan pendasaran antara penetapan wujud data/informasi/fakta dan sumbernya. Untuk mewujudkan teks, jenis tertentu, bahan baku teks dan sumber bahan itu ditentukan terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis bahan untuk menjadikan rumusan verbal atau kalimat. Setiap tahap pembelajaran itu terkendali; terkontrol dengan jadwal kapan tahapan itu dimulai dan diakhiri sehingga capaian pembelajaran diproses secara akumulatif dari setiap tahap. Pembelajaran berbasis proyek, berbasis masalah, dan berbasis penemuan terhadap pengembangan teks merealisasikan pendekatan saintifik yang bersifat empiris. Teks diwujudkan dalam jenis-jenis tertentu berdasarkan pengalaman empiris (melalui percobaan, pengamatan, studi pustaka, dan lain-lain) untuk menemukan kebenaran ilmiah. Untuk itu, kegiatan proyek menandai ciri empiris dengan aktivitas mempertanyakan keberadaan gejala alam atau gejala sosial. Lebih dari itu, telaah kritis dilakukan untuk menghubungkan satu fakta dengan fakta lain yang menjadi temuan. Telaah kritis juga dapat dilakukan untuk menghubungkan temuan itu dengan temuan yang lebih terdahulu diperoleh saintis yang lain. Dalam pembelajaran bahasa berbasis teks, pendekatan saintifik, berpadu dengan tiga model pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis proyek, masalah, dan penemuan. Keterpaduan tiga hal utama itu diarahkan untuk menguatkan jati diri peserta didik agar bersikap spiritual menerima, menghargai, dan menghayati keberadaan bahasa kebangsaan Indonesia yang merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Esa.

Pembelajaran Pendekatan Saintifik – Pada saat yang sama, penguatan jati diri itu memantapkan sikap sosial peserta didik untuk berakhlak mulia serta bertanggung jawab atas keberadaan bahasa Indonesia sebagai identitas diri Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui kegiatan proyek pengembangan teks, di kalangan peserta didik, juga akan tumbuh sikap tanggung jawab, setia, dan bangga akan keberadaan bahasa Indonesia di tengah lingkungan pergaulan dunia global. Sikap itulah yang melandasi terwujudnya bahasa Indonesia menjadi sumber aktualisasi diri. Sementara itu, sebagai sumber pengembangan kegiatan ilmiah atau saintifik, proses pembelajaran teks dengan berbasis proyek, berbasis masalah, dan berbasis penemuan ini tetap ditempuh secara bertahap dari pembangunan konteks dan pemodelan teks, kerja bersama membangun teks, serta kerja mandiri menciptakan teks yang sesuai dengan teks model. Semua tahapan pembelajaran teks itu, selain terarah dan terukur, juga dilakukan secara terkendali oleh pendidik atau pembelajar melalui kegiatan evaluasi/penilaian autentik terhadap proses dan hasil pembelajaran. Selanjutnya, tanpa bantuan dari berbagai pihak, buku Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik tidak dapat diselesaikan untuk dijadikan materi pembelajaran pada kelas XII. Untuk itu, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang amat tulus kepada semua anggota tim penyusun dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Pembelajaran Pendekatan Saintifik – Mereka yang dengan gigih berupaya mewujudkan buku kelas XII ini, yakni: Nur Hayati, Anik Muslikah Indriastuti, Dessy Wahyuni, dan Maryanto. Penghargaan dan ucapan terima kasih juga kami ungkapkan kepada semua konsultan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, yaitu Drs. Riyadi Santosa, M.Ed., Ph.D., Dr. Tri Wiratno, M.A., dan Dr. Dwi Purnanto, M.Hum. atas peran sertanya sejak awal penyusunan buku pembelajaran berbasis teks ini. Penghargaan serupa kami sampaikan kepada para penelaah, Prof. Dr. Hasanuddin WS, M.Hum dan Prof. Dr. M. Rapi Tang, M.S. Dengan telaah mereka, kami percaya akan manfaat yang makin tinggi dari buku ini bagi dunia pendidikan di Indonesia. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada rekan kami Drs. Saut Raja H. Sitanggang, M.A. yang telah memberi kami saran untuk kebaikan buku ini. Tidak ada gading yang tidak retak. Begitu pula buku ini kehadirannya pun bukan tanpa cela. Untuk menyempurnakan buku ini, kami mengharapkan saran dan kritik membangun dari pengguna.

Menggali Kearifan dalam Peristiwa Sejarah Dunia

Pelajaran ini merupakan proses pembelajaran bahasa Indonesia yang berbasis teks cerita sejarah. Pembelajaran teks ini membantu peserta didik memeroleh wawasan pengetahuan yang lebih luas agar terampil berpikir kritis dan kreatif serta mampu bertindak efektif menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata seperti yang tercermin dalam teks. Melalui pembahasan peristiwa sejarah dunia, peserta didik diharapkan dapat menjadikan hal ini sebagai motivasi dalam meraih cita-cita dan memperkuat kepribadiannya. Pembelajaran ini juga dimaksudkan untuk menanamkan sikap positif dalam diri peserta didik terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan cerminan sikap dan jati diri bangsa Indonesia di lingkungan pergaulan dunia global. Untuk itu, pelajaran I dikemas dengan menyajikan tema atau topik “Menggali Kearifan dalam Peristiwa Sejarah Dunia”. Pembicaraan mengenai peristiwa sejarah ini terdiri atas tiga tahap kegiatan pembelajaran berbasis teks, yaitu (1) pembangunan konteks dan pemodelan teks cerita sejarah, (2) kerja bersama pembangunan teks cerita sejarah, dan (3) kerja mandiri pembangunan teks cerita sejarah. Dalam setiap cerita terdapat komponen cerita yang disebut urutan atau rentetan peristiwa sejarah. Pembahasan urutan peristiwa itu, baik pada tahap kerja bersama maupun kerja mandiri, dilakukan untuk membangun teks yang menerapkan pembelajaran saintifik dengan model pembelajaran teks berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran teks berbasis proyek (project based learning), dan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning), serta penilaian autentik. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, peserta didik akan diberi tugas untuk memeroleh kompetensi yang diharapkan serta dapat membangkitkan kegemaran belajar.

Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Pembangunan Konteks dan Pemodelan Teks Cerita Sejarah 

Peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Kejadian dalam peristiwa tersebut dianggap sebagai proses atau dinamika dalam suatu konteks historis. Sejarah termasuk ilmu empiris, karena sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Oleh sebab itu, sejarah kerap dimasukkan ke dalam ilmu kemanusiaan. Akan tetapi, sejarah berbeda dengan antropologi atau sosiologi, sejarah membicarakan manusia dari segi waktu, seperti perkembangan masyarakat dari satu bentuk ke bentuk lainnya, kesinambungan yang terjadi dalam suatu masyarakat, pengulangan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang biasanya disebabkan oleh pengaruh dari luar masyarakat itu sendiri. Peristiwa sejarah ini tidak semata-mata hanya menjadi cerita yang dikisahkan secara turun-temurun, tetapi sebagai bangsa yang cerdas kita harus mampu menggali nilai dan kearifan yang terkandung di dalamnya. Berbagai nilai dan kearifan yang terdapat dalam sebuah peristiwa sejarah itu merupakan sumber kekayaan yang dapat diterapkan dalam mengatasi secara bijak persoalan yang dihadapi bangsa sekarang ini demi mempersiapkan masa depan generasi muda. Dengan mengingat masa lalu, memahami masa kini, dan mempersiapkan masa depan, diyakini sebuah bangsa akan dapat maju mengemban cita-citanya. Untuk mengetahui apa dan bagaimana peristiwa sejarah yang terjadi di muka bumi ini, peserta didik bisa mempelajari catatan dan rekaman sejarah dari sejumlah sumber. Pencatatan peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu termasuk bentuk teks cerita ulang. Melalui teks cerita ulang atau dikenal juga dengan sebutan teks rekon (recount), pengalaman nyata di masa lalu dapat dibangkitkan atau dihidupkan kembali. Dalam pelajaran ini, kalian, sebagai peserta didik diharapkan dapat menyusun peristiwa sejarah dunia sebagai teks cerita ulang. Langkah pertama yang dapat kalian lakukan dalam menyusun peristiwa sejarah ini adalah mendapatkan informasi sejarah terlebih dahulu. Sejarah, sebagai sebuah .

Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Menyusun Proposal Kegiatan

Menyusun Proposal Kegiatan

Anisa ditugaskan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 78 menjadi Ketua Panitia Festival Band SMA se-Jabotabek 2007. Anisa lalu membentuk kepanitiaan untuk acara tersebut. Pada rapat pertama dibentuk Proposal. Proposal merupakan rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja. Isi proposal adalah hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan. buku-pelajaran-bahasa-indonesia-ilustrasi-_130903190303-553

Susuna pembuatan proposal .

1. Nama kegiatan (Judul) Nama kegiatan/judul yang akan dilaksanakan tercermin dalam judul proposal. 2. Latar belakang Latar belakang proposal berisi pokok-pokok pemikiran dan alasan perlunya diadakan kegiatan tertentu. 3. Tujuan kegiatan Penyusunan proposal harus merumuskan tujuan sedemikian rupa agar target yang akan dicapai dan nilai tambah yang diperoleh dapat dirasakan oleh pembaca proposal. Oleh karena itu, tujuan harus dijabarkan supaya tampak manfaatnya. 4. Tema Tema adalah hal yang mendasari kegiatan tersebut. 5. Sasaran/peserta Penyusun proposal harus menetapkan secara tegas siapa yang akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut. 6. Tempat dan waktu kegiatan Dalam proposal harus dituliskan secara jelas kapan dan di mana kegiatan akan dilaksanakan. 7. Kepanitiaan Penyelenggara atau susunan panitia harus dicantumkan dalam proposal dan ditulis secara rinci. 8. Rencana anggaran kegiatan Penulis proposal harus menyusun anggaran biaya yang logis dan realistis, serta memperhatikan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. 9. Penutup .