Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Materi Mendengarkan Cerita Rakyat dan Ringkas Cerita Rakyat

Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

Cerita Rakyat – Ringkasan cerita rakyat yang akan diperdengarkan kali ini berasal dari Irian Jaya. Judulnya adalah “Kapak Ajaib”. Pilihlah seorang teman Anda untuk membacakannya di depan kelas. Tutuplah buku Anda. Dengarkanlah cerita yang dibacakan teman Anda itu dengan penuh perhatian!

Cerita Rakyat Kapak Ajaib

Cerita Rakyat – Di Kampung Bomou, hiduplah seorang pemuda bernama Gokeiyawi Ikomou. Pada suatu hari ia pergi ke kebunnya di Geida, kira-kira jauhnya satu kilometer dari Danau Tigi. Sesampainya di kebun, ia bermaksud menebang sebatang pohon mai yang kering di tepi kebunnya. Ikomou melangkah ke dekat pohon tersebut. Ia mengambil kapak, lalu mulai menebang batang pohon mai. Apa yang terjadi? Tiba-tiba kapak itu terlepas lalu terlempar jauh. Ikomoru berjalan mengambil kapaknya yang terlempar tadi. Ketika ia akan memegang kapak itu, kapak tersebut melompat beberapa meter ke arah danau Tigi, Ikomou merasa heran karena hal seperti itu terasa ajaib. Ikomou mendekati kapak itu lagi, lalu menunduk untuk memegangnya. Tetapi, kapak itu melompat beberapa meter ke arah danau. Ikomou langsung lari menahan kapak itu, tetapi kapak itu berlari lebih cepat. Akhirnya, kapak itu melompat masuk ke dalam perahu yang ada di tepi danau. Ikomou pun bergerak melompat masuk ke dalam perahu. Selanjutnya, perahu itu sendiri berlayar ke arah Danau Tigi. Sesampai di tengah-tengah danau, perahu itu tenggelam dan tiba-tiba Ikomou sudah berada di dasar danau. Kapak itu lalu berlari ke arah sebuah rumah yang ada di tengah-tengah sebuah kebun serta taman yang luas. Kapak itu kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Maka, Ikomou pun lari masuk ke dalam rumah itu. Ternyata di dalam rumah itu ada seorang lakilaki setengah baya sedang duduk. Di hidungnya terdapat hiasan gigi babi putih mengkilat bagai salju sehingga tampak seperti bulan sabit pada malam hari. Wajahnya dihiasi dinai (zat pewarna) merah sehingga wajah bagai sinar matahari di senja hari. Ia menerima Ikomou dengan ramah. Ikomou diajak jalan-jalan ke taman yang luas itu. Di taman itu tumbuh segala jenis tanaman atau tumbuhan, baik yang besar ataupun yang kecil. Tanaman itu berwarna-warni. Ikomou meminta segala jenis tanaman itu, tetapi dilarangnya. Selanjutnya, mereka masuk kembali ke dalam rumah. Sementara mereka sedang duduk di dalam rumah, dari sudut rumah itu muncullah seorang Kapak Ajaib laki-laki yang Ikomou pernah lihat, tetapi tidak tahu siapa namanya. Orang yang baru datang itu menghadap tuan rumah tersebut, lalu mereka memperbincangkan sesuatu, kemudian menghilang dari tempat itu. Tidak lama kemudian, datang juga seorang perempuan. Konon, Ikomou tahu persis siapa perempuan tersebut. Kemudian, perempuan itu menghilang. Setelah beberapa lama tinggal di situ, tuan rumah itu mempersilakan Ikomou pulang kembali ke rumah. Sebelum pulang, Ikomou dihadiahi beberapa benda, seperti anak panah dan busur serta kain timur (merah). Kapaknya juga dikembalikan kepada Ikomou. Selanjutnya, Ikomou diantar ke perahu. Perahu itu dengan sendirinya bergerak sampai di permukaan Danau Tigi. Dari permukaan Danau Tigi, perahu itu bergerak sendiri sehingga sampai di tempat semula. Sesudah itu, Ikomou langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, semua orang heran karena selama empat hari mencari-cari dia. Semua orang yang tinggal bersama dia itu menceritakan bahwa seorang lakilaki dan seorang perempuan telah tenggelam di Danau Tigi. Kini, Ikomou mengetahui bahwa setiap orang yang tenggelam dalam danau itu arwahnya selalu melaporkan diri kepada orang tua yang wajahnya seperti bulan sabit yang berdiam diri dalam danau itu. Akan tetapi, semua yang pernah ia lihat di dalam danau itu dirahasiakannya. Selanjutnya, apabila ingin makan daging, Ikomou memanahkan busurnya ke arah tertentu sehingga tidak lama kemudian orang akan datang membawakan daging dari arah tersebut. Begitu ganti-berganti setiap saat. Akhirnya, Ikomou hidup bahagia hingga maut datang kepadanya. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari Sastra Lisan Ekagi, Dharmodjo, 1998; 107-108)

Cerita Rakyat – Lakukanlah kegiatan berikut! 1. Jelaskan isi atau amanat cerita rakyat “Kapak Ajaib” yang baru saja Anda dengar! 2. Ceritakan kembali cerita rakyat tersebut dalam ringkasan di depan kelas! 3. Ungkapkanlah hal-hal yang menarik/ mengesankan dari cerita itu bagi Anda! 4. Diskusikanlah nilai-nilai yang dikandung cerita tersebut dalam kelompok diskusi Anda, kemudian memaparkan hasilnya di depan kelas dengan memerhatikan pelafalan kata dan kalimat yang tepat! 5. Bandingkanlah nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai cerita masa kini!

Lakukanlah kegiatan berikut bersama-sama anggota kelompok Anda! 1. Membaca sebuah cerita rakyat secara bergantian. 2. Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. 3. Mengungkapkan nilai-nilai tersebut secara lisan dengan pelafalan kata dan susunan kalimat yang benar. 4. Membuat ringkasan cerita rakyat tersebut dalam beberapa paragraf, lalu memaparkannya di depan kelas.

Mendiskusikan Masalah yang Ditemukan dari Artikel

Cerita Rakyat – Pada subbab ini, Anda akan mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku). Setelah mempelajari subbab ini, Anda diharapkan dapat (1) memahami ringkasan isi berita, artikel, atau isi buku yang disampaikan oleh peserta diskusi, (2) menyampaikan ringkasan berita, artikel, atau isi buku dalam forum diskusi, (3) menanggapi ringkasan isi berita, artikel, atau buku yang disampaikan peserta diskusi, (4) menyampaikan sikap setuju dan tidak setuju dalam beberapa kalimat, (4) memberikan bukti pendukung untuk memperkuat tanggapan, dan (5) mengajukan saran atau pemecahan masalah terhadap ringkasan isi yang disampaikan.

Anda bisa memperoleh beragam informasi dari bermacam-macam media, baik elektronik maupun cetak. Apabila Anda mendengar informasi atau berita melalui siaran televisi atau radio, ataupun membaca artikel buku cobalah cermati isi pengetahuan, informasi, atau berita itu. Anda mungkin saja ingin mengomentari atau menanggapi pengetahuan, informasi, atau berita itu dalam hal-hal tertentu.

Nah, sebagai bahan latihan Anda, bacalah artikel berikut secara saksama!

Tindakan Kekerasan di Lingkungan Sekolah Oleh HELMI GUNAWAN, S.T, M.Si

Cerita Rakyat – Kejadian kekerasan dalam satu institusi pendidikan kerap terjadi. STPDN contohnya, yang akhirnya berganti nama menjadi IPDN merupakan gambaran institusi pencetak pamong praja yang memiliki kurikulum yang terprogram dan disesuaikan dengan cita-cita luhur menjadi pemimpin rakyat (sipil). Namun, dalam perjalanannya terjadi missmanagement sistem pendidikan dengan berbagai peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi tragisnya berujung dengan kematian dan pelibatan orang dalam menutupi kesalahan-kesalahan tersebut. Akhirnya, keburukan itu sekarang terbongkar dan menjadi sorotan semua pihak bahkan ditangani langsung oleh Presiden SBY Perpeloncoan sebagai salah satu bentuk tindak kekerasan sering terjadi pada institusi pendidikan mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga perguruan tinggi. Telah berapa banyak korban yang berjatuhan hingga menyebabkan kematian akibat dari proses pendidikan yang tidak terkontrol dengan baik. Kematian akibat dari dampak penayangan acara olahraga hiburan sarat kekerasan seperti smackdown pernah menghiasi media di Indonesia yang terjadi hampir di setiap daerah. Kejadian ini ironisnya terjadi di lingkungan sekolah di mana para orang tua menitipkan putra-putrinya untuk belajar. Pernah pula terjadi kasus kematian dan cedera yang dihadapi oleh mahasiswa-mahasiswa baru pada beberapa perguruan tinggi akibat acara orientasi penerimaan mahasiswa. Semua kasus-kasus yang ada mengindikasikan berbagai tindakan kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan kita. Tindakan kekerasan ataupun pelecehan-pelecehan yang menyertainya dalam istilah luar dikenal dengan sebutan bullying. Menurut Olweus (1993) “Bullying can consists of any action that is used to hurt another child repeatedly and without cause”. Tindakan yang dilakukan dapat berupa fisik, verbal ataupun kejadian siksaan mental ataupun emosi seseorang. Sesuatu yang sering terlihat oleh mata kita seperti permainan ataupun pelecehan-pelecehan dapat saja digolongkan sebagai kegiatan ritual dari bullying. Bullying dapat ditemukan di setiap sekolah pada tiap negara. Hal ini merupakan suatu cara anakanak muda berinteraksi dengan lingkungannya. Setiap institusi pendidikan harus mengetahui keberadaan dan dampak dari bullying tersebut dan berusaha mencegah hal tersebut terjadi. Bila kejadian bullying didiamkan atau masih terjadi, murid akan mengalami pelecehan-pelecehan atau tindakan kekerasan dan aklibatnya secara psikologis mengalami stress dan korban dapat menderita seumur hidupnya. Sebagai contoh pada kasus penyiksaan di IPDN, seperti yang diberitakan oleh berbagai media televisi walaupun korban secara fisik dalam keadaan normal atau tidak cacat, namun sampai mereka lulus dari sekolah tersebut dan bekerja ataupun berkeluarga selama hampur lebih dari 5 – 10 tahun tetap mengalami beberapa trauma akibat bullying yang terjadi pada masa lampau. Pada beberapa negara di dunia kejadian ini dapat dicegah dan dikurangi dengan campur tangan pihak sekolah yang tidak mendiamkan ataupun menutup mata atas peristiwa yang terjadi. Tragisnya yang terjadi adalah campur tangan pihak penyelenggara pendidikan agar kasus ini tidak terungkap. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa bullying merupakan masalah internasional yang terjadi di hampir semua sekolah. Terjadi kesamaan permasalahan di tiap-tiap negara dan tidak ada batasan-batasan internasional, status sosial-ekonomi ataupun etnis. Di Amerika berdasarkan studi NEA (National Education Agency) kejadian ini sudah bukan lagi permainan anak-anak, tapi merupakan pengalaman menakutkan yang dialami oleh hampir seluruh siswa dan terjadi tiap hari. Selama dekade akhir, bullying telah mengalami perubahan menjadi lebih mematikan dan semakin rutin terjadi pada dua dekade sebelumnya. Kejadian bullying tidak hanya ditujukan bagi siswa sekolah dasar. Kejadian ini malah banyak terjadi pada segmen pendidikan menengah dan mahasiswa karena dapat mengalami penderitaan terbesar. Hal tersebut diakibatkan penggunaan kondisi fisiknya yang matang (kekuatan fisiknya). Adapun ciri-ciri bullying, di antaranya sebagai berikut.

Selengkapnya Sumber: Penulis, bekerja pada bidang pendidikan. (Dikutip dengan perubahan dari Pikiran Rakyat, 5 Juli 2007; 12)

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Cerita Cerita Rakyat
Cerita Cerita Rakyat

Cerita Cerita Rakyat – Salah satu kekayaan budaya masyarakat di wilayah nusantara adalah prosa atau cerita rakyat. Cerita rakyat ini lahir dan berkembang secara turun-temurun melalui berbagai media, baik secara lisan maupun tertulis. Cerita rakyat mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan masyarakat, misalnya mengenai sistem nilai, kepercayaan dan agama, kaidah-kaidah sosial, dan etos kerja. Oleh karena itu, sejumlah pengamat sosial budaya menyatakan bahwa memahami pandangan hidup masyarakat tidaklah komprehensif jika tanpa mempelajari cerita rakyat. Begitu juga dengan cerita rakyat ‘Raden Sandhi” yang sudah Anda baca pasti mengandung isi dan amanat yang didasari nilai-nilai yang dianut oleh rakyat Sambas. Cerita rakyat terdiri atas dogeng, mite, dan legenda. 1. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi, termasuk di dalamnya cerita-cerita pelipur lara dan cerita-cerita dengan tokoh binatang (fabel). Dongeng dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni (a) dongeng binatang karena semua tokohnya binatang (fabel), (b) dongeng biasa yang di dalamnya terdapat tokoh manusia, dan (c) dongeng jenaka/ lelucon yang di dalamnya terdapat cerita penuh kejenakaan. 2. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci atau sakral, misalnya cerita tentang tokoh kayangan atau tokoh supranatural yang memiliki kekuatan hebat. Tokoh mite adalah dewa atau manusia setengah dewa dan menyangkut peristiwa yang terjadi di dunia lain pada masa lalu (Danandjaja, 1994: 50).

Cerita Cerita Rakyat – Berdasarkan isinya, mite dapat dikelompokkan menjadi (a mite terjadinya alam semesta; (b) mite dunia dewata yang memasukkan juga cerita tentang terjadinya susunan para dewa; (c ) mite manusia pertama termasuk hal-hal yang berkaitan dengan inisiasi, misalnya, cerita manusia pertama di Kepulauan Talaud. Di dalam itu terdapat dewa penjelmaan, yakni makhluk ‘ketam’ yang berubah menjadi manusia; dan (4) mite pertanian, termasuk di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan makanan pokok. Misalnya, cerita tentang Dewi Padi. 3. Legenda adalah dongeng asal mula terjadinya suatu tempat, peristiwa atau keberadaan suatu daerah. Misalnya, legenda Tangkuban Perahu, asal-usul nama Surabaya. Selain itu, ada juga legenda yang terdiri atas cerita-cerita tentang tokoh-tokoh agama. Hal tersebut merupakan sebagian dari karakteristik cerita rakyat. Anda dapat mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat setelah Anda mendengarkan atau membacanya.

Cerita Cerita Rakyat – Anda juga dapat mengidentifikasi cerita rakyat berdasarkan unsur-unsur intrinsiknya, seperti tema, penokohan, latar, alur, dan amanat. 1. Tema adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita. 2. Alur atau plot adalah struktur penceritaan yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran. 3. Penokohan adalah pelukisan atau pendeskripsian atau pewatakan tokoh-tokoh dalam cerita. 4. Latar atau setting merupakan tempat, waktu, dan keadaan terjadinya suatu peristiwa. 5. Amanat adalah pesan-pesan atau wejangan yang ingin disampaikan dalam cerita. Ciri-ciri atau karakteristik cerita rakyat ialah menghubungkan cerita dengan kejadian alam atau tempat berkisah tentang kerajaan (istana sentris). Dari hasil mendengarkan cerita rakyat tersebut, adakah ciri-ciri lain yang Anda temukan dari cerita rakyat tersebut?

Cerita Cerita Rakyat

Uji Materi

1. Identifikasikanlah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat “Raden Sandhi” tersebut. Buatlah sinopsisnya. 2. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 3. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 4. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 5. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilainilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 6. Lakukan pengamatan terhadap hasil pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan tabel penilaian

Cerita Cerita Rakyat – Kegiatan Lanjutan

1. Carilah cerita rakyat lain dari buku cerita rakyat atau rekaman cerita rakyat. 2. Tuturkan oleh salah seorang teman Anda atau guru Anda. 3. Dengarkanlah dengan baik penuturan tersebut. 4. Identifikasilah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat yang didengarkan itu. 5. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 6. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 7. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 8. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 9. Ungkapkan kembali cerita rakyat tersebut dalam bentuk sinopsis. 10. Amatilah pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan format penilaian pada latihan sebelumnya.

Cerita Cerita Rakyat

Merangkum Isi Informasi Teks Buku

Dalam beberapa pelajaran sebelumnya, Anda telah belajar mengambil manfaat informasi dalam media cetak dan elektronik. Anda akan belajar merangkum informasi dari buku. Anda akan mencatat pokok-pokok penting dalam buku, lalu membuat ringkasan. Oleh karena itu, akan semakin banyak pulalah informasi yang Anda peroleh.

Salah satu cara mengambil manfaat dari informasi dalam buku adalah dengan merangkumnya. Caranya, Anda dapat mencatat pokokpokok isi informasi pada halaman bab tertentu yang dirujuk setelah Anda membaca daftar isi. Selanjutnya, rangkumlah seluruh isi informasi (yang diperoleh dari bab tertentu) ke dalam beberapa kalimat. Berikut terdapat sebuah kutipan dari buku Tatabahasa Indonesia yang ditulis Gorys Keraf halaman 137–138. Kita dapat membuat rangkuman dari kutipan berikut.

Pendahuluan Sintaksis (Yunani: Sun + tattein = mengatur bersama sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. Penelitian bidang fonetis, morfologis dan struktur frasa dari suatu bahasa merupakan bagian dari iImu bahasa yang masih bersifat statis. Dalam sintaksis bidangbidang statis seolah-olah digerakkan dan dihidupkan ke dalam kesatuan gerak yang dinamis, diikat dan dijalin ke dalam berbagai macam konstruksi. Setiap bahasa memiliki sistem-sistem yang khusus untuk mengikat kata-kata atau kelompok-kelompok kata ke dalam suatu gerak yang dinamis. Oleh sebab itu, kita tidak dapat dibenarkan untuk menyusun tatakalimat suatu bahasa dengan secara sembarangan menerapkan sintaksis bahasa lain. Hal salah kaprah ini pernah dilakukan oleh ahli-ahli tatabahasa lama. Tatabahasa Latin-Yunani, yang memiliki struktur khusus, diterapkan begitu saja kepada bahasa-bahasa lain. Sintaksis suatu bahasa haruslah merupakan perumusan dari berbagai macam gejala susun-peluk kata-kata dalam suatu bahasa. Jika nanti ada persamaan tatakalimat suatu bahasa dengan bahasa lain, haruslah merupakan hasil perbandingan yang diadakan antara bahasa-bahasa tersebut. Akan tetapi, bukan sebagai hasil penerapan sintaksis bahasa lain. Tatabahasa-tatabahasa lama tidak banyak bicara tentang sintaksis. Mereka yang menelaah sintaksis secara mendalam dan menggunakan kalimat sebagai titik-tolak penelitiannya. Dalam hal ini, hanya beberapa gelintir manusia yang mau berusaha untuk melaksanakan sekuat-kuatnya menelaah sintaksis. Akan tetapi, kadang hasil masih jauh dari sasaran optimal. Mereka masih sering kembali ke dalam pemikiran falsafah, di mana semua fenomena bahasa selalu ditinjau dan bidang falsafah. Falsafah dijadikan alat untuk memecahkan segala macam persoalan. Dengan demikian, timbul suatu kesan bahwa bukan masalah bahasa yang dipersoalkan, tetapi kecerdasan berpikir atau berpikir secara logislah yang dipersoalkan. Di sini kita berusaha bertolak dari seberang lain, bertolak dari bahasa sendiri, sebagai sumber penurunan perumusan-perumusan tentang sintaksis. 1. Kata, Frase, dan Klausa Jika sekali lagi kita melihat tataran-tataran (tata tingkat/hirarki) dalam bahasa, urutan tataran itu dari yang kecil sampai paling luas beserta bidang ilmunya masing-masing adalah: Bidang Ilmu Tataran Fonologi : fon/fonem suku kata Morfologi : morfem terikat bebas kata dasar turunan/jadian Sintaksis : frasa klausa Wacana : alinea bagian (sejumlah alinea) anak bab bab Karangan yang utuh : terdiri atas bab-bab Semua unsur di atas disebut unsur segmental, yaitu unsur-unsur yang dapat dibagi-bagi menjadi bagian atau segmen-segmen yang lebih kecil. Di samping unsur segmental terdapat juga unsur suprasegmental, yang kehadirannya tergantung dari unsurunsur segmental. Unsur suprasegmental mulai hadir dalam tataran kata sampai wacana: nada, tekanan keras, panjang, dan intonasi. Dengan demikian kata merupakan suatu unsur yang dibicarakan dalam morfologi, sebaliknya frase dan klausa berdasarkan strukturnya termasuk dalam sintaksis. Frase adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam frase rumah ayah muncul makna baru yang menyatakan milik, dalam frase rumah makan terdapat pengertian baru ‘untuk’. Adapun frase obat nyamuk terdapat makna baru ‘untuk memberantas’. Sebaliknya klausa adalah suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional. Dalam tatabahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, obyek, dan keterangan-keterangan. Sebuah klausa sekurangkurangnya harus mengandung satu subjek, satu predikat, dan secara fakultatif satu obyek. Dalam halhal tertentu klausa terdiri dari satu predikat dan boleh dengan keterangan (bentuk impersonal), misalnya: 1. Saya menyanyikan sebuah lagu 2. Adik membaca buku 3. Anak itu menangis 4. Ia sudah bangun 5. diberitahukan kepada umum 6. demikian diceritakan 7. sementara adik menyanyikan sebuah lagu, saya membaca buku 8. ia makan, karena (ia) lapar Konstruksi no. 1 sampai dengan 6 membentuk satu klausa, dan sekaligus sebuah kalimat. Sebaliknya, konstruksi no. 7 dan 8 merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua klausa. Sementara itu, kalau kita mendengar orang mengucapkan: , 9. “Maling!” “Pergi!” “Keluar!” 10. “Rumah ayah!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Rumah siapa itu?” 11. “Karena lapar!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Mengapa kamu malas bekerja?” Semua konstruksi di atas diterima juga sebagai kalimat, walaupun contoh-contoh dalam nomor 9 hanya terdiri dari satu kata. Adapun nomor 10 dan 11 terdiri atas frase. Jika demikian: sebuah kata, sebuah frase, atau sebuah klausa dapat menjadi sebuah kalimat. Akan tetapi, di mana letak perbedaannya? Kita menyebutnya sebagai kata, frase, atau klausa, semata-mata berdasarkan unsur segmentalnya. Sebaliknya, unsur kata, frase, dan klausa dapat dijadikan kalimat kalau diberikan kepadanya unsur suprasegmental (dalam hal ini intonasi). Jadi: kata + intonasi > kalimat frasa + intonasi > kalimat klausa + intonasi > kalimat .

Kegiatan membaca cepat, baik skimming maupun scanning, sangat bermanfaat untuk memperoleh informasi secara cepat. Kita dapat membuat rangkuman dari bacaan yang telah kita baca.

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat dan Cerita Dongeng

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat dan Cerita Dongeng

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat dan Cerita Dongeng

Tokoh Cerita Rakyat
Tokoh Cerita Rakyat

Tokoh Cerita Rakyat – Pernahkah Anda membaca atau mendengar cerita rakyat Nusantara? Contohnya, Legenda Gunung Tangkuban Perahu, cerita Bawang Putih Bawang Merah, Yuyu Kangkang, dan lainlain. Semua itu adalah kekayaan negeri kita. Kita harus bangga karenanya. Dengan adanya cerita rakyat tersebut, artinya bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya. Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih memahami informasi yang berasal dari cerita rakyat, buku teks, dan hasil wawancara. Ketiga hal tersebut dapat didentifikasi sehingga Anda dapat memberikan tanggapan atas hasil rangkuman atau simpulannya. Pada latihan pengidentifikasian cerita rakyat, Anda akan berlatih menganalisis unsur-unsur karya sastra sekaligus menyerap nilai-nilai didaktik yang terkandung di dalamnya. Keduanya merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian cerita rakyat Nusantara. Kemudian, dengan banyak membaca buku, Anda telah mencerminkan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Di samping itu, dengan melakukan analisis terhadap hasil wawancara, Anda dapat belajar memahami prinsipprinsip kesopanan dalam bertindak tutur.

Tokoh Cerita Rakyat

Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat

Dalam pelajaran 7C dan 8C, Anda telah belajar membaca karya sastra Melayu klasik berupa hikayat. Karakteristik hikayat hampir sama dengan cerita rekaan. Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih menganalisis hal-hal menarik dari tokoh cerita rakyat. Anda akan mempelajari jenis-jenis cerita rakyat dan menganalisis keunikankeunikannya. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah menguasai dan memahami pelajaran tentang cerita rakyat.

Untuk dapat memahami cerita rakyat dengan baik, Anda akan belajar mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat yang didengarkan, menentukan isi dan atau amanat yang terdapat dalam cerita rakyat, menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat, membandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat efektif, dan mengungkapkan kembali cerita rakyat dalam bentuk sinopsis. Berikut ini ada cerita rakyat dari daerah Sambas. Cerita rakyat berikut dapat dituturkan oleh salah seorang teman atau guru Anda. Anda dan teman-teman Anda yang lain mendengarkan dengan saksama. Agar dapat mendengarkan dengan baik, tutuplah buku masing-masing.

Raden Sandhi

Tokoh Cerita Rakyat – Sekarang kita sudah berkumpul, saya akan menceritakan tentang kisah kematian Raden Sandhi. Menurut kepercayaan orang Sambas, Raden Sandhi itu bukannya mati, mayatnya dibawa orang kebenaran, orang halus, orang Paloh. Sebelum saya ceritakan Raden Sandhi itu, lebih baik saya ceritakan tentang Paloh, yakni tentang keangkerannya. Sampai saat ini mungkin orang daerah Sambas di sini masih percaya dengan keangkerannya, soalsoal mistik begitulah kita sekarang. Menurut kepercayaan orang daerah Sambas kalau kita akan pergi ke Paloh, pertama kita tidak boleh berteriak-teriak atau memekik di dalam hutan. Kedua bersiul juga dilarang. Ketiga berkata tidak baik, Nah begitulah cerita orang Sambas tentang daerah Paloh. Nah, sekarang saya akan bercerita tentang kematian Raden Sandhi tadi. Raden Sandhi itu termasuk keluarga orang yang baik-baik beliau keturunan Rajaraja Sambas. Kelakuannya sangat berbeda dengan saudaranya yang lain.

Tokoh Cerita Rakyat – Salah satu kebiasaan yang paling disukai dan sering dilakukannya yaitu berburu. Kalau sudah berburu biasanya dua atau tiga hari baru pulang ke rumah. Dan hal inilah, sekali-kali orang tuanya memberi teguran. Pada suatu ketika, Raden Sandhi dipanggil oleh orang tuanya dan berkata : “Sandhi, kamu aku lihat lain dari pada saudara-saudaramu. Selalu saja kau pergi kehutan, atau sampai ke daerah Paloh berburu mencari burung, kijang, pelanduk. Hasilnya tidak ada juga. Jadi aku rasa lebih baik kamu tinggal di rumah saja, itu anak istrimu siapa yang akan mengurusnya. Kami memang sanggup memberinya makan, tapi kamu sebagai suaminya, kamu yang lebih banyak memberi perhatian, mendidik. Baik itu kepada anakanakmu, istrimu, itu adalah tanggung jawabmu. Raden Sandhi, orangnya pendiam dan tidak suka berbicara yang tidak ada gunanya, terlebih-lebih kepada orang tuanya dan bagaimanapun kemarahan orang tuanya tadi, ia diam saja, namun di dalam hatinya karena itu telah menjadi kebiasaannya yang suka berburu. Pada suatu hari Raden Sandhi seperti biasa, akan pergi berburu senjatanya yang akan dipergunakan untuk pergi berburu. Lalu ia pergi menemui istrinya, ” Oi, hari ini, aku akan pergi berburu lagi. Entah satu hari, dua hari aku tidak tahu. Cuma aku minta, supaya kepergianku itu, jangan kau ceritakan dengan ayah, dengan ibu,” mengapa pula, kata istrinya, saya baru saja dimarahi oleh ibu, supaya jangan pergi berburu, padahal hatiku selalu saja ingin pergi berburu. Jadi seorang istri haruslah patuh terhadap suami,”. Mengerti, jawab sang istri. Hanya jangan lama-lama. Maklumlah di dalam hutan, mesti ada sesuatu yang dikhawatirkan,”. Tidak, aku pergi tidak terlalu lama, mungkin hanya dua hari saja. Baiklah, kata istrinya.” Nanti kalau ayah bertanya, katakan aku tidak pergi kemana-mana. Hanya pergi dekat saja. Hanya nanti kalau kamu akan pergi bawalah teman. Jangan pergi sendiri, maklumlah di dalam hutan. Binatang banyak, seperti ular, beruang, dan binatang lainnya yang dapat menyusahkan kita, kata istrinya. “Ialah aku membawa kawan, tapi siapakah kawanku, kata Raden Sandhi. Maka berangkatlah Raden Sandhi tadi. Dengan kedua orang temannya pergilah mereka bertiga berjalan. Mereka berjalan keluar masuk hutan, keluar masuk jurang tidak juga bertemu dengan binatang yang dicari. Apalagi rusa, kijang, pelanduk, burungpun tidak dijumpai. Karena belum juga ketemu dengan binatang buruannya dan sudah menjadi sifat Raden Sandhi, kalau belum dapat belum pula ia puas. Makan pun Raden Sandhi lupa apalagi minum. Akhirnya sampailah mereka ke daerah Paloh. Sesampai di Paloh, terdengar burung, Ciit …. Ciit ……. Ciit”. Kawan Raden Sandhipun berkata, ” Den itu ada bunyi burung. “Mana ? “itu, di batang kayu.” Raden Sandhipun melihat ke atas. Dilihatnya benar, ada seekor burung, namun burung itu sangat aneh bentuknya. Sangat berbeda dengan burung-burung yang lain. Tidak juga besar, tidak juga kecil. Burungnya bagus, cantik benar burung itu. Warnanya bermacam-macam, ada hijau, ada merah, kakinya kekuning-kuningan. Pendek kata menarik, sangat menarik hati. “Ku sumpit saja burung itu. Kalau ku sumpit, mudah-mudahan burung itu tidak mati dan aku dapat memeliharanya,” kata Raden Sandhi. Kemudian di sumpitnya lah burung itu dan kena, tepat di kepalanya dan matilah burung tersebut. Sedihlah hati Raden Sandhi karena burung tersebut mati. ” Sayang, burung itu, kalau tidak mati akan kupelihara”. Apa boleh buat, walaupun mati akan kubawa pulang. Kata Raden Sandhi pada temannya.

Tokoh Cerita Rakyat – “Wah, wah, kita pulang saja, sudah hampir dua hari kita berburu tidak juga mendapat hasil buruan hanya dapat burung satu ekor saja. Akan kusalai, agar bulunya tidak rusak sewaktu dibungkus dan akan kusimpan saja. ” Iyalah, ” jawab teman – temannya. Pulanglah Raden Sandhi, sampai di rumahnya Raden Sandhi bercerita, badannya kurang sehat, mengapa ya badanku kurang sehat, bulu kuduk terasa berdiri. Mungkin aku sakit. Pada mulanya tidak merasakan apa-apa sampai beberapa hari kemudian, badan Raden Sandhi masih juga belum sehat. Raden Sandhi merasakan demam setelah pergi ke Paloh !. Lalu dia pergi menghampiri istrinya, ada apa dengan badanku, kata Raden Sandhi kepada istrinya. Sakit barangkali aku ini.” Sudah tiga hari badanku ini panas dingin, bulu kuduk aku terasa berdiri, rasanya tidak nyaman sekali, apa ya obatnya ?”. kata Raden Sandhi kepada istrinya. Tidak tahu, jawab istrinya. Cari dukun saja yang dekat-dekat sini. Maka sang istri mencari dukun untuk mengobati suaminya tadi. Tidak lama kemudian datanglah sang dukun dan bertanya kepada Raden Sandhi, “Sakit apa, Den ?” “Entahlah, badan aku ini rasanya kian hari kian melemah saja, bulu kuduk terasa berdiri. Demam ada juga tapi badan rasanya sakit semua. Raden dari mana, sampai sakit begini ? tanya sang dukun kepada Raden Sandhi. Saya pergi berburu ke Paloh, pulang dari berburu, badan saya terasa panas dingin, rasanya bulu merinding. Oh kalau begitu Raden terkena orang halus barangkali, kata sang dukun pula. Lalu diobatinya Raden Sandhi, sesudah diobati dengan obat orang kampung tadi, dengan berjenis-jenis ramuan yang terbuat dari kayu-kayu, lalu dibacakannyalah mantra. Setelah dukun tadi pulang, sakit Raden Sandhi bukannya sembuh, tapi penyakitnya bertambah parah, akhirnya Raden Sandhi tidak mau makan. Setelah beberapa lamanya Raden Sandhi sakit dan sakitnya tidak juga sembuh, akhirnya Raden Sandhi meninggal dunia. Layaknya orang meninggal tentulah dimandikan, dikapankan lalu dikuburkan seperti layaknya upacara penguburan. Setelah upacara penguburan selesai dilaksanakan, pada malam harinya istri Raden Sandhi mendapat mempi, dalam mimpi itu, mengatakan bahwa sebenarnya Raden Sandhi tidaklah mati, Raden Sandhi dibawa oleh orang halus pergi ke Paloh, untuk dijadikan raja oleh orang halus di sana karena raja mereka sudah tua, Raden Sandhi akan dijadikan menantu dan raja orang halus di tempat tersebut. Yang dimakamkan itu bukannya Raden Sandhi, melainkan hanya sebatang kedebok pisang saja dan itulah yang ditanam, kata orang halus di dalam mimpi sang istri. Orang halus tadi juga berpesan untuk memberitahukan mimpinya kepada orang tua Raden Sandhi.

Tokoh Cerita Rakyat – Lalu tersadarlah sang istri dari mimpinya, dan kemudian bercerita kepada kedua orang tua Raden Sandhi beserta keluarganya. Bahwa yang dikuburkan itu bukanlah jasad tubuh Raden Sandhi melainkan hanya sebatang gedebok pisang dan suaminya dibawa pergi ke paloh oleh orang halus untuk dinikahkan dengan anak Raja Paloh. Begitulah cerita istri Raden Sandhi, maka gemparlah mereka mendengar cerita sang istri tadi. Sang ayah menyesali kelakuan Raden Sandhi yang sudah sering diingatkan untuk tidak pergi berburu, apalagi pergi berburu sampai ke Paloh. “Sudah kita tahu bersama, bahwa Paloh itu tempat orang-orang kebenaran, apalagi kedatangannya ke Paloh hanya untuk pergi berburu, membunuh binatang lagi. Namun apa daya semuanya telah terjadi. Mungkin itu sudah suratan takdir Raden Sandhi,” kata ayahnya. Kita teruskan cerita kita dahulu, setelah Raden Sandhi dibawa ke Paloh, Raden Sandhi dinikahkan dengan anak Raja Paloh. Pada masa itulah Raden Sandhi menjadi Raja Paloh dan berkuasa di daerah Paloh. Pada saat sekarang ini juga masih banyak masyarakat yang mempercayainya dan menurut cerita apabila akan pergi ke Paloh, jangan lupa menyebut nama Raden Sandhi, sambil berkata, “Den, Raden, kami datang ke Paloh daerah kekuasaan dato’ ( panggilan untuk Raden Sandhi ) kami juga masih keluarga dari Sambas, janganlah kami diganggu”, begitlah bunyi ucapannya. Selain itu ada juga syarat yang harus dilakukan bagi yang akan ke Paloh yaitu 1. Jangan sekali-sekali berani berteriak-teriak 2. Jangan sekali-kali bersiul-siul itu tabu sekali dilakukan 3. Jangan sekali-kali membunuh binatang yang berguna seperti burung ( jenis apa saja ) dan yang lainnya. Selain itu juga tidak boleh berbicara kotor dan bersiul-siul. Apabila hal-hal semacam ini dilanggar maka akan ada akibatnya. Begitulah, ceritanya. Jadi kepercayaan itu masih tetap dipegang hingga saat ini. Orang yang masuk ke daerah Paloh tidak berani sembarangan. Daerah itu ( Paloh ) dijaga oleh Raden Sandhi. Benar atau tidaknya cerita ini’, Wallahualam.

Sumber: www.sambas.go.id