Menulis Macam Macam Puisi Langkah – langkah Menganalisis Isi Puisi

Menulis Macam Macam Puisi Langkah – langkah Menganalisis Isi Puisi

Menulis Macam Macam Puisi Langkah – langkah Menganalisis Isi Puisi

Macam Macam Puisi
Macam Macam Puisi

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk menganalisis isi puisi tersebut.

Macam Macam Puisi

a. Mendapatkan gambaran makna Anda tentunya telah membaca puisi tersebut secara berulang-ulang untuk mencoba memahami judul “Salju” serta berusaha mendapatkan gambaran maknanya secara keseluruhan untuk menangkap makna. Untuk memahami kata “salju” sebagai judul puisi tersebut, kita harus berusaha mendapatkan gambaran tentang ciri-ciri dan berbagai macam kemungkinan makna yang dikandungnya.

b. Gambaran makna yang diperoleh Dari proyeksi berbagai macam kemungkinan makna kata “salju” misalnya, kita temukan gambaran makna berikut. – Suatu musim atau keadaan ketika salah satu bagian bumi ini hanya ditebari oleh serpih es yang dingin; – Sebagai akibat dari keadaan tersebut, bagian bumi yang terkena musun salju itu seolah-olah mati, tumbuh-tumbuhan gundul, aktivitas kerja di luar terhenti, orang jarang keluar rumah, dan bagian bumi itu sendiri seakan-akan tidak punya arti, bahkan menjadi suatu kenyataan atau bagian yang tidak disenangi. Dari proyeksi makna tersebut, sekarang dapat ditentukan bahwa kata atau judul “salju”mengandung makna sesuatu yang tidak berarti.

c. Menganalisis unsur sense (makna) Dalam hal sense, secara sederhana dapat ditetapkan bahwa lewat puisi “Salju” itu penyair menggambarkan seseorang yang sedang kebingungan. Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Saat itu, sesuatu yang tidak berarti sedang menimpa dirinya. la tidak tahu jalan untuk mencari perlindungan ketika tubuhnya basah kuyup. Dia ingin berusaha mencari api untuk menghidupkan bara hatinya yang mati, tetapi tidak tahu ke mana harus lari. Akhirnya sampailah dia pada satu keputusan “mencuci diri”.

d. Kategori kata Untuk membuktikan kebenaran gambaran makna judul maupun gambaran makna secara umum tersebut, kita sekarang perlu menelaah lebih mendalam. Jalan pertama yang kita tempuh adalah mengategorikan kata-kata yang termasuk kategori lambang dan kata-kata yang termasuk kategori simbol. Dalam hal ini ditetapkan bahwa kata-kata dalam puisi tersebut yang termasuk lambang adalah kata-kata “ke manakah”, “pergi”, “mencari”, dan “ketika”. Adapun kata-kata yang bersifat simbolik adalah “matahari”, “salju turun”, “pohon”, dan “kehilangan daun”.

Macam Macam Puisi

e. Memahami makna simbolik Tugas Anda sekarang adalah berusaha memahami makna kata yang bersifat simbolik tersebut. Pertama, kata matahari”. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa kata “matahari” berhubungan dengan makna “kehidupan”, kata “salju” berhubungan dengan makna “sesuatu yang tidak berarti”

Masalahnya sekarang, apakah yang dimaksud dengan “pohon” dan “kehilangan daun”? Siapa pun akan memaklumi bahwa daun adalah ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, daun adalah makhluk ciptaan Khalik. Pertanyaannya sekarang: Makhluk apakah yang mampu menyadari ketidakberartian hidupnya? Makhluk apakah yang dengan sadar berusaha mencari kehidupan? Jawabnya tentu, manusia. Pohon yang kehilangan daun, tentu hidupnya tidak berarti. Selain itu, jika pohon itu merupakan simbol dari manusia, berarti manusia yang kehilangan daun itu hidupnya tiada berarti. Setelah memahami makna kata-kata simbolik pada bait pertama, tugas kita sekarang adalah berusaha memahami makna kata simbolik pada bait berikutnya. Sering kali pemahaman makna kata-kata simbolik menjadi semacam kunci untuk memahami makna kata-kata simbolik berikutnya. Dengan berangkat dari anggapan demikian, dapatkah Anda memahami makna kata “tubuh”, “basah kuyup”, “pintu tertutup”, dan kata “api”?

f. Membahas makna setiap larik Setelah Anda mencoba sendiri berusaha memahami katakata simbolik tersebut, baik sendirian atau lewat diskusi, silakan Anda coba membahas makna setiap lariknya. Larik pertama yang berbunyi “ke manakah pergi” mudah untuk dimengerti. Larik kedua yang berbunyi ketika “salju turun”-lah yang perlu diperhatikan baikbaik. Jika dihubungkan dengan proyeksi makna kata “salju” turun tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa baris ketika salju turun” mengandung makna ketika hidupku sepi tidak berarti. Adapun larik keempat yang berbunyi pohon kehilangan daun” dapat diartikan sebagai ketika diriku hampa tidak bermakna.

g. Memahami hubungan antarbaris Dari telaah tersebut, semakin jelas bagaimana hubungan antara baris yang satu dengan baris lainnya. Sebagai penutur atau pemakai bahasa Indonesia, Anda tentunya tidak akan mengalami kesulitan seandainya diminta untuk mempertalikan baris-baris di atas ke dalam satuan-satuan kalimat.

h. Simpulan pokok pikiran makna puisi Sudahkah Anda mencoba menyusun paragraf berdasarkan satuan-satuan bait tersebut? Jika sudah, tugas Anda sekarang adalah melihat satuan-satuan pokok pikiran dalam paragraf-paragraf yang telah Anda buat sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam puisi tersebut terdapat empat pokok pikiran yang saling berkaitan. Keempat pokok pikiran itu adalah sebagai berikut. 1) Ke mana aku harus pergi di saat hidupku hampa tidak berarti? 2) Kepada siapa aku meminta perlindungan di saat diriku menderita dan tidak seorang pun mau menerima diri saya? 3) Ke mana harus pergi mencari petunjuk dan semangat kehidupan saat semangat hidupku padam tidak berarti? 4) Dalam situasi demikian, tidak ada jalan lain selain bersujud di hadapan Tuhan untuk menyucikan diri.

Macam Macam Puisi

i. Memahami sikap penyair terhadap puisi Sekarang, bagaimana halnya dengan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran puisi tersebut? Ada bermacam-macam sikap seseorang sewaktu menghadapi situasi demikian. Mungkin mereka akan termenung sendirian, bertindak masa bodoh, menyalahkan orang lain, dan berbagai kemungkinan sikap lainnya. Akan tetapi, lain halnya dengan sikap penyair. Ia mengungkapkan bahwa dalam situasi demikiaan tidak ada jalan lain kecuali mencuci diri. Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa dalam menampilkan pokok-pokok pikirannya, penyair memiliki satu sikap, yakni berserah diri kepada Tuhan.

j. Sikap penyair terhadap pembaca puisi Sikap penyair terhadap pembaca akan menunjukkan adanya sikap yang bermacam-macam. Dalam hal ini mungkin sikap masa bodoh, mengajak, menggurui, keramahtamahan, kebencian, persahabatan, dan lain-lainnya. Adanya sikap-sikap tertentu dalam suatu puisi umumnya ditandai oleh bentuk-bentuk pernyataan tertentu. Dalam hal ini, jangan tutup mata Anda. Seandainya tanda-tanda tertentu yang dapat menyiratkan sikap penyair terhadap pembaca tidak ada, dapat dipastikam bahwa penyair menyikapi pembaca dengan sikap masa bodoh.

k. Rangkuman penafsiran puisi Tugas Anda sekarang adalah merangkum keseluruhan hasil penafsiran tersebut, baik penafsiran terhadap satuan-satuan pokok pikiran, sikap penyair terhadap pokok pikiran, maupun sikap penyair terhadap pembaca sewaktu menampilkan pokok-pokok pikiran tertentu ke dalam satu kesatuan yang utuh. Dengan cara demikian, pada dasarnya Anda sedang berupaya menemukan totalitas makna puisi yang Anda baca. Cobalah kerjakan sendiri upaya pencarian totalitas makna tersebut dengan jalan merangkum satuan-satuan paragraf yang telah Anda susun serta Anda telah memasukkan unsur feeling dan tone ke dalamnya.

l. Menentukan tema puisi Pembahasan tema pada dasarnya merupakan pembahasan yang cukup rumit karena dalam hal ini penganalisis harus mampu berpikir secara mendasar. Hal itu dapat saja dimaklumi karena tema berhubungan dengan lapis dunia yang metafisis (gaib). Untuk mencapainya, pembaca harus membaca hasil rangkuman totalitas makna yang telah dibuat secara berulang-ulang untuk membuat satu simpulan yang menjadi inti keseluruhan totalitas maknanya.

Macam Macam Puisi – Dari keseluruhan totalitas makna yang terdapat dalam puisi berjudul “Salju”, misalnya, dapat dikatakan bahwa tema dalam puisi tersebut adalah hanya dengan menyucikan diri manusia dapat menikmati kehidupan yang berarti.

Uji Materi

1. Bacakanlah puisi berikut dengan baik oleh salah seorang di antara Anda. 2. Selama puisi ini dibacakan, tutuplah buku Anda dan cermatilah isi puisi dengan saksama. Jika perlu, bacakanlah beberapa kali secara bergiliran.

Tuhan, Kita Begitu Dekat Karya Abdul Hadi W.M.

Tuhan Kita begitu dekat Seperti api dengan panas Aku panas dalam apimu Tuhan Kita begitu dekat Seperti kain dengan kapas Aku kapas dalam kainmu Tuhan Kita begitu dekat Seperti angin dengan arahnya Kita begitu dekat Dalam gelap Kini nyala Pada lampu padammu Sumber: Majalah Horison, Edisi Khusus Puisi Internasional Indonesia, 2002

3. Kemukakanlah hasil penghayatan Anda terhadap puisi tersebut. 4. Diskusikanlah dengan teman-teman Anda.

Sastrawan dan Karyanya 

Macam Macam Puisi – Wing Kardjo dilahirkan tanggal 23 April 1937 di Garut (Jawa Barat). Ia menyelesaikan pendidikan B-l Prancis di Jakarta (1959); Diploma de Literatur Francis dari Universitas Sorbonne, Paris (1965), tamat Jurusan Prancis Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (1973) dan meraih gelar Doktor dari Universite Paris VII dengan disertasi Sitor Situmorang: La vie et I’oeuvre d’un poete Indonesia (1981). Ia pernah mengajar di SMA, SESKOAD, Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Sastra UNPAD, dan sejak 1984 mengajar di Universitas Tokyo, Jepang. Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur kebudayaan Indonesia Express dan redaktur Khatulistiwa/ Indonesia Raya. Tahun 1977, ia mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Kumpulan sajaknya: Selembar Daun, Perumahan, Pohon Hayati: Sejemput Haiku (2002), dan Fragmen Malam (1997). Ia meninggal di Jepang pada 19 Maret 2002. Sumber: Ensiklopedi Sastra Indonesia , 2004

Macam Macam Puisi

Tentang Mengungkapkan Kumpulan Isi Puisi Yang Baik

Tentang Mengungkapkan Kumpulan Isi Puisi Yang Baik

Tentang Mengungkapkan Kumpulan Isi Puisi Yang Baik

Kumpulan Isi Puisi
Kumpulan Isi Puisi

Kumpulan Isi Puisi – Naik, naik ke puncak gunung. Tinggi, tinggi sekali… kiri, kanan. Kulihat saja, banyak pohon cemara…” Ingatkah Anda pada lagu tersebut? Lagu tersebut merupakan potret alam sekitar. Lagu tersebut diinspirasikan oleh keindahan alam sekitar yang memiliki banyak pesona. Tidak sedikit penyair, cerpenis, novelis, pencipta lagu, dan pelukis yang sering menyempatkan diri berjalan-jalan menikmati keindahan alam untuk dituangkan ke dalam sebuah karya. Alam sekitar memang menyimpan banyak potensi. Potensi yang dapat digali oleh para penggiat bahasa dan sastra berupa inspirasi yang dijadikan gagasan. Gagasan tersebut merupakan akar dari sebuah pemikiran dan ide yang dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Anda dapat menuangkan gagasan tersebut ke dalam paragraf deskriptif. Dengan menulis paragraf deskriptif, Anda dapat menuangkan pemahaman terhadap suatu permasalahan yang terjadi di alam sekitar. Dalam bidang sastra, Anda dapat menuangkan gagasan tersebut ke dalam puisi. Karya puisi tersebut dapat diidentifikasi agar Anda lebih menghayati makna yang terkandung di dalamnya.

Kumpulan Isi Puisi

Mengungkapkan Isi Puisi

Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih mengungkapkan isi puisi. Sebelumnya, Anda perlu mempelajari terlebih dahulu unsurunsur dasar dalam menganalisis puisi. Dengan demikian, diharapkan kemampuan Anda dalam mengapresiasi karya sastra akan bertambah dan semakin terasah.

Kumpulan Isi Puisi

1. Unsur Dasar dalam Menganalisis Puisi Sebagai suatu totalitas yang dibentuk oleh unsur intrinsik tertentu, puisi dapat dibagi dalam beberapa lapis yang meliputi hal-hal berikut. a. Terdapatnya sense atau makna dalam suatu puisi, pada dasarnya akan berhubungan dengan gambaran dunia atau makna puisi secara umum yang ingin diungkapkan penyairnya. Dalam analisis puisi, keberadaan makna tersebut akan membuahkan pertanyaan, “Apa yang ingin dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakan ini?” b. Subject matter adalah pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Jika sense berhubungan dengan gambaran makna dalam puisi secara umum, subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair. Oleh sebab itu, dalam analisis lapis makna puisi, pembaca akan menampilkan pertanyaan, Pokok-pokok pikiran apa yang diungkapkan, sejalan dengan sesuatu yang secara umum dikemukakan penyairnya? c. Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. Hal itu mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi. d. Tone adalah sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkannya. Hal yang demikian mungkin saja terjadi, contohnya sewaktu Anda berbicara masalah cinta maupun tentang cinta itu sendiri kepada kekasih  Anda, akan berbeda dengan sewaktu Anda berbicara kepada teman. Dalam rangka menganalisis feeling dan tone pada suatu puisi, pembaca akan berhubungan dengan upaya pencarian jawaban atas pertanyaan. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya? Serta bagaimanakah sikap penyair terhadap pembaca? Jawaban yang diperoleh mungkin akan berupa sikap keterharuan, kesedihan, keriangan, semangat, masa bodoh, menggurui, atau berbagai macam sikap lainnya sejalan dengan keanekaragaman sikap manusia dalam menyikapi kenyataan yang dihadapinya. e. Totalitas makna adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam suatu puisi. Penentuan totalitas makna puisi didasarkan atas pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Hasil rangkuman dari keseluruhannya itu akan membuahkan totalitas makna dalam suatu puisi. Hal ini berbeda dengan sense yang hanya memberikan gambaran secara umum saja kepada pembaca. f. Tema adalah ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna puisi. Tema berbeda dengan pandangan moral meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah. Hal itu disebut tidak sama dengan pandangan moral maupun amanat. Ini karena tema hanya dapat diambil dengan jalan menyimpulkan dasar yang terdapat di dalam totalitas makna puisi. Adapun pandangan moral atau message dapat saja berada di dalam butir-butir pokok pikiran yang ditampilkannya. Dengan kata lain, bidang cakupan tema lebih luas daripada pandangan moral maupun message.

Kumpulan Isi Puisi

2. Tahap Kegiatan dalam Analisis Makna Puisi Tahap kegiatan dalam menganalisis makna puisi pada dasarnya merupakan tahap lanjutan dari kegiatan menganalisis bangun struktur puisi. Meskipun demikian, kegiatan analisis makna puisi dapat juga dilaksanakan secara terpisah dan hanya pada pengidentifikasian serta pembagiannya lebih mudah. Tahap kegiatan yang harus ditempuh pembaca saat menganalisis lapis makna puisi dapat dipaparkan sebagai berikut. a. Bacalah puisi yang telah dipilih secara berulang-ulang. b. Berusaha memahami makna yang terkandung dalam judul puisi. c. Berusaha memahami gambaran makna yang ditampilkan penyair secara umum. d. Menetapkan kata-kata yang termasuk dalam kategori lambang dan kata-kata yang termasuk dalam kategori simbol maupun utterance. e. Berusaha memahami makna setiap simbol puisi yang menjadi objek analisis. f. Berusaha memahami makna yang terdapat dalam setiap baris puisi. g. Berusaha memahami hubungan makna antara baris puisi yang satu dengan baris puisi lainnya. h. Berusaha memahami satuan-satuan pokok pikiran, baik yang terkandung dalam sekelompok baris maupun satuan pokok pikiran yang terdapat dalam bait. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa pokok pikiran atau subject matter, meskipun umumnya tertuang dalam bait, sering kali juga tertuang dalam sekelompok baris. Hal ini terjadi jika penyair tidak memberikan penanda bait sebagai penanda satuan pikiran yang ditampilkannya. i. Berusaha memahami sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. j. Berusaha memahami sikap penyair terhadap pembaca sewaktu menampilkan pokok-pokok pikirannya. Merangkum hasil pemahaman pokok pikiran, sikap penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca dalam satu paragraf atau lebih sesuai dengan jumlah pokok pikiran yang ada dengan menggunakan bahasa pembaca sendiri. Pada tahap ini, pembaca pada dasarnya telah sampai pada tahap menganalisis totalitas makna puisi.

Tahapan kerja tersebut tentu saja masih bersifat lentur, dalam arti masih bisa ditambah atau dikurangi. Selain itu, tahapan kerja bukanlah berlangsung secara benar-benar terpisah karena dalam pelaksanaannya, batas antara tahap yang satu dengan yang lain sering kali kabur. Akan tetapi, sebagai pedoman, tahap kerja analisis lapis makna puisi tersebut sangat baik untuk dilaksanakan.

3. Contoh Analisis Makna Puisi Sejalan dengan beberapa tahapan kerja analisis lapis makna puisi tersebut serta adanya berbagai macam unsur dalam lapis makna itu sendiri, pada bagian ini akan dipaparkan model analisis lapis makna puisi. Berikut ini puisi “Salju” karya Wing Kardjo yang akan dianalisis.

Ke manakah pergi mencari matahari ketika salju turun pohon kehilangan daun Ke manakah jalan mencari lindungan ketika tubuh kuyup dan pintu tertutup Ke manakah lari Mencari api Ketika bara hati Padam tak berarti Ke manakah pergi Selain mencuci diri

Kumpulan Isi Puisi – Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk menganalisis isi puisi tersebut. a. Mendapatkan gambaran makna Anda tentunya telah membaca puisi tersebut secara berulang-ulang untuk mencoba memahami judul “Salju” serta berusaha mendapatkan gambaran maknanya secara keseluruhan untuk menangkap makna. Untuk memahami kata “salju” sebagai judul puisi tersebut, kita harus berusaha mendapatkan gambaran tentang ciri-ciri dan berbagai macam kemungkinan makna yang dikandungnya. b. Gambaran makna yang diperoleh Dari proyeksi berbagai macam kemungkinan makna kata “salju” misalnya, kita temukan gambaran makna berikut. – Suatu musim atau keadaan ketika salah satu bagian bumi ini hanya ditebari oleh serpih es yang dingin; – Sebagai akibat dari keadaan tersebut, bagian bumi yang terkena musun salju itu seolah-olah mati, tumbuh-tumbuhan gundul, aktivitas kerja di luar terhenti, orang jarang keluar rumah, dan bagian bumi itu sendiri seakan-akan tidak punya arti, bahkan menjadi suatu kenyataan atau bagian yang tidak disenangi. Dari proyeksi makna tersebut, sekarang dapat ditentukan bahwa kata atau judul “salju”mengandung makna sesuatu yang tidak berarti. c. Menganalisis unsur sense (makna) Dalam hal sense, secara sederhana dapat ditetapkan bahwa lewat puisi “Salju” itu penyair menggambarkan seseorang yang sedang kebingungan. Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Saat itu, sesuatu yang tidak berarti sedang menimpa dirinya. la tidak tahu jalan untuk mencari perlindungan ketika tubuhnya basah kuyup. Dia ingin berusaha mencari api untuk menghidupkan bara hatinya yang mati, tetapi tidak tahu ke mana harus lari. Akhirnya sampailah dia pada satu keputusan “mencuci diri”. d. Kategori kata Untuk membuktikan kebenaran gambaran makna judul maupun gambaran makna secara umum tersebut, kita sekarang perlu menelaah lebih mendalam. Jalan pertama yang kita tempuh adalah mengategorikan kata-kata yang termasuk kategori lambang dan kata-kata yang termasuk kategori simbol. Dalam hal ini ditetapkan bahwa kata-kata dalam puisi tersebut yang termasuk lambang adalah kata-kata “ke manakah”, “pergi”, “mencari”, dan “ketika”. Adapun kata-kata yang bersifat simbolik adalah “matahari”, “salju turun”, “pohon”, dan “kehilangan daun”. e. Memahami makna simbolik Tugas Anda sekarang adalah berusaha memahami makna kata yang bersifat simbolik tersebut. Pertama, kata matahari”. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa kata “matahari” berhubungan dengan makna “kehidupan”, kata “salju” berhubungan dengan makna “sesuatu yang tidak berarti”.

Kumpulan Isi Puisi

 

Mengidentifikasi Kumpulan Puisi dan Isi Puisi Tentang Pengertian

Mengidentifikasi Kumpulan Puisi dan Isi Puisi Tentang Pengertian

Mengidentifikasi Kumpulan Puisi dan Isi Puisi Tentang Pengertian

Puisi dan Isi Puisi
Puisi dan Isi Puisi

Puisi dan Isi Puisi

“Aduh!” teriak lelaki itu, jatuh terkapar ke tanah, badannya kejang-kejang. “Pak Man bebainan juga!” teriak para siswa panik. Begitulah kisah teman-teman pemburu tentang Pak Man yang jatuh terkapar, dan ketika dicarikan dukun yang pandai, nyawanya ditebus dengan nasi kuning, bunga-bunga, dan sebaris doa. “Kalau tidak, dia pasti mati. Nyawanya diminta oleh penjaga hutan.” Itu cuma salah satu kisah yang dapat ditimba dari wilayah itu. Masih banyak kisah lain yang terjadi tetapi tak tercatat. Misalnya tentang berpuluh mahasiswa yang tiba-tiba sakit perut. “Lebih baik kita berburu di wilayah yang aman,” kata pemburu itu. Di langit tak ada bulan, hanya bintang yang bertebaran sampai memayungi laut. Dia menunggu dengan sabar sementara dari tadi dia tak bertemu seorang pun. Tiba-tiba dia mendengar suara semaksemak yang diterjang gerakan tubuh. Dia pun bersiap-siap dengan senapannya. “Ini pasti babi hutan,” pikirnya. Dan ketika suara semak belukar yang bergerak itu makin keras maka meletuslah senapannya dan terdengar tubuh yang rebah ke tanah. “Ah, babi hutan besar yang terkena tembakanku,” keluhnya, sementara istrinya minta seekor babi yang masih muda. Pelahan dia berjalan ke semaksemak itu, dan ketika dia menyorkan senternya ke arah bunyi rebah itu, dia tertegun tak berkata apa, tak bergerak. “Tidak!!!” Mematung beberapa saat lamanya, akhirnya dia lari meninggalkan tempat itu. Kepada istrinya disampaikan warta bahwa semalaman tak dijumpainya babi hutan seekor pun. “Mungkin mereka berpindah ke arah barat, tapi aku tak berani menginjak wilayah tenget itu,” katanya. Menjelang pagi istrinya mengeluh lantaran kandungannya terasa sakit.

Puisi dan Isi Puisi – Dengan sepeda motor dia melarikan istrinya langsung ke rumah sakit. Ketika fajar tiba istrinya melahirkan anak mereka yang keempat, Tut Sur, Ketut Surya yang lahir ketika surya telah terbit. Ibunya meninggal saat melahirkan bayi yang sehat itu. Lelaki itu menangis, dan seminggu kemudian dia menyembunyikan tangis yang lain dan menuai was-was yang makin bertunas, ketika dia membaca berita di harian Bali Post tentang mayat seorang lelaki dengan luka tembakan di jidatnya, ditemukan sudah membusuk di tengah hutan di wilayah pantai ujung barat Pulau Bali. Tut Sur yang jarang tinggal di rumah itu ternyata dari jam ke jam berada di sudut kota, bicara dengan banyak orang yang tak terlalu mempedulikannya. Kadang dia bicara pada rembulan, kadang pada jembatan beton Kampung Tinggi yang kokoh. Pada suatu sore dia kembali ke rumah, bau badannya tak terlukiskan dan pakaiannya kotor. Pemburu itu masih duduk tepekur di kursi malas di tengah kebun bunga halaman rumahnya. Tut Sur tiba-tiba menubruk lelaki itu, bersimpuh di pangkuannya dengan pertanyaan seorang anak yang haus akan jawaban: “Ayah, ayah, kenapa ada luka di jidatku ini?” Luka itu sudah ada sejak dia dilahirkan, tetapi kenapa dia baru bertanya sekarang? Lelaki pemburu itu memegang kepala anaknya dengan kedua belah tangan dan dikecupnya bekas luka di jidat anak itu seolah dia ingin menghisapnya supaya tertelan ke dalam perutnya.

Puisi dan Isi Puisi

“Ya, Hyang Widhi. Kenapa tidak kau lubangi saja kepalaku agar anakku ini tidak menjalani siksa seumur hidupnya?” “Ayah, ayah, kenapa ada bekas luka di jidatku? Apakah aku anak durhaka? Apakah aku Prabu Watugunung yang durhaka? Atau, apakah aku putera Dayang Sumbi?” “Ah, siapakah yang mendongeng padamu, anakku? Ibumu, bukan?” Sumber: www.kumpulan-cerpen.blogspot.com

Mengidentifikasi Puisi

Dalam pelajaran ini, Anda akan belajar lebih mendalami unsurunsur suatu puisi yang dibacakan; memahami struktur dan kata dalam puisi. Dengan demikian, diharapkan kemampuan Anda dalam memahami puisi akan meningkat.

Apakah Anda pernah mengikuti lomba deklamasi puisi? Di dalam puisi yang dibacakan berisikan hal-hal yang indah, baik dari segi isi maupun segi nada pengucapan. Puisi sebenarnya adalah hasil karya seseorang yang menciptakan dunianya tersendiri. Ia mencipta dengan penuh perenungan dan ekspresi hati paling dalam. Oleh sebab itu, sebuah puisi yang lahir dari tangan penyair atau Anda sendiri adalah curahan hati yang menggambarkan suasana batin.

Puisi dan Isi Puisi

1. Bangun Struktur Puisi Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut meliputi: a. bunyi; b. kata; c. larik atau baris; d. bait; e. tipografi. Bangun struktur disebut sebagai salah satu unsur yang dapat diamati secara visual karena dalam puisi juga terdapat unsur-unsur yang hanya dapat ditangkap lewat kepekaan batin dan daya kritis pikiran pembaca. Unsur tersebut pada dasarnya merupakan unsur yang tersembunyi di balik apa yang dapat diamati secara visual. Unsur yang tersembunyi di balik bangun struktur disebut dengan istilah lapis makna. Unsur lapis makna ini sulit dipahami sebelum memahami bangun strukturnya terlebih dahulu.

2. Kata dalam Puisi Berdasarkan bentuk dan isi, kata-kata dalam puisi dapat dibedakan, antara lain:

a. Lambang, yakni jika kata-kata itu mengandung makna seperti makna dalam kamus (makna leksikal) sehingga acuan maknanya tidak merujuk pada berbagai macam kemungkinan lain (makna denotatif). b. Utterance atau indice, yakni kata-kata yang mengandung makna sesuai dengan keberadaan dalam konteks pemakaian. Kata “jalang” dalam baris puisi Chairil, “Aku ini binatang jalang”, telah berbeda maknanya dengan “wanita jalang itu telah berjanji mengubah nasibnya”. c. Simbol, yakni jika kata-kata itu mengandung makna ganda (makna konotatif) sehingga untuk memahaminya seseorang harus menafsirkannya (interpretatif) dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya (analisis kontekstual), sekaligus berusaha menemukan fitur semantisnya lewat kaidah proyeksi, mengembalikan kata ataupun bentuk larik (kalimat) ke dalam bentuk yang lebih sederhana lewat pendekatan parafrastis.

Puisi dan Isi Puisi – Lambang dalam puisi mungkin dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan. Adapun simbol dapat dibedakan antara lain: a. Blank symbol, yakni jika simbol itu, meskipun acuan maknanya bersifat konotatif, pembaca tidak perlu menafsirkannya karena acuan maknanya sudah bersifat umum, misalnya “tangan panjang”, “lembah duka”, atau “mata keranjang”, b. Natural symbol, yakni jika simbol itu menggunakan realitas alam, misalnya “cemara pun gugur daun”, “ganggang menari”, atau “hutan kelabu dalam hujan”, c. Private symbol, yakni jika simbol itu secara khusus diciptakan dan digunakan penyairnya,. misalnya “aku ini binatang jalang”, “mengabut nyanyian”, atau ‘lembar bumi yang fana”. Batas antara private symbol dengan natural symbol dalam hal ini sering kali kabur.

Ada pula istilah pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan makna-makna abstrak menjadi konkret dan cermat. Adanya kekonkretan dan kecermatan makna kata-kata dalam puisi membuat pembaca lebih mampu mengembangkan daya imajinasinya sekaligus mengembangkan daya kritisnya dalam upaya memahami totalitas makna suatu puisi. Selain pengimajian, terdapat juga istilah pengiasan, yakni pengimajian dengan menggunakan kata-kata kias sehingga menimbulkan makna yang lebih konkret dan cermat. Agar mampu mengapresiasi puisi dengan baik, pembaca tidak cukup menghafal konsep-konsep di atas, tetapi juga harus terampil mengidentifikasi ragam kata dalam suatu puisi, terampil menentukan makna katanya serta terampil menghubungkan makna kata yang satu dengan lainnya. Sekarang, bacalah bait pertama puisi “Salju” berikut ini secara cermat.

Puisi dan Isi Puisi – Ke manakah pergi mencari matahari ketika salju turun pohon kehilangan daun

Seandainya bait puisi tersebut kita penggal secara terpisah, akan kita jumpai adanya bentuk (1) ke, (2) mana, (3) -kan, (4) men-, (5) cari, (6) matahari, (7) ketika, (8) salju, (9) turun, (10) pohon, (11) ke-an, (12) hilang, dan (13) daun. Bentuk ke sebagai kata depan, dan bentuk menserta ke-an sebagai imbuhan, keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari kata-kata yang mengikutinya. Adapun kata ketika dapat ditentukan sebagai kata tugas. Keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari kata yang mendahului dan mengikutinya

Uji Materi

Bacakanlah puisi berikut oleh Anda atau teman Anda. 2. Selama puisi tersebut dibacakan, tutuplah buku Anda dan hayatilah isi puisi tersebut dengan baik .

Menunggu Itu (Taufiq Ismail) Menunggu itu sepi Menunggu itu puisi Menunggu itu nyeri Menunggu itu begini: Sebuah setasiun kereta api Di negeri sunyi Malam yang berdiri di sini Ada wajahmu dan wajahku Benarkah jadi begini? Rambutnya hitam sepi itu Rambutnya putih sepi itu Sunyi adalah sebuah bangku kamar tunggu Dan jam tua, berdetik di atas itu Sunyi itu tak pernah tidur Sunyi itu tamu yang bisu Menawarkan rokok padamu Sunyi itu mengembara ke mana Sunyi kota gemuruh Sunyi padang penembakan Sunyi tulang-belulang Sebuah dunia yang ngeri Menyuruh orang menanti Ada karcis, ada kopor yang tua Perjalanan seperti tak habisnya Menunggu itu sepi Menunggu itu nyeri Menunggu itu teka-teki Menunggu itu ini 1968 Sumber: Horison Edisi Khusus Puisi Internasional Indonesia, 2002

3. Setelah teman Anda membacakan isi puisi, lakukanlah analisis terhadap isi puisi tersebut. Anda dapat mengapresiasi berdasarkan hal-hal berikut. a. Bangun struktur puisi yang menyangkut unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut meliputi bunyi, kata, larik atau baris, bait, dan tipografi. b. Lambang yang mengandung makna sesuai dengan kamus (makna leksikal). c. Kata-kata yang mengandung makna apa yang sesuai dengan keberadaan dalam konteks pemakaian? d. Simbol, yakni kata-kata yang harus ditafsirkan (interpretatif). e. Pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan maknamakna abstrak menjadi konkret. f. Pengiasan, yakni pengimajian dengan menggunakan katakata kias sehingga menimbulkan makna yang lebih konkret dan cermat. 4. Lakukanlah diskusi terhadap hasil analisis tersebut bersama teman-teman Anda.