Memahami Motivasi, Nafsu, dan Kejayaan Barat

Memahami Motivasi, Nafsu, dan Kejayaan Barat

Di dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia dikenal adanya masa penjelajahan samudra. Aktivitas penjelajahan samudra ini dalam rangka untuk menemukan dunia baru. Aktivitas penemuan dunia baru ini tidak terlepas dari motivasi dan keinginannya untuk survive, memenuhi kepuasan dan kejayaan dalam kehidupan di dunia. Bahkan bukan sekedar motivasi, tetapi juga muncul nafsu untuk menguasai dunia baru itu demi memperoleh keuntungan ekonomi dan kejayaan politik. Pertanyaannya adalah daerah mana yang dimaksud dunia baru itu? Yang dimaksud dunia baru waktu itu pada mulanya adalah wilayah atau bagian dunia yang ada di sebelah timur (timurnya Eropa) sebagai penghasil bahan-bahan yang sangat diperlukan dan digemari oleh bangsabangsa Eropa. Bahan-bahan yang dimaksudkan itu adalah rempah-rempah seperti cengkih, lada, pala, dan lain-lain.

antara-imperialisme-dan-kolonialisme-15-638

Mengapa orang-orang Eropa sangat memerlukan rempah-rempah? Orangorang Eropa berusaha sekuat tenaga untuk menemukan daerah penghasil rempah-rempah. Rempah-rempah ini menjadi komoditas perdagangan yang sangat laris di Eropa. Daerah yang menghasilkan rempah-rempah itu tidak lain adalah Kepulauan Nusantara. Orang-orang Eropa menyebut daerah itu dengan nama Hindia. Bagaikan “memburu mutiara dari timur”, orangorang Eropa berusaha datang ke Kepulauan Nusantara untuk mendapatkan rempah-rempah. Namun dalam konteks penemuan dunia baru itu kemudian tidak hanya Kepulauan Nusantara saja tetapi juga daerah-daerah lain yang ditemukan orang-orang Eropa pada periode penjelajahan samudra, misalnya Amerika, dan daerah-daerah lain di Asia.

Memahami Contoh Kalimat Tunggal dan Majemuk

Memahami Contoh Kalimat Tunggal dan Majemuk

Memahami Contoh Kalimat Tunggal dan  Majemuk

Kalimat Tunggal dan Majemuk
Kalimat Tunggal dan Majemuk

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Cermatilah kalimat berikut! Kuli-kuli itu sedang membangun jembatan yang rusak.

Kalimat Tunggal dan Majemuk – Frasa kuli-kuli itu menduduki fungsi sebagai subjek (S), frasa sedang membangun menduduki fungsi sebagai predikat (P), sedangkan jembatan yang rusak menduduki fungsi sebagai objek (O). Kalimat tersebut terdiri atas satu pola kalimat, yaitu S-P-O. Kalimat yang hanya mengandung satu pola kalimat dan ditandai dengan adanya unsur inti predikat (P) disebut juga kalimat yang hanya mengandung satu klausa. Jika klausa itu dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, klausa tersebut disebut klausa bebas. Kalimat yang hanya mengandung satu pola kalimat dan ditandai dengan adanya satu klausa bebas seperti contoh di atas disebut kalimat tunggal. Pada kalimat tunggal, pola kalimat dapat berbentuk: a. KB + KK : Orang itu meminta-minta. b. KB + KS : Harganya mahal. c. KB + KB : Gajah itu binatang. Selanjutnya, contoh kalimat di atas dapat kita bandingkan dengan kalimat berikut. Dia mengambil kunci itu, kemudian memasukkannya di lubang pintu. Dia pada kalimat di atas menduduki fungsi subjek (S); mengambil menduduki fungsi predikat (P), sedangkan kunci itu menduduki fungsi objek (O); kemudian pada kalimat tersebut berfungsi sebagai kata penghubung; memasukkannya menduduki fungsi predikat (P); sedangkan di lubang pintu menduduki fungsi keterangan tempat (K). Jika digambarkan, kalimat tersebut berpola sebagai berikut. Dia / mengambil / kunci itu, / kemudian / memasukkannya / di lubang pintu. S P O P K Berdasarkan bagan tersebut, pola kalimat itu mengandung dua klausa, yakni (1) Dia mengambil kunci itu (satu klausa); (2) Dia memasukkannya (kunci itu) di lubang pintu (satu klausa). Kalimat yang mengandung dua klausa seperti contoh itu disebut kalimat majemuk. Dengan demikian, kalimat majemuk memiliki ciri sebagai berikut: a. terdiri atas dua pola kalimat atau lebih; b. ditinjau dari jumlah klausanya, terdiri atas dua klausa atau lebih, baik berupa klausa bebas maupun klausa bebas dan terikat; c. biasanya ditandai dengan penggunaan kata penghubung, seperti kemudian, dan, lalu, tetapi, sedangkan, dan ketika.

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Bacalah penggalan wacana berikut, kemudian kerjakan soal-soal yang ada di bawahnya! Ulama berperan besar dalam pembangunan. Keberhasilan pembangunan masyarakat Jawa Barat, banyak didukung tingkat partisipasi ulama. Asumsi ini sekaligus merupakan penolakan terhadap adanya sikap pembagian anggota masyarakat yang kurang menunjukkan dukungannya terhadap partisipasi ulama dalam mekanisme sosial, budaya, politik, maupun ekonomi. Dalam pembangunan, peran ulama tidak dapat diabaikan. ”Alasan apa pun, ulama sangat diperlukan, seperti pentingnya peran umara (pemimpin pemerintahan) bagi kelangsungan hidup suatu bangsa,” kata Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana dalam sambutan acara silaturahmi ”Mengukuhkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta Meningkatkan Peran Aktif para Ulama, Zu’ama dan Cendekiawan Muslim dalam Mewujudkan Amanat Reformasi” di Bale Pusdai Jawa Barat Rabu kemarin. Menurut Nuriana, banyak masalah yang dihadapi masyarakat. Masalah tersebut penyelesaiannya terbantu oleh suara dan keputusan ulama. Kini masyarakat Indonesia sedang menempuh berbagai perkembangan dan perubahan yang sulit diantisipasi. Peran ulama penting sekali. Berbagai persoalan sosial keagamaan yang muncul, pada gilirannya akan sangat bergantung pada kehadiran ulama. Sumber: Pikiran Rakyat, 15 Agustus 2002 1. Tuliskan kalimat tunggal yang terdapat dalam wacana tersebut! 2. Mengapa kalimat itu disebut kalimat tunggal? Kemukakan ciri kalimat tunggal yang tampak pada kalimat yang kalian kutip! 3. Tuliskan pula kalimat majemuk yang terdapat pada penggalan wacana itu! 4. Mengapa kalimat itu disebut kalimat majemuk? Kemukakan ciri kalimat majemuk yang tampak pada kalimat tersebut! 5. Jenis kalimat majemuk apa yang kalian tuliskan itu?

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Rangkuman

Kalian harus benar-benar memahami isi cerita rakyat, dan menemukan unsur penokohannya. Penokohan dalam cerita rakyat terkait dengan pesan moral dan pesan pendidikan. Tidak setiap artikel atau informasi yang terdapat di media massa isinya kita setuju, bisa saja tidak setuju. Oleh karena itu, kalian harus belajar cara mendukung atau menolak informasi tersebut. Untuk lebih gampang menemukan informasi pada buku atau teks, kalian harus merangkum isi buku tersebut.

Refleksi

Cerita rakyat merupakan bagian dari sejarah sastra, dan cerita rakyat pun memiliki nilai budaya, moral, dan pendidikan yang perlu dijadikan cermin dalam kehidupan. Hal terpenting dari cerita rakyat adalah memahami penokohannya sebab dari karakter tokoh terlihat unsur moralnya. Kalian pun harus mampu menyikapi terhadap isi artikel berupa dukungan atau penolakan karena tidak semua kita setuju terhadap isi berita. Untuk mencari hal-hal yang informatif dari berita maka kita harus merangkum hal yang penting dengan teknik membaca memindai. Waktu menambah keterampilan menulis, kalian belajar menulis karya jurnalistik. Hasil wawancara dapat kalian buat dalam sebuah paragraf dalam bahasa yang baik dan benar.

Kalimat Tunggal dan Majemuk – Soal-Soal Pengembangan Kompetensi

1. Bacalah cerita rakyat berikut, kemudian temukan hal menarik tentang tokoh yang ada di dalamnya!

Legenda Pelengkung Madyasura Di Keraton Yogyakarta terdapat lima pintu gerbang. Akan tetapi, berbeda dari pintu gerbang biasanya, daun-daun pintu itu sudah tidak ada bekasnya. Yang tinggal hanyalah pelengkung yang cukup tebal. Pintu-pintu gerbang itu terletak di sebelah barat keraton dengan nama Pelengkung Jagabaya, disebut juga Pelengkung Taman Sari. Di sebelah selatan keraton, pintu gerbangnya disebut Pelengkung Nirbaya atau Pelengkung Gading. Yang terletak di sebelah timur laut keraton tersebut Pelengkung Wijilan, sedangkan yang terletak di sebelah barat laut disebut Pelengkung Jaga Sira atau Ngasem. Masih ada satu lagi pintu gerbang, terletak di sebelah utara, disebut Pelengkung Madyasura. Berbeda dari pelengkung-pelengkung lainnya, pelengkung ini tertutup. Menurut sejarahnya, setiap pelengkung dilengkapi dengan jembatan sebab di sekeliling benteng keraton ada selokan yang cukup dalam. Adapun guna selokan itu untuk menahan serangan musuh. Kita masih ingat, Keraton Yogyakarta dibangun sesudah Perjanjian Gianti disepakati antara Pangeran Mangkubumi dan VOC. Walaupun suasana damai sudah dirasakan, Pangeran Mangkubumi masih was-was. Jangan-jangan, Belanda masih berkeinginan menganggu. Apalagi, pada tahun-tahun itu, prajurit Inggris di bawah pimpinan Raffles datang pula di Pulau Jawa. Ada sesuatu yang menarik perhatian mengapa Pelengkung Madyasura ditutup. Penduduk yang tinggal di sekitar pelengkung.

itu dapat menceritakan suatu kisah yang menjelaskan sebabsebabnya. Menurut mereka, Pelengkung Madyasura pernah dilalui oleh pasukan Inggris yang datang menyerbu keraton. Sebenarnya, serbuan itu datang atas undangan Adipati Anom, yang sudah disiapkan sebagai putra mahkota. Ini tentu saja aneh sekali. Namun, ada suatu alasan yang membuat putra mahkota bertindak seperti itu. Ia merasa kurang senang dengan ayahnya, Hamengku Buwono II, yang tampak begitu menaruh perhatian kepada Pangeran Mangkudiningrat, salah seorang putranya yang lain dari selir. Beberapa kali, Adipati Anom mencoba memberikan peringatan kepada sang Ayah, tetapi tidak mendapatkan tanggapan yang memuaskan. Untuk memaksa agar apa yang diinginkannya terlaksana, ia mengundang pasukan Inggris masuk. Akibatnya, Hamengku Buwono II terdesak dan diasingkan ke Ambon. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, beliau dikembalikan lagi ke keraton dan takhtanya dipulihkan. Untuk melupakan peristiwa yang menyedihkan itu, Sultan memerintahkan menutup Pelengkung Madyasura dengan semen sehingga tidak tampak bahwa tembok itu pada mulanya adalah pintu gerbang.

Di samping cerita di atas, ada pula cerita lainnya yang juga menarik. Seorang yang sudah cukup lanjut usianya bercerita bahwa Pelengkung Madyasura pernah disebut angker. Dikatakannya, setiap sore dari pelengkung yang sudah ditutup itu terdengar teriakan-teriakan minta tolong, ”Biyung …, tulung …”, yang artinya, ”Ibu …, tolong …”. Semenjak itu, muncullah nama baru untuk sejenis makhluk halus ialah Biyung Tulung. Oleh suatu sumber dikatakan, Biyung Tulung itu muncul dalam percakapan penduduk Yogyakarta pada tahun 1920-an. Di Surakarta, istilah Biyung Tulung muncul pada saat Tentara Pelajar sedang giat-giatnya bergerilya melawan Belanda pada tahun 1948–1949. Akan tetapi, apakah yang sebenarnya terjadi di Pelengkung Madyasura menurut mereka? Dikatakan oleh suatu sumber bahwa nun di kala itu, hiduplah seorang pemuda bernama Kartipeya. Ia berwajah tampan, tetapi suka mengganggu perempuan, khususnya mereka yang masih perawan. Orang tua yang mempunyai gadis cemas, jangan-jangan anak mereka tergaet oleh Kartipeya yang memang lihai dalam hal bujuk rayu. Beberapa usaha dilakukan oleh penduduk setempat untuk menanggulangi perbuatan pemuda kurang ajar itu, antara lain dengan mengundang seorang kiai yang dimohon mengajarkan agama kepada para perawan agar tetap beriman, tetapi usaha itu tidak banyak hasilnya. Hampir setiap hari, selalu ada berita bahwa Kartipeya berhasil menggaet seorang perawan. Atas dorongan salah seorang tetua di wilayah itu, dilakukanlah semacam penyelidikan mengapa Kartipeya begitu ”sakti”. Dari penyelidikan orang-orang kampung diperoleh keterangan bahwa setiap Kamis malam, Kartipeya selalu pergi ke hutan Krendhowahono. Di mana letak hutan itu, penduduk yang tinggal di sekitar Pelengkung Madyasura tidak dapat menjelaskannya. Yang jelas, di hutan itu Kartipeya bertemu dengan Batari Durga, lazim disebut Dewi Uma. Menurut keterangan, menjelang pukul tiga pagi sebelum ayam jantan berkokok, Dewi Uma muncul dari dunia gaib, menampakkan diri, dan mendekati Kartipeya yang tengah semadi. Uma, membangunkannya dan bertanya apa yang diinginkannya. Pemuda tampan itu selalu menjawab dengan kata-kata yang sama ialah ingin digandrungi perawan-perawan di kampung atau di desa mana saja yang didatanginya.

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Mendengar permintaan itu, Uma tersenyum dan menjawab bahwa permintaannya akan dikabulkan, asalkan ia tidak berbuat mesum di bawah Pelengkung Madyasura. Kartipeya menyanggupinya. Batari Durga segera membuka lengannya lalu mencabut satu helai bulu ketiaknya dan memberikannya kepada pemuda itu sambil berpesan seperti biasanya bahwa ia harus membungkusnya dengan kain putih. Dipesankan juga bahwa jika ia melanggar ketentuan yang dikatakannya, ia akan mendapat malu atau mungkin malahan tewas. Di samping itu, dipesan pula seperti biasanya bahwa benda itu hanya dapat bertahan selama tujuh hari di tangannya. Di luar itu, jika Kartipeya memerlukan lagi, ia harus datang ke tempat yang sama dan memohon dengan cara yang sama pula. Tatkala informasi ini disampaikan kepada tetua di kampung itu, segeralah tetua itu menghubungi seorang sakti yang dikenal dengan nama Kiai Wirong Sardula, yang kemudian bersedia mengakhiri kegelisahan orang-orang di kampung itu. Diajukanlah syarat, jika Kartipeya terjebak, cukuplah dibuat malu. Jangankan dibunuh, dilukai pun tidak diperkenankan. Sesudah tetua itu menyatakan kesanggupannya memegang janji, Kiai Wirong Sardula segera memberikan tiga batang lidi enau yang harus diletakkan di bawah Pelengkung Madyasura. Hari berikutnya, di kampung itu terdengar berita bahwa Kartipeya menaruh perhatian kepada Rara Sukresthi, salah seorang perawan yang dikenal sangat molek dan elok wajahnya. Ini artinya, pada malam nanti, di kampung itu pasti terjadi sesuatu. Oleh karena itu, selepas magrib, tetua itu segera meletakkan tiga buah lidi pemberian Kiai Wirong dengan harapan Kartipeya akan lupa pesan Dewi Uma dan melanggar pantangannya. Jelasnya, lidi itu akan bertenaga menarik Kartipeya masuk ke bawah Pelengkung Madyasura yang seharusnya dihindari. Beberapa orang pemuda diminta bersiapsiap tidak jauh dari pelengkung itu. Tujuannya, jika Kartipeya masuk ke bawah pelengkung, mereka akan berteriak-teriak.

Apa yang kemudian terjadi sesuai dengan rencana. Menjelang tengah malam, Kartipeya menggelandang Sukresthi masuk ke bawah Pelengkung Madyasura. Begitu kaki Kartipeya menginjak tanah Pelengkung Madyasura, ia berteriak keraskeras. Ia mengira, tiga buah lidi itu tiga ekor ular. Bersamaan dengan itu, muncullah pemuda-pemuda sambil membawa obor serta berteriak-teriak. Akan tetapi, ternyata tidak hanya demikian. Salah seorang pemuda yang juga menaruh hati pada Sukresthi membakar Kartipeya dan pemuda lainnya melempari dengan batu. Bahkan lebih ganas lagi, mereka menyerbu dan memukul pemuda tampan dengan pentungan dan senjata tumpul lainnya. Kartipeya takut kalau Sukresthi ikut terluka, ia mencoba melindunginya dengan cara mendekapnya. Akan tetapi, pemuda yang menaruh hati pada perawan itu semakin panas, cemburu, dan marah. Ia mengacungkan tangannya dan memberikan perintah agar mereka dikubur hidup-hidup. Sejak saat itu, Pelengkung Madyasura tertutup. Itulah sebabnya pada tahuntahun yang silam, terdengar suara mengadu, ”Biyung … tulung”, ”Ibu … tolong”. Menurut mereka, itulah suara penyesalan Kartipeya. Sumber: Cerita Rakyat dari Yogyakarta, Bakdi Soemanto

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Memahami Struktur dan Ciri Kebahasaan

Memahami Struktur dan Ciri Kebahasaan

Memahami Struktur dan Ciri Kebahasaan

Struktur dan Ciri Kebahasaan – Silahkan kalian baca teks “Sejarah Hari Buruh” Setelah kalian membaca teks “Sejarah Hari Buruh” tersebut, cobalah kalian diskusikan beberapa hal berikut. (1) Menurut kalian, berapa lama sebenarnya jam kerja yang pantas bagi seseorang dalam sehari? (2) Apakah ada undang-undang yang mengatur jam kerja di Indonesia? (3) Dalam Kepmen No. 102 Tahun 2004 disebutkan waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari dan 40 jam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu atau 8 jam sehari dan 40 jam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan pemerintah. Apakah kalian setuju dengan adanya waktu kerja lembur tersebut? (4) Pantaskah orang yang bekerja lembur mendapatkan upah lebih? (5) Banyak pendapat yang mengatakan bahwa orang yang kerja berlebihan rentan terkena serangan jantung. Hal ini bisa dikatakan sebagai risiko dari kerja yang berlebihan. Lalu, apa lagi bentuk risiko lain yang kalian ketahui?

Struktur dan Ciri Kebahasaan
Struktur dan Ciri Kebahasaan

Struktur dan Ciri Kebahasaan

Tugas 1

Memahami Struktur dan Ciri Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

(1) Pada Tugas 1 ini kalian diminta menggali informasi sebanyak-banyaknya yang terdapat dalam tiap paragraf sehingga kalian akan memahami bagaimana struktur teks cerita sejarah itu dibangun. Tugas kalian adalah mengumpulkan informasi yang dapat mengidentifikasi siapa dan apa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Selain itu, kalian juga harus mengumpulkan informasi tentang kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana peristiwa itu terjadi, seperti yang dicetak miring berikut. Perhatikan secara saksama informasi yang disuguhkan setiap paragraf pada teks “Sejarah Hari Buruh”!

Struktur dan Ciri Kebahasaan

(2) Periodisasi dalam penyusunan peristiwa sejarah sangat penting, sebab peristiwa sejarah itu berlangsung dalam waktu yang panjang dan cenderung berkesinambungan, tidak terputus dalam satu periodisasi saja. Dengan membagi kurun waktu peristiwa sejarah menjadi pembabakan, cerita sejarah yang kalian susun akan mudah dipahami dan dipelajari oleh pembaca. Periodisasi sejarah bisa kalian lakukan dengan cara membagi dan memilah berbagai kejadian dalam sebuah batasan waktu tertentu.

Penyusunan periode sejarah ini harus kalian lakukan secara kronologis, sesuai dengan urutan waktu dari peristiwa sejarah tersebut. Setiap peristiwa yang terjadi dapat kalian klasifikasikan berdasarkan jenis dan bentuknya. Lalu, peristiwa yang telah diklasifikasikan itu disusun secara runut berdasarkan waktu kejadian, disusun dari masa yang paling awal hingga masa yang paling akhir. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar peristiwa sejarah yang disusun tidak melompat-lompat atau bahkan berbalik urutan waktunya, sehingga akan menimbulkan kerancuan. Tentu saja kerancuan akan memicu sebuah pemahaman yang keliru tentang fakta sejarah dan harus dihindari.

(3) Urutan penyajian informasi dalam paragraf yang baik mengikuti tata urutan tertentu. Dalam penyajian informasi ini, terdapat beberapa model urutan, antara lain urutan waktu, urutan tempat, urutan umum-khusus, urutan khusus-umum, urutan pertanyaan-jawaban, dan urutan sebabakibat. Semua model ini akan memberikan informasi secara runtut. Prinsip keruntutan pada dasarnya menyajikan informasi secara urut, tidak melompat-lompat sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran penulis.

Struktur dan Ciri Kebahasaan – Dalam pola urutan yang berdimensi waktu, informasi disajikan secara kronologis, mulai dari yang paling awal hingga yang paling akhir terjadi. Meskipun demikian, dengan pola urutan waktu ini, penulis bisa saja menerapkan cara penyajian kilas balik (flashback) yaitu dengan memulai apa yang paling akhir terjadi, kemudian meloncat ke kejadian paling awal dan berikutnya secara berurut.

Setelah kalian membaca teks “Sejarah Hari Buruh”, jawablah pertanyaan berikut ini. (a) Apakah penyajian informasi dalam teks tersebut berdasarkan urutan yang berdimensi waktu dimulai dari awal hingga yang paling akhir terjadi atau kilas balik? (b) Buatlah kelompok yang terdiri dari 3-5 orang. (c) Diskusikanlah keruntutan peristiwa sebagai informasi yang disajikan dalam teks cerita ulang mengenai Hari Buruh tersebut. (d) Carilah kata yang bisa menjadi penanda keruntutan peristiwa dalam pola urutan yang berdimensi waktu pada tiap paragraf yang ada. (e) Tuliskan penanda waktu yang kalian temukan, lalu bandingkan jawaban kalian dengan kelompok lain.

(4) Sebuah teks pasti memiliki strukturnya sendiri. Begitu pula halnya teks “Sejarah Hari Buruh” di atas. Marilah kita uraikan struktur yang membangun teks cerita sejarah tersebut.

Struktur dan Ciri Kebahasaan – Setelah kalian melihat, mempelajari, serta mencermati teks “Sejarah Hari Buruh” tersebut, kalian diharapkan sudah mendapatkan gambaran bagaimana sebuah teks cerita sejarah itu dibangun. Untuk lebih jelasnya, marilah kita pelajari dengan saksama bagian yang membangun teks “Sejarah hari Buruh” itu.

Dengan menggunakan skema sruktur, urutan tahapan dalam teks bisa diperkirakan. Setiap genre yang ada dapat diidentifikasikan urutan elemen strukturnya, baik yang wajib maupun pilihan pada tiap tahapan. Pada teks cerita sejarah ini, terdapat tiga tahapan. Tahapan pertama, orientasi. Tahap pertama ini memberikan informasi tentang situasi cerita sejarah yang diangkat dalam teks. Seperti pada teks “Sejarah Hari Buruh” di atas. Pada tahap orientasi yang berada pada paragraf pertama, kalian bisa melihat latar belakang muculnya Hari Buruh, waktu peringatannya, tujuan diperingatinya, serta beberapa hal mengenai Hari Buruh tersebut secara umum. Tahap berikutnya adalah urutan peristiwa sejarah.

Tahap ini terdiri dari beberapa paragraf yang menyediakan rekaman peristiwa berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa sejarah tersebut. Maka, dalam menggali informasi pada tahap kedua ini, kalian harus melihat rekaman waktu terjadinya peristiwa. Tahap selanjutnya adalah reorientasi. Tahap ini bertujuan untuk menghadirkan kembali peristiwa sejarah tersebut pada masa kini. Dalam teks model yang telah kalian baca itu, kalian dapat melihat bagian yang membangun teks.

Teks tersebut diawali oleh orientasi yang memberi gambaran umum tentang Hari Buruh. Bagian berikutnya terlihat rentetan peristiwa yang melatarbelakangi terbentuknya Hari Buruh itu. Bagian akhir teks ditutup dengan reorientasi. Bagian ini memberi penekanan yang menginformasikan penetapan konvensi berkaitan degan tuntutan para buruh sehingga terbentuknya Hari Buruh tersebut. Dengan demikian, struktur yang membangun sebuah teks cerita sejarah adalah orientasi^urutan peristiwa^reorientasi. Reorientasi merupakan tahapan yang berupa pilihan, yang bisa saja tidak muncul dalam sebuah teks cerita sejarah. Setelah mempelajari teks cerita sejarah di muka, kalian pasti sudah bisa menyimpulkan struktur yang membangunnya. Lengkapilah bagan berikut yang menunjukkan struktur sebuah teks cerita sejarah.

(5) Selain struktur teks cerita sejarah yang kalian pahami, sekarang kalian harus mengenal ciri kebahasaan dalam sebuah teks cerita sejarah. Ciri kebahasaan yang digunakan dalam penceritaan peristiwa sejarah ini menggunakan nomina yang dapat mengidentifikasi siapa dan apa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Selain itu, teks cerita sejarah ini juga kerap menggunakan kelompok kata yang dapat menggambarkan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa sejarah tersebut dengan lebih rinci. Berbicara tentang sejarah berarti memperbincangkan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dalam teks ini peristiwa yang diceritakan dilengkapi dengan waktu kejadiannya. Oleh sebab itu, kata yang menunjukkan urutan peristiwa serta adverbia waktu lampau sangat diperlukan dengan menggunakan konjungsi temporal. Sebuah teks sejarah juga kerap menggunakan nomina yang telah melalui proses nominalisasi.

Struktur dan Ciri Kebahasaan

(a) Dalam teks “Sejarah Hari Buruh”, kalian akan menjumpai beberapa kelompok kata, seperti kelompok nomina dan verba. Terdapat tiga jenis kelompok nomina. Pertama kelompok nomina modifikatif (mewatasi), misalnya; rumah besar, dua botol, ruang makan, dan lain-lain. Kedua, kelompok nomina koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya; lahir batin, sandang pangan, sarana prasarana, hak dan kewajiban, adil dan makmur, dan sebagainya. Ketiga, kelompok nomina apositif, sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan, misalnya; Sinta, teman sekelasku, pergi berlibur ke Bali. Sama halnya dengan kelompok nomina, kelompok kata verba juga terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kelompok verba modifikatif, kelompok verba koordinatif, dan kelompok verba apositif. Agar kalian menjadi semakin jelas, perhatikan dengan saksama teks “Sejarah Hari Buruh” di muka. Temukan lima kelompok nomina dan lima kelompok verba dalam teks tersebut.

Kelompok kata merupakan gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif. Artinya, di antara kedua kata itu tidak ada yang berkedudukan sebagai predikat dan hanya memiliki satu makna gramatikal. Dalam teks model yang kalian pelajari, kalian menjumpai beberapa kelompok kata, seperti kelompok nomina dan verba. Kelompok nomina dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda. Terdapat tiga jenis kelompok nomina, yaitu kelompok kata nomina modifikatif (mewatasi), kelompok nomina koordinatif (tidak saling menerangkan), yang terdiri atas unsur nominal yang setara dan dapat disisipi dan dan atau, dan kelompok nomina apositif. Seperti kelompok nomina, kelompok verba juga terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kelompok verba modifikatif, kelompok verba koordinatif, dan kelompok verba apositif.

(b) Untuk menguraikan urutan peristiwa dalam sebuah teks cerita sejarah, kalian akan menemukan kata yang menginformasikan peristiwa, waktu, dan tempat. Pada tugas sebelumnya, kalian sudah mendiskusikan penanda keruntutan peristiwa dalam pola urutan yang berdimensi waktu pada tiap paragraf yang ada. Tugas kalian berikutnya adalah mencari penanda lain yang menunjukkan nama peristiwa dan tempat kejadiannya.

(c) Dalam membuat sebuah teks cerita sejarah, kalian bisa menggunakan konjungsi (kata sambung) temporal agar urutan peristiwa dapat tertata secara kronologis. Konjungsi temporal merupakan konjungsi yang mengacu pada waktu dan sekaligus sebagai sarana kohesi teks. Teks yang berkohesi itu penting kalian perhatikan agar keserasian setiap unsur yang disambungkan tetap terjaga, sehingga tercipta susunan kata yang indah dan mudah dipahami. Konjungsi temporal yang menghubungkan dua hal atau peristiwa, terdiri dari dua bagian, yaitu konjungsi temporal yang menghubungkan dua peristiwa yang tidak sederajat (misalnya apabila, bila, bilamana, demi, hingga, ketika, sambil, sebelum, sampai, sedari, sejak, selama, semenjak, sementara, seraya, waktu, setelah, sesudah, tatkala, dan sebagainya) dan konjungsi temporal yang menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat (misalnya sebelumnya dan sesudahnya).

(d) Nominalisasi, sebagai suatu proses pembentukan nomina dari kelas kata yang lain dengan menggunakan afiks tertentu, kerap terjadi pada bahasa yang digunakan untuk menjelaskan isi penceritaan ulang. Pada teks cerita sejarah sebagai satu bentuk penceritaan ulang juga sering ditemukan nominalisasi ini.