Cara Menyimpulkan Informasi dari Tuturan Langsung

Cara Menyimpulkan Informasi dari Tuturan Langsung

Cara Menyimpulkan Informasi dari Tuturan Langsung

Cara Menyimpulkan Informasi
Cara Menyimpulkan Informasi

Cara Menyimpulkan Informasi

Cara Menyimpulkan Informasi – Anda pernah mendengarkan bagaimana celoteh riangnya Indy Barends, bukan? Ya, sekarang secara langsung akan Anda dengarkan temanmu bertutur tentang Indy Barends. Tutuplah buku Anda!

Indy Barends Berupaya Menjadi Manusia Baru

Cara Menyimpulkan Informasi – Namanya pertama kali dikenal oleh masyarakat sebagai seorang penyiar radio di salah satu radio swasta di Jakarta. Dari sinilah, bintang terang Indy Barends mulai bersinar dan memberikan cahaya pada dunia hiburan Indonesia. Namun, siapa sangka awalnya menjadi penyiar adalah bukan pilihan hidupnya. “Dulu, aku itu benci setengah mati jika mendengarkan orang siaran. Aku pikir orang aneh aja yang kerjaannya bicara sendiri ngalor-ngidul, ketawa-ketawa, lalu masukin lagu, setelah itu iklan,” ujar Indy yang pertama kali bergabung dengan Hard Rock FM sebagai tenaga marketing ini.

Cara Menyimpulkan Informasi – Talentanya yang besar sebagai seorang penghibur membutuhkan ruang untuk berkembang. Bertepatan dengan itu Indosiar membutuhkan seorang presenter untuk sebuah acara keluarga. Indy dipercaya menjadi host untuk acara tersebut setelah melalui tahap seleksi. Acara yang bertajuk Talk Life ini dipandu Indy Barends selama lima tahun, dan menghasilkan Panasonic Awards sebagai pembawa acara bincangbincang wanita terbaik baginya. Belajar dari yang dilakukan, itulah hal yang selalu dilakukan ibu muda ini agar bisa dan mampu bertahan di dunianya. Kecepatannya beradaptasi dengan atmosfer dunia entertainment tidak lepas dari dukungan teman yang sekaligus gurunya. Kesuksesannya menggantikan posisi Sarah Sechan sebagai penyiar di Hard Rock berkat bimbingan Erwin Parengkuan, pasangan siarnya. Begitu pun menjadi presenter, Indy tidak pernah bisa melupakan jasa almarhum Indra Safera. “Indra adalah motor terbaik dan saya beruntung pernah belajar darinya,” ungkap Indy yang juga mengajar Public Speaking ini menjelaskan. (Sumber: Media Halo, edisi Desember 2004)

Latihan

Jawablah soal-soal berikut ini! 1. Sebutkan tokoh yang dibicarakan pada wacana di atas! 2. Ceritakan tentang talenta yang dimiliki tokoh yang dibicarakan dalam teks di atas! 3. Temukanlah kata-kata sulit yang ada dalam teks tersebut, lalu carilah artinya dalam kamus!

4. Tunjukkanlah, lalu sebutkan fakta tentang Indy Barends yang terdapat pada teks tersebut! 5. Bagaimana pandangan/pendapat Indy Barends terhadap profesi penyiar radio sebelum ia terjun menjadi penyiar? Jelaskan!

Menanggapi Informasi 

Cara Menyimpulkan Informasi – Anda bisa memeroleh beragam informasi dari bermacam-macam media, baik elektronik maupun cetak. Apabila Anda mendengar berita melalui siaran televisi atau radio, ataupun membaca sebuah berita/artikel dalam surat kabar, cobalah cermati isi berita itu. Anda mungkin saja ingin mengkritisi informasi tersebut. Apabila kita terdorong untuk mengkritisi informasi dari media cetak dan elektonik, sebaiknyalah kita melakukannya dengan cara dan bahasa yang baik serta santun. Jangan sampai ada yang tersinggung atau salah paham hanya karena gaya kita menyampaikan kritik kurang simpatik. Selain itu, kita juga harus mempunyai bukti atau fakta pendukung dan alasan yang logis sehingga kritikan kita itu menjadi suatu pendorong untuk memperluas wawasan (kritik membangun). Anda (pemberi informasi) bisa saja tidak setuju dengan opini itu, tetapi ketidaksetujuan Anda itu harus didukung oleh fakta yang kebenarannya dapat dibuktikan.

Contoh Indy Barends mendapatkan penghargaan Panasonic Award setelah ia meniti kariernya selama lima tahun. (fakta) Kecepatan Indy Barend beradaptasi dengan atmosfer dunia entertainment juga tidak terlepas dari dukungan teman-temannya. (opini)

Berilah kritikan Anda terhadap pernyataan di bawah ini dengan mengungkapkan fakta pendukung kritikan Anda. Ungkapkanlah dalam bahasa yang lugas, tegas, dan pilihan kata yang tepat! 1. Petani berhak mendapat harga jual gabah yang besar. 2. Pemerintah lebih baik memusatkan pembangunan pada bidang pertanian sesuai dengan keadaan negara kita yang agraris. Latihan 2 3. Penyemprotan pestisida pada tanaman sayuran dan buah-buahan perlu dilakukan karena dapat menghindari hama dan gulma. 4. Masyarakat desa boleh membunuh babi hutan yang telah merusak perkebunan mereka. 5. Sebelum masa panen tiba, ada kalanya petani menjual hasil pertaniannya kepada lintah darat.

Membaca Memindai Buku Berindeks

Cara Menyimpulkan Informasi – Membaca memindai adalah membaca selayang pandang untuk menemukan informasi yang Anda cari. Membaca memindai dilakukan ketika membaca buku berindeks, seperti kamus, buku telepon, atau eksiklopedi. Buku tersebut disusun secara alfabetis berdasarkan urutan abjad dan di dalamnya selalu terdapat indeks atau petunjuk agar pembaca dengan mudah menemukan informasi yang dicarinya.

Sebagai gambaran, apabila Anda membuka salah satu halaman kamus, Anda akan menemukan kata yang terletak pada sudut kiri atau kanan atas. Kata yang terletak pada sudut kiri atas merupakan kata pertama yang diuraikan pada halaman tersebut. Kata yang terletak pada sudut kanan atas merupakan kata terakhir yang diuraikan pada halaman tersebut. Hal tersebut juga berlaku dalam mencari informasi pada buku telepon dan buku lain yang berindeks. Buku yang baik dan memenuhi standar adalah buku yang menyertakan indeks di dalamnya. Indeks dalam sebuah buku berisi kosakata-kosakata penting atau kata-kata kunci beserta lokasi/halaman di mana kosakata tersebut berada dalam buku. Indeks biasanya ditempatkan di bagian akhir buku sebelum daftar pustaka. Indeks berguna untuk menelusuri informasi spesifik dalam sebuah buku, misalnya informasi mengenai sebuah teori berikut pencetusnya.

Sebagai latihan, Anda perlu membaca buku/teks berindeks dengan cara membaca memindai. Berikut dijelaskan tentang cara menggunakan indeks dalam mencari suatu informasi. Perhatikan daftar indeks di samping! Bagaimana cara membaca dan memahami penggunaan daftar indeks tersebut? Kata Abiogenesis, terdapat pada halaman 2. Pada halaman tercantum: “Teori Abiogenesis = Generatio Spontanea. Teori ini dikemukakan oleh Aristoteles, (bangsa Yunani). Isi teori: Makhluk hidup berasal dari benda mati yang terbentuk secata spontan.” Kata Basidium ditemukan pada halaman 130. Di sana tertulis “Basidomycetes bereproduksi dengan komidia dan sporadium yang dibuat oleh Basidium”. Kata Cambium ada pada halaman 46. Pada halaman tersebut tertulis: “Bila antara xylem dan phloem terdapat jaringan meristematis yang disebut cambium, maka ikatan pembuluh tersebut disebut ikatan pembuluh terbuka”. Pada halaman 10 ada istilah difusi. Istilah ini terdapat pada kalimat: “Difusi adalah perpindahan partikel zat padat atau gas dari hyper ke hypo”.

Jawablah soal-soal di bawah ini dan tulis pada lembar kerja Anda! 1. Jelaskan cara membaca teks berindeks dan sebutkan manfaatnya bagi pembaca! 2. Bacalah sebuah buku berindeks! 3. Bacalah informasi yang terdapat pada halaman yang dirujuk pada daftar indeks! Latihan 3 Cerpen adalah karangan pendek yang pada umumnya mengisahkan masalah yang sederhana dan menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh secara singkat. Unsur-unsur cerpen terdiri atas dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstinsik. Unsur Intrinsik 1. Tema, adalah gagasan yang menjalin struktur iai cerita. 2. Alur (plot), merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat. 3. Latar atau setting, merupakan tampat, waktu, dan suasana yang digunakan dalam suatu cerita. 4. Penokohan, adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Abiogenesis, 2 Basidium, 130 Cambium, 46 Difusi, 10 Fototropi, 125 Isolasi, 333 4. Tulislah isi informasi yang terdapat pada halaman yang dirujuk pada daftar indeks! 5. Rangkumlah isi informasi yang diperoleh dari halaman-halaman rujukan tersebut dalam beberapa kalimat!

5. Sudut pandang (point of view), adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita. 6. Amanat, merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya itu.

Unsur Ekstrinsik 1. Latar belakang pengarang, seperti pendidikan, kondisi keluarga, jenis kelamin, usia, dan sebagainya. 2. Waktu dan tempat penulisan karya cerpen tersebut. Kali ini kita akan memainkan peran sebagai cerpenis dengan cara mengingatingat kejadian yang kita alami. Kita dapat menyusun pertanyaan yang sebenarnya akan dijawab oleh kita sendiri. Misalnya, yang akan menulis cerpen bernama Andini dan pengalaman hidupnya. Misalnya, menceritakan pengalamannya (pertemanannya) dengan Rangga dan Sinta.

Berikut ini contoh cerpen yang diambil dari surat kabar.

Akhir dari Sebuah Awal Yuniskha Tri Adona

Sudahlah, aku sudah capek. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku sudah lelah dengan hidup ini. Aku ingin mengakhiri hidup ini untuk selamanya. Rumahku selalu ramai oleh pertengkaran ayah dan ibuku. Kuliahku berantakan. Teman-temanku membenciku. Mereka bilang aku adalah anak yang sombong.

Saudara-saudara ayah dan ibuku tak mau tahu tentang mereka. Rumahku seperti neraka bagiku. Kampus seperti neraka bagiku. Dunia adalah neraka bagiku. Sudahlah, aku sudah capek nilai semesterku jeblok. Aku dimarahi orang tuaku lagi. Tinggal dua hari lagi aku akan di drop-out dari kampus. Sudah begitu, jalanan macet lagi. Aku memandangi setir mobilku dengan pandangan kosong. Tiba-tiba ada yang menyapaku. “Mbak, ngelamun aja. Ayamku aja ngelamun terus, besoknya mati lho Mbak…” Seorang tua, sepertinya sudah 50 tahunan. Dia mengendarai motor, tepat di samping mobilku. Mobil-mobil berseliweran di sampingnya dari arah berlawanan. Dia tersenyum kepadaku. “Macet ya Mbak, tapi nggak usah terlalu dipikirin, toh sampeyan adem-adem saja di dalam mobil. Lha saya ini pake sepeda motor, kepanasan, he he he…” Siapa orang tua ini, pikirku. Aku buka jendela mobilku dan aku balas senyumannya. “Mbak, gak usah dipaksakan senyumnya. Saya sudah tua, saya tahu persis batin seseorang hanya dari mukanya. Mbak kelihatan sedih, kenapa?” tanyanya tiba-tiba. “Ah, nggak kok Pak,” jawabku tekejut, kok dia tahu ya? “Iya nih Pak, aku lagi suntuk, rasanya mau mati aja,” jawabku. Pikirku, Iho kok malah curhat? “Lho, ngapain mati segala, ada masalah toh? Sampeyan kan masih muda, tenang aja Mbak, semua masalah ada jalan keluarnya kok,” jawabnya santai. “Masalahku udah sangat besar sekali Pak. Rasanya, aku sudah nggak kuat lagi. Sudah nggak ada jalan keluar lagi,” kataku sambil terisak-isak.

Selengkapnya Penulis adalah pelajar UNESA Sumber: www.jawapos.co.id/Senin, 26 Mei 2008

Materi Tentang Membaca Memindai Teks

Materi Tentang Membaca Memindai Teks

Materi Tentang Membaca Memindai Teks

Membaca Memindai Teks
Membaca Memindai Teks

Membaca Memindai Teks – Membaca Memindai Teks Kalian telah tahu bahwa untuk memahami isi suatu teks atau buku, kalian harus membaca secara saksama. Setelah membaca, kalian juga dapat membuat rangkuman atas teks atau buku tersebut. Untuk dapat merangkum teks atau buku, kalian harus menemukan pokok-pokok isi teks atau buku tersebut. Sebelum merangkum isi sebuah buku, bacalah dan temukan pokok-pokok isi teks berikut.

Membaca Memindai Teks

Penyakit Demam Berdarah Perlu Penanganan

Korban penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Lampung Timur (Lamtim) terus meningkat. Dari catatan dinas kesehatan setempat, selama periode Januari ini jumlah warga yang terserang penyakit itu bertambah 9 orang sehingga menjadi 22 orang dari sebelumnya 13 orang. Sedangkan periode Desember 2007 lalu, 7 warga positif terserang penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegepty tersebut. Sehingga selama periode Desember 2007–Januari 2008, warga Lamtim yang terserang DBD mencapai 30 orang. Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Sartono menjelaskan, untuk mengantisipasi penyebaran wabah DBD, pihaknya telah melakukan fogging focus (pengasapan) di lingkungan sekitar warga yang terserang. Selain itu, pihaknya juga telah mendistribusikan bubuk abate kepada warga melalui kader kesehatan yang ada di setiap desa. Kemudian, Diskes Lamtim telah menyiagakan 200 liter molation (bahan aktif untuk fogging focus) dan 125 kg bubuk abate serta 10 unit alat fogging.

Membaca Memindai Teks – Persoalannya, terang Sartono, hingga kemarin dana penanggulangan DBD yang dianggarkan melalui APBD 2008 belum turun. Sehingga, seluruh biaya operasional pencegahan DBD masih menggunakan dana talangan dari Dinas Kesehatan. ”Kalau menunggu dana cair, kami khawatir wabah DBD semakin meluas,” terangnya. Dalam kesempatan yang sama, Sartono menjelaskan dari hasil evaluasi wilayah Lamtim yang termasuk daerah endemik DBD tersebar di Kecamatan Sekampung, Batanghari, Pekalongan, Bandarsribawono, Sekampungudik, dan Wayjepara. Karenanya kepada masyarakat yang tinggal di daerah endemik, Sartono mengimbau segera melakukan upaya pencegahan penyebaran DBD. Upaya yang paling efektif adalah melalui kegiatan 3 M (menutup, mengubur, dan menguras) tempat-tempat yang potensial untuk perkembangbiakan nyamuk aedes aegepty. Sumber: Radar Lampung, 23 Januari 2008

Membaca Memindai Teks

1. Temukan pokok-pokok isi teks tersebut! 2. Buatlah rangkuman isi teks tersebut!

Menulis Hasil Wawancara

Dalam dunia jurnalistik, dikenal dengan rumus 5W + 1H, yaitu what (apa), who (siapa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). Sampai sekarang, rumus ini masih digunakan untuk menulis berita di koran, baik berupa berita yang masih hangat (hot news), berita kriminal (crime news), berita singkat (spotnews), dan karangan khas (feature). Misalnya, seorang wartawan yang sedang meliput kejadian pencurian di kompleks perumahan. Wartawan bertanya kepada Pak Agam, pemilik rumah yang dibobol pencuri. Wartawan : Pukul berapa, kejadiannya, Pak? Pak Agam : Kira-kira pukul 2 malam. Wartawan : Apa saja yang diambil pencuri, Pak? Pak Agam : Televisi, radio, VCD, dan laptop. Wartawan : Mengapa hanya barang elektronik yang diambil, tidak uang atau perhiasan? Pak Agam : Mungkin kalau pencuri itu masuk kamar, takut saya dan istri saya terbangun! Kan, repot kalau ketahuan! Wartawan : Oya, ini termasuk wilayah kepolisian mana, Pak? Pak Agam : Perumahan Cinta Damai ini termasuk Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Pantang Mundur, wilayah hukum Polres Pantang Mundur. Wartawan : Bapak sudah punya dugaan, siapa kira-kira pencurinya itu? Pak Agam : Lah, gak tahu, ya! Kalau sudah tahu, tentu saja sudah saya tangkap. Tapi melihat jendela yang rusak, seperti sudah tahu bahwa jendela dekat pojok sana engselnya rusak. Saya curiga, jangan-jangan orangnya tahu rumah saya. Itu hanya kecurigaan! Yang jelas saya tidak menuduh siapa-siapa, takut menjadi fitnah! Fitnah, itu kan, dosa. Nanti sama dosanya dengan yang mencuri barang-barang saya ini! Wartawan : Bagaimana setelah kejadian itu? Trauma atau ada harapan untuk segera dituntaskan tindak kriminal ini! Pak Agam : Ya, trauma, sih, tentu saja! Baru pertama kali, kok, rumah dibobol pencuri. Ya, saya berharap pihak yang berwajib segera bertindak. Paling tidak, keamanan masyarakat terjaga, jangan sampai terulang lagi kejadian seperti ini. Hasil wawancara di atas, dapat saja ditulis oleh wartawan dengan pola 5W + 1H seperti berikut ini.

Membaca Memindai Teks

Bandung, (PR): Pencurian semakin merajalela. Kali ini menimpa keluarga Agam (60), warga Perumahan Cinta Damai, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Pantang Mundur. Rumahnya dibobol pencuri pada Sabtu (23/5) pukul 2 dini hari. Rumah pensiunan sebuah BUMN itu dibobol pencuri ketika penghuni rumah terlelap tidur. Pencuri mencukil pintu serambi sebelah kiri, yang memang sudah longgar. Barang-barang yang dicuri, yaitu televisi, radio, VCD, dan laptop. Barang berharga lainnya selamat karena menurut Agam, pencuri ketakutan jika penghuni akan terbangun.

Bacalah teks wawancara berikut, kemudian kerjakan soal-soal di bawahnya!

Hati-Hati Terjebak Aliran Sesat

”Jika ingin tahu bagaimana mencari jalan terang di tengah kegelapan, bertanyalah kepada Nasaruddin Umar,” ujar sastrawan Danarto, ”Pria ini senantiasa berada di tengah jantung masyarakat dan bisa menjadi pencerah.” Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama ini memang tak segan-segan turun di ”daerah konflik” saat terjadi bebagai kegentingan. Pada saat pro-kontra ”aliran sesat”, misalnya, ia memilih berdialog dengan orang-orang yang dianggap sesat ketimbang menghajar mereka dengan pentung dan api marah. Apa komentar dia tentang 2007 yang kerap dianggap orang sebagai ”tahun kegelapan”? Berikut petingan perbicangan dengan dia di Jakarta, belum lama ini. Perjalanan bangsa Indonesia sepanjang tahun 2007 berada dalam kegelapan. Begitu banyak sendi kehidupan rusak, begitu kerap bencana alam tejadi. Apa yang salah pada bangsa ini? Ada tiga komponen yang dalam Islam terkait bencana. Ada musibah balak dan azab. Jangan dicampuradukkan ketiganya sehingga terjadi pemahaman yang salah. Azab itu siksaan Tuhan karena kezaliman umat seperti yang terjadi pada umat-umat sebelum Nabi Muhammad, saw. Seperti umat Nabi Nuh yang kapitalistik dan umat Nabi Luth yang melakukan penyimpangan dan kejahatan seksual. Akan tetapi, yang diazab itu orang-orang yang durhaka, bukan orang-orang yang saleh. Orang yang saleh walau ada di sekitarnya, seperti kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib, tidak terkena serangan burung terhadap pasukan Abrahah. Adapun musibah atau ujian itu tidak mengenal agama dan etnik. Begitu datang bisa mengenai semuanya. Nabi sudah minta kepada Allah agar umatnya tidak diberi azab sebagaimana umat-umat terdahulu. Allah mengabulkan permintaan itu sehingga pasca Muhammad tidak ada lagi azab yang ditimpakan.

Membaca Memindai Teks

Jadi, semuanya berbentuk musibah. Lalu ada balak yang bersifat lebih personal, seperti kita sembrono bawa mobil lalu kecelakaan, ya itu kita terkena balak. Kondisi yang menimpa bangsa Indonesia saat ini adalah musibah. Ada dua faktor yang memengaruhi. Pertama, karena siklus kealaman itu sendiri. Ada siklus sepuluh tahunan, duapuluh tahunan, dan lima puluh tahunan. Ilmu pengetahuan sudah menjawab dan terbukti ada siklus. Jadi, jangan langsung menghubung-hubungkan atau memistikkan suatu permasalahan pada era SBY–JK, dengan serangkaian musibah yang terjadi saat ini, itu syirik. Selain sabar dan optimis, apa yang perlu kita sebagai pribadi dan bangsa lakukan dalam menghadapi musibah ini? Dengan keikhlasan.

Membaca Memindai Teks – Tidak semua persoalan diselesaikan dengan uang. Banyak problem itu bisa diselesaikan dengan semangat dan keikhlasan. Kalau ikhlas, kita tidak mengenal lelah. Kalau kita ikhlas, dana itu nomor dua. Ikhlas juga tidak mengejar popularitas karena hakikatnya apa artinya terkenal di bumi tetapi tidak terkenal di akhirat. Mengenai keterpurukan di berbagai sendi kehidupan saat ini, saya mengibaratkan sebagai lentingan bola. Untuk menaikkan bola ke atas, itu perlu mengantam lantai terlebih dahulu. Yang perlu juga dipahami tidak pernah ada musibah itu tanpa hikmah. Di mana ada musibah di situ pula ada pembelajaran. Jadi, masih ada titik cerah. Coba lihat, bangsa-bangsa lain yang maju, pasti dalam tahapan sejarah mereka, ada sesuatu masalah yang krusial. Coba kita renungkan, apabila kita ada bencana tsunami, maka kita tidak pernah sedikit pun berpikir bagaimana merencanakan sebuah pembangunan yang berdimensi penanggulangan terhadap tsunami. Saya lama di Amerika dan beberapa negara Eropa. Begitu dapat musibah seperti badai atau listrik mati total, langsung timbul kepanikan dan kekacauan yang luar biasa. Coba lihat, peristiwa 9– 11 di Amerika bagaimana negara besar, negara adidaya yang sangat disegani di dunia merasakan kekalahan yang begitu besar, beitu telak di negeri mereka sendiri. Dengan banyak musibah di negeri ini janganlah membuat kita kecil hati. Harus kita ubah cara pandang kita dengan pola pikir karena musibah kita justru dibuat lebih matang dalam menghadapi tantangan alam dalam kehidupan ini. Sumber: Suara Merdeka, 30 Desember 2007

Membaca Memindai Teks

1. Catatlah pokok-pokok informasi dari hasil wawancara tersebut! 2. Tuliskan hasil wawancara itu dalam beberapa paragraf dengan ejaan dan tanda baca yang benar!

Materi Teks Membaca Memindai Cerpen Menarik

Materi Teks Membaca Memindai Cerpen Menarik

Materi Teks Membaca Memindai Cerpen Menarik

Membaca Memindai Cerpen
Membaca Memindai Cerpen

Persinggahan Inayati

Membaca Memindai Cerpen – Kenangan itu memenuhi kepalaku. Kehidupanku di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tempat aku pernah menetap kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu. Saat itu, aku masih berusia belasan tahun. Kampung halaman yang tandus, kemiskinan dan kematian kedua orang tuaku, memaksaku meninggalkan kampung halaman untuk sekadar bertahan hidup. Aku melewati kota kecil itu lagi semalam. Kereta yang kutumpangi melintas di stasiun kecilnya yang lengang menjelang dini hari. Kereta api penumpang memang tidak pernah berhenti di stasiun kecil itu kecuali sekadar untuk menunggu sinyal. Kereta juga melintasi pintu perlintasan kereta api di ujung kota, tempat aku pernah termangu memandangi kereta yang melintas dengan perut kosong. Sambil berharap menjadi salah seorang penumpang yang tertidur lelap dengan perut kenyang. Kenangkenangan itu masih memenuhi kepalaku sampai aku menyelesaikan transaksi bisnis di Surabaya dua hari kemudian. Hampir jam tujuh malam saat aku menginjakkan kakiku kembali di kota kecil itu. Jalanan masih ramai. Beberapa mobil angkutan, dokar, dan becak sesekali melintas. Dulu, lepas maghrib, ketika suara puji-pujian berkumandang dari masjid agung di depan alun-alun, nyaris tidak ada kendaraan melintas di jalan raya. Penduduk lebih suka melewatkan malam di masjid, langgar, atau berkumpul bersama keluarga. ”Penginapan, Pak….” Tukang becak setengah baya itu menatapku. ”Penginapan mana, Pak, Hotel Melati, Harum, atau Tresno?” Seingatku hanya ada satu penginapan di kota ini, Wisma Resik yang terletak di depan alun-alun. Penginapan yang berseberangan dengan tempat kosku dulu. Aku ingin menginap di Wisma Resik karena ingin bertemu dengan Pak Budi, pelayan wisma, yang selama tiga tahun menjadi teman akrabku. ”Wisma Resik di alun-alun….” ”Hotel Tresno saja, Pak, lebih bagus,” ia mencoba membujukku. Aku menggeleng.

Membaca Memindai Cerpen

Wisma itu masih seperti dulu. Sederhana, tapi bersih dan terawat. Cat temboknya sebagian sudah terkelupas. Aku memasuki lobi, mencari-cari sosok Pak Budi yang biasanya duduk di ruang tamu, siap menerima tamu dengan keramahannya, tetapi sia-sia. ”Selamat malam, Pak….” Seorang pemuda mengejutkanku. ”Selamat malam…, saya ingin pesan kamar”. ”Baik, Pak. Kamar mandi di dalam atau di luar?” ”Di dalam.” Ia mengambilkan kunci kamar untukku. ”Dik, Pak Budi tidak bertugas?” Pemuda itu memandangku. ”Bapak belum tahu? Pak Budi meninggal lima tahun yang lalu,” katanya pelan. Bayangan Pak Budi berkelebat di mataku. Senyumnya, sosoknya yang bersahaja, dan kebaikan hatinya. Aku merasakan kesedihan dan kehilangan sekaligus. Pemuda itu mengantarku ke kamar dan meninggalkanku sendirian setelah berpesan untuk memanggilnya bila membutuhkan bantuan. Aku membaringkan tubuhku di dipan kayu yang kasurnya terasa keras. Suara air yang menetes dari kran kamar mandi memenuhi kamarku. Selebihnya, tidak ada suara apapun. Perasaan asing dan sepi yang biasa kurasakan merayapi hatiku. Mulamula samar, makin lama makin kuat dan menjeratku sehingga merasa tak bisa bernapas. Perasaan yang sering menyerangku sejak kematian istri dan putraku satu-satunya dua tahun yang lalu. Untuk menghindari malam-malam seperti ini, aku selalu bekerja hingga larut malam dan menghabiskan sisa-sisa malam di cafe. Sekadar duduk dan minum soft drink di tengah keramaian. Kemudian, pulang menjelang dini hari ketika rasa kantuk mulai menyerang. Aku terbangun dengan perasaan letih dan kepala pening. Pemuda itu mengetuk pintu kamar saat aku baru selesai mandi untuk memberitahuku bahwa sarapan sudah siap. Aku merasa lebih baik setelah sarapan. Rasa makanan di wisma ini tidak banyak berubah. Sedap, tetapi agak manis. Dulu, Pak Budi sering memberikan sisa makanan dan memakannya berdua di teras belakang. Sambil bercerita tentang masa kanak-kanaknya dan perjuangan hidupnya. Sama seperti aku, ia juga hidup sebatang kara. Aku memutuskan untuk berkeliling. Pukul tujuh pagi, anakanak sekolah berseliweran dengan sepedanya. Sebagian bergerombol menunggu angkutan. Becak-becak yang dipenuhi sayur-mayur memenuhi jalan. Kesibukan pagi di kota kecil ini sudah mulai. Aku menyeberang jalan, memasuki lorong kecil menuju tempat kosku dulu.

Membaca Memindai Cerpen

Aku mencoba mengingat-ingat. Rumah tua itu berjarak kurang lebih seratus meter dari pinggir jalan raya, menghadap ke utara. Namun, rumah yang kucari tidak ada. Sebagai gantinya, berdiri sebuah rumah dengan gaya kota. Rumah tembok dengan teras diapit tiang dan dinding berlapis keramik hijau tua. Aku masih mengenali sumur yang terletak di halaman depan. Dulu, setiap pagi aku menimba air untuk mandi dan mencuci pakaian. Aku juga membantu Pak Dirman dan istrinya, pemilik rumah kos itu, untuk memenuhi kolam mereka. Sebagai upahnya, aku mendapatkan sepiring nasi hangat dan sayur lodeh serta sepotong tempe untuk sarapan. Rumah Pak Slamet yang berhadapan dengan tempat kosku masih seperti dulu. Rumah model joglo yang sekarang kelihatan makin kusam. Aku juga masih menjumpai ikatan kayu bakar dan daun kelapa kering di samping rumah. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seorang bocah kecil membukakan pintu. ”Pak Slamet ada, Dik?” Ia menatapku heran. Kemudian, berlari ke dalam memanggil ibunya. Tak lama, seorang wanita menjumpaiku. Wajahnya masih seperti dulu, hanya matanya tidak lagi bersinar seperti dulu. Kerut-kerut halus juga mulai terlihat di wajahnya. ”Mbak Sri…,” aku berseru gembira. Wanita itu menatapku, mencoba mengingat-ingat. ”Aku Probo, yang dulu kos di tempat Pak Dirman.” Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berseru gembira. ”Oalah Gusti, Dik Probo…” Ia mengajakku berbincang-bincang di ruang tamu dan memanggil suaminya untuk menemani kami. ”Bapak ke mana, Mbak?” ”Sampun seda, dik”. Mata Mbak Sri berkaca-kaca. Kemudian, ia menuturkan bahwa Pak Slamet meninggal hampir sepuluh tahun yang lalu setelah mengalami kelumpuhan selama dua tahun. ”Pak Dirman dan Ibu?” Mbak Sri menjelaskan, Pak Dirman juga sudah tidak ada. Istrinya sekarang tinggal di Malang dengan anak bungsunya. Rumah Pak Dirman sudah dijual kepada kerabat jauhnya. Lingkungan sekitar tempat kosku sudah banyak berubah. Orangorang yang kukenal kebanyakan pergi merantau atau pindah menetap di tempat lain mengikuti pasangannya. Sisa pagi itu kuhabiskan dengan menyusuri bagian lain kota. Tempat pertama yang kukunjungi adalah Percetakan Redjo di sebelah selatan pendopo kabupaten. Di situlah aku pernah bekerja dengan gaji pas-pasan untuk membayar kos dan sekadar.

Membaca Memindai Cerpen

makan. Aku ingin mengunjungi Koh A Liem, pemilik percetakan. Jalan di sekitar pendopo kabupaten masih sejuk seperti dulu. Bedanya, sekarang sepanjang jalan dihiasi pot-pot bunga besar dan lampu jalan. Beberapa papan reklame juga menyemarakkan jalan. Aku terus menyusuri jalan sampai perempatan, tetapi tempat yang kucari tidak kujumpai. Di bekas tempat percetakan itu sekarang berdiri sebuah toko bangunan besar. Aku melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat lain yang sering kukunjungi, warung makan Yu Tarmi. Warung makan itu dulu selalu ramai dikunjungi pelanggan. Selain masakannya enak, harganya juga terjangkau. Yu Tarmi selalu meladeni setiap pelanggannya dengan ramah. Tidak pernah ia kelihatan cemberut atau bersungut-sungut. Sesekali, ia juga mengizinkan aku untuk berhutang ketika aku kehabisan uang. Namun, lagi-lagi aku tidak menemukan tempat yang kucari. Pada awalnya, aku bahkan gagal menemukan lokasi warung tersebut. Aku terus menyusuri jalan sekitar alun-alun, mencoba mencari tempat-tempat yang bisa membangkitkan kenangan masa laluku. Namun, kota kecil ini ternyata sudah banyak berubah.

Membaca Memindai Cerpen –  Menjelang zuhur, aku menghempaskan tubuh dengan letih di bangku kecil di bawah pohon. Apa yang kulakukan di kota kecil ini? Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Mengapa aku melakukan perbuatan bodoh ini? Tersaruk-saruk memunguti ceceran kenangan masa laluku. Benarkah sekadar mengikuti kenangan masa lalu yang mendesak-desak memoriku ataukah aku ingin mendapatkan kegembiraan dari menyusuri masa laluku dengan menjumpai orang-orang yang pernah menjadi bagian dari masa laluku? Karena sekarang, dalam hidupku, tak ada lagi orang yang benarbenar kukenal. Sejak kematian istri dan anakku, semua orang menjadi asing buatku. Bahkan, terkadang aku merasa asing dengan diriku sendiri. Mungkin karena itulah, aku berada di kota ini. Mencoba menemukan kembali jati diriku. Adzan zuhur terdengar dari menara Masjid Agung. Beberapa pria bersarung dan berpeci melangkah bergegas memasuki masjid. Suara adzan itu menggetarkan hatiku. ”Probo, ayo, Le, cepat. Sudah adzan….” Pak Dirman menarik lenganku, mengajakku melangkah lebih bergegas. ”Inggih, Pak….” sahutku. Bersama Pak Dirman, dulu, setiap Magrib aku pergi ke masjid untuk salat berjamaah. Usai salat Magrib dan wiridan, Pak Dirman mengajarku membaca Alquran di sudut masjid, dekat tiang kayu besar di sebelah selatan. Kami akan tilawah sampai tiba waktu salat Isya dan baru pulang ke rumah setelah salat Isya. Setiap subuh, Pak Dirman juga membangunkanku untuk salat Subuh ke masjid. Aku bangkit, sesuatu dalam diriku mendorongku untuk melangkah ke masjid. Masjid agung itu masih sama, teduh dan menenteramkan. Mataku berkaca-kaca. Ya Allah, sudah berapa lama aku tidak bersujud menyembahmu? Para jamaah salat Zuhur sudah bersiap-siap akan shalat saat aku membasuh wajahku di tempat wudhu. Kurasakan kedamaian menjalari hatiku. Mudahmudahan ini bukan sekadar persinggahan sesaat bagiku. Sumber: UMMI, ed. 3/XVI/2004 dengan pengubahan .

Membaca Memindai Cerpen