Membangun Jati Diri Keindonesiaan

Membangun Jati Diri Keindonesiaan

Membangun Jati Diri Keindonesiaan | “Hasrat untuk meraih kemajuan bangsa Indonesia muncul ketika banyak pemuda telah mengecap bangku sekolah, baik dalam maupun luar negeri. Selain itu,

munculnya surat kabar telah memupuk kesadaran berbangsa dari seluruh lapisan

masyarakat bumiputra. Kesadaran ini makin tampak dengan banyaknya organisasi

kaum muda, yang mengarahkan tujuannya untuk membentuk suatu bangsa dan negara yang merdeka”

Membangun Jati Diri Keindonesiaan

Membangun Jati Diri Keindonesiaan| Politik Etis

Memasuki abad ke-20, kebijakan pemerintah kolonial Belanda mendorong untuk menguasai seluruh wilayah Nusantara. Kebijakan itu diikuti dengan penaklukkan terhadap wilayah-wilayah yang belum dikuasai, jika perlu dengan pendekatan militer. Daerah-daerah kolonial yang masih terpisah disatukan dalam penerapan adminstrasi baru yang berpusat di Batavia, yang disebut Pax Neerlandica. Pemerintah kolonial pun melakukan perjanjianperjanjian. Selanjutnya sistem administrasi tradisional berubah ke sistem administrasi modern.

Membangun Jati Diri Keindonesiaan | Pers Membawa Kemajuan

Pada awal abad ke-20, para priyayi baru menuangkan gagasannya melalui pers (media cetak) mengenai isu-isu perubahan. Isu-isu yang dipopulerkan, yaitu terkait dengan peningkatan status sosial rakyat bumiputra dan peningkatan kehidupan di bidang sosial ekonomi, budaya, dan politik. Kata kemajuan menjadi populer pada saat itu. Kemajuan saat itu diartikan dengan pendidikan, pencerahan, peradaban, modernisasi, dan kesuksesan hidup. Pers merupakan sarana berpartisipasi dalam gerakan emansipasi, kemajuan dan pergerakan nasional. Pada dekade itu ditandai dengan jumlah penerbitan surat kabar berbahasa Melayu yang mengalami peningkatan.  Orang-orang pertama yang aktif dalam dunia pers saat itu adalah orang Indo seperti H.C.O. Clockener Brousson dari Bintang Hindia, E.F Wigger dari Bintang Baru, dan G. Francis dari Pemberitaan Betawi. Pada abad itu penerbit Tionghoa mulai bermunculan.

Membangun Jati Diri Keindonesiaan | Modernisme dan Reformasi Islam

Semangat kebangkitan juga didorong oleh gerakan modernis Islam. Semangat modernisme itu berlandaskan pada pencarian nilai-nilai yang mengarah pada kemajuan dan pengetahuan. Modernisme diartikan sebagai cara berpikir dengan peradaban Barat, dengan merujuk upaya mengejar ketertinggalan melalui pencarian mendasar etik kepada Islam untuk kebangkitan politik dan budaya. Reformasi biasanya diartikan sebagai pembaruan melalui pemurnian agama. Reformasi agama (Islam) diartikan sebagai gerakan untuk memperbaharui cara berpikir dan cara hidup umat menurut ajaran yang murni.

Perintis pembaruan itu adalah Syekh Taher Jamalludin yang sebagaian besar pengalamannya berasal dari Asia Barat. Majalah Al Imam adalah sarana yang mereka gunakan untuk menyebarkan gerakan pembaruan  keluar dari Minangkabau. Di samping itu Al-Imam juga memuat ajaran agama dan peristiwa-peristiwa penting dunia. Tokoh yang kemudian muncul adalah H. Abdullah Akhmad yang mendapat pendidikan di Mekah, selanjutnya mendirikan sekolah dasar di Padang (1909). Ia mendirikan majalah Al-Munir yang menjebarkan agama Islam yang sesungguhnya dan terbit di Padang tahun 1910-1916.

Membangun Diri Seturut Teladan  Yesus

Membangun Diri Seturut Teladan Yesus

Membangun Diri Seturut Teladan Yesus

Pada umumnya tokoh idola adalah orang-orang
Pada umumnya tokoh idola adalah orang-orang

Remaja pada umumnya memiliki tokoh yang diidolakan dalam hidup. Pada umumnya tokoh idola adalah orang-orang yang terkenal, rupawan, dan berprestasi. Dengan memiliki tokoh idola, kita dapat menjadikan tokoh idola sebagai acuan dalam kehidupan. Tokoh idola dapat menjadi semacam inspirasi, motivasi dan pendorong semangat dalam setiap segi kehidupan. Bagaimana dengan Yesus? Apakah kita saat ini mengidolakan Yesus? Remaja SMP merupakan remaja yang masih mencari tokoh idola. Dengan pelajaran kita semakin mengenal Yesus secara lebih luas dan lebih mendalam, sehingga memungkinkan kita untuk menjadikan Yesus sebagai tokoh idola.

Doa

Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur kepadaMu, karena telah mengasihi kami dan memberi kesempatan kepada kami untuk mengenal Engkau dan Yesus Putera-Mu. Mohon terang dan bimbingan-Mu Bapa, agar pada hari ini kami dapat semakin mengenal Yesus Putera-Mu. Dengan semakin mengenal Putera-Mu, Kami dapat menjadikan-Nya sebagai idola kami dalam hidup sehari-hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin

1. Tokoh idola dalm masyarakat Lakukan dialog dengan teman dan atau guru untuk menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan di bawah ini !

a. Siapakah tokoh idolamu? Mengapa memilihnya sebagai tokoh idola? ……………………………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………………………………..

b. Apa yang kalian kagumi dari tokoh idolamu itu?

……………………………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………………………………..

c. Apa yang kalian lakukan untuk meneladani tokoh idolamu?

……………………………………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………………………………..

Menemukan pribadi Yesus sebagai tokoh idola Lakukan beberapa kegiatan berikut ini!

a. Baca Alkitab. b. Temukan sikap/ sifat/ atau tindakan Yesus yang menurutmu luar biasa dan mengagumkan. c. Tulis berbagai sikap/ sifat/ atau tindakan Yesus yang luar biasa dan mengagumkan tersebut dalam lembar kertas laporan. d. Diskusikan hasil temuan itu dengan teman-temanmu. Bentuk kelompok, dan lakukan kegiatan sebagai berikut!

1. Baca dengan perlahan-lahan “Syahadat Kehidupan” berikut ini! ”Aku percaya akan Allah Sang Pencinta kehidupan, Allah yang senantiasa mencintai diriku tanpa syarat apapun, Allah yang selalu menginginkan diriku hidup dengan penuh kelimpahan Aku percaya akan Allah yang selalau mengampuni diriku serta membukakan masa depan bagiku, masa depan yang penuh kehidupan dan harapan. Aku percaya akan Allah yang selalu menyertai perjalanan hidupku, bersedia membantuku, menyembuhkan luka-luka dalam hidupku, menguatkan aku, menderita bersamaku, serta menjadi sahabatku yang terbaik. Aku percaya akan Allah yang hanya mengenal cinta dan kasih setia (compassion); Allah pencinta kehidupan dan selalu mengundang aku untuk memilih kehidupan tersebut. Dalam iman seperti ini, aku menemukan kebahagiaan dan rasa damai yang mendalam di dalam kehidupanku sekarang ini, maupun harapan akan kehidupan yang akan datang”

2. Buat suasana hening dalam kelompok dan secara pribadi renungkan kata demi kata “Syahadat Kehidupan” tersebut. 3. Tuliskan niatmu dalam membangun sikap-sikap yang akan diwujudkan untuk meneladan Yesus. 4. Sampaikan niat itu kepada temanmu dalam kelompok!

Tugas 1. Bagi kelas menjadi tiga kelompok dan setiap kelompok diminta untuk mendramakan salah satu perikop Kitab Suci: a. Mat 18:21-35; b. Luk 15:11-32; c. Mat 20:1-16. 2. Setelah kelompok mendramakan cerita dalam Kitab Suci, salah satu anggota kelompok menyampaikan makna atau pesan Kitab Suci yang didramakan oleh kelompok.

1. Refleksi dan Aksi

Sebagai orang yang mengimani Yesus, bukan hal yang salah jika kita mengidolakan Dia dalam hidup kita. Dia yang telah kita kenal melalui sabda dan perbuatan-Nya, dapat menjadi idola bagi kita semua. Sikap Yesus yang seperti apakah yang ingin kalian teladani? Apa saja usahamu untuk mewujudkan itu dalam hidup sehari-hari? Setelah mengikuti proses di atas, tuliskan hasil refleksi tersebut dalam buku catatanmu!

Doa Marilah kita mengakhiri kegiatan belajar kita dengan mengungkapkan doa bersama-sama! Yesus yang Mahabaik, Engkau adalah teladan kami dalam seluruh kehidupan ini. Kami bangga dan bersyukur, karena boleh percaya dan mengimani Engkau. Ajarlah kami ya Yesus, agar kami dapat meneladan-Mu. Ajarlah kami ya Yesus, agar kami mempu menjadi seperti-Mu, yang senantiasa mengasihi, senantiasa memperhatikan dan juga senantiasa mengampuni. Perkenankanlah kami menjadikan-Mu sosok idola bagi kami. Kami membuka diri, agar Engkau berkenan menjadi idola kami, yang memotivasi kami, yang mewarnai hidup kami, yang menginspirasi hidup kami serta mendorong kami untuk senantiasa hidup seturut kehendak-Mu. Engkau kami puji dan kami sembah ya Tuhan, kini dan sepanjang masa. Amin.

Glosarium

Ad Gentes Dokumen Konsili Vatikan II berisi Dekrit tentang Karya Misioner Gereja Berbelarasa turut merasakan nasib orang lain (solider/peduli) Citra rupa; gambar atau gambaran Doa sarana berkomunikasi dengan Allah Eskatologis berkaitan dengan akhir zaman seperti hari kiamat dan kebangkitan Gaudium et Spes Dokumen Konsili Vatikan II berisi Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini Gereja persekutuan umat beriman yang percaya kepada Yesus Kristus Hak asasi hak-hak yang sifatnya mendasar Idola orang, gambar, patung, dan sebagainya yang menjadi pujaan Katekismus manual doktrin dalam bentuk tanya jawab untuk dihafalkan Kerajaan Allah suasana damai ketika Allah merajai atau menguasai hati kita Keunikan kekhususan atau keistimewaan Komplementer saling membutuhkan dan saling tergantung satu sama lain Masyarakat sekumpulan orang yang hidup bersama pada suatu tempat atau wilayah dengan ikatan aturan tertentu Mengampuni memaafkan dan tidak memperhitungkan lagi kesalahan orang lain Miskin dihadapan Allah pengakuan bahwa dirinya lemah atau tidak berdaya dan bersikap berserah diri sepenuhnya kepada Allah Murah hati suka (mudah) memberi; tidak pelit; penyayang dan pengasih; suka menolong; baik hati Glosarium 154 Kelas VII SMP Edisi Revisi Refleksi sebuah kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar berupa penilaian tertulis maupun lisan (umumnya tulisan) oleh anak didik (siswa) kepada guru/dosen, berisi ungkapan kesan, pesan, harapan serta kritik membangun atas pembelajaran yang diterimanya. Sederajat memiliki martabat dan kedudukan yang sama tinggi Seks jenis kelamin Seksualitas ciri, sifat atau peranan seks Talenta pembawaan orang sejak lahir; bakat

Daftar Pustaka

Abineno, Dr., J.L.Ch. 2002. Seksualitas dan Pendidikan Seksualitas, Cet. ke- 6. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Agoeng, P. Noegroho S., Pr. 2008. Formasi Dasar Orang Muda untuk Remaja Setingkat SMP, Yogyakarta: Kanisius. Auer, Jim. 2002. Seks & Remaja Kristen, Yogyakarta, Kanisius. Bakker, A., SVD. 1988. Ajaran Iman Katolik 1 untuk Mahasiswa, Yogyakarta: Kanisius. Barry, William A., S.J. 2000. Menemukan Tuhan dalam Segala Sesuatu. Yogyakarta: Kanisius. Centi, Paul J. 2006. Mengapa Rendah Diri, Cetakan XIII. Yogyakarta: Kanisius. Chandra, Julius. 1994. Hidup Bersama Orang Lain, Cet. ke-11, Yogyakarta: Kanisius. Chandra Julius dan Rini Chandra. 2001. Melangkah ke Alam Kedewasaan. Cet. Ke-9, Yogyakarta: Kanisius. de Mello, Anthony, S.J. 2001. Hidup di Hadirat Allah, Cet. Ke-7, Yogyakarta: Kanisius. Dokumen Konsili Vatikan II. 2003. Cetakan VII. Jakarta: Obor. Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila Jilid III. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Hakenewerth, Quentin, SM. 1987. Ikutlah Panggilan Hidupmu, Jakarta: CLC. Handaya, Ben. 2001. Etiket dan Pergaulan. Cet. ke-17, Yogyakarta: Kanisus Hello, Yosef Marianus, S.Pd. 2004. Menjadi Keluarga Beriman, Yogyakarta: Pustaka Nusatama. Lanur, Alex, OFM. 2000. Menemukan Diri, Cet. ke-9, Yogyakarta: Kanisius. Katekismus Gereja Katolik. 1995. Ende: Arnoldus. Kieser, Bernard, S.J. Moral Dasar. Yogyakarta: Kanisius. Kirchberger, George dan Vincent de Ornay (Penyadur). 1999. Panggilan Keluarga Kristen. Jakarta: Penerbit LPBAJ dan Celesty Hieronika. Komkat KWI. 2004. Persekutuan Murid-Murid Yesus, Pendidikan Agama Katolik untuk SMP Kelas VII. Yogyakarta: Kanisius. Komkat KWI. 2010. Membangun Komunitas Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan Agama Katolik untuk SMP Kelas VII, Yogyakarta, Kanisius. Komisi Waligereja Indonesia. 1996. Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius. Lalu, Yosef, Pr. 2008. Percikan Kisah Anak Manusia, Jakarta: Komkat KWI. Leahy, Louis. 1997. Sains dan Agama dalam Konteks Zaman Ini, Yogyakarta: Kanisius. Mangunhardjana, A. M. 2002. Mengatasi Hambatan-Hambatan Kepribadian, Cet. 17, Yogyakarta: Kanisius. Martasudjita, E., Pr. 2000. Komunitas Peziarah, Sebuah Spiritualitas Hidup Bersama. Yogyakarta: Kanisius. Moi, Alberto A. Djono, O. Carm. 2003. Proses Aktualisasi Diri, Malang: Dioma. Powell, John. Mengapa Takut Mencinta. Jakarta: Cipta Loka Caraka. Rausch, Thomas P. 2001. Katolisisme-Teologi bagi Kaum Awam. Yogyakarta: Kanisius. Sanggar Talenta. 2005. Biarkan Kami Bicara tentang Sekolah dan Cita-cita, Seri Pustaka Remaja, cetakan IV, Yogyakarta: Kanisius. Soekanto, Soerjono, Prof. Dr. 1997. Remaja dan Masalah-Masalahnya. Cet. 7, Yogyakarta. Kanisius. Suherman, F. X., Pr. 2007. Allah Memberi Hidup Manusia Menghidupi, Yogyakarta, Pustaka Nusatama. Tari, Ignas, MSF. 2011. Cinta yang Membesarkan Hati, Cetakan II, Jakarta, Fidei Press. Tim Pembinaan Persiapan Berkeluarga DIY. 1981. Membangun Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius. Tjahaja, Liria. 1999. Bertumbuh dan Beriman, Pendidikan Seksualitas untuk Peserta didik SLTP. Jakarta: Komkat & Kom-KK KAJ. Torney, John C. 2005. Only You can Make You Happy, Tips Praktis Hidup Bahagia. Yogyakarta: Kanisius. Valles, Carlos G. 2005. Courage to be Myself Berani Menjadi Diri Sendiri, Yogyakarta: Kanisius. Vallet, Robert E. 1989. Aku Mengembangkan Diriku, Jakarta: CLC. van Breemen, P. , S.J. 1983. Kupanggil Engkau dengan Namamu, Yogyakarta: Kanisius. Wicks, Robert J. 2002. Self-Care for Every Day, Kasihilah Dirimu dari Hari ke Hari. Yogyakarta: Kanisius.

Membangun Jati Diri Keindonesiaan

Membangun Jati Diri Keindonesiaan

Membangun Jati Diri Keindonesiaan – Hasrat untuk meraih kemajuan bangsa Indonesia muncul ketika banyak pemuda telah mengecap bangku sekolah, baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, munculnya surat kabar telah memupuk kesadaran berbangsa dari seluruh lapisan masyarakat bumiputra. Kesadaran ini makin tampak dengan banyaknya organisasi kaum muda, yang mengarahkan tujuannya untuk membentuk suatu bangsa dan negara yang merdeka” .

Membangun Jati Diri Keindonesiaan

Taufik Abdullah dan A.B. Lapian (ed), Indonesia Dalam Arus Sejarah VI (2012) Kutipan di atas menunjukkan bahwa kaum muda terpelajar mempunyai peranan yang cukup penting bagi kesadaran untuk mencapai kemajuan. Begitu pula dengan reformasi 1998, gerakan itu juga dilakukan oleh kaum muda terpelajar. Peranan mereka dapat menentukan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka penggerak dalam setiap perubahan. Bagaimana dengan kamu?

Coba kamu perhatikan gelaja yang nampak pada masyarakat kita di berbagai daerah dewasa ini. Munculnya perilaku anarkis di kalangan pemuda, rasa nasionalisme yang mulai rapuh, banyak di antara remaja kita yang lebih gandrung dengan budaya dan produk luar negeri ketimbang mencintai budaya dan produk negeri sendiri, juga munculnya rasa etnosentrisme hampir dapat kita jumpa di berbagai daerah. Penolakan terhadap seorang pemimpin karena tidak berasal dari suku bangsa yang sama, atau karena perbedaan keyakinan merupakan hal yang sering kali dapat kita lihat dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Semangat kebangsaan dan jati diri keindonesiaan di kalangan sebagian remaja juga mulai memudar. Mereka lebih gandrung dengan budaya dan produk luar negeri ketimbang budaya dan produk negeri sendiri.

Tetapi di tengah-tengah merosotnya rasa nasionalisme dan jati diri bangsa ini ada seorang bocah berumur 8 tahun yang sudah mahir bermain bola yang bernama Tristan Alif Naufal. Kini ia tengah mendapat undangan untuk berlatih sepak bola di klub Ajax Amsterdam, Belanda. Ia bersama kedua orang tuanya mendapat kesempatan menjadi warga negara Belanda dan mendapat kesempatan menjadi pemain sepak bola di Tim Oranye yang memang sangat menjanjikan. “Aku mau bela Tim Nasional Indonesia. Aku tidak mau jadi warga negara Belanda, aku mau tetap jadi orang Indonesia, ujar Alif”. (Tribun Kaltim, 3 November 2013). Demikian sebuah ilustrasi yang menarik untuk sebuah semangat nasionalisme. Negara Indonesia ini memang terbentuk melalui proses panjang atas dasar kesepakatan dan kesadaran nasionalisme para pemuda dan terpelajar saat itu. Mereka tidak hanya berasal dari satu suku bangsa, akan tetapi mereka berasal dari suku-suku bangsa yang ada di Hindia-Belanda pada waktu itu. Begitu pula dalam hal keyakinan mereka sadar bahwa mereka memang berbeda, akan tetapi mereka yakin, bahwa mereka mempunyai tujuan yang mulia, yaitu mencapai Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Bagi pemuda-pemuda saat itu perbedaan pendapat adalah hal yang biasa, bukan untuk dipertentangkan dan dipermasalahkan. Catatan sejarah menunjukkan, bahwa pada awal abad ke-20 keindonesiaan digagas oleh kalangan pemuda terpelajar. Pada tahun 1922, De Indishe Vereeninging, yaitu suatu perkumpulan mahasiswa Hindia (nama sebelum menjadi Indonesia) yang berada di negeri Belanda, nama itu kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeninging. Ketika nama Indonesia itu digunakan oleh para kaum muda terpelajar Hindia yang sedang belajar di negeri Belanda konsep Indonesia menjadi sebuah konsep politik. Maka, organisasi yang mulanya merupakan perkumpulan sosial kemahasiswaan berubah menjadi organisasi yang memperlihatkan kecenderungan politik.

Jadi penggunaan nama Indonesia bukan hanya sekedar didasarkan atas kondisi geografis dan antropologis saja. Pada tahun 1923, perkumpulan itu berubah lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI). Jelaslah bahwa keinginan kuat para pelajar itu untuk menampilkan diri sebagai kekuatan nasionalisme Indonesia. Kenyataan itu menunjukkan hasrat kuat para pemuda itu untuk memperjuangkan tercapainya kemerdekaan Indonesia yang demokratis. Begitu pula dengan majalah organisasi itu juga diubah namanya dari Hindia Poetera menjadi Indonesia Merdeka (baca lebih lanjut Sartono Kartodirdjo: Sejak Indische sampai Indonesia :2005).

Sementara itu, pemuda terpelajar di Indonesia menyebarkan paham kebangsaan, mereka mengekspresikan melalui berbagai cara, antara lain melalui surat kabar, karya sastra, rapat umum, lagu-lagu, serikat buruh, maupun perlawanan terhadap kolonialisme. Pada saat itulah para pelajar dan pemuda terdidik itu mempunyai pandangan dengan cara tersendiri terhadap dunia mereka. Cara pandangan baru itulah yang membuka wawasan dan politik modern yang menjadi cikal bakal pergerakan bangsa dan tumbuhnya nasionalisme saat itu. Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai organisasi pergerakan baik lokal maupun nasional.

Berbagai organisasi itu misalnya Sarekat Prijaji, Sarekat Dagang Islam, dan National-Indische Partij, di Jawa ada organisasi pemuda Budi Utomo, Tri Koro Dharmo diubah menjadi Jong Java. Munculnya organisasi pemuda itu mendorong pemuda-pemuda dari suku bangsa lain itu juga mendirikan organisasi kepemudaan seperti Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Ambon, dan Jong Minahasa. Kapankah organisasi-organisasi pemuda itu mulai berazaskan kebangsaan dan nasionalisme itu bangkit?. Pada uraian berikut ini kita akan belajar tentang pergerakan kebangsaan Indonesia, serta dinamikanya dari pandangan lokal hingga tumbuhnya kesadaran nasional.