Mengemukakan Hal Menarik dalam Contoh Isi Cerpen

Mengemukakan Hal Menarik dalam Contoh Isi Cerpen

Mengemukakan Hal Menarik dalam Contoh Isi Cerpen

Contoh Isi Cerpen – Tahukah Anda A.A. Navis dan Najwa Shihab? A.A. Navis adalah cerpenis terkemuka yang telah melahirkan banyak karya. Sementara, Najwa Shihab adalah salah satu anchor (penyiar berita televisi) yang andal dan profesional. Inginkah Anda menjadi seperti mereka? Selain mereka, ada banyak lagi nama-nama tokoh yang berkompeten dalam bidang kepenulisan cerpen dan penyiaran. Cerpen dan siaran berita merupakan salah satu bentuk sumber informasi yang dapat diidentifikasi. Dalam cerpen, hal-hal yang dapat diidentifikasi adalah unsur-unsur intrinsik dan hal-hal menarik yang terkandung di dalamnya. Sementara dalam berita, hal-hal yang dapat diidentifikasi adalah pokok-pokok permasalahannya. Dalam pelajaran ini, berita yang bersumber dari siaran televisi dibuat transkripsinya agar dapat Anda pelajari. Berbagai pokok permasalahan tersebut dapat dikritik dengan memberikan tanggapan. Begitu juga dengan hasil identifikasi terhadap cerpen, Anda dapat mengemukakan tanggapan Anda.Dengan demikian, diharapkan daya kritis Anda akan semakin terlatih. Jika Anda tanggap dan kritis dalam menghadapi suatu fenomena, Anda dapat menjadi seorang cerpenis dan penyiar berita televisi yang andal.

Contoh Isi Cerpen
Contoh Isi Cerpen

Mengemukakan Hal Menarik dalam Cerpen

Contoh Isi Cerpen – Dalam pelajaran ini Anda akan berlatih mengemukakan hal-hal menarik dan mengesankan dalam cerita pendek. Sebelumnya, Anda harus membaca cerpen terlebih dahulu dengan saksama. Dengan demikian, diharapkan kemampuan apresiasi Anda terhadap karya sastra pun akan bertambah.

Cerpen sebagai karya fiksi dibangun oleh unsur-unsur pembangun di dalamnya, yakni oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Cerpen memiliki unsur peristiwa, alur, tema, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Karena bentuknya yang pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detildetil khusus “kurang penting” yang lebih bersifat memperpanjang cerita. Cerpen sebagai karya sastra prosa memiliki unsur-unsur dalam (intrinsik) yang membangunnya. Hal yang pelu diperhatikan adalah unsur-unsur tersebut membentuk kesatuan yang utuh. Dalam hal ini, satu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya. Cerpen dapat dibedakan antara cerpen hiburan dan cerpen serius. Dalam istilah kita dibedakan antara cerpen sastra dan cerpen hiburan. Perbedaan kedua jenis cerpen ini adalah pada kualitas isi cerpen. Banyak sebagian cerpenis yang menghasilkan baik cerpen hiburan maupun sastra dengan cara yang tidak jauh berbeda. Contoh cerpenis yang ahli dalam membuat cerpen hiburan maupun cerpen sastra adalah Mottinggo Busye, Ahmad Tohari, Jajak M.D., dan Asbari Nurpatria Krisna.

Contoh Isi Cerpen

Bacalah cerpen berikut dengan cermat.

Shalawat Badar Karya Ahmad Tohari

Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus itu bersama isinya. Untung bus tak begitu penuh sehingga sesama penumpang tak perlu bersinggungan badan. Namun, dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk. Begitu bus berhenti, puluhan pedagang asongan menyerbu masuk. Bahkan beberapa di antara mereka sudah membajingloncat ketika bus masih berada di mulut terminal bus menjadi pasar yang sangat hirukpikuk. Celakanya, mesin bus tidak dimatikan dan sopir melompat turun begitu saja. Dan para pedagang asongan itu menawarkan dagangan dengan suara melengking agar bisa mengatasi derum mesin. Mereka menyodor-nyodorkan dagangan, bila perlu sampai dekat sekali ke mata para penumpang. Kemudian, mereka mengeluh ketika mendapati tak seorang pun mau berbelanja. Seorang di antara mereka malah mengutuk dengan mengatakan para penumpang adalah manusia-manusia kikir, atau manusia-manusia yang tak punya duit. Suasana sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan keadaan yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau dengan seorang perempuan penjual buah. Sementara para penumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel, aku mencoba bersikap lain. Perjalanan semacam ini sudah puluhan kali aku alami. Dari pengalaman seperti itu aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan tak perlu dikeluhkan karena sama sekali tidak mengatasi keadaan. Supaya jiwa dan raga tidak tersiksa, aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Maka kubaca semuanya dengan tenang: Sopir yang tak acuh terhadap nasib para penumpang itu, tukang-tukang asongan yang sangat berisikitu, dan lelaki yang setengah mengantuk sambil mengepulkan asap di belakangku itu.

Contoh Isi Cerpen

Masih banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus. Celana, baju, dan kopiahnya berwarna hitam. Dia naik dari pintu depan. Begitu naik lelaki itu mengucapkan salam dengan fasih. Kemudian dari mulutnya mengalir Shalawat Badar dalam suara yang bening. Tangannya menadahkan mangkuk kecil. Lelaki itu mengemis. Aku membaca tentang pengemis ini dengan perasaan yang sangat dalam. Aku dengarkan baik-baik shalawatnya. Ya, persis. Aku pun sering membaca shalawat seperti itu terutama dalam pengajian-pengajian umum atau rapatrapat. Sekarang kulihat dan kudengar sendiri ada lelaki membaca Shalawat Badar untuk mengemis. Kukira pengemis itu sering mendatangi pengajianpengajian. Kukira dia sering mendengar ceramahceramah tentang kebaikan hidup baik dunia maupun akhirat. Lalu dari pengajian seperti itu dia hanya mendapat sesuatu untuk membela kehidupannya di dunia. Sesuatu itu adalah Shalawat Badar yang kini sedang dikumandangkannya sambil menadahkan tangan. Ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu, maka tanganku bergerak merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Ada banyak hal dapat dibaca pada wajah si pengemis itu. Di sana aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan. Wajah-wajah seperti itu sangat kuhafal karena selalu hadir mewarnai pengajian yang sering diawali dengan Shalawat Badar. Ya. Jejak-jejak pengajian dan ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup ada berbekas pada wajah pengemis itu. Lalu mengapa dari pengajian yang sering didatanginya ia hanya bisa menghafal Shalawat Badar dan kini menggunakannya untuk mengemis?

Contoh Isi Cerpen

Ah, kukira ada yang tak beres. Ada yang salah. Sayangnya, aku tak begitu tega menyalahkan pengemis yang terus membaca shalawat itu. Perhatianku terhadap si pengemis terputus oleh bunyi pintu bus yang dibanting. Kulihat sopir sudah duduk di belakang kemudi. Kondektur melompat masuk dan berteriak kepada sopir. Teriakannya ditelan oleh bunyi mesin disel yang meraung-raung. Kudengar kedua awak bus itu bertengkar. Kondektur tampaknya enggan melayani bus yang tidak penuh, sementara sopir sudah bosan menunggu tambahan penumpang yang ternyata tak kunjung datang. Mereka bertengkar melalui kata-kata yang tak sedap didengar. Dan bus terus melaju meninggalkan terminal Cirebon. Sopir yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang. “He, siral kenapa kamu tidak turun? Mau jadi gembel di Jakarta? Kamu tidak tahu gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?” Pengemis itu diam saja. “Turun!” “Sira beli mikir? Bus cepat seperti ini aku harus turun?” “Tadi siapa suruh kamu naik?” “Saya naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya cuma mau ngemis, kok. Coba, suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh.” Kondektur kehabisan kata-kata. Dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya bulatbulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela diperlakukan sebagai apa saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat. Kondektur berlalu sambil bersungut. Si pengemis yang merasa sedikit lega, bergerak memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali bergumam: “… shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah….” Shalawat itu terus mengalun dan terdengar makin jelas karena tak ada lagi suara kondektur. Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing. Aku pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara shalawat dan mana derum mesin diesel. Boleh jadi aku sudah berada di alam mimpi dan di sana kulihat ribuan orang membaca shalawat. Anehnya,mereka yang berjumlah banyak sekali itu memiliki rupa yang sama. Mereka semuanya mirip sekali dengan pengemis yang naik dalam bus yang kutumpangi di terminal Cirebon. Dan dalam mimpi pun aku berpendapat bahwa mereka bisa menghafal teks shalawat itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup di dunia maupun akhirat. Dan dari ceramah-ceramah seperti itu mereka hanya memperoleh hafalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan tangan. Kukira aku masih dalam mimpi ketika kurasakan peristiwa yang hebat. Mula-mula kudengar guntur  meledak dengan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa di antaranya kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun aku tersandung batu dan jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah. Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lobang hidungku. Ketika kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti Kudengar orangorang merintih. Lalu samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikit pun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali ke arah kota Cirebon. Telingaku dengan gamblang mendengar suara lelaki yang terus berjalan dengan tenang ke arah timur itu: “Shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah.. . Sumber: Kumpulan cerpen Senyum Karyamin, 1989

Contoh Isi Cerpen

Setelah membaca cerpen tersebut, apakah Anda menemukan hal menarik untuk ditanggapi? Anda dapat menanggapi dari sudut tokoh, tema, ataupun amanat di dalamnya. Salah satu hal yang menarik dari sebuah cerpen adalah hadirnya alur. Ketegangan saat mengikuti sebuah cerita memang menyenangkan dan menjadi hiburan tersendiri. Terkadang, cerita hiburan bertumpu pada plotnya dan kurang menggarap tema. Inti dari munculnya permasalahan adalah berbenturannya watak-watak tokoh. Para tokoh masing-masing memiliki sikap dan sifat sendiri. Ketegangan dalam cerpen akan menjadi daya tarik sendiri dalam sebuah cerpen. Alur cerita dalam cerpen “Shalawat Badar” karya Ahmad Tohari menggunakan teknik alur cerita yang konvensional. Dalam hal ini, konfilik berawal dari pengenalan sang tokoh “aku” tentang keadaan bus yang ia tumpangi di sebuah terminal. Kemudian, timbul konflik batin tokoh “aku” tentang keadaannya. Hal ini digambarkan dengan kondisi bus yang berisi penumpang dan para pedagang asongan. Permasalahan yang ada dalam diri si tokoh “aku” semakin memuncak manakala datang seorang pengemis yang menjadikan shalawat yang sakral sebagai media untuk mencari nafkah dari belas kasihan para penumpang. Permasalahan semakin memuncak (klimaks) saat sopir dan kondektur bertengkar. Selain itu, konflik muncul lagi saat kondektur bus bertengkar dengan si pengemis tadi. Puncaknya adalah saat bus tersebut bertabrakan dengan sebuah truk. Pada bagian akhir, dikisahkan bahwa si pengemis yang selalu mengumandangkan shalawat selamat dari kecelakaan dan tidak terluka sedikit pun. Pada akhir cerita, pembaca disuguhi persepsi masing-masing terhadap keadaan akhir tiap tokoh. Peredaan persepsi tersebut muncul akibat adanya perbedaan pola pikir dan sudut pandang (subjektivitas) pembaca.

Materi Teks Membaca Memindai Cerpen Menarik

Materi Teks Membaca Memindai Cerpen Menarik

Materi Teks Membaca Memindai Cerpen Menarik

Membaca Memindai Cerpen
Membaca Memindai Cerpen

Persinggahan Inayati

Membaca Memindai Cerpen – Kenangan itu memenuhi kepalaku. Kehidupanku di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tempat aku pernah menetap kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu. Saat itu, aku masih berusia belasan tahun. Kampung halaman yang tandus, kemiskinan dan kematian kedua orang tuaku, memaksaku meninggalkan kampung halaman untuk sekadar bertahan hidup. Aku melewati kota kecil itu lagi semalam. Kereta yang kutumpangi melintas di stasiun kecilnya yang lengang menjelang dini hari. Kereta api penumpang memang tidak pernah berhenti di stasiun kecil itu kecuali sekadar untuk menunggu sinyal. Kereta juga melintasi pintu perlintasan kereta api di ujung kota, tempat aku pernah termangu memandangi kereta yang melintas dengan perut kosong. Sambil berharap menjadi salah seorang penumpang yang tertidur lelap dengan perut kenyang. Kenangkenangan itu masih memenuhi kepalaku sampai aku menyelesaikan transaksi bisnis di Surabaya dua hari kemudian. Hampir jam tujuh malam saat aku menginjakkan kakiku kembali di kota kecil itu. Jalanan masih ramai. Beberapa mobil angkutan, dokar, dan becak sesekali melintas. Dulu, lepas maghrib, ketika suara puji-pujian berkumandang dari masjid agung di depan alun-alun, nyaris tidak ada kendaraan melintas di jalan raya. Penduduk lebih suka melewatkan malam di masjid, langgar, atau berkumpul bersama keluarga. ”Penginapan, Pak….” Tukang becak setengah baya itu menatapku. ”Penginapan mana, Pak, Hotel Melati, Harum, atau Tresno?” Seingatku hanya ada satu penginapan di kota ini, Wisma Resik yang terletak di depan alun-alun. Penginapan yang berseberangan dengan tempat kosku dulu. Aku ingin menginap di Wisma Resik karena ingin bertemu dengan Pak Budi, pelayan wisma, yang selama tiga tahun menjadi teman akrabku. ”Wisma Resik di alun-alun….” ”Hotel Tresno saja, Pak, lebih bagus,” ia mencoba membujukku. Aku menggeleng.

Membaca Memindai Cerpen

Wisma itu masih seperti dulu. Sederhana, tapi bersih dan terawat. Cat temboknya sebagian sudah terkelupas. Aku memasuki lobi, mencari-cari sosok Pak Budi yang biasanya duduk di ruang tamu, siap menerima tamu dengan keramahannya, tetapi sia-sia. ”Selamat malam, Pak….” Seorang pemuda mengejutkanku. ”Selamat malam…, saya ingin pesan kamar”. ”Baik, Pak. Kamar mandi di dalam atau di luar?” ”Di dalam.” Ia mengambilkan kunci kamar untukku. ”Dik, Pak Budi tidak bertugas?” Pemuda itu memandangku. ”Bapak belum tahu? Pak Budi meninggal lima tahun yang lalu,” katanya pelan. Bayangan Pak Budi berkelebat di mataku. Senyumnya, sosoknya yang bersahaja, dan kebaikan hatinya. Aku merasakan kesedihan dan kehilangan sekaligus. Pemuda itu mengantarku ke kamar dan meninggalkanku sendirian setelah berpesan untuk memanggilnya bila membutuhkan bantuan. Aku membaringkan tubuhku di dipan kayu yang kasurnya terasa keras. Suara air yang menetes dari kran kamar mandi memenuhi kamarku. Selebihnya, tidak ada suara apapun. Perasaan asing dan sepi yang biasa kurasakan merayapi hatiku. Mulamula samar, makin lama makin kuat dan menjeratku sehingga merasa tak bisa bernapas. Perasaan yang sering menyerangku sejak kematian istri dan putraku satu-satunya dua tahun yang lalu. Untuk menghindari malam-malam seperti ini, aku selalu bekerja hingga larut malam dan menghabiskan sisa-sisa malam di cafe. Sekadar duduk dan minum soft drink di tengah keramaian. Kemudian, pulang menjelang dini hari ketika rasa kantuk mulai menyerang. Aku terbangun dengan perasaan letih dan kepala pening. Pemuda itu mengetuk pintu kamar saat aku baru selesai mandi untuk memberitahuku bahwa sarapan sudah siap. Aku merasa lebih baik setelah sarapan. Rasa makanan di wisma ini tidak banyak berubah. Sedap, tetapi agak manis. Dulu, Pak Budi sering memberikan sisa makanan dan memakannya berdua di teras belakang. Sambil bercerita tentang masa kanak-kanaknya dan perjuangan hidupnya. Sama seperti aku, ia juga hidup sebatang kara. Aku memutuskan untuk berkeliling. Pukul tujuh pagi, anakanak sekolah berseliweran dengan sepedanya. Sebagian bergerombol menunggu angkutan. Becak-becak yang dipenuhi sayur-mayur memenuhi jalan. Kesibukan pagi di kota kecil ini sudah mulai. Aku menyeberang jalan, memasuki lorong kecil menuju tempat kosku dulu.

Membaca Memindai Cerpen

Aku mencoba mengingat-ingat. Rumah tua itu berjarak kurang lebih seratus meter dari pinggir jalan raya, menghadap ke utara. Namun, rumah yang kucari tidak ada. Sebagai gantinya, berdiri sebuah rumah dengan gaya kota. Rumah tembok dengan teras diapit tiang dan dinding berlapis keramik hijau tua. Aku masih mengenali sumur yang terletak di halaman depan. Dulu, setiap pagi aku menimba air untuk mandi dan mencuci pakaian. Aku juga membantu Pak Dirman dan istrinya, pemilik rumah kos itu, untuk memenuhi kolam mereka. Sebagai upahnya, aku mendapatkan sepiring nasi hangat dan sayur lodeh serta sepotong tempe untuk sarapan. Rumah Pak Slamet yang berhadapan dengan tempat kosku masih seperti dulu. Rumah model joglo yang sekarang kelihatan makin kusam. Aku juga masih menjumpai ikatan kayu bakar dan daun kelapa kering di samping rumah. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seorang bocah kecil membukakan pintu. ”Pak Slamet ada, Dik?” Ia menatapku heran. Kemudian, berlari ke dalam memanggil ibunya. Tak lama, seorang wanita menjumpaiku. Wajahnya masih seperti dulu, hanya matanya tidak lagi bersinar seperti dulu. Kerut-kerut halus juga mulai terlihat di wajahnya. ”Mbak Sri…,” aku berseru gembira. Wanita itu menatapku, mencoba mengingat-ingat. ”Aku Probo, yang dulu kos di tempat Pak Dirman.” Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berseru gembira. ”Oalah Gusti, Dik Probo…” Ia mengajakku berbincang-bincang di ruang tamu dan memanggil suaminya untuk menemani kami. ”Bapak ke mana, Mbak?” ”Sampun seda, dik”. Mata Mbak Sri berkaca-kaca. Kemudian, ia menuturkan bahwa Pak Slamet meninggal hampir sepuluh tahun yang lalu setelah mengalami kelumpuhan selama dua tahun. ”Pak Dirman dan Ibu?” Mbak Sri menjelaskan, Pak Dirman juga sudah tidak ada. Istrinya sekarang tinggal di Malang dengan anak bungsunya. Rumah Pak Dirman sudah dijual kepada kerabat jauhnya. Lingkungan sekitar tempat kosku sudah banyak berubah. Orangorang yang kukenal kebanyakan pergi merantau atau pindah menetap di tempat lain mengikuti pasangannya. Sisa pagi itu kuhabiskan dengan menyusuri bagian lain kota. Tempat pertama yang kukunjungi adalah Percetakan Redjo di sebelah selatan pendopo kabupaten. Di situlah aku pernah bekerja dengan gaji pas-pasan untuk membayar kos dan sekadar.

Membaca Memindai Cerpen

makan. Aku ingin mengunjungi Koh A Liem, pemilik percetakan. Jalan di sekitar pendopo kabupaten masih sejuk seperti dulu. Bedanya, sekarang sepanjang jalan dihiasi pot-pot bunga besar dan lampu jalan. Beberapa papan reklame juga menyemarakkan jalan. Aku terus menyusuri jalan sampai perempatan, tetapi tempat yang kucari tidak kujumpai. Di bekas tempat percetakan itu sekarang berdiri sebuah toko bangunan besar. Aku melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat lain yang sering kukunjungi, warung makan Yu Tarmi. Warung makan itu dulu selalu ramai dikunjungi pelanggan. Selain masakannya enak, harganya juga terjangkau. Yu Tarmi selalu meladeni setiap pelanggannya dengan ramah. Tidak pernah ia kelihatan cemberut atau bersungut-sungut. Sesekali, ia juga mengizinkan aku untuk berhutang ketika aku kehabisan uang. Namun, lagi-lagi aku tidak menemukan tempat yang kucari. Pada awalnya, aku bahkan gagal menemukan lokasi warung tersebut. Aku terus menyusuri jalan sekitar alun-alun, mencoba mencari tempat-tempat yang bisa membangkitkan kenangan masa laluku. Namun, kota kecil ini ternyata sudah banyak berubah.

Membaca Memindai Cerpen –  Menjelang zuhur, aku menghempaskan tubuh dengan letih di bangku kecil di bawah pohon. Apa yang kulakukan di kota kecil ini? Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Mengapa aku melakukan perbuatan bodoh ini? Tersaruk-saruk memunguti ceceran kenangan masa laluku. Benarkah sekadar mengikuti kenangan masa lalu yang mendesak-desak memoriku ataukah aku ingin mendapatkan kegembiraan dari menyusuri masa laluku dengan menjumpai orang-orang yang pernah menjadi bagian dari masa laluku? Karena sekarang, dalam hidupku, tak ada lagi orang yang benarbenar kukenal. Sejak kematian istri dan anakku, semua orang menjadi asing buatku. Bahkan, terkadang aku merasa asing dengan diriku sendiri. Mungkin karena itulah, aku berada di kota ini. Mencoba menemukan kembali jati diriku. Adzan zuhur terdengar dari menara Masjid Agung. Beberapa pria bersarung dan berpeci melangkah bergegas memasuki masjid. Suara adzan itu menggetarkan hatiku. ”Probo, ayo, Le, cepat. Sudah adzan….” Pak Dirman menarik lenganku, mengajakku melangkah lebih bergegas. ”Inggih, Pak….” sahutku. Bersama Pak Dirman, dulu, setiap Magrib aku pergi ke masjid untuk salat berjamaah. Usai salat Magrib dan wiridan, Pak Dirman mengajarku membaca Alquran di sudut masjid, dekat tiang kayu besar di sebelah selatan. Kami akan tilawah sampai tiba waktu salat Isya dan baru pulang ke rumah setelah salat Isya. Setiap subuh, Pak Dirman juga membangunkanku untuk salat Subuh ke masjid. Aku bangkit, sesuatu dalam diriku mendorongku untuk melangkah ke masjid. Masjid agung itu masih sama, teduh dan menenteramkan. Mataku berkaca-kaca. Ya Allah, sudah berapa lama aku tidak bersujud menyembahmu? Para jamaah salat Zuhur sudah bersiap-siap akan shalat saat aku membasuh wajahku di tempat wudhu. Kurasakan kedamaian menjalari hatiku. Mudahmudahan ini bukan sekadar persinggahan sesaat bagiku. Sumber: UMMI, ed. 3/XVI/2004 dengan pengubahan .

Membaca Memindai Cerpen

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Menemukan Hal Menarik dalam Isi Cerpen Pendek

Isi Cerpen Pendek
Isi Cerpen Pendek

Isi Cerpen Pendek – Membaca cerpen merupakan kegiatan membaca ekspresif. Hal yang harus diperhatikan dalam membaca ekspresif adalah gerak dan vokal sebab gerak dan vokal merupakan simbol-simbol yang bermakna untuk mengungkapkan ide bagi pembaca dan sekaligus usaha pemahaman, penikmatan bagi penonton/penikmat. Oleh karena itu, gerak dan vokal harus memiliki nilai estetik. Pada pelajaran ini, kalian kembali belajar membaca cerpen. Kali ini, cerpen yang disajikan adalah cerpen modern dan menemukan hal menarik di dalamnya. Tentu saja melalui kegiatan berdiskusi. Bacalah cerpen berikut!

Andong Mbah No Cerpen Yudhi Herwibowo Nama aslinya Surono, tapi biasa dipanggil Mbah No. Sejak lama saya sudah mengenalnya. Mungkin sejak duduk di kelas 1 SD, sekitar 15 tahun lalu. Mbah No adalah penarik andong. Maka itulah, ibu meminta Mbah No agar mau mengantar jemput saya sekolah setiap hari. Memang tak hanya saya sendiri, tapi bersama-sama beberapa anak tetangga lainnya yang kebetulan satu sekolah. Tak heran, hampir 3 tahun lamanya, saya selalu naik andong Mbah No. Saya baru berhenti ketika ayah membelikan saya sepeda BMX. Akan tetapi, selama 3 tahun itu, walau mungkin ada beberapa anak yang selalu bersama saya, tapi saya rasa, sayalah yang paling dekat dengan Mbah No. Mungkin karena rumah kami yang tepat berbelakangan. Jadi, saya selalu dijemput pertama kali dan diantar terakhir kali. Sungguh, saya menyukai Mbah No. Terutama saat dia bercerita. Termasuk cerita tentang si Pekik, kuda yang selalu mengangkut kami ini. Biasanya sambil bercerita, Mbah No membiarkan saya memegang kendali si Pekik berikut pecutnya sekaligus. Tapi dulu itu, saya tak pernah punya keberanian memecut si Pekik. Saya hanya berteriakteriak menyuruh kuda hitam itu berlari cepat dan Mbah No akan terkekeh di samping saya. Bagi saya, sepertinya ia sudah menjadi ayah kedua. Mungkin ini berlebihan, tapi banyak kejadian yang membuat pikiran itu terlintas di kepala saya. Seperti saat saya pertama kali berantem, Mbah No-lah yang pertama memeluk saya karena Anton Gendut menonjok mata saya hingga bengkak.

Isi Cerpen Pendek

Mbah No juga yang selalu melihat nilai ulangan saya yang jeblok dan mencoba menghibur serta memberi semangat agar lebih giat belajar. Ah…, terlalu banyak cerita saya dengannya! Tak heran, sejak saya tak ikut andongnya pun, saya masih terus berhubungan dengannya. Sering saya menghabiskan waktu di rumah Mbah No, di mana ia tinggal sendirian sejak istrinya meninggal. Saat itu, kami sering mengobrol di dipan kayu sambil minum teh. Sering juga kami memandikan si Pekik bersama-sama. Kejadian ini berlangsung lama, bahkan sampai ketika si Pekik mati pun, saya yang menggali kuburannya di samping rumah Mbah No. Ah, Mbah No, Mbah No… Saya benar-benar merindukan saatsaat seperti itu! Kini, saya teringat lagi padanya, bukan karena kejadian itu semua, tapi karena hal yang tidak mengenakkan! Saat ini saya benarbenar merasa bersalah. Sejak saya diterima kerja di hotel terbesar di Solo ini, saya memang jadi jarang bertemu dengan Mbah No. Apalagi sejak 3 tahun yang lalu, kami pindah ke perumahan lain. Jadi, Mbah No makin jauh dari saya. Terakhir yang saya ingat, ketika saya menyampaikan berita gembira itu sekitar 5 bulan yang lalu. Masih saya ingat sinar mata berbinar Mbah No ketika saya sampaikan tujuan saya datang sore itu. Saat itu saya memang membawa perintah kepala hotel saya untuk menawari pekerjaan kepada Mbah No di hotel kami. ”Jadi andong hotel, Nak Ndjar?” tanyanya dengan sinar tak percaya. ”Iya, Mbah,” saya juga ikut senang. ”Nanti kalau ada turis-turis yang ingin keliling kota, Mbah yang nganter. Ke Klewer, ke keraton, ke Sriwedari, atau ke mana saja. Nanti andong Mbah No akan didandani, seperti andong keraton. Pakai hiasan-hiasan bagus. Mbah No juga!”

Isi Cerpen Pendek – Masih dengan mata berbinar, ditepuktepuknya leher si Sekti, kuda pengganti si Pekik ini berulang kali. ”Seperti naik pangkat, Le!” ujar Mbah No bercanda. ”Dan yang pasti lagi, Mbah,” tambah saya masih bersemangat,” Tiap bulan Mbah No dapat gaji tetap! Lumayan, Mbah.” Sungguh, saya masih ingat kejadian itu. Bagaimana mungkin saya lupa dengan sinar mata berbinar itu? Dan kini, hanya selang 5 bulan kemudian, kejadian yang bertolak belakang akan saya lakukan! Sungguh, sepertinya saya ingin berlari menjauh saja. Saya jadi benar-benar membenci Pak Parto, direktur saya yang baru itu. Juga Pak Kanto, yang seenaknya saja memutuskan kerja sama dengan Mbah No. ”Ndak usah sedih begitu, Le!” Mbah No menepuk-nepuk punggung saya. ”Andjar sudah berusaha membujuk Pak Kanto, Mbah, tapi sulit. Kondisi hotel sekarang memang sedang susah. Bulan-bulan ini, turisturis hanya beberapa saja yang datang. Jadi….” saya tak bisa melanjutkan. ”Iya, iya, Mbah bisa ngerti, kok!” Setelah itu, tak banyak pembicaraan di antara kami. Saya yakin Mbah No pasti sedang berpikir kelanjutan cerita ini. Dia pasti akan kembali lagi ke jalan, menunggu penumpang, membawa kulakankulakan segede gunung yang berbau, dengan tenaga kudanya yang tua, setua tenaganya sendiri. Ah, saya benar-benar tak ingin membayangkannya. Setelah memberi pesangon titipan kantor, saya pun berlalu. Dalam hati saya berjanji suatu saat saya akan kembali lagi memanggil Mbah No bekerja di hotel. Sejak itu, saya tak pernah lagi bertemu dengan Mbah No. Sesekali saya sempatkan mampir, membawakan martabak telor kesukaannya. Namun, tak pernah saya temui dia. Saya pun hanya bisa meninggalkan martabak itu, melalui jendela, di atas dipannya. Sampai akhirnya setelah beberapa bulan lewat, kondisi pun mulai membaik, perlahan-lahan mulai bangkit. Saat rapat pengembangan, saya mulai kembali mengusulkan pengadaan fasilitas andong untuk hotel ini. Dan ternyata ide saya diterima dengan baik. Maka siang itu juga, saya segera pergi ke rumah Mbah No. Tetapi, tak saya temui Mbah No di sana. Saya coba cari di pangkalan. Tapi, tak juga ada. Akhirnya, terpaksa saya tunggu. Sekitar satu jam kemudian, Mbah No saya lihat muncul di belokan gang itu. ”Eh, kamu, Le,” sapanya begitu dekat, ”Sudah lama menunggu?” Saya mengangguk, ”Iya lumayan, Mbah. Tapi…’ mata saya berputar ke sekeliling, ”Mana Sekti, Mbah? Kok, Mbah No pulang dengan jalan kaki?” ”Oooh, itu,” Mbah No terkekeh sesaat, tapi saya merasa aneh mendengar kekehnya itu, seperti terlalu dipaksakan. Saya tunggu ia menuangkan air minum dari kendi. ”Sekti sudah Mbah jual,” ujarnya setelah meneguk airnya, ”Dia sudah tua, kemarin ngangkat kapuk beberapa kilo saja sudah klenger. Sebelum nanti mati di jalan, biar Mbah jual duluan saja. Lumayan, masih ada yang beli dengan harga tinggi…” Sumber: Solopos, Agustus 2004, dengan pengubahan

Isi Cerpen Pendek

Kalian telah membaca sebuah cerpen. Tentu kalian telah memahami unsur-unsur yang membangun cerpen tersebut, khususnya latar dan penokohan.

Latar cerita dapat berupa tempat, waktu, atau suasana yang melingkupi cerita. Adapun penokohan adalah pengambaraan watak suatu tokoh. Penokohan dapat diketahui dari paparan pengarang, sikap, pembicaraan, dan tindakan suatu tokoh, serta pandangan tokoh lain terhadap tokoh tersebut. Selain itu, kalian juga dapat menemukan hal-hal yang menarik atau mengesankan di dalamnya. Misalnya, tokoh ”Saya” merasa memiliki hubungan istimewa dengan Mbah No, sang kusir andong. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut.

”Bagi saya, sepertinya ia sudah menjadi ayah kedua. Mungkin ini berlebihan, tapi banyak kejadian yang membuat pikiran itu melintas di kepala saya. Seperti saat saya pertama kali berantem, Mbah No-lah yang pertama memeluk saya karena Anton Gendut menonjok mata saya hingga bengkak.”

Paragraf itu menggambarkan kedekatan seorang anak terhadap Mbah No, yang sebenarnya tidak ada hubungan keluarga. Kalian juga dapat menemukan hal-hal menarik atau mengesankan yang lain dalam cerita tersebut.

Isi Cerpen Pendek

1. Apa tema yang diangkat penulis dalam cerpen ”Andong Mbah No” di atas? 2. Siapakah Mbah No yang diceritakan pada cerpen itu? 3. Apakah hubungan antara tokoh ”Saya” dengan Mbah No? 4. Apa yang diceritakan penulis tentang andong Mbah No? 5. Peristiwa apa saja yang dialami Mbah No dengan andongnya? 6. Di mana peristiwa itu terjadi? 7. Kapan peristiwa itu terjadi? 8. Bagaimana pendapatmu tentang tokoh Mbah No? 9. Seandainya kamu menjadi tokoh ”Saya” apa yang akan kamu lakukan saat tahu Sekti, kuda milik Mbah No sudah dijual?

1. Cobalah kalian ceritakan pengalaman naik delman. Jika kamu belum pernah naik delman, ceritakan pengalamanmu naik angkutan tradisional di daerahmu! 2. Bacalah cerpen lain di perpustakaan, kemudian diskusikan halhal menarik atau mengesankan di dalamnya!

Isi Cerpen Pendek