Mengenal Pengertian Komponen Ekosistem Lingkungan

Mengenal Pengertian Komponen Ekosistem Lingkungan

Mengenal Pengertian Komponen Ekosistem Lingkungan

Komponen Ekosistem Lingkungan – Bayangkan kalian sedang duduk di tepi sawah, memandang hamparan nan luas dengan padi yang mulai tumbuh. Betapa indah pemandangan itu. Air yang melimpah memudahkan petani yang sedang bekerja. Di dekatnya, diantara tanaman padi, terdapat berbagai jenis hewan seperti katak, ular, ikan, belalang, burung, dan sebagainya. Terdapat pula berbagai jenis rumput dan tumbuhan lain yang seringkali dianggap sebagai gulma. Sawah, air, tumbuhan, hewan, dan komponen-komponen lain yang ada disana adalah pembentuk ekosistem. Semuanya berinteraksi dan masing-masing mempunyai peran yang spesifi k. Begitulah gambaran sebuah ekosistem sawah. Menurut kalian apakah ekosistem itu? Mengapa begitu penting untuk kalian pelajari? Mari kita simak pembahasan berikut.

Komponen Ekosistem Lingkungan
Komponen Ekosistem Lingkungan

Komponen Ekosistem Lingkungan – Dalam pembahasan berikut kalian akan mempelajari berbagai komponen penyusun ekosistem, interaksi antarkomponen ekosistem, serta mengkaji mekanisme aliran energi pada suatu ekosistem. Selain membahas aliran energi, kalian juga akan mempelajari daur biogeokimia. Setelah mempelajari bab ini kalian diharapkan dapat menjelaskan komponen-komponen ekosistem dan interaksi yang terjadi di dalamnya, menjelaskan faktor-faktor pendukung terjadinya keseimbangan ekosistem, serta menganalisis jika terjadi ketidakseimbangan hubungan antar komponen (karena faktor alami dan akibat perbuatan manusia). Selain itu, kalian juga diharapkan dapat menjelaskan mekanisme aliran energi pada suatu ekosistem, membuat charta daur biogeokimia, seperti air, karbon, nitrogen, sulfur, posfor, serta menjelaskan peran mikroorganisme atau organisme dalam berbagai daur tersebut.

Komponen Ekosistem Lingkungan

A. Komponen Ekosistem

Semua jenis makhluk hidup di alam ini selalu berinteraksi dengan lingkungannya, baik dengan lingkungan fi sik maupun dengan makhlukhidup yang lain. Tumbuhan membutuhkan tanah, udara, dan air untuk dapat hidup dan berfotosintesis. Hewan membutuhkan tumbuh an atau hewan lain sebagai makanannya. Selain itu hewan juga membutuhkan udara untuk bernapas dan air untuk minum. Ketika jumlah tumbuhan berkurang, hewan pemakan tumbuhan akan kelaparan. Begitu pula, hewan-hewan yang menjadikan tumbuhan sebagai tempat tinggal akan kehilangan rumahnya. Ketika jumlah air berkurang, tumbuhan dan hewan mungkin akan mati karena kekeringan. Berbagai interaksi tersebut merupakan hubungan saling mempengaruhi yang terjadi antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan membentuk suatu sistem yang disebut ekosistem. Ekosistem disusun oleh dua komponen, yaitu lingkungan fi sik atau makhluk tidak hidup (komponen abiotik) dan berbagai jenis makhluk hidup (komponen biotik). Berbagai jenis makhluk hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi satuan-satuan makhluk hidup dan ekosistem merupakan salah satunya.

Komponen Ekosistem Lingkungan

1. Komponen Abiotik

Komponen abiotik merupakan komponen penyusun ekosistem yang terdiri dari benda-benda tak hidup. Secara terperinci, komponen abiotik merupakan keadaan fi sik dan kimia di sekitar organisme yang menjadi medium dan substrat untuk menunjang berlangsungnya kehidupan organisme tersebut. Contoh komponen abiotik adalah air, udara, cahaya matahari, tanah, topografi , dan iklim. Hampir semua makhluk hidup membutuhkan air. Karena itu, air merupakan komponen yang sangat vital bagi kehidupan. Sebagian besar tubuh makhluk hidup tersusun oleh air dan tidak ada satupun makhluk hidup yang tidak membutuhkan air. Meskipun demikian, kebutuhan organisme akan air tidaklah sama antara satu de ngan yang lainnya. Begitu pula dengan ketersediaan air di suatu daerah, tidak sama antara daerah satu dengan yang lainnya. Hal ini juga akan mempengaruhi cara hidup organisme yang ada di daerah-daerah tersebut. Misalnya hewan yang hidup di daerah gurun akan memiliki kapasitas penggunaan air yang relatif sedikit sebagai penyesuaian terhadap lingkungan hidupnya yang miskin air. Berbagai jenis tumbuhan yang ada juga beradaptasi dengan keadaan tersebut, salah satunya dengan membentuk daun yang tebal dan sempit sehingga mengurangi penguapan.

Komponen Ekosistem Lingkungan – Contohlnya adalah tumbuhan kaktus (Gambar 9.1). Komponen abiotik lainnya adalah udara. Kita tidak bisa menyangkal bahwa peranan udara sangat penting bagi kehidupan di bumi ini. Oksigen yang kita gunakan untuk bernapas atau CO2 yang diperlukan tumbuhan untuk berfotosintesis juga berasal dari udara. Bahkan bumi kita pun dilindungi oleh atmosfer yang merupakan lapisan-lapisan udara. Keadaan udara di suatu tepat dipengaruhi oleh cahaya matahari, kelembaban, dan juga temperatur (suhu). Intensitas cahaya matahari yang diterima oleh suatu daerah akan mempengaruhi kelembaban atau kadar uap air di udara. Selain itu, cahaya matahari juga menyebabkan peningkatan suhu atau temperatur udara. Adanya perbedaan temperatur menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan udara, sehingga udara mengalir atau bergerak membentuk angin. Kesemuanya memberikan pengaruh bagi organisme. Cahaya matahari merupakan sumber energi utama semua makhluk hidup, karena dengannya tumbuhan dapat berfotosintesis.

Komponen Ekosistem Lingkungan – Sedangkan keberadaan uap air di udara akan mempengaruhi kecepatan penguapan air dari permukaan tubuh organisme. Organisme yang hidup di daerah panas (suhu udara tinggi dan kelembaban rendah) akan berupaya untuk mengurangi penguapan air dari dalam tubuh, misalnya onta yang merupakan hewan khas padang pasir. Sedangkan beruang kutub, karena hidup di lingkungan yang sangat dingin, beradaptasi dengan memiliki bulu yang tebal. Perhatikan Gambar 9.2 dan 9.3. Selain itu, perbedaan suhu udara juga bisa menimbulkan angin, yaitu aliran udara akibat perbedaan tekanan. Sehingga organisme akan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Contohnya pada tumbuhan. Tumbuhan yang hidup di daerah dengan angin yang kencang, daerah pantai misalnya, membentuk sistem perakaran yang kuat dan batang yang elastis supaya tidak mudah patah ketika diterpa angin. Contohnya jenis tumbuhan tersebut adalah cemara udang. Selain air, udara, dan cahaya matahari, keberadaan suatu ekosistem juga dipengaruhi oleh kondisi tanah. Apa yang akan terjadi bila bumi kita ini hanya berisi batu dan logam, tanpa ada tanah? Tentu kita tidak akan menjumpai berbagai jenis tumbuhan dan organisme lainnya. Tanah merupakan tempat hidup bagi berbagai jenis organisme, terutama tumbuhan. Adanya tumbuhan akan menjadikan suatu daerah memiliki berbagai organisme pemakan tumbuhan dan organisme lain yang memakan pemakan tumbuhan tersebut. Coba kalian bandingkan tanah yang subur dengan tanah yang tandus. Di tanah yang manakah lebih banyak terdapat organisme? Tentu di tanah yang subur, bukan? Kualitas tanah bisa dilihat dari derajat keasaman (pH), tekstur (komposisi partikel tanah), dan kandungan garam mineral atau unsur haranya. Komponen abiotik yang juga tidak kalah penting adalah topografi dan iklim. Topografi adalah letak suatu tempat dipandang dari ketinggian di atas permukaan air laut (altitude) atau dipandang dari garis bujur dan garis lintang (latitude). Topografi yang berbeda menyebabkan perbedaan penerimaan intensitas cahaya, kelembaban, tekanan udara, dan suhu udara, sehingga topografi dapat menggambarkan distribusi makhluk hidup. Sedangkan iklim merupakan keadaan cuaca rata-rata di suatu tempat yang luas dalam waktu yang lama (30 tahun), terbentuk oleh interaksi berbagai komponen abiotik seperti kelem baban udara, suhu, curah hujan, cahaya matahari, dan lain sebagainya. Iklim mempunyai hubungan yang erat dengan komunitas tumbuhan dan kesuburan tanah. Contohnya adalah di daerah yang beriklim tropis, seperti Indonesia, memiliki hutan yang lebat dan kaya akan keane karagaman hayati yang disebut hutan hujan tropis (Gambar 9.4) sedang kan di daerah subtropis hutan seperti itu tidak dijumpai.

2. Komponen Biotik

Komponen biotik meliputi semua jenis makhluk hidup yang ada pada suatu ekosistem. Contoh komponen biotik adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Menurut peranannya dalam ekosistem, komponen biotik dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai. Organisme yang berperan se bagai produsen adalah semua organisme yang dapat membuat makanan sen diri. Organisme ini disebut organisme autotrof, contohnya adalah tumbuhan hijau (Gambar 9.5). Sedangkan organisme yang tidak mampu membuat makanan sendiri (heterotrof) berperan sebagai konsumen. Tumbuhan merupakan organisme autotrof karena dapat membuat makanan sendiri melalui fotosintesis. Dalam proses ini, bahan anorganik diubah menjadi senyawa organik dengan bantuan sinar matahari. Melalui proses fotosintesis, gas CO2 hasil buangan organi sme lain diubah oleh tumbuhan menjadi zat gula, oksigen, dan energi, sesuai dengan reaksi berikut. 6H2O + 6CO2 – cahaya matahariÆ C6H12O6 + 6O2 + Energi

Selain mampu mencukupi kebutuhannya akan energi, produsen juga berperan sebagai sumber energi bagi organisme lain. Energi yang dihasilkan produsen akan dimanfaatkan oleh organisme lain melalui proses makan dan dimakan. Hewan pemakan tumbuhan memperoleh energi dari tumbuhan yang dimakannya. Sedangkan hewan pemakan tumbuhan tersebut juga bisa dijadikan sumber energi bagi hewan lain yang memakannya. Organisme yang memperoleh makanan dengan cara demikian disebut konsumen. Jadi, organisme yang berperan sebagai konsumen adalah organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri (organisme heterotrof). Berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsinya, konsumen dibedakan menjadi tiga macam yaitu herbivora, karnivora, dan omnivora. Herbivora adalah organisme pemakan tumbuhan. Contohnya adalah kerbau, sapi, kambing, kelinci, dan zebra (Gambar 9.6). Karnivora adalah organisme pemakan hewan (daging). Misalnya singa, serigala, harimau, kucing, dan elang (Gambar 9.7). Sedangkan omnivora adalah organisme pemakan segala jenis makanan, baik tumbuhan maupun hewan.

Selain produsen dan konsumen, terdapat pula organisme yang berperan sebagai pengurai. Pernahkah kalian berpikir bagaimana tumbuhan dan hewan yang mati di suatu tempat dapat hilang setelah beberapa waktu kemudian? Hilangnya tumbuhan dan hewan yang telah mati ini disebabkan oleh aktivitas organisme pengurai atau dekomposer. Mereka berperan menguraikan (melakukan dekomposisi) sisasisa organisme yang sudah mati (detritus). Karena memakan detritus, organisme ini disebut juga detritivora. Organisme pengurai memperoleh makanan dengan cara merombak sisa produk organisme dan organisme yang mati dengan enzim pencernaan yang dimilikinya. Hasil perombakan ini kemudian diserap sebagai makanan. Kegiatan pengurai memungkinkan senyawa sederhana didaur ulang, sehingga dapat digunakan kembali oleh organisme autotrof atau produsen. Contoh organisme yang termasuk pengurai adalah cacing tanah, jamur, dan bakteri, lipan, luing, kutu kayu, rayap, nematoda, dan larva serangga.

 

Mengenal Pengertian Filum Echinodermata Invetebrata

Mengenal Pengertian Filum Echinodermata Invetebrata

Mengenal Pengertian Filum Echinodermata Invetebrata

Filum Echinodermata Invetebrata – Filum Echinodermata – Kata Echinodermata berasal dari bahasa Latin echinus (duri) dan derma (kulit). Jadi, Echinodermata merupakan sekelompok hewan yang tubuhnya diselubungi oleh kulit yang berduri. Tubuh Echinodermata tidak memiliki segmen-segmen, umumnya simetri radial dan bilateral, sel kelamin terpisah. Kulit tubuh berdiri dan tersusun atas lempenglempeng zat kapur. Biasanya berukuran besar dengan bentuk badan memipih dan seperti bintang, globuler (bulat seperti bola), memanjang dengan permukaan oral dan aboral yang nyata. Warna tubuhnya berkilauan dan transparan. Terdapat kaki tabung atau podia yang merupakan alat tambahan pada sistem ambulakral. Semua anggotanya hidup di laut, mulai di daerah intertidal sampai kedalaman beberapa ribu meter. Sebagian bergerak aktif akan tetapi ada juga yang menetap seperti tumbuhan dan membentuk koloni. Filum Echinodermata terbagi menjadi 5 kelas yaitu Asteroidea, Echinoidea, Ophiuroidea, Holothuroidea, dan Crinoidea. Untuk lebih jelasnya simak uraian berikut ini.

Filum Echinodermata Invetebrata

Filum Echinodermata Invetebrata
Filum Echinodermata Invetebrata

Filum Echinodermata Invetebrata

a. Kelas Asteroidea Asteroidea berasal kata Yunani aster (bintang) dan eiodes (bentuk), sehingga kelompok ini sering disebut sebagai bintang laut. Kelas ini memiliki tubuh pipih berbentuk seperti bintang atau pentagonal, terdiri atas lima lengan atau lebih yang tersusun simetri radial. Pada ujung-ujung lengan terdapat alat sensor yang bentuknya menyerupai tentakel dengan bintik mata pada ujungnya mengandung pigmen merah yang peka terhadap cahaya. Lekukan ambulakral membuka, berisi kaki tabung yang biasanya dilengkapi dengan sucker (batil penghisap). Permukaan tubuh bagian atas (aboral) ditutupi diri-diri tumpul berbentuk catut (pediselaria). Contoh anggota kelas ini adalah bintang laut biru (Linc kia sp.), Astropecten diplicatus, Archaster sp., bintang laut merah (Asterias sp.), dan Culcita sp.

Filum Echinodermata Invetebrata

b. Kelas Echinoidea Echinoidea disebut juga landak laut, berasal dari kata echinos (landak) dan eiodos. Tubuhnya berbentuk globuler, bulat (oval), tidak memiliki lengan. Duri-duri tubuh panjang, digerakkan oleh otot dan berfungsi untuk berjalan. Lekukan ambulakral tertutup dan kaki tabung dilengkapi dengan sukers, mempunyai tiga pedisela ria seperti rahang, mulut terletak di tengah dan dikelilingi oleh selaput peristoma. Ciri khas hewan ini adalah terdapat banyak pediselaria di seluruh permukaan tubuh, berupa duri-duri seperti batang yang panjang. Hewan ini mempunyai kerangka yang tersusun atas lempengan-lempengan kapur, membentuk cangkang yang kaku berbentuk seperti kotak. Contoh anggota kelas ini adalah landak laut (Echinus sp.), bulu babi (Diadema sp.), dan dolar pasir (Echinarachinus sp.).

Filum Echinodermata Invetebrata

c. Kelas Ophiuroidea Ophiuroidea disebut juga bintang ular, berasal dari kata ophis (ular), oura (ekor) dan eidos (bentuk). Tubuhnya memipih, seperti bintang atau pentamerous dengan lengan yang ramping, fl eskibel. Tidak mempunyai kaki amburakral dan anus, sehingga sisa makanan dikeluarkan lewat mulut. Lekukan ambulakral tertutup dan kaki tabung tanpa sucker. Madreporit tertapat pada permukaan oral, tidak mempunyai pediselaria. Contoh anggota kelas ini adalah Gorgonocephalus sp., Ophiopolis sp., dan Opiotrix fragilis. Gambar 8.44 adalah Ophiopolis sp., yang banyak dijumpai pada zona litoral yang berkarang.

d. Kelas Holothuroidea Holothuroidea dikenal juga dengan sebutan ketimun laut, berasal dari kata holothurion (ketimun laut) dan eidos (bentuk). Tubuhnya memanjang dalam sumbu oral seperti cacing, simetri bilateral, mulut dan anus terletak pada kedua ujung yang berlawanan. Hewan ini tidak mempunyai lengan dan duri juga mereduksi menjadi spikula. Kulitnya lunak dan tipis tanpa spina (duri) atau pediselaria. Hewan ini memiliki kaki tabung. Contoh anggota kelas ini adalah Cucumaria sp., Elapidia sp., dan teripang (Holothuria sp.).

Filum Echinodermata Invetebrata

e. Kelas Crinoidea Crinoida memiliki tubuh yang menyerupai tumbuhan, sehingga sering disebut sebagai lilia laut. Hidup pada karang atau pada tumbuhan laut. Hewan ini memiliki lengan yang panjang menyerupai daun, berjumlah lima atau kelipatannya, disebut pinnula. Panjang pinnula bisa mencapai 80-200 cm. Beberapa jenis memiliki tangkai yang berasal dari daerah aboral, berfungsi melekatkan diri pada substrat. Mulutnya terletak di daerah oral, mengarah ke atas dan dikelilingi oleh tentakeltentakel halus yang disebut cirri. Amburakral terdapat di permukaan oralnya. Contoh jenis dari kelas ini adalah Holopus sp. (lilia laut tidak bertangkai), Ptilocrinus pinnatus (lilia laut bertangkai), Metaricanus intereptus (lilia laut tidak bertangkai), dan Antendon sp. (lilia laut tidak bertangkai). Perhatikan gambar 8.46 dan 8.47. Nah, sekarang kalian telah memiliki pengetahuan tentang hewanhewan tidak bertulang belakang atau invertebrata. Pada pembahasan selanjutnya, kalian akan mempelajari hewan-hewan yang memiliki tulang belakang atau vertebrata.

Filum Echinodermata Invetebrata – Selesaikan soal-soal berikut dengan tepat. 1. Jelaskan pengertian dan ciri-ciri Animalia. 2. Apa yang disebut dengan invertebrata? Sebutkan 9 filum yang termasuk invertebrata. 3. Sebutkan ciri-ciri setiap filum anggota invertebarta dan berikan contoh jenisnya. 4. Di antara bebagai filum hewan-hewan tidak bertulang belakang, manakah yang memiliki keanekaragaman yang tertinggi? Jelaskan. 5. Buatlah sketsa tubuh salah satu jenis hewan invertebarata. Tuliskan keterangan masing-masing bagiannya.

Meskipun keanekaragaman jenisnya relatif lebih rendah dibandingkan invertebrata, hewan-hewan vertebrata secara ekologis memiliki peran yang sangat penting karena ukuran tubuhnya yang relatif besar. Selain itu, kelompok hewan vertebrata banyak yang dimanfaatkan manusia untuk berbagai keperluan, sehingga berbagai aspek tentang kelompok hewan ini telah banyak dipelajari oleh manusia.

Ikhtisar

1. Porifera berarti hewan berpori yang hidup di air laut dan air tawar. Filum Porifera terbagi menjadi 3 kelas, yaitu Kelas Calcarea, Hexactinellida, Desmospongia. 2. Cnidaria disebut juga Coelenterata karena mempunyai rongga besar di tengah-tengah tubuh. Cnidaria mempunyai sel-sel penyengat pada bagian epidermis. Mempunyai dua bentuk tubuh dalam hidupnya, yaitu polip dan medusa. Filum Cnidaria terbagi menjadi tiga kelas yaitu Kelas Hydrozoa, Scyphozoa, Anthozoa. 3. Platyhelminthes disebut juga cacing pipih, bertubuh lunak dan berbentuk seperti pita atau daun, biasanya merugikan karena menjadi parasit pada Vertebrata. Filum Platyhelminthes terbagi menjadi tiga kelas yaitu Kelas Turbelaria, Trematoda, Cestoda. 4. Nemathelminthes berarti cacing benang atau cacing tambang karena tubuh tidak beruas-ruas dan sel pencernaan sudah berkembang sempurna. Habitat cacing ini di air, tanah dan parasit pada vertebrata. Filum Nemathelminthes terbagi menjadi dua kelas, yaitu Kelas Nematoda dan Nematomorpha. 5. Annelida berarti cacing cincin atau gelang, karena tubuhnya bersegmen seolah seperti sederetan cincin memanjang. Annelida bermanfaat bagi kehidupan manusia seperti penyubur tanah, sebagai sumber makanan, berperan dalam bidang medis dengan zat hirudin dan lain-lain. Filum Annelida terbagi menjadi tiga kelas, yaitu Kelas Oligochaeta, Polychaeta, Hirudinea. 6. Mollusca berarti hewan bertubuh lunak, berbentuk bulat simetris dan tidak bersegmen. Habitatnya di air laut, air tawar, dan darat. Sebagaian besar jenis Mollusca mempunyai cangkang (mantel), tetapi ada yang tidak punya mantel seperti guruta. Filum Mollusca terbagi menjadi 5 kelas, yaitu Kelas Amphineura, Gastropoda, Scaphopoda, Pelecypoda, dan Cephalopoda. 7. Echinodermata berarti hewan berduri, merupakan hewan yang tidak memiliki segmen, kulitnya berduri dan tersusun atas lempeng-lempeng zat kapur. Sebagian besar anggota Echinodermata dapat bergerak aktif, tetapi ada pula yang menetap seperti tumbuhan. Filum Echinodermata terbagi menjadi lima kelas, yaitu Kelas Arachnoidea, Echinoidea, Ophiuroidea, Crinoidea, dan Holothuroidea. 8. Arthropoda merupakan hewan yang mempunyai tubuh dan kaki bersegmen-segmen. Jumlah kaki mengalami modifikasi sesuai dengan kelasnya. Hewan ini memiliki keanekaragaman terbesar di dunia. Filum Arthropoda dibagi menjadi empat kelas, yaitu Kelas Crustacea, Insecta, Myriapoda, dan Arachnida. 9. Chordata merupakan hewan yang memiliki chorda dorsalis yang memanjang menjadi kerangka sumbu tubuh. Filum Chordata terbagi menjadi lima kelas, yaitu Kelas Pisces, Amphibia, Reptilia, Aves, dan Mamalia.

Asimetris Tidak berbentuk Daerah intertidal Daerah pantai yang mengalami pasang-surut Detritivor Hewan pemakan detritus (sisa-sisa makhlukhidup yang telah mati) Esofagus Kerongkongan. Suatu saluran yang meneruskan makanan, melalui gaya peristaktik, dari faring ke lambung Fertilisasi Pembuahan. Penyatuan gamet haploid untuk menghasilkan suatu zigot yang diploid Flagela Serabut berbentuk cambuk yang dapat bergerak Hermaprodit Terdapat sel kelamin betina dan jantan dalam satu individu Hospes intermediet Inang perantara Intestinum usus Limfa (getah bening) Cairan tak berwarna yang dihasilkan dari cairan intertisial, dalam sistem getah bening hewan invertebrata Metamorfosis Proses pergantian dari bentuk satu ke bentuk yang lain yang sama sekali berbeda de ngan bentuk sebelumnya Migrasi Perpindahan hewan dari satu tempat ke tempat lain karena perubahan musim dan ketersediaan makanan Parasit Hidup menumpang pada organisme lain yang menjadi inang Simetri radial Jika dibelah melalui pusat dari arah manapun akan terbagi menjadi dua bagian yang sama ukuran dan bentuknya Skrotum Suatu struktur di dalam testis (organ genitalia laki-laki) Zona litoral Daerah pantai yang berbatu karang Zat anti koagulan suatu zar yang berfungsi menghambat pembekuan darah Zooplankton Hewan-hewan mikroskopis yang hidup hidup di perairan .

Mengenal Keanekaragaman Hayati Jenis di Indonesia

Mengenal Keanekaragaman Hayati Jenis di Indonesia

Mengenal Keanekaragaman Hayati Jenisdi Indonesia

Keanekaragaman Hayati Jenis – Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis. Berada di antara dua benua, Asia dan Australia, merupakan negarakepulauan yang terdiri dari tujuh belas ribu pulau. Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas di dunia, karena memiliki keanekaragaman jenis hayati yang tinggi. Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati yang kedua terbesar di dunia, yakni setelah Brazil. Hutan hujan tropis kita kaya akan fl ora dan fauna serta memiliki tingkat endemisme yang tinggi. Begitu pula de ngan kekayaan terumbu karang di laut Indonesia yang merupakan pusat keanekaragaman yang tertinggi di dunia.

Keanekaragaman Hayati Jenis
Keanekaragaman Hayati Jenis

Keanekaragaman Hayati Jenis – Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia didukung oleh beberapa hal. Wilayah Indonesia terletak pada dua kawasan biogeografi, yaitu Oriental dan Australia, sehingga Indonesia memiliki sebagian kekayaan jenis hayati Asia dan sebagian jenis hayati Australia sebagai modal keanekaragaman jenis yang dimiliki. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai tipe topografi yang dapat berfungsi sebagai penghalang perpindahan anggota berbagai jenis hayati atau memiliki faktor alam yang khas sehingga memungkinkan terbentuknya anak jenis serta jenis baru dari modal jenis yang telah ada. Indonesia terletak di daerah tropik yang merupakan salah satu sasaran migrasi satwa dari belahan bumi utara serta belahan bumi selatan sehingga Indonesia mendapat tambahan kekayaan jenis hayati dari perilaku migrasi.

Keanekaragaman Hayati Jenis – Wilayah Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau dibagi menjadi 3 wilayah utama, yaitu Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Masing-masing wilayah tersebut memiliki berbagai jenis makhluk hidup dengan persebaran yang khas. Misalnya, hutan di Kalimantan  memiliki jenis tumbuhan yang paling banyak dibandingkan hutanhutan di daerah lainnya. Dengan demikian, kalian bisa menemukan jenis tumbuhan tertentu yang tidak kalian temukan di luar Kalimantan. Sedangkan hutan-hutan di Jawa, Sunda, Sulawesi, dan Maluku merupakan daerah yang memiliki tumbuhan lebih sedikit dibandingkan dengan hutan di Kalimantan. Bagaimana persebaran hewan dan tumbuhan selengkapnya? Perhatikan uraian berikut.

Keanekaragaman Hayati Jenis

1. Persebaran Tumbuhan Hutan hujan tropis di Indonesia kaya akan berbagai jenis tumbuhan. Tumbuhan di Indonesia tergolong tumbuhan Malesiana. Tumbuhan Malesiana merupakan jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di beberapa daerah, yaitu di Sumatra, Kalimantan, dan Filipina bagian utara. Contoh tumbuhan tersebut adalah meranti, palem, dan salak. Terdapat pula tumbuhan khas Malesiana yang menarik, yaitu Raffl esia arnoldii. Tumbuhan yang juga dikenal dengan sebutan bunga bangkai ini hanya bisa ditemukan di Aceh dan Bengkulu, jadi sifatnya endemis. Perhatikan gambar 6.4. Selain Raffl esia arnoldii di Sumatra, tanaman endemik juga ditemukan di Papua, yaitu ratu sulur (Strong Ylodon). Papua juga memiliki pohon yang khas yang disebut matoa (Pometia pinnata). Perhatikan Gambar 6.5. Bentuk buah matoa seperti kelengkeng, tetapi lebih besar dan buahnya membentuk rangkaian seperti anggur, berkulit tipis, dan kuat. Berbagai daerah lain di Indonesia juga memiliki jenis tumbuhan yang khas. Kelompok meranti (Shorea spp.) dan rotan (Calamus caesius) merupakan jenis yang khas dari hutan di Kalimantan. Sedang kan pohonjati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia mahagoni), dan Kenari (Canarium commune) banyak ditemukan di Pulau Jawa. Contoh lain adalah salak (Salacca edulis) yang banyak tumbuh di Yogyakarta, Bali, dan Banjarnegara, serta durian (Durio zibethinus) yang banyak tumbuh di Pulau Jawa dan Sumatra.

Keanekaragaman Hayati Jenis

2. Persebaran Hewan Secara geografi s, wilayah Indonesia dilewati Garis Wallace dan Garis Weber. Garis-garis khayal tersebut menunjukkan adanya perbedaan persebaran hewan (fauna) di Indonesia.

Garis Wallace dan Weber membagi wilayah Indonesia menjadi 3 bagian, yaitu daerah di sebelah barat Garis Wallace, daerah di sebelah timur Garis Weber, dan daerah di antara keduanya. Masing-masing daerah tersebut memiliki berbagai jenis hewan yang khas. Daerah di sebelah barat garis Wallace meliputi Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan memiliki berbagai jenis fauna Oriental (Asiatis). Jenis-jenis fauna tersebut adalah gajah, tapir, badak bercula satu, harimau Sumatera, orang utan, kera bekantan, dan beruang madu. Perhatikan Gambar 6.8. Tipe fauna Oriental dicirikan dengan hewan menyusui yang berukuran besar, berbagai macam kera, dan ikan air tawar.

Di wilayah sebelah timur Garis Weber hidup fauna Australian yaitu berbagai jenis burung dengan warna bulu yang menyolok, misalnya kasuari, cendrawasih, nuri, dan parkit. Ada pula merpati berjambul dan beberapa jenis hewan berkantung, misalnya kanguru pohon. Jenis fauna yang lain adalah komodo, babirusa, dan kuskus. Gambar 6.9 menunjukkan berbagai jenis hewan tersebut.

Keanekaragaman Hayati Jenis – Daerah di antara dua Garis Wallace dan Weber merupakan zona peralihan atau wilayah Wallacea. Semakin ke timur dari Garis Wallace, jumlah fauna oriental semakin berkurang. Sebaliknya, semakin ke barat dari Garis Weber, fauna Australian semakin berkurang. Dengan demikian, marsupialia dapat ditemukan di daerah Wallacea dan burung pelatuk oriental juga dapat dijumpai di sebelah timur Wallacea . Sementara itu, hewan-hewan oriental misalnya burung hantu, bajing, dan babi melintasi Garis Wallace sampai ke Sulawesi. Hewan Australian yang lain misalnya anoa, maleo, dan tarsius.

Kalau dicermati, fauna yang ada di Bali berbeda jauh dengan fauna yang ada di Lombok, walaupun kedua pulau tersebut hanya dipisahkan oleh selat yang hanya berjarak sekitar 30 km. Di Bali ditemukan hewan oriental bajing dan harimau, tetapi hewan ini tidak menyebar ke Lombok. Sedangkan di Lombok ditemukan burung pemakan madu yang tidak ditemukan di Bali (fauna Australian). Contoh lainnya yaitu di Sulawesi ditemukan hewan Australian Oposom dan burung kakak tua (fauna Australian), namun kedua hewan tersebut tidak ditemukan di Kalimantan. Terlepas dari tipe asiatis, tipe australian, maupun peralihan, beberapa hewan tersebut adalah hewan-hewan khas Indonesia. Beberapa jenis asli Indonesia yang saat ini terancam punah adalah orang utan (endemik di Sumatra dan Kalimantan), komodo (endemik di Pulau Komodo), badak bercula satu (endemik di Ujung Kulon, Jawa Barat), dan anoa (endemik di Sulawesi).

Nah sekarang, untuk menjajaki kemampuan kalian dalam meng uasai materi keanekaragaman hayati Indonesia, kerjakan soal-soal berikut.

Keanekaragaman Hayati Jenis – Diskusi

Dengan menggunakan referensi buku biologi, buku geografi, dan laporan penelitian, buatlah kliping yang menerangkan tentang beberapa hal sebagai berikut. 1. Gambar fauna Oriental dan fauna Australian beserta keterangan secukupnya. 2. Garis Wallace dan Garis Weber. 3. Kawasan peralihan beserta fauna dan floranya. Setelah kalian mendapatkan referensi tentang beberapa hal di atas, diskusikan dengan teman-teman kalian. Kemudian, kumpulkan hasil diskusi kepada guru kalian.

Uji Kompetensi

Jawablah soal-soal berikut dengan tepat. 1. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas di dunia. Jelaskan. 2. Jelaskan beberapa faktor yang mendukung tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia. 3. Bagaimanakah persebaran tumbuhan di Indonesia? 4. Jelaskan pembagian daerah biogeografi Indonesia oleh garis Wallace dan Weber. 5. Bandingkan ciri-ciri hewan Asiatis, Australian, dan peralihan. Berikan contohnya.

Setelah mempelajari konsep keanekaragaman hayati dan kekayaan hayati Indonesia, kalian tentu bertanya apa manfaat semua itu

etnobiologi 

Etnobiologi adalah cabang ilmu biologi yang mem pelajari pemanfaatan sumber daya hayati oleh kelompok masyarakat (etnik) tertentu. Pemanfaatan tersebut meliputi pemanfaatan tumbuhan maupun hewan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pangan, papan, pakaian, dan obatobatan, dan keperluan upacara-upacara adat.