Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Latar Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Apakah Anda memiliki peranan aktif dalam masyarakat? Anda dapat memanfaatkan kemampuan menulis untuk berperan serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda dapat mengungkapkan gagasan-gagasan yang dimiliki dalam bentuk tulisan informatif. Paragraf argumentatif merupakan salah satu sumber informasi yang berawal dari sebuah gagasan. Dalam pelajaran ini, Anda dapat berlatih menulis paragraf argumentatif. Selain itu, Anda pun akan berlatih memahami sumber informasi lainnya, antara lain cerita rakyat dan grafik. Pada pembelajaran membaca grafik, Anda akan berlatih merangkum informasi yang ada dalam grafik tersebut. Sementara itu, dalam bidang sastra Anda akan berlatih menganalisis halhal menarik yang berkaitan dengan latar dalam cerita rakyat. Adapun bentuk penyajian cerita rakyat tersebut dapat berupa bacaan ataupun rekaman. Dengan begitu, Anda akan semakin jeli dalam memahami hal-hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra.

Latar Cerita Rakyat
Latar Cerita Rakyat

Mengidentifikasi Latar  Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih mengidentifikasi latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung. Anda akan menganalisis unsur-unsur pembangunnya, kemudian Anda susun sinopsisnya. Dengan demikian, pengetahuan Anda seputar cerita rakyat akan bertambah. Anda pun akan semakin menghargai kebudayaan bangsa.

Dalam pelajaran 9, Anda telah belajar membaca cerita rakyat. Sekarang, Anda akan melanjutkan pelajaran tersebut. Dalam pelajaran sebelumnya, Anda telah mengenal karakteristik cerita rakyat dan unsur-unsur intrinsik dalam cerita rakyat. Sebaiknya, Anda baca kembali pelajaran tersebut karena materi yang dipelajari juga akan dipelajar sekarang ini. Dalam pelajaran ini, Anda juga akan berlatih mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat yang didengarkan; menentukan isi dan atau amanat yang terdapat dalam cerita rakyat; membandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif; dan mengungkapkan kembali cerita rakyat dalam bentuk sinopsis. Namun, jika sebelumnya Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat, sekarang Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat. Anda telah menemukan hal-hal menarik tentang tokoh cerita rakyat “Raden Sandhi”. Sekarang, temukanlah hal-hal menarik tentang latar cerita rakyat tersebut. Hal-hal menarik tentang latar tersebut dapat berupa latar tempat, latar waktu, atau keadaan terjadinya peristiwa dalam cerita rakyat tersebut. Misalnya, tentang kemistikan daerah Paloh. Selanjutnya, mintalah salah seorang temanmu untuk membacakan cerita rakyat berikut di depan kelas. Teman-teman yang lainnya mendengarkan dengan baik.

Asal Mula Terjadinya Burung Ruai

Latar Cerita Rakyat – Konon, pada zaman dahulu, di daerah Kabupaten Sambas, tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura, Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan. Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama “Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan sakti. Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri. Raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau si bungsu. Si bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak-kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan si bungsu. Keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain-main.

Latar Cerita Rakyat – Dengan kedua latar belakang inilah, sang ayah (raja) menjadi pilih kasih terhadap putri-putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak si bungsu dimarahi oleh ayahnya, sedangkan si bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah, keenam kakak si bungsu menjadi dendam. Mereka bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri. Apabila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada si bungsu dengan memukul habis-habisan tanpa ada rasa kasihan. Tubuh si bungsu pun menjadi kebiru-biruan. Karena takut dipukuli lagi, si bungsu menjadi takut dengan kakaknya. Untuk itu, segala hal yang diperintahkan kakaknya, mau tidak mau si bungsu harus menurut. Ia harus mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, sibungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan si bungsu sendirian sementara keenam orang kakaknya hanya bersenda gurau. Sekali waktu, pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu, terhadap si bungsu diketahui oleh sang raja (ayah) dengan melihat badan (tubuh) si bungsu yang biru karena habis dipukul. Ia takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah.Jika sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa si bungsu kepada keenam kakaknya, mereka membuat alasan-alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa-apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan si bungsu biru karena si bungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percaya terhadap cerita dari sang kakak, sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud. Begitulah kehidupan si bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya. Meskipun demikian, si bungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya. Kadang-kadang, si bungsu menangis tersedu-sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan. Setelah mengalami hari-hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan di antara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak (putrinya) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pula, diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada si bungsu. Hal yang penting jika sang raja tidak ada di tempat, masalah-masalah yang berhubungan dengan kerajaan (pemerintahan) harus mohon (minta) petunjuk terlebih dahulu dari si bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing-masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Timbullah dalam hati masing-masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada si bungsu, bukan kepada mereka. Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Pada keesokan harinya, berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya. Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Sampai tibalah saatnya, yaitu saatsaat yang dinantikan oleh keenam kakaknya si bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya. Mereka ingin memusnahkan si bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu si bungsu harus dibunuh.

Latar Cerita Rakyat – Tanda-tanda ini diketahui oleh si bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari. Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya, rencana pun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil si bungsu. Apakah yang di-lakukannya? Ternyata, keenam kakaknya mengajak si bungsu untuk mencari ikan (menangguk) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur (oval). Karena sangat gembira kakaknya mau berteman lagi dengannya, si bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal, dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap si bungsu, tetapi si bungsu tidak menduga hal itu sama sekali. Tanpa berpikir panjang lagi, berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu. Mereka masing-masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju (lokasi menangguk), yaitu gua batu. Si bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua kemudian diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, si bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya. Si bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua. Adapun keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya si bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak-bahak sebab si bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat si bungsu menjadi betul-betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian, keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa si bungsu dan pada akhirnya si bungsu pun tersesat. Merasa bahwa si bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut. Ia duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya. Si bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang ke sana ke mari.

Bagaimana nasib si bungsu? Tanpa terasa si bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya. Namun, ia masih belum bisa untuk pulang. Pada hari ketujuh, si bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka-sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu. Suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut. Si bungsu pun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya. Pada saat itu ,dengan disertai bunyi yang menggelegar, muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan si bungsu. Si bungsu pun terkejut melihatnya. Tidak lama kemudian, kakek itu berkata, “Sedang apa kamu di sini cucuku ?”, lalu si bungsu pun menjawab,” Hamba ditinggalkan oleh kakak-kakak hamba, Kek!” Si bungsu pun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar.

Tanpa diduga-duga, pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut, titik-titik air mata si bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya.Si bungsu pun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, “Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama Burung Ruai. Apabila aku telah hilang dari pandanganmu, eramlah telur-telur itu supaya jadi burung-burung sebagai temanmu!”. Kemudian secara tiba-tiba si bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek … kwek … kwek … kwek …. kwek. Bersamaan dengan itu, kakek sakti menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal si bungsu dahulu, dengan bersuara kwek … kwek …. kwek … kwek …. kwek. Mereka menyaksikan kakak-kakak si bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh si bungsu. Sumber: www.sambas.go.id

 

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Cerita Rakyat dan Peran

Cerita Cerita Rakyat
Cerita Cerita Rakyat

Cerita Cerita Rakyat – Salah satu kekayaan budaya masyarakat di wilayah nusantara adalah prosa atau cerita rakyat. Cerita rakyat ini lahir dan berkembang secara turun-temurun melalui berbagai media, baik secara lisan maupun tertulis. Cerita rakyat mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan masyarakat, misalnya mengenai sistem nilai, kepercayaan dan agama, kaidah-kaidah sosial, dan etos kerja. Oleh karena itu, sejumlah pengamat sosial budaya menyatakan bahwa memahami pandangan hidup masyarakat tidaklah komprehensif jika tanpa mempelajari cerita rakyat. Begitu juga dengan cerita rakyat ‘Raden Sandhi” yang sudah Anda baca pasti mengandung isi dan amanat yang didasari nilai-nilai yang dianut oleh rakyat Sambas. Cerita rakyat terdiri atas dogeng, mite, dan legenda. 1. Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi, termasuk di dalamnya cerita-cerita pelipur lara dan cerita-cerita dengan tokoh binatang (fabel). Dongeng dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni (a) dongeng binatang karena semua tokohnya binatang (fabel), (b) dongeng biasa yang di dalamnya terdapat tokoh manusia, dan (c) dongeng jenaka/ lelucon yang di dalamnya terdapat cerita penuh kejenakaan. 2. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci atau sakral, misalnya cerita tentang tokoh kayangan atau tokoh supranatural yang memiliki kekuatan hebat. Tokoh mite adalah dewa atau manusia setengah dewa dan menyangkut peristiwa yang terjadi di dunia lain pada masa lalu (Danandjaja, 1994: 50).

Cerita Cerita Rakyat – Berdasarkan isinya, mite dapat dikelompokkan menjadi (a mite terjadinya alam semesta; (b) mite dunia dewata yang memasukkan juga cerita tentang terjadinya susunan para dewa; (c ) mite manusia pertama termasuk hal-hal yang berkaitan dengan inisiasi, misalnya, cerita manusia pertama di Kepulauan Talaud. Di dalam itu terdapat dewa penjelmaan, yakni makhluk ‘ketam’ yang berubah menjadi manusia; dan (4) mite pertanian, termasuk di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan makanan pokok. Misalnya, cerita tentang Dewi Padi. 3. Legenda adalah dongeng asal mula terjadinya suatu tempat, peristiwa atau keberadaan suatu daerah. Misalnya, legenda Tangkuban Perahu, asal-usul nama Surabaya. Selain itu, ada juga legenda yang terdiri atas cerita-cerita tentang tokoh-tokoh agama. Hal tersebut merupakan sebagian dari karakteristik cerita rakyat. Anda dapat mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat setelah Anda mendengarkan atau membacanya.

Cerita Cerita Rakyat – Anda juga dapat mengidentifikasi cerita rakyat berdasarkan unsur-unsur intrinsiknya, seperti tema, penokohan, latar, alur, dan amanat. 1. Tema adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita. 2. Alur atau plot adalah struktur penceritaan yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran. 3. Penokohan adalah pelukisan atau pendeskripsian atau pewatakan tokoh-tokoh dalam cerita. 4. Latar atau setting merupakan tempat, waktu, dan keadaan terjadinya suatu peristiwa. 5. Amanat adalah pesan-pesan atau wejangan yang ingin disampaikan dalam cerita. Ciri-ciri atau karakteristik cerita rakyat ialah menghubungkan cerita dengan kejadian alam atau tempat berkisah tentang kerajaan (istana sentris). Dari hasil mendengarkan cerita rakyat tersebut, adakah ciri-ciri lain yang Anda temukan dari cerita rakyat tersebut?

Cerita Cerita Rakyat

Uji Materi

1. Identifikasikanlah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat “Raden Sandhi” tersebut. Buatlah sinopsisnya. 2. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 3. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 4. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 5. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilainilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 6. Lakukan pengamatan terhadap hasil pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan tabel penilaian

Cerita Cerita Rakyat – Kegiatan Lanjutan

1. Carilah cerita rakyat lain dari buku cerita rakyat atau rekaman cerita rakyat. 2. Tuturkan oleh salah seorang teman Anda atau guru Anda. 3. Dengarkanlah dengan baik penuturan tersebut. 4. Identifikasilah karakteristik atau ciri-ciri cerita rakyat yang didengarkan itu. 5. Tentukan isi dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. 6. Temukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. 7. Jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut. 8. Bandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif. 9. Ungkapkan kembali cerita rakyat tersebut dalam bentuk sinopsis. 10. Amatilah pekerjaan teman Anda dengan memberikan penilaian berdasarkan format penilaian pada latihan sebelumnya.

Cerita Cerita Rakyat

Merangkum Isi Informasi Teks Buku

Dalam beberapa pelajaran sebelumnya, Anda telah belajar mengambil manfaat informasi dalam media cetak dan elektronik. Anda akan belajar merangkum informasi dari buku. Anda akan mencatat pokok-pokok penting dalam buku, lalu membuat ringkasan. Oleh karena itu, akan semakin banyak pulalah informasi yang Anda peroleh.

Salah satu cara mengambil manfaat dari informasi dalam buku adalah dengan merangkumnya. Caranya, Anda dapat mencatat pokokpokok isi informasi pada halaman bab tertentu yang dirujuk setelah Anda membaca daftar isi. Selanjutnya, rangkumlah seluruh isi informasi (yang diperoleh dari bab tertentu) ke dalam beberapa kalimat. Berikut terdapat sebuah kutipan dari buku Tatabahasa Indonesia yang ditulis Gorys Keraf halaman 137–138. Kita dapat membuat rangkuman dari kutipan berikut.

Pendahuluan Sintaksis (Yunani: Sun + tattein = mengatur bersama sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. Penelitian bidang fonetis, morfologis dan struktur frasa dari suatu bahasa merupakan bagian dari iImu bahasa yang masih bersifat statis. Dalam sintaksis bidangbidang statis seolah-olah digerakkan dan dihidupkan ke dalam kesatuan gerak yang dinamis, diikat dan dijalin ke dalam berbagai macam konstruksi. Setiap bahasa memiliki sistem-sistem yang khusus untuk mengikat kata-kata atau kelompok-kelompok kata ke dalam suatu gerak yang dinamis. Oleh sebab itu, kita tidak dapat dibenarkan untuk menyusun tatakalimat suatu bahasa dengan secara sembarangan menerapkan sintaksis bahasa lain. Hal salah kaprah ini pernah dilakukan oleh ahli-ahli tatabahasa lama. Tatabahasa Latin-Yunani, yang memiliki struktur khusus, diterapkan begitu saja kepada bahasa-bahasa lain. Sintaksis suatu bahasa haruslah merupakan perumusan dari berbagai macam gejala susun-peluk kata-kata dalam suatu bahasa. Jika nanti ada persamaan tatakalimat suatu bahasa dengan bahasa lain, haruslah merupakan hasil perbandingan yang diadakan antara bahasa-bahasa tersebut. Akan tetapi, bukan sebagai hasil penerapan sintaksis bahasa lain. Tatabahasa-tatabahasa lama tidak banyak bicara tentang sintaksis. Mereka yang menelaah sintaksis secara mendalam dan menggunakan kalimat sebagai titik-tolak penelitiannya. Dalam hal ini, hanya beberapa gelintir manusia yang mau berusaha untuk melaksanakan sekuat-kuatnya menelaah sintaksis. Akan tetapi, kadang hasil masih jauh dari sasaran optimal. Mereka masih sering kembali ke dalam pemikiran falsafah, di mana semua fenomena bahasa selalu ditinjau dan bidang falsafah. Falsafah dijadikan alat untuk memecahkan segala macam persoalan. Dengan demikian, timbul suatu kesan bahwa bukan masalah bahasa yang dipersoalkan, tetapi kecerdasan berpikir atau berpikir secara logislah yang dipersoalkan. Di sini kita berusaha bertolak dari seberang lain, bertolak dari bahasa sendiri, sebagai sumber penurunan perumusan-perumusan tentang sintaksis. 1. Kata, Frase, dan Klausa Jika sekali lagi kita melihat tataran-tataran (tata tingkat/hirarki) dalam bahasa, urutan tataran itu dari yang kecil sampai paling luas beserta bidang ilmunya masing-masing adalah: Bidang Ilmu Tataran Fonologi : fon/fonem suku kata Morfologi : morfem terikat bebas kata dasar turunan/jadian Sintaksis : frasa klausa Wacana : alinea bagian (sejumlah alinea) anak bab bab Karangan yang utuh : terdiri atas bab-bab Semua unsur di atas disebut unsur segmental, yaitu unsur-unsur yang dapat dibagi-bagi menjadi bagian atau segmen-segmen yang lebih kecil. Di samping unsur segmental terdapat juga unsur suprasegmental, yang kehadirannya tergantung dari unsurunsur segmental. Unsur suprasegmental mulai hadir dalam tataran kata sampai wacana: nada, tekanan keras, panjang, dan intonasi. Dengan demikian kata merupakan suatu unsur yang dibicarakan dalam morfologi, sebaliknya frase dan klausa berdasarkan strukturnya termasuk dalam sintaksis. Frase adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam frase rumah ayah muncul makna baru yang menyatakan milik, dalam frase rumah makan terdapat pengertian baru ‘untuk’. Adapun frase obat nyamuk terdapat makna baru ‘untuk memberantas’. Sebaliknya klausa adalah suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional. Dalam tatabahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, obyek, dan keterangan-keterangan. Sebuah klausa sekurangkurangnya harus mengandung satu subjek, satu predikat, dan secara fakultatif satu obyek. Dalam halhal tertentu klausa terdiri dari satu predikat dan boleh dengan keterangan (bentuk impersonal), misalnya: 1. Saya menyanyikan sebuah lagu 2. Adik membaca buku 3. Anak itu menangis 4. Ia sudah bangun 5. diberitahukan kepada umum 6. demikian diceritakan 7. sementara adik menyanyikan sebuah lagu, saya membaca buku 8. ia makan, karena (ia) lapar Konstruksi no. 1 sampai dengan 6 membentuk satu klausa, dan sekaligus sebuah kalimat. Sebaliknya, konstruksi no. 7 dan 8 merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua klausa. Sementara itu, kalau kita mendengar orang mengucapkan: , 9. “Maling!” “Pergi!” “Keluar!” 10. “Rumah ayah!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Rumah siapa itu?” 11. “Karena lapar!” sebagai jawaban atas pertanyaan, “Mengapa kamu malas bekerja?” Semua konstruksi di atas diterima juga sebagai kalimat, walaupun contoh-contoh dalam nomor 9 hanya terdiri dari satu kata. Adapun nomor 10 dan 11 terdiri atas frase. Jika demikian: sebuah kata, sebuah frase, atau sebuah klausa dapat menjadi sebuah kalimat. Akan tetapi, di mana letak perbedaannya? Kita menyebutnya sebagai kata, frase, atau klausa, semata-mata berdasarkan unsur segmentalnya. Sebaliknya, unsur kata, frase, dan klausa dapat dijadikan kalimat kalau diberikan kepadanya unsur suprasegmental (dalam hal ini intonasi). Jadi: kata + intonasi > kalimat frasa + intonasi > kalimat klausa + intonasi > kalimat .

Kegiatan membaca cepat, baik skimming maupun scanning, sangat bermanfaat untuk memperoleh informasi secara cepat. Kita dapat membuat rangkuman dari bacaan yang telah kita baca.

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat dan Cerita Dongeng

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat dan Cerita Dongeng

Tentang Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat dan Cerita Dongeng

Tokoh Cerita Rakyat
Tokoh Cerita Rakyat

Tokoh Cerita Rakyat – Pernahkah Anda membaca atau mendengar cerita rakyat Nusantara? Contohnya, Legenda Gunung Tangkuban Perahu, cerita Bawang Putih Bawang Merah, Yuyu Kangkang, dan lainlain. Semua itu adalah kekayaan negeri kita. Kita harus bangga karenanya. Dengan adanya cerita rakyat tersebut, artinya bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya. Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih memahami informasi yang berasal dari cerita rakyat, buku teks, dan hasil wawancara. Ketiga hal tersebut dapat didentifikasi sehingga Anda dapat memberikan tanggapan atas hasil rangkuman atau simpulannya. Pada latihan pengidentifikasian cerita rakyat, Anda akan berlatih menganalisis unsur-unsur karya sastra sekaligus menyerap nilai-nilai didaktik yang terkandung di dalamnya. Keduanya merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian cerita rakyat Nusantara. Kemudian, dengan banyak membaca buku, Anda telah mencerminkan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Di samping itu, dengan melakukan analisis terhadap hasil wawancara, Anda dapat belajar memahami prinsipprinsip kesopanan dalam bertindak tutur.

Tokoh Cerita Rakyat

Mengidentifikasi Tokoh Cerita Rakyat

Dalam pelajaran 7C dan 8C, Anda telah belajar membaca karya sastra Melayu klasik berupa hikayat. Karakteristik hikayat hampir sama dengan cerita rekaan. Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih menganalisis hal-hal menarik dari tokoh cerita rakyat. Anda akan mempelajari jenis-jenis cerita rakyat dan menganalisis keunikankeunikannya. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah menguasai dan memahami pelajaran tentang cerita rakyat.

Untuk dapat memahami cerita rakyat dengan baik, Anda akan belajar mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat yang didengarkan, menentukan isi dan atau amanat yang terdapat dalam cerita rakyat, menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat, membandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat efektif, dan mengungkapkan kembali cerita rakyat dalam bentuk sinopsis. Berikut ini ada cerita rakyat dari daerah Sambas. Cerita rakyat berikut dapat dituturkan oleh salah seorang teman atau guru Anda. Anda dan teman-teman Anda yang lain mendengarkan dengan saksama. Agar dapat mendengarkan dengan baik, tutuplah buku masing-masing.

Raden Sandhi

Tokoh Cerita Rakyat – Sekarang kita sudah berkumpul, saya akan menceritakan tentang kisah kematian Raden Sandhi. Menurut kepercayaan orang Sambas, Raden Sandhi itu bukannya mati, mayatnya dibawa orang kebenaran, orang halus, orang Paloh. Sebelum saya ceritakan Raden Sandhi itu, lebih baik saya ceritakan tentang Paloh, yakni tentang keangkerannya. Sampai saat ini mungkin orang daerah Sambas di sini masih percaya dengan keangkerannya, soalsoal mistik begitulah kita sekarang. Menurut kepercayaan orang daerah Sambas kalau kita akan pergi ke Paloh, pertama kita tidak boleh berteriak-teriak atau memekik di dalam hutan. Kedua bersiul juga dilarang. Ketiga berkata tidak baik, Nah begitulah cerita orang Sambas tentang daerah Paloh. Nah, sekarang saya akan bercerita tentang kematian Raden Sandhi tadi. Raden Sandhi itu termasuk keluarga orang yang baik-baik beliau keturunan Rajaraja Sambas. Kelakuannya sangat berbeda dengan saudaranya yang lain.

Tokoh Cerita Rakyat – Salah satu kebiasaan yang paling disukai dan sering dilakukannya yaitu berburu. Kalau sudah berburu biasanya dua atau tiga hari baru pulang ke rumah. Dan hal inilah, sekali-kali orang tuanya memberi teguran. Pada suatu ketika, Raden Sandhi dipanggil oleh orang tuanya dan berkata : “Sandhi, kamu aku lihat lain dari pada saudara-saudaramu. Selalu saja kau pergi kehutan, atau sampai ke daerah Paloh berburu mencari burung, kijang, pelanduk. Hasilnya tidak ada juga. Jadi aku rasa lebih baik kamu tinggal di rumah saja, itu anak istrimu siapa yang akan mengurusnya. Kami memang sanggup memberinya makan, tapi kamu sebagai suaminya, kamu yang lebih banyak memberi perhatian, mendidik. Baik itu kepada anakanakmu, istrimu, itu adalah tanggung jawabmu. Raden Sandhi, orangnya pendiam dan tidak suka berbicara yang tidak ada gunanya, terlebih-lebih kepada orang tuanya dan bagaimanapun kemarahan orang tuanya tadi, ia diam saja, namun di dalam hatinya karena itu telah menjadi kebiasaannya yang suka berburu. Pada suatu hari Raden Sandhi seperti biasa, akan pergi berburu senjatanya yang akan dipergunakan untuk pergi berburu. Lalu ia pergi menemui istrinya, ” Oi, hari ini, aku akan pergi berburu lagi. Entah satu hari, dua hari aku tidak tahu. Cuma aku minta, supaya kepergianku itu, jangan kau ceritakan dengan ayah, dengan ibu,” mengapa pula, kata istrinya, saya baru saja dimarahi oleh ibu, supaya jangan pergi berburu, padahal hatiku selalu saja ingin pergi berburu. Jadi seorang istri haruslah patuh terhadap suami,”. Mengerti, jawab sang istri. Hanya jangan lama-lama. Maklumlah di dalam hutan, mesti ada sesuatu yang dikhawatirkan,”. Tidak, aku pergi tidak terlalu lama, mungkin hanya dua hari saja. Baiklah, kata istrinya.” Nanti kalau ayah bertanya, katakan aku tidak pergi kemana-mana. Hanya pergi dekat saja. Hanya nanti kalau kamu akan pergi bawalah teman. Jangan pergi sendiri, maklumlah di dalam hutan. Binatang banyak, seperti ular, beruang, dan binatang lainnya yang dapat menyusahkan kita, kata istrinya. “Ialah aku membawa kawan, tapi siapakah kawanku, kata Raden Sandhi. Maka berangkatlah Raden Sandhi tadi. Dengan kedua orang temannya pergilah mereka bertiga berjalan. Mereka berjalan keluar masuk hutan, keluar masuk jurang tidak juga bertemu dengan binatang yang dicari. Apalagi rusa, kijang, pelanduk, burungpun tidak dijumpai. Karena belum juga ketemu dengan binatang buruannya dan sudah menjadi sifat Raden Sandhi, kalau belum dapat belum pula ia puas. Makan pun Raden Sandhi lupa apalagi minum. Akhirnya sampailah mereka ke daerah Paloh. Sesampai di Paloh, terdengar burung, Ciit …. Ciit ……. Ciit”. Kawan Raden Sandhipun berkata, ” Den itu ada bunyi burung. “Mana ? “itu, di batang kayu.” Raden Sandhipun melihat ke atas. Dilihatnya benar, ada seekor burung, namun burung itu sangat aneh bentuknya. Sangat berbeda dengan burung-burung yang lain. Tidak juga besar, tidak juga kecil. Burungnya bagus, cantik benar burung itu. Warnanya bermacam-macam, ada hijau, ada merah, kakinya kekuning-kuningan. Pendek kata menarik, sangat menarik hati. “Ku sumpit saja burung itu. Kalau ku sumpit, mudah-mudahan burung itu tidak mati dan aku dapat memeliharanya,” kata Raden Sandhi. Kemudian di sumpitnya lah burung itu dan kena, tepat di kepalanya dan matilah burung tersebut. Sedihlah hati Raden Sandhi karena burung tersebut mati. ” Sayang, burung itu, kalau tidak mati akan kupelihara”. Apa boleh buat, walaupun mati akan kubawa pulang. Kata Raden Sandhi pada temannya.

Tokoh Cerita Rakyat – “Wah, wah, kita pulang saja, sudah hampir dua hari kita berburu tidak juga mendapat hasil buruan hanya dapat burung satu ekor saja. Akan kusalai, agar bulunya tidak rusak sewaktu dibungkus dan akan kusimpan saja. ” Iyalah, ” jawab teman – temannya. Pulanglah Raden Sandhi, sampai di rumahnya Raden Sandhi bercerita, badannya kurang sehat, mengapa ya badanku kurang sehat, bulu kuduk terasa berdiri. Mungkin aku sakit. Pada mulanya tidak merasakan apa-apa sampai beberapa hari kemudian, badan Raden Sandhi masih juga belum sehat. Raden Sandhi merasakan demam setelah pergi ke Paloh !. Lalu dia pergi menghampiri istrinya, ada apa dengan badanku, kata Raden Sandhi kepada istrinya. Sakit barangkali aku ini.” Sudah tiga hari badanku ini panas dingin, bulu kuduk aku terasa berdiri, rasanya tidak nyaman sekali, apa ya obatnya ?”. kata Raden Sandhi kepada istrinya. Tidak tahu, jawab istrinya. Cari dukun saja yang dekat-dekat sini. Maka sang istri mencari dukun untuk mengobati suaminya tadi. Tidak lama kemudian datanglah sang dukun dan bertanya kepada Raden Sandhi, “Sakit apa, Den ?” “Entahlah, badan aku ini rasanya kian hari kian melemah saja, bulu kuduk terasa berdiri. Demam ada juga tapi badan rasanya sakit semua. Raden dari mana, sampai sakit begini ? tanya sang dukun kepada Raden Sandhi. Saya pergi berburu ke Paloh, pulang dari berburu, badan saya terasa panas dingin, rasanya bulu merinding. Oh kalau begitu Raden terkena orang halus barangkali, kata sang dukun pula. Lalu diobatinya Raden Sandhi, sesudah diobati dengan obat orang kampung tadi, dengan berjenis-jenis ramuan yang terbuat dari kayu-kayu, lalu dibacakannyalah mantra. Setelah dukun tadi pulang, sakit Raden Sandhi bukannya sembuh, tapi penyakitnya bertambah parah, akhirnya Raden Sandhi tidak mau makan. Setelah beberapa lamanya Raden Sandhi sakit dan sakitnya tidak juga sembuh, akhirnya Raden Sandhi meninggal dunia. Layaknya orang meninggal tentulah dimandikan, dikapankan lalu dikuburkan seperti layaknya upacara penguburan. Setelah upacara penguburan selesai dilaksanakan, pada malam harinya istri Raden Sandhi mendapat mempi, dalam mimpi itu, mengatakan bahwa sebenarnya Raden Sandhi tidaklah mati, Raden Sandhi dibawa oleh orang halus pergi ke Paloh, untuk dijadikan raja oleh orang halus di sana karena raja mereka sudah tua, Raden Sandhi akan dijadikan menantu dan raja orang halus di tempat tersebut. Yang dimakamkan itu bukannya Raden Sandhi, melainkan hanya sebatang kedebok pisang saja dan itulah yang ditanam, kata orang halus di dalam mimpi sang istri. Orang halus tadi juga berpesan untuk memberitahukan mimpinya kepada orang tua Raden Sandhi.

Tokoh Cerita Rakyat – Lalu tersadarlah sang istri dari mimpinya, dan kemudian bercerita kepada kedua orang tua Raden Sandhi beserta keluarganya. Bahwa yang dikuburkan itu bukanlah jasad tubuh Raden Sandhi melainkan hanya sebatang gedebok pisang dan suaminya dibawa pergi ke paloh oleh orang halus untuk dinikahkan dengan anak Raja Paloh. Begitulah cerita istri Raden Sandhi, maka gemparlah mereka mendengar cerita sang istri tadi. Sang ayah menyesali kelakuan Raden Sandhi yang sudah sering diingatkan untuk tidak pergi berburu, apalagi pergi berburu sampai ke Paloh. “Sudah kita tahu bersama, bahwa Paloh itu tempat orang-orang kebenaran, apalagi kedatangannya ke Paloh hanya untuk pergi berburu, membunuh binatang lagi. Namun apa daya semuanya telah terjadi. Mungkin itu sudah suratan takdir Raden Sandhi,” kata ayahnya. Kita teruskan cerita kita dahulu, setelah Raden Sandhi dibawa ke Paloh, Raden Sandhi dinikahkan dengan anak Raja Paloh. Pada masa itulah Raden Sandhi menjadi Raja Paloh dan berkuasa di daerah Paloh. Pada saat sekarang ini juga masih banyak masyarakat yang mempercayainya dan menurut cerita apabila akan pergi ke Paloh, jangan lupa menyebut nama Raden Sandhi, sambil berkata, “Den, Raden, kami datang ke Paloh daerah kekuasaan dato’ ( panggilan untuk Raden Sandhi ) kami juga masih keluarga dari Sambas, janganlah kami diganggu”, begitlah bunyi ucapannya. Selain itu ada juga syarat yang harus dilakukan bagi yang akan ke Paloh yaitu 1. Jangan sekali-sekali berani berteriak-teriak 2. Jangan sekali-kali bersiul-siul itu tabu sekali dilakukan 3. Jangan sekali-kali membunuh binatang yang berguna seperti burung ( jenis apa saja ) dan yang lainnya. Selain itu juga tidak boleh berbicara kotor dan bersiul-siul. Apabila hal-hal semacam ini dilanggar maka akan ada akibatnya. Begitulah, ceritanya. Jadi kepercayaan itu masih tetap dipegang hingga saat ini. Orang yang masuk ke daerah Paloh tidak berani sembarangan. Daerah itu ( Paloh ) dijaga oleh Raden Sandhi. Benar atau tidaknya cerita ini’, Wallahualam.

Sumber: www.sambas.go.id