Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Menulis Puisi Lama – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih meningkatkan kemampuan dalam menulis. Kali ini, Anda akan menulis puisi lama. Agar lebih memahami karakteristik puisi lama, Anda akan mempelajari terlebih dahulu contoh-contoh puisi lama. Anda pun akan mempelajari berbagai bentuk karya puisi lama. Diharapkan, kemampuan Anda akan semakin terasah.

Pernahkah Anda membaca puisi lama? Puisi yang lahir di tengah masyarakat mengalami perkembangan hingga zaman sekarang. Namun, kita juga harus memahami bahwa puisi yang ada sekarang tidak terlepas dari puisi masa lampau atau biasa kita sebut puisi lama. Salah satu puisi lama yang mungkin Anda kenal sekarang adalah pantun. Sekarang, dapatkah Anda membedakan antara pantun dengan puisi? Anda dapat memahaminya lewat bait, irama, dan rima. Bait dalam puisi merupakan syarat-syarat yang berlaku untuk jenis puisi tersebut. Jumlah bait menyangkut jumlah kata dan larik dalam puisi. Hal inilah yang menjadi ciri utama dari karya puisi lama. Selanjutnya, rima merupakan bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Adapun irama menyangkut paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas. Irama mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan puisi.

Langkah Tentang Menulis Puisi Lama
Langkah Tentang Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih memahami dan menulis puisi dengan mengetahui ciri-ciri puisi lama. Salah satu puisi lama adalah pantun. Pantun sudah ada sejak zaman dahulu kala. Pantun merupakan puisi lama yang biasanya dipakai masayarakat untuk menyampaikan sesuatu. Pantun memilki ciri-ciri tertentu yang terkait dengan kaidah bait, rima, dan irama. Agar lebih jelas, perhatikan ciri-ciri pantun berikut. 1. memiliki 4 baris, di mana dua baris berisi sampiran dan dua baris lagi merupakan isi; 2. antara baris ke-1, 2, 3, dan 4 berpola a,b,a,b; 3. setiap baris terdiri antara 8 sampai 9 suku kata; 4. setiap baris terdiri atas 4 kata. Agar lebih jelas, perhatikanlah bagian-bagian pantun berikut.

Kata 1 Kata 2 Kata 3 Kata 4

Baris ke-1 Kalaulah aku punya jimat (a) …Sampiran Baris ke-2 tentulah aku pandai berburu (b) …Sampiran Baris ke-3 Kamu pasti murid selamat (a) … Isi Baris ke-4 dengan patuhi perintah guru (b) … Isi

Adapun untuk menghitung jumlah kata, Anda dapat memenggal suku kata yang ada dalam pantun tersebut. Jumlah suku kata dalam pantun terdiri atas 8-10 suku kata. Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah pemenggalan suku kata pada pantun berikut.

Ka-lau-lah/ a-ku/ pu-nya / ji-mat ….. 9 suku kata ten-tu-lah / a-ku / pan-dai/ ber-bu-ru …. 10 suku kata ka-mu- / pas-ti/ mu-rid/ se-la-mat ….. 9 suku kata de-ngan/ pa-tu-hi/ pe-rin-tah/ gu-ru … 10 suku kata

Dari isinya, pantun dibedakan dalam beberapa macam, yakni pantun anak-anak, pantun nasihat, dan pantun muda-mudi. Selain pantun, karya sastra puisi lama adalah talibun, seloka, gurindam, syair, dan karmina.

1. Talibun Talibun termasuk pantun juga, tetapi memiliki jumlah baris tiap bait lebih dari empat baris. Misalnya enam, delapan, sepuluh. Talibun juga mempunyai sampiran dan isi. Contoh:

Kalau pandai berkain panjang, ——- sampiran lebih baik kain sarung ———- sampiran jika pandai memakainya ———- sampiran Kalau pandai berinduk semang ———- isi lebih umpama bundang kandung, ———- isi jika pandai membawakannya ——- isi

2. Seloka Seloka disebut pula pantun berbingkai. Kalimat pada baris ke-2 dan ke-4 pada bait pertama diulang kembali pengucapannya pada kalimat ke-1 dan ke-3 pada bait kedua. Contoh:

Pasang berdua bunyikan tabuh ———- baris 1 Anak gadis berkain merah ————— baris 2 Supaya cedera jangan tumbuh ———- baris 3 Mulut manis kecindan murah ———- baris 4

3. Gurindam Gurindam terdiri atas dua baris dalam setiap bait. Kedua baris itu berupa isi, berumus a-a, dan merupakan nasihat atau sindiran. Pengarang gurindam yang terkenal, yaitu Raja Ali Haji yang mengarang Gurindam Dua Belas. Contoh:

Gurindam Pasal 9  Raja Ali Haji, sastrawan pengarang Gurindam Dua Belas Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan Bukannya manusia itulah syaitan Kejahatan seorang perempuan tua Itulah iblis punya penggawa Kepada segala hamba-hamba raja Di situlah syaitan tempatnya manja

4. Syair Menurut para ahli, syair masuk ke Indonesia (Melayu) bersamaan dengan masuknya agama Islam. Bentuk syair paling tua dalam sejarah kesusastraan Indonesia adalah sebuah syair berbentuk doa yang tertera di sebuah nisan raja di Minye Tujoh, Aceh. Syair tersebut menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Melayu Kuno, Sanskerta, dan Arab. Ciri-ciri syair adalah sebagai berikut: a. terdiri atas empat larik (baris) tiap bait; b. setiap bait memberi arti sebagai satu kesatuan; c. semua baris merupakan isi (dalam syair tidak ada sampiran); d. sajak akhir tiap baris selalu sama (aa-aa); e. jumlah suku kata tiap baris hampir sama (biasanya 8–12 suku kata); f. isi syair berupa nasihat, petuah, dongeng, atau cerita. Contoh: Diriku hina amatlah malang Padi ditanam tumbuhlah lalang Puyuh di sangkar jadi belalang Ayam ditambat disambar elang

5. Karmina Bentuk karmina seperti pantun, tetapi barisnya pendek, yaitu hanya terdiri atas dua baris. Dengan demikian, karmina sering disebut sebagai pantun kilat atau pantun singkat. Karmina biasanya digunakan untuk menyampaikan suatu sindirian ataupun ungkapan secara langsung.

Adapun ciri-ciri karmina adalah sebagai berikut: a. memiliki larik sampiran (satu larik pertama); b. memiliki jeda larik yang ditandai oleh koma (,); c. bersajak lurus (a-a); d. larik kedua merupakan isi (biasanya berupa sindiran). Contoh:

Dahulu parang, sekarang besi Dahulu sayang, sekarang benci Banyak udang, banyak garam Banyak orang, banyak ragam Sudah gaharu, cendana pula Sudah tahu, bertanya pula

Info Bahasa Menulis Puisi Lama

Dalam kesusastraan Indonesia, syair banyak digunakan sebagai penggubah cerita atau mengungkapkan suatu kisah. Selain untuk menggubah cerita, syair juga digunakan sebagai media untuk mencatat kejadian dan sebagai media dakwah. Contoh: 1. Syair yang berisi cerita: Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, Syair Yatim Nestapa, Syair Panji Semirang, Syair Putri Hijau, Syair Anggun Cik Tunggal, Syair Raja Mambangjauhari, Syair Putri Naga, dan Syair Pangeran Hasyim. 2. Syair yang mengisahkan kejadian: Syair Perang Banjarmasin, Syair Singapura Dimakan Api, Syair Perang Menteng, dan Syair Spilman. 3. Syair yang berisi ajaran agama: Syair Ibadat, Syair Injil, Syair Kiamat, dan Syair Perahu. Syair tertulis yang tergolong tua adalah karya-karya Hamzah Fansuri, seorang penyair mistik dari Aceh pada abad ke-17. Karya-karyanya antara lain Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir. Syair karya Hamzah Fansuri yang terkenal dalam kesusastraan Indonesia (Melayu) klasik adalah Syair Perahu yang merupakan puisi sufistik yang pertama dalam kesusastraan Indonesia. Karena isi Syair Perahu dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, Raja Aceh memerintahkan para petugas istana agar membakar syair itu. Namun, beberapa di antaranya ada yang lolos dari pemusnahan. Syair yang lolos inilah yang bisa kita warisi sampai sekarang. Sumber: Mengenal Pantun dan Puisi Lama, 2007

Sastrawan dan Karyanya – Menulis Puisi Lama

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, 1808–Riau, 1873) adalah ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kerajaan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis. Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu kamus logat Melayu-Johor-PahangRiau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga” tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dikatakan menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan. Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada tahun 2006. Jika Anda ingin lebih mengetahui tentang profil Raja Ali Haji, Anda dapat mengakses situs www.id.wikipedia.org.

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan  Contoh Puisi Lama

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan Contoh Puisi Lama

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan Contoh Puisi Lama

Menulis Puisi Lama
Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama  – Pasti, Anda pernah membaca puisi! Senang, bukan? Bagaimana kalau kita mencoba lagi? Selain itu, kita juga berlatih menulis puisi. Pernahkah Anda menulis puisi? Mari kita mulai belajar menulis puisi! Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani, poeima, “membuat’, atau poeisis, “pembuatan”. Dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry (Aminuddin, 1995: 134). Menurut Pradopo (2002: 7), puisi merupakan ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan dan merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Tambahnya lagi, puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Esensi puisi merupakan perwujudan pikiran, perasaan, dan pengalaman intelektual seorang penyair yang bersifat imajinatif, yang diungkapkan melalui bahasa yang memikat secara jujur dan sungguh-sungguh. Menurut Richard (dalam Situmorang, 1983: 12) terdapat dua unsur penting yang membangun puisi, yakni metode puisi dan hakikat puisi. Metode puisi disebut juga struktur fisik puisi yang terdiri atas diksi. Metode puisi disebut juga struktur fisik puisi yang terdiri atas diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, serta ritma dan rima. Adapun hakikat puisi disebut juga struktur batin puisi yang terdiri atas tema, perasaan, nada, dan amanat. Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh syarat-syarat, seperti jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik, pola rima dan irama, serta muatan setiap bait. Yang termasuk puisi lama adalah bidal, gazal, gurindam, mantra, masnawi, nazam, kith’ah, rubai, pantun, seloka, syair, talibun, dan teromba.

Menulis Puisi Lama  – Meskipun bentuk puisi lama cukup banyak, kita akan menekuninya sebagian saja, terutama yang masih memengaruhi penulisan puisi modern, yaitu pantun, syair, dan mantra.

1. Pantun Pantun merupakan ragam puisi lama yang tiap baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa dua larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran, sementara isi atau maksud sesungguhnya terdapat pada larik ketiga dan keempat. Berdasarkan struktur dan persyaratannya, pantun dapat terbagi ke dalam pantun biasa, pantun kilat atau karmina, dan pantun berkait.

Pantun biasa adalah pantun seperti kita kenal lazimnya dan rincian persyaratannya telah kita singgung di atas, namun dengan tambahan, isinya curahan perasaan, sindiran, nasihat, dan peribahasa. Pantun biasa pun dapat selesai hanya dengan satu bait. Perhatikanlah pantun yang cukup populer berikut ini! Pantun kilat atau karmina memiliki syarat-syarat serupa dengan pantun biasa. Perbedaan terjadi karena karmina sangat singkat, yaitu baitnya hanya terdiri atas dua larik, sehingga sampiran dan isi terletak pada larik pertama dan kedua. Perhatikanlah beberapa karmina berikut!

Pantun berkait kadang-kadang juga disebut dengan pantun berantai, merupakan pantun yang bersambung antara bait satu dan bait berikutnya. Dengan catatan, larik kedua dan keempat setiap bait pantun akan muncul kembali pada larik pertama dan ketiga pada bait berikutnya. Perhatikanlah pantun berkait berikut ini!

2. Syair Syair bersumber dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat sekitar abad ke-13, seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Seperti halnya pantun, syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya; setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata. Akan tetapi, syair tidak pernah menggunakan sampiran. Dengan kata lain, larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut. Perbedaan pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Apabila pantun berpola a-b-a-b, maka syair berpola a-a-a-a. Karena bait syair terdiri atas isi semata, antara bait yang satu dengan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. Jadi, apabila orang akan bercerita, syair adalah pilihan yang tepat. Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi, religi, sejarah, atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya. Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra Nusantara, misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, Syair Burung Pungguk, dan Syair Yatim Nestapa. Marilah kita sejenak memerhatikan beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk:

3. Mantra Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance ‘kerasukan’. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif. Karakteristik mantra sangat unik. Menurut Umar Junus (1983: 135), ciri-ciri mantra adalah sebagai berikut. 1. Di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah. 2. Mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi. 3. Mantra menggunakan kesatuan pengucapan. 4. Mantra merupakan sesuatu yang utuh, yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya. 5. Mantra sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius. 6. Dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya.

Menulis Puisi Lama  – Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini, yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak

Pulanglah engkau kepada rimba sekampung, Pulanglah engkau kepada rimba yang besar, Pulanglah engkau kepada gunung guntung, Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu, Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang, Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering, Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

Kita memahami dan belajar membuat mantra bukan karena kemanjuran daya gaibnya sebab anggapan seperti itu terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Kini kita mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. Terlebih-lebih, puisi modern yang akan kita bicarakan pada pelajaran berikutnya.

Menulis Puisi Lama  – Latihan

1. Carilah informasi mengenai karakteristik puisi-puisi lama selain pantun, syair, dan mantra untuk memperkaya wawasan Anda! Pelajarilah sebaik-baiknya agar Anda dapat membandingkan dan memahami berbagai jenis puisi lama tersebut! 2. Buatlah beberapa jenis puisi lama! (minimal tiga buah)

Rangkuman

1. Pokok-pokok isi berita dapat ditemukan dengan menggunakan 6 pertanyaan pokok (rumus 5W + 1H), yaitu who (siapa), where (di mana), why (mengapa), when (kapan), dan how (bagaimana). 2. Berbicara di depan forum resmi sebaiknya menggunakan bahasa yang komunikatif, dengan intonasi yang jelas dan tidak monoton. 3. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memperkenalkan diri, yaitu: (1) tidak merendahkan diri secara berlebihan, (2) menggunakan bahasa yang sopan dan resmi, (3) nada bicara tidak tinggi/keras, (4) menjelaskan identitas diri secukupnya. 4. Membaca cepat artinya membaca dengan mengutamakan kecepatan tanpa mengabaikan pemahamannya. 5. Puisi merupakan perwujudan pikiran, perasaan, dan pengalaman intelektual seorang penyair yang bersifat imajinatif, yang diungkapkan dengan bahasa yang memikat, jujur, dan bersungguh-sungguh.

Menulis Puisi Lama – Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Lingkungan Sehat”. Kemampuan Anda dalam memberikan tanggapan isi berita atau nonberita dapat Anda praktikkan dalam keseharian untuk mengomentari hal-hal yang sedang terjadi. Tetapi tentu saja komentar Anda itu harus relevan dengan topik yang dibicarakan. Kompetensi lain yang Anda pelajari adalah teknik membaca cepat. Kompetensi ini juga dapat Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan informasi secara tepat dan cepat.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Sekitar 300 dari 400-an kios dan jongko (los) di Pasar Inpres Sayati, Kota Bandung, Sabtu (26/8) dini hari, musnah terbahar. Dalam peristiwa itu seirang perempuan pedagang ayam potong, Fatimah bin Yusuf (50-an), tewas terbakar karena terkurung api dalam kiosnya. Keterangan yang dihimpun Sabtu siang menyebutkan, api mulai berkobar sekitar pukul 02.30 ketika para pedagang masih tertidur lelap. Karena kencangnya tiupan angin kemarau dan terbakarnya tenda-tenda plastik, api dengan cepat menjalar ke hampir semua bagian pasar yang terletak di Jalan Kopo itu. Api baru berhasil diatasi sekitar pukul 07.30, setelah sekitar sepuluh mobil pemadam kebakaran dari kota dan Kabupaten Bandung dikerahkan ke lokasi kejadian. Namun, akibat luapan massa, Jalan Poros Kopo Soreang sempat macet total selama beberapa jam.

Menulis Puisi Lama – Pertanyaan yang sesuai dengan isi teks berita tersebut adalah … a. Berapa rupiah kerugian atas kebakaran Pasar Inpres Sayati? b. Di manakah Fatimah, korban kebakaran tersebut dimakamkan? c. Siapa yang menjadi korban kebakaran Pasar Inpres? d. Dari mana datangnya tiupan angin kencang ke lokasi kebakaran? e. Mengapa para pedagang terlelap tidur ketika terjadi kebakaran?

Cara Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Cara Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Cara Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Cara Membaca Ekstensif
Cara Membaca Ekstensif

Cara Membaca Ekstensif – Apabila ingin memperoleh suatu kesan umum dari suatu buku nonfiksi (sejarah, biografi, ilmu pengetahuan, seni, dan lain-lain) dengan cepat, kita dapat melakukannya dengan jalan meneliti halaman judul, kata pengantar, daftar isi, dan indeks. Kita akan memperoleh suatu pandangan yang lebih baik jika kita mengikuti langkah ini dengan membuka-buka halaman buku tersebut dengan cepat, melihat pada bab dan subbab, gambar, peta, skema, dan diagram. Dengan cara tersebut, menurut pendapat Henry Guntur Tarigan, kita dapat mempelajari sifat hakikat dan jangkauan buku tersebut, susunan atau organisasinya, dan sikap umum sang penulis, serta pendekatannya terhadap bahan atau subjek pembicaraan. Marilah kita membaca teks berikut secara runtut!

Teks 1

Swakelola, Menjadikan Sampah Berdaya

Guna Pengolahan sampah dengan sistem swakelola sudah dirintis sejak bebera tahun lalu. Sistem pengolahan sampah seperti ini jelas mengurangi tugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kodia Denpasar. Hingga saat ini, diperkirakan lebih dari 172 kelompok yang telah melakukan penanganan sampah secara swakelola. Menariknya, beberapa pengolahan sampah di Denpasar melakukan daur ulang sampah organik menjadi pupuk. Seperti yang dilakukan di Sanur kaja, Sanur Kauh, dan Tegal Kerta, Denpasar Barat. Pengolahan sampah yang dilakukan masyarakat di tiga tempat ini menjadikan sampah sebagai barang yang berharga. I Made Sunarta, pimpinan depo pengolahan sampah terpadu Cemara di Sanur Kaja yang ditemui Senin (4/6) kemarin, mengatakan pengolahan sampah yang dilakukan di deponya menggunakan sistem fermentasi untuk mengubah sampah menjadi pupuk organik.

Cara Membaca Ekstensif – Langkah awal yang mesti dilakukan adalah memisahkan sampah plastik dengan non plastik (organik). Sampah organik ini akan diproses menjadi pupuk melalui proses fermentasi berhari-hari. Sunarta mengatakan sampai saat ini pihaknya sudah mampu mengolah sampah yang berada di wilayah Desa Sanur Kaja dan beberapa wilayah terdekat di sekitarnya. Depo yang dikelolanya sejak empat tahun lalu ini sudah mampu mengolah sampah sebanyak 15 ton per hari, sedangkan untuk wilayah Sanur Kaja, produksi sampahnya baru mencapai 10 ton per hari. Sampah yang diproses di depo tersebut dari sampah hotel, restoran, dan rumah tangga. Sedikitnya terdapat 12 orang pekerja yang setiap hari melakukan proses pengolahan sampah ini. Keduabelas tenaga tersebut sudah termasuk tenaga penjemput sampah di masing-masing tempat. ”Sistem pengolahan sampah seperti ini sejatinya bisa mengurangi pembuangan sampah ke TPA. Selain itu, sampah yang diproses akan mendatangkan uang melalui pupuk organik hasil pengolahan sampah dimaksud,” ujar Sunarta. Hal yang sama juga dilakukan warga Sanur Kauh. Sampah diolah menjadi pupuk organik. Langkah ini dikembangkan dengan menggunakan kompos dan bahan lain yang ramah lingkungan, sehingga menghasilkan produk berguna bagi pertanian.

Cara Membaca Ekstensif – Sampah diolah di depo Pala Sari Desa Pakraman Intaran, Sanur Kauh. ”Masyarakat Sanuh Kauh menghasilkan sampah berkisar 6 sampai 7 ton per hari. Hany saja baru 3 ton yang bisa ditangani melalui depo yang diresmikan Februari 2007 lalu,” ujar I Made Dana. Sementara itu, Walikota Denpasar A.A. Puspayoga mengakui sampah di Denpasar sehari-hari semakin banyak, namun belum mampu dikelola secara maksimal karena keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki. Apa yang dilakukan masyarakat Desa Sanur sudah mampu membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah. Swakelola penanganan juga berlangsung di Bandung. Desa Adat Seminjak, misalnya, memiliki usaha jasa kebersihan mengangkut sampah. Bendesa Adat Seminjak Wayan Mara belum lama ini mengatakan, usaha ter-sebut dirintis dalam upaya membuka lowongan pekerjaan bagi krama. Usaha ini mampu mem-beri kontribusi bagi desa adat. Bermodalkan sejumlah tenaga kebersihan dan beberapa kendaraan pengangkut sampah, usaha ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Para pemakai jasa ini adalah krama itu sendiri dan kalangan pariwisata yang belum terjangkau Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Bandung. ”Kami memiliki tiga truk pengangkut sampah dan sejumlah tenaga kebersihan yang semuanya krama Seminjak,” katanya. Sampah-sampah rumah tangga, hotel, restoran, bar, vila, dan bungalo dikumpulkan, kemudian diangkut menggunakan truk ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ke depan, diupayakan akan ada pengelolaan sampah di LC Sunset Road bekerja sama dengan DKP. Dari usaha pengelolaan sampah itu diharapkan mampu menghasilkan pupuk organik.

Cara Membaca Ekstensif

Sumber: Bali Pos, Selasa, 5 Juni 2007

Teks 2

Pemanfaatan Sampah Menjadi Tenaga Listrik Pembangunan

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

Gedebage akan mulai dikerjakan akhir Desemper 2007. Penanganan sampah melalui pemanfaatan teknologi tinggi (WTE) atau mengolah sampah menjadi energi listrik, merupakan solusi tepat penanganan sampah hingga tuntas. Hal tersebut diungkapkan Wali Kota Bandung, H. Dada Risada, S.H. M.Si. ketika menerima laporan Dirut PD Kebersihan mengenai kesiapan pembangunan PLTSa, Jumat (9/11) di ruang rapat Pendopo Jalan Dalem Kaum. Menurut Dada, peletakan batu pertama pembangunan PLTSa direncanakan pada 31 Desember 2007. Diungkapkan, semua unsur satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait dan pengembang, PT BRIL telah menyatakan kesiapannya. Terkait dengan kesiapan tersebut, Dada telah menerima laporan secara rinci mengenai langkah-langkah PT BRIL dalam pembangunan PLTSa. Di antaranya pada 15 November 2007 PT BRIL akan menyelesaikan penguasaan lahan, penandatanganan MoU dengan PDAM untuk suplai air dari pengolahan air kotor Bojongsoang ke PLTSa Gedebage, serta menyelesaikan izin menggunakan dan peruntukan tanah (IPPT) dari Dinas Tata Kota (DTK). Selanjutnya, diungkapkan Dada, PT BRIL akan menyelesaikan amdal lalu lintas dan bajir melalui koordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Pengairan Kota Bandung (30 Desember 2007).

Cara Membaca Ekstensif – Dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama PD Kebersihan Kota Bandung dengan PT BRIL (15 Desember 2007), serta penyelesaian izin pematangan tanah dan IMB (21 Desember 2007). ”Sementara untuk rencana peletakan batu pertama pembangunan PLTSa dijadwalkan pada 31 Desember 2007,” kata Dada. Pada kesempatan itu, Dada mengatakan, penanganan sampah Kota Bandung melalui pemanfaatan teknologi tinggi WTE, merupakan solusi tepat penanganan sampah tuntas dan permanen atau tidak akan menyisakan persoalan. Sebab teknologi ini sudah dilakukan beberapa negara maju, seperti Amerika, Belanda, Jerman, dan Cina. Selesaikan Masalah Teknologi ini mampu menyelesaikan masalah sampah kota-kota besarnya, bahkan abu sisa pembakarannya secara ilmiah bisa batu bara untuk keperluan bangunan rumah. ”Tentu saja Kota Bandung sebagai kota teknologi dengan banyak perguruan tinggi, termasuk ITB, ingin tampil sebagai pelopor penggunaan WTE di Indonesia. Karena cara-cara lama dengan sistem sanitarian landfil, apalagai open dumping, sangat berisiko tinggi. Prabrik WTE ini yang pasti bukan tempat pembuangan sampah, tetapi tempat pengobatan sampah nonpolutan yang berwawasan lingkungan” papar Dada. Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Bandung, Drs. H. Tjetje Subrata, S.H., M.M. mengatakan, kebijakan pembangunan PLTSa Gedebage tidak lurus dicurigai. Sejak awal pemkot berupaya kasar agar PLTSa benar-benar aman bagi warga. Bahkan, mencarikan teknologi tinggi untuk mengatasi kemungkinan adanya dampak yang ditimbulkan. ”Itulah sebabnya kita meminta ITB untuk melakukan kajian, termasuk pelaksanaan amdalnya. Proses ini meyakinkan kita untuk pengambilan keputusan untuk tetap menggunakan WTE,” ujar Tjetje.

Sumber: Galamedia, 10 November 2007

Cara Membaca Ekstensif

Pokok-pokok apa yang disampaikan pada kedua teks tersebut? Kedua teks tersebut menguraikan cara mengolah sampah. Untuk mengetahui perbedaan isi kedua teks tersebut, kalian perlu membandingkannya.

1. Catatlah pokok-pokok isi setiap sumber teks tersebut di buku tulismu

2. Catatlah rujukan sumber tertulis tersebut! a. Di surat kabar apa teks tersebut dimuat? b. Kapan teks tersebut diterbitkan atau dimuat di surat kabar tersebut?

Menulis Puisi Lama

Menulis puisi bagian dari ekspresi sastra, yaitu mengekspresikan ide-ide, gagasan, dan imajinasi ke dalam kata-kata. Menulis puisi memang memerlukan latihan dan imajinasi. Coba kalian berlatih menulis puisi. Caranya, petik setangkai bunga dan simpanlah di atas meja. Kembangkan imajinasi kalian, misalnya benda itu disebut bunga? Kenapa bunga itu dikatakan indah? Kenapa bisa harum? Kenapa orang menikah mesti dihiasi bunga? Mengapa wanita diibaratkan sebagai bunga? Nah, bermainlah dengan kata-kata dalam imajinasi kalian. Tuangkan ke dalam rentetan kata-kata yang mengarah pada makna keindahan bunga dan makna bunga dalam kehidupan. Ketika kalian belajar membacakan puisi, kalian telah mengetahui bahwa di dalam puisi sering terdapat permainan bunyi. Permainan bunyi dalam puisi berfungsi menimbulkan kepuitisan. Permainan bunyi itu, misalnya tampak pada penggunaan rima atau persajakan. Pantun juga termasuk puisi, yaitu puisi lama. Sama seperti menulis puisi modern/kontemporer, menulis pantun dan syair juga perlu daya khayal/imajinasi. Perhatikan contoh pantun ini!

Cara Membaca Ekstensif