Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru
Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru – Menulis memerlukan latihan yang terus-menerus. Sebagai sebuah keterampilan, menulis memang bisa dipelajari, tetapi selebihnya merupakan kreativitas seseorang. Oleh karena itu, daya kreatif sangat penting bagi seorang penulis. Menulis juga bukan sekadar menuangkan ide, melainkan harus benar-benar didukung oleh kemampuan menulis yang baik pula. Menjadi penulis yang baik inilah yang harus Anda cita-citakan. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memanfaatkan semua jenis media untuk dijadikan latihan menulis. Apabila di sekolah Anda terdapat majalah dinding (mading), buletin sekolah, dan tabloid sekolah, Anda dapat gunakan semua itu sebagai media belajar menulis. Mulailah menulis dari media-media itu, sebelum Anda menulis di koran-koran umum.

Jenis-jenis Puisi Baru – Tulisan berkait dengan dua aspek penting. Pertama, berkait dengan masalah materi (isi). Kedua, berkait dengan masalah teknik kebahasaan. Menulis puisi merupakan proses kreatif yang harus dilatihkan oleh mereka yang ingin menjadi penyair. Proses kreatif harus ditumbuhkan dalam diri sendiri agar kita dapat berkarya secara baik. Dalam menulis puisi terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, yakni pemilihan tema, diksi, rima, dan gaya bahasa. Pada pelajaran sebelumnya, Anda sudah belajar menulis puisi lama! Senang, bukan? Bagaimana kalau kita mencoba lagi? Akan tetapi, sekarang kita akan menulis puisi baru. Mari kita mulai belajar menulis puisi baru! Semoga menyenangkan! Puisi baru tidak sama dengan puisi lama. Isi, bentuk, irama, dan bentuk persajakanyang terdapat dalam puisi lama sudah berubah pada puisi baru. Terutama mengenai isi pada puisi baru, isinya pun dilukiskan dalam bahasa yang bebas dan lincah. Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya, puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk puisi, yaitu: a. Sajak dua seuntai atau distikon b. Sajak tiga seuntai atau terzina c. Sajak empat seuntai atau quatrain d. Sajak lima seuntai atau quint e. Sajak enam seuntai atau sektet f. Sajak tujuh seuntai atau septima g. Sajak delapan seuntai atau oktaf atau stanza Puisi baru selain dibagi berdasarkan jumlah baris yang terkandung dalam tiaptiap baitnya, juga dibagi berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya. Bentukbentuk puisi baru yang dibagi berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut. 1. Ode, yaitu sajak yang berisikan tentang puji-pujian pada pahlwan, atau sesuatu yang dianggap mulia. 2. Himne, yaitu puisi atau sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa. Himne disebut juga sajak Ketuhanan. 3. Elegi, yaitu puisi atau sajak duka nestapa. 4. Epigram, yaitu puisi atau sajak yang mengandung bisikan hidup yang baik dan benar, mengandung ajaran nasihat dan pendidikan agama. 5. Satire, yaitu sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme) kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. 6. Romance, yaitu sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian,dan sebagainya. 7. Balada, yaitu puisi atau sajak yang berbentuk cerita. Selain bentuk-bentuk puisi di atas, pada puisi baru juga terdapat satu bentuk puisi yang lain, yaitu soneta. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat mengenai puisi baru.

Jenis-jenis Puisi Baru

h. Soneta Perkataan Soneta berasal dari kata Sonetto dalam bahasa Italia yang terbentuk dari kata latin Sono yang berarti ‘bunyi’ atau ‘suara’. Adapun syarat-syarat soneta (bentuknya yang asli) adalah sebagai berikut. • Jumlah baris ada 14 buah. • Keempat belas baris terdiri atas 2 buah quatrain dan 2 buah terzina. • Jadi pembagian bait itu: 2 × 4 dan 2 × 3. • Kedua buah kuatrain merupakan kesatuan yang disebut stanza atau oktaf. • Kedua buah terzina merupakan kesatuan, disebut sextet. • Octav berisi lukisan alam; jadi sifatnya objektif • Sextet berisi curahan, jawaban, atau kesimpulan sesuatu yang dilukiskan dalam oktaf; jadi sifatnya subjektif. • Peralihan dari oktaf ke sektet disebut volta. • Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 dan 14 suku kata. • Rumus dan sajaknya a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c, d-c-d. Lama kelamaan para pujangga tidak mengikuti syarat-syarat di atas. Pembagian atas bait-bait, rumus sajak serta hubungan isinya pun mengalami perubahan. Yang tetap dipatuhinya hanyalah jumlah baris yang 14 buah itu saja. Bahkan acapkali jumlah yang 14 baris dirasa tak cukup oleh pengarang untuk mencurahkan angan-angannya. Itulah sebabnya lalu ditambah beberapa baris menurut kehendak pengarang. Tambahan itu disebut Cauda yang berarti ekor. Karena itu, kini kita jumpai beberapa kemungkinan bagan. Soneta Shakespeare, misalnya mempunyai bagan sendiri mengenai soneta-soneta gubahannya, yakni: Pembagian baitnya : 3 × 4 dan 1 × 2. Sajaknya : a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-g. Demikian pula pujangga lain, termasuk pujangga soneta Indonesia mempunyai cara pembagian bait serta rumus-rumus sajaknya sendiri.

1. Puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu (1) sajak dua seuntai atau distikon, (2) sajak tiga seuntai atau terzina, (3) sajak empat seuntai atau quatrain, (4) sajak lima seuntai atau quint, (5) sajak enam seuntai atau sektet, (6) sajak tujuh seuntai atau septima, (7) sajak delapan seuntai atau oktaf atau stanza. 2. Bentuk-bentuk puisi baru yang dibagi berdasarkan isi, misalnya ode, himne, elegi, epigram, satire, romance, dan balada. 3. Cerita pendek (cerpen) adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu peristiwa atau kejadian.

Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Peristiwa”. Di antaranya Anda mengaitkan nilai-nilai yang ada dalam cerpen dengan kehidupan sehari-hari. Dalam cerpen “Menunggu Saat Bintang Jatuh” Anda menemukan nilai tentang hubungan anak dan ayah angkatnya yang kurang harmonis. Sang ayah tidak menyetujui hubungan anak angkatnya dengan seorang pria yang dia anggap telah menyebabkan anak dan istrinya meninggal. Padahal sebenarnya anak dan istrinya tersebut meninggal karena penyakit deman berdarah. Peristiwa dan nilai-nilai dalam cerpen tersebut pernah Anda temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana sikap Anda jika permasalahan yang terjadi pada Anda? Jawaban dapat menjadi bahan refleksi Anda.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Pakaian pengantin perempuan itu sangat bagus. warnanya terang dan gemerlapan dihiasi dengan jalur-jalur keemasan. Begitu juga hiasan di kepala berkilauan ditimpa cahaya lampu. Semua itu dipandang oleh Diah dengan penuh perhatian. Sebenarnya banyak yang akan ditanyakan kepada Ibu, tetapi belum ada kesempatan sebab ibu masih asyik bercakap-cakap. Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam kutipan cerpen di atas adalah … . a. orang pertama pelaku utama b. orang pertama pelaku sampingan c. orang pertama pelaku utama d. orang ketiga di luar cerita e. orang kedua pelaku utama 2. Pasar burung itu kecil saja. Dan semakin terasa sesak karena dipenuhi oleh burung-burung yang kian hari kian berbiak. Selain dihuni oleh para burung, pasar itu dipimpin oleh Mister Omzet dan dijaga oleh Parnoranger. Pak boss punya cita-cita, walaupun pasar itu cuma sebuah pasar burung kecil tetapi bisa berkembang menjadi pasar burung besar dan modern. Mungkin kelak akan menjadi departement store burung. “Untuk itu harus dikelola secara baik dan profesional,” begitu kata Pak Boss. Cerpen “Pasar Burung” karya La Fang

Jenis-jenis Puisi Baru Nilai yang terkandung pada penggalan cerpen di atas adalah … a. Setiap orang mempunyai angan-angan di masa depan. b. Kita tidak boleh mempunyai mimpi yang terlalu tinggi. c. Mimpi seorang bos mungkin bisa terwujud. d. Setiap orang boleh mempunyai mimpi tetapi harus melihat kemampuan. e. Kita tidak boleh berangan-angan yang tidak mungkin bisa diwujudkan. 3. Satire adalah … . a. sajak yang berisikan tentang puji-pujian pada pahlwan, atau sesuatu yang dianggap mulia b. puisi atau sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa c. sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme) kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat d. sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian,dan sebagainya e. puisi atau sajak duka nestapa 4. Sajak quartrain adalah … . a. a-a b. a-b-a-b c. a-b-b d. a-a-a-a e. a-b-b-a 5. Sajak tiga seuntai disebut juga … . a. terzina b. quartrain c. distikon d. quint e. sektet

Jenis-jenis Puisi Baru B. Kerjakanlah dengan tepat! 1. Bacalah satu buah cerpen dalam surat kabar mingguan, kemudian analisislah unsur-unsur intrinsik cerpen tersebut! 2. Analisislah nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen yang telah dibaca pada soal 1! 3. Tulislah keterkaitan cerita pendek “Labirin Cahaya” dengan kehidupan sehari-hari! 4. Tulislah sebuah puisi tiga seuntai (terzina)! 5. Tulislah sebuah puisi enam seuntai (sektet)!

Pengertian Menulis Contoh Paragraf Naratif dan Narasi Fiktif

Pengertian Menulis Contoh Paragraf Naratif dan Narasi Fiktif

Pengertian Menulis Contoh Paragraf Naratif dan Narasi Fiktif

Contoh Paragraf Naratif
Contoh Paragraf Naratif

Contoh Paragraf Naratif

Contoh Paragraf Naratif – Anda tentu sering membaca beragam teks (wacana). Di antara teks yang Anda baca itu tentu ada yang berjenis teks naratif atau narasi, deskriptif atau deskripsi, ekspositif atau eksposisi, dan persuasif atau persuasi. Semua jenis teks tersebut memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Pada subbab ini, Anda mempelajari teks naratif atau narasi. Apa yang membedakan teks narasi dengan jenis teks lainnya? Mari kita bedakan antara teks narasi dengan deskripsi. Bila deskripsi merupakan suatu bentuk teks yang berusaha menggambarkan sejelas-jelasnya suatu objek sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, maka narasi merupakan suatu bentuk teks yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat sendiri atau mengalami sendiri peristiwa itu. Oleh karenanya unsur yang paling penting pada sebuah narasi adalah unsur perbuatan atau tindakan. Tetapi kalau narasi hanya menyampaikan kepada pembaca suatu kejadian atau peristiwa, masih sulit dibedakan dari deskripsi, karena suatu peristiwa atau suatu proses dapat juga disajikan dengan mempergunakan metode deskripsi. Oleh karena itu, harus ada unsur lain yang perlu diperhitungkan dalam teks narasi, yaitu waktu. Dengan demikian, pengertian narasi mencakup dua unsur dasar, yaitu perbuatan atau tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu. Apa yang terjadi dalam teks narasi tidak lain merupakan tindak-tanduk yang dilakukan oleh orang-orang atau tokoh-tokoh dalam suatu rangkaian waktu. Bila deskripsi menggambarkan suatu objek secara statis, maka narasi mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu. Berdasarkan uraian di atas Gorys Keraf (2007: 136) membatasi narasi sebagai suatu bentuk teks yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Atau dapat juga dirumuskan lain, narasi adalah suatu bentuk teks yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. Bentuk-bentuk narasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu narasi fiktif dan narasi nonfiktif. Narasi fiktif kita kenal dalam bentuk kesusastraan seperti, novel, roman, cerpen, dan dongeng. Narasi nonfiktif kita jumpai dalam bentuk sejarah, biografi, dan autobiografi. yang sering kita temui.

Berikut ini adalah contoh narasi fiktif dalam kutipan roman

Contoh Paragraf Naratif – Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda, bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang memancar dari atas dan timbul dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih. Seorang dari anak muda ini, ialah laki-laki, yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celananya pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutera hitam pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas yang dipukul-pukulkannya ke betisnya. Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat nyatalah ia bukan bangsa Eropah; karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi, nyata kelihatan alis matanya yang tebal dan hitam pula. Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, terbayang bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati, tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang mampu dan tertib sopannya menyatukan ia anak seorang yang berbangsa tinggi. Teman anak muda ini, ialah seorang anak perempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang hitam dan tebal itu, dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutera, dan diberinya pula berpita hitam di ujungnya. Gaunnya (baju nona-nona) terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu dan kausnya, cokelat warnanya. Dengan tangan kirinya dipegangnya sebuah batu tulis dan sebuah kotak yang berisi anak batu, pensil, pena, dan lain-lain sebagainya; dan di tangan kanannya adalah sebuah payung sutera kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau. Dikutip dari roman Siti Nurbaya, karya Marah Rusli, hal 9-10.

Berikut ini adalah contoh narasi fiktif dalam kutipan cerpen.

Melayat Bapak

Contoh Paragraf Naratif – Sebenarnya, keberangkatanku ke Jogja hari ini tak begitu berguna. Pemakaman bapak (angkatku) dilakukan pukul 13.00 siang ini. Tapi, aku tak cukup punya waktu untuk segera pulang. Naik kereta api butuh 6-8 jam, sedang bis atau travel butuh waktu 10- 12 jam. Pilihan terakhir tentu saja pesawat terbang. Tapi, jarak tempuh Bekasi – Cengkareng minimal 2 jam, belum macet. Sementara sekarang sudah pukul 10.00. Perjalanan ke Jogja dengan pesawat memang hanya 1 jam. Paling dari bandara Adi Sucipto ke Kalasan, tinggal 25 menit lagi. Sayangnya, aku tak punya cukup uang untuk bayar tiket pesawat. Dengan terbata, aku katakan pada saudara angkatku, Ehal, supaya merelakan ketidakhadiranku di Melayat Bapak pemakaman bapak. “Bapak pasti ngerti, aku tak bisa datang buru-buru,” kataku pada Ehal. Tentu saja, aku minta maaf pada bapak, sebab rasanya pahit getir menahan rindu ingin bertemu bapak untuk yang terakhir kali, benar-benar membuatku sesak. Mau menangis, nanti malah merepotkan teman-teman kantor. Laki-laki kok menangis. Maka, aku putuskan untuk pulang malam ini, dengan kereta ekonomi. “Ya, sudah kalau tidak bisa pulang sore ini, gak pa pa. Kami di sini tetap menunggu kedatanganmu esok,” jawab Ehal dengan ketegaran luar biasa. Sumber: Cerpen karya Ioannes B. Dieuta, Surabaya Post, Minggu, 14 September 2008

1. Carilah contoh bentuk-bentuk teks naratif di majalah, surat kabar, atau internet! Maksimal 4 contoh dengan bentuk yang berbeda. 2. Tulislah satu paragraf naratif dengan bentuk yang Anda sukai! Anda juga boleh menulis beragam bentuk supaya pemahaman Anda tentang teks naratif semakin terasah. 3. Diskusikan teks naratif yang Anda tulis dalam kelompok kecil (2-3 siswa)! Perbaiki tulisan jika ternyata teks yang Anda tulis belum mempunyai ciri naratif!

Review (Rangkuman) Refleksi Bagi Peserta Didik 1. Informasi bisa diperoleh dari media elektronik (TV, radio dan lain-lain) maupun cetak (surat kabar, majalah, dan lain-lain). 2. Membaca ekstensif berarti membaca luas, memahami isi bacaan yang penting dengan cepat dan efisien. 3. Narasi adalah suatu bentuk teks yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Atau dapat juga dirumuskan lain, narasi adalah suatu bentuk teks yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. 4. Bentuk-bentuk narasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu narasi fiktif dan narasi nonfiktif. Narasi fiktif kita kenal dalam bentuk kesusastraan seperti, novel, roman, cerpen, dan dongeng. Narasi nonfiktif kita jumpai dalam bentuk sejarah, biografi, dan autobiografi. yang sering kita temui.

Contoh Paragraf Naratif – Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Pendidikan”. Kompetensi pertama yang Anda kuasai pada bab ini adalah menemukan nilai-nilai dalam cerita rakyat. Begitu banyak nilai yang dapat Anda petik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari Anda. Selanjutnya Anda menguasai kompetensi mendiskusikan masalah yang ditemukan dalam artikel. Kompetensi ini juga dapat Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika Anda terbentur suatu masalah, Anda dapat segera menyelesaikannya dengan jalan diskusi. Selain itu, pada bab ini Anda juga dapat menguasai kompetensi menulis paragraf naratif. Kompetensi ini sangat berguna untuk Anda dalam hal tulis menulis karena teknik menulis dengan pengembangan naratif dapat digunakan untuk menulis beragam bentuk baik tulisan fiksif maupun nonfiktif.

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan  Contoh Puisi Lama

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan Contoh Puisi Lama

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan Contoh Puisi Lama

Menulis Puisi Lama
Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama  – Pasti, Anda pernah membaca puisi! Senang, bukan? Bagaimana kalau kita mencoba lagi? Selain itu, kita juga berlatih menulis puisi. Pernahkah Anda menulis puisi? Mari kita mulai belajar menulis puisi! Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani, poeima, “membuat’, atau poeisis, “pembuatan”. Dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry (Aminuddin, 1995: 134). Menurut Pradopo (2002: 7), puisi merupakan ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan dan merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Tambahnya lagi, puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Esensi puisi merupakan perwujudan pikiran, perasaan, dan pengalaman intelektual seorang penyair yang bersifat imajinatif, yang diungkapkan melalui bahasa yang memikat secara jujur dan sungguh-sungguh. Menurut Richard (dalam Situmorang, 1983: 12) terdapat dua unsur penting yang membangun puisi, yakni metode puisi dan hakikat puisi. Metode puisi disebut juga struktur fisik puisi yang terdiri atas diksi. Metode puisi disebut juga struktur fisik puisi yang terdiri atas diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, serta ritma dan rima. Adapun hakikat puisi disebut juga struktur batin puisi yang terdiri atas tema, perasaan, nada, dan amanat. Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh syarat-syarat, seperti jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik, pola rima dan irama, serta muatan setiap bait. Yang termasuk puisi lama adalah bidal, gazal, gurindam, mantra, masnawi, nazam, kith’ah, rubai, pantun, seloka, syair, talibun, dan teromba.

Menulis Puisi Lama  – Meskipun bentuk puisi lama cukup banyak, kita akan menekuninya sebagian saja, terutama yang masih memengaruhi penulisan puisi modern, yaitu pantun, syair, dan mantra.

1. Pantun Pantun merupakan ragam puisi lama yang tiap baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa dua larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran, sementara isi atau maksud sesungguhnya terdapat pada larik ketiga dan keempat. Berdasarkan struktur dan persyaratannya, pantun dapat terbagi ke dalam pantun biasa, pantun kilat atau karmina, dan pantun berkait.

Pantun biasa adalah pantun seperti kita kenal lazimnya dan rincian persyaratannya telah kita singgung di atas, namun dengan tambahan, isinya curahan perasaan, sindiran, nasihat, dan peribahasa. Pantun biasa pun dapat selesai hanya dengan satu bait. Perhatikanlah pantun yang cukup populer berikut ini! Pantun kilat atau karmina memiliki syarat-syarat serupa dengan pantun biasa. Perbedaan terjadi karena karmina sangat singkat, yaitu baitnya hanya terdiri atas dua larik, sehingga sampiran dan isi terletak pada larik pertama dan kedua. Perhatikanlah beberapa karmina berikut!

Pantun berkait kadang-kadang juga disebut dengan pantun berantai, merupakan pantun yang bersambung antara bait satu dan bait berikutnya. Dengan catatan, larik kedua dan keempat setiap bait pantun akan muncul kembali pada larik pertama dan ketiga pada bait berikutnya. Perhatikanlah pantun berkait berikut ini!

2. Syair Syair bersumber dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat sekitar abad ke-13, seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Seperti halnya pantun, syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya; setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata. Akan tetapi, syair tidak pernah menggunakan sampiran. Dengan kata lain, larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut. Perbedaan pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Apabila pantun berpola a-b-a-b, maka syair berpola a-a-a-a. Karena bait syair terdiri atas isi semata, antara bait yang satu dengan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. Jadi, apabila orang akan bercerita, syair adalah pilihan yang tepat. Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi, religi, sejarah, atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya. Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra Nusantara, misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, Syair Burung Pungguk, dan Syair Yatim Nestapa. Marilah kita sejenak memerhatikan beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk:

3. Mantra Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance ‘kerasukan’. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif. Karakteristik mantra sangat unik. Menurut Umar Junus (1983: 135), ciri-ciri mantra adalah sebagai berikut. 1. Di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah. 2. Mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi. 3. Mantra menggunakan kesatuan pengucapan. 4. Mantra merupakan sesuatu yang utuh, yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya. 5. Mantra sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius. 6. Dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya.

Menulis Puisi Lama  – Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini, yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak

Pulanglah engkau kepada rimba sekampung, Pulanglah engkau kepada rimba yang besar, Pulanglah engkau kepada gunung guntung, Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu, Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang, Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering, Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

Kita memahami dan belajar membuat mantra bukan karena kemanjuran daya gaibnya sebab anggapan seperti itu terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Kini kita mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. Terlebih-lebih, puisi modern yang akan kita bicarakan pada pelajaran berikutnya.

Menulis Puisi Lama  – Latihan

1. Carilah informasi mengenai karakteristik puisi-puisi lama selain pantun, syair, dan mantra untuk memperkaya wawasan Anda! Pelajarilah sebaik-baiknya agar Anda dapat membandingkan dan memahami berbagai jenis puisi lama tersebut! 2. Buatlah beberapa jenis puisi lama! (minimal tiga buah)

Rangkuman

1. Pokok-pokok isi berita dapat ditemukan dengan menggunakan 6 pertanyaan pokok (rumus 5W + 1H), yaitu who (siapa), where (di mana), why (mengapa), when (kapan), dan how (bagaimana). 2. Berbicara di depan forum resmi sebaiknya menggunakan bahasa yang komunikatif, dengan intonasi yang jelas dan tidak monoton. 3. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memperkenalkan diri, yaitu: (1) tidak merendahkan diri secara berlebihan, (2) menggunakan bahasa yang sopan dan resmi, (3) nada bicara tidak tinggi/keras, (4) menjelaskan identitas diri secukupnya. 4. Membaca cepat artinya membaca dengan mengutamakan kecepatan tanpa mengabaikan pemahamannya. 5. Puisi merupakan perwujudan pikiran, perasaan, dan pengalaman intelektual seorang penyair yang bersifat imajinatif, yang diungkapkan dengan bahasa yang memikat, jujur, dan bersungguh-sungguh.

Menulis Puisi Lama – Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Lingkungan Sehat”. Kemampuan Anda dalam memberikan tanggapan isi berita atau nonberita dapat Anda praktikkan dalam keseharian untuk mengomentari hal-hal yang sedang terjadi. Tetapi tentu saja komentar Anda itu harus relevan dengan topik yang dibicarakan. Kompetensi lain yang Anda pelajari adalah teknik membaca cepat. Kompetensi ini juga dapat Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan informasi secara tepat dan cepat.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Sekitar 300 dari 400-an kios dan jongko (los) di Pasar Inpres Sayati, Kota Bandung, Sabtu (26/8) dini hari, musnah terbahar. Dalam peristiwa itu seirang perempuan pedagang ayam potong, Fatimah bin Yusuf (50-an), tewas terbakar karena terkurung api dalam kiosnya. Keterangan yang dihimpun Sabtu siang menyebutkan, api mulai berkobar sekitar pukul 02.30 ketika para pedagang masih tertidur lelap. Karena kencangnya tiupan angin kemarau dan terbakarnya tenda-tenda plastik, api dengan cepat menjalar ke hampir semua bagian pasar yang terletak di Jalan Kopo itu. Api baru berhasil diatasi sekitar pukul 07.30, setelah sekitar sepuluh mobil pemadam kebakaran dari kota dan Kabupaten Bandung dikerahkan ke lokasi kejadian. Namun, akibat luapan massa, Jalan Poros Kopo Soreang sempat macet total selama beberapa jam.

Menulis Puisi Lama – Pertanyaan yang sesuai dengan isi teks berita tersebut adalah … a. Berapa rupiah kerugian atas kebakaran Pasar Inpres Sayati? b. Di manakah Fatimah, korban kebakaran tersebut dimakamkan? c. Siapa yang menjadi korban kebakaran Pasar Inpres? d. Dari mana datangnya tiupan angin kencang ke lokasi kebakaran? e. Mengapa para pedagang terlelap tidur ketika terjadi kebakaran?