Tentang Pengertian Adapatasi Perubahan Iklim

Tentang Pengertian Adapatasi Perubahan Iklim

Tentang Pengertian Adapatasi Perubahan Iklim

Perubahan Iklim
Perubahan Iklim

Perubahan Iklim – Adaptasi untuk bidang kesehatan Banyak aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh iklim. Dampak itu bisa langsung – suhu tinggi dapat menyebabkan renjatan panas, misalnya, atau banjir dan longsor dapat mengakibatkan kematian atau cedera. Atau bisa juga pengaruh secara tidak langsung – lingkungan yang berubah mempercepat penyebaran penyakit yang disebabkan infeksi , atau kekurangan air dapat mengganggu sistem kebersihan atau mengurangi hasil tanaman pangan yang kemudian dapat mengakibatkan kurang gizi. Untuk mencegah dampak fisik bencana secara langsung, dalam beberapa kasus, risiko dapat dikurangi dengan reforestasi (penghutanan kembali). Misalnya, di Madiun, pemerintah merencanakan untuk menghutankan kembali ratusan hektar lahan pertanian di lereng-lereng gunung berapi Wilis untuk mengurangi risiko longsor yang menyusul curah hujan lebat.17 Bagaimanapun,seluruh masyarakat perlu menetapkan zona-zona yang beresiko terhadap bajir dan longsor dan membuat rencana untuk sistem peringatan dini untuk evakuasi. Banyak tindakan adaptasi untuk kesehatan akan melibatkan penguatan sistem pelayanan dasar kesehatan dan pengobatan yang sudah ada – meluaskan penyebaran kesadaran kesehatan kepada rakyat agar lebih memperhatikan kebersihan dan soal penyimpanan air. Menghambat penyebaran penyakit akan membutuhkan sistem pengawasan pola-pola penyakit lebih ketat.

Pada waktu banjir, pengawasannya antara lain adalah dengan memonitor penyakit kolera. Untuk jangka panjang, pengawasan meliputi memonitor distribusi penyakit-penyakit yang disebarkan oleh nyamuk sambil memastikan rumah tangga mampu melindungi diri sendiri, antara lain, misalnya dengan penggunaan kelambu atau kelambu yang dicelupkan ke dalam larutan insektisida. Adaptasi di wilayah perkotaan Banyak masalah kesehatan yang perlu diberikan perhatian khusus di wilayah perkotaan. Untuk Jakarta, misalnya, Palang Merah Indonesian menjalankan kampanye perubahan iklim dengan memperbaiki penyimpanan air bersih dan mengurangi kerentanan tehadap demam berdarah dengan membudidayakan ikan yang memangsa larva nyamuk.

Aktivitas ini didasarkan pada pembangunan kapasitas lokal dan perencanaan yang partisipatif – menjangkau anak-anak muda dan meningkatkan kesadaran adaptasi di kalangan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat Sebagaimana yang telah terjadi dalam kejadian banjir 2007 di Jakarta, masyarakat perkotaan yang rentan juga perlu disiapkan secara khusus untuk menghadapi banjir – dan harus memiliki rencana kedaruratan yang siap dilaksanakan Adaptasi dalam pengelolaan bencana Dari berbagai sisi, Indonesia merupakan tempat tinggal yang berbahaya – rawan terhadap berbagai macam bencana alam. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran, dan berbagai kejadian cuaca yang ekstrem yang sudah begitu lumrah. Perubahan iklim akan menjadikan semua ini makin parah – terutama bagi masyarakat miskin kota yang hidup seadanya di sepanjang pinggiran sungai atau bagi masyarakat pedesaan yang hidup di bawah ancaman longsor atau ancaman kemarau panjang dan kebakaran hutan. Keniscayaan adaptasi – Seruan untuk bertindak 17 Boks 8:“Seandainya waktu itu

Boks 8:“Seandainya waktu itu kami lebih siap” “Setiap musim hujan, banjir sudah jadi bagian hidup sehari-hari dan biasanya kami tidak pernah mengkhawatirkannya. Namun setelah kekacauan dan panik akibat banjir Februari lalu, saya jadi cemas juga bahwa situasi kelak akan lebih parah. Belum pernah banjir separah ini sebelumnya. Kami tidak sempat menyelamatkan harta benda kami. Tak seorang pun tahu ke mana harus mengungsi” (Ilham, warga Rawa Kepa, Kelurahan Tomang, Jakarta Barat). Seperti Ilham, sebagian besar penduduk di beberapa RW di Kelurahan Tomang sudah membangun pemukiman mereka di sekitar bantaran kanal banjir barat. Bahkan bagian atas kanal sudah dipenuhi rumah dan bangunan semi permanen lain untuk kegiatan ekonomi informal.

Meski tak seorang pun korban tewas di sana akibat banjir Februari 2007, banyak yang kehilangan harta beda, seperti motor dan berbagai peralatan rumah tangga, bahkan bangunan rumah mereka. Hal ini terutama karena tidak adanya peringatan. Berita banjir mulai datang hanya tersebar dari mulut ke mulut saat banjir sudah telanjur masuk. Karena tidak ada rencana evakuasi, banyak yang panik dan hanya berbondong-bondong menuju bangunan komersial terdekat, Roxy Square. Namun di dalam gedung ini mereka terjebak tanpa listrik dan air, dan tidak ada tempat dan sarana untuk memasak. Dengan baterai ponsel yang lemah setelah beberapa lama dan tanpa radio, komunikasi mereka terputus dengan pihak luar. Dari pengalaman pada waktu banjir ini, dalam diskusi yang diorganisasikan oleh Urban Development Institute (URDI), para wakil warga membahas apa yang telah terjadi dan apa yang dapat dilakukan secara lebih baik selanjutnya. Mereka telah sepakat tentang perlunya antisipasi dan kesiapan serta mulai memetakan sumber daya dan fasilitas yang dapat digunakan masyarakat di masa datang. Mereka juga membentuk pokja banjir yang nantinya bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan sistem informasi peringatan dini dan evakuasi saat banjir datang.

Perubahan iklim juga akan membawa bencana yang berlangsung secara perlahan-perlahan seperti kenaikan muka air laut dan intrusi air laut ke delta-delta sungai yang merusak ekosistem pesisir dan menghancurkan mata pencaharian masyarakat. Akibatnya? Lebih banyak korban jiwa, penderitaan, pemiskinan, gangguan pelayanan sosial paling mendasar, porak-porandanya harta benda dan infrastruktur, kemunduran dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta kerusakan lingkungan hidup. Dengan demikian, yang jauh lebih penting adalah bahwa kita dapat beralih ke pengelolaan yang ‘cermat’. Alih-alih hanya merespon saat bencana terjadi, mestinya yang dituju adalah mengurangi risiko dan melakukan persiapan sebelum bencana itu terjadi. Dalam sejarah, orang-orang di Indonesia sudah melakukan tindakan itu sebagai bagian dari pemikiran sehari-hari – dalam keputusan membangun rumah, misalnya, merancang masjid, atau memekarkan sebuah desa, meskipun kini dalam ketergesaan kehidupan modern, sebagian dari kearifan ini tampaknya sudah dilupakan. Untunglah, mulai ada pergeseran untuk kembali menegakkan pemikiran-pemikiran seperti ini. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah ke arah itu. Misalnya, pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang baru tentang Pengelolaan Bencana Nasional (Pengurangan Risiko) yang akan mendorong masyarakat berinvetasi bagi keselamatan diri masing-masing dengan mengurangi risiko kerusakan bencana. Pemerintah juga sudah membuat program dialog antar-pemerintahan dan antara umum-swasta, mengenai suatu Rencana Aksi Nasional untuk Mengurangi Risiko Bencana. Beberapa pemerintah daerah bahkan sudah bergerak lebih cepat: pemerintahan lokal Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Maluku, misalnya sudah bergerak lebih jauh dengan menyiapkan Rencana Aksi Daerah untuk Mengurangi Risiko Bencana. Yang menjadi tantangan saat ini adalah membangun kapasitas yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan berbagai rencana dan strategi ini, dan yang terpenting, memberdayakan masyarakat agar ikut memikul tanggung jawab sendiri sehingga memastikan setiap orang di Indonesia hidup dalam ‘budaya yang mementingkan keselamatan’ (Boks 9).

Menuju pembangunan yang aman dan berkelanjutan ‘

Di seluruh sektor, berbagai tindakan adaptasi akan menuntut tindakan efektif pemerintah – yang pada tingkat pemerintah daerah akan membutuhkan koordinasi lebih kuat di antara berbagai sektor departemen. Pemerintah sudah menyiapkan Rencana Aksi Nasional untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RANMAPI). RANMAPI ini mengakui bahwa perubahan iklim merupakan ancaman serius terhadap pembangunan sosioekonomi dan lingkungan hidup Indonesia dan bahwa dampak perubahan iklim diperparah oleh pola-pola pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Boks 9: Membangun budaya yang mementingkan keselamatan Program PBB untuk Pembangunan (UNDP), dengan dana bantuan dari the United Kingdom’s Department for International Development, sedang berupaya mendatangkan pengalaman dan keahlian internasional ke Indonesia melalui suatu program yang dinamakan, ‘Pengurangan Risiko Bencana dalam Pembangunan yang Menjamin Keselamatan Masyarakat) (‘Safer Communities for Disaster Risk Reduction in Development’). Program yang dilaksanakan melalui Badan Perencana Pembangunan Nasional (BAPPENAS) ini akan membantu menguatkan dan mengembangkan berbagai peraturan dan kebijakan seputar pengurangan risiko bencana yang sedang tumbuh di kalangan individu, bisnis, pemerintah daerah, dan badan-badan pemerintahan pusat. Program ini juga membantu membangun kemitraan untuk mendukung pengambilan keputusan yang terdesentralisasi sambil mengembangkan program pendidikan dan penyadaran masyarakat. Yang terpenting, program ini akan memberikan berbagai peluang kepada pemerintah dan warga daerah untuk melaksanakan serangkaian demonstrasi pengurangan risiko bencana yang inovatif di seluruh negeri. Demonstrasi itu meliputi: • Melaksanakan program pertimbangan risiko dan pengurangan risiko bencana di kalangan masyarakat; • Melatih para tukang bangunan untuk membangung rumah yang tahan banjir; • Mengembangkan dan melaksanakan regulasi pembangunan di daerah; • Mengembangkan program kredit bagi warga yang ingin memperkuat rumah-rumah Mereka; • Membantu orang-orang yang ingin pindah dari wilayah yang rawan banjir; • Membantu masyarakat membuat persiapan menghadapi bencana dan membuat rencana evakuasi; dan • Menghidupkan kembali dan memanfaatkan kearifan, pengetahuan, dan praktik-praktik tradisional. Proyek ini harus mendemonstrasikan bahwa akan lebih baik untuk berinvestasi sedikit di depan ketimbang membuang banyak uang nantinya untuk mengatasi berbagai akibat setelah bencana menghantam – menghindari kesengsaraan yang tidak perlu dan membangun suatu budaya yang mementingkan keselamatan.

Rencana ini merumuskan prinsip-prinsip strategis dan juga merinci rencana aksi mitigasi dan adaptasi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Rencana aksi ini bertujuan untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan pusat dan daerah. Akhirnya cara terbaik untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah beralih ke bentuk-bentuk pembangunan yang lebih berkelanjutan – belajar untuk hidup dengan cara-cara yang menghargai dan serasi dengan alam. Perubahan iklim merupakan ancaman yang serius – suatu peringatan untuk menyadarkan kita. Namun, kita juga dapat menggunakan kesempatan ini sebagai momentum baru bagi upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup kita. Di Indonesia kita beruntung memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah dan Indonesia merupakan wilayah yang memiliki keanekargaman hayati yang paling kaya dan paling beragam di dunia. Semua itu sudah sepantasnya kita lestarikan – suatu warisan untuk generasi penerus. Namun, ada juga suatu kepentingan tersendiri yang kuat. Sejauh mana keharusan kita menyelamatkan lingkungan, sedemikian pula kita bergantung pada lingkungan untuk menyelamatkan kita. Dari perspektif ini, mitigasi dan adaptasi mulai bertemu – menanami kembali hutan-hutan kita, misalnya, bukan saja akan meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca, tetapi juga akan melindungi rakyat dari bencana langsung longsor. Menurunkan konsumsi bahan bakar di perkotaan tidak saja akan mengurangi emisi karbon dioksida, tetapi juga akan memperbaiki kesehatan penduduk kota dan meringankan beban rakyat, terutama yang masih anak-anak dan lansia dalam bertahan pada kondisi cuaca yang ekstrem. Perubahan pelaksanaan-pelaksanaan tersebut akan dapat dibenarkan dalam situasi seperti apa pun, tetapi kebutuhan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim menjadikannya sebagai sesuatu yang lebih mendesak. Sekali lagi kita akan memetik banyak manfaat dengan membangun berdasarkan kearifan tradisional. Banyak masyarakat di Indonesia memang sudah selalu hidup serasi dengan alam, dan bahkan seolah menjadi bagian dari alam. Di berbagai wilayah negeri ini rumah-rumah penduduk tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan – tampak merupakan bagian dari hutan tersendiri. Kita juga selayaknya mengingat dengan bijak bahwa mulai dari pedesaan paling terpencil hingga ke perkotaan yang paling modern, kita semua adalah bagian dari alam – dan bahwa semua keunggulan teknologi kita selalu rentan oleh kekuatan alam yang dasyat. Ketika iklim berubah, selayaknya kita pun berubah – dan berubah dengan segera.

 

Adaptasi Tingkah Laku Kelangsungan Hidup Makhluk

Adaptasi Tingkah Laku Kelangsungan Hidup Makhluk

Adaptasi Tingkah Laku Kelangsungan Hidup Makhluk

Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi Tingkah Laku

Adaptasi Tingkah Laku – Dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, hewan harus menyesuaikan diri dengan suasana lingkungan di sekitarnya, disebut adaptasi. Tumbuhan juga mengalami adaptasi, seperti daun jati yang menggugurkan daunnya pada musim kemarau. Untuk lebih mengetahui tentang kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleksi alam, dan perkembangbiakan, mari cermati uraian berikut ini. A. Adaptasi Adaptasi diperlukan makhluk hidup untuk bertahan hidup. Adaptasi terbagi menjadi tiga macam, yaitu adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.

Adaptasi Tingkah Laku

1. Adaptasi Morfologi Adaptasi morfologi adalah penyesuaian bentuk tubuh atau struktur tubuh tertentu dari suatu organisme terhadap lingkungannya. Adaptasi ini terjadi pada hewan dan tumbuhan. a. Adaptasi Morfologi pada Hewan Beberapa contoh adaptasi morfologi pada hewan adalah bentuk paruh dan kaki pada burung, tipe mulut serangga, dan bentuk gigi hewan.

Adaptasi Tingkah Laku

1) Bentuk paruh dan kaki burung Pernahkah kamu memperhatikan paruh burung yang berbeda-beda? Paruh burung beo berbeda dengan paruh burung elang. Paruh burung berbeda-beda sesuai dengan makanannya. Begitu juga dengan bentuk kaki burung, berbeda-beda sesuai dengan tempat hidup dan cara hidupnya.

Adaptasi Tingkah Laku – Burung elang memiliki kaki yang kuat untuk mencengkeram mangsanya dan memiliki paruh yang kuat untuk merobek mangsanya. Sedangkan, burung pencari makan di air memiliki paruh yang pipih dan panjang, serta memiliki kaki yang dilengkapi dengan selaput untuk berenang, contohnya adalah itik. Burung pelatuk yang memakan serangga di lubanglubang pohon memiliki paruh seperti pahat. Sedangkan, burung kolibri yang menghisap madu bunga memiliki paruh yang kecil dan panjang.

Adaptasi Tingkah Laku

2) Tipe mulut serangga Pada serangga terdapat beberapa tipe mulut. Perbedaan ini disebabkan perbedaan jenis makanannya. a) Tipe mulut untuk menggigit dan mengunyah, contohnya belalang. b) Tipe mulut untuk menusuk dan menghisap, contohnya nyamuk. c) Tipe mulut untuk menghisap, contohnya kupu-kupu. 3) Bentuk gigi hewan Bentuk gigi hewan bermacam-macam, tergantung jenis makanannya. Hewan pemakan tumbuhan atau herbivora memiliki gigi geraham depan dan belakang yang lebar dan datar. Gigi ini sangat sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah atau menggilas makanan. Hewan pemakan daging atau karnivora memiliki gigi taring yang tajam dan runcing untuk mengoyak mangsanya.

b. Adaptasi Morfologi pada Tumbuhan Adaptasi pada tumbuhan dapat menyebabkan perbedaan yang sangat nyata pada tumbuhan. Berdasarkan morfologi tubuhnya, tumbuhan dibagi menjadi beberapa macam, antara lain tumbuhan hidrofit, higrofit, dan xerofit.

1) Tumbuhan hidrofit Tumbuhan hidrofit adalah tumbuhan yang hidup di air dalam waktu yang lama. Tumbuhan ini mengapung di permukaan air, berdaun lebar dan tipis, memiliki lapisan kutikula yang tipis dan mudah ditembus air. Contohnya adalah teratai dan eceng gondok.

2) Tumbuhan higrofit Tumbuhan higrofit adalah tumbuhan yang hidup di lingkungan yang basah. Contohnya adalah keladi. Tumbuhan ini memiliki ciri daun yang lebar untuk mempercepat penguapan. 3) Tumbuhan xerofit Tumbuhan xerofit adalah tumbuhan yang hidup di daerah yang sedikit air, seperti gurun pasir. Contohnya adalah kaktus. Ciri-ciri tumbuhan ini adalah berdaun tebal dan berduri untuk mengurangi penguapan. Tumbuhan xerofit memiliki jaringan penyimpan air di dalam batangnya yang tebal dan dilapisi oleh lapisan lilin.

2. Adaptasi Fisiologi Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian fungsi kerja alat-alat tubuh suatu organisme terhadap lingkungannya. Contohnya, orang yang berada di dataran tinggi biasanya memiliki jumlah sel darah merah yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tinggal di dataran rendah. Contoh lainnya adalah di dalam saluran pencernaan hewan memamah biak, seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba terdapat mikro-organisme yang menghasilkan enzim selulase. Enzim ini berperan dalam mencerna selulosa yang terdapat pada sel-sel tumbuhan yang dimakannya.

3. Adaptasi Tingkah Laku Adaptasi tingkah laku adalah perubahan perilaku suatu organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Beberapa contoh adaptasi tingkah laku adalah sebagai berikut:

a. Mimikri Mimikri adalah perubahan warna kulit hewan sesuai lingkungan tempat ia tinggal, contohnya bunglon. Apabila bunglon tinggal di daun yang hijau, tubuhnya akan berwarna hijau seperti daun. Sebaliknya, jika lingkungan tempat tinggalnya di batang pohon, warna tubuhnya akan seperti warna batang pohon. Hal ini menyebabkan bunglon terhindar dari pemangsanya. Serangga juga memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Misalnya, kupu-kupu yang menyerupai daun kering, ada juga serangga yang menyerupai daun yang hijau atau memiliki bentuk tubuh seperti ranting.

b. Autotomi Pernahkah kamu melihat cecak melepaskan ekornya saat dikejar musuhnya? Ekornya yang lepas akan bergerakgerak sehingga perhatian pemangsa beralih ke ekor tersebut dan cecak dapat menghindar atau menyelamatkan diri dari pemangsanya. Hal ini disebut autotomi. Autotomi adalah pemutusan ekor pada hewan untuk menjaga dirinya dari serangan musuh.

c. Munculnya Paus ke Permukaan Air Paus merupakan hewan mamalia yang hidup di air. Mereka bernapas dengan paru-paru. Untuk menghirup udara yang mengandung oksigen, hewan tersebut muncul ke permukaan air. Setelah menghirup udara, hewan tersebut menyelam kembali ke dalam air. Kemudian, muncul kembali dan menghembuskan udara yang jenuh dengan uap air dari paru-paru melalui lubang hidung yang terdapat di bagian atas tubuh hewan tersebut.

d. Pengeluaran Cairan Tinta Cumi-cumi dan gurita akan menyemprotkan tintanya dan berenang menjauh jika dalam keadaan bahaya. Hal ini dilakukan untuk mengecoh lawan sehingga lawan tidak bisa mengetahui keberadaannya karena lingkungan sekitarnya menjadi gelap.

e. Perilaku Reproduksi Dalam perilaku reproduksi, biasanya seekor hewan jantan bertarung dengan jantan lain. Hal ini terjadi agar dapat menguasai si betina dan dapat melakukan perkawinan untuk berkembang biak. Ada pula jantan yang menunjukkan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya untuk menarik perhatian si betina. Contohnya, burung merak jantan akan mengembangkan bulu ekornya untuk menarik perhatian betina saat musim kawin.

B. Seleksi Alam

Bencana alam atau perubahan iklim yang drastis menyebabkan alam berubah. Agar dapat terus hidup, makhluk hidup harus bisa beradaptasi dengan perubahan alam tersebut. Makhluk hidup yang tidak bisa beradaptasi akan punah. Oleh karena itu, secara tidak langsung alam menyeleksi organisme yang hidup di dalamnya. Apabila terjadi suatu bencana pada ekosistem, organisme ekosistem tersebut memiliki dua pilihan, yaitu bertahan hidup atau bermigrasi. Bila bertahan hidup, organisme tersebut harus dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ada juga organisme yang lebih memilih untuk bermigrasi ke lingkungan yang lebih cocok. Di lingkungan yang baru ini, hanya organisme yang dapat beradaptasi yang dapat hidup dan melestarikan keturunannya. Keturunan yang baru di tempat yang baru, lama kelamaan akan mengalami perubahan dan pada akhirnya akan terbentuk spesies yang baru.

1. Terbentuknya Spesies Baru Organisme yang mampu bertahan hidup di tempat yang baru akan berkembang biak dan menghasilkan keturunan yang baru. Keturunan yang baru ini langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru tanpa mengenal kebiasaan leluhurnya. Hal ini menyebabkan perubahanperubahan yang mengarah ke evolusi dan menyebabkan terbentuknya spesies baru. Perubahan yang bisa menyebabkan terbentuknya spesies baru bisa dilihat pada burung Finch di pulau Galapagos yang diteliti oleh Charles Darwin. Nenek moyang burung Finch ini diduga berasal dari Ekuador yang memakan biji-bijian. Tetapi, burung Finch di pulau Galapagos memiliki paruh yang bentuk dan ukurannya berbeda-beda tergantung pada jenis makanannya. Burung Finch pemakan biji-bijian memiliki paruh berbentuk tebal dan kuat. Burung Finch penghisap madu memiliki bentuk paruh lurus dan panjang. Sedangkan, burung Finch pemakan serangga memiliki bentuk paruh yang seperti burung pemakan serangga.

Perbedaan paruh burung Finch ini membuat Darwin menduga bahwa penyebabnya adalah terbatasnya biji-bijian di lingkungan yang baru. Akibatnya, keturunan yang baru beradaptasi dengan mengubah menu makanannya. Lama kelamaan hal ini menyebabkan perubahan bentuk paruh pada burung Finch. Perubahan ini menyebabkan generasi yang baru memiliki bentuk paruh yang sangat berbeda dengan leluhurnya dan mengarah ke bentuk spesies yang baru.

2. Kepunahan Organisme Organisme yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya akan mengalami kepunahan. Punahnya organisme ini bisa terjadi karena alam dan ulah manusia. Contoh musnahnya organisme karena alam adalah punahnya Dinosaurus yang disebabkan oleh perubahan iklim yang sangat drastis di muka bumi saat itu. Para ahli menduga, saat itu ada meteor raksasa yang jatuh ke bumi yang membuat bumi dipenuhi gas, debu, dan pecahan batu. Hal ini menyebabkan bumi menjadi sangat panas sehingga tumbuhan menjadi kering. Akibatnya, Dinosaurus herbivora tidak memperoleh makanan, dan akhirnya mati. Hal ini menyebabkan Dinosaurus karnivora juga mati sehingga semua Dinosaurus musnah. Musnahnya organisme juga dapat disebabkan oleh ulah manusia yang melakukan perburuan liar, penebangan pohon, dan pembakaran hutan. Hal ini menyebabkan organisme kehilangan tempat tinggal dan akhirnya punah.