Ciri-Ciri Morfologi Kingdom Animalia

Ciri-Ciri Morfologi Kingdom Animalia

Ciri-Ciri Morfologi Kingdom Animalia

Apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata hewan atau animalia? Mungkin ada yang membayangkan harimau, gajah, semut, lalat, nyamuk atau hewan lain. Dibanding dengan kelompok-kelompok makhluk hidup yang kita bahas sebelumnya, kelompok ini lebih mudah kita ingat karena ukurannya yang jauh lebih besar sehingga dapat kita lihat tanpa bantuan mikroskop. Namun, apakah benar bahwa semua kelompok hewan dapat kita lihat tanpa bantuan mikroskop? Pertanyaan tersebut akan terjawab setelah kita membahas bab ini. Di samping itu, yang lebih penting pada bab ini kita akan membahas kriteria suatu makhluk hidup dikelompokkan dalam kelompok hewan, dan mengidentifikasi ciri-ciri morfologi filum anggota Kingdom Animalia, bagaimana membedakan ciri-ciri setiap filum dalam kingdom ini beserta contoh-contoh dari tiap filum dan peranannya bagi manusia.

Ciri-Ciri Morfologi Kingdom Animalia
Ciri-Ciri Morfologi Kingdom Animalia

Ciri-Ciri Morfologi Kingdom Animalia

Berbeda dengan organisme autotrof yang mampu mengubah molekul anorganik menjadi molekul organik, hewan heterotrof harus memasukkan molekul organik yang telah terbentuk. Hal tersebut karena hewan heterotrof tak dapat mengubah molekul anorganik menjadi organik. Ciri lain dari hewan adalah tidak memiliki dinding sel yang menyokong tubuh dengan kuat seperti yang dimiliki tumbuhan. Keunikan lain dari hewan adalah adanya dua jenis jaringan yang bertanggung jawab atas penghantaran impuls dan pergerakan, yaitu jaringan saraf dan jaringan otot. Di samping itu, sebagian besar hewan bereproduksi secara seksual. Kingdom Animalia memiliki anggota yang begitu banyak macamnya, mempunyai bentuk tubuh dan alat-alat tubuh yang bervariasi. Variasi bentuk tubuh dapat dikategorikan dengan melihat bentuk simetri tubuhnya. Berdasarkan simetri tubuhnya, ada yang berbentuk simetri radial, ada pula yang berbentuk simetri bilateral. Hewan dengan simetri radial artinya mempunyai bagian tubuh yang tersusun melingkar . Jika tubuhnya dipotong melalui mulutnya, akan dihasilkan potongan-potongan tubuh dengan bentuk yang sama. Hewan dengan simetri radial ini hanya mempunyai bagian puncak yang disebut sisi oral dan bagian dasar yang disebut sisi aboral. Hewan yang termasuk dalam kelompok ini meliputi Porifera, Coelenterata, dan Echinodermata. Hewan dengan simetri radial ini, sering disebut juga radiata. Hewan dengan simetri bilateral artinya bagian tubuhnya tersusun bersebelahan dengan bagian lainnya. Dengan demikian, jika hewan tersebut dipotong melalui mulut dan anusnya, kita akan mendapatkan bagian yang sama antara sisi kiri dan sisi kanan.

Hewan bersimetri bilateral ini mempunyai sisi atas (dorsal) dan sisi bawah (ventral), sisi kepala atau sisi depan yang disebut anterior dan sisi ekor atau sisi belakang yang disebut posterior. Berdasarkan lapisan tubuh yang menyusunnya, hewan dikelompokkan dalam hewan diploblastik, yaitu hewan yang dibangun oleh dua lapisan lembaga, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (gastrodermis), dan hewan triploblastik. Hewan triploblastik mempunyai 3 lapisan lembaga, yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm. Beberapa hewan triploblastik ada yang mempunyai rongga tubuh, tetapi ada juga yang belum mempunyai rongga tubuh. Berdasarkan ada tidaknya rongga tubuh, hewan triploblastik dapat dibedakan menjadi Aselomata, yaitu hewan yang belum mempunyai rongga tubuh, artinya tubuhnya padat tanpa rongga antara usus dan tubuh terluar. Pada hewan semacam ini mesoderm membentuk struktur yang kompak sehingga selom (rongga tubuh) tidak terbentuk. Contoh Aselomata, yaitu Platyhelminthes atau cacing pipih. Kelompok berikutnya adalah Pseudoselomata. Hewan semacam ini mempunyai rongga tubuh semu, mesodermnya belum membentuk rongga yang sesungguhnya karena mesodermnya belum terbagi menjadi lapisan dalam dan lapisan luar. Rongga yang terbentuk berisi cairan yang memisahkan alat pencernaan dengan dinding tubuh bagian luar. Hewan yang termasuk Pseudoselomata adalah Rotifera dan Nemathelminthes (cacing gilig). Hewan triploblastik lainnya adalah yang sudah mempunyai rongga tubuh yaitu Selomata. Pada hewan semacam ini, mesoderm dipisahkan oleh rongga tubuh yang terbentuk menjadi dua lapisan, yaitu lapisan dalam dan lapisan luar. Kedua lapisan tersebut mengelilingi rongga dan menghubungkan antara dorsal dan ventral membentuk mesenterium. Mesentrium berfungsi sebagai penggantung organ dalam. Hewan Selomata meliputi Annelida sampai Chordata. Untuk lebih memahami penjelasan tentang lapisan-lapisan tubuh dan pembentukan rongga tubuh pada invertebrata.

Selanjutnya akan dibahas semua Fila dalam Kingdom Animalia mulai dari filum yang paling sederhana, seperti porifera sampai filum yang paling kompleks susunan tubuhnya, yaitu Chordata.

1. Porifera Porifera berasal dari kata phorus yang berarti lubang kecil atau pori, dan ferre yang berarti mempunyai. Jadi, Porifera dapat diartikan sebagai hewan yang mempunyai pori. Porifera mempunyai sistem kanal atau saluran air untuk mensirkulasikan air dalam tubuhnya. Porifera atau disebut juga hewan spons hampir semua hidup di laut, kecuali satu famili yang hidup di air tawar. Hewan ini merupakan hewan multiseluler atau bersel banyak dan masih primitif yang pada dasarnya adalah diploblastik.

Apa manfaat hewan ini? Hewan-hewan Porifera yang mempunyai rangka berupa spongin, dapat dikumpulkan dan digunakan untuk spons mandi, sedangkan yang lainnya belum diketahui manfaatnya secara ekonomi, tetapi dalam ekosistem tentu mempunyai peran tertentu. Bentuk tubuh Porifera cukup bervariasi, ada yang berbentuk seperti jambangan, piala, terompet, dan ada juga yang bercabang-cabang seperti tumbuhan. Pada bagian tengah tubuhnya terdapat ruangan yang disebut spongosel (paragaster) yang merupakan saluran air. Di bagian ujung atas tubuhnya terdapat lubang besar yang disebut oskulum. Untuk jelasnya kita pelajari Gambar 8.2. Lapisan terdalam tubuh Porifera dibangun oleh sel-sel leher (koanosit) yang mempunyai flagela. Sel-sel leher ini berfungsi untuk mencerna makanan. Porifera mempunyai suatu sistem sirkulasi air dengan tipe tertentu. Ada tiga tipe sistem saluran air, yaitu tipe ascon, sycon, dan leucon.

Reproduksi pada Porifera dapat berlangsung secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara pembentukan tunas atau kuncup. Kuncup yang terbentuk dapat langsung dilepaskan, tetapi dapat pula tetap melekat membentuk suatu kelompok besar. Reproduksi aseksual lain dapat terjadi jika kondisi lingkungan kurang menguntungkan, misalnya dalam kondisi kekeringan atau dingin. Dalam kondisi tersebut, porifera dapat membentuk gemmulae atau butir benih. Jika Porifera mati, gemmulae ini akan keluar dan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi seksual terjadi dengan cara penyatuan sperma dan ovum. Pada Porifera, ovum dan sperma diproduksi oleh induk yang sama (hermaprodit). Sel telur tidak dibuahi oleh sperma dari induk yang sama, tetapi dibuahi oleh sperma dari induk yang berbeda. Pengelompokan atau klasifikasi Porifera dilakukan berdasarkan zat penyusun rangkanya. Porifera dapat dibagi menjadi 3 kelas, yaitu:

a. Calcarea, yaitu Porifera yang spikulanya dibangun dari zat kapur. Contoh dari kelas ini adalah Leucosolenia, Grantia, dan Scypha gelatinosa. b. Hexactinellida, yaitu Porifera yang spikulanya dibangun dari zat kersik atau silikat. Contohnya adalah Euplectella. c. Demospongiae, yaitu Porifera yang spikulanya dibangun oleh zat kersik dan protein (spongin), atau spongin saja. Jika kamu pergi ke pantai, jenisjenis dari kelompok inilah yang paling banyak ditemukan. Contohnya adalah Tethya sp, Xestospongea exigua, dan Ircicimia campanan.

Kegiatan yang harus di kerjakan !

Membuktikan Adanya Pori-Pori & Sistem Saluran pada Porifera Bagaimana jika kamu ingin membuktikan adanya pori-pori dan sistem saluran pada Porifera? Jika kamu berkarya wisata ke pantai, coba carilah hewan Porifera yang masih hidup! Kemudian, Porifera tersebut diletakkan pada gelas piala berisi air laut. Selanjutnya, di sekitar tubuh hewan tersebut ditetesi dengan cairan zat warna, misalnya eosin. Perhatikan arah aliran air yang masuk dan keluar dari tubuhnya! Mengapa bisa terjadi aliran air tersebut? Diskusikan dengan guru dan temanmu apa yang memungkinkan hal tersebut terjadi, berdasarkan keterangan yang telah diberikan dalam subbab ini!

2. Coelenterata Coelenterata berasal dari kata coelon yang berarti rongga dan enteron yang berarti usus. Jadi, Coelenterata berarti hewan berongga. Kelompok hewan ini merupakan contoh hewan diploblastik. Hewan ini kebanyakan hidup di air laut, kecuali beberapa Hydrozoa hidup di air tawar. Coelenterata dapat hidup soliter maupun berkoloni. Bentuk koloni yang mudah diamati adalah Medusa yang hidup di laut. Dalam bahasa Indonesia medusa dikenal dengan nama ubur-ubur. Di Jepang, ubur-ubur dimanfaatkan untuk bahan makanan dan bahan kosmetik. Oleh karena itu, di beberapa daerah di Indonesia terdapat pengolahan ubur-ubur yang dijadikan tepung untuk diekspor. Jenis-jenis dari kelas Anthozoa membentuk rumah dari kapur sehingga terbentuklah karang laut yang indah. Karang tersebut dapat membentuk karang pantai, karang penghalang, dan atol.

 

Pembahasan Klasifikasi Tumbuhan

Pembahasan Klasifikasi Tumbuhan

Klasifikasi Tumbuhan

Klasifikasi Tumbuhan
Klasifikasi Tumbuhan

 

lanjutan dari [2]

Klasifikasi tumbuhan – Dunia tumbuhan dikelompokkan menjadi Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta dan Spermatophyta. Berikut akan dijelaskan masingmasing kelompok tumbuhan tersebut dari yang paling rendah tingkatannya (Thallophyta) sampai dengan tumbuhan yang paling tinggi tingkatannya (Spermatophyta). Dilihat dari ciri-ciri karakteristik morfologi, dunia tumbuhan dikelompokkan sebagai berikut :

a. Thallophyta

Thallophyta merupakan tumbuhan yang paling sederhana tingkatannya dibandingkan dengan kelompok tumbuhan yang lain. Thallophyta adalah tumbuhan bertalus, artinya tumbuhan tersebut belum memiliki organ tubuh yang jelas, seperti akar, batang, dan daun. Untuk melestarikan kehidupannya, tumbuhan ini mempunyai tubuh yang sederhana tetapi memiliki fungsi yang sama dengan organ tubuh tanaman pada umumnya.

b. Fungi (jamur)

Berdasarkan struktur tubuhnya, jamur digolongkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta), tetapi jika dilihat dari ada tidaknya klorofil maka jamur dikelompokkan tersendiri, tidak dijadikan satu kelompok dengan tumbuhan yang lain. Jamur tidak mempunyai klorofil maka tidak dapat mensintesa sendiri makanan yang diperlukan. Mereka mengambil dari sisa-sisa organisme dan mencernanya dengan cara enzimatis. Karena suhu dan kelembaban yang tinggi maka di Indonesia ditemukan banyak sekali jamur dari berbagai jenis.

Jamur dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu :

1) Oomycotina (contoh: Pithium sp, Phytophora sp),

2) Zygomycotina (contoh Rhizopus oryzae, Rhizopus nigricans),

3) Ascomycotina (contoh: Saccharomyces crevice, Penicillium notatum),

4) Basidiomycotina (contoh: Volvariella volvacea, Puccinia graminis),

5) Deuteromycotina (contoh Chladosporium sp, Curvularia sp).

c. Lumut kerak (Lichenes)

Lumut kerak merupakan simbiosis antara alga hijau (Cyanophyta) dengan jamur dari kelompok Ascomycotina atau Basidiomycotina. Di Indonesia lumut kerak tersebar luas lebih dari 1.000 jenis yang diketahui dari sekitar 2.500 jenis yang ada. Biasanya tanaman simbiosis ini hidup menempel pada kulit batang tanaman, dan dapat hidup di tempat lembap, karena alga memerlukan air untuk fotosintesis.

 

d. Tumbuhan lumut (Bryophyta)

Tumbuhan lumut susunan tubuhnya lebih kompleks dibanding dengan Thallophyta. Dalam daur hidupnya terdapat pergantian keturunan (metagenesis) antara turunan vegetatif dengan turunan generatif. Gametofit lebih menonjol dibanding sporofit. Gametofit merupakan turunan vegetatif yang melekat pada substrat dengan menggunakan rizoid. Sporofit merupakan turunan vegetatif berupa badan penghasil spora (sporangium). Sporofit itu tumbuh pada gametosit bersifat parasit. Habitatnya di daratan yang lembab, ada pula yang hidup sebagai epifit. Tubuhnya tidak memiliki berkas pembuluh (vaskular seperti pembuluh xilem dan floem). Berdasarkan struktur tubuhnya dibedakan atas lumut hati (Hepaticae) dan lumut daun (Musci).

e. Tumbuhan paku-pakuan (Pteridophyta)

Tumbuhan paku-pakuan sudah memiliki akar, batang dan daun, sehingga tingkatannya lebih tinggi dibanding tumbuhan lumut. Pada batang sudah terdapat jaringan pengangkut xilem dan floem yang teratur. Seperti halnya lumut, tanaman ini dalam reproduksinya mengalami metagenesis, turunan gametofit dan sporofitnya bergantian. Sporofit yang bersifat autotrop merupakan tumbuhan yang sempurna, sehingga mempunyai usia yang relatif panjang dibandingkan dengan gametofitnya. Generasi gametofitnya berupa protalium, merupakan tumbuhan yang tidak sempurna walaupun bersifat autotrop. Oleh karena itu, usianya relatif pendek. Ciri morfologis yang tampak adalah ujung daun yang masih muda terlihat menggulung. Embrionya berkutub dua (bipolar), sedangkan tumbuhan dewasanya berkutub satu (monopolar).

Tumbuhan paku-pakuan dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan yang lembap dan ada beberapa jenis paku-pakuan yang dapat hidup di dalam air.

f. Spermatophyta

Dilihat dari struktur tubuhnya, anggota Spermatophyta merupakan tumbuhan tingkat tinggi. Organ tubuhnya lengkap dan sempurna, sudah terlihat adanya perbedaan antara akar, batang dan daun yang jelas atau sering disebut dengan tumbuhan berkormus (Kormophyta). Sporofit merupakan tanaman yang utama, sedangkan gametofitnya merupakan bagian tanaman yang nantinya akan mereduksi. Tumbuhan yang menjadi anggota Spermatophyta menggunakan biji sebagai alat reproduksi, melalui fertilisasi antara spermatozoid yang dibentuk dalam kepala sari dengan ovum dalam kandung lembaga. Hasil fertilisasi akan disimpan dalam biji yang dilindungi oleh kulit biji dan akan disuplai nutrisi dari endosperm (cadangan makanan).

Berdasarkan kondisi bijinya, Spermatophyta digolongkan menjadi tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae)

1) Gymnospermae

Ciri morfologi tumbuhan ini adalah berakar tunggang, daun sempit, tebal dan kaku, biji terdapat dalam daun buah (makrosporofil) dan serbuk sari terdapat dalam bagian yang lain (mikrosporofil), daun buah penghasil dan badan penghasil serbuk sari terpisah dan masingmasing disebut dengan strobillus.

Ciri-ciri anatominya memiliki akar dan batang yang berkambium, akar mempunyai kaliptra, batang tua dan batang muda tidak mempunyai floeterma atau sarung tepung, yaitu endodermis yang mengandung zat tepung. Pembuahan tunggal dan selang waktu antara penyerbukan dengan pembuahan relatif lama. Berkas pembuluh angkut belum berfungsi secara sempurna berupa trakeid.

Yang termasuk golongan ini adalah Cycas rumphii (pakis haji), Ginko opsida (ginko).

2) Angiospermae

Tanaman angiospermae mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut mempunyai bunga yang sesungguhnya, bentuk daun pipih dan lebar dengan susunan daun yang bervariasi, bakal biji tidak tampak terlindung dalam daun buah atau putik, terjadi pembuahan ganda, pembentukan embrio dan endosperm berlangsung dalam waktu yang hampir bersamaan.

Angiospermae dibedakan menjadi dua kelas berdasarkan keping biji (kotiledon), adalah sebagai berikut :

a) Monokotiledon, yaitu tumbuhan yang mempunyai keping biji tunggal. Contohnya kelapa (Cocos nucifera), melinjo (Gnetum gnemon).

b) Dikotiledon, yaitu tumbuhan yang mempunyai keping biji dua. Contohnya petai (Parkia speciosa), cabe rawit (Capsicum frustescens).

Klasifikasi Tumbuhan
Klasifikasi Tumbuhan

8. Determinasi atau identifikasi

Selain mengadakan klasifikasi, tugas utama taksonomi lainnya yang penting ialah pengenalan atau identifikasi. Melakukan identifikasi tumbuhan berarti mengungkapkan atau menetapkan identifikasi (“jati diri”) suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain adalah menentukan namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi. Untuk istilah identifikasi sering juga digunakan istilah determinasi yang diambil dari bahasa Belanda, yaitu determinatie yang artinya penentuan.

Siapapun yang menghadapi benda yang tidak ia kenal, pertama-tama yang ditanyakan tentulah ” Benda apakah ini ?” Demikian pula setiap orang yang tidak peduli apakah ia seorang pakar ilmu tumbuhan ataukah ia orang awam, menghadapi suatu tumbuhan yang tidak ia kenal, pasti yang pertama-tama ia tanyakan adalah “Tumbuhan apakah ini gerangan?” Itu berarti yang ingin ia ketahui terlebih dahulu adalah identitas tumbuhan itu, yang berarti pula bahwa yang pertamatama dilakukan oleh siapapun yang tidak atau belum mengenal tumbuhan yang ia hadapi adalah berusaha mengenal atau melakukan identifikasi tumbuhan tadi.

Klasifikasi Tumbuhan

Dari tumbuhan dan hewan yang ada di bumi ini, yang beraneka ragam dan besar jumlahnya itu, tentu ada yang telah kita kenal dan ada pula yang belum kita kenal. Yang kita kenal mungkin juga dikenal orang lain tetapi mungkin juga tidak. Sebaliknya pun dapat terjadi, tumbuhan yang tidak kita kenal itu belum dikenal juga oleh siapapun, maka belum dikenal pula oleh dunia ilmu pengetahuan.

Untuk menentukan nama jenis atau kelompok organisme yang diteliti, digunakan cara identifikasi dengan menyamakan ciri-ciri yang ada dengan ciri-ciri yang tercantum dalam kunci determinasi. Kunci determinasi berisi sejumlah keterangan yang digunakan untuk menentukan kelompok atau jenis organisme berdasarkan ciri yang dimilikinya. Untuk menentukan nama kelompok famili, genus, dan spesies dapat dilakukan dengan cara mencocokkan objek tersebut dengan ciri-ciri yang tertulis dalam kunci determinasi tersebut.

Tahapan yang dilakukan dalam menggunakan kunci determinasi untuk menentukan nama suatu kelompok makhluk hidup adalah sebagai berikut :

a. Mengambil objek yang lengkap, jika tumbuhan maka bagian yang diambil harus selengkap mungkin, mulai dari akar, batang, daun, bunga, dan buah serta biji.

b. Mengamati objek, jika perlu gunakan lup untuk memperbesar objek.

c. Mencocokkan hasil pengamatan dengan kunci determinasi yang memuat ciri-ciri objek tersebut.

d. Menentukan nama atau kelompok objek dan menuliskan rumus determinasinya.

Untuk melakukan pencandraan seperti pada urutan kedua di atas, kita memerlukan daftar ciri-ciri yang dipergunakan untuk melakukan pengamatan tersebut, daftar ciri-ciri itu disebut dengan kunci determinasi atau kunci dikotomi. Disebut dikotomi karena daftar tersebut terdiri atas dua pernyataan yang berlawanan.

Untuk membuat kunci dikotomis dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini :

a. Kelompokkan seluruh organisme yang akan diamati.

b. Gunakan ciri-ciri umum yang ada pada organisme tersebut, sehingga akan dihasilkan dua kelompok organisme yang berbeda ciri-ciri umumnya.

c. Gunakanlah ciri-ciri atau struktur yang lebih khusus, sehingga dua kelompok tersebut masing-masing terbagi lagi menjadi dua kelompok yang lebih kecil lagi.

d. Kegiatan pengelompokkan dilanjutkan sampai dihasilkan kelompok yang tidak dapat dibagi-bagi lagi ke dalam kelompok yang lebih kecil, sehingga akan ditemukan nama dari organisme tersebut.

Klasifikasi Tumbuhan

“Contoh kunci dikotomi/determinasi sederhana adalah sebagai berikut.”

1) a. Tumbuhan dengan ciri batangnya termasuk dalam batang tidak sejati atau tidak memiliki alat tubuh yang menyerupai batang … lumut hati

    b. Tumbuhan dengan batang sejati atau memiliki alat tubuh yang menyerupai batang ….2

2) a. Pada batang tidak diketemukan pembuluh … Lumut daun

     b. Pada batang terdapat jaringan pembuluh ….3

3) a. Tumbuhan tidak berbunga ….4

  b. Tumbuhan berbunga atau memiliki organ yang berfungsi seperti bunga …4

4) a. Pada daun terdapat bintik kuning atau coklat, jika ditekan akan keluar serbuk kecil … Tumbuhan paku

     b. Pada daun tidak diketemukan adanya bintik kuning atau coklat ….5

5) a. Tumbuhan tidak dengan bunga sejati, pada ujung ranting atau ketiak daun terdapat badan berbentuk kerucut yang menghasilkan bakal biji … Gymnospermae

   b. Tumbuhan dengan bunga sejati dan tidak mempunyai organ berbentuk kerucut pada ujung atau ketiak daunnya ….6

6) a. Berakar serabut ….7

    b. Berakar tunggang ….8

7) a. Batang berongga … Padi

    b. Batang tidak berongga … Jagung

8) a. Bunga berbentuk kupu-kupu … Kacang

    b. Bunga berbentuk terompet …. Terung

Dari contoh kunci determinasi sederhana di atas maka dapat ditulis kunci determinasi dari masing-masing spesies, misalkan padi adalah 1b-2b-3b-4b-5b-6a-7a, sedangkan kacang memiliki kunci determinasi 1b-2b-3b-4b-5b-6b-8a.

Klasifikasi Tumbuhan