Menemukan Nilai-nilai Cerita Pendek dan nilai moral dalam cerpen

Menemukan Nilai-nilai Cerita Pendek dan nilai moral dalam cerpen

Menemukan Nilai-nilai Cerita Pendek dan nilai moral dalam cerpen

nilai moral dalam cerpen
nilai moral dalam cerpen

Labirin Cahaya Detti Febrina

nilai moral dalam cerpen

nilai moral dalam cerpen Rona-rona lembut menyapa. Merah muda, biru, hijau pupus, kuning yang teduh, ungu lembut. Indah semata membuai mata dan jiwa. Kurasakan jasad ini melayang-layang. Lambat, namun terus beranjak sesenti demi sesenti. Seakan ada energi yang menarik-narik untuk mendekat. Jangan-jangan, aku tak lagi berpijak di bumi. Jangan-jangan. … Tempat apa ini gerangan? Begitu damai dan menenangkan. Lorongnya panjang berkelok-kelok. Cahaya berpendar dari dinding, langit-langit bahkan lantai yang tak tersentuh oleh kaki telanjangku. Menentramkan, bak tersimpan beribu neon di baliknya. Benderang namun tak menyilaukan.

nilai moral dalam cerpen Lalu ketentraman menyergap sekujur pori. Perlahan menyelusup hingga sumsum dan jantung. Bagaimana bisa kujelaskan keindahannya. Sungguh aneh, aku tak merasakan sebersit pun rasa takut di tempat seasing ini. Aku masih bergerak melayanglayang. Tak ada ke siapa pun, maka kucoba bersuara, “Hei!” Entah mengapa yang terdengar hanya desau. Aku coba teriak. “Di mana aku berada?!” Entah mengapa yang tertangkap telinga hanya bisikan. Di sebuah kelok, pendarnya menguat. Masih menentramkan. Dan, hatiku tercekat saat paras indah itu menghadang. Senyumnya begitu menawan. Alhamdulillah, akhirnya, kujumpa makhluk lain di labirin ini. Manusiakah ia, atau bidadari surga? Bidadari itu tersenyum. Binar matanya bagai kejora. Wajahnya begitu putih dan teduh. tercium wangi seribu bunga ketika tangannya merengkuh badan gemetarku. “Siapa kau?” Bibir nan serupa kelopak mawar itu bergerak. Namun tiada terdengar suara. Lalu kurasakan bibirku bergerak mengikuti gerak bibirnya, “A-isyah?” Mataku menghangat. Bulir beningnya mengalir tak tertahankan.“Aisyah radhiallahu anha?” Dia mengangguk. “Aiyah kekasih Baginda Muham-mad? Istri Rasulullah?”Dia mengangguk lagi. Masih tersenyum. Bulir bening dari mataku menetes perlahan saat ia lepaskan rengkuhannya. Lalu tangan kanannya mengembang seperti mempersilakanku melanjutkan perjalanan. Aku kembali beringsut, melayang sesenti demi sesenti tanpa sekejap pun kulepaskan pandang darinya. Bahagia bertalu-talu menyesaki ruang hati. “Ibunda Aisyah…,” suaraku kembali hanya berupa lirih angin. Sampai akhirnya senyum indah itu hilang ditelan kelokan. Pendar cahaya masih membimbingku. Masih menentramkan. Lalu kurasakan lorong warna-warni lembut berakhir di sebuah ruangan yang dari dinding ke dindingnya berjarak ribuan meter. Mungkinkah ini akhir dari labirin penuh cahaya? Aku tiba di hadapan beberapa pintu raksasa yang juga berpendar cahaya. Dan aneh, semua berbisik, “Bukalah… bukalah… bukalah….” Bulir-bulir bening kian deras mengalir. Lalu sebuah pintu terbuka sebelum sempat tersentuh tangan. Lagilagi kekuatan asing menghisapku untuk perlahan mendekat ke tengah pendar cahaya putih yang bergelinyaran dari segala penjuru. Ruang bagai tak berbatas. Semua hanya cahaya. Cahaya-cahaya warna putih yang lembut dan bertumpuk-tumpuk. Belulangku melemas bagai tersiram asam sulfat, ketika pendar-pendar cahaya itu perlahan kian menampakkan bentuk. Melebihi perjumpaan dengan Ibunda Aisyah, kali ini dadaku begitu sesak oleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang bahkan menjalar mengikuti aliran darah dan terus mengalir tanpa henti. Oh, sungguh sempurna keindahan ini. Mas Awan, andai kau di sini. Subhanallah, Mas, di sini indah sekali. Terasa tubuhku bagai dipeluk jutaan bintang. Aku merintih, “Allah, Engkaukah itu, Allah?” Air mataku tak tertahankan. Subhanallah. Maha Suci Allah yang mengizinkanku mendapati perjalanan ini. Dan, semua cahaya yang memenuhi ruang dan waktu bagai berebut memelukku.“Ya, Allah, ampuni aku. Ampuni aku,” rintihku tanpa henti. Segenap khilaf dan kesalahan berkelebatan di pelupuk mataku yang basah. Cahaya-cahaya masih bersiar-siur. Cahaya di atas segala rupa cahaya. “Ampuni seluruh dosaku, Ya Robb.” Kakiku lemas. Aku ingin bersimpuh, namun tak jua kumampu melakukan apapun. Aku hanya terpaku seraya merintih, memohon, menghiba. Lalu, di bawah tahta bercahaya itu, sesosok tegap dan rupawan perlahan menampakkan diri. Sambil mengulurkan tangan, senyumnya menyongsongku. “Kau…,” suaraku nyaris hilang. Wajah rupawan itu bagai membelaiku. Suaranya indah melebihi suara terindah yang pernah kudengar. “Ya, ibundaku sayang.” Aku bergerak ingin meraih tangannya, namun tak terraih. “Aku putramu yang belum sempat kau lahirkan ke dunia.” Tangisku pecah menjadi isakan hebat. Belum habis takjubku, tiba-tiba kekuatan itu kurasakan tak lagi menghisap.

nilai moral dalam cerpen –  Perlahan ia malah mendorongku keluar menuju pintu raksasa. “Ya Allah, jangan tinggalkan aku.” Namun, cahaya itu kurasakan kian jauh. Wajah rupawan itu juga perlahan memudar di balik lapisan-lapisan kabut. “Peluk aku, ya Allah. Jangan tinggalkan aku.” Aku tersedu-sedu saat lorong bercahaya warna merah muda, biru, hijau, kuning lembut menyambutku kembali. Kelokan demi kelokan membawa tangisku bagai gerimis pagi. Aku merasa tercerabut. Masih melayang-layang. Bibirku hanya menyebut Allah dan Allah. Diselimuti kabut, eternit putih serta dua lampu neon di kanan-kiri menyergap pandangan. Samar-samar kulihat gorden hijau, juga tercium bau obat-obatan. Apakah benar itu suara sedu sedan? Kurasakan kemudian genggaman erat di jemariku yang masih lemas. Dan, suara yang kukenal itu. “Alhamdulillah, ” bisiknya. Tanganku perlahan dibimbing ke dadanya. Genggamannya makin erat. Masih samar, kudapati wajah tirus yang begitu kukenal itu, Mas Awan, suamiku. “Semua sudah selesai, sayang. Kuretnya sudah selesai,” bisiknya lagi. Kulihat ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kesedihan. Namun, sungguh kau pemain sandiwara yang buruk, Mas. Segalanya kemudian berkumpul menjadi potonganpotongan peristiwa. Saat tepat tengah malam, saat gumpalan merah segar pertama jatuh di lantai kamar mandi. Lalu gumpalan merah segar yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dan, satu gumpal kecil seukuran jempol kaki kemudian begitu menyita perhatianku. Gumpal kecil yang selanjutnya kuraih dengan tangan bergetar. Ia tampak menonjol, karena berwarna putih di antara gumpalan-gumpalan segar merah darah. Ada sepasang mata berbentuk bintik di kanan dan kiri. Sepasang bakal tangan dan sepasang bakal kaki, serta seutas tali pusar yang juga berwarna putih. “Kamu mengigau menyebut Allah dan surga.” Kurasakan air mataku masih meleleh. “Benarkah?” Berulangkali ia menyeka air di pipiku. Dan berulangkali pula air itu menganak sungai. “Belum saatnya kamu berjumpa surga, Jeng,” katakata Mas Awan kudengar tercekat di tenggorokan. “Ina dan Rayya masih butuh ibunya.” Ina dan Rayya? Aku masih menangis. Namun, kali ini terbayang wajah kedua bidadari kecil itu. Ya, aku memang kehilangan sesuatu yang telah melekat selama tiga bulan dalam rahimku. Tapi kau benar, Mas. Masih ada dua makhluk Allah yang hidup dan sehat yang butuh tanggung jawabku. Masih nanar pandanganku menatap lelaki yang tengah sibuk mengusapi air di sudut matanya itu. Mas Awan, suamiku, kau juga amanahku. Bandar Lampung, Januari 2008. Sumber: Republika, Minggu, 09 Maret 2008

nilai moral dalam cerpen

Latihan 1 1. Bentuklah kelompok diskusi beranggotakan 5 siswa! 2. Diskusikan hal-hal berikut ini! a. Analisislah unsur-unsur cerita pendek, seperti tema, tokoh, watak tokoh, alur, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa dalam cerpen “Labirin Cahaya”! b. Temukan nilai-nilai yang ada dalam cerpen dan kutiplah kalimat cerpen yang mendukung nilai-nilai yang Anda temukan! 3. Bacakan hasil diskusi Anda di depan temanteman Anda!

Menunggu Saat Bintang Jatuh Emi Teja K.D.

nilai moral dalam cerpen – LANGIT indah bertabur temaram bintang malam ini. Sang dewi malam dengan anggun menebar senyumnya yang merekah. Seperti bibir bidadari surga. Lama rasanya aku melupakan atap dunia itu. Aku terlalu sibuk berada di bumi hingga tak sempat menengok langit. Bintang, benda langit itu berkerlap-kerlip seakan menggodaku. Bagai tangan malaikat yang melambai agar aku menghampirinya. Ia mengingatkanku pada mitos bintang jatuh. Kata orang, bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan manusia. Benarkah? Jika iya, aku rela menunggu benda langit itu tertarik gravitasi bumi, meski harus menantinya tiap malam, hanya untuk satu permintaan. Ah, kenapa pula aku jadi seperti bocah. Mana mungkin benda langit yang tak mampu melawan takdir untuk dirinya sendiri tersebut mampu mengabulkan keinginan makhuk lain? Seandainya bintang jatuh mampu mengabulkan keinginan, pasti dia akan meminta sendiri kepada Tuhan agar kontraknya di atap dunia diperpanjang. Buktinya, ia memilih menuruti kehendak alam. Menunggu Saat Bintang Jatuh Emi Teja K.D. Sayang, saat ini, aku yang sedang sentimentil merasa bintang yang menggoda itu seakan seperti pantulan cermin atas diriku sendiri. Awalnya begitu indah, tinggi di awang-awang namun tak terjamah, jauh, dan jika Tuhan menghendakinya jatuh, ia tak mampu melawan. Aku terlahir sebagai bocah desa biasa, anak buruh tani. Kedua orang tuaku tak lulus SD, begitu juga kedua kakak perempuanku. Mereka menikah di usia yang masih sangat belia, menjadi ibu rumah tangga, mengurusi anak, suami, dan dapur. Status yang menurutku benar-benar rendah dan aku tak mau seperti mereka. Adalah Pak Ahmad, kepala desaku yang menjadi kepanjangan tangan Tuhan mengubah seluruh duniaku. Beliau mengangkatku menjadi anak asuhnya sejak aku SD karena terkesan dengan prestasi belajarku saat aku menjadi juara 1 lomba cerdas cermat sekecamatan. Sejak saat itu, beliau menanggung semua biaya pendidikan, termasuk semua keperluanku.

Selengkapnya Penulis adalah pelajar Universitas Brawijaya Sumber:Dikutip dari Jawa Pos, Senin, 02 Juni 2008

Mengungkapkan Nilai-nilai dalam Puisi

Mengungkapkan Nilai-nilai dalam Puisi

Mengungkapkan Nilai-nilai dalam Puisi

nilai dalam Puisi
nilai dalam Puisi

Nilai Dalam Puisi

Nilai Dalam Puisi – Belajar tentang nilai-nilai dalam kehidupan, seperti nilai agama, sosial, dan kemasyarakatan dapat kita lakukan melalui puisi. Mari kita berburu nilai-nilai dalam puisi di bawah ini! Semoga bermanfaat!

Perang Jamilah Tiga suku bangsa Merebut tanah leluhur Bertempur di bumu Sambas Beribu kepala melayang Beribu ibu kehilangan keluarga Beribu rumah terbakar Beribu anak putus sekolah Kami tak punya siapa-siapa Ketakutan ini akan kami ceritakan pada siapa Kami kaum muda Hanya bisa mendengar Tak mampu menghindar (Majalah Horizon, November 2000)

1. Berdiskusilah dalam kelompok kecil untuk membahas hal-hal berikut ini: a) tema puisi, b) nilai-nilai yang Anda temukan pada puisi, c) makna yang terkandung dalam puisi, dan d) pesan yang terkandung dalam puisi itu. Latihan 1 2. Bacalah sebuah puisi lain dan rumuskanlah secara mandiri nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi tersebut, kemudian kemukakanlah hasil kerja Anda itu di depan kelas! Bahaslah hasil diskusi Anda di depan kelas!

Membahas Cerita Pendek

Cerita pendek tak kalah populernya dibanding puisi. Tak sedikit orang gemar membaca karya sastra yang satu ini. Sebenarnya cerita pendek itu apa? Cerita pendek adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu peristiwa atau kejadian. Umumnya, berupa kisahan pendek yang tidak lebih dari 10.000 kata dan memberi kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (satu saat). Cerpen terdiri atas unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik cerpen di antaranya adalah tema, alur (plot), latar atau setting, penokohan, sudut pandang (point of view), dan amanat. Untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik sebuah cerpen, kita harus membacanya secara keseluruhan, bila perlu diulang hingga cerita cerpen tersebut benar-benar dapat kita pahami. Kemudian lihatlah hubungan antarstruktur yang membangun cerita tersebut.

Nilai Dalam Puisi – Nilai-nilai dalam cerpen 1. Nilai budaya berkaitan dengan pemikiran, kebiasaan, dan hasil karya cipta manusia. 2. Nilai sosial berkaitan dengan tata laku hubungan antara sesama manusia. 3. Nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakat.

Nilai sebuah cerita tidak hanya ditentukan oleh keindahan bahasa dan kompleksitas jalinan cerita. Nilai atau sesuatu yang berharga dalam cerpen juga berupa pesan atau amanat. Wujudnya seperti yang dikemukakan di atas, ada yang berkenaan dengan masalah budaya, sosial, atau moral. Untuk menafsirkan nilai-nilai tertentu, kita dapat melakukannya dengan jalan mengajukan sejumlah pertanyaan, misalnya: 1) Mengapa pengarang membuat jalan cerita seperti itu? 2) Mengapa seorang tokoh dimatikan sementara yang lain tidak? Pernafsiran-penafsiran itu akan membawa kepada kesimpulan akan nilai tertentu yang disajikan pengarang.

Nilai Dalam Puisi

Sinar Mata Ibu Oleh Harris Effendi Thahar

Tuhan punya kehendak lain. Tiba-tiba saja Rudi meninggal dalam waktu beberapa menit setelah mobilnya menghantam bus kota sewaktu menuju kantornya di pagi Senin yang naas itu. Agaknya Tuhan juga memperlihatkan kekuasaan-Nya. Rudi yang baru berusia empat puluhan dan paling bungsu dari tujuh bersaudara dipanggil paling awal olehNya. Kami semua terpukul, apalagi ibu. Padahal, seminggu sebelumnya, Rudi telah menyampaikan gagasannya kepada kami untuk memberikan hadiah istimewa di hari ulang tahun ibu yang ke-80 beberapa bulan lagi. Sejak kepergian Rudi, ibu sangat berubah. Pandangan matanya terlihat kosong. Ibu jadi pendiam dan amat perasa. Dan, ibu bisa tidak tidur semalaman jika siangnya tidak ada yang bersedia mengantarnya ke kuburan Rudi di bulan pertama setelah kepergian Rudi. Di bulan pertama itu, kalau hari tidak hujan, acara ziarah ke kubur itu menjadi wajib bagi ibu. Kami, mantu-mantu ibu, secara bergantian mengantar ibu ke pemakaman umum yang terletak di pinggir kota. Selain menangis dan berdoa di kubur Rudi, ibu bercakap-cakap dengan batu nisan. Gerombolan pengemis, petugas kebersihan pemakaman, dan penjual kembang seperti sudah menjadi langganan ibu. Untuk itu, kami selalu membekali ibu uang receh secukupnya. Soalnya ibu, hampir-hampir tidak mengenal lagi nilai mata uang. Ibu akan memberikan uang berapapun jika ada pengemis meminta, tidak peduli lembaran lima puluh ribuan atau seratus ribuan. “Ah, apakah artinya kertas-kertas itu. Lebih baik dikasihkan kepada orang yang lebih membutuhkannya,” jawab ibu ketika istri saya menyoal ibu setelah nekat memberikan uang lima puluh ribuan kepada pengemis buta di gerbang pemakaman. “Banyak yang dapat dilakukan dengan uang sebanyak itu, bisa buat jajan si Oni seminggu. Atau untuk membeli keperluan dapur,” kata istri saya. “Apakah kamu kekurangan uang? Uang pensiunan papamu masih banyak di bank. Sudah lama ibu tidak mengambilnya. Kamu mau, atau kamu perlu? Berapa?” “Bukan begitu, Bu. Ibulah yang mengajari kami dulu supaya hidup jangan boros.” “Kalau untuk akhirat, ibu mau boros. Itu semua bakal diganti Tuhan dengan imbalan yang berlipat ganda di surga. Ibu sekarang mau ke sana,” ujar orang tua itu dengan mata berlinang. Kalau sudah begitu, saya akan menarik istri saya dan memintanya untuk bersabar dan bersikap baik dan santun kepada ibu. Apalagi akhir-akhir ini ibu mulai nyinyir, suka lupa, sekaligus pendiam. “Semua tingkah laku aneh itu harus disikapi dengan kesabaran seorang anak yang berbakti,” saya bilang. Tapi, itu bukan berarti istri saya selalu waspada bila giliran ibu berada di rumah kami. Seperti kejadian seminggu lalu, ibu tiap sebentar mengatakan bahwa pembantu Kak Nurma, kakak istri saya, itu pencuri. Gelang emas peninggalan nenek telah dicuri pembantu itu ketika ibu sedang mandi. “Gelang ibu itu sekarang disimpan Kak Nurma. Soalnya, ibu suka menaruhnya di sembarang tempat. Untung pembantu itu jujur, ia serahkan gelang itu kepada Kak Nurma ketika ia menemukan gelang itu di kamar mandi,” jelas istrinya. “Anak itu memang pencuri. Tarok-lah gelang itu ia tidak berani mengambilnya. Tapi yang lain-lain?” “Apa misalnya?” “Banyak. Hampir tiap hari Yeni memberi ibu apel atau jeruk. Nanti, ketika ibu ingin makan buah itu, hilang. Tanya sama dia, selalu bilang tidak tahu. Siapa lagi kalau bukan dia, orang kampung rakus itu? Coba!” Istri saya tertawa ngakak. “Kok, kamu malah tertawa?” “Habis, setiap Kak Nurma menelepon saya, pasti ada saja yang diceritakannya tentang ibu. Nah, di antaranya buah-buah itu sering diketemukan sudah membusuk di dalam almari pakaian ibu. Kadangkadang, kalau pembantu itu membersihkan kolong tempat tidur ibu, juga sering ditemukan apel busuk, jeruk busuk. Jadi, ibu jangan sembarangan tuduh orang mencuri. Katanya mau beribadah. Itu kan menambah dosa jadinya. Ya, enggak?” Setelah itu, esoknya kami semua dibuat bingung. Ibu tidak ada di rumah. Kami semua mencarinya ke makam, ke panti, ke pasar, dan ke semua tempat yang kira-kira dikunjungi ibu. Hingga akhirnya saya ingat satu tempat. Ketika malam tiba, saya membawa senter dan menuju kamar anak saya yang paling kecil yang memiliki ranjang besar. Saya sorotkan lampu senter ke bawah ranjang. Di sana tampak ibu sedang mengedip-ngedipkan matanya. Lalu, saya ulurkan tangan seperti mau menggendong anak kecil sambil tersenyum. Ibu pun mengulurkan tangannya seperti anak kecil yang ingin digendong sambil tersenyum. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, Waktu Nayla, 2003)

Nilai Dalam Puisi

A. 1. Setelah mendengarkan cerpen “Sinar Mata Ibu” yang dibacakan oleh teman anda, ceritakanlah unsur intrinsik cerpen itu, terutama aspek yang bertalian dengan (a) tema, (b) alur, (c) penokohan, (d) latar, (e) gaya penceritaan, dan (f) amanat. 2. Apakah dari paragraf 1 ke paragraf berikutnya terjadi perpindahan alur? Jelaskan! Latihan 2 Seperti sudah diutarakan pada pembahasan sebelumnya bahwa kita dapat mengambil manfaat atau hikmah dari puisi yang kita baca. Dalam hal ini, tidak terlepas dari makna dan pesan atau amanat pengarang/penyair. Untuk lebih memperkaya wawasan Anda, marilah kita mempelajari uraian berikut ini dengan sungguh-sungguh! ada saja yang diceritakannya tentang ibu. Nah, di antaranya buah-buah itu sering diketemukan sudah membusuk di dalam almari pakaian ibu. Kadangkadang, kalau pembantu itu membersihkan kolong tempat tidur ibu, juga sering ditemukan apel busuk, jeruk busuk. Jadi, ibu jangan sembarangan tuduh orang mencuri. Katanya mau beribadah. Itu kan menambah dosa jadinya. Ya, enggak?” Setelah itu, esoknya kami semua dibuat bingung. Ibu tidak ada di rumah. Kami semua mencarinya ke makam, ke panti, ke pasar, dan ke semua tempat yang kira-kira dikunjungi ibu. Hingga akhirnya saya ingat satu tempat. Ketika malam tiba, saya membawa senter dan menuju kamar anak saya yang paling kecil yang memiliki ranjang besar. Saya sorotkan lampu senter ke bawah ranjang. Di sana tampak ibu sedang mengedip-ngedipkan matanya. Lalu, saya ulurkan tangan seperti mau menggendong anak kecil sambil tersenyum. Ibu pun mengulurkan tangannya seperti anak kecil yang ingin digendong sambil tersenyum. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, Waktu Nayla, 2003) B. 1. Bentuklah kelompok kecil yang beranggotakan 4 orang! Berdiskusilah untuk menemukan dan membahas nilainilai yang terkandung dalam cerpen “Sinar Mata Ibu”! 2. Ungkapkanlah hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerpen tersebut di depan kelas! C. Carilah satu cerpen dari surat kabar atau majalah, kemudian analisislah unsur-unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen!

Nilai Dalam Puisi

Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik dan Contoh Hikayat Melayu

Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik dan Contoh Hikayat Melayu

Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik dan Contoh Hikayat Melayu

Sastra Melayu Klasik – Dalam pelajaran 7C, Anda telah belajar mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra Melayu klasik. Agar lebih lengkap memahami sastra Melayu klasik, Anda perlu membaca kembali dan memahami karya sastra Melayu klasik. Lalu, Anda akan menganalisis nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, diharapkan Anda akan lebih mampu mengambil manfaat dari mengapresiasi sastra Melayu klasik.

Sastra Melayu Klasik
Sastra Melayu Klasik

Menemukan Nilai-Nilai Sastra Melayu Klasik

Sastra Melayu Klasik – Untuk memahami karya sastra Melayu klasik, akan lebih mudah apabila Anda memahami karakteristik dan strukstur unsur intrinsik sastra Melayu klasik. Oleh karena itu, sebaiknya Anda betul-betul memahami pelajaran sebelumnya (7C). Agar lebih tuntas, gunakan kembali karya sastra Melayu klasik pada pelajaran sebelumnya tersebut. Dengan demikian, Anda dapat menganalisis karya sastra Melayu klasik secara tuntas. Bacalah kelanjutan Hikayat Patani berikut.

Sastra Melayu Klasik

Hikayat Patani

Hatta antara berapa tahun lamanya baginda diatas takhta kerajaan itu, maka baginda pun berputera tiga orang, dan yang tua laki-laki bernama Kerub Picai Paina dan yang tengah perempuan bernama Tunku Mahajai dan bungsu laki-laki bernama Mahacai Pailang. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Naqpa pun sakit merkah segala tubuhnya, dan beberapa segala hora dan tabib mengobati tiada juga sembuh. Maka baginda pun memberi titah kepada bendahara suruh memalu canang pada segala daerah negeri: barang siapa bercakap mengobati baginda, jikalau sembuh, raja ambilkan menantu. Arkian maka baginda pun sangat kesakitan duduk tiada ikrar. Maka bendahara pun segera bermohon keluar duduk di balairung menyuruhkan temenggung memalu canang, ikut seperti titah baginda itu. Arkian maka temenggung pun segera bermohon keluar menyuruhkan orangnya memalu canang. Hatta maka canang itu pun dipalu oranglah pada segerap daerah negeri itu, tujuh hari lamanya, maka seorang pun tiada bercakap. Maka orang yang memalu canang itu pun berjalan lalu di luar kampung orang Pasai yang duduk di biara Kampung Pasai itu. Syahdan antara itu ada seorang Pasai bernama Syaikh Sa’id. Setelah didengarnya oleh Syaikh Sa’id seru orang yang memalu canang itu, maka Syaikh Sa’id pun keluar berdiri di pintu kampungnya. Maka orang yang memalu canang itu pun lalulah hampir pintu Syaikh Sa’id itu. Maka kata Syaikh Sa’id: “Apa kerja tuan-tuan memalu canang ini?” Maka kata penghulu canang itu: “Tiadakan tuan hamba tahu akan raja didalam negeri ini sakit merkah segala tubuhnya? Berapa segala hora dan tabib mengobati dia tiada juga mau sembuh; jangankan sembuh, makin sangat pula sakitnya.

Sastra Melayu Klasik – Dari karena itulah maka titah raja menyuruh memalu canang ini, maka barang siapa bercakap mengobati raja itu, jikalau sembuh penyakitnya, diambil raja akan menantu.” Maka kata Syaikh Sa’id: “Kembalilah sembahkan kepada raja, yang jadi menantu raja itu hamba tiada mau, dan jikalau mau raja masuk agama Islam, hambalah cakap mengobat penyakit raja itu.” Setelah didengar oleh penghulu canang itu, maka ia pun segera kembali bersembahkan kepada temenggung seperti kata Syaikh Sa’id itu. Arkian maka temenggung pun dengan segeranya Pergi maklumkan kepada bendahara seperti kata penghulu canang itu. Setelah bendahara menengar kata temenggung itu, maka bendahara pun masuk menghadap baginda menyembahkan seperti kata tememggung itu. Maka titah baginda: “Jikalau demikian, segeralah bendahara suruh panggil orang Pasai itu.” Arkian maka Syaikh Sa’id pun dipanggil oranglah. Hatta maka Syaikh Sa’id pun datanglah menghadap raja. Maka titah raja pada Syaikh Sa’id: “Sungguhkah tuanhamba bercakap mengobati penyakit hamba ini?” Maka sembah Syaikh Sa’id: “Jikalau Tuanku masuk agama Islam, hambalah mengobat penyakit Duli Syah ‘Alam itu.” Maka titah raja: “Jikalau sembuh penyakit hamba ini, barang kata tuanhamba itu hamba turutlah.” Setelah sudah Syaikh Sa’id berjanji dengan raja itu, maka Syaikh Sa’id pun duduklah mengobat raja itu. Ada tujuh hari lamanya, maka raja pun dapatlah keluar dihadap oleh menteri hulubalang sekalian. Arkian maka Syaikh Sa’id pun bermohonlah kepada baginda, lalu kembali ke rumahya. Antara berapa hari lamanya maka penyakit raja itu pun sembohlah. Maka raja pun mungkirlah ia akan janjinya dengan Syaikh Sa’id itu. Hatta ada dua tahun selamanya, maka raja pun sakit pula, seperti dahulu itu juga penyakitnya. Maka Syaikh Sa’id pun disuruh panggil pula oleh raja. Telah Syaikh Sa’id datang, maka titah baginda: “Tuan obatlah penyakit hamba ini. Jikalau sembuh penyakit hamba sekali ini, bahwa barang kata tuanhamba itu tiadalah hamba lalui lagi.”

Sastra Melayu Klasik – Maka kata Syaikh Sa’id: “Sungguh-sungguh janji Tuanku dengan patik, maka patik mau mengobati Duli Tuanku. Jikalau tiada sungguh seperti titah Duli Tuanku ini, tiadalah patik mau mengobat dia”. Setelah didengar raja sembah Syaikh Sa’id itu demikian, maka raja pun berteguh-teguhan janjilah dengan Syaikh Sa’id. Arkian maka Syaikh Sa’id pun duduklah mengobat raja itu. Ada lima hari maka Syaikh Sa’id pun bermohonlah pada raja kembali kerumahnya. Hatta antara tengah bulan lamanya, maka penyakit raja itu pun sembuhlah. Syahdan raja pula mungkir akan janjinya dengan Syaikh Sa’id itu. Hatta antara setahun lamanya maka raja itu pun sakit pula, terlebih dari pada sakit yang dahulu itu, dan duduk pun tiada dapat karar barang seketika. Maka Syaikh Sa’id pun disuruh panggil oleh raja pula. Maka kata Syaikh Sa’id pada hamba raja itu: “Tuanhamba pergilah sembahkan kebawah Duli Raja, tiada hamba mau mengobati raja itu lagi, karena janji raja dengan hamba tiada sungguh.” Hatta maka (hamba)raja itu pun kembalilah, maka segala kata Syaikh Sa’id itu semuanya dipersembahkannya kepada raja. Maka titah raja kepada bentara: “Pergilah engkau panggil orang Pasai itu, engkau katakan padanya jikalau sembuh penyakitku sekali ini, tiadalah kuubahkan janjiku dengan dia itu. Demi berhala yang ku sembah ini, jikalau aku mengubahkan janjiku ini, janganlah sembuh penyakitku ini selama-lamanya.” Arkian maka bentara pun pergilah menjunjungkan segala titah raja itu kepada Syaikh Sa’id. Maka kata Syaikh Sa’id: “Baiklah berhala tuan raja itulah akan syaksinya hamba: jikalau lain kalanya tiadalah hamba mau mengobat raja itu.” Hatta maka Syaikh Sa’id pun pergilah mengadap raja. Setelah Syaikh Sa’id datang, maka titah raja: “Tuan obatilah penyakit hamba sekali ini. Jikalau sembuh penyakit hamba ini, barang yang tuan kata itu bahwa sesungguhnya tiadalah hamba lalui lagi.” Maka kata Syaikh Sa’id: “Baiklah, biarlah patik obat penyakit Duli Tuanku. Jikalau sudah sembuh Duli Tuanku tiada masuk agama Islam sekali ini juga, jika datang penyakit Tuanku kemudian harinya, jika Duli Tuanku bunuh patik sekalipun, ridhalah patik; akan mengobat penyakit Tuanku itu, patik mohonlah.” Maka titah raja: “Baiklah, mana kata tuan itu, hamba turutlah.” Setelah itu maka raja pun diobat pula oleh Syaikh Sa’id itu. Hatta antara tiga hari lamanya maka Syaikh Sa’id pun bermohon pada raja, kembali kerumahnya.

Hatta antara dua puluh hari lamanya maka penyakit raja itu pun sembuhlah. Sebermula ada sebulan selangnya, maka pada suatu hari raja semayam di balairung diadap oleh segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka titah baginda: “Hai segala menteri hulubalangku, apa bicara kamu sekalian, karena aku hendak mengikut agama Islam?” Maka sembah sekalian mereka itu: “Daulat Tuanku, mana titah patik sekalian junjung, karena patik sekalian ini hamba pada kebawah Duli Yang Mahamulia.” Hatta setelah raja mendengar sembah segala menteri hulubalangnya itu, maka baginda pun terlalulah sukacita, lalu berangkat masuk ke istana. Setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun menitahkan bentara kanan pergi memanggil Syaikh Sa’id, serta bertitah pada bendahara suruh menghimpunkan segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka baginda pun semayam di balairung diadap oleh rakyat sekalian. Pada tatkala itu Syaikh Sa’id pun datanglah menghadap raja diiringkan oleh bentara. Setelah Syaikh Sa’id itu datang maka raja pun sangatlah memuliakan Syaikh Sa’id itu. Maka titah baginda: “Adapun hamba memanggil tuanhamba ini, karena janji hamba dengan tuanhamba ini hendak masuk agama Islam itulah.” Setelah Syaikh Sa’id mendengar titah raja demikian itu, maka Syaikh Sa’id pun segera mengucup tangan raja itu, lalu dijunjungnya. Sudah itu maka diajarkanlah kalimat syahadat oleh syaikh, demikian bunyinya: “Asyhadu an la ilâha illa l-Lâh wa asyhadu anna Muhammadan rasulu lLâh.” Maka raja pun kararlah membawa agama Islam.

Sastra Melayu Klasik – Setelah sudah raja mengucap kalimat syahadat itu, maka Syaikh Sa’id pun mengajarkan kalimat syahadat kepada segala menteri hulubalang dan rakyat yang ada hadir itu pula. Telah selesailah Syaikh Sa’id dari pada mengajarkan kalimat syahadat pada segala mereka itu, maka sembah Syaikh Sa’id: “Ya Tuanku Syah ‘Alam, baiklah Tuanku bernama mengikut nama Islam, karena Tuanku sudah membawa agama Islam, supaya bertambah berkat Duli Tuanku beroleh syafa’at dari Muhammad rasul Allah, salla lLâhu alaihi wa sallama diakirat jemah.” Maka titah baginda: “Jikalau demikian, tuanhambalah memberi nama akan hamba.” Arkian maka raja itu pun diberi nama oleh Syaikh Sa’id, Sultan Isma’il Syah Zillullâh Fi l’Alam. Setelah sudah Syaikh Sa’id memberi nama akan raja itu, maka titah baginda: “Anak hamba ketiga itu baiklah tuanhamba beri nama sekali, supaya sempurnalah hamba membawa agama Islam.” Maka kembali Syaikh Sa’id: “Barang bertambah kiranya daulat sa’adat Duli Yang Mahamulia, hingga datang kepada kesudahan zaman paduka anakanda dan cucunda Duli Yang Mahamulia karar sentosa diatas takhta kerajaan di negeri Patani Dasussalam.” Arkian maka Syaikh Sa’id pun memberi nama akan paduka anakanda baginda yang tua itu Sultan Mudhaffar Syah dan yang tengah perempuan itu dinamainya Sitti ‘A’isyah dan yang bungsu laki-laki dinamainya Sultan Manzur Syah. Setelah sudah Syaikh Sa’id memberi nama akan anakanda baginda itu, maka baginda pun mengaruniai akan Syaikh Sa’id itu terlalu banyak dari pada emas perak dan kain yang indah-indah. Hatta maka Syaikh Sa’id pun [pun] bermohonlah pada raja, lalu kembali ke rumahnya di biara Kampung Pasai. Syahdan pada zaman itu segala rakyat yang di dalam negeri juga yang membawa agama Islam, dan segala rakyat yang diluar daerah negeri seorang pun tiada masuk Islam. Adapun raja itu sungguhpun ia membawa agama Islam, yang menyembah berhala dan makan babi itu juga yang ditinggalkan; lain dari pada itu segala pekerjaan kafir itu suatu pun tiada diubahnya.

Sumber: Hikayat Seribu Satu Malam

Setelah membaca karya sastra Melayu klasik tersebut, Anda dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Anda dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat tersebut dengan mempertimbangkan karakteristik dan unsur-unsur intrinsik yang telah Anda identifikasi sebelumnya. Nilai-nilai yang dapat Anda temukan dalam karya sastra Melayu klasik dapat berupa nilai budaya, moral, dan agama. Nilai budaya yang dapat kita temukan dari karya sastra Melayu klasik pasti berhubungan dengan budaya Melayu. Begitu juga nilai moral pasti dipengaruhi adat yang berlaku di suku Melayu. Adapun nilai agama akan dipengaruhi agama Islam yang dianut sebagian besar bangsa Melayu. Nilai-nilai tersebut dapat Anda temukan apabila Anda membaca dan memahami karya sastra Melayu klasik tersebut.