Nilai Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi

Nilai Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi

Nilai Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi

Nilai Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi
Nilai Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi

Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya, nilai merupakan taksiran atau ukuran terhadap sesuatu hal yang dianggap baik atau buruk bagi kehidupan. Adapun nilai sosial adalah penghargaan yang diberikan masyarakat kepada segala sesuatu yang terbukti mempunyai daya guna fungsional bagi kehidupan bersama. Keberadaan nilai sosial memiliki fungsi yang sangat berperan dalam proses sosialisasi. Fungsi-fungsi tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Alat motivasi untuk memberi semangat pada manusia agar mewujudkan dirinya dalam perilaku sosial. 2. Sarana untuk menetapkan harga sosial. Nilai-nilai sosial digunakan untuk mengukur penghargaan sosial yang patut diberikan kepada seseorang atau golongan. 3. Petunjuk arah atau cara berpikir dan bertindak warga masyarakat secara umum diarahkan oleh nilai-nilai sosial yang berlaku. 4. Alat solidaritas yang berfungsi mendorong masyarakat untuk saling bekerja sama untuk mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai sendiri. 5. Kontrol sosial terhadap nilai-nilai yang dapat menjadi acuan bagi setiap tindakan individu, serta interaksi antaranggota masyarakat. 6. Sebagai benteng perlindungan, karena nilai sosial merupakan tempat perlindungan yang kuat dan aman terhadap ancaman dari luar sehingga masyarakat akan senantiasa menjaga dan mempertahan kan nilai sosialnya.

Norma merupakan wujud konkret dari nilai yang merupakan pedoman. Di dalamnya terdapat hal yang mengharuskan individu atau masyarakat untuk melakukan tindakan dan perilaku yang dibenarkan untuk mewujudkan nilai-nilai. Norma muncul dan tumbuh dari proses kemasyarakatan sebagai hasil dari proses bermasyarakat. Pada awalnya, aturan itu dibentuk secara tidak sengaja. Lama-kelamaan norma-norma itu disusun atau dibentuk secara sadar. Norma dalam masyarakat berisi tata tertib, aturan, petunjuk standar perilaku yang pantas atau wajar sehingga norma tidak boleh dilanggar. Siapapun yang melanggarnya atau tidak bertingkah laku sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam norma, akan memperoleh hukuman. Norma yang ada dalam masyarakat memiliki peranan untuk mengatur, mengendalikan, memberi arah, dan memberi sanksi bagi tingkah laku masyarakat. Setiap masyarakat selalu mempunyai aturan agar tercipta suatu kondisi tertib sosial. Untuk itulah norma diperlukan, bagi setiap masyarakat yang meng harapkan dan memaksa anggotanya untuk mengikuti norma sosial yang ada. Pelaksanaan norma akan selalu dilakukan sejak anak masih kecil. Saat pertama kali anak bersosialisasi dengan orangtuanya, mereka akan diajarkan untuk mengikuti perintah orangtuanya, seperti harus membantu orangtua, tidak boleh berbohong, berbuat baik dan menyayangi orang lain, dan sebagainya. Beberapa norma yang berperan dalam proses sosialisasi di antaranya norma agama, norma hukum, norma kesusilaan, norma kebiasaan, dan norma kesopanan.

Kepribadian

Perhatikan teman-teman di kelas Anda. Apakah mereka menunjuk kan tingkah laku yang sama dengan Anda atau temanteman lainnya? Pasti Anda akan mendapatkan keragaman tingkah laku yang diperlihatkan oleh teman-teman Anda. Bagaimana pula dengan tingkah laku yang diperlihatkan oleh individu-individu dalam kehidupan sosial? Tentunya akan lebih kompleks daripada di kelas, bukan? Dari sekian banyak perilaku yang diperlihatkan individu-individu tersebut, biasanya ada perilaku menonjol yang diperlihatkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-harinya sehingga menjadi ciri khas yang identik dengan individu-individu tersebut. Oleh karena itu, kita sering mendengar seseorang berkata “Tuan x sangat kasar dan pemarah, dan Tuan Y lemah lembut dan baik hati”. Itulah gambaran keragaman kepribadian yang dimiliki setiap orang dilihat dari perilakunya. Setelah melalui berbagai proses yang diterima individu, akan terbentuk kepribadian dalam dirinya. Pada dasarnya, semua manusia yang dilahirkan mempunyai sifat yang sama. Semua bayi yang baru lahir di belahan dunia manapun mempunyai sifat sama. Perubahan sifat kepribadian orang yang berbeda-beda terjadi karena pengalaman yang diperoleh pada waktu proses sosialisasi yang bebeda pula. Setiap individu memiliki kepribadian sebagai hasil sosialisasi sejak ia dilahirkan. Kepribadian menunjuk pada pengaturan sikapsikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Untuk itulah, pembahasan kepribadian sangat menarik dan penting dalam sosiologi. Hal ini disebabkan menyangkut karakteristik dari tingkah laku sosial seseorang dan erat kaitannya dengan proses sosialisasi.

1. Pengertian Kepribadian Konsep kepribadian merupakan konsep yang luas, tetapi secara sederhana istilah kepribadian mencakup karakteristik perilaku individu. Setiap individu memiliki kepribadian unik yang dapat dibedakan dari individu lain. Hal yang tidak mungkin apabila seseorang dapat memiliki banyak kepribadian. Agar lebih memahami konsep dan pengertian tentang kepribadian yang luas tersebut, marilah kita simak batasan yang telah diberikan oleh beberapa ahli berikut. a. Theodore R. Newcombe, menjelaskan bahwa kepribadian adalah organisasi sikap-sikap (predispositions) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku. b. Roucek dan Warren, menjelaskan bahwa kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. c. Yinger, berpendapat bahwa kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. d. Koentjaraningrat, berpandangan bahwa kepribadian adalah ciriciri watak yang diperlihatkan secara konsisten dan konsekuen sehingga seorang individu memiliki suatu identitas yang khas dan berbeda dari individu-individu lainnya. e. Robert Sutherland (dkk), menganggap bahwa kepribadian merupakan abstraksi individu dan kelakuannya sebagaimana halnya dengan masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian kepribadian digambarkan sebagai hubungan saling memengaruhi antara tiga aspek tersebut.

Kesimpulan dari berbagai definisi tersebut dapat dikatakan bahwa kepribadian sesungguhnya merupakan integrasi dari kecenderungan seseorang untuk berperasaan, bersikap, bertindak, dan berperilaku sosial tertentu. Dengan demikian, kepribadian memberi watak yang khas bagi individu dalam kehidupan seharihari. Kepribadian bukanlah perilaku, namun kepribadianlah yang membentuk perilaku manusia, sehingga dapat dilihat dari cara berpikir, berbicara, atau berperilaku. Kepribadian lebih berada dalam alam psikis (jiwa) seseorang yang diperlihatkan melalui perilaku. Contohnya, jika seseorang harus menyelesai kan perselisihan yang terjadi antara dua orang. Keinginannya untuk menyelesaikan perselisihan merupakan kepribadiannya. Adapun tindakannya untuk mewujudkan keinginan tersebut merupakan perilakunya. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat seseorang yang khas dan berkembang apabila berhubungan dengan orang lain.

Ada kalanya seseorang melihat perilaku yang “membabi buta”, yakni perilaku manusia yang didasarkan pada naluri, dorongandorongan, refleks, atau kelakuan manusia yang tidak lagi dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan jiwanya. Unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan perilaku setiap individu merupakan susunan kepribadian yang meliputi sebagai berikut.

a. Pengetahuan Pengetahuan individu terisi dengan fantasi, pemahaman, dan konsep yang lahir dari pengamatan dan pengalaman mengenai bermacam-macam hal yang berbeda dalam lingkungan individu tersebut. Semua itu direkam dalam otak dan diungkapkan dalam bentuk perilaku. b. Perasaan Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu. Bentuk penilaiannya selalu bersifat subjektif karena lebih didasarkan pada pertimbangan manusiawi daripada rasional. Perasaan mengisi penuh kesadaran manusia tiap saat dalam hidupnya. c. Dorongan Naluri Dorongan Naluri adalah kemauan yang sudah merupakan naluri pada setiap manusia. Sedikitnya ada enam macam dorongan naluri, yaitu: 1) dorongan mempertahankan hidup; 2) dorongan untuk berinteraksi; 3) dorongan untuk meniru; 4) dorongan untuk berbakti; 5) dorongan seksual; 6) dorongan akan keindahan

2. Proses Pembentukan Kepribadian Setelah Anda mengetahui tentang adanya perbedaan kepribadian antarindividu manusia, mungkin muncul persoalan tentang apakah perbedaan kepribadian tersebut merupakan pembawaan sejak lahir yang diwariskan secara genetik? Untuk memastikan jawabannya, simak dalam penjelasan tentang bagaimana proses pembentukan kepribadian. Pada uraian sebelumnya, dikatakan bahwa kepribadian merupakan hasil sosialisasi. Proses pembentukan kepribadian melalui sosialisasi dapat dibedakan sebagai berikut. a. Sosialisasi yang dilakukan dengan sengaja melalui proses pendidikan dan pengajaran. b. Sosialisasi yang dilakukan tanpa sengaja melalui proses interaksi sosial sehari-hari dalam lingkungan masyarakatnya. Proses sosialisasi tersebut berlangsung sepanjang hidup manusia (sejak lahir sampai tua) mulai lingkungan keluarga, kelompok, sampai kehidupan masyarakat yang lebih luas. Melalui serangkaian proses yang panjang inilah, tiap individu belajar menghayati, meresapi, kemudian menginternalisasi berbagai nilai, norma, polapola tingkah laku sosial ke dalam mentalnya. Dari berbagai hal yang diinternalisasi itulah seseorang memiliki kecenderungan untuk berperilaku menurut pola-pola tertentu yang memberi ciri watak yang khas sebagai identitas diri dan terbentuklah kepribadian. Kelompok masyarakat tempat mereka tinggal, secara sengaja atau tidak, selalu berusaha untuk mengarahkan dan memengaruhi anggota-anggotanya untuk selalu mematuhi nilai, norma, kebiasaankebiasaan sehingga individu-individu tersebut bertingkah laku sesuai dengan harapan kelompoknya. Jadi, sesungguhnya sosialisasi itu merupakan aktivitas dua pihak, yaitu pihak yang mensosialisasi dan pihak yang disosialisasi. Dari proses tersebut, terbentuklah kepribadian yang berbeda antara masyarakat yang satu dan masyarakat lainnya. Misalnya, kepribadian orang Sunda berbeda dengan orang Batak. Pengalaman sosialisasi yang dilakukan masing-masing individu bisa saja berbeda. Kepribadian yang tumbuh pada masing-masing individu tidak akan mungkin sepenuhnya sama. Oleh karena itu, seseorang dapat melihat keragaman kepribadian yang ditampilkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada pribadipribadi yang mempuyai sifat penyabar, ramah, pemarah, egois, atau rendah diri. Semuanya itu bergantung pada penyerapan dan pemahaman serta penghayatan nilai dan norma yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakatnya.

 

Pelajaran Tentang Nilai dan Nilai Sosial

Pelajaran Tentang Nilai dan Nilai Sosial

Pelajaran Tentang Nilai dan Nilai Sosial

Pelajaran Tentang Nilai dan Nilai Sosial
Pelajaran Tentang Nilai dan Nilai Sosial

1. Pengertian Nilai dan Nilai Sosial Apa yang dimaksud dengan nilai? Secara sederhana, nilai merupakan suatu hal yang dianggap baik atau buruk bagi kehidupan. Nilai merupakan sesuatu yang abstrak, namun hal tersebut menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat. Contohnya, orang menganggap menolong bernilai baik dan mencuri bernilai buruk. Adapun nilai sosial adalah penghargaan yang diberikan masyarakat kepada segala sesuatu yang terbukti memiliki daya guna fungsional bagi kehidupan bersama. Woods mendefinisikan nilai sosial sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap penghargaan akan berbeda, bergantung pada besar atau kecilnya fungsi seseorang, misalnya presiden mendapat nilai sosial yang lebih luas dibandingkan dengan bupati karena fungsi presiden lebih luas dibandingkan dengan bupati. Pesawat terbang akan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan bus atau kereta api karena fungsinya yang memberikan ketepatan waktu dan jasa pelayanannya. Demikian juga untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, harus melalui proses menimbang. Hal tersebut tentunya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat. Akibatnya, antara masya rakat yang satu dan yang lain terdapat perbedaan tata nilai. Masyarakat perkotaan umumnya lebih menyukai nilai persaingan, karena dalam persaingan akan muncul pembaruan-pembaruan. Pada masyarakat pedesaan atau masyarakat tradisional, persaingan cenderung dihindari karena dalam persaingan dapat mengganggu keharmonisan dan tradisi yang sifatnya turun-temurun.

Nilai sosial dapat pula berupa gagasan dari pengalaman yang berarti ataupun tidak, bergantung pada penafsiran setiap individu atau masyarakat yang memberikan atau menerimanya. Pengalaman baik akan menghasilkan nilai positif sehingga nilai yang bersangkutan dijadikan pegangan, seperti menepati janji, tepat waktu, dan disiplin.

Adapun pengalaman buruk akan menghasilkan nilai negatif sehingga nilai yang demikian akan dihindari. Misalnya, seseorang mengalami pengalaman buruk, karena dibohongi orang lain, akan menghindari orang tersebut. Hal ini disebabkan oleh pengalaman negatif akan menghasilkan nilai negatif. Dengan demikian, nilai akan menjadi kaidah yang mengatur kepentingan hidup pribadi ataupun kepentingan hidup bersama sehingga nilai dapat dijadikan etika.

2. Klasifikasi Nilai a. Nilai Sosial, yaitu sesuatu yang sudah melekat di masyarakat yang berhubungan dengan sikap dan tindakan manusia. Contohnya, setiap tindakan dan perilaku individu di masyarakat, selalu mendapat perhatian dan berbagai macam penilaian. b. Nilai kebenaran, yaitu nilai yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio, budi, dan cipta). Nilai ini merupakan nilai yang mutlak sebagai suatu hal yang kodrati. Tuhan memberikan nilai kebenaran melalui akal pikiran manusia. Contohnya, seorang hakim yang bertugas memberi sangsi kepada orang yang diadili. c. Nilai keindahan, yaitu nilai yang bersumber pada unsur rasa manusia (estetika). Keindahan bersifat universal. Semua orang memerlukan keindahan. Namun, setiap orang berbeda-beda dalam menilai sebuah keindahan. Contohnya, sebuah karya seni tari merupakan suatu keindahan. Akan tetapi, tarian yang berasal dari suatu daerah dengan daerah lainnya memiliki keindahan yang berbeda, bergantung pada perasaan orang yang memandangnya. d. Nilai kebaikan atau nilai moral, yaitu nilai yang bersumber pada kehendak atau kemauan (karsa, etik). Dengan moral, manusia dapat bergaul dengan baik antarsesamanya. Contohnya, berbicara dengan orang yang lebih tua dengan tutur bahasa yang halus, merupakan etika yang tinggi nilainya. e Nilai religius, yaitu nilai ketuhanan yang tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber pada hidayah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Melalui nilai religius, manusia mendapat petunjuk dari Tuhan tentang cara menjalani kehidupan. Contohnya, untuk dapat berhubungan dengan Tuhan, seseorang harus beribadah menurut agamanya masing-masing. Semua agama menjunjung tinggi nilai religius. Namun, tata caranya berbeda-beda. Hal ini karena setiap agama memiliki keyakinan yang berbeda-beda.

Nilai-nilai tersebut menjadi kaidah atau patokan bagi manusia dalam melakukan tindakannya. Misalnya, untuk menentukan makanan yang baik bagi kesehatan tubuh, kita harus berdasar pada nilai gizi dan bersih dari kuman. Namun, ada nilai lain yang masih harus dipertimbang kan seperti halal tidaknya suatu makanan tertentu. Dengan demikian, nilai berperan dalam kehidupan sosial sehari-hari, sehingga dapat mengatur pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Ciri-Ciri Nilai Sosial Sesuai dengan keberadaannya, nilai-nilai sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut. a. Hasil dari proses interaksi antarmanusia secara intensif dan bukan bawaan sejak lahir. Contohnya, seorang anak yang bisa menerima “nilai” menghargai waktu karena didikan orangtuanya yang mengajarkan disiplin sejak kecil. b. Ditransformasikan melalui proses belajar meliputi sosialisasi, akulturasi, dan difusi. Contohnya, nilai “menghargai kerja sama” dipelajari anak dari sosialisasi dengan teman-teman sekolahnya. c. Berupa ukuran atau peraturan sosial yang turut memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial. Contohnya, nilai memelihara ketertiban lingkungan menjadi ukuran tertib tidaknya seseorang, sekaligus menjadi aturan yang wajib diikuti. d. Berbeda-beda pada tiap kelompok manusia atau bervariasi antara kebudayaan yang satu dan yang lain. Contohnya, di negara-negara maju manusianya sangat menghargai waktu, keterlambatan sulit ditoleransi. Sebaliknya di Indonesia, keterlambatan dalam jangka waktu tertentu masih dapat dimaklumi. e. Setiap nilai memiliki pengaruh yang berbeda-beda bagi tindakan manusia. Contohnya, nilai mengutamakan uang di atas segalanya membuat orang berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya. Sebaliknya, jika nilai kebahagiaan dipandang lebih penting daripada uang, orang akan lebih mengutamakan hubungan baik dengan sesama. f. Memengaruhi perkembangan kepribadian individu sebagai anggota masyarakat, baik positif maupun negatif. Contohnya, nilai yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi akan melahirkan individu yang egois. Adapun nilai yang lebih mengutamakan kepentingan bersama akan membuat individu tersebut lebih peka secara sosial.

Dari ciri-ciri tersebut, nilai merupakan suatu kebutuhan manusia yang digunakan untuk pedoman hidup tentang suatu perbuatan yang seharusnya dilakukan atau suatu perbuatan yang seharusnya dihindari. Pengalaman seseorang akan menjadi sebuah nilai yang dapat bersifat positif dan negatif bagi dirinya.

Berdasarkan ciri-ciri nilai tersebut, nilai sosial dapat diklasifikasikan lagi menjadi nilai dominan dan nilai yang mendarah daging (internalized value). Adapun pengertian dari nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan nilai-nilai lainnya. Suatu masyarakat yang menganggap suatu nilai dominan atau tidak, didasarkan pada berbagai pertimbangan, yaitu sebagai berikut. a. Banyaknya orang yang menganut suatu nilai. Contohnya di zaman reformasi saat ini, sebagian besar anggota masyarakat menghendaki adanya perubahan ke arah yang lebih baik di segala bidang, seperti ekonomi, politik, hukum, dan sosial. b. Masyarakat telah memegang nilai tersebut dalam waktu yang lama. Contohnya, sejak dulu masyarakat Yogyakarta melaksana kan tradisi “sekatenan” untuk memperingati maulid Nabi Muhammad saw. c. Tinggi rendahnya usaha orang untuk melaksanakan suatu nilai. Contohnya, “pulang kampung” sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia saat menjelang hari lebaran dan natal. d. Adanya kebanggaan dari orang yang melaksanakan suatu nilai. Contohnya memiliki mobil mewah dapat memberikan ke banggaan tersendiri.

Adapun “nilai yang mendarah daging” adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang melakukannya kadang tidak melalui proses berpikir atau pertimbangan lagi (bawah sadar). Biasanya nilai demikian telah tersosialisasi dan terbentuk sejak kecil. Jika nilai ini tidak dilakukan, akan muncul rasa malu atau rasa bersalah. Contohnya, seorang siswa yang memiliki kebiasaan rajin belajar akan merasa malu dan bersalah apabila dia gagal dalam mengikuti ujian. Berbeda halnya dengan siswa yang malas, dia tidak akan malu atau merasa bersalah jika gagal ujian.

Riset

Nilai ekonomis bukan sematamata suatu tujuan utama, tetapi merupakan kebutuhan. Bagaimana Anda menumbuhkan semangat kewirausahaan dalam menunjang kebutuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan realitas sosial? Diskusikan dengan orangtua/ guru Anda.

4. Fungsi Nilai Bagi manusia, nilai berfungsi sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam segala tingkah laku, dan perbuatannya. Nilai mencermin kan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup seseorang dalam masyarakat. Kehidupan bersama di masyarakat memerlukan pengertian yang harus diperhatikan, yaitu pem bentukan pribadi manusia sebagai warga masyarakat. Dengan demikian kemajuan masyarakat dan perkembangan sosial budaya dapat tercapai. Dari ketiga hal tersebut, ditetapkan fungsi nilai sosial sebagai berikut. a. Sebagai Faktor Pendorong Tinggi rendahnya individu dan satuan manusia dalam masyarakat bergantung pada tinggi rendahnya nilai sosial yang menjiwai mereka. Apabila nilai sosial dijunjung tinggi oleh sebagian besar masyarakat, maka harapan ke arah kemajuan bangsa bisa terencana. Hal ini merupakan cita-cita untuk menjadi manusia yang berbudi luhur dan beradab sehingga nilai sosial ini memiliki daya perangsang sebagai pendorong untuk menjadi masyarakat yang ideal.

b. Sebagai Petunjuk Arah Nilai sosial menunjukkan cita-cita masyarakat atau bangsa. Adapun nilai sosial sebagai petunjuk arah tergambar dalam contoh berikut ini. 1) Cara berpikir dan bertindak warga masyarakat secara umum diarahkan oleh nilai-nilai sosial yang berlaku. Setiap pendatang baru harus dapat menyesuaikan diri dan menjunjung tinggi nilai sosial masyarakat yang didatanginya agar tidak tercela, yang menyebabkan pandangan masyarakat menjadi kurang simpati terhadap dirinya. Dengan demikian, pendatang baru dapat menghindari hal yang dilarang atau tidak disenangi masyarakat dan mengikuti pola pikir serta pola tindakan yang diinginkan. 2) Nilai sosial suatu masyarakat berfungsi pula sebagai petunjuk bagi setiap warganya untuk menentukan pilihan terhadap jabatan dan peranan yang akan diambil. Misalnya dalam memilih seorang pemimpin yang cocok bukan saja berdasarkan kedudukan seseorang, melainkan juga berdasarkan kualitas yang dimiliki, atau menentukan posisi seseorang sesuai dengan kemampuannya. 3) Nilai sosial berfungsi sebagai sarana untuk mengukur dan menimbang penghargaan sosial yang patut diberikan kepada seseorang atau golongan. 4) Nilai sosial berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau kelompok tertentu. c. Sebagai Benteng Perlindungan Pengertian benteng di sini berarti tempat yang kokoh karena nilai sosial merupakan tempat perlindungan yang kuat dan aman terhadap rongrongan dari luar sehingga masyarakat akan senantiasa menjaga dan mempertahankan nilai sosialnya. Misalnya, nilai-nilai keagamaan, dan nilai-nilai Pancasila. Pengkhianatan G 30 S/PKI terhadap Pancasila sebagai dasar negara merupakan bukti sejarah bangsa Indonesia, tetapi dengan keyakinan bahwa Pancasila harus tegak dari setiap usaha yang akan meruntuh kannya maka pengkhianatan tersebut dapat dipatahkan.

Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan

Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan

Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia
Nilai Cerpen Bahasa Indonesia

Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Pada akhirnya ternyata Mami, atau siapa pun, tak perlu merepotkan diri ke kantor kelurahan, kecamatan, atau kantor apa pun, karena pada hari ketiga, keempat dan seterusnya sampai dengan kemarin ini, Parmin masuk seperti biasa. Namun tak berarti persoalan lalu selesai. Sebab nanti siang akan ada pesta lagi. (Arisan keluarga sebenarnya. Tapi apalah bedanya dengan pesta.) Kecurigaan atas diri Parmin tak menjadikan mami ragu-ragu membolehkan Parmin datang membantu-bantu. Malah sebaliknya, pesta nanti siang seolah dirancang sebagai perangkap, yang diharapkan bisa merangsang Parmin agar “melakukan rekonstruksi tanpa paksaan”. Pukul sembilan dia datang dengan sepeda tuanya. Langsung ke kebun belakang, mengambil slang air, menyiram taman anggrek. Selesai itu mami menyuruh Parmin mempersiapkan kursi-kursi tambahan untuk ruang tengah. “Mau ada acara makan,” mami menambahkan. Tak biasanya mami berkata begitu, sebab sudah dengan sendirinya Parmin akan tahu. Ada yang diharapkan, memang, ialah munculnya kegelisahan Parmin, atau sekurang-kurangnya suatu reaksi. Dan ini mulai nampak, ketika mami menyuruh dia ke pasar bersama Parjilah, termasuk supermarket membeli es krim, seperti dulu.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Adalah Himan yang bertugas mengamati Parmin secara khusus. Anak nomor dua ini (yang menjadi penganggur karena setclah lulus SMA tahun kemarin tidak diterima di perguruan tinggi ncgcri mana pun dan papi memutuskan “sekalian sekolah di luar negeri saja”). Memang banyak waktu luang, terutama untuk hal-hal yang menurutnya berbau spionase. Dia pula yang kemudian melihat, betapa tangan Parmin gemetaran memegang gelas-gelas, serta berkali-kali es krim yang dituang ke dalamnya tumpah ke lantai. Arisan memang berjalan lancar, namun tak urung Mami terbawa-bawa jadi gelisah. Dan, entah mesti disyukuri ataukah disesalkan, rekonstruksi ternyata berjalan persis yang dinanti. Parmin, suatu ketika, melintas cepat dari dapur ke garasi. Himan siaga. Sempat ia melihat Parmin memasukan sesuatu ke dalam tasnya. Hanya sekilas, Karena secepat itu pula Parmin melarikan sepedanya keluar. “Kejar!” mami berteriak. Jam menunjukkan pukul lima sore ketika Himan meloncat ke atas sepeda balapnya sendiri, melesat ke jalanan mengejar Parmin. Maka nampaklah dua sepeda mencoba berpacu, berkelit di antara ratusan mobil yang berhenti ataupun melata pelan, di tengah jalanan Jakarta yang macet, tanpa ada yang tahu persis siapa mengejar siapa. Yang jelas Parmin tak tahu bahwa ia tengah dikejar, sementara Himan sendiri lama-lama menjadi kurang yakin bahwa Parmin pantas untuk dikejar-kejar. Sebab tak pernah satu kali pun Parmin menoleh ke belakang, lebih-lebih mencoba menyembunyikan diri.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia

Jangan-jangan, justru Parminlah yang tengah mengejar sesuatu, Tapi apa? Suara adzan magrib kedengaran dari segala penjuru. Hampir sejam keduanya berpacu. Parmin makin gesit ketika menikung masuk kampung, sementara Himan mengikuti dengan perasaan makin bertanya-tanya. Jalanan di situ tak lagi dikenalinya. Jalan beraspal tipis yang lebih banyak berlapis lumpur merah. Lalu lintas sepi. Himan terpaksa menjaga jarak. Lebih-lebih ketika Parmin turun dari sepedanya, dan masuk ke sebuah gang yang tak jelas ujudnya karena kadang menyatu dengan halaman rumah orang. Ah, halaman! Betapa itu sebenarnya tak lebih dari teras sempit tanpa pagar yang biasa di pakai tempat menjemur pakaian. Dan, gang yang lebih kecil adalah batas antara rumahrumah itu sendiri, yang dua buah sepeda motor pun rasa-rasanya sulit berpapasan di situ. Bercabangcabang. Berliku-liku. Serimbun rumah-rumah petak yang berderet malang melintang. Hingga beberapa kali Himan kehilangan jejak, dan setiap kali pula ia harus menerima pandangan orang-orang sekitar yang bagi Himan berbau kecurigaan. Sampai kemudian Parmin nampak menyusuri dinding sebuah rumah petak, separuh bangunan batu dan sebelah atas dinding kayu. Di ujung sana Parmin memasukkan sepedanya. Himan cepat menyusul.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Tapi yang dihadapinya kemudian memaksanya untuk berhenti melangkah, urung menyergap. “Bapak pulang! Bapak datang!” Tiga anak kecil keluar dari dalam merubung Parmin. Seorang meninju-ninju kaki bapaknya, seorang ber-breakdance tak keruan, dan yang satu lagi menarik-narik tas. “Hati-hati ada isinya!” Serentak ketiganya bersorak. “Mak! Mak! Tas bapak ada isinya!” Istri Parmin keluar, membawa segelas teh yang nampaknya sudah disiapkan sejak tadi. Sementara itu tas dibuka. Ada bungkusan plastik. Bungkusan dibuka. Ada kantong plastik. Kantong plastik dibuka.

Si bungsu merebut. Plastik pecah. Isinya sebagian tumpah! “Maak! Es kriiim!” “Cepat ambil gelas!” Gelas, itulah yang tepat. Sebab es krim itu tinggal berupa cairan putih yang tak jauh beda denga air susu, menetes deras ke lantai. Oleh sang ibu lalu di tadah ke dalam gelas yang dipegang erat oleh masing-masing anak. Serentak semua diam. Semua tegang menanti bagian. Cuma kedengaran si bungsu yang berulang menyedot ingus. Lalu selesailah pembagian itu, masing-masing sepertiga gelas lebih sedikit. Tangan-tangan mungil itu mulai memasukkan sendok kecil ke dalam gelas. “He, he, kalau sudah begini lupa berdoa, ya?” “Berdoa kan buat kalau mau makan nasi, Mak.” “Ya sudah, sekarang mengucap terima kasih saja,” Parmin menyambung. “Yang memberi es krim ini tante Oche, tante Ucis sama Oom Himan. Ayo, gimana?” Dengan takzim ketiganya mengucapkan pelan, satu anak menyebut satu nama. “Terima kasih Tante Oche.” “Terima kasih Tante Ucis.” “Terima kasih Oom Himan.” Himan melangkah surut. Diambilnya sepedanya, lalu pelan ia menyusuri gang yang remang oleh sisa-sisa cahaya lampu dari dalam rumah-rumah petak yang jendelanya masih terbuka. Setiap kali ia berpapasan dengan tukang bakso pulang kerja, juga penjual minyak tanah, penjual siomay, kondektur bus kota, sopir bajaj… Bila nanti Himan sulit menceritakan segala yang baru dilihatnya, tentu bukan karena sekonyong-konyong ia kehilangan kata-kata, namun perbendaharaan kata itu memang belum pernah dimilikinya, ialah untuk sekadar bercerita tentang orang-orang yang bahkan begitu dekat dengan kehidupannya. Kehidupan kita juga, barangkali. Sumber: Kumpulan cerpen Parmin, 2002

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Setelah Anda membaca cerpen tersebut dengan baik dan penuh penghayatan, nilai kehidupan apakah yang Anda dapatkan? Itulah alasannya mengapa sebuah karya cerpen dapat menampilkan sisi kehidupan yang memuat moral secara universal. Semua orang dapat menerima hikmah di balik cerita. Tidak tertutup kemungkinan, Anda akan mendapatkan banyak pelajaran dari cerpen “Parmin” tersebut. Mungkin Anda dapat bersimpati sekaligus terenyuh jika menyaksikan seorang Himan yang menjadi “saksi mata” atas apa yang selama ini disangkakan kepada Parmin.

Ada banyak nilai moral yang dapat diambil dari cerpen tersebut, antara lain sebagai berikut.

1. Kehidupan ini kadang seperti air dan minyak. Maksudnya, jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin telah membuat manusia lupa akan sesamanya.

2. Walaupun bagi sebagian orang terlihat kecil, bagi orang miskin harta sekecil itu dapat menjadi begitu besar dan bermakna. Dalam cerpen ini, yang disuguhkan hanyalah soal kecil, yaitu es krim. Namun, sisi kemanusiaan di dalamnya begitu besar.

3. Kita memang harus merasakan dan peka terhadap lingkungan sekitar. Kadang harta dapat membutakan sebagian manusia. Harta sebenarnya bukan tujuan utama. Hal yang paling penting adalah sejauh mana kita bisa memaknai hidup bahwa ada orang lain di sekitar kita.

Apakah Anda menemukan nilai moral lain yang terdapat dalam cerita tersebut? Diskusikanlah dengan teman Anda. Lalu, kerjakanlah latihan berikut.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia  – Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya Karya Sunaryono Basuki Ks.

diletakkan di kebun bunga dengan halaman tertutup rerumputan hijau lembut itu adalah seorang pemburu yang terkenal mahir menggunakan senapannya. Tak ada suara anak-anak di rumah itu. Sebab mereka semuanya, kecuali si bungsu, sudah pergi meninggalkannya mencari rezeki di kota-kota yang jauh, bahkan di sebuah pengeboran minyak lepas pantai di wilayah Ceram. Mereka adalah anak-anak yang dulunya sangat rajin belajar dan berhasil menyelesaikan studi mereka di universitas-universitas terkenal. Putut, yang tertua, yang dulunya bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, sekarang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing berukuran raksasa, dan dia tidak pernah tinggal di satu kota besar dalam tempo yang lama. Kegiatannya berterbangan dari satu bandara ke bandara internasional yang lain, memberikan konsultasi yang mahal harganya, beristirahat akhir pekan di pantai negeri jauh, dan hanya sekali-sekali singgah di Jakarta. Tidak ada waktu untuk pulang ke Bali mengikuti berbagai upacara adat yang mengalir tak kering-keringnya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Anggota keluarganya di desa selalu membicarakannya sebagai seorang sosok yang sangat dibanggakan oleh seluruh keluarga di kampung. Warga desa yang berhasil, seorang local genius yang sudah go international. Bilamana mereka berkumpul di pura desa untuk sebuah upacara besar, sebuah piodalan , maka ketidakhadirannya dapat dimaafkan, sedangkan warga desa yang sudah merantau ke Denpasar atau bahkan ke Surabaya, bilamana tidak menghadiri upacara itu selalu dibicarakan. “Berapa jauhkah Surabaya? Banyak bus malam yang melintasi desa kita, tetapi kenapa dia tak datang? Bukankah dia dapat menyisihkan waktu barang dua malam untuk pulang?” Mungkin yang paling rajin pulang untuk menghadiri piodalan di desa maupun di sanggah keluarga adalah

Dek Gung yang bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Malang. Ada Bus Simpatik yang melayani penumpang dari Malang ke Singaraja, dan bilamana pulang, Dek Gung selalu menumpang bus itu, atau membawa mobil sendiri, datang dengan istri dan anakanaknya. Dek Gung-lah yang paling mendapat pujian dari penduduk desa maupun dari keluarga, apalagi lelaki yang semasa mudanya itu aktif dalam kegiatan Teruna-Teruni di Banjar Bali di kota Singaraja sekarang sering memberikan dana punia untuk pembangunan desa maupun pura desa. Mang Yul adalah anak ketiga, satu-satunya anak yang paling cantik dalam keluarganya sebab dialah anak perempuan satu-satunya. Adatnya santun sebagaimana diteladankan oleh ibunya. Dia sudah hidup bersama suaminya di Jakarta, dengan demikian tak banyak dibicarakan oleh orang sedesa karena dia sudah mengikuti keluarga suaminya yang berasal dari Badung. Tut Sur adalah si bungsu, dan setelah itu tak ada lagi anak kelima. Bukan sebab lelaki itu mengikuti prinsip KB cara Bali, yakni beranak maksimum empat sebagaimana ditunjukkan oleh sistem penamaan anak-anak, tetapi karena Tut Sur membawa serta berita duka menyertai kelahirannya. Tut Sur-lah yang masih tinggal bersama lelaki tua yang dulu terkenal sebagai seorang pemburu yang mahir menggunakan senapannya itu, tetapi lelaki itu jarang berada di rumah walaupun tinggal bersama ayahnya. Di rumah itu hanya tinggal tiga orang, lelaki itu bersama anaknya, seorang pembantu perempuan yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, dan seekor anjing yang bertugas menjaga rumah di malam hari. Ketika istrinya hamil anak keempat itu, permintaan yang mudah dikabulkan adalah seekor babi guling yang lezat, harus dimasak sendiri, dan harus berasal dari seekor babi hutan yang masih muda. “Kalau itu urusan kecil,” kata lelaki itu.