Belajar Bersyukur dari Kisah Sepuluh Orang  Kusta

Belajar Bersyukur dari Kisah Sepuluh Orang Kusta

Belajar Bersyukur dari Kisah Sepuluh Orang Kusta

Belajar Bersyukur dari Kisah Sepuluh Orang Kusta

Belajar Bersyukur dari Kisah
Belajar Bersyukur dari Kisah

Kisah berikut mengajak kita untuk mampu merefleksikan pentingnya bersyukur dalam hidup. Baca dalam hati, resapkan, dan temukan makna kisahnya.

Coba perhatikan teks tersebut dengan cermat, lalu telusuri beberapa hal berikut!

Kesepuluh Orang Kusta (Luk 17: 11-19) 11Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 12Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 13dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” 14Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imamimam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 15Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,16lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 18Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” 19Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

a. Apa yang seharusnya mendorong kesepuluh orang kusta tersebut untuk kembali dan memuliakan Allah? ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………

b. Perhatikan ayat 16 ! Dikatakan bahwa yang datang kembali untuk bersyukur itu adalah orang Samaria. Carilah dalam kamus Alkitab keterangan tentang siapa orang Samaria itu di mata orang –orang beragama Yahudi pada zaman Yesus? ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………

c. Setelah memahami makna “orang Samaria”, apa kesimpulanmu tentang ayat itu? ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………

Berbagai Cara Mengungkapkan dan Mewujudkan Syukur Di atas sudah dijelaskan, bahwa rasa syukur dapat diungkapkan melalui ibadah dan diwujudkan dalam tindakan. Diskusikan dengan teman-temanmu beberapa hal berikut!

1. Rasa syukur dapat diwujudkan dalam bentuk ibadah atau doa. Kapan sebaiknya kita berdoa? Apa yang seharusnya mendorong kita berdoa? ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………

2. Rasa syukur dapat diwujudkan dalam tindakan nyata sebagai tanggapan atas kebaikan Allah. Tuliskan contoh tindakan tersebut! ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………

4.Refleksi dan Aksi

Duduk dalam keadaan hening sambil menuliskan hal-hal dalam hidupmu selama satu tahun ini yang dirasa patut disyukuri. Mungkin berupa kekaguman tentang apa yang ada dalam dirimu, atau berbagai pengalaman yang berkesan, menyenangkan atau menyedihkan, mungkin tentang apa yang pernah kalian lihat, dan sebagainya Jika sudah selesai susunlah menjadi sebuah Litani Syukur Kemudian tuliskan pula dua tindakan aksi nyata yang akan dilakukan sebagai wujud syukur. Contoh Litani syukur: Engkau telah memberiku seorang ibu yang sabar dan peduli, syukur bagiMu ya Allah Engkau telah mengaruniakan kepintaran, syukur bagiMu ya Allah

Doa Litani Syukur (Cuplikan dari Puji Syukur No. 154) Allah yang Maha Pengasih dan penyayang, kami bersyukur kepada-Mu, karena karya-karya-Mu yang agung di tengah kami. Syukur karena sifat-sifat Allah Engkau maha agung S y u k u r kepada-Mu Engkau maha kudus S y u k u r kepada-Mu Engkau maha baik S y u k u r kepada-Mu Syukur karena alam semesta, Kami bersyukur kepada-Mu karena langit dan bumi S y u k u r kepada-Mu Karena matahari, bulan dan bintang S y u k u r kepada-Mu Karena hujan dan embun S y u k u r kepada-Mu Karena hawa sejuk dan dingin S y u k u r kepada-Mu Syukur karena jemaat dan pelayanannya Kami bersyukur karena keguyuban jemaat S y u k u r kepada-Mu Karena para pewarta Injil S y u k u r kepada-Mu Karena para Imam S y u k u r kepada-Mu Syukur karena kelurga, Kamu bersyukur kepada-Mu Karena orang tua S y u k u r kepada-Mu Karena sanak saudara S y u k u r kepada-Mu Karena sahabat dan handai taulan S y u k u r kepada-Mu

Syukur karena aneka pengalaman, Kami bersyukur kepada-Mu Karena keberhasilan S y u k u r kepada-Mu Karena kegagalan S y u k u r kepada-Mu Karena suka dan duka S y u k u r kepada-Mu Syukur karena sejarah keselamatan, Kami bersyukur kepada-Mu Karena Engkau telah menciptakan kami S y u k u r kepada-Mu Karena telah memelihara kami S y u k u r kepada-Mu Karena telah menyelamatkan kami S y u k u r kepada-Mu Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan Sepanjang segala abad. Amin.

Aku Diciptakan sebagai Perempuan atau Laki-laki

Tak ada seorang manusia pun tercipta atas kemauannya sendiri. Jika kalian adalah perempuan atau laki-laki, itu semua bukan kemauan sendiri, mungkin keinginan orang tua, tetapi yang paling utama karena memang Tuhan menciptakan dan menghendaki kalian terlahir sebagai perempuan atau laki-laki. Sesungguhnya kehidupan manusia bukan soal apakah dia perempuan atau laki-laki. Di hadapan Allah, perempuan atau laki-laki sama dikasihiNya, karena Dialah yang menciptakannya. Mari kita pikirkan apa maksud dan panggilan Tuhan menciptakan kita sebagai perempuan atau laki-laki ? Untuk mengantar kita agar memiliki rasa bangga menjadi perempuan atau laki-laki, dalam Bab ini akan dibahas tiga topik sebagai berikut. A. Aku bangga sebagai perempuan atau laki-laki B. Kesederajatan perempuan dan laki-laki C. Panggilan sebagai perempuan atau laki-laki

Aku Bangga sebagai Perempuan atau Laki-laki

Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa saat ini kamu seorang perempuan atau laki-laki. Kamu tidak lagi dapat meminta kepada siapapun, termasuk kepada kedua orang tuamu, untuk dilahirkan kembali dalam keadaan yang lain. Kenyataan ini bukan semata-mata takdir, melainkan anugerah dan kasih Allah bagi dirimu. Anugerah dan kasih itu adalah bahwa kamu telah ditetapkan sejak semula olehNya untuk menjadi seorang perempuan atau laki-laki, dan telah diciptakan Allah dengan sangat baik adanya dan sangat indah. Masing-masing kamu mempunyai kekhasan dan kekhususan yang tidak dimiliki orang yang lain. Maka patutlah kamu merasa bangga dengan dirimu. Allah memang luar biasa. Doa Allah, Bapa Maha Pencipta, kami bersyukur karena Engkau telah menciptakan kami perempuan dan laki-laki seturut citra-Mu, dan Engkau mengaruniakan kepada kami masing-masing dengan keindahan dan kekhasan, supaya saling mengagumi dan saling memperkembangkan, demi keluhuran ciptaan-Mu dan demi kemuliaan nama-Mu. Amin.

1. Perempuan dan Laki-laki Berbeda tetapi Saling Membutuhkan dan Saling Melengkapi Apa jadinya jika di dunia ini hanya ada manusia perempuan saja, atau hanya ada manusia laki-laki saja. Tetapi kenyataan yang tidak dapat disangkal adalah bahwa sejak semula Allah telah menciptakan manusia baik perempuan maupun laki-laki. Apakah masing-masing pribadi perempuan dan laki-laki itu menempatkan diri secara benar dalam berelasi satu sama lain?

Untuk memahami hal tersebut, cobalah simak cerita berikut!

Tuhan Menciptakan Pria dan Wanita

Sebuah cerita rakyat mengisahkan bahwa manusia pria dan wanita pertama diciptakan Tuhan dari sebatang pohon, pohon kehidupan. Menurut cerita itu dikisahkan bahwa pada suatu hari, ketika matahari sedang terik-teriknya, badai bertiup kencang, sungai-sungai dan lautan bergemuruh, Tuhan menebang sebatang pohon dan dari batang pohon itu Tuhan memahat dan mengukir sosok tubuh manusia lakilaki sesuai gambaran yang berada pada pikiran dan hatinya. Tuhan bekerja keras untuk memahat dan mengukir bakal sosok tubuh lakilaki itu karena sebatang pohon itu banyak urat dan mata kayunya. Sesudah selesai memahat dan mengukir bakal sosok tubuh laki-laki itu, Allah meniupkan nafas-Nya ke dalam hidung patung kayu itu, maka terciptalah manusia laki-laki yang pertama, kuat, kokoh, tegap dan perkasa.

Sesudah itu Tuhan melihat bahwa tidak baik hanya menciptakan manusia sejenis, laki-laki saja. Maka Tuhan menciptakan manusia yang lain, yaitu manusia wanita, supaya keduanya dapat saling melengkapi. Ketika hendak menciptakan manusia wanita, Tuhan tidak menciptakan wanita dari batang pohon, tetapi dari daun-daun dan bunga-bunga pohon yang dipakai saat menciptakan laki-laki. Tuhan merangkai daun-daun dan bunga-bunga itu menjadi sebuah janur yang menyerupai sosok wanita sesuai dengan gambaran yang berada dalam pikiran dan hatinya.

Lalu Tuhan meniupkan napas kehidupan ke dalam hidungnya, maka terciptalah wanita pertama yang cantik, lemah lembut perilakunya dan halus bahasanya. Sesudah itu Tuhan mengantar manusia wanita itu kepada laki-laki. Manusia laki-laki menerima dengan sangat gembira teman hidupnya itu. Setelah beberapa hari, manusia laki-laki itu datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, makhluk yang Engkau berikan kepadaku membuat hidupku tak bahagia. Dia mempersoalkan hal yang kecilkecil, berbicara tanpa henti. Cengengnya minta ampun. Saya mau mengembalikannya kepadaMu!” Tuhan berkata: “Baiklah!” dan Tuhan menerima wanita itu kembali.

Cara Cara dan Kewajiban Menghormati Orang Tua

Cara Cara dan Kewajiban Menghormati Orang Tua

Kewajiban Menghormati Orang Tua

Menghormati Orang Tua – Siapakah orang yang paling dekat dengan kamu sejak lahir? Tentu kedua orang tuamu, bukan? Merekalah yang membawa kamu ke dunia ini dengan izin Allah Swt. Jasa mereka besar sehingga kamu tidak akan mampu menghitungnya, antara lain: 1. Ibu mengandung dengan penuh susah payah, dan melahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya; 2. Ibu menyusui selama dua tahun dengan penuh kasih sayang dan terjaga malam hari karena memenuhi kebutuhan anaknya; 3. Ibu dan ayah memelihara kita sehingga kita siap untuk hidup mandiri; 4. Ayah dan ibu bekerja keras untuk memenuhi keperluan keluarga; 5. Ayah dan ibu memberi bekal pendidikan; 6. Ayah dan ibu memberikan kasih sayang dengan ikhlas tanpa meminta balasan.

Menghormati Orang Tua

Menghormati Orang Tua
Menghormati Orang Tua

Menghormati Orang Tua – Begitu besar jasa orang tua sehingga kita sebagai anak wajib hukumnya berbuat baik kepada keduanya. Allah Swt. memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada keduanya, sebagaimana firman-Nya:

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orangorang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (Q.S. al-Baqarah/2: 83).

Menghormati Orang Tua – Pada penggalan ayat , Allah Swt. menegaskan bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orang tua. Terkait dengan ini, Imam Abu Daud dan Baihaqi meriwayatkan sebuah hadi£ dari Abdullah bin Amru sebagai berikut. “Dari Abullah bin Umar berkata. Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Aku akan berbaiat kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah saw. bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (H.R. Baihaqi) Hadis di atas menegaskan kepada kita agar tidak sekali-kali mengecewakan kedua orang tua kita.

Menghormati Orang Tua

Perilaku menghormati kedua orang tua dapat diwujudkan dengan cara berikut ini.

1. Ketika orang tua masih hidup: a. Memperlakukan keduanya dengan sopan dan hormat; b. Membantu pekerjaanya; c. Mengikuti nasihatnya (apabila nasihat itu baik); d. Membahagiakan keduanya.

2. Ketika orang tua sudah meninggal; a. Jika keduanya muslim, kamu dapat mendoakan mereka setiap saat agar mendapat ampunan Allah Swt; Doa yang diajarkan Rasulullah saw. demikian:

Menghormati Orang Tua

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan rahmatilah mereka sebagaimana keduanya telah memeliharaku pada waktu kecil.”

b. Melaksanakan wasiatnya; c. Menyambung dan melanjutkan silaturahmi yang dahulu sudah dilakukan oleh kedua orang tua; d. Menjaga nama baik mereka

Aktivitas Siswa : 1. Cermati penjelasan tentang perilaku menghormati orang tua di atas ! 2. Apa saja yang pernah kamu lakukan untuk menghormati orang tuamu !

Kisah Umar dan Janda Tua

Pada suatu malam, Khalifah Umar bersama Aslam mengunjungi kampung yang terpencil. Khalifah terperanjat mendengar seorang gadis kecil menangis. Mereka segera bergegas mendekati asal suara itu. Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah memanaskan panci di atas tungku api, sambil mengaduk-aduk isi panci dengan sendok kayu yang panjang.

Umar pun menanyakan perihal anaknya yang menangis itu. Ibu tersebut menjawab, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat rakyatnya yang sengsara Sungguh kejam! Sejak dari pagi kami belum makan. Anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun, ternyata tidak. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong.

Aku mengumpulkan batu-batu kecil dan memasaknya untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur. Ternyata tidak, mungkin karena lapar, ia bangun dan menangis minta makan.” Mendengar keluhan si Ibu, dengan air mata berlinang Khalifah Umar bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu. Ketika sampai di tempat, Khalifah Umar meletakkan karung berisi gandum dan beberapa liter minyak samin ke tanah, kemudian memasaknya.

Setelah masak Khalifah Umar meminta Si Ibu membangunkan anaknya. Wanita itu berkata, “Terima kasih, semoga Allah membalas perbuatanmu.” Sebelum pergi Khalifah Umar menyuruh si Ibu untuk datang menemui Khalifah Umar, karena Khalifah akan memberikan haknya sebagai penerima santunan negara. Esok harinya wanita itu pergi menemui Khalifah Umar bin Khattab r.a. Tatkala wanita tersebut bertemu dengan sang Khalifah, betapa terkejutnya dia. Tak dinyana Khalifah Umar adalah orang yang memanggulkan dan memasakkan gandum tadi malam.

(Sumber: Kisah Penuh Hikmah, Anisa Widiyarti)

Kewajiban Menghormati Guru

Kita harus berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua. Kita juga diperintahkan untuk berbuat baik atau berbakti kepada guru. Gurulah yang telah mendidik dan mengajarkan ilmu kepada kita. Sebagai pendidik, guru membentuk kita menjadi manusia yang beriman, mengerti baik dan buruk, berbudi pekerti luhur, dan menjadi orang yang bertanggung jawab, baik kepada diri sendiri, masyarakat, bangsa, maupun negara. Gurulah yang menjadikan kita orang yang pandai dan memahami ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kita akan memperoleh kedudukan yang tinggi di hadapan Allah Swt., sebagaimana firman-Nya.

”…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orangorang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S. al-Mujadalah/58:11)

Cara berbakti kepada guru, antara lain dengan bersikap: 1. Mengucapkan salam apabila bertemu; 2. Memperhatikan apabila diajak bicara di dalam dan di luar kelas 3. Rendah hati, sopan, dan menghargai; 4. Melaksanakan nasihatnya; 5. Melaksanakan tugas belajar dengan ikhlas.

Kisah Imam Syafi’i Hormat kepada Gurunya

Dikisahkan, Imam Sy±fi’i yang sedang mengajar santri-santrinya di kelas, tiba-tiba dikejutkan kedatangan dengan seseorang berpakaian lusuh, kumal dan kotor. Seketika itu Imam Syafi’i mendekati dan memeluknya. Para santri kaget dan heran melihat perilaku gurunya itu. Mereka bertanya: “Siapa dia wahai Guru, sampai engkau memeluknya erat-erat. Padahal ia kumuh, kotor, dan menjijikkan?” Imam Sy±fi’i menjawab: “Ia guruku. Ia telah mengajariku tentang perbedaan antara anjing yang cukup umur dengan anjing yang masih kecil. Pengetahuan itulah yang membuatku bisa menulis buku fiqh ini.” Sungguh mulia akhlak Imam Sy±fi’i. Ia menghormati semua guru-gurunya, meskipun dari masyarakat biasa.

 

Perilaku Orang Yang Mencintai Ilmu

Perilaku Orang Yang Mencintai Ilmu

Perilaku Orang Yang Mencintai Ilmu

Mencintai Ilmu – Sebelum kalian menerapkan perilaku senang menuntut ilmu sebagai implementasi Q.S. ar-Rahm±n/55:33 dan Q.S. al-Muj±dalah/58:11, terlebih dahulu kalian harus membiasakan membaca al-Qur’±n setiap hari, baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan maupun yang lainya. Sikap dan perilaku terpuji yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan Q.S. ar-Rahm±n/55:33 dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut. 1. Senang membaca buku-buku pengetahuan sebagai bukti cinta ilmu pengetahuan. 2. Selalu ingin mencari tahu tentang alam semesta, baik di langit maupun di bumi, dengan terus menelaahnya. 3. Meyakini bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah Swt. untuk manusia.

Mencintai Ilmu

Mencintai Ilmu
Mencintai Ilmu

Mencintai Ilmu – Oleh karena itu, manusia harus merasa haus untuk terus menggali ilmu pengetahuan. 4. Rendah hati atas kesuksesan yang diraihya dan tidak merasa rendah diri dan malu terhadap kegagalan yang dialaminya. Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan Q.S. al-Muj±dalah/58:11 dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut. 1. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan berusaha untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. 2. Bersikap sopan saat belajar dan selalu menghargai dan menghormati guru. 3. Senang mendatangi guru untuk meminta penjelasan tentang ilmu pengetahuan.

Mencintai Ilmu

4. Selalu menyeimbangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan keyakinan terhadap kekuasaan Allah Swt. Setelah kamu dapat membaca dan memahmi isi kandungan Q.S. arRa¥man/55:33 dan Q.S. al-Mujadalah/58:11 dengan lancar, kamu harus bisa menunjukkan hafalan Q.S. ar-Ra¥man/55:33 dan Q.S. al-Mujadalah/58:11 dengan baik dan benar.

“Ibnu Hajar (Si Anak Batu)”

Mencintai Ilmu – Ada seorang ulama bernama Ibnu Hajar al-‘Asq±lan³. Pada mulanya, ia adalah seorang santri yang bodoh. Meskipun sudah lama belajar, dia belum juga paham. Akhirnya, Ibnu Hajar memutuskan untuk pulang. Dia pun mohon diri kepada kyainya supaya diperbolehkan pulang. Dengan berat hati sang kyai membolehkan Ibnu Hajar pulang, tetapi sambil berpesan agar Ibnu Hajar tidak berhenti belajar. Akhirnya Ibnu Hajar pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat.

Mencintai Ilmu – Dia terpaksa berteduh dalam sebuah gua. Pada saat di gua, dia mendengar suara gemericik air, lalu dia mendatangi sumber suara tersebut. Ternyata, itu suara gemericik air yang menetes pada sebongkah batu yang sangat besar. Batu besar itu berlubang karena telah bertahun-tahun terkena tetesan air. Melihat batu yang berlubang tersebut, akhirnya Ibnu Hajar merenung. Dia berpikir, batu yang besar dan keras ini lama-lama berlubang hanya karena tetesan air. Kenapa aku kalah dengan batu? Padahal akal dan pikiranku tidak sekeras batu, itu artinya aku kurang lama dan tekun belajar. Setelah berpikir, akhirnya Ibnu Hajar kembali lagi ke pondok untuk menemui sang kyai. Ia pun belajar lagi dengan penuh semangat.

Usaha tersebut tidak sia-sia. Dia berhasil menjadi orang alim, bahkan dapat mengarang beberapa kitab. Dari asal mula cerita batu di dalam gua, inilah kemudian beliau diberi sebutan Ibnu Hajar (Anak Batu). (Sumber: 60 Biografi Ulama Salaf, Syaikh Ahmad Farid)

Rangkuman

1. Kandungan Q.S. al-Rahm±n/55:33 meliputi: a. manusia dan jin tidak akan mampu menembus penjuru langit dan bumi untuk mengetahui isinya kecuali atas kekuatan dari Allah Swt.; b. kekuatan dari Allah Swt. itu berupa akal yang harus dikembangkan dengan cara belajar; c. belajar itu wajib agar kita dapat menguasai dunia untuk kebaikan umat. 2. Kandungan Q.S. al-Muj±dalah/58:11 meliputi: a. perintah untuk menuntut ilmu setinggi mungkin; b. perintah untuk selalu beriman kepada Allah Swt.; c. perintah untuk memuliakan orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. 3. Rasululah saw. menjelaskan bahwa, “menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap seorang Islam”. Etika dalam mencari ilmu antara lain: a. mencintai ilmu yang sedang dipelajari; b. menghormati orang yang memberikan ilmu (guru); c. tidak memotong pembicaran saat guru sedang menjelaskan; d. mendengarkan penjelasan guru dengan serius. 4. Syarat menuntut ilmu menurut Imam Syafi‘i adalah, kecerdasan, sungguh-sungguh, sabar, biaya, petunjuk guru, dan waktu yang lama. 5. Menuntut ilmu itu hukumnya wajib (fardu‘ain) bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan