Politik Etis dan Perkembangan Organisasi Nasional

Politik Etis dan Perkembangan Organisasi Nasional

Politik Etis dan Perkembangan Organisasi Nasional

Politik Etis dan Perkembangan Organisasi Nasional
Politik Etis dan Perkembangan Organisasi Nasional

Politik etis (politik balas budi) muncul pada tahun 1890 atas desakan golongan liberal dalam parlemen Belanda. Mereka yang berhaluan progresif tersebut memberikan usulan agar pemerintah Belanda memberikan perhatian kepada masyarakat Indonesia yang telah bersusah payah mengisi keuangan negara Belanda melalui program tanam paksa. Desakan ini muncul dari pemikiran bahwa negeri Belanda telah berutang banyak atas kekayaan bangsa Indonesia yang dinikmati oleh masyarakat Belanda.

Gagasan politik etis muncul dari Conraad Theodore van Deventer melalui tulisannya di majalah De Gids pada tahun 1899, dengan judul Een Eereschuld (Suatu Utang Budi). Dalam tulisan tersebut, van Deventer memberikan usulan agar pemerintah Belanda melaksanakan program yang bertujuan untuk membalas budi bangsa Indonesia. Program tersebut dikenal dengan istilah trilogi van Deventer, yang berisi :

Penyebaran Berita Proklamasi

1. Edukasi (Pendidikan)

2. Irigasi (Pengairan)

3. Imigrasi (Perpindahan penduduk)

Meskipun pemerintah Belanda telah menjalankan politik etis, tetap saja bangsa Indonesia belum mengalami perubahan yang berarti. Politik etis hanya menguntungkan Belanda, karena program pendidikan, pengairan dan perpindahan penduduk yang dicanangkan melalui politik etis dilaksanakan seluruhnya untuk memberikan keuntungan bagi pemerintah Belanda. Namun di sisi lain, tanpa di sadari oleh Belanda, politik etis ternyata telah melahirkan golongan terpelajar dari kalangan bangsa Indonesia, mereka inilah yang nantinya akan menggerakkan masyarakat untuk melawan Belanda melalui organisasi pergerakan nasional. Golongan terpelajar ini menyadari bahwa hanya dengan kemerdekaanlah bangsa Indonesia akan maju, sejahtera dan sejajar dengan bangsa lainnya di dunia.

PERAN GOLONGAN TERPELAJAR, PROFESIONAL DAN PERS DALAM MENUMBUHKAN KEBANGKITAN NASIONAL 

Adanya perkembangan pendidikan Barat dan pendidikan Islam mendorong kaum bumiputera mendapatkan peluang untuk mendapatkan pendidikan formal. Sehubungan dengan itu, lahir golongan terpelajar Indonesia. Kelompok tersebut memiliki kedudukan yang terhormat pada awal abad ke-20. Mereka lebih pintar dari kebanyakan orang Indonesia. Adapun dilihat dari kedudukan ekonominya, mereka lebih baik dari orangorang Indonesia lainnya.

Kelompok terpelajar Indonesia juga disebut sebagai kelompok masyarakat. Mereka terdiri atas para profesional atau yang memiliki keahlian tertentu karena pendidikan yang mereka sandang, seperti dosen, guru, dokter, dan ahli ekonomi. Mereka disebut profesional karena merupakan kelompok masyarakat yang memiliki keahlian yang terbentuk berkat pendidikan.

Sekolah yang dimasukinya ternyata dapat mengubah kedudukan mereka yang terpandang dan dapat berperan dalam masyarakat Indonesia. Kelompok terpelajar merupakan kelompok pertama yang menyadari bahwa penjajahan telah merugikan kepentingan bangsa Indonesia. Penjajahan yang melakukan diskriminasi atau membeda-bedakan antara orang Belanda dan pribumi harus dilawan. Mereka menjadi kelompok yang dapat menyampaikan ide-idenya tentang kebangsaan.

Kaum terpelajar berpendapatan bahwa penjajahan Belanda memiliki beberapa keburukan, di antaranya sebagai berikut. 1) Adanya diskriminasi dan pembatasan terhadap penduduk pribumi di segala bidang. 2) Belanda menguras sumber daya alam dan manusia Indonesia untuk kepentingan kolonial dan negeri Belanda. 3) Belanda sangat takut jika bangsa Indonesia menjadi bangsa yang pintar dan maju. Peranan kelompok terpelajar dalam membangkitkan kesadaran nasional tampak dalam kegiatan diskusi sosial atau politik yang sering mereka selenggarakan dalam proses belajar mereka.

Peranan mereka dilakukan di antaranya melalui hal-hal berikut :

1) Organisasi politik yang berperan sebagai sarana perjuangan mereka untuk mewujudkan cita-citanya.

2) Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, timbullah suatu kekuatan sosial baru dalam pentas politik nasional yang menyadari nasib buruk yang dialami bangsanya. Kelompok inilah yang kelak menjadi pemicu pergerakan nasional.

3) Menyapaikan kritik kepada kebijakan politik kolonial di Indonesia bahwa pemerintah kolonial telah melakukan praktik diskriminasi terhadap masyarakat pribumi.

4) Menyebarkan gagasan nasionalisme dan semangat kebangsaan dari hasil bacaan terhadap karya filsuf-filsuf dunia.

Sesungguhnya semangat kebangsaan bukan hanya ditumbuhkembangkan oleh golongan terpelajar di Indonesia, melainkan juga oleh pelajar Indonesia yang sekolah di negeri Belanda. Mereka juga banyak mempelajari pemikiran-pemikiran nasionalis, semangat demokrasi, dan hak-hak asasi manusia. Setelah belajar dan bergaul dengan berbagai bangsa, mereka dapat menyaksikan secara lebih nyata bahwa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia juga ditentang oleh golongan terpelajar Belanda di negerinya sendiri. Kaum terpelajar Indonesia yang berada di Belanda menemukan ide-ide politik mengenai kebebasan sipil dan pemerintah demokratis.

Pemikiran-pemikiran dan kelompok sosialis yang antikapitalisme juga dicerna dengan baik oleh mereka dan dijadikan sebagai salah satu semangat perjuangan untuk melawan kolonialisme di Indonesia, serta mendorong kemerdekaan ekonomi dan politik. Selain kaum terpelajar, pers juga memiliki peranan penting dalam menumbuhkembangkan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Pers adalah kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan penerbitan berita atau informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Penerbitan pers didukung oleh para golongan terpelajar yang berprofesi sebagai penulis, wartawan, atau penyiar berita. Bahasa cetak menjadi sarana penting dalam menumbuhkan semangat dan kesadaran nasional. Melalui pers, komunikasi dan penyebaran infomiasi lebih bebas, terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun tanpa membedakan golongan dan kedudukan sosial ekonomi.

PERKEMBANGAN BEBERAPA ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL 

Dalam sub bab sebelumnya telah dibahas mengenai dampak munculnya politik etis bagi bangsa Indonesia, yaitu munculnya golongan terpelajar yang kemudian mendirikan organisasi-organisasi pergerakan nasional, berikut adalah profil beberapa organisasi tersebut:

1. Budi Utomo

Budi Utomo didirikan tanggal 20 Mei 1908 oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo, seorang pelajar STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) di Jakarta. Pada awal perkembangannya, Budi utomo merupakan organisasi pelajar dengan pelajar STOVIA sebagai intinya. Namun, setelah kongresnya yang pertama pada Bulan Oktober 1908, Budi Utomo berubah haluan menjadi organisasi yang keanggotaannya terdiri dari para pegawai negeri dan priyayi yang berasal dari suku Jawa dan Madura. Ditegaskan pula dalam kongres tersebut bahwa Budi Utomo hanya bergerak dalam bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.

Dalam anggaran dasarnya yang disetujui pemerintah pada tanggal 28 Desember 1908, Budi utomo bertekad untuk memajukan bangsa dan nusa Jawa dan Madura serta memberikan bantuan kepada orang-orang yang yang mempeunyai tujuan yang sama.

2. Sarekat Islam

Pada awalnya, Sarekat Islam bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi pada tahun 1911 untuk membendung monopoli perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang Cina. Pada tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam dengan HOS Cokroaminoto sebagai ketuanya. Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan dan suku yang beragama Islam. Tujuan pergerakannya adalah memajukan perdagangan, membantu anggotanya yang mengalami kesulitan dan memajukan kepentingan Islam serta kepentingan jasmani dan rohani.

3. Indische Partij

Indische Partij didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 oleh E.F.E Douwes Dekker (Danudirdja Setiabudi), dr. Tjipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara). Indische Partij secara tegas menyatakan tujuannya yaitu melepaskan diri dari penjajahan Belanda dengan semboyan “Indie los van Holland” (Hindia bebas dari Holland) dan “Indie voor Inders” ( Hindia untuk orang Hindia). Indische Partij merupakan organisasi yang menerapkan prinsip nasionalisme hindia sehingga organisasi ini terbuka luas bagi seluruh golongan, baik suku bangsa maupun agama. Dengan demikian, partai ini berusaha untuk menghilangkan diskriminasi dikalnagan masyarakat.

4. Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang sosial keagamaan. Didirikan di Yogyakarta oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 Nopember 1918. Tujuan Muhammadiyah adalah mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah, serta memberantas kebiasaan kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan Muhammadiyah tersebut direalisasikan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, pusat-pusat pelayanan kesehatan, serta masjid masjid dan lembaga da’wah. Selain di Yogyakarta, Muhammadiyah juga segera menyebar ke kota-kota lain baik yang ada di Jawa maupun di Pulau Jawa. Sampai saat ini, Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi yang masih tetap berdiri dan konsisten dalam melaksakan programnya yaitu memajukan pendidikan Islam.

5. Taman Siswa

Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantar) pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta dan bergerak dalam bidang pendidikan. Pendidikan Taman Siswa didasarkan pada sistem among, dimana guru bertindak sebagai pemimpin yang berada di belakang dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk maju dan berkembang di depan dengan arahan sang guru. Selain itu, Taman Siswa da menggunakan sistem pondok, dimana guru dan siswa tinggal bersama dalam satu asrama. Melalui sitem pendidikan kebangsaannya, Taman Siswa semakin berkembang dan memiliki beberapa cabang di luar Kota Yogyakarta.

6. Partai Nasional Indonesia (PNI)

Organisasi ini didirikan oleh Ir. Sukarno di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 sebagai kelanjutan dari organisasi pelajar bernama Algemeene Studie Club. Tujuan utama PNI adalah mencapai kemerdekaan, karena dengan merdeka bangsa Indonesia dapat memperbaiki struktur masyarakat, sosial, ekonomi dan politik secara mapan. PNI adalah salah satu partai yang keras dan radikal terhadap pemerintah Belanda, mereka menolak mentah-mentah mendudukkan wakilnya didalam volksraad (semacam Dewan perwakilan bangsa Indonesia yang dibentuk oleh Belanda). Karena sifatnya yang radikal inilah, pemerintah Belanda kemudian menangkap para peminpin PNI, bahkan beberapa tokoh PNI seperti Sukarno harus di hukum buang ke beberapa daerah. Hukuman yang dijatuhkan kepada para tokoh PNI ini berpengaruh besar terhadap perkembangan partai, sehingga partai ini kemudian membubarkan diri dan terpecah menjadi dua, yaitu PNI Baru dan Partindo.

7. Gerakan Wanita

Gerakan wanita pada awalnya diprakarsai oleh R.A. Kartini, diteruskan oleh Dewi Sartika dan Maria Walanda Maramis. Gerakan wanita kemudian berkembang melalui organisasi-organisasi kewanitaan seperti Putri Mardika di Jakarta pada tahun 1922 sebagai bagian dari Budi utomo yang memiliki program bimbingan pengajaran untuk para gadis, pemberian beasiswa dan menerbitkan majalah sendiri yang dinamakan “Putri Mardika”. Di Tasikmalaya berdiri organisasi Kautamaan Istri yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika. Selain Putri Mardika, berdiri pula organisasi-organisasi bagian dari organisasi yang sudah ada, seperti Aisyiyah sebagai bagian dari Muhammadiyah, dan Sarekat Puteri Islam sebagai bagian dari Sarekat Islam. Pada tanggal 22-25 Desember tahun 1928 diadakan Kongres Perempuan pertama yang memicarakan masalah persatuan di kalangan wanita, masalah wanita dalam keluarga, poligami dan perceraian. Hasil terpenting dari kongres ini adalah terbentuknya Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). PPPI inilah yang kemudian menyelenggarakan Kongres Perempuan yang kedua pada tahun 1935 dengan pokok bahasan masalah buruh wanita, pemberantasan buta huruf dan semangat kebangsaan. Sangat terlihat dalam kongres yang kedua ini para wanita Indonesia mampu memposisikan dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya perjuangan nasional demi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Apa yang dimaksud dengan organisasi

Apa yang dimaksud dengan organisasi

Apa yang dimaksud dengan organisasi

Organisasi adalah merupakan kesatuan antara orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan secara bersama yang terikat oleh aturanaturan. Apabila kamu sudah memahami hal di atas, maka akan dengan mudah kita melaksanakannya. Hal yang terpenting dalam suatu organisasi adalah orangorang yang berda di dalamnya , mampu memahami dan melaksanakan tugas yang dibebankannya sesuai dengan kapasitasnya.

Apa yang dimaksud dengan organisasi
Apa yang dimaksud dengan organisasi

Disebabkan, bagaimanapun hal tersebut para anggotanyalah yang bertanggung jawab atas sukses dan tidaknya suatu kegiatan.

1) Fungsi Organisasi.

Organisasi adalah merupakan suatu alat mengkoordinasikan, mengarahkan dari beberapa potensi yang dimiliki dari unsure-unsur lain,sehingga mencapai satu tujuan dan mencapai kata mufakat dalam melaksanakan perencanaan yang telah ditentukan sebelumnya. 2) Prinsif dalam Organisasi Berikut beberapa prinsip dalam organisasi, sebagai berikut (1) Tujuan organisasi harus jelas dan nyata (2) Pembagian tugas harus jelas dan sesuai dengan kemampuannya. (3) Adanya pembagian dan pemindahan tanggung jawab. (4) Pengawasan (5) Satu kesatuan perintah dan tujuan. (6) Organisasi harus fleksibel. f. Menyusun Kepanitiaan Keberadaan panitia di dalam suatu pergelaran sangat penting, karena dari masing-masing bagian mempunyai tugas yang mesti dipertanggung jawabkan, agar pergelaran berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Dalam penyusunan kepanitiaan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Adapun susunan kepanitiaan itu pada umumnya terdiri dari beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut: penasihat, penanggungjawab, ketua pelaksana, sekretaris, bendahara, seksi-seksi.

Untuk lebih jelas untuk fungsi dari masing-masing komponen tersebut, silahkan Anda simak penjelasan berikut.

1) Penasihat Biasanya ditunjuk orang yang dianggap paling mampu dalam menyelesaikan permasalahan, dan diharapkan mampu memberikan tuntunan, arahan dan motivasi kepada semua panitia dalam melaksanakan tugas. • Biasanya tugas yang diberikan pada seorang penasihat adalah:

• Menerima laporan tentangh rencana yang akan dilaksanakan

• Mengevaluasi kerja yang dilakukan

• Memecahkan permasalahan yang ada dalam organisasi

• Ikut bertanggung jawab dalam jalannya pergelaran

2) Penanggung jawab Orang yang menjadi penanggung jawab harus seorang pucuk pimpinan, minimal yang menjadi wakil, hal ini harus dapat memantau semua pekerjaan yang dilakukan secara rutin. Penanggung jawab boleh juga mewakili penasihat, jika penasihat ada suatu masalah yang mendadak.

3) Ketua Ketua adalah orang yang diharapkan dapat mengatur jalannya organisasi, mampu memecahkan berbagai permasalahan yang terdapat pada saat-saat pergelaran berlangsung, memiliki sifat kepemimpinan yang tegas, jujur, sabar dan bijaksana. Seorang ketua harus mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang telah menjadi garapannya. Adapun tugas seorang ketua adalah:

• Membuat proposal • Sebagai nara sumber dan fasilitator • Memimpin rapat pada saat-saat tertentu • Membuat laporan pertanggung jawaban

4) Sekretaris Sekretaris adalah orang yang bertugas sebagai pencatat data, selain sebagai pencatat data juga sebagai pendamping ketua dalam rapat. Selain itu juga sekretaris sebagai pembuat surat-surat pemberitahuan kepada pihakpihak yang bersangkutan pada kegiatan pergelaran. Sekretaris juga harus dapat membuat pengarsipan surat-surat penting dan menyusunnya sesuai dengan tanggal waktu pengeluaran surat secara tersusun dan teratur. Selain itu harus mengetahui isi surat yang dikirimkan kepada orang lain, mengetahui nomor surat, perihal, lampiran, kepada siapa surat dikirim, tempat, tanggal, waktu dan tema.

5) Bendahara Bendahara adalah orang yang bertanggung jawab secara penuh terhadap penggunaan, penyimpanan dan penerimaan uang yang masuk sebagai biayapergelaran. Seorang bendahara harus jujur, cermat sabar dan tidak boros.

6) Seksi-seksi Seksi-seksi adalah bagian dari kepanitiaan yang bertugas mengurus sesuatu yang spesifik. Adapun seksi-seksi yang bertugas untuk membantu pergelaran musik agar dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan adalah sebagai berikut.

(1) Seksi Usaha . seksi ini berkewajiban membantu dalam pencarian dana atau sumbangan dari berbagai pihak untuk menunjang pada keberhasilan pergelaran itu sendiri.

(2) Seksi Dokumentasi, Seksi ini tugasnya adalah mengambil gambar untuk dokumen. Seksi ini selalu diidentikkan pada pengambilan foto, selain itu tugas yang harus dikerjakan oleh seksi ini juga: • Mengetahui susunan acara • Mengetahui medan dari pergelaran tersebut, sehingga kalau mengambil • Gambar betul-betul yang dianggap paling tepat dan indah. • Menyimpan hasil gambar yang akan dijadikan dokumen.

(3) Seksi Perlengkapan, seksi ini diperlukan banyak orang, mengingat tugas yang akan diberikannya cukup berat, Adapun tugas dari seksi ini adalah: • Mempersiapkan tempat untuk pelaksanaan pergelaran tersebut • Menyusun serta menata tempat pergelaran, sehingga terlihat indah dan efisien. Penggunaannya yang tentunya akaan disesuaikan dengan warna pertujukan pergelaran itu sendiri. • Menginventarisasikan barang-barang yang akan dipergunakan dalam pergelaran tersebut.

Hal ini untuk memudahkan proses penggunaan, pengambilan, atau penerimaan kembali barang yang diambil.

(4) Seksi Konsumsi, Seksi ini bertugas mengurusi konsumsi pada waktu pembukaan bagi panitia, tamu undangan, dll.

 

Organisasi Islam di Indonesia

Organisasi Islam di Indonesia

Organisasi Islam di Indonesia

Perhimpunan Indonesia: Manifesto Politik

 

Pada awal abad ke-20, para pelajar Hindia yang berada di Belanda mendirikan organisasi yang bernama Indische Vereniging (1908), yaitu perkumpulan Hindia, yang beranggotakan orang-orang Hindia, Cina dan Belanda. Organisasi itu didirikan oleh R.M Notosuroto, R. Panji Sostrokartono, dan R. Husein Jajadiningrat. Semula organisasi itu bergerak di bidang sosial dan kebudayaan sebagai ajang bertukar pikiran tentang situasi tanah air. Organisasi itu juga menerbitkan majalah yang diberi nama Hindia Putera. Banyaknya pemuda-pemuda pelajar di tanah Hindia yang dibuang ke Belanda, semakin menggiatkan aktivitas perkumpulan itu. Dalam perkembangan selanjutnya perkumpulan itu mengutamakan masalah-masalah politik. Jiwa kebangsaan yang semakin kuat diantara mahasiswa Hindia di Belanda mendorong mereka untuk mengganti nama Indische Vereninging menjadi Indonesische Vereeniging (1922). Selanjutnya perkumpulan itu berganti nama Indonesische Vereeniging (1925), dengan pimpinan Iwa Kusuma Sumatri, JB. Sitanala, Moh.Hatta, Sastramulyono, dan D. Mangunkusumo. Nama perhimpunannya diganti lagi menjadi “Perhimpunan Indonesia” (PI). Nama majalah terbitan mereka juga berganti nama Indonesia Merdeka. Itu semua merupakan usaha baru dalam memberikan identitas nasioalis yang muncul di luar tanah air. Mereka juga membuat simbol-simbol baru, merah putih sebagai lambang mereka dan Pangeran Diponegoro sebagai tokoh perjuangan. Perhimpoenan Indonesia semakin mendapat simpatik dari para mahasiswa Indonesia di tanah Belanda. Jumlah keanggotaannya pun semakin bertambah banyak. Tahun 1926 jumlah anggota mencapai 38 orang. Di tanah Belanda itulah para mahasiswa itu menyerukan pada semua pemuda di Indonesia Hindia untuk bersatu padu dalam setiap gerakan-gerakan mereka. PI bersemboyan “ self reliance, not mendiancy”, yang berarti tidak memintaminta dan menuntut-nuntut. Dalam Anggaran Dasarnya juga disebutkan, bahwa kemerdekaan Indonesia hanya diperoleh melalui aksi bersama, yaitu kekuatan serentak oleh seluruh rakyat Indonesia berdasarkan kekuatan sendiri. Kepentingan penjajah dan yang terjajah berlawanan dan tidak mungkin diadakan kerjasama (nonkoperasi). Bangsa Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak tergantung pada bangsa lain. PI menjadi organisasi politik yang semakin disegani karena pengaruh Moh. Hatta. Di bawah pimpinan Hatta, PI berkembang dengan pesat dan merangsang para mahasiswa yang ada di Belanda untuk terus memikirkan  kemerdekaan tanah airnya. Aktivitas politik PI tidak saja dilakukan di Belanda dan Indonesia, juga dilakukan secara internasional. Mahasiswa secara teratur melakukan diskusi dan melakukan kritik terhadap pemerintah Belanda. PI juga menuntut kemerdekaan Indonesia dengan segera. Dengan demikian jelaslah bahwa Perhimpunan Indonesia merupakan manifesto politik pergerakan Indonesia. Karena Perhimpunan itu lahir di negeri asing yang saat itu menjadi penjajah tanah Hindia. Dari tempat penjajah itulah  perkumpulan pemuda terpelajar itu berhasil mengobarkan semangat dan panji-panji kemerdekaan Indonesia. jelaslah bahwa para pemuda Indonesia tidak takut untuk membela dan berjuang untuk kemerdekaan tanah airnya dengan segala resikonya.

Taman Siswa

Awalnya, Taman Siswa bernama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Institut Pendidikan Nasional Taman Siswa). Saat itu Taman Siswa hanya memiliki 20 murid kelas Taman Indria. Namun, kemudian Taman Siswa berkembang pesat dengan memiliki 52 cabang dengan murid kurang lebih 65.000 siswa. Azas Taman Siswa adalah “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Hkamuyani”. Artinya, “guru di depan harus memberi contoh atau teladan, di tengah harus bisa menjalin kerjasama, dan di belakang harus memberi motivasi atau dorongan kepada para siswanya.” Azas ini masih relevan dan penting dalam dunia pendidikan. Taman Siswa mendobrak sistem pendidikan Barat dan pondok pesantren, dengan mengajukan sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional yang ditawarkan adalah pendidikan bercirikan kebudayaan asli Indonesia.

Taman Siswa mengalami banyak kendala dari pihak-pihak yang tidak mendukung. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan berbagai aturan untuk membatasi pergerakan Taman Siswa, seperti dikenai pajak rumah tangga dan Undang-Undang Ordonansi Sekolah Liar Tahun 1932 yakni larangan mengajar bagi guru-guru yang terlibat partai politik. Taman siswa mampu memberikan kontribusi yang luar biasa bagi masyarakat luas dengan pendidikan, Taman Siswa mampu menyediakan pendidikan untuk rakyat yang tidak mampu disediakan oleh pemerintah kolonial. Saat ini sekolah Taman Siswa masih berdiri dan tetap berperan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Organisasi Buruh

Perkumpulan Adhi Dharma yang didirikan oleh Suryopranoto (kakak Ki Hajar Dewantara) pada tahun 1915 berperan sebagai organisasi yang membela kepentingan kaum buruh, termasuk membantu para buruh yang dipecat untuk memperoleh pekerjaan baru dan membantu keuangan mereka selama mencari pekerjaan. Pada bulan Agustus 1918, Suryopranoto membentuk gerakan kaum buruh bernama Prawiro Pandojo ing Joedo atau Arbeidsleger (tentara buruh) yang merupakan cabang dari Adhi Dharma. Organisasi ini didirikan sebagai dampak dari terjadinya aksi perlawanan kaum buruh pabrik gula di Padokan (sekarang pabrik gula Madukismo), Bantul, Yogyakarta. Bulan November 1918, Suryopranoto mendeklarasikan berdirinya Personeel Fabriek Bond (PFB) yang beranggotakan buruh tetap, Perkumpulan Tani dan koperasi yang kemudian lazim disebut sebagai Sarekat Tani dengan anggota kuli kenceng atau pemilik tanah yang disewa pabrik, serta Perserikatan Kaoem Boeroeh Oemoem (PKBO) yang beranggotakan buruh musiman. PFB didirikan untuk membela kepentingan kaum buruh yang terus mengalami penindasan. Bersama PFB, Suryopranoto memimpin banyak aksi mogok kerja untuk menuntut peningkatan kesejahteraan bagi kaum buruh. Pada tahun 1918 Adi Dharma menjadi bagian dari Sarekat Islam (SI), maka Personeel Fabriek Bond (PFB) yang terbentuk dalam tahun tersebut otomatis berada di bawah perlindungan Central Sarekat Islam (CSI).

Sepulang dari pembuangan penjara Sukamiskin, Suryopranoto dan Adhi Dharma turut berkiprah sebagai pengajar di Taman Siswa, lembaga pendidikan untuk kaum bumiputera yang didirikan oleh sang adik, Suwardi Suryaningrat, yang saat itu telah berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara.