Materi Tentang Reproduksi pada Monera

Materi Tentang Reproduksi pada Monera

Materi Tentang Reproduksi pada Monera

Reproduksi pada Monera – Reproduksi pada Monera a. Reproduksi aseksual Pada umumnya bakteri berkembang biak dengan pembelahan biner, artinya pembelahan terjadi secara langsung, dari satu sel membelah menjadi dua sel anakan. Masing-masing sel anakan akan membentuk dua sel anakan lagi, demikian seterusnya. Proses pembelahan biner diawali dengan proses replikasi DNA menjadi dua kopi DNA identik, diikuti pembelahan sitoplasma dan akhirnya terbentuk dinding pemisah di antara kedua sel anak bakteri. Perhatikan gambar skematik pembelahan biner sel bakteri di samping! Bagaimanakah kecepatan pertumbuhan populasi bakteri? Mengapa bakteri patogen tetap ada sekalipun berbagai antibiotik pelawannya telah digunakan? Mengapa tidak juga dipenuhi oleh bakteri? Coba anda lakukan aktivitas di bawah ini!

Reproduksi pada Monera

Reproduksi pada Monera
Reproduksi pada Monera

Tujuan: menghitung pertambahan populasi bakteri

Reproduksi pada Monera – Bakteri Eschericcia coli membelah setiap 20 menit, artinya satu sel bakteri E.coli melalui proses pembelahan biner, 20 menit kemudian menjadi 2 sel bakteri. 1. Hitunglah berapa besar populasi E.coli jika satu sel bakteri membelah dalam waktu 24 jam! Berapa pula besar populasinya jika membelah dalam waktu seminggu (7 hari)? 2. Lakukanlah kajian kepustakaan untuk menjawab masalah berikut ini! a. Berbagai antibiotik pelawan bakteri telah ditemukan dan digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan infeksi bakteri. Mengapa bakteri patogen penyebab penyakit tidak pernah musnah? b. Jika bakteri berkembang dengan pesat, mengapa dunia ini tidak dipenuhi dengan bakteri?

Reproduksi pada Monera

b. Reproduksi seksual

Reproduksi pada Monera – Bakteri berbeda dengan eukariota dalam hal cara penggabungan DNA yang datang dari dua individu ke dalam satu sel. Pada eukariota, proses seksual secara meiosis dan fertilisasi mengkombinasi DNA dari dua individu ke dalam satu zigot. Akan tetapi, jenis kelamin yang ada pada ekuariota tidak terdapat pada prokariota. Meiosis dan fertilisasi tidak terjadi, sebaliknya ada proses lain yang akan mengumpulkan DNA bakteri yang datang dari individu-individu yang berbeda. Proses-proses ini adalah pembelahan transformasi, transduksi dan konjugasi.

Reproduksi pada Monera

1) Transformasi Dalam konteks genetika bakteri, transformasi merupakan perubahan suatu genotipe sel bakteri dengan cara mengambil DNA asing dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, pada bakteri Streptococcus pneumoniae yang tidak berbahaya dapat ditransformasi menjadi sel-sel penyebab pneumonia dengan cara mengambil DNA dari medium yang mengandung sel-sel strain patogenik yang mati. Transformasi ini terjadi ketika sel nonpatogenik hidup mengambil potongan DNA yang kebetulan mengandung alel untuk patogenisitas (gen untuk suatu lapisan sel yang melindungi bakteri dari sistem imun inang) alel asing tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kromosom bakteri menggantikan alel aslinya untuk kondisi tanpa pelapis. Proses ini merupakan rekombinasi genetik – perputaran segmen DNA dengan cara pindah silang (crossing over). Sel yang ditransformasi ini sekarang memiliki satu kromosom yang mengandung DNA, yang berasal dari dua sel yang berbeda. Bertahun-tahun setelah transformasi ditemukan pada kultur laboratorium, sebagian besar ahli biologi percaya bahwa proses tersebut terlalu jarang dan terlalu kebetulan, sehingga tidak mungkin memainkan peranan penting pada populasi bakteri di alam. Tetapi, para saintis sejak saat itu telah mempelajari bahwa banyak spesies bakteri dipermukaannya memiliki protein yang terspesialisasi untuk mengambil DNA dari larutan sekitarnya. Protein-protein ini secara spesifik hanya mengenali dan mentransfer DNA dari spesies bakteri yang masih dekat kekerabatannya. Tidak semua bakteri memiliki protein membran seperti ini. Seperti contohnya, E. Coli sepertinya sama sekali tidak memiliki mekanisme yang tersepesialisasi untuk menelan DNA asing. Walaupun demikian, menempatkan E. Coli di dalam medium kultur yang mengandung konsentrasi ion kalsium yang relatif tinggi secara artifisial akan merangsang sel-sel untuk menelan sebagian kecil DNA. Dalam bioteknologi, teknik ini diaplikasikan untuk memasukkan gengen asing ke dalam E. Coli, gen-gen yang mengkode protein yang bermanfaat, seperti insulin manusia dan hormon pertumbuhan.

2) Transduksi Pada proses transfer DNA yang disebut transduksi, faga membawa gen bakteri dari satu sel inang ke sel inang lainnya. Ada dua bentuk transduksi yaitu transduksi umum dan transduksi khusus. Keduanya dihasilkan dari penyimpangan pada siklus reproduktif faga. Diakhir siklus litik faga, molekul asam nukleat virus dibungkus di dalam kapsid, dan faga lengkapnya dilepaskan ketika sel inang lisis. Kadangkala sebagian kecil dari DNA sel inang yang terdegradasi menggantikan genom faga. Virus seperti ini cacat karena tidak memiliki materi genetik sendiri. Walaupun demikian, setelah pelepasannya dari inang yang lisis, faga dapat menempel pada bakteri lain dan menginjeksikan bagian DNA bakteri yang didapatkan dari sel pertama. Beberapa DNA ini kemudian dapat menggantikan daerah homolog dari kromosom sel kedua. Kromosom sel ini sekarang memiliki kombinasi DNA yang berasal dari dua sel sehingga rekombinasi genetik telah terjadi. Jenis transduksi ini disebut dengan transduksi umum karena gen-gen bakteri ditransfer secara acak. Untuk transduksi khusus memerlukan infeksi oleh faga temperat, dalam siklus lisogenik genom faga temperat terintegrasi sebagai profaga ke dalam kromosom bakteri inang, di suatu tempat yang spesifik. Kemudian ketika genom faga dipisahkan dari kromosom, genom faga ini membawa serta bagian kecil dari DNA bakteri yang berdampingan dengan profaga. Ketika suatu virus yang membawa DNA bakteri seperti ini menginfeksi sel inang lain, gen-gen bakteri ikut terinjeksi bersama-sama dengan genom faga. Transduksi khusus hanya mentransfer gen-gen tertentu saja, yaitu gen-gen yang berada di dekat tempat profaga pada kromosom tersebut.

c. Konjugasi dan Plasmid

Konjugasi merupakan transfer langsung materi genetik antara dua sel bakteri yang berhubungan sementara. Proses ini, telah diteliti secara tuntas pada E. Coli. Transfer DNA adalah transfer satu arah, yaitu satu sel mendonasi (menyumbang) DNA, dan “pasangannya” menerima gen. Donor DNA, disebut sebagai “jantan”, menggunakan alat yang disebut piliseks untuk menempel pada resipien (penerima) DNA dan disebut sebagai “betina”. Kemudian sebuah jembatan sitoplasmik sementara akan terbentuk diantara kedua sel tersebut, menyediakan jalan untuk transfer DNA. Plasmid adalah molekul DNA kecil, sirkular dan dapat bereplikasi sendiri, yang terpisah dari kromosom bakteri. Plasmid-plasmid tertentu, seperti plasmid f, dapat melakukan penggabungan reversibel ke dalam kromosom sel. Genom faga bereplikasi secara terpisah di dalam sitoplasma selama siklus litik, dan sebagai bagian integral dari kromosom inang selama siklus lisogenik. Plasmid hanya memiliki sedikit gen, dan gen-gen ini tidak diperlukan untuk pertahanan hidup dan reproduksi bakteri pada kondisi normal. Walaupun demikian, gengen dari plasmid ini dapat memberikan keuntungan bagi bakteri yang hidup di lingkungan yang banyak tekanan. Contohnya, plasmid f mempermudah rekombinasi genetik, yang mungkin akan menguntungkan bila perubahan lingkungan tidak lagi mendukung strain yang ada di dalam populasi bakteri. Plasmid f , terdiri dari sekitar 25 gen, sebagian besar diperlukan untuk memproduksi piliseks. Ahli-ahli genetika menggunakan simbol f+ (dapat diwariskan). Plasmid f bereplikasi secara sinkron dengan DNA kromosom, dan pembelahan satu sel f+ biasanya menghasilkan dua keturunan yang semuanya merupakan f+. Sel-sel yang tidak memiliki faktor f diberi simbol f-, dan mereka berfungsi sebagai recipien DNA (“betina”) selama konjugasi. Kondisi f+ adalah kondisi yang “menular” dalam artian sel f+ dapat memindah sel f- menjadi sel f+ ketika kedua sel tersebut berkonjugasi.

Plasmid f bereplikasi di dalam sel “jantan”, dan sebuah salinannya ditransfer ke sel “betina” melalui saluran konjugasi yang menghubungkan sel-sel tersebut. Pada perkawinan f+ dengan f- seperti ini, hanya sebuah plasmid f yang ditransfer. Gen-gen dari kromosom bakteri tersebut ditransfer selama konjugasi ketika faktor f dari donor sel tersebut terintegrasi ke dalam kromosomnya. Sel yang dilengkapi dengan faktor f dalam kromosomnya disebut sel Hfr ( high frequency of recombination atau rekombinasi frekuensi tinggi). Sel Hfr tetap berfungsi sebagai jantan selama konjugasi, mereplikasi DNA faktor f dan mentransfer salinannya ke f- pasangannya. Tetapi sekarang, faktor f ini mengambil salinan dari beberapa DNA kromosom bersamanya. Gerakan acak bakteri biasanya mengganggu konjugasi sebelum salinan dari kromosom Hfr dapat seluruhnya dipindahkan ke sel f-. Untuk sementara waktu sel resipien menjadi diploid parsial atau sebagian, mengandung kromosomnya sendiri ditambah dengan DNA yang disalin dari sebagian kromosom donor. Rekombinasi dapat terjadi jika sebagian DNA yang baru diperoleh ini terletak berdampingan dengan daerah homolog dari kromosom F-, segmen DNA dapat dipertukarkan. Pembelahan biner pada sel ini dapat menghasilkan sebuah koloni bakteri rekombinan dengan gen-gen yang berasal dari dua sel yang berbeda, dimana satu dari strain-strain bakteri tersebut sebenarnya merupakan Hfr dan yang lainnya adalah F.

Pada tahun 1950-an, pakar-pakar kesehatan jepang mulai memperhatikan bahwa beberapa pasien rumah sakit yang menderita akibat disentri bakteri, yang menyebabkan diare parah, tidak memberikan respons terhadap antibiotik yang biasanya efektif untuk pengobatan infeksi jenis ini. Tampaknya, resistensi terhadap antibiotik ini perlahan-lahan telah berkembang pada strain-strain Shigella sp. tertentu, suatu bakteri patogen. Akhirnya, peneliti mulai mengidentifikasi gen-gen spesifik yang menimbulkan resistensi antibiotik pada Shigella dan bakteri patogenik lainnya. Beberapa gengen tersebut, mengkode enzim yang secara spesifik menghancurkan beberapa antibiotik tertentu, seperti tetrasiklin atau ampisilin. Gengen yang memberikan resistensi ternyata di bawa oleh plasmid. Sekarang dikenal sebagai plasmid R (R untuk resistensi). Pemaparan suatu populasi bakteri dengan suatu antibiotik spesifik baik di dalam kultur laboratorium maupun di dalam organisme inang akan membunuh bakteri yang sensitif terhadap antibiotik, tetapi hal itu tidak terjadi pada bakteri yang memiliki plasmid R yang dapat mengatasi antibiotik. Teori seleksi alam memprediksi bahwa, pada keadaan-keadaan seperti ini, akan semakin banyak bakteri yang akan mewarisi gen-gen yang menyebabkan resistensi antibiotik. Konsekuensi medisnya pun terbaca, yaitu strain patogen yang resisten semakin lama semakin banyak, membuat pengobatan infeksi bakteri tertentu menjadi semakin sulit. Permasalahan tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa plasmid R, seperti plasmid F, dapat berpindah dari satu sel bakteri ke sel bakteri lainnya melalui konjugasi.

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim
Dampak perubahan iklim

Dampak perubahan iklim – Kenaikan muka air laut antara 8 hingga 30 centimeter juga akan berdampak parah pada kota-kota pesisir seperti Jakarta dan Surabaya yang akan makin rentan terhadap banjir dan limpasan badai. Masalah ini sudah menjadi makin parah di Jakarta karena bersamaan dengan kenaikan muka air laut, permukaan tanah turun: pendirian bangunan bertingkat dan meningkatnya pengurasan air tanah telah menyebabkan tanah turun. Namun Jakarta memang sudah secara rutin dilanda banjir besar: pada awal Februari, 2007, banjir di

Dampak perubahan iklim – Jakarta menewaskan 57 orang dan memaksa 422.300 meninggalkan rumah, yang 1.500 buah di antaranya rusak atau hanyut. Total kerugian ditaksir sekitar 695 juta dolar.7 Suatu penelitian memperkirakan bahwa paduan kenaikan muka air laut setinggi 0,5 meter dan turunnya tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan enam lokasi terendam secara permanen dengan total populasi sekitar 270,000 jiwa, yakni: tiga di Jakarta – Kosambi, Penjaringan dan Cilincing; dan tiga di Bekasi – Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya.8 Banyak wilayah lain di negeri ini juga akhir-akhir ini baru dilanda bencana banjir. Banjir besar di Aceh, misalnya, di penghujung tahun 2006 menewaskan 96 orang dan membuat mengungsi 110,000 orang yang kehilangan sumber penghidupan dan harta benda mereka. Pada tahun 2007 di Sinjai, Sulawesi Selatan banjir yang berlangsung berharihari telah merusak jalan dan memutus jembatan, serta mengucilkan 200.000 penduduk. Selanjutnya masih pada tahun itu, banjir dan longsor yang melanda Morowali, Sulawesi Utara memaksa 3.000 orang mengungsi ke tenda-tenda dan barakbarak darurat.

Dampak perubahan iklim – Beban kumulatif Masyarakat miskin karenanya adalah yang akan paling menderita oleh perubahan iklim. Namun, berbagai dampak ini juga akan menambah berbagai kesengsaraan yang sudah mereka alami. Beban kesengsaraan itu antara lain: Yang miskin makin miskin Bagi rakyat yang hidupnya sudah sengsara, berbagai tambahan beban dari perubahan iklim akan makin menyengsarakan – dan makin menuntut biaya. Kebanyakan petani padi, misalnya, saat ini menggunakan varietas hibrid yang menuntut ketersediaan air yang cukup. Ketika hujan tidak turun pada waktunya, sebagian mereka sudah harus berhutang untuk membeli bahan bakar untuk memompa air tanah. Dengan begitu meski sawah mereka akhirnya dapat menghasilkan panen, sebagian besar hasil panen itu akan digunakan untuk membayar hutang. Suatu ilustrasi nyata pengaruh bencana berkaitan dengan iklim terhadap masyarakat miskin terjadi di Indramayu Jawa Barat – sebuah kabupaten yang pada waktu tahun El Niño biasanya mengalami kemarau panjang.Diagram 5 menunjukkan taraf kemiskinan pada tahun normal 2001, dibandingkan dengan tahun El Niño 2003.9 Ini boleh jadi merupakan akibat perubahan iklim yang disertai kenaikan harga bahan pokok dan BBM.

Dampak perubahan iklim – Selain perikanan, wilayah pesisir Indonesia menawarkan lapangan kerja cukup besar – yaitu menyerap sekitar 15 persen tenaga kerja, yang meliputi eksplorasi minyak dan gas, transportasi, pertanian, dan pariwisata. Aktivitas ekonomi ini menyumbang sekitar 25 persen produk domestik bruto sehingga kenaikan muka air laut akan memberikan dampak besar pada berbagai aktivitas sosioekonomi. Masalah kesehatan tambah parah Pemanasan global juga akan berdampak parah pada masalah kesehatan. Lagi-lagi, dampak paling parah akan dirasakan oleh masyarakat miskin yang paling tidak siap menghadapinya. Curah hujan tinggi dan banjir akan menimbulkan dampak amat parah bagi sistem sanitasi yang masih buruk di wilayah-wilayah kumuh di berbagai daerah dan kota, menyebarkan penyakit-penyakit yang menular lewat air seperti diare dan kolera. Suhu panas berkepanjangan yang disertai oleh kelembapan tinggi juga dapat menyebabkan kelelahan karena kepanasan terutama pada masyarakat miskin kota dan para lansia. Keluarga miskin juga umumnya tinggal di lingkungan yang rawan terhadap perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat di Indonesia secara tradisional menganggap peralihan musim dari musim panas ke musim hujan, yaitu musim pancaroba, sebagai musim yang berbahaya dan orang-orang tua mengingatkan yang muda agar lebih berhati-hati pada musim itu. Perubahan iklim ini akan meningkatkan risiko baik bagi yang muda maupun para lansia dengan memungkinkan nyamuk menyebar ke wilayah-wilayah baru. Hal itu sudah terjadi di tahun El Niño 1997 ketika nyamuk berpindah ke dataran tinggi di Papua. Suhu lebih tinggi juga menyebabkan beberapa virus bermutasi – yang tampaknya sudah terjadi pada virus penyebab demam berdarah dengue, yang membuat penyakit ini makin sulit diatasi. Kasus demam berdarah dengue di Indonesia juga sudah ditemukan meningkat secara tajam di tahun-tahun La Niña (Diagram 6).

Masalah kesehatan lainnya muncul akibat kabut asap tebal yang menyebabkan infeksi pernapasan akut, serta iritasi mata dan kulit. Tahun 1997 berbagai kebakaran di delapan provinsi telah menimbulkan sekitar 9 juta kasus infeksi pernapasan Kasus kurang gizi bertambah Wilayah-wilayah paling tertinggal juga adalah wilayah yang cenderung mengalami kelangkaan pangan. Di Nusa Tenggara Timur, Timor Barat, Sumba Timur, dan pulau-pulau di sebelah timur Flores banyak masyarakat yang sudah merasakan dampak parah berubah-ubahnya iklim – dengan menurunnya kesuburan tanah di sana oleh curah hujan yang tidak menentu dan kemarau panjang di tahun-tahun El Niño. Lebih dari sepertiga populasi di berbagai pelosok wilayah ini hidup di bawah garis kemiskinan. Di tahun-tahun El Niño 2002 dan 2005, sekitar 25 persen anak balita mengalami kurang gizi akut. Di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, misalnya, yang mendapat curah hujan paling rendah di Indonesia, kemarau panjang yang diikuti oleh kegagalan panen, telah menimbulkan dampak parah dan kasus kurang gizi merebak di seluruh provinsi ini – antara 32 hingga 50 persen.10 Sumber air berkurang Perubahan pola curah hujan juga menurunkan ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Di pulau Lombok dan Sumbawa antara tahun 1985 dan 2006, jumlah titik air menurun dari 580 menjadi hanya 180 titik.11 Sementara itu, kepulauan ini juga mengalami ‘jeda musim’- kekeringan panjang selama musim penghujan – yang kini menjadi makin sering, menimbulkan gagal panen. Di seluruh negeri, kini makin banyak saja sungai yang makin dangkal seperti Sungai Ular (Sumatra Utara), Tondano (Sulawesi Utara), Citarum (Jawa Barat), Brantas (Jawa Timur), Ciliwung-Katulampa (Jawa Barat), Barito-Muara Teweh (Kalimantan Tengah), serta Larona-Warau (Sulawesi Selatan).12 Di wilayah pesisir, berkurangnya air tanah disertai kenaikan muka air laut juga telah memicu intrusi air laut ke daratan – mencemari sumber-sumber air untuk keperluan air bersih dan irigasi. Kebakaran tambah sering Kemarau panjang disertai perubahan tata guna lahan sudah menimbulkan peningkatan risiko kebakaran. Di Kalimantan Tengah, misalnya, Proyek Lahan Gambut di tahun 1990 an semula dimaksudkan untuk mengkonversi sejuta hektar lahan gambut menjadi perkebunan sawit. Proyek ini bukan saja gagal, tetapi juga telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa sekaligus juga menghancurkan sumber penghidupan masyarakat di wilayah sekitarnya yang bergantung pada kebun karet sebagai sumber utama nafkah mereka. Banyak pohon karet mereka ikut terbakar ketika lahan gambut terbakar. Sejak itu kebakaran menjadi sulit dikendalikan, terutama pada tahun-tahun El Niño dan terutama akibat pembangunan kanal-kanal untuk mengeringkan rawa dan penggunaan api untuk membuka lahan. Di tahun El-Niño 1997 total luas lahan gambut yang rusak karena kebakaran di Indonesia diperkirakan sekitar 6,8 juta hektar.13 Kebakaran yang terjadi berulang kali itu tidak saja menimbulkan masalah kesehatan tetapi juga menghancurkan sumber-sumber nafkah rakyat – meningkatkan angka kemiskinan hingga 30 persen atau lebih.14 Kebakaran pada tahun-tahun El Niño juga menimbulkan berbagai kerusakan di seluruh negeri ini: di tahun 1997 saja biaya kerugian diperkirakan mencapai antara 662 hingga 1056 juta dolar Amerika.15

Keniscayaan adaptasi – Seruan untuk bertindak

Beradaptasi terhadap perubahan iklim merupakan prioritas mendesak bagi Indonesia. Seluruh kementerian dalam pemerintahan dan perencanaan nasional perlu mempertimbangkan perubahan iklim dalam program-program mereka – berkenaan dengan beragam persoalan seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, keamanan pangan, pengelolaan bencana, pengendalian penyakit, dan perencanaan tata kota. Namun ini bukan merupakan tugas pemerintah pusat belaka, tetapi harus menjadi upaya nasional yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat umum, dan semua organisasi nonpemerintah, serta pihak swasta. Di tahun-tahun belakangan ini masyarakat dunia semakin meresahkan efek pemanasan global dan di awal tahun 1990an telah mengonsep United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), yang diberlakukan pada 1994. Di dalam kerangka ini mereka mengajukan dua strategi utama: mitigasi dan adaptasi (Boks 5). Mitigasi meliputi pencarian cara-cara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca atau menahannya, atau menyerapnya ke hutan atau ‘penyerap’ karbon lainnya. Sementara itu adaptasi, mencakup cara-cara menghadapi perubahan iklim dengan melakukan penyesuaian yang tepat – bertindak untuk mengurangi berbagai pengaruh negatifnya, atau memanfaatkan efek-efek positifnya.

Penerapan Pewarisan Sifat pada Tumbuhan dan Hewan

Penerapan Pewarisan Sifat pada Tumbuhan dan Hewan

Penerapan Pewarisan Sifat pada Tumbuhan dan Hewan

Pewarisan Sifat
Pewarisan Sifat

Pewarisan Sifat

Pewarisan sifat pada tumbuhan dan hewan dimanfaatkan oleh manusia untuk mendapatkan bibit unggul. Sifat unggul adalah sifat-sifat yang baik yang ada pada organisme, dipandang dari sudut kebutuhan manusia. Sifat-sifat unggul tersebut umumnya dilihat dari fenotip organisme tersebut.

Pewarisan Sifat

1. Sifat-Sifat Unggul pada Hewan Sifat-sifat unggul yang terdapat pada hewan adalah: a) Tidak mudah terserang penyakit. b) Pemeliharaannya mudah. c) Pada jenis hewan pedaging menghasilkan daging dengan mutu baik. d) Pada unggas petelur dihasilkan telur yang banyak dengan mutu baik. e) Umur pendek, tapi cepat diperoleh hasil sehingga mengurangi biaya pemeliharaan. f) Mudah dan cepat dikembangbiakkan. g) Dapat menyesuaikan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan.

Pewarisan Sifat

2. Sifat-Sifat Unggul pada Tanaman Sifat-sifat unggul yang terdapat pada tanaman adalah: a) Tidak mudah terserang hama dan penyakit tanaman. b) Pemeliharaannya mudah. c) Mudah tumbuh di kondisi yang tidak menguntungkan. d) Mempunyai umur pendek dan cepat dipanen. e) Batang, ranting dapat tumbuh dengan kokoh. f) Dapat menghasilkan buah yang bermutu tinggi (rasa manis, besar, banyak, tidak berbiji). g) Mudah untuk dikembangbiakkan. Persilangan antarindividu yang memiliki sifat unggul mempunyai harapan dihasilkan keturunan yang dapat mewarisi sifat unggul dari induk.

Pewarisan Sifat

Namun, ada kelemahan dari persilangan antara individu dengan melihat sifat unggul dari sudut fenotipnya, yaitu adanya kemungkinan muncul sifat yang tidak baik yang dibawa oleh gen resesif. Biasanya, gen resesif muncul bila gen resesif dari induk bertemu.

Pewarisan Sifat

Pewarisan Sifat pada Manusia

Sifat manusia diturunkan kepada keturunannya dengan mengikuti pola pewarisan tertentu. Pola pewarisan ini dapat dipelajari dengan menggunakan peta silsilah keluarga.

1. Cacat dan Penyakit Menurun Penyakit-penyakit menurun yang terdapat pada manusia, yaitu hemofili, kebotakan, dan buta warna. Penyakit tersebut tidak menular dan menurun. Dalam keadaan homozigot, penyakit menurun baru muncul karena penyakit menurun bersifat resesif.

a. Albino Orang albino adalah orang dengan ciri-ciri memiliki mata, bulu mata, dan kulit berwarna putih. Hal ini terjadi karena penderita albino tidak memiliki pigmen warna melanin. Pigmen melanin dihasilkan oleh enzim pembentuk melanin. Sedangkan, orang albino tidak dapat menghasilkan enzim melanin. Enzim melanin diproduksi berdasarkan perintah gen melanin. Jadi, penderita albino, gen melaninnya tidak dapat memerintah untuk memproduksi enzim. Gen albino tidak terletak pada kromosom kelamin, melainkan pada autosom. Oleh karena itu, penderita albino dapat berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.

b. Buta Warna Penderita buta warna tidak dapat melihat warna tertentu karena tidak dapat menangkap panjang gelombang cahaya tertentu. Buta warna terdiri dari bermacam-macam tipe, yaitu: 1) buta warna biru – hijau 2) buta warna biru – merah 3) buta warna merah – hijau (paling umum) Penyakit ini diturunkan secara resesif pada kromosom X nonhomolog (kromosom X yang tidak memiliki pasangan gen di kromosom Y). Penyakit ini jarang diderita oleh wanita. Wanita pembawa mewariskan cacat tersebut kepada anak laki-lakinya.

c. Gangguan Mental Gangguan mental disebabkan karena gangguan saraf. Penyakit ini disebabkan kadar asam fenil piruvat dalam darah terlalu tinggi. Kelainan mental ini dikendalikan oleh gen yang mengatur pembentukan protein enzim. Penderita memiliki pasangan alel gen-gen relatif homozigot yang diwariskan oleh kedua orang tua heterozigot yang penampakannya normal.

Pewarisan Golongan Darah pada Manusia

Ada tiga tipe golongan darah pada manusia, yaitu ABO, MN, dan rhesus. a. Golongan Darah ABO Golongan darah manusia dalam sistem ABO ditentukan oleh ada tidaknya antigen (aglutinogen) dan antibodi (aglutinin) dalam sel darah.

Gen penentu golongan darah terletak pada kromosom autosom dan diberi simbol I (Isohemaglutinogen) sehingga alel-alelnya disimbolkan IA menghasilkan antigen A, IB menghasilkan antigen B, dan IO yang tidak menghasilkan antigen.

b. Golongan Darah MN Penggolongan darah

MN didasarkan pada ada tidaknya antigen dalam sel darah merah seseorang. Apabila seseorang bergolongan darah M, sedangkan orang yang di dalam sel darah merahnya mengandung antigen N, maka orang tersebut bergolongan darah N. Jadi, orang yang bergolongan darah MN dalam sel darah merahnya mengandung antigen M dan N sehingga orang tersebut bergolongan darah MN. Menurut para ahli, golongan darah MN ditentukan oleh gen yang mengandung dua alel. Satu alel menentukan faktor M dan yang lainnya menentukan faktor N. Jadi, orang yang bergenotip MM akan bergolongan darah M. Golongan darah

N mempunyai genotip NN, sedangkan golongan darah MN mempunyai genotip MN.

c. Golongan Darah Rhesus

Golongan darah ini dipengaruhi oleh ada tidaknya faktor rhesus (antigen Rh) pada sel darah seseorang. Seseorang yang mengandung antigen Rh pada eritrositnya disebut Rh+ (rhesus positif). Sedangkan, yang tidak mempunyai antigen rhesus disebut Rh– (rhesus negatif). Seseorang yang mengandung antigen rhesus pada darah merahnya (Rh+) tidak dapat membentuk antibodi yang melawan antigen Rh– . Antibodi terhadap rhesus akan terbentuk pada orang yang bergolongan darah Rh– . Jadi, jika orang bergolongan darah Rh– diberi transfusi darah dari orang bergolongan darah Rh+, maka pada darah penerima tersebut akan membentuk antibodi yang melawan antigen rhesus.

Bentuklah kelompok terdiri atas 4 – 5 orang. Catatlah golongan darah teman-teman dalam kelompokmu. Kemudian, diskusikanlah mengenai aglutinogen dan aglutininnya. Lalu, presentasikan di depan kelas. Berilah kesempatan kepada kelompok lain untuk mengomentari hasil presentasi kelompokmu. Manfaat apa yang dapat kamu peroleh dari kegiatan tadi?

1. Jelaskan bentuk-bentuk kromosom berdasarkan letak sentromernya! 2. Jelaskan pengertian sifat resesif, dominan, dan intermediet! 3. Sebutkan jenis-jenis penyakit menurun pada manusia! Sebutkan juga ciri-ciri penderitanya! Jelaskan cara pewarisan penyakit tersebut!

• Genetika adalah cabang biologi yang mempelajari sifat keturunan dari induk kepada keturunannya. • Dalam kromosom terdapat gen yang membawa sifat-sifat keturunan atau disebut juga faktor keturunan. • Kromosom pada manusia dibedakan menjadi kromosom autosom dan kromosom seks (gonosom). • Gen pada makhluk hidup dibentuk oleh suatu susunan kimia yang terdiri atas nukleoprotein yang merupakan senyawa dari asam nukleat dan protein. • Sifat dominan adalah sifat yang muncul pada keturunannya dengan mengalahkan sifat pasangannya. • Sifat resesif adalah sifat yang tidak muncul karena ditutupi oleh pasangannya. • Homozigot adalah sifat suatu individu yang genotipnya terdiri atas gen-gen yang sama dari tiap jenis gen. • Heterozigot adalah sifat suatu individu yang genotipnya terdiri atas gen-gen yang berlainan dari tiap jenis gen. • Galur murni adalah tanaman yang memiliki sifat tidak berubah dari generasi ke generasi. • Monohibrid adalah persilangan dua individu dengan satu sifat beda. • Suatu persilangan disebut dominan penuh, bila pada keturunannya sifat dominan menguasai sifat resesif. • Dominan tidak penuh terjadi jika kedua gen induknya saling mempengaruhi dan menghasilkan sifat antara. • Persilangan dihibrida adalah persilangan antara dua individu dengan dua sifat beda ini. • Sifat unggul adalah sifat-sifat yang baik yang ada pada organisme dipandang dari sudut kebutuhan manusia. • Golongan darah pada manusia dibedakan menjadi golongan darah ABO, MN, dan rhesus.

Setelah kamu mempelajari tentang pewarisan sifat pada makhluk hidup, coba kamu jelaskan kembali tentang cara-cara pewarisan sifat pada makhluk hidup! Manfaat apa yang kamu peroleh sehingga dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari?

1. Benda-benda seperti benang yang halus dan mudah mengikat zat warna terdekat dalam nukleus disebut …. a. gen b. spindel c. sentromer d. kromosom 2. Bagian kromosom yang merupakan faktor keturunan adalah …. a. kromatin b. kromosom c. spindel d. gen 3. Orang yang pertama kali melakukan berbagai macam persilangan dengan menggunakan tanaman kacang ercis sebagai contohnya adalah …. a. James Dewey Watson b. Francis Crick c. Gregor Johann Mendel d. Charles Darwin 4. Bagian yang membagi kromosom menjadi dua lengan disebut …. a. sentromer b. kromonema c. kromatin d. benang spindle 5. Kromosom yang terdapat pada sel gamet berjumlah sepasang disebut …. a. anploidi b. haploid c. diploid d. triploid 6. Satu sel kromosom autosom disebut …. a. haploid b. hiploid c. diploid d. tetraploid 7. Letak sentromer di tengah kromosom disebut …. a. akrosentris b. telosentris c. metasentris d. ubmetasentris 8. Yang dimaksud dengan submetasentris adalah …. a. sentromer terletak di tengah kromosom, membagi kromosom menjadi dua bagian yang sama b. sentromer terletak ke arah salah satu ujung kromosom, membagi kro-mosom menjadi dua bagian yang tidak sama c. sentromer terletak di dekat ujung kromosom, satu lengan sangat pendek, lengan lain panjang d. sentromer di ujung kromosom, sehingga kromosom terdiri dari satu lengan 9. Dalam 46 kromosom manusia terdapat …. a. 22A + XX, 22A + XY b. 23A + XX, 23A + XY c. 21A + XX, 21A + XY d. 24X + XX, 24A + XY 10. Jika disilangkan antara tanaman kacang berwarna merah homozigot dominan dengan kacang berwarna putih homozigot resesif, menghasilkan F1 kacang berwarna merah. Jika F1 disilangkan dengan F1, diperoleh …. a. — merah, — putih b. — merah, — putih c. — merah, — putih d. — merah, — putih