Menganalisis Pengertian Karakteristik Puisi dan Menulis Paragraf

Menganalisis Pengertian Karakteristik Puisi dan Menulis Paragraf

Menganalisis Pengertian Karakteristik Puisi dan Menulis Paragraf

Pengertian Karakteristik Puisi – Puisi sudah tak aneh lagi, bukan? Meskipun begitu, mungkin Anda sependapat bahwa puisi itu tidak membosankan. Apalagi jika menganalisis unsur-unsur bentuk puisi karena akan banyak manfaat atau hikmah yang dapat kita ambil dari puisi itu. Tentu Anda sudah tidak sabar untuk menganalisis puisi dalam uraian ini. Baiklah kita mulai belajar, sekarang! Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Puisi dibentuk oleh struktur fisik (tipografi, diksi, majas, rima, dan irama) serta struktur batin (tema, amanat, perasaan, nada, dan suasana fisik).

Pengertian Karakteristik Puisi
Pengertian Karakteristik Puisi

Pengertian Karakteristik Puisi

Ciri-ciri puisi adalah sebagai berikut. a. Dalam puisi terdapat pemadatan semua unsur kekuatan bahasa. b. Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperindah, dan diatur sebaik-baiknya dengan memerhatikan irama dan bunyi. c. Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair berdasarkan pengalamannya dan bersifat imajinatif. d. Bahasa yang dipergunakan bersifat konotatif.

Menceritakan Pengalaman Lucu dan Mengharukan

Gara-gara Papan Nama

Pengertian Karakteristik Puisi – apan nama sering kurang diperhatikan. Meski di depan rumah terpampang papan nama dokter hewan, ada saja “pasien manusia” yang “nyasar” minta diobati ibu saya, yang buka praktik di rumah. Suatu malam, kira-kira pukul 22.00 datang seorang pria bermobil. Ia terlihat panik, dan mengaku sedang membawa pasien dalam keadaan gawat dan perlu pertolongan segera. Saat itu, kakak perempuan saya yang menerimanya. Kepada pria itu, kakak saya bilang, “Dokter sedang keluar kota, baru besok  sore pulang. Sebaiknya, pasien dibawa ke klinik terdekat.” Tanpa berpikir panjang, pria itu menuruti saran kakak saya.

Selang beberapa hari, terdorong rasa ingin tahu, saat bertemu si empunya klinik hewan yang berpraktik di kompleks sebelah, ibu saya bertanya, “Apa sih yang diderita pasien gawat malam itu?” Jawabnya, “Kumaha (bagaimana) ibu teh. Saya mah cuma mengobati hewan, kok disuruh mengobati orang mencret-mencret! Yang tempo hari itu orang sakit diare, Bu!” Sampai sekarang ibu masih praktik, tapi papan nama dokter hewan sudah dicopot. Anehnya, justru setelah itu tak pernah ada lagi “pasien manusia” yang nyasar. (Intisari/No.409/Agustus 1997)

Menceritakan Pengalaman yang Mengharukan

Rasanya Amang Masih Dinas, Belum Meninggal

Pengertian Karakteristik Puisi – Tiba-tiba rakyat Indonesia tersentak, ketika H. Sory Ersa Siregar, wartawan RCTI, meninggal tertembak oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Begitu banyak karya dan kenangan yang dia tinggalkan. “Amang jangan pergi dong!” “Emang kenapa?” “ Amang kan baru aja pergi sebulan ke Aceh, masa baru dua minggu di rumah, udah mau pergi lagi ke sana,” ajuk Sarah dengan wajah memelas setengah marah. “Nggak apa-apalah, Cuma dua minggu kok di sananya. Nanti habis itu, kita liburan ke Solo, nengokin Bang Iwan,” ujar Sory Ersa Siregar. Tapi takdir Ilahi berkehendak lain, Sarah tak pernah menyangka kalau itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang ayah. Sarah tidak ingat kapan hari di bulan Juli itu pihak RCTI menghubungi rumahnya mengatakan bahwa Amang tercintanya hilang di Aceh Timur bersama kameramen dan sopir RCTI, juga dua orang perempuan yang menumpang di mobil RCTI.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa sudah enam bulan. Rindu Sarah pada Amang terobati ketika menerima kabar dari telepon bahwa Amang baik-baik saja, cukup makan dan tidur. Sarah ingat betul di penghujung 2003, Senin, 29 Desember, waktu beduk magrib baru berlalu, ibunya menerima telepon ucapan belasungkawa. Sejak itu, telepon rumah tidak pernah berhenti berdering dari sahabat dan kerabat yang mengucapkan dukacita atas meninggalnya Ersa. Tanpa Sarah sadari, rumahnya sudah dikerumuni banyak orang. Sarah termangu, kebingungan, antara percaya dan tidak dengan kabar tentang Amangnya yang gugur dalam tugas, tertembak tentara ketika terjadi baku tembak antara TNI dan GAM. Namun, itulah kenyataannya, amangnya telah meninggal dan pulang hanya tinggal jasad dalam peti mati. Air mata Sarah membanjir ketika melihat peti mati yang membawa jenazah Amangnya diturunkan dari bandara. Kenapa Amang harus pulang seperti ini?

Kalimat-kalimat manakah yang menunjukkan rasa haru? 2. Ceritakan kembali cerita mengharukan di atas dengan pilihan kata dan ekspresi yang tepat! 3. Tulislah satu cerita pengalaman mengharukan yagn pernah Anda alami! 4. Ceritakan pengalaman mengharukan yang Anda tulis itu di depan kelas!

Menulis Paragraf Deskriptif

Paragraf 1

Pengertian Karakteristik Puisi – Liburan panjang kemarin kamu pergi ke Tanjung Lesung Resort. Air laut yang tenang memberi keindahan tersendiri saat memandangnya dari beranda Krakatau Bar, Tanjung Lesung Resort. Sebuah pemandangan yang menakjubkan, serasa berada persis di bibir pantai karena pantulan warna air dari kolam renang di depan bar seakan menyatu dengan air laut. Tak berlebihan jika banyak yang melukiskan keindahan pantai ini laksana surga.

Paragraf 2

Gadis yang berambut ikal dan berkulit sawo matang itu bernama Santi. Ia dilahirkan di Kota Medan, 7 Juli 1996. Umurnya 10 tahun. Kedua orang tuanya menjulukinya si kancil yang pintar, karena selain pintar ia pun sangat lincah dan periang. Hobinya membaca, menulis surat, dan bermain sepatu roda. Ia juga suka bermain lompat tali dan congklak dengan teman-temannya. Kemudian, hal yang paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika ia menjadi juara menyanyi. Adapun pandangan hidupnya, kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana.

Setelah membaca kedua contoh paragraf di atas, tunjukkanlah persamaan dan perbedaan karakteristik antara kedua paragraf tersebut. Tulis dalam buku kerja Anda!

Pengertian Karakteristik Puisi – Dari kedua contoh di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa paragraf deskripsi adalah jenis paragraf yang menggambarkan sesuatu berdasarkan pengindraan dengan jelas dan terperinci. Deskripsi bertujuan melukiskan, membeberkan, atau menggambarkan sesuatu yang menjadi objek. Dengan kata lain, deskripsi adalah suatu tulisan atau karangan yang bertujuan menggambarkan atau melukiskan pengalaman, pendengaran, perabaan, penciuman, perasaan, dan situasi atau masalah. Pengindraan terhadap suatu situasi, keadaan, atau masalah akan melahirkan gambaran atau lukisan yang bertumpu pada penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasaan.

1. Pilihlah seorang teman Anda sebagai objek, kemudian cermati dan telitilah teman Anda itu secara saksama! 2. Tulislah namanya, lalu selidiki apakah nama tersebut mengandung riwayat tertentu! 3. Cermatilah sosok atau postur tubuhnya, warna mata, warna kulit, warna dan bentuk/model rambut! 4. Telitilah bahan dan model pakaiannya! 5. Tanyakan tempat dan tanggal lahir, nama kedua orang tua, daerah asal, riwayat pendidikan, Latihan 5 hobi, makanan kesukaan, pengalaman yang paling berkesan, dan pandangannya terhadap kehidupan masa kini dan masa depan! 6. Setelah data terkumpul, susunlah kerangka paragraf deskripsi yang menggambarkan teman Anda itu dan tentukanlah judulnya, lalu kembangkanlah menjadi karangan deskripsi. 7. Periksalah karangan teman-teman Anda, terutama dari segi isi karangan, kalimat utama, kalimat penjelas, struktur kalimat, diksi, dan ejaan!

1. Puisi dibentuk oleh struktur fisik (tipografi), diksi, majas, rima, dan irama) serta struktur batin (tema, amanat, perasaan, nada, dan suasana fisik). 2. Paragraf deskripsi adalah jenis paragraf yang menggambarkan sesuatu berdasarkan pengindraan dengan jelas dan terperinci.

Pengertian Karakteristik Puisi – Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Pengalaman”. Bagi Anda yang senang berpuisi, menulis atau membaca puisi tentu sangat menyenangi kompetensi pertama bab ini. Anda tentu akan semakin paham karakteristik sebuah puisi. Pada kompetensi kedua Anda mempelajari materi pengalaman lucu dan mengharukan. Dalam kehidupan sehari-hari kadang Anda menemukan pengalaman lucu atau mengharukan yang tak terlupakan, tetapi Anda bingung bagaimana cara menceritakannya pada orang lain. Nah, pada bab ini Anda telah mempelajari caranya menceritakan pengalaman lucu. Tentunya Anda sekarang sudah mampu menceritakan pengalaman lucu atau mengharukan pada teman atau sahabat Anda.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Habis kikis Segala cintaku hilang terbang Pulang kembali aku padamu Seperti dahulu Kaulah kandil kemerlap Pelita jendela di malam gelap. Melambai pulang perlahan Sabar, setia selalu Tema penggalan puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah di atas adalah…. a. cinta b. sosial c. ketuhanan d. kesunyian e. alam Bacalah penggalan puisi “Mongonsidi” karya Subagyo Sastrowardoyo berikut ini untuk menjawab soal 2 – 4! Aku adalah dia yang memimpin pasukan gerilya membebaskan kota Aku adalah dia yang disanjung kawan sebagai pahlawan bangsa Aku adalah dia yang digiring sebagai hewan di muka regu eksekusi Aku adalah dia yang berteriak merdeka sebelum ditembak mati Aku adalah dia, ingat, aku adalah dia. 2. Nilai-nilai yang terkandung dalam penggalan puisi di atas adalah … . a. perjuangan b. kehidupan c. sosial d. kemanusiaan e. ketuhanan

Pengertian Karakteristik Puisi

Materi Menulis Paragraf Deskriptif dan Contoh Paragraf Deskriptif

Materi Menulis Paragraf Deskriptif dan Contoh Paragraf Deskriptif

Materi Menulis Paragraf Deskriptif dan Contoh Paragraf Deskriptif

Menulis Paragraf Deskriptif
Menulis Paragraf Deskriptif

Materi Menulis Paragraf Deskriptif

Menulis Paragraf Deskriptif – Pada materi pelajaran sebelumnya, yaitu pada Bab II, sudah dikemukakan cara menulis paragraf deskriptif. Paragraf deskriptif bertujuan menggambarkan suatu benda, tempat, keadaan, atau peristiwa tertentu dengan kata-kata. Misalnya, menggambarkan objek berupa benda atau orang, digambarkan seolah-olah merasakan, menikmati, atau merasa menjadi bagiannya. Semuanya digambarkan dengan terperinci. Bacalah wacana di bawah ini! Wacana mana yang termasuk paragraf deskriptif? Berikan alasan yang menguatkan bahwa karangan yang dipilih termasuk karangan deskriptif!

Wacana 1

Legenda Calon Arang Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai wanita pemusnah kemanusiaan. Dari Des Dirah, Calon Arang, seorang janda yang hidup pada abad ke-12 itu, menebarkan teluh di Kerajaan Daha yang dipimpin Prabu Airlangga. Mpu Baradah pun diutus untuk menaklukkannya. Cerita ini tumbuh menjadi legenda. Teks yang menuturkan kisah itu pun telah berkembang biak lebih dari 30 versi. Sejumlah seniman bahkan membuat tafsir berbeda: menempatkan Calon Arang sebagai simbol perlawanan perempuan. Di Bali, legenda ini lebih mendapat tempat dibandingkan dengan di kampung halamannya. Namun, belakangan dramatari yang magis tentang Calon Arang telah bergeser menjadi ajang pamer kekebalan dan humor. Sumber: Tempo, 18 Juni 2006

Menulis Paragraf Deskriptif

Wacana 2

Suara Sang Pengelana Sepotong lagu dari masa lalu itu mengalun. Telah 38 tahun ia menggubahnya, tetapi terasa masih enak di telinga. Dengan petikan gitar akustik dalam nada minor, ia seperti tengah menghamparkan sebuah lukisan alam yang tak habis-habis dipuja. Ya, Melati dari Jayagiri malam itu hadir bagai sapuan seorang pelukis naturalis di puncak pencapaian karyanya. Sang ’’pelukis naturalis’’ itu adalah Iwan Abdurrachman, yang kini hampir 58 tahun. Ia mengalirkan lagu itu dengan lembut lewat sepotong gitar kopong. Penampilan sederhananya pada Jumat malam lalu itu, seperti menegaskan bahwa esensi bermusik tidak terletak pada kemeriahan instrumen di atas panggung, tetapi pada jiwa yang berdendang. Dalam konser tunggal di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta itu, Abah Iwan begitu kini ia biasa disapa hanya mengusung sebuah gitar dan sesekali menenggak obat batuk cair. Setiap kali ia menyelinginya dengan komentar yang menjelaskan proses kreatif dalam menggubah setiap lagunya. Sumber: Tempo, 7 Mei 2006

Coba kalian berlatih membuat paragraf deskriptif! Misalnya, mendeskripsikan ruangan kelas atau kamar tempat tidur kalian. Pahami ciri-ciri paragraf deskriptif dan lakukan observasi terhadap sebuah objek!

Menulis Paragraf Deskriptif

Di dalam teks, lazim ditemukan beberapa penggunaan konjungsi jadi, karena itu, oleh karena itu, dengan ini, dan sebagainya. Fungsi konjungsi tersebut di dalam kalimat sebagai jembatan untuk menghubungkan antarparagraf. Cobalah kalian membuat kalimat atau paragraf dengan menggunakan konjungsi tersebut!

Membacakan Puisi

???? ?????? Pelatihan 6 Membacakan sebuah puisi, tentu saja berbeda dengan membacakan sebuah teks nonsastra. Ketika kita membacakan sebuah karya sastra, termasuk puisi, kita memerlukan penghayatan. Agar dapat menghayati sebuah puisi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. 1. Memahami makna yang tersirat dan tersurat dalam puisi tersebut; 2. Memahami sejarah penciptaan puisi tersebut; 3. Membayangkan kita berada pada waktu ketika puisi tersebut dibuat. Dengan demikian, kita akan merasa bahwa kita sendiri yang mengalami rangkaian peristiwa dalam puisi tersebut. Selanjutnya, kita akan mampu membacakan puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat. Selain itu, kalian juga perlu berlatih pelafalan dan intonasi. Di antaranya adalah dengan olah vokal dan senam tubuh untuk membantu melancarkan pernapasan dan melenturkan persendian. Olah vokal adalah dengan melafalkan bunyi A, I, U, E, dan O. Olah vokal ini selain melatih lafal yang benar, juga untuk melatih pernapasan dada, pernapasan diafragma (sekat antara rongga dada dan rongga perut). Agar pernapasan panjang dan teratur, biasanya dilatih dengan lari dan senam di seputar kepala dan leher, seputar dada dan tangan, perut, dan kaki. Caranya, setelah berlari, kemudian senam, dan ketika mengambil napas, teriakkan bunyi vokal berulang-ulang. Sekarang cobalah berlatih olah vokal sebelum membacakan puisi!

Menulis Paragraf Deskriptif – 1. Ucapkan bunyi A, I, U, E, O secara berulang-ulang dengan suara lantang. 2. Ucapkan bunyi A, I, U, E, O dengan suara panjang secara bergantian

Jika kalian telah berlatih olah vokal, marilah kita berlatih membaca puisi berikut di dalam hati!

Meja Tulis Dries Di depanmu aku duduk menghadapi buku terkantuk-kantuk menghafal semalaman suntuk tapi sayang … tak masuk-masuk Di depan meja tulis sudah biasa aku menangis seperti setan yang meringis kala kenangan datang mengiris Di depan meja tulis aku membaca surat cinta pertama dari si dia tapi itu hanya kenangan lama yang datang di saat aku terlena Di depan meja tulis aku berdoa pada Tuhan yang maha kuasa agar aku tiada merana pada kenangan yang telah lama Sumber: Apresiasi Puisi Remaja. Catatan Mengolah Cinta. 2002. Riris K. Toha Sarumpet, Jakarta: Grasindo

Bagi seorang pelajar, meja tulis adalah sebuah barang yang sangat ”berharga”. Di meja tulis itulah, seorang pelajar biasanya melakukan aktivitasnya. Misalnya, saat belajar, menulis surat cinta, menangis, dan berdoa. Puisi itu lebih terasa sebagai curahan perasaan si Aku, yang sedang mengenang benda kesayangannya ”meja tulis”. Karena itu, nada yang digunakan untuk membacakan puisi itu, cukup dengan nada yang sedang. Gerakan dapat diatur, misalnya pada awalnya duduk sambil memegangi meja tulis, kemudian perlahan berdiri tetap sambil memegangi setiap bagian meja tulis. Saat membacakan bait ketiga, kalian berdiri seolah-olah sedang mengenang seseorang sampai akhir bait keempat.

Menulis Paragraf Deskriptif

Cobalah kalian membacakan puisi tersebut di depan kelas! Hayatilah puisi tersebut sesuai makna yang telah kalian ungkapkan! 1. Apakah kamu punya meja tulis di rumahmu? 2. Apa yang kamu lakukan di meja tulis itu? Apakah kamu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dries di atas?

Kalian telah memahami makna puisi tersebut. Sekarang, cobalah kalian membacakan puisi di atas di depan kelas! 1. Perhatikan lafal, intonasi, dan ekspresi saat kalian membacakan puisi itu! 2. Anggaplah kalian sedang mengenang benda kesayanganmu. Cobalah kalian pahami makna yang terkandung di dalam puisi berikut! Kemudian, bacalah puisi tersebut di depan kelas!

Sobat Hendri Sri Faja Resa Malam telah larut Seiring dentang lonceng kedua belas Habislah kenangan Terbakar ujung waktu Dan lembaran putih menghampar Di permadani biru perjalananmu Janganlah telapak tanganmu berlumpuran debu Biar putih hidup baru Tak membekas warna kelabu Ambillah tinta merah, kuning, jingga Sebab itulah warna ceria Bias hidup kita bahagia Hari ini, esok, dan selamanya Amin Sumber: Suara Merdeka, 19 Juni 2005

Unsur bunyi dalam puisi sangat penting karena dalam puisi, bunyi bersifat estetis. Sifat ini untuk mendapatkan keindahan dan tenaga untuk mengekspresikannya. Bunyi dalam puisi erat hubungannya dengan irama. Irama ini sangat diperlukan dalam pembacaan puisi agar sesuai dengan pelafalan, tekanan, dan intonasi pada puisi tersebut. Terlebih dalam berdeklamasi, irama diperlukan sekali. Dalam berdeklamasi, irama dan ketepatan ekspresi didapatkan dengan mempergunakan tekanan-tekanan pada kata.

Menulis Paragraf Deskriptif – Rangkuman

1. Mengidentifikasi unsur sastra sebuah cerita, pembelajarannya bertujuan untuk mengetahui unsur instrinsik dan ekstrinsik cerita pendek. Cerpen yang akan diapresiasi dibacakan terlebih dahulu, lantas diceritakan kembali isi cerpen tersebut. Unsur tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan amanat diungkapkan dari cerita pendek tersebut. Begitu juga unsur ekstrinsiknya, di antaranya unsur sosial, budaya, moral, dan pendidikan diungkapkan dari cerpen yang didengar tersebut. 2. Menceritakan berbagai pengalaman, pembelajarannya menceritakan pengalaman yang dialami, baik dialami sendiri atau mendengar dari orang lain. Pengalaman tersebut diceritakan dengan pilihan kata dan ekspresi yang benar. Ketika menceritakan pengalaman lucu, pendengar harus merasakan kelucuannya tersebut. Sebaliknya kalau menceritakan pengalaman haru, harus merasakan suasana mengharukan dalam cerita tersebut. 3. Membaca ekstensif teks nonsastra, pembelajarannya kalian terlebih dahulu mencari teks nonsastra dari berbagai sumber. Kalian membaca teks tersebut sambil mencatat pokok-pokok isi informasi. Kalian harus menemukan ide pokok teks. Teks tersebut harus diringkas, dicatat identitas teks, dan mencatat persamaan serta perbedaan isi teks dengan teks yang lainnya. 4. Menulis paragraf deskriptif, pembelajarannya kalian dianjurkan observasi terlebih dahulu untuk menentukan objek atau tema yang akan ditulis. Persiapan sebelum menulis kalian harus memahami unsur-unsur paragraf deskriptif. Tentukan objek yang akan ditulis. Barulah kalian membuat paragraf deskriptif hasil dari observasi dengan objek yang sudah ditentukan. 5. Membacakan puisi, kalian akan belajar membaca puisi dengan lafal, nada, dan intonasi yang benar. Puisi yang kalian siapkan atau yang ada dalam buku ajar, coba pahami dahulu, lantas dibacakan dengan pelafalan, intonasi, dan ekspresi yang benar.